
Gila, satu kata yang Bhumi pikirkan dalam kepalanya untuk gadis yang sedang melangkah terseok-seok mendekat ke teras villa dengan penampilan yang awut-awutan tanpa permisi dan segan layaknya orang tidak waras.
Bhumi bergeming di tempat memperhatikan Arleta mengeratkan genggaman tangan Shavara, dan Bhumi tidak menyukai mimik muka kasihan yang Shavara perlihatkan untuk gadis yang penuh kejutan merugikan baginya itu.
Rambut berantakan, baju compang-camping, muka sembab dengan beberapa lebam di sana, tubuh penuh luka dan tidak ketinggalan airmata yang terus mengalir deras memperburuk penampilannya.
" Jangan mulai untuk kembali mengasihani, kita baru baikan walau kamu istriku, aku tidak sudi berbaik hati padanya." ucap pelan Bhumi yang hanya didengar Shavara.
Shavara memandang Bhumi, menilai air muka suaminya," kalau kamu terperdaya olehnya, dan memintaku berbaik sikap padanya ku tafsirkan cinta mu padaku tidak sebesar aku padamu." tambah Bhumi.
Shavara menegang," itu sangat tidak relevan, aku hanya berdasarkan pada sisi kemanusiaan saja."
" Kalau begitu kenapa kamu marah sewaktu Aryo berselingkuh dengan Monika, sementara dengan kebaikan hati kamu membuka peluang wanita lain diantara kita?" Bhumi membalas pandang Shavara dengan raut kecewa.
Suami istri yang saling pandang itu melahirkan gejolak panas dalam hati Arleta, ia meremas kuat celana jeans kotornya.
Semalam, setelah mereka berdua memasuki lift, Arleta segera menyusul mereka dengan lift satunya dan membuntuti mereka dengan menjaga jarak aman berkendara menghindari kecurigaannya.
sepanjang jalan matanya tidak berhenti menangis terlebih setelah dengan kepalanya sendiri melihat mereka memasuki villa yang sama.
" Bagaimana mungkin bapak bisa menikahinya setelah bertahun-tahun aku mengejar mu, pak. bapak jahat." racau Arleta.
Dia terus membuntuti mobil Bhumi hingga ke puncak, dan wajahnya bersuram durja kala Bhumi membawakan tas Shavara memasuki villa.
Namun senyumnya terpatri saat Bhumi pergi meninggalkan villa seorang diri.
" Bisa jadi mereka menikah, tapi berjalan-jalan sendirian saat masih pengantin baru itu pertanda hubungan kalian kacau, ikatan kalian tidak kuat, dan aku akan memanfaatkan itu."gumamnya mengikuti kemana mobil Bhumi melaju.
Semua orang berhenti di tempat masing-masing tertegun melihatnya dengan mata mengikuti setiap kakinya berjalan. kernyitan dan rintihan kesakitan terlontar dari mulut pucat itu namun tidak ada yang bersedia mendekatinya.
" Pak....pleasee...tolong aku..." suara sangau dari gadis itu membuyarkan ketertegunan mereka.
" Leta, ngapain Lo kayak gembel begitu?" Aditya membuka suara bukan Bhumi, seseorang yang menjadi pusat perhatian gadis yang berjalan sedramatis mungkin menghampiri mereka.
Mata gadis itu menatap intens Bhumi berharap Bhumi membalas tatapannya dan merasa iba padanya.
Bhumi memang melihatnya dan yang lain juga, namun tidak ada rasa empati dan kasihan di sana. Mereka hanya mengamatinya.
" Pak, aku...diperkosa...tolong aku..." lirihnya penuh permohonan.
Kontan mereka semua terkejut," Siapa yang memeriksa Lo?" tanya Leo. Bagaimanapun dia peduli, pernah ada masa di mana dia sangat menyukai Arleta dalam waktu yang lama.
Shavara terhenyak, genggaman tangan Bhumi mengerat menyakiti tangan Shavara kala tangan lentik itu dirasa gemetaran.
" Di..dia diperkos4, A." lirih Shavara.
" Aku dengar." jawab Bhumi memandang Arleta.
