
" SELAMAT PAGI DUNIA..." Teriak Bian dari atas tangga sambil merentangkan kedua tangan dihiasi senyuman sumringah, dengan bersemangat menuruni tangga. matahari belum juga matahari terbit suasana rumah yang biasa adem sudah ramai dengan teriakan Bian.
" Norak." jawab Senja sedanhg menata masakan untuk dagangan Rianti.
" Pagi adik Abang yang ayu." Bian mengusap rambut Senja yang menjauhkan diri darinya.
" Kakak bohong, ini udah dua hari tapi gak ada kabar kakak mau mendapat warisan."
" Senja." Rianti menggeleng kepala.
" Gak tahu belum ada kabar dari mama." saat Bian hendak mengambil bakwan Bhumi menggeplak tangannya.
" Bantuin bawa ke depan." dengan manut Bian membawa dua box berisi gudeg dan tongseng daging. Memang dia bisa apa.
" Bawa kemana?" tanya Bian bingung, pasalnya Bhumi keluar persis setelah menyuruh Bian, membawa sebakul nasi uduk.
" Dua hari tinggal di sini, tapi gak tahu harus dibawa kemana, memang tuan muda mah beda." Sindir Senja, kemarin Bian bangun setelah semua orang pergi dengan kegiatan masing-masing.
" Hari ini kamu bolos lagi saya kasih nilai mate dibawah lima." ancam Bhumi yang kembali untuk mengambil semur yang berisi telur, tahu, dan kentang.
Senja tersenyum miring meledak, dengan sebaskom tempe bacem ia memimpin keluar rumah yang sudah dipenuhi pelanggan yang mengitari meja besar sementara selama masa pembangunan
warung yang dipasang di depan pagar rumah.
Melihat Bhumi ditambah pemuda ganteng pelanggan yang kebanyakan perempuan muda
berstatus mahasiswi memasang senyum siap bersaing.
" Mas Bhumi belum berangkat kerja?" tanya satu mahasiswi berambut sebahu.
Sebelum menjawab Bhumi melihat ke arah awan yang masih gelap." Belum buka gerbang sekolahnya."
Sedikit keki wanita tersebut tersenyum malu, Sedangkan Bhumi setelah menaruh bakul, langsung memasang bangku kayu panjang untuk dijejer mengelilingi meja.
" kakak-kakak cantik ini warga sini? kok saya baru lihat."
" Kami ngekost di rumah situ." tunjuk berambut panjang ke rumah yang berwana biru berjarak tiga rumah di seberang rumah Bhumi.
" Bi Sumi, maaf hari ini Enja gak bisa bantu bibi, Enja ada piket kelas." Senja menaruh baskom ke atas meja turu membantu menata dagangan.
" Iya gak apa, neng. ada suami bibi yang bantu."
" Ya udah Enja masuk dulu ya mbak-mbak dan ibu-ibu awet muda dan cantik.
" Iya, Enja. makin cantik makin rajin aja, abang tunggu ya masa dewasanya."
pletak...
Bhumi menjitak si rambut cepak yang menggoda Senja yang merupakan mahasiswa teknik.
" Bawa emas batangan dua kontainer mampu, kamu?" tanya Bhumi sembari memasang payung besar.
" Busyet syaratnya ngeri amat, bang. turunin dikitlah."
" Lo kira Enja barang diskonan?" sewot Bian.
" Adek ini siapa? kok baru lihat." tanya perempuan berambut bob.
Bian mengelap tangannya pada celananya." Kenalin si ganteng seantero kompleks, Bian, penghuni baru rumah ini."
" Ngekost juga?"
Bian melirik Bhumi bingung untuk menjawabnya.
Tanpa permisi Bhumi menarik kerah belakang kaos Bia ditonton oleh para pelanggan tanpa hati.
" Uhuk...uhuk..bang. sakit ini."
" Di sini bukan rumah kamu yang sudah tersedia banyak art untuk memenuhi kebutuhan kamu. sekarang waktunya membersihkan taman." Bhumi memberi sapu lidi padanya.
" Abang ngapain?"
" ngawasin kamu. yang bersih, dimulai menyapu daun kering itu tuh." tunjuknya pada daun yang berserakan di bawah pohon mangga.
Drttt...
