
Bhumi menepis pegangan itu. Membantu turun Shavara yang sedikit kesusahan sebelum dirinya turut menuruni motor.
Membukakan helmnya, turut membantu Shavara merapihkan rambutnya serta membawakan Tote bag Shavara. Act of service habis Bhumi ini.
Semua itu ditonton oleh Arleta yang dengan tanpa sungkan masih berdiri di sana seakan menunjukan siap bersaing sebagai pemilik tempat di samping Bhumi.
" Sayang, kamu ke kantor duluan ya."
" Tapi..." matanya melirik Arleta.
Shavara yang tahu Bhumi mengeluarkan kemarahan ingin mencegahnya, namun perkataan Bhumi menghentikannya.
" Ini hari pertama kamu, kamu harus memberi kesan yang baik.
" A..."
Bhumi mengecup kening Shavara disaksikan beberapa guru yang tengah memarkirkan kendaraannya.
" Everything gonna be okay. Trust me."
Shavara mengangguk patuh, ia mencium punggung tangan Bhumi sebelum masuk ke area sekolah di mana Mira telah menunggunya.
Tatapan lembut Bhumi berubah menajam saat kembali mengarah pada Arleta, seketika tubuh Arleta bergidik ngeri namun ia endapkan.
" Kamu jelas tahu saya sudah menikah." suara bass nan datar dari Bhumi menciutkan mental Arleta.
" Demi bapak saya siap disebut pelakor." sahutnya percaya diri.
" Demi apa?"
" Mendapat cinta bapak." jawab sigap Arleta.
" Apa saya terlihat tergugah dengan ucapan kamu itu?" tatapan menusuk sangat mengintimidasi Bhumi berikan.
Arleta terdiam, dia ingin menjawab, namun lidahnya kelum Dadanya sesak mendapati respon negatif dari Dewa.
" Pak..." cicitnya.
" Jawab saya dengan lantang, apa saya terlihat tergugah dengan usaha kamu ini?"
" Saya berpegang pada keyakinan saya. Dulu bapak peduli pada saya, suatu saat pun bapak akan lagi peduli pada saya. Bapak bilang kita senasib, nasib itu yang saya yakini akan mempersatukan kita."
Bhumi terkekeh sinis," cerita sekelumit saya yang kau jadikan dasar atas kegilaan mu itu."
Arleta memanfaatkan situasi masa lalu untuk memberanikan diri lebih mendekat lalu memegang tangan Bhumi.
" Pak, luka itu masih ada, kita bisa saling menyembuhkan. seperti dulu, kita menguntai kisah dalam dunia kita sendiri."
Bhumi mencekal kuat-kuat tangan Arleta, ia meringis nyeri memaksanya melapas pegangannya.
" Pak..sakit... lepas, pak...ini sakit..."
Bhumi mengabaikan rintihan kesakitan Arleta, ia hanya memandanginya tanpa ekspresi. Lalu Bhumi menarik Arleta mengikis jarak yang sudah mengecil itu
" Aku tidak peduli apa yang yang kau pikirkan dalam otak mu itu, tapi kalau kau berani mengacaukan pernikahan ku, menjadi pembunuh demi melindungi wanita tercinta aku bersedia. jadi mundurlah atau enyah kau dari kehidupanku." desisnya sembari mendorong kencang Arleta.
Punggung Arleta terkena stang motor lain, ia meringis sakit.
" Pak, ku mohon lihat aku...aku segini merendahkan diri demi bapak...lihat aku..ku mohon...aku sangat mencintai bapak."
Cuih...
Pilu, saat lelaki yang dicintainya meludahinya, meremehkan dirinya.
" Kali ini, sejengkal kau mengganggu istriku, ku pastikan kau di penjara. Saya masih menyimpan bukit tindakan asusila mu pada saya." Bhumi meninggalkan lahan parkiran, beberapa guru bersikap seolah tidak melihat apapun. Bukan karena takut, namun hanya sekedar solidaritas semata.
Melihat Arleta mengejar Bhumi bukan hal pertama kali, bahkan persaingan Siena dan Arleta guna menarik perhatian Bhumi bukan rahasia lagi.
Mata Arleta terbelalak lebar, wajahnya pucat pasti ketakutan. " BAPAKKKK..." teriak Arleta.
^^^^^
Para siswa hilir mudik karena masih jam kosong di hari pertama semester genap, hanya kelas dua belas yang diisi wejangan wali kelas terkait hasil nilai semester lalu.
