Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
48. Panas Dalam Dingin.


__ADS_3

Melihat wanita menangis dengan sorot terluka membaut suasana hening, musik yang semula meramaikan pun turut dihentikan.


" Ya tuhan, Kinan. Lo apa-apaan sih, jangan bikin malu di sini." Adnan menarik-narik Kinan yang ditepis langsung Kinan.


" Biar semua orang tahu kalau kita saling cinta, kamu gak bisa mengabaikan aku hanya karena satu kesalahan, Wa. kasih aku kesempatan untuk memperbaikinya." lirih Kinan terdengar menusuk hati.


"Nan, Lo udah nikah. Gimana dengan suami Lo?" tanya Lukas.


Mereka saling pandang lempar bisikan makin heboh.


" Gue udah pisah sama dia, gue gak bisa kalau bukan Dewa." balas Kinan lantang.


Semuanya melongo dengan ucapan santai Kinan, malah ada yang geleng kepala tidak habis pikir.


Shavara melihat ke Bhumi yang menatap Kinan tanpa ekspresi, Shavara yang melihatnya merasakan sakit di hatinya ingin melepas genggaman tangan mereka.


Namun Bhumi menahannya, ia malah membawa tangan Shavara ke depan, lalu menangkupnya erat dengan kedua tangannya.


" Gue gak minat sama Lo, baik dulu maupun sekarang, Kinan. apa yang Lo lakuin saat ini bukti nyata Lo bukan perempuan baik-baik, kalau Lo gak paham bahasa kiasan, maka gue jawab dengan bahasa jelas. gue nolak Lo, jangan pernah ganggu gue, ini menjijikkan!!!" ucapnya tajam.


Para audiens lagi-lagi tercengang dengan kata-kata pedas dan kasar tersebut, namun teman sekelas Bhumi tahu betul dengan mulut kurang akhlak Bhumi.


Hal yang selalu membuat teman skelas wanita tidak pernah mikir untuk mencoba dekat dengan Bhumi selain pertemanan.


Kinan terkejut, dadanya seperti berhenti berdetak ia menarik napas lalu menghembuskannya, wajahnya memerah malu.


Ia tidak menyangka Dewa bisa segitu mempermalukannya, selama ia mengenalnya, Dewa bukan orang yang biasa berkata-kata tidak penting apalagi kasar.


" Sorry, bikin pesta kalian terganggu. kalian bisa lanjutin acara ini, jangan hiraukan drama picisan dari orang yang haus perhatian, tapi maaf gue gak bisa lanjut ngikuti pesta ini." seru Bhumi membawa Shavara yang bingung keluar dari ruangan.


"Kak, itu gak apa ninggalin Kinan begitu aja?" Shavara menoleh ke belakang yang mana Kinan masih memerhatikan mereka.


Langkah Bhumi terhenti, memegang dagu Shavara agar melihat padanya." Terus kamu maunya gimana? dia sendiri yang bikin dirinya malu, atau mau ngasih aku ke dia? aku tahu kamu gak cinta aku, tapi tega banget gak sih kalau kamu..."


Shavara menbekap mulut Bhumi, ia menggeleng pelan kepalanya," kasih dia paham kalau kamu punya aku."


Bhumi tertegun, disusul senyum lebar di bibirnya," Siap, cantik."


Bhumi kembali melangkah ke tempat Kinan masih berdiri di tempat, wajah Kinan seketika berbinar sumringah.


Semua orang pun kembali memperhatikan mereka.


Bhumi berdiri empat langkah di depan Kinan, dengan tangan menggenggam erat tangan Shavara.


" Haddeuuh, mau ngapain lagi si Bhumi, bagus tadi pergi." gerutu Adnan.


" Sabar, Bosque. kasih dia panggung " bisik Erlangga.