" Hallo." Bian menahan salam dari sebrang sambungan.
"......"
" Oke, aku ke sana."
Sambungan telpon itu tidak lama, namun setelah menerima telpon Bian tak kunjung melaksanakan tugasnya malah memandangi Bhumi yang menyiram tanaman dan rumput.
" Tadi telpon dari mama, aku harus ke rumah sakit untuk meneruskan rencana mereka." beritahu Bian. sedikit rasa miris dalam hatinya mengenai keluarganya.
" Begini keadaan asli keluarga Edo Mahendra yang terkenal harmonis di luaran sana, bahkan papa masih berbaring sakit, tapi mama tetap memikirkan warisan itu." ada senyum luka di sana.
" Ini yang aku dapatkan setiap hari, di keluargaku tidak ada orang yang menanyakan kabar, atau apa kegiatan hari ini. mama bahkan memulai hari dengan menanyakan apa papa sudah mentransfer uang padanya, selalu begitu."
" tugas saya sudah selesai." Bhumi mematikan kran air.
" Lah?" Bian melihat ke seluruh tanaman yang sudah basah.
" Kamu cepetan nyapu. ini udah jam setengah enam."
" Abang mau ikut?"
" Kamu mau bapak kamu mati hari ini?" Bhumi tidak sudi mengakui lelaki tua itu.
" Enggak, aku belum siap gantiin beliau ngurus perusahaan."
" Apa hanya itu yang kamu pikirin?"
" Apalagi? kalau papa meninggal kan otomatis aku yang mengelola semuanya, jadi aku gak bisa hangout lagi."
" Kamu gak mikir kalau kamu jadi anak yatim gitu?"
Bian menggeleng, " aku aja gak tahu gimana rasanya punya papa mama selain dapet transferan uang." wajah kosong Bian sedikit menggugah Bhumi.
Bhumi menepuk bahu Bian." lakukan tugas kamu atau aku tambah sebagai hukuman." ucap Bhumi sebelum masuk ke dalam rumah.
Bian menyentuh bahunya yang ditepuk Bhumi, interaksi kecil, namun entah mengapa dia merasa telah ada sesuatu yang menghangatkan hatinya yang membuat moodnya membaik. Edo membalik badan sembari tersenyum meloncat riang masuk rumah.
Bhumi mengeluarkan motor RX king, saat melihat Senja tergopoh-gopoh mengikuti Bian yang hendak menunggangi motor sportnya.
" Kak Bian tunggu, tolong sekalian anter aku." Dua kantong besar berisi pesanan sarapan teman sekolah menambah kerepotan Senja.
Bhumi mengambil kantong-kantong tersebut dan mengikatnya di motor Bian.
" Aku gak ke sekolah, hari ini aku bakal jadi milyuner."
" Iya, tapi anter aku dulu ih, berat tahu."
" Bareng bang Bhumi aja."
"Ngapain punya kakak baru kalau masih semotor sama kakak yang lama, aku ini sedang menjadikan kakak bagian dari keluarga ini, tahu."
" Ja, gak muat. kamu bawa motor sendiri aja." Bhumi meliirk ke atas motor Bian.
" Lha? kok di motor aku? motor keren bawa uduk, jatoh gak si pamornya." gerutu Bian.
" Enggak, mas Bhumi tiap hari bantu bawa tetap aja jadi rebutan anak sekolah." ucap senja sebelum kembali amsuk ke rumah untuk mengambil kunci motor vario-nya.
" Kamu gengsi? malu?" Bhumi bersedekap dada melihat Bian yang ragu menaiki motornya."
" Malu sih enggak, tapi ..."
" Hasil dari penjualan uduk ini yang bikin ayah kamu gak bisa hina kami, sumpah serapah mereka gak mempan di hidup kami, aku gak hidup dari mengemis uang dari pria tua itu, kalau kamu mau menjadi anggota keluarga ini, hormati sumber penghidupan kami ini." selalu, rasa marah Bhumi selalu hadir di setiap membahas mereka.
Bian termenung, ia pun mengangguk dan meninggalkan rumah dengan barang jualan Senja.
" Kak Bian udah berangkat, mas?" Senja keluar dengan membawa helm.