Bhumi tengah memberi efek jera pada anak muridnya yang nilainya di bawah standar yang ditentukan kelas.
Puk....
satu pukulan kertas mendarat di kepala Nuril." Kamu yang ingin paling menggebu-gebu memgenakan almamater kuning, tapi nilai almamater swasta biasa, gimana mau jebol, coba."
" Pak, ini saya udah udah lho, pak." Nuril menatap kesal nilai matematika-nya yang berjumlah 75.
" Lebihin usahanya. Ada masalah?"
" Dia putus cinta, pak " sahut Yudi.
" lha emang ada yang mau sama si somplak ini?" Bhumi pura-pura terkejut.
" Dih, si bapak. Belum tahu aja anak didiknya rebutan adik kelas." sahut yang lain.
" Otak adik kelasnya aja pada stress sampe ngelirik kalian."
" Si bapak, kalau ngomong....suka bener...." gelak tawa memenuhi ruang kelas.
Bhumi menghembuskan napas lelah, muridnya ini dikasih wejangan malah bercanda.
" Bapak hanya menekankan, sebagus apapun lembaga itu hanya memfasilitasi. keberhasilan dan kegagalan ada di usaha kalian. tidak lucu impian kalian memperbaiki nasib gagal hanya urusan sepele soal cinta-cintaan yang belum tentu juga menjadi jodoh."
" Sekian dari bapak. Kelas bubar." Bhumi berjalan ke mejanya, merapihkan beberapa kertas berisi rekapan nilai.
" Pak, ini langsung pulang kan ya " tanya Megan.
" Baru jam sembilan ini, nikmati aja masa-masa di sekolah yang hitungan bulan lagi kalian tinggalkan."
" Ihh, si bapak belum apa-apa bikin kita melow."
" Itu pun kalau kalian lulus, kalau enggak..masih banyak waktu di sini."
" Berjandanya nyeremin."
" Belajar tambahan harus sudah ada jadwal ya, sedikit perubahan jangan weekend, weekend buat istri tercinta saya."
" Jiaaaa...."
" Cieee....yang udah punya pawang. ..
" Pantesan bapak terlihat lebih glowing..udah ada yang treatment-in bapak."
Ptak...
Sentilan yang lumayan bikin jidat sakit dirasakan Megan.
" Kamu ini penampilan mulu yang dikomentarin. isi otak kamu... banyakin asupan pelajaran."
" Saya penasaran sama istri bapak. Yang kemarin diajak ke angkringan bukan sih, pak." tanya Yudi.
" si bapak pernah ngajak cewek nongki di sana?" tanya yang lain lebih kepo, yudi mengangguk polos.
" Cantik?"
" Beuuuhhh... kecantikan Megan sama yang lain kalau gabung juga masih lewat. mulus pisan euuuuuyyyy ...."
" Yudi, jangan gosipin ibu negara kamu. Gak sopan."
" Pelit.."
" sok posesif.."
" cemburuan..."
" Gak pede untuk bersaing ya, pak..."
Cibiran dan ledekan saling bersahutan, Bhumi malas meladeni anak muridnya yang makin astaghfirullah.
" Bubarrrr....makan,..supaya lebih pintar...." Bhumi keluar dengan helaan napas kesal seperti biasanya jika anak muridnya bertingkah.
. sepanjang jalan koridor langkah Bhumi sering menelan karena banyak sapaan padanya, sebenarnya Bhumi males menjawab tapi tidak etis mencueki mereka.
" Selamat pagi, pak. nambah ganteng ya pak sehabis liburan ini." sapa genit satu siswi
" Selamat pagi, Alhamdulillah saya tidak cantik ya..."
" Selamat pagi, pak. Pak makan bareng di kantin yuk..."
" Makan duluan aja, supaya fisika kamu lebih bagus nilainya...."
" Pak, udah sayang belum sama saya..."
" Saya masih lebih sayang ke istri saya..."
" Aih...maaf pak, saya lupa bapak beristri..habis kelihatan lebih fresh sih...."
" Terima kasih, tapi saya bukan ikan..."
" Bapak, kapan nikahi saya...."
Bercandaan itu mendapat cibiran dari murid lain, dan tidak dibalas oleh Bhumi, bahkan Bhumi menganggapnya tidak pernah mendengarnya.
Megan dan yang lain mendekati murid tersebut, dia mendorongnya hingga menubruk dinding.