" Kinan, itu urusan Lo yang masih terjebak di masa lalu, gue cuma menekankan kalau gue sudah punya calon istri tercantik dan tercinta yang berdiri di samping gue ini, jadi kalau Lo mau ngegoda gue, itu berarti Lo pelakor, dan gue jijik pake banget sama perempuan yang semacam gitu, karena perempuan itu gak punya harga diri. jadi jauhi gue!!" tekan Bhumi di tiga kata terakhir.


Selepas kata-kata penghakiman itu dijatuhkan, Bhumi bukannya ngeloyor pergi, ia beralih berjalan ke Toyo, temannya yang berprofesi sebagai pengacara.


"Yo, si Kinan itu udah ganggu gue sama calon bini banget, gue tunjuk Lo jadi kuasa hukum buat nanganin ni perkara." pintanya.


" Ini kan bisnis ya, datang aja ke kantor." balas Toyo.


Darren menoyor kepala Toyo, " sok prof Lo, Lo nangis galau kayak SMA pas ditinggal nyokap Lo dulu, kita ogah nemenin ya. beres itu mah Wa." Toyo mendelik kesal pada Darren yang menurunkan wibawanya yang belum sempat naik.


Bhumi terkekeh," Thank, Lo emang pawang dia yang paling yahud. gue cabut, calon bini mau kencan."


Shavara membeliak, yang dibalas kecupan mesra di punggung tangannya oleh Bhumi.


Sementara Kinan menatap punggung dua orang yang menghilang di balik pintu besar itu.


" Lo gak perlu melotot antagonis, karena ini bukan sinetron, Nan. udah gue peringatin buat gak ganggu Dewa, tapi Lo ngeyel. kalau Lo gak mau dapet predikat pelakor, mending Lo perbaiki rumah tangga Lo." ujar Erlangga.


" Diam, Lo brengs'ek."


Erlangga mengapit dagu Kinan dan menekannya di sana, sinar matanya berubah menusuk.


" Dari dulu gue gak suka Lo yang sok asik, apa ancaman gue kala Lo tercyduk selingkuh Lo lupakan, mari gue ingetin. kalau Lo semurahan ini, gue punya banyak teman bang'sat yang bisa garap Lo kalau Lo ganggu Dewa, satu kali lagi lo bertingkah, habis martabat Lo." Erlangga menghentak dagu kinan.


bukannya takut, Kinan malah cengengesan menantang," Lo hom'o? ngurus amat urusan Dewa. Dewa gak pernah lirik perempuan manapun di masa lalunya kecuali gue, cuma gue yang dia cinta, dan dia harus jadi milik gue, Kinanti."


"Lo gak waras."


" Terserah, gak penting juga pandangan Lo bagi gue."


" Males juga mata gue mandangin bentukan buluk macam Lo. gua cuma ulti Lo aja sih." Erlangga melenggang meninggalkan Kinan yang meremas tangan dengan kuku tajamnya menusuk kulit telapak tangannya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Shavara menahan tangan Bhumi yang di stir hendak meyalakan mesin mobil." Kak, gak apa kita pergi?"


" Gak masalah, lagian aku juga sebenarnya gak mau hadir cuma si Adnan aja yang maksa. kita cari tempat lain buat kencan."


" Ke festival kuliner aja gimana? ini hari terakhir."


" Let's go."


Malam terakhir festival membuat pengunjung membludak, suasana riuh dengan ruang gerak terbatas jadi menghimpit orang berjalan dengan posisi menyamping, Bhumi memposisikan Shavara di depannya dengan tangan bertengger anteng di pinggang pacarnya itu.


" Mau kemana dulu?" bahkan untuk bicara harus sedikit meninggi.


" Aku laper, tapi lihat stand pada rame, beli cemilan dulu.


Sesekali mereka berhenti di stand yang diminati Shavara yang selepas memesan satu menu matanya langsung teralih dengan menu lainnya yang memang tidak dipungkiri sangat menggiurkan.