" Udah, kamu sengaja ingin mempermalukan dia? biasanya bawa sendiri atau minta bantuan mas."
" Heeh, Enja jengkel sama tampang sok keren dia, Enja gak tahu dari sudut mana nya yang bikin kak Bian jadi most wanted."
" Dia ganteng."
" Jempolnya?"
Bhumi terkekeh," udah, sana pergi. sebelum Bian membagikan gratis dagangan kamu."
Bhumi memarkirkan motor di samping meja," Bi, ada yang sekalian mau diantar gak sarapannya?" dagangan nasi Rianti menyediakan pesan antar ke sekitar perumahan.
" Enggak, mas. tadi udah sama mas Bejo, suami Bu Sumi.
" Lho kak Bhumi kok ada di sini.?" Mira kaget melihat pacar Shavara.
__ADS_1
" Saya yang harusnya tanya ke kamu, kok kamu di sini?"
" Saya baru pindahan kost ke rumah yang warnanya hijau itu." tunjuk Mira ke kost-an khusus putri di samping rumah biru.
" Ini rumah saya." tunjuk Bhumi pada bangunan di belakangnya.
" Oalah kita bertetangga toh, ada Vara nginep mas, dia bentar lagi ke sini."
" Oh?" Bhumi mengambil ponselnya menghubungi Shavara yang tidak dijawabnya, namun Bhumi melihat Shavara keluar dari pagar.
" Ya Allah, mas. maaf saya belum lapor kalau ada penghuni baru, kamar kosong sisa satu mas jadinya." kata bi Sumi.
" Gak apa-apa, nanti siang jangan lupa lapor ibu."
" Kalau ke ibu sudah, cuma belum ke mas Bhumi."
Mira memperhatikan percakapan mereka," kenapa mesti lapor kak bhumi, Bi?"
" Kan kost-an itu punya mas-nya ini, non."
" Oooh, gitu."
" Lho kak Bhumi?" Shavara menunjuk Bhumi sembari melihat ke sekeliling.
" Kamu gak bilang aku nginep di kost Mira." Bhumi menghampiri Shavara. ada beberapa pelanggan yang melihat itu."
" Siapanya mas Bhumi?" Heran ibu berdaster, tidak biasanya Bhumi mau berinteraksi dengan wanita.
" Wanita cantik ini pacar saya Bu RT." Bhumi menjelaskan tanpa malu pernyataan itu mengagetkan pelanggan muda lainnya.
" Kak, ih." bisik Shavara malu.
" Sekalian, kan ke depannya kamu bakal sering kemari. kamu gak kuliah?"
" Agak siang. kak Bhumi belum berangkat?"
" Tadinya mau, tapi Mira menyapa saya, sekalian pengen lihat kamu."
" Kak Bhumi bisa biasa saja gak bucinnya?" tanya Mira dongkol karena dia masih jomblo.
" Emang saya ngapain? kita cuma ngobrol aja."
" Omongan kakak itu yang bikin aku baper. apaan pengen lihat segala."
" Apa saya salah kalau pengen liat pacar saya? dua hari gak ketemu cuma telponan doang."
" Enggak, Tapi saya ngiri."
Kalau Mira bukan sahabat Shavara, Bhumi tidak akan meladeni obrolan random ini," gak usah diladeni, dia mah kucing mojok aja juga ngiri." ucap Shavara.
" ooh, gitu. dengkian ya." seloroh Bhumi.
" Maklum jomblo dua tahun."
" Hehehehe, pantes. kenapa bisa nginep?"
" Gak niat, semalam pulang larut malam, kau aja tidur di mobil."
" Dari mana memang?"
" Nyari bahan si sok paling mau ngajuin proposal."
" Ck, iri jelek, nona."
"Mau ketemu ibu, nyapa bentaran." Bhumi berdiri dan menunggu Shavara.
" Ada?"
Bhumi mengangguk, " Ra, temannya saya pinjem dulu ya."
" Digadein aja sekalian, hasilnya bagi dua."
" Jangan cemebrut, saya punya teman guru jomblo, ganteng. nanti saya kenalin."
" Beneran?" Mira bersemangat.
" Tergantung keramahan kamu sih."
" Gak bakal kecewa Shavara punya sahabat kayak aku."
" Non, uduk saya simpan dulu?" bi Sumi sudah memenuhi pesanan Shavara.