" Pertanyaan Lo gak lucu,..."
" Gue juga berhak dong menyapa beliau."
" Gak, apapun soal Lo dan pak Dewa gak boleh terjadi musti itu cuma candaan. Gue udah dengar soal yang tadi pagi, sumpah, Lo sememalukan ini... Ta."
Tangan Arleta mengepal kuat, Aditya yang berdiri di belakang temannya hanya memperhatikan.
" Leta,.." mereka semua menoleh pada Aditya yang memanggil.
__ADS_1
" Dit, jangan ikut campur. ini persoalan pak Dewa."
" Gak pernah ada tentang kalian berdua selain hanya di otak Lo itu, gue cuma mau bilang, pak Dewa tidak sebaik yang Lo kira. Gue pernah lihat dia mencederai wanita jika itu memang harus."
" Gak akan mungkin kalau ke gue..."
Aditya mengedikkan bahu," dia aja bisa memperlakukan Lo kayak kemarin, kenapa satu pukulan aja gak berani."
Semua orang yang mendengar terlihat bingung." liburan kemarin ada apa, Dit?" tanya Nuril.
" Kita ke kantin, ngegibah."
" Adit, jangan berani-beraninya Lo..."
" Mingkem cangkem Lo, siapa Lo bisa ngatur gue."
" Masih pada mau tahu gak?"
" Mau...,"
" Kita ke kantin...."
Arleta memejamkan mata dengan kedua tangan mengepal makin kuat, Leo hanya menyaksikannya dengan raut datar walau hatinya gundah.
Di kantor guru, bapak kepala sekolah sedang memperkenalkan Mira dan Shavara ke pa re ah66777u guru.
Sejak pagi, mereka berdua keliling memperkenalkan diri pada staf sekolah dan sekarang di ruangan guru yang merupakan salah satu tempat mereka magang juga nanti.
Kaki capek, tentu. tapi ini demi kelancaran satu semester ke depan.
Mata Shavara mencari Bhumi diantara mereka yang ternyata tidak ada di sana.
" Jadi saya harap kalian bisa bekerjasama dengan mereka berdua. silakan kalian lebih mengakrabkan diri..."
" Assalamualaikum..." Bhumi dan Guntur berdiri di ambang pintu, matanya sedikit melirik ke arah Shavara dan Mira.
" pak Dewa dan pak Guntur, kalian bisa berkenalan pribadi kan ya..saya ma pergi ada urusan .."
" Bisa, pak."
" Saya, Guntur...."
" Hallo, saya Dewa..."
Setelah berkenalan secara formalitas, bahkan kalau diperhatikan Bhumi sedikit lama memegang tangan Shavara saat berpangaman. Namun sayang tidak ada yang memperhatikan selain Agam yang mesem-mesem tidak jelas.
" Boleh saya minta bantuan kamu?" pintanya pada Shavara.
Siena yang mendengar itu tidak suka, namun untuk mencegahnya dia juga belum berani.
Perbuatan terakhir bumi padanya dan Kakaknya masih terbayang jelas, hanya matanya yang mendelik sengit.
" Tentu, apa yang bisa saya bantu.."
" Mari ke ruangan saya..."
" Pak Dewa, jangan lupa istri di rumah..." celetuk satu guru.
Dewa terkekeh pelan," Aman pak...ini profesional..."
" Inget, pak...poligami boleh..tapi adil itu yang sudah..."
" Hahaha, saya cuma minta tolong lho ini..para bapak ibu...hati saya tetap utuh untuk istri .." matanya melirik Shavara yang pipinya langsung bersemburat merah.
Guntur dan Agam yang tahu status mereka hanya menggeleng, jelas temanya itu sudah terdiagnosa bucin akut.
" Silakan masuk...."
Blam....
Pintu di tutup cepat oleh Bhumi. setelah pintu dikunci Bhumi menaruh kerta di atas meja dan langsung memeluk pinggangnya.
" Aa...jangan begini...nanti da orang masuk gimana?" Shavara panik bukan main.
" Pintunya udah dikunci, sayang. Aa kangen..." Bhumi mengecup bibir Shavara.
" Aa ihh..jaga sikap..."
" Gak perlu khawatir gitu, Sayang. Aku beneran kangen ini..." bumi mendekapnya.
Shavara hanya bisa pasrah." tadi di parkiran gimana?"
" Gimana apanya?"
" A...jangan mulai berbelit-belit..."