Daripada suaranya serak, untuk selanjutnya mereka berkomunikasi dengan menempelkan bibir di cuping telinga lawan bicara masing-masing.


" Pesan aja dulu, tapi jangan yang berkuah ya, ribet makannya, sulit nyari tempat." mata Bhumi melirik ke arah meja yang selalu penuh penghuninya.


" Satu aja, cukup udon, ya..yaaa..." bujuk Shavara merengek sedikit di depan stand sushi.


Tangannya meremas kemeja bagian depan Bhumi, yang mana yang tangan lentik itu diambil lalu digenggamnya.


Bhumi yang sudah bucin mengangguk pasrah," cuma satu."


" Oke..." jawab Shavara sumringah.


" Habis ini beli takoyaki ya." dari takoyaki merembet ke yang lain, berkuah pun diganti tom yang supaya menu jajanan bervariasi gak melulu Korea atau Jepang.


Bhumi setia membuntuti, ia sangat memanfaatkan suasana padat merayap ini sebagai alibi tangannya mengalungi pinggang ramping Shavara.

__ADS_1


saat mengantri menunggu Bhumi siap menarik Shavara menempel dan bersandar padanya, ia mengelus perut Shavara dibalik jas kebesaran yang dikenakannya.


kini mereka tengah mengantri di stand sate, " ada yang mau dibeli lagi?"


Metode berbisik di tengah kebisingan melahirkan sensasi gelenyar geli hangat di tubuh Shavara karena Bhumi menempelkan bibirnya di telinganya setiap berbicara.


Shavara menggeleng pelan dengan tubuh bersandar ke tubuh Bhumi, " tinggal nunggu sate sama beli klepon yang kamu mau tadih." bisik Shavara yang terkesan melenguh.


Dekapan satu tangan Bhumi di pinggang Shavara mengerat, ia lebih melekatkan tubuh mungil itu ke tubuhnya ibu jarinya bermain-main di bawah dada Shavara.


Shavara meremas jari besar nan panjang itu, mengusapnya di sana, Bhumi langsung mengaitkan lewat sela-sela jari mereka.


Mereka saling pandang, paham yang mereka rasakan, kepalanya yang menunduk dengan kepala Shavara yang menoleh menengadah membuatnya setengah mati menahan untuk mengecup bibir merah itu.


" Gak perlu, aku bisa makan apa aja, kamu udah beli banyak makanan." Bhumi mengangkat banyak kantor kresek di tangannya. dan tangan Shavara.


" Ini gak semua punya aku, ya. ada punya Senja, Tante, Adit, sama orang rumaj lainnya."


" Mereka nitip?"


"Enggak sih, cuma aku orangnya peka." tepis Shavara.


Senggolan dari pengunjung lain, Bhumi manfaatkan mengecup dekat bibir ranum itu.


"Kakh..." tangan Shavara semakin mengerat karena panik, mereka di depan umum.


" Love you." Bhumi berbisik.


Cup..cup...


Bhumi terkekeh geli dengan alibi kekasihnya itu, padahal dia paham betul bagaimana gelap matanya Shavara jika berhadapan dengan makanan. saking gemasnya dia tidak tahan mengecupi tipis-tipis pucuk kepala Shavara selama menunggu jajanan siap.


Mereka memakan jajanan di mobil karena tidak kebagian tempat makan, Bhumi memutuskan makan sambil melakukan mobil ke tempat tujuan yang sudah dia rencanakan.


❤️❤️❤️❤️❤️


" Kak, ini dimana? WOWWW...eerrrggghh." Shavara turun dari mobil, melangkah ke depan dan terpukau dengan pemandangan yang ditangkap matanya.


Sinar terang lampu-lampu dari rumah-rumah dan pencahayaan kendaraan yang memadati jalan di weekend ini dari bawah kejauhan sana bagai lampion darat di gelapnya malam.


Mereka tiba di salah satu bukit arah puncak, hawa dingin menusuk mengganggu keterpesonaannya, Shavara mengetatkan jas yang membalut dirinya.


