
Napas mereka terengah-engah, mereka saling pandang dengan tatapan sayu diliput gairah dengan posisi Bhumi mengukung Shavara.
BUGh
" Aaawss..."
Dugh...
" Aaaaaa...." pekik Shavara tertahan menutup mulutnya.
Dengan santai Wisnu menendang lalu menggulingkan Bhumi hingga terguling jatuh ke bawah.
" AA..." Shavara terkaget, lalu menutup wajahnya menggunakan bantal karena malu tertangkap tangan sedang bermesraan.
" Gak bisa sabar nunggu sampai besok apa?" sungut Wisnu.
Bhumi bangkit dan mendekati Wisnu yang berdiri bertolak pinggang," Nu, tenang. ini gak seperti yang Lo pikir."
" Emang apa yang gue pikir? Lo pikir gue gak tahu kelakuan lo sama adik gue?"
" Emang apa yang gue lakuin?" Bhumi mendadak nge-lag.
" Nantangin lagi, bir4hi Lo yang terpenjara selama 27 tahun baru tersalurkan gimana menggebu-gebunya, wajarlah kalau gue nething tapi jangan juga H-1 Lo kebablasan terus unboxing."
" Gak akan kebablasan kok, suer. tadi gue cuma..Lo tahu kan rasanya nemuin telaga di padang pasir setelah Lo berjalan berjam-jam di bawah terik matahari?"
" Gak tahu, lagian ngapain gue jalan di Padang pasir, mending naik mobil ada AC adem."
" Ck, bukan begitu maksudnya."
" Terserah yang gue lihat Lo berdua hampir buka segel dini."
" Gak akan, gue gak niat ngerusak adek Lo."
" Ck, ngeyel, gue tahu ya apa yang di tutupin adek gue di balik kerah bajunya. banyak banget jejak-jejak Lo. Lo vampir atau emang napsuan? atau jangan-jangan Lo emang di belakang kita sering main?" mata Wisnu memicing
Shavara menjauhkan bantal dari wajahnya, menatap curiga Bhumi.
Pletak....
" Aduh..." Wisnu memegang kepalanya.
Shavara membelalak tidak percaya akan apa yang dilakukan Bhumi pada kakaknya.
Bhumi refleks menjitak Wisnu yang sesudahnya melotot padanya." Eh..eeeh...maaf, maaf. tapi gue gak sengaja. omongan Lo gak enakin didengar soalnya."
" Tapi Lo enak ngelakuinnya." sindir Wisnu.
" Ayo dek, ke bawah." Wisnu membantu Shavara untuk berdiri.
" Mau ngapain Lo sama pacar gue."
" Gue kakaknya, terserah gue. gue tarik restu gue, auto ni pernikahan batal, mau Lo?" Bhumi menggeleng cepat bagai anak kecil.
" Lagian kamu disuruh manggil Bhumi, kok malah mesra-mesraan."
" Kak Bhumi yang ngajakin." jawaban polos Shavara berhasil membuat Wisnu dan Bhumi ternganga bagai rahang jatuh.
" Yang, jangan polos-polos amat napa jawabnya."
" Kenapa? terus aku alasannya apa dong?"
" Ya apa kek."
Shavara menghadap Bhumi, lalu bersedekap tangan." Kak Bhumi, gak nyangka ya cuma berani ngelakuin tapi gak berani bertanggung jawab. aku jawab gitu tuh karena emang udah ke gap aja kitanya. emang alasan apa yang cocok? kalau begini aku pikir-pikir lagi buat nerusin pernikahan ini." sambil mendelik Shavara berbalik lalu keluar dari kamar dengan wajah cemberut.
" Lha, Kenapa begini, gue kan ngomong gitu supaya dia gak malu."
" Ya Lo yang salah. emang omongan Lo kayak orang brengsek. kayaknya gak jadi nikah deh kalian." ledek Wisnu.
" Ooh tidak bisa, pernikahan ini harus tetap terjadi." Bhumi bergegas mengikuti Shavara.
Dilihatnya Shavara di anak terbawah tangga, Bhumi pun lantas mempercepat menuruni anak tangga.
Tanpa aba-aba Bhumi memanggul shavara di pundaknya lalu menaiki tangga mengabaikan protesan Shavara yang mengundang perhatian penghuni rumah.