" Aku udah mengultimatum dia walau aku ragu dia berhenti berulah." Bhumi mengecup ubun-ubun Shavara.
" Bu Siena kayaknya posesif yang ke kamu." Shavara menengadahkan wajah, Bhumi menunduk menatapnya.
" Ck, jangan bahas dia, dan jangan ladeni dia."
" A,..."
" Aku cinta Aa..."
Bhumi mengangkat alis, lalu tersenyum." cinta Aa melebihi kamu."
" Kenapa?"
Shavara menggelengkan kepala," Aku cuma sedikit cemas saja, habis di sini muridnya cakep-cakep."
" Hehhehe, gak bikin aku suka jug tuh."
matanya berubah lembut," Jangan cemaskan hak itu, aku beneran udah jatuh di kamu."
Shavara mengalungkan kedua tangannya ke leher Bhumi sedikit berjinjit sebelum mencivm bibir suaminya.
" Terima kasih atas cintanya."
" Gak cukup...." Bhumi menhan Shavara yang hendak melepaskan diri.
Ia ******* bibir yang selalu menggodanya.
" Hmmmmhhh..."
" Hmmmhh..."
Lengkuhan keduanya mengisi ruangan, seiring satu tangan Bhumi mengusap punggung Shavara, dan tangan yang lain menahan tengkuknya memperdalam pag'utan mereka.
" Mmhhhh...."
" Ssshhh...aaahhhh... Aa..ini sekolah..." desah Shavara saat civman Bhumi merayap turun ke leher.
" Maaf,...aku lupa" tubuh mereka sudah menempel tidak ada jarak, napas mereka terengah-engah.
Rambut keduanya sedikit berantakan. Shavara melepaskan diri berjalan ke depan cermin yang berad di sudut dinding untuk memeriksa penampilannya.
" Kan berantakan..." Bhumi mendekapnya dari belakang.
" Maaf, aku beneran lupa. Nita ya cuma pengen kecupan doang."
" Isshhh..makanya tahan nafsunya."
" Gak bisa, kalau sama kamu bawaannya pengen ngelahap mulu, sayang." Bhumi menyerukan kepala ke leher Shavara menciumi di sana.
refleks Shavara meresponnya dengan memiringkan kepalanya memberi akses pada bibir itu mempermainkan kulit lehernya.
" jangan pake lidah, geli."
" Enggak, hisap dikit ya.."
" Gak mau, nanti merah. Kelihatan orang malu, Aa."
" Pulang yuk, toh hari pertama belum ada kerjaan."
" Nooo... Aa berhenti, geli banget ini..." Bhumi pun berhenti, ia khawatir makin kebablasan.
mereka saling pandang melalui cermin." Nanti pulang mampir ke rumah aku dulu ya."
" Aku harus ke kampus dulu."
" Aku anterin." Bhumi mengecup bahu Shavara sebelum menjauhkan diri.
" Mana tugas aku nya."
" Tugas apa?"
" Iishh..tadi kamu bilang minta tolong, buat apa?"
" Ooh..alibi, cuma pengen modus doang sama kamu."
" Isssh...nyebelin..."
" Ishhh....nggemesin." balas Bhumi santai dengan senyum di bibirnya.
Shavara membual pintu yang langsung ditodong Mira.
" Var, makan di kantin yuk. Ditraktir sama pak Guntur."
" Ayok."
" Saya harap kalian disini gak lupa untuk apa? Jangan terlalu banyak menggoda guru." celtik Siena sinis.
" Bu Siena jangan mulai julidnya, kebetulan saya dan mereka sudah saling kenal. Saya hanya ingin beramah tamah."
Guntur sudah membimbing mereka keluar ruangan sebelum Bhumi bertanya," Mau kemana?"
" Kantin, mah join gak?" sahut Agam.
__ADS_1
" Ayok lha."
" Pak Dewa,..." ucapan Siena terhenti kala Bhumi menatapnya tajam.
Siena hanya menghemat napas gusar menatap punggung mereka meninggalkan kantor.
" Ini semua salah mbak, aku tidak bisa lagi mendekati pak Dewa.
Di kantin keberadaan dua wanita cantik ini menjadi perhatian, bahkan beberapa murid playboy yang dekat dengan para guru muda itu tidak segan mengambil meja di samping mereka.