" Mira, mau ikut gak sekalian kenalan sama ibu saya?"
" Nanti saja, kak. sekarang mah calon mantu aja dulu."
" Pengertian sekali, malam Minggu nanti saya kenalin ke teman saya."
"Siap, tinggal telpon."
Mereka berjalan berdampingan, sampai di depan pintu, karena sudah tidak tahan lagi, Bhumi mengecup pipi Shavara.
" Astaga, kak."
" Kangen." Bhumi tersenyum, ia membuka pintu.
" Bu, ada Shava."
Rianti keluar dari arah ruang makan." Lho pagi-pagi udah kemari aja si cantik."
" Pagi, Tan. apa kabarnya?" Shavara menyalami Rianti.
" Pagi, tumben ke sini pagi."
" Nginep di kost-an teman."
" Ooh, gitu. lain kali mampir sini sama temannya. udah sarapan?"
" Ini baru mau, keburu dibawa kak Bhumi kemari.
" Ya memang sarapannya harus di sini."
" Bu, biar Shava-nya makan dulu."
" Oh iya, silakan makan. ibu ke dapur dulu, Alhamdulillah hari ini ada pesanan katering buat nanti sore. Bhumi, kamu sepulang ngajat langsung pulang ya, anterin catering ke rumah ibu Sukma."
" Iya."
Shavara makan dengan risih karena sepanjang makan Bhumi memperhatikannya." Kak gak makan?"
" Udah."
" Lagi, aku malu dilihatin mulu." Shavara menyodorkan sesendok nasi.
" Langsung dari mulut kamu boleh?"
" HAH?"
Cup...
Bhumi menyerobot mengecup bibir Shavara.
" Kakak.. astaga kalau dilihat ibu gimana?"
" Aman." Bhumi merangkul pinggang Shavara.
" Kamu punya asih-asihan dari dukun ya?"
" Apasih enggaklah, takut banget main begituan. kenapa emang."
" Bawaannya aku pengen deket kamu terus. aku ngerasa jadi remaja alay gitu kalau sama kamu."
" Itu karena kakak pertama kali punya pacar kali." Shavara menyudahi makannya dan sedang meminum air teh hangatnya.
" Mungkin, pantes orang kalau lagi kasmaran kayak gak normal, emang bawaanya pengen banget giniin kamu." Bhumi tanpa sungkan mendekap Shavara, mengecup kepala Shavara.
" Kak, udahan. takut dilihat Tante."
" Ke kamar aku yuk?"
" Enggak, urusannya panjang."
Bhumi terkekeh, tetapi tetap saja dia menarik berdiri Shavara.
" Kak, ih jangan begini. mesum banget jadi orang."
Bhumi membuka pintu bercat coklat yang merupakan ruang kerjanya. Bhumi mengunci pintu tersebut, ia langsung mendekap Shavara menghilangkan rasa rindu.
" Bawaannya kangen mulu, gak paham ada lelaki yang menyia-nyiakan kamu." Bhumi menyembunyikan wajahnya dicelah leher Shavara yang memiringkan kepalanya memberi akses Bhumi mengeksplor lehernya.
__ADS_1
" Wangi..."
"Baru mandi, jadi wajar wangi." Shavara mengusap rahang Bhumi.
Bhumi mengangkat kepala, memutar Shavara untuk melihat padanya, dari belakang dia mencivm bibir yang selalu menggodanya itu. Melu-mat, mengigit kecil, menye-sap lalu menge-ranh dengan tangan mendekap semakin erat pinggang gadisnya.
" Ee..KH...hah..hah .." mereka menjauh saatmembutuhkan oksigen.
" Selalu, selalu seperti ini, selalu berasa civman pertama, suka banget aku."
cup...
Bhumi mengecup rahang Shavara. " terima kasih kemarin bersama aku, semuanya jadi gak berasa berat."
" Nanti jangan dipendam sendiri lagi ya." Shavara mengusap leher Bhumi.
" Hmm, beruntung aku punya kamu."
" Aku yang beruntung punya kamu, lelaki yang bikin aku sadar kalau aku berharga."
" Gak pantes pantes ada yang merendahkan kamu. Sayang kamu banget aku tuh."