Mereka hanya menggeleng melihat aksi sepasang calon pengantin tersebut.
" Kakak, turunin." Shavara memukul-mukul punggung Bhumi.
" Gak."
" Turunin gak?" geram Shavara.
" Gak, bentar lagi nyampe."
" Oooh, oke mainnya fisik. disangka aku gak bisa lakuin sesuatu kali ya, kamu lupa kalo calon istri kamu ini punya pencak silat." shavara menaikkan badannya,mengalungkan tangannya di leher Bhumi, kemudian mengapitnya.
Bhumi meringis kesakitan, refleks ia menepuk-nepuk bokong Shavara.
" Adududuh..duduuh.. lepas...sakit."
" Gak mau, turunin duli." pegangan tangan Bhumi di kaki Shavara mengendur yang dimanfaatkan menendang-nendang perut Bhumi.
" Sayang diem, ini kamu bakal jatoh entarnya." Bhumi kembali memegang lutut Shavara dengan susah payah.
" Makanya turunin, cepetan."
" Iya, bentaran lagi nyampe di atas."
" Gak mau, sekarang!"
" Gak bisa, ini kita ada di tengah tangga loh, sayang." Bhumi kesulitan menaiki anak tangga gara-gara Shavara masih menjepit lehernya.
Wisnu yang memperhatikan mereka di ujung tangga hanya menggeleng, tanpa membantu apapun. ia menyingkir kala ponselnya berbunyi.
" Hallo. Kamu dimana?" tanyanya pada lawan bicaranya.
" Udah di kostan Mira, mau ke rumah kak bhumi risih."
" Gak perlu, kamu tunggu aja di sana, di sini urusannya belum beres."
" Ya udah aku tiduran dulu ya, ngantuk semalam persiapan sempro."
" Hmm, nice dream, babe." Wisnu berbalik saat mendengar keributan dari calon pengantin gak mesra ini.
" Kak Bhumi turunin, ihh." teriak Shavara saat mereka sudah di dalam kamar Bhumi kembali.
" Iya, iya ini juga mau diturunin." saat Bhumi hendak menurunkan tunangannya, Shavara malah membelitkan kedua kakinya di pinggang Bhumi ala koala dengan kaki saling mentaut memanjang ke bagian pinggul, lalu menjepit menekan pinggul tersebut.
" Kyaaaaa....." Bhumi terjatuh bersimpuh dengan kedua lututnya sambil menahan tubuh Shavara.
" Euwww...." Wisnu meringis sambil mengusap-usap pinggulnya, dia tahu seberapa sakitnya gaya capitan kepiting ala Shavara itu.
Shavara turun dari gendongan Bhumi, sedikit menyesal saat melihat Bhumi terlihat lemas sekaligus kesakitan.
" Kamu sih bikin aku kesal."
" Aku kalah." Bhumi mengangguk.
Bhumi merangkak meraih tiang ranjang, ia merayap naik lalu dibantu Wisnu dia duduk di pinggir kasur.
" Aku gak suka kamu ngomong pembatalan nikah meski itu cuma ngasal. aku gak bisa larang kamu untuk gak marah, tapi jangan gampang ngomong kayak gitu, aku bener-bener gak bisa dengarnya, aku tersinggung. kamu kayak gak nganggep ini sakral."
" Lagian kamu ngomongnya kesannya aku yang cabul, padahal setiap bermesraan kamu duluan yang nyosor."
" Aku gak bermaksud mengelak, tapi aku berusaha gak bikin kamu malu."
" Bohong."
" Sumpah, sayang." Bhumi mengangkat dua jari membentuk V.
" Tapi di telinga aku kesannya kamu mau cuci tangan dari perbuatan kamu itu terus semuanya dilimpahi ke aku."
" Mana tega aku begitu, apa aku lelaki macam brengsek kayak gitu?"
" Tampang Lo lebih dari itu sih." celetuk Wisnu, Bhumi mendelik.
" Pokoknya aku gak suka." kukuh Shavara.
" Ya udah aku minta maaf."
" Awas aja diulangi."
" Iya, gak bakalan lagi-lagi." bujuk Bhumi.
" Ya udah atuh."
" jadi pernikahan ini tetap berlangsung