" Kakak, sekarang udah gak suka sama brondong lagi, ya.emang seharusnya sama yang lebih mapan sih, kak. Kalau adek Adit kan belum bisa nyari uang sendiri nanti jadi beban kakak." ucap Gara si biang kerok.
" Kamu kenal dia?" tunjuk Guntur ke Shavara.
" Yang kemarin kemarin kan, waktu Mama-nya Adit melabrak Arleta."
" Lambe llo, nyokap gue ngelabrak. Gak elegan amat." Aditya datang dan langsung uduk di samping Shavara.
" Jauh-jauh lho dari Kakak gue."
"OOOOOHHHH...KAKAK...apaaaa... seriusan, Dit. Kakak Lo? Kok beda jauh sih, Lo buluk banget." Aku teman Gara.
" Loncer ya Lo buat fitnah gue, buluk di aman gue, most wanted ini..."
" Cewek yang bilang lo ganteng, matanya katarak, Dit."
" Ck,..pergi .pergi jauh Kalian dari kakak gue."
" Gak bisa, Dit. gue udah Pall in lope ke kakak Lo" aku Gara.
" Terlambat, dia udah nikah."
" Aah ..massaaa?" kaget mereka semua.
" Lo ngibul..."
" Gak ya, dia emang sudah nikah."
" Yaaa...kecewa hati dedek, kak..." gara dan kawan-kawan berpura-pura kecewa.
" Tapi boleh lah buat cadangan dikala Kaka berantem sama suaminya..." ucap Gara yang tidak tahu kalau suaminya adalah Bhumi.
Bhumi yang duduk di depan Shavara mendengkus sebal, sementara yang lain terkikik geli.
Dari jauh, Arleta melihat itu semua, niatnya duduk di samping Bhumi tidak terwujud karena keberadaan para murid nakal itu.
Namun idenya tidak pernah luntur, ia mengambil nampan berisi makan dan minuman dari seorang siswa yang lewat di depan.
" E..eee...eeehh punya gue itu..."
" ini, Lo beli lagi." Arleta memberinya uang 50 ribu padanya.
Tanpa disadari olehnya Mira melihat semuanya namun bersikap santai saja walau matanya tetap mengamatinya.
Arleta berjalan lenggak-lenggok namun langkahnya menelan ketika berada agak dekat Shavara secara slow motion meminum es jeruknya.
Tepat belakang Shavara, Arleta berpura-pura memiringkan gelas sengaja menumpahkan isinya, namun baru sedikit air itu tumpah mengenai Shavara, namun secara tiba-tiba Mira berdiri secara tidak kasat mata menepis gelas itu dengan tangan yang memegang gelas berisi jus alpukat yang menumpahinya bersama air es jeruk.
" Upppsss....sowrryy...gwak sengajya..." Mira pura-pura kaget cantik menutup sedikit bibirnya.
Arleta tidak kalah kaget akan apa yang terjadi yang ternyata tidak sesuai ekspektasinya
Bhumi dan yang lain bereaksi cepat, Aditya menarik Shavara, Bhumi berputar mendorong Arleta hingga jatuh dan semangkuk soto beserta sepiring nasi menumpahinya demi memeriksa Shavara.
" Kyaaa...." Arleta menjerit kepanasan yang tidak dipedulikan oleh siapapun.
Aksi Bhumi mengudang perhatian seluruh penghuni kantin," Kamu ganti baju yuk." Bhumi membersihkan rambut Shavara dengan tissue dibantu Aditya.
" Aku gak apa-apa."
" Kamu kena tumpahan."
" Pak, aku lho yang kena tumpahannya." ringis Arleta kesakitan. Lengan dan pahanya memerah perih.
Guntur dan Agam hendak menolong, namun diurungkan karena delikan tajam Bhumi.
Keduanya hanya menghela napas berat sembari mendudukkan diri di bangku.
" Dikit doang, gak apa-apa." Shavara mengambil tissue baru dari Bhumi.
" Teh, ganti. Bajunya basah. Aku bawa Hoodie." tawar Aditya.
" Gak apa-apa, dek. Udah kalian jangan terlalu lebay, ah." Shavara melirik ke seluruh ruangan yang memperhatikannya.
" Kalian duduk lagi sana. Murid kamu yang kena itu." sambil melihat ke Arleta yang masih lesehan di tempat, Shavara sedikit mendorong Bhumi.
" Biarin, tuman. Keseringan dia membully orang."
Semua orang yang mendengar suara dingin itu terperangah, mereka tidak percaya guru idaman mereka yang biasa melerai perkelahian membiarkan muridnya terluka.