" Kenapa ke sini, bukannya lapor polisi? Bukankah banyak pos polisi sepanjang jalan apalagi ini menjelang akhir tahun." seru Fena curiga.
Mata Arleta beralih padanya terbelalak sejenak yang detik kemudian air mukanya diatur normal, namun tubuhnya gemetar takut, " kenapa perempuan paruh baya itu ada di sini." bathin Arleta.
" Apa kamu menikmati pemerkosa4n itu?"
" TANTE...." ceplos Arleta spontan.
" Wow, masih punya tenaga untuk berteriak, tetapi tidak punya tenaga untuk melapor." sindir Fena.
" Pak, tolong saya..."
" Tolong apa?" tanya Shavara.
Arleta terdiam, segala kata yang sudah dia susun sejak semalam buyar dengan kehadiran Fena.
" Tidak, kali ini tidak boleh gagal lagi. bertaut kilo sudah dia tempuh hanya untuk menjemput kekasih hatinya.
" A...aku...." Arleta menggeleng kepala berupaya menstabilkan kinerja otaknya yang stuck karena gugup.
" Saya antar kamu ke rumah sakit." tawar Bhumi tenang setelah dia mengamati seksama kondisi Arleta.
" BHUMI.."
" PAK DEWA..."
Panggil mereka semua serempak," bagaimanapun dia murid saya. Saya sebagai guru harus membantunya."
Arleta menggigit dinding mulutnya menahan senyum.
Bhumi mengendurkan genggaman tangannya hendak menuruni undakan tangga teras, namun saat kaki menginjak satu anak tangga, tangan Shavara menahannya.
Bhumi berpaling pada Shavara bertanya lewat matanya." aku ikut."
" Untuk..."
" Menolong dia, kamu gak bisa menangani ini sendiri."
" Gak perlu, cuma nganter dia ke keluarganya." Bhumi mencoba melepaskan tangannya.
" Gak mau, aku ikut
Kalau gak boleh kamu jangan bantu dia biar Adit Sam yang lain aja yang nganter dia." kukuh Shavara, hatinya merasa sesuatu yang mengganjal.
" Baiklah, tapi kamu jangan jauh-jauh dari aku."
" Hmm."
Keduanya menuruni tangga setelah berpamitan, tangan Arleta mengepal kuat. matanya buas menatap Shavara.
__ADS_1
Tanpa kata Bhumi membuka dua pintu sekaligus, pintu penumpang depan dan belakang.
" Pak, aku di depannya." pinta Arleta.
" Kamu di belakang. Kalau habis diperkos4 itu biasanya badan remuk dan banyak luka tersiksa bagian bawah. Kamu harus berbaring istirahatkan diri."
Bhumi mendorong pelan Shavara untuk duduk di depan, sementara Arleta di belakang dengan wajah cemberut.
Tenang danum pasti mobil yang dikemudikan Bhumi menjauh meninggalkan villa.
Anggara lekas masuk ke dalam villa sambil menekan nomor yang tujuan sudah dia temukan di dalam ponselnya.
" Hallo."
" Putri mu terluka parah, sebaiknya kau kemari dan lihat apa yang terjadi."
" APA? sebaiknya kau tidak berbohong."
" Maka dari itu..."
^^^^^^
Bhumi mengambil ponsel yang bergetar dari saku jaketnya, ia membaca pesan yang masuk lalu memasukkan kembali ponsel itu di tempat semula.
" Ada apa?" tanya Shavara.
Bhumi menggeleng," spam."
" Berapa orang yang memperkos4 kamu?" Bhumi melirik ke kursi belakang melalui kaca tengah.
" Hah?"
" Pelakunya berapa?"
" Ooh .ya...i..itu...6 orang."
Mendengar jawaban Shavara, bibir Bhumi tersenyum kecil.
" Ini dianter kemana?"
" Ke Bandung."
" Bandung, jauh juga ya kamu pergi. Kemana mobil kamu?"
Arleta yang sadar kelepasan bicara, menegang di tempat netranya bertemu pandang dengan netra Bhumi melalui kaca spion.
" Kamu tidak keberatan kan kita sarapan dulu." tawar Bhumi.
" Ti .tidak..."
" A, masa kamu masih sempat mikirin sarapan, murid kamu butuh pertolongan sekarang." Tegur Shavara jengkel.