" Buka ya ikatan rambutnya supaya hangat" ucap Bhumi seraya melerai ikatan rambut Shavara, dan menyimpan tali rambut itu ke dalam kantong celananya.


" Cantik banget kan?" ucap Bhumi merapihkan rambut Shavara, lalu mengukungnya dari belakang.


Shavara mengangguk, " banget." Shavara refleks menyandarkan tubuhnya ke Bhumi.


"Kayak kamu, malam ini cantik banget..banget.. banget..."


" Di depan kamu aku kayaknya selalu cantik deh." tangannya menumpu tangan Bhumi yang bertengger diperutnya.


Bhumi terkekeh," tapi malam ini bangetnya banyak, sayang."


" Iyain aja. jangan ganggu aku ih, aku mau nikmati pemandangan ini."


" Oke, tapi jangan lama-lama. aku ada perlu sama kamu."


Lima menit mereka hening terdiam terpaku dengan cahaya kontras antara cahaya lampu dan gelapnya malam.


" Kak, dingin." protes pelan Shavara saat Bhumi menyingsingkan rambut ke samping lalu menurunkan kerah jas dan mengecup bahu mulus tersebut.


Shavara memprotes namun memiringkan kepala Shavara memberi akses saat Bhumi menyelipkan kepalanya ke ceruk lehernya.


" Aku nahan banget dari tadi pengen civm ini, sayang. apalagi di festival saat tubuh kita saling merapat, kamu terlalu menggoda untuk dianggurin."


Bibir Shavara refleks membuka sedikit, dan matanya terpejam menikmati sensasi gelenyar yang menggelitik di tubuhnya saat Bhumi mengh1sap kulit lehernya.


"Jangan bikin jejak lagi, please. ini udah banyak bangeth, aaahhhh..." de'sahnua menikmati permainan lidah Bhumi di cupingnya.


" Shayanghh...aku..ingin menyentuhmuh.." bisik Bhumi bersuara berat sarat gairah.


" Aaa..kuhhh..shhh..." Shavarengigut bibir bawahnya kala tangan besar Bhumi yang meremas b*ah da-danya yang terhalang gaun.


Kepala Shavara terangkat pasrah bersandar di dada Bhumi.


"Kakh...." Shavara menggesek kepalanya ke kepala Bhumi yang semakin masuk lehernya, gelenyar hangat itu menular ke seluruh tubuhnya.


Bhumi memutar tubuh Shavara hingga mereka berhadapan, langsung melu-mat bi'bir ranum tersebut.


Bhumi menekan tengkuk mulus itu, Shavara mengalung ke leher dan menariknya lebih menunduk kepala itu.


Dua benda kenyal itu melahap, saling berbagi saliva dengan lidah saling menari dan membelit.


" Aahhh.."


" Hmmmmhh."


Bhumi mengangkat Shavara yang segera mengaitkan kedua tungkainya di pinggang Bhumi seperti koala.


Bhumi menangkup bok*ng kencang itu dan merem4snya. satu tangannya mengelus pah* yang terbuka lebar itu.


Bhumi berjalan menaruh Shavara di atas kap mobil, membaringkan Shavara di sana. Melepas bibir itu untuk turun menelusuri leher jenjang itu, menghisap, menggigit kecil kulit mulus tersebut.


Shavara menarik lalu meremas rambut coklat itu seirama his'apan kuat bibir Bhumi di ceruk lehernya.


"Kakh..."


"Hmmmh...."


Bhumi menjauhkan wajahnya mengamati gairah kekasihnya yang mulai tersulut.


" Sayang, izinkan aku merasakan kamuhh..." tanpa menunggu jawaban Shavara, Bhumi menggendong Shavara, berjalan ke pintu penumpang belakang.


Membukanya, seperti seorang pro membawa tubuh mereka bersamaan masuk dan menutup pintu.