Sumpah demi apapun kali ini Bhumi benar-benar sedang menahan amarahnya. Kalau tidak ingat dia seorang guru dan ini di sekolah, sudah habis si Arleta itu.
" Pak, bapak gak etis. Saya murid bapak."
" Gara, bantu dia." titah Bhumi malas.
" Dia siapa,...,saya siapa...saya di mana?" aksi pikun Gara disambut cekikikan dari penghuni kantin.
" ADA APA INI?" Bu Ratna datang memasuki kantin karena tawa yang mencurigakan.
" Ibuuu..tolong saya terluka..." rengek Arleta bagai korban yang tersakiti.
" Arleta?" Bu Ratna terkejut dengan keadaanya, seketika ia cemas berbalut khawatir. pasalnya Arleta adalah anak dari donatur penting sekolah.
" Siapa yang melakukan ini? Kamu ya..Gara?"
Gara yang terkenal biang onar selalu menjadi tersangka utama dari segala percekcokan yang ada.
" Dih, ibu berpikir positif saja tentang saya." sarkas Gara sinis.
" Saya juga milih orang buat dijadiin lawan, lha dia...dikasih gratis juga buat nyentuh dia saya ogah apalagi adu mulut..euyuuuuhhhh." ucapnya dengan raut jijik.
" Bukan Gara Bu. tapi pegawai magang itu." tunjuk Arleta pada Shavara dan Mira.
" Dih, fitnah. orang gak sengaja. siapa suruh jalan mepet sini, jalan lumayan luas gitu." sanggah Mira menunjuk sela meja dengan tampang innocent.
" Saya gak fitnah, Bu. Ini buktinya."
" Itu gak membuktikan apapun."
" KAMUU...Bu, tolong kasih SP buat mereka."
" Jih, sok banget..."
" STOP,..." dua orang yang saling sanggah itu bungkam.
" Ada saksinya?"
" Semua orang yang ada di sini melihatnya. Tanya saja mereka."
" Benar, kamu melihat Arleta dirundung?" tanya Ratna pada salah satu siswa terdekat.
Bhumi, Aditya, dan Gara menatap dalam pada siswa tersebut.
Siswa yang mendapat intimidasi tanpa kata tersebut, hanya mampu berucap." tidak Bu, saya tidak melihat apapun." toh dia sebenarnya malas membela Arleta.
" HEI..LO..AWAS..YA..LO..."
" Begini hasil didikan sekolah elit, orang berkata sesuai hati diintimidasi." sindir Mira luwes mengalihkan perhatian.
" Coba kamu,..." tunjuk Ratna pada siswa yang duduk terhalang satu meja dari mereka.
" Apa kamu melihat perundungan terhadap Arleta."
Kini tatapan Bhumi, Aditya, dan Gara beralih menatapnya.
" Tidak Bu, kita lagi enak-enaknya makan malah ada yang heboh sendiri."
Ratna yang paham ada aura konspirasi, memutuskan menyudahi investigasi konyol ini.
" Ck, sudahlah. Saya percaya kalian. Toh kalian tidak akan ada yang angkat bicara."
" Sekarang bantu dia..."
" Biar saya yang bantu." Mira mendahului mendekati Arleta yang menggeleng menolak.
Arleta menepis ukuran tangan Mira." Gak mau, saya hanya mau dibantu pak Dewa."
" Huuuuuuu...."
Ratna pun merotasikan matanya jemu." Jangan modus kamu. pak Dewa sudah beristri."
" Sudah bantu dia."
" Baik."
" Vara, bantu."
" Gak mau."
" Jangan."
Tolak Arleta, Bhumi dan Aditya berbarengan.
Mira yang sudah jenuh melihat drama ini, berjongkok, lalu membisikinya." Nurut, atau ku bongkar aib mu, salah satu bahwa kau bukan lagi anak dari tuan Jagar."
Arleta menegang, ia dengan berat hati menuruti perintah Mira.
Sepanjang koridor, dibuntuti oleh Aditya cs otomatis Arleta berjalan tertatih-tatih tanpa bantuan karena Mira yang tidak memeganginya, dan Shavara yang bantuannya ditolak.
__ADS_1
Di dalam toilet, Mira langsung mengunci pintu, ia menghadap Arleta dengan senyum smirk.
" Saatnya kasih tatar Lo agar jadi murid yang baik..."....