" Aku juga." Bhumi mengecup kepala belakang Shavara.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Edo berbaring dengan mata terbuka lebar namun sorot matanya kosong, dia mengabaikan para perawat yang tengah memeriksa dirinya. bahkan setelah dokter dan perawat itu pamit Edo masih betah tenggelam dalam dunianya.
" Mas, kamu gimana sih kok tensinya bisa naik? kalau begini kamu bakal lebih lama di sini." Desty berkata kesal.
Dua hari di rumah sakit sudah membuatnya bosan, belum lagi harus mengurus suaminya yang tidak menganggapnya ada.
Edo menatap Desty, lekat, lama dia tatap istrinya yang tengah sibuk membuka bungkus obat.
" Kalau mas masih lama di sini, aku akan menyewa perawat untuk mengurus mas."
" Kamu tidak mau mengurus ku?" tanya Edo lemah, sejujurnya Edo masih tidak memiliki tenaga belum lagi jiwanya yang terguncang.
Desty gelagapan, namun segera dia ubah mimiknya menjadi tenang." bukan gak mau ngurusin, tapi semua rencana mas untuk pensiun dini buyar. mas janji loh mau mulai menikmati hidup dengan santai. lagian kita sudah tidak bisa membiarkan Bian hidup berfoya-foya terus-menerus, mas. kita harus memberinya tanggung jawab agar dia lebih dewasa."
" Kita masih bisa melakukannya di sini, toh aku juga sudah membaik. tapi kamu tahu sendiri apa syarat dia untuk menerima semuanya."
" Soal itu, gak usah dipikirkan. Aku sudah membujuknya, dia sudah setuju untuk menandatangani dokumen itu." Desty berbangga diri yang akhirnya bisa merobohkan kekeraskepalaan putranya.
" Benarkah?" Edo menyangsikannya.
" Benar. aku sekarang panggil dia sekaligus notaris dan pengacara ya."
" Panggil saja."
Dengan bersemangat Desty mengambil ponsel dari tas mahalnya yang bermerk H guna menghubungi semuanya.
¥¥¥¥¥¥
Edo duduk bersandar di brankar menatap putranya yang terlihat berbeda, entahlah apa, tapi Edo bisa merasakan jika putranya ini lebih hidup, lebih hangat, dan lebih bahagia.
" Pak Mahendra, semua berkas sudah kami siapkan, jika anda ingin kembali memeriksanya silakan." tawar pengacara, Gaurav.
" Tidak perlu, apa putra saya sudah memahami isinya?"
" Sudah Pa, Aku sudah baca dan meneliti semuanya. dan aku bersedia." jawab Bian sesantai mungkin.
" Baiklah, berikan berkas itu padaku." asisten notaris membuka lembar demi lembar untuk Edo tanda tangani.
Setelah selesai, giliran Bian yang menandatangi dan selanjutnya Desty sebagai saksi pertama dan Siena sebagai saksi kedua.
" Dengan ditanda tangani semua berkas ini, kami akan menindak lanjuti terkait pengalihan fisik benda bergerak dan tidak bergerak beserta kekuasaannya yang melekat padanya atas nama pihak kedua, yaitu tuan Bian Ferdinand Mahendra." ujar sang notaris bernama. Andres menatap penuh arti pada Bian yang tidak disadari oleh yang lain.
" Lakukan sesegera mungkin." ujar Desty terlalu bersemangat.
" Baik l, kami permisi."
Bian duduk menonton televisi dengan Edo yang menatapnya sepeninggal Desty dan Siena yang mengantar pengacara dan notaris sejak 20 menit yang lalu, waktu yang lama jika itu hanya untuk mengantar saja.
" Boleh Papa tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran setelah setengah tahun kamu selalu menolak gagasan ini?"
" Tidak ada yang istimewa, hanya aku enggan memperpanjang masalah. Apa yang Papa lakukan kemarin lusa di rumah ibu Rianti sangat membuat ku malu pada pak Dewa." jawab Bian setenang mungkin.
" Maaf, Papa pasti merepotkan kamu."
" Jangan dipikirkan itu sudah lewat. Pah, boleh aku bertanya sesuatu?"
" Tanyakanlah."