Di dalam sana Bhumi melepas jas, dan melemparnya menyampir di sandaran, mengelus leher, bahu, pundak, dan sepanjang lengan secara seduktif dengan mata saling bertatap di tengah gelapnya ruangan.


Mata itu sayu berga'irah, " Sayang, kita sudah terlalu jauh, aku akan berusaha tidak merusak mu, tapi aku sudah tidak tahan, sayang."


" Hukks..." napas Shavara tertahan kala tangan Bhumi menari di punggungnya lalu menurunkan ritsleting gaunnya mengendurkan gaun tersebut.


Tangan Shavara menahan gaun di dada.

__ADS_1


" Kakh..."


" Maaf," Bhumi memag'ut bibir Shavara, menahan kepala Shavara, menekannya melahirkan lum'atan menggoda yang melahirkan panas di kedua tubuh itu.


Shavara yang juga kehilangan akal sehatnya menyambut lidah yang menerobos rongga mulutnya, Bhumi menekan bagian bawah mereka yang menempel satu sama lain.


Gaun itu sudah tersingkap bebas ke atas, satu tangan Bhumi yang bebas mengelus kaki jenjang itu hingga menyentuh kain segi tiga dan menyelipkan satu jari di sana.


" Khakwh..."


" Eeehhhmmmhhh..." bibirnya melahap habis mulut Shavara, ia memiringkan tubuh, membaringkan Shavara di bawahnya di bangku mobil.


Wajah berg4irah Kekasihnya dengan mata sayu dan bibir bengkak sedikit terbuka dengan gaun yang sudah melorot mempertontonkan sembulan dari dua benda yang pas di tangannya adalah pemandangan terindah yang pernah dia lihat.


Tangan Bhumi mengelus p*ha mulus yang terpampang jelas diantara dirinya.


" Gak adil, kamu masih berpakaian lengkaph sedangkan aku..."


" Oke, Cinta." Bhumi melepas dua kancing kemeja, melalui kepala ia meloloskan kemeja tersebut, dilanjut kaos oblong hitamnya.


Shavara memandang suka tubuh polos tersebut." Celananya juga enggak?" tawar Bhumi dengan senyum menggoda.


" Berani?"


Bhumi menekuk kaki Shavara, ia mencivm lutut putih tersebut." Apapun untuk mu, lihat aku, Sayang."


Shavara mengangguk, Bhumi sedikit menjauh, melepas sepatu, melepas pengait, lalu menurunkan ritsleting celananya, mengangkat sedikit bok*ngnya untuk memudahkan melepas celana panjang itu menyisakan boxer ketatnya.


" Kakh..." suara Shavara sedikit meninggi.


" Ini juga mau?" jari panjang itu memainkan tali boxer ketat itu, Shavara menggeleng cepat.


" Yakin? aku gak keberatan kamu lihat aku, siapa tahu kamu setuju menikah dengan ku karena ingin merasakan kegagahannya." godanya.


" Kak." Shavara malu bukan main.


Bhumi terkekeh, ia mendekatkan tubuhnya," kita sudah dipertengahan jalan, gak bisa mundur lagi, cintaku."


Cup..cup...cup....


" Hmmmh..." kec'upan-kecupan kecil berakhir dengan luma'tan yang langsung diselingi saling menghisap, French Kiss yang menggelora memanaskan tubuh mereka yang polos.


Shavara mengalungkan diri dan menarik turun tubuh Bhumi, mengelus punggung kokoh itu memberi akses penuh atas dirinya, memudahkan Bhumi menyusupkan tangan di punggung kekasihnya itu.


Tangannya masuk ke sela gaun yang terbuka, mengelus naik turun kulit punggung halus tersebut menawarkan kenikmatan hangat tubuh mereka di tengah hawa dingin yang masuk disela jendela yang sedikit terbuka.


" Ehh....mmmh .."