" Tapi kita sudah sa..."
" Kamu belum sarapan kan?" perhatian Bhumi kembali pada Arleta.
" Be..belum, pak."
" Kamu dengar sayang, dia belum makan. Korban pemerkosa4n ditambah belum makan bagaimana tidak menyedihkannya dia." sindir Bhumi yang membungkam protes Shavara.
" Sa..saya...gak masalah tidak sarapan...pak.."
" Jangan dibiasakan, di depan ada restoran siap buka, di sana enak dengan menu adma garang ayamnya."
Bhumi memutar menjauh dari arah bandung hanya untuk sarapan, hal yang membuat Shavara mengernyit bingung.
Setiba di restoran, Bhumi memperlakukan Arleta dengan baik dan jauh dari kata sinis yang biasa Bhumi berikan padanya. Hal yang membuat Arleta berbunga namun tidak bagi Shavara.
Bhumi memesankan sarapan untuk Arleta dan hanya memesan minuman saja untuk Shavara.
" Makan yang banyak."
" Siap, pak." Arleta bergaya. hormat yang terlihat terlalu bersemangat bagi seseorang yang baru saja diperkos4.
Shavara cemburu akan perlakuan Bhumi yang selalu merespon baik segala ucapan Arleta, Shavara merasa dirinya tidak dianggap di sana.
Hatinya panas, ia ingin mengamuk, namun tidak enak hati karena Arleta baru saja mengalami tragedi.
" Kamu makan sedikit-sedikit, kapan selesainya?" bentak Shavara tidak sengaja.
" Eeehhh..pak..." rengek Arleta manja berasa tersakiti.
" Sayang, kamu ngertiin dia dong, dia baru saja diperkos4, jadi wajar saja kalau dia makannya pelan-pelan."
" Itu bukan pelan-pelan, tapi dia memang gak makan, korban perkos4an juga gak makan sebiji-biji nasinya." elak Shavara.
" Pak,..."
" Makan saja sebisa kamu gak perlu terburu-buru, kamu pasti masih syok soal apa yang terjadi sama kamu."
Arleta tersenyum sumringah, " Terima kasih bapak sudah ngertiin aku, seperti dulu sewaktu kita masih baik-baik saja."
" Hmm."
Shavara marah, ia merasa terhina, omongannya dihalau Bhumi, maka Shavara berdiri lalu pergi dengan kemarahan dalam dadanya.
Bhumi memandangi kepergian Shavara penuh makna, ia lantas kembali memusatkan perhatian pada Arleta yang memperhatikannya.
__ADS_1
" Bapak pasti kesusahan menikah dengan perempuan yang manja seperti dia. Aku bisa menjadi paa yang bapak mau."
" Makan lah waktu sarapan hampir habis. Kita harus urus persoalan kamu dulu."
Arleta mengangguk bersemangat," Hmm, aku bakal nurutin yang bapak ucapkan. Aku gak bakal menjadi orang yang menyusahkan bagi bapak." Arleta makan dengan cepat agr Bhumi tidak menunggu lama.
Terlalu cepat bagi seseorang yang tadi terlihat putus asa. saking berkosentrasi akan makanannya Arleta lupa akan apa yang ingin ia lakukan.
Mobil melaju dalam keadaan hening, tiga orang itu sibuk dengan pemikiran masing-masing.
" Pak, kita mau kemana?" tanya Arleta saat mereka memasuki wilayah bandung.
" Ke keluarga kamu, kamu diperkos4, tentu keluarga kamu harus tahu."
Di tempatnya tubuh Arleta menegang," Pak, apa tidak sebaiknya saya... memperbaiki penipuan saya dulu, saya tidak ingin membuat keluarga saya khawatir."
Bhumi menahan gejolak emosi di hatinya," kalau begitu kita dahulukan dulu kepentingan kamu, saya tidak mau terjadi apa-apa sama kamu."
Tangan Shavara yang bertengger di pangkuannya saling meremat kuat, sementara Arleta mengangguk bahagia merasa diperhatikan dan diprioritaskan.
" Terima kasih, pak. Saya makin sayang sama bapak. Eh, sebagai murid tentu saja, saya harap mbak gak salah paham."