Bian mengumpulkan segenap keberanian dan mentalnya untuk satu pertanyaan yang sudah lama ingin dia tanyakan.
" Apa Papa pernah menyayangiku?" suara Bian tercekat.
Edo terperanjat, jantungnya terasa jatuh saat melihat sorot mendung di mata putranya.
" Tentu Papa menyayangimu, Nak."
" Bian tersenyum kecut," benarkah, tapi mengapa Bian gak pernah merasakannya? seingat Bian mengenang masa kecil, Bian gak menemukan Papa diantara kenangan itu, hanya mang Ujang dan Bi iteng saja yang memenuhi memori Bian."
Hati Edo tertohok keras mendengar suara getir dari putranya. inginnya menyanggah tapi dia sadar sikap pengecutnya sudah melukai begitu besar putranya.
" Bi..."
" Panggilan yang aku rindukan, sudah lama Papa gak manggil aku begitu. Bibi, terkesan feminim, namun aku suka, karena itu dari papa makanya aku tetap suka."
" Tapi lega rasanya mendengar ternyata papa sayang sama aku." Bian menghembuskan napas berlebihan seakan ingin mengusir segala keresahannya selama ini.
" Kalian lagi ngobrolin apa?" Desty dan Siena sudah kembali masuk kamar.
" Gak ada yang penting." Bian seketika merubah wajahnya menjadi datar.
Bian berdiri dan mencangklok ranselnya." aku ke sekolah dulu."
" Di sini aja dulu, Yan. kita rayakan keberhasilan pengalihan aset itu." ucap Desty tanpa beban.
Bian dan Edo menatap Desty dan juga Siena yang sudah sibuk dengan peralatan makeupnya.
" Ma, papa belum sembuh loh."
" Lalu? toh cuma mesen makan dan minum aja, kita juga ngerayainnya di sini."
" Terlalu." Bian tidak habis pikir akan pula pikir ibunya. ia beranjak ke pintu.
" Oh iya, mama sudah menyuruh pengacara untuk melaporkan kekerasan yang dilakukan anak itu."
" Ma.." Edo berucap marah.
" Apa? kamu mau bela mereka? lihat mas di sini karena mereka, selama berhari-hari mas . di sini gak ada satupun yang datang menjenguk mas apalagi meminta maaf." sinis Desty.
Langkah Bian terhenti saat tangannya memegang handle pintu, ia kembali memutar tubuhnya menghadap Desty.
" Memang tidak perlu, papa yang bikin keributan di sana."
" Kok kamu malah ikutan bela mereka?"
" Aku gak mau ngeluarin uang keluarga untuk urusan hukum konyol ini, kalau mama masih berniat meneruskan ini gunakan uang pribadi mama."
" Bian, kamu apa-apaan. ini demi harga diri kita." Desty menerus kembali lipstik yang hendak digunakan.
" Memang kita punya? tepatnya mama dan papa punya harga diri?" todong Bian.
" Apa maksud kamu?"
" Heh." Bian mengendus meremehkan. " Apa pelakor dan peselingkuh punya harga diri? itu maksud Bian."
Desty murka, Edo tertegun yang selanjutnya menatap putranya dengan mata sayunya. pikirannya kembali pada sosok Senja, putri yang dulu ia tidak akui.
" Kamu terlalu. hormati kami, kami kedua orang tuamu." Hardik Desty.
" Terlambat."
" Bian, jangan kurang ajar kamu."
" Mam, bosan aku mendengar bahwa aku anak durhaka dari mulutmu. kalau mama berani membuat skandal aku akan menstop transferan uang pada mama. ingat, sekarang aku yang berhak atas seluruh harta papa."
Bian keluar kamar yang langsung diikuti Desty.
" BIAN, KAMU GAK BISA LAKUKAN INI SAMA MAMA." teriak Desty mengabaikan ia di rumah sakit.
Bian terus berjalan, ia hanya mengangkat satu tangan untuk melambai.
" Mama akan pergi ke kantor mulai besok." kembali Desty berteriak namun Bian keburu menghilang.
Bian tidka langsung meninggalkan rumah sakit, dia memilih memesan kopi di kafetaria. andai dia bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan, tentu Desty tidak akan masuk kedalam listnya.
__ADS_1
" Gini amat nasib gue." Bian menyugar rambutnya...