Mereka saling membe'lai dari atas hingga bawah, melorotkan bagian atas gaun hingga menumpuk di pinggang. Dari belakang memutar ke depan.


" AAAAHHHHH...MMMHHHH...AAAAHHHHH, KAKH." Mata Shavara merem melek kala satu tangan besar itu meremas undakan dibalik br* tanpa tali dengan bibir bermain di perutnya, dan tangan lain mengelus pah* berirama naik turun menikmati sensasi g4irah yang kian menggebu ingin disalurkan.


" AAAKKKHHHH....KAKHH" Mata Shavara terbuka lebar dengan tangan meremas kuat rambut Bhumi, saat kekasihnya menghentak-hentkan bagian bawahnya beradu dengan bawahnya. terasa sekali satu tonjolan panjang yang keras menekan kuat kepemilikannya.


" Maaf sayang, aku..." Bhumi segera duduk dengan napas terengah-engah, ia mengusap wajahnya yang memerah, meraup rambutnya mengalihkan emosi yang tengah melandanya.


"Kakh.." Shavara sangat khawatir dengan keadaan Bhumi.


Bhumi mendudukan Shavara membawa ke pangkuannya, menenggelamkan wajah di ceruk leher berkeringat Shavara.


" Sayang, aku pening. butuh pelepasan." ucapnya bersuara berat.


" Mak.. maksudnya?" Shavara gugup.


" Rasakan ini."Bhumi menekan bok*ng Shavara pada pisang yang keras itu.


" Heeeuukss." napas Shavara menahan, mata mereka saling beradu.


" Ba..bagaimana?" Shavara duduk bergerak-gerak tidak nyaman di pangkuan itu karena sangat mengganjel.


" Shayangh.. please, jangan bergerak, dia semakin memberontak minta dilepas dari sarangnya." erang Bhumi.


Shavara bisa merasakan di bawah yang didudukinya makin membesar dan mengeras.


" Sakit ya?" tanya Shavara prihatin.


Bhumi menggeleng" Ngilu, tapi nikmat."


" Tolong aku, ya.kali ini aja." pintanya melas terlihat memohonan.


Shavara mengangguk walau bingung, Bhumi mengecup bibir bengkak itu.


Bhumi menurunkan Shavara dari pangkuannya untuk duduk di sampingnya, mengarahkan tangan lentik itu ke balik boxer menggenggam pisangnya.


"Kakh." Shavara ingin menarik tangannya namun di tahan Bhumi.


" Please, sayang aku butuh ini."


Cup...hmmmhh...


Bhumi menghujani Shavara dengan civman panas yang lidahnya langsung membelit lidah Shavara.


Tangan yang bertumpu dengan tangan Shavara membimbing bergerak naik turun.


" Aaahhhh...shhh...." Bhumi melepas pag'utannya, bersandar menengadah melenguh nikmat menggigit bibir bawahnya, terus begitu dalam waktu agak lama sampai Shavara merasakan tangannya kebas barulah ******* panjang memenuhi ruangan mobil bagai serigala meraung.


" AAAAAAKKKKHHHHHH..... Shava, sayang. ini sangat nikmath..."


Tangan Bhumi mengukung menahakmlaju cairan agar tidak muncrat, membasahi juga tangan Shavara yang merasakan lengketnya.


Semua adegan panas itu terpatri jelas oleh netra Shavara yang diam kalau sejak tangannya memegang pisang Bhumi, lenguhan panjang dan wajah lega itu membuatnya sangat tenang sekaligus penasaran.


Bhumi menoleh ke Shavara yang syok, " Sayang? kamu mau juga dipuasain?"


" Hah?"


Bhumi mengambil tissue, membersihkan pisang dan cairannya termasuk yang menempel di tangan Shavara.


Bhumi mendekati ke wajah Shavara," kamu mau mengerang nikmat kayak aku tadi?" bisiknya menggoda.


" I..itu ..."


Cup......

__ADS_1


__ADS_2