Shavara tidak menanggapi ucapan Arleta yang jelas-jelas di pendengarannya sengaja diucapkan.
Ekor mata Bhumi melirik Shavara yang melihat keluar mobil dengan bertopang dagu, tidak ada satu kata Lin terucap darinya pasca sarapan tadi.
" Kamu tidur saja, badan kamu pasti pad sakit semua."
" Baiklah kalau bapak memaksa saya istirahat, saya tidak akan melawan bapak." sambil berbicara demikian Arleta melirik Shavara.
Mobil berhenti di tempat yang dituju. Bhumi melirik ke bangku belakang dimana Arleta tertidur lelap.
" Kenapa diam saja?"
" Gak mau ganggu kamu sama murid kesayangannya." jawab Shavara ketus.
Bhumi terkekeh geli," turun yuk, udah nyampe."
" Murid kesayangan kamu gimana? Mau ditinggal, tega banget tadi aja diperlakuin kayak princess."
" Nanti ada yang gendong."
Bhumi melepas selt belt Shavara,
Cup...
Mengecup sekilas bibir yang cemberut itu.
" Love you." ucap Bhumi di depan wajah Shavara dengan jarak yang dekat itu.
" Isshhh, tadi aja sok gak anggep aku, sekarang rayu aku, Pante banget jadi fuckboy." Shavara membual pintu, dia terkejut mereka ada di lobby rumah sakit dengan dua perawat menunggu mereka dengan brangkar kosong.
" A..."
Bhumi mengedikan bahu," Aku harus melakukan apa yang semestinya kan." Bhumi mempersilahkan para perawat itu memindahkan Arleta yang tampak tidak terganggu akan pergerakan badannya.
Arleta terbangun karena goyangan di bahunya oleh seseorang, ia menelisik ruangan di mana ia berada.
Ia langsung terbangun duduk saat melihat ayah dan ibunya di sofa bersama Bhumi dan Shavara.
" Pa...." lirihnya, ia menuruni ranjang berlari kecil duduk bersimpuh di lantai.
" Memalukan, kalau kau tidak bisa membuatku bangga, cukup tidak mempermalukan ku."
" Pa..." g
Deby mengusap lengan Jagar yang langsung ditepisnya.
" Pemerkosa4n kamu anggap lelucon hanya untuk mengambil hati lelaki. Mana harga dirimu, Arleta?" bentak Jagar.
" Pa, maaf..maafkan aku..tapi aku benar-benar diperkos4."
" Apa buktinya?"
" Pa, lihat baju..." Arleta terkejut pakaiannya sudah berubah dengan pakaian rumah sakit.
Ia lantas berlari mencari cermin yang hanya ada di kamar mandi, luka-luka yang sebelumnya memenuhi wajah dan tubuhnya hilang. Wajah dan tubuhnya bersih.
" Pak...tolong percaya padaku..aku semalam memang dibegal oleh beberapa orang." Arleta menghampiri Bhumi yang membuat Jagar semakin marah.
" Kalau begitu kita visum untuk kepentingan lapor ke polisi."
" TIDAK..., bukan itu yang aku butuhkan, aku hanya menginginkan bapak menikahiku." sanggah Arleta panik saat mendengar kata polisi.
" Kenapa saya harus menikah mu?"
" Saya diperkos4, pak. tidak kan ada satupun yang menikahi saya. bapak guru saya, tentu bapak harus bertanggung jawab atas diri saya." mohon Arleta.
" Kamu terlalu sehat untuk menjadi korban pemerkosa4n oleh enam orang." Bhumi tersenyum miring penuh dengan meremehkan.
" Kecuali kamu menikmatinya..."
Arleta mundur beberapa langkah karena syok. Kepalanya menunduk menyembunyikan pupilnya bergoyang bergoyang-goyang lemah dan putus asa.
" Kalau begitu bisakah bapak menikahi ku karena aku telah bersusah payah sedemikian effort-nya untuk bapak?" tidak ada penyesalan kala kepala itu terangkat dan matanya menatap lurus mata Bhumi.
PLAK....
__ADS_1
Ayo ramein komen, like, hadiah dan vote-nya kasih bintang 5 ya♥️♥️♥️♥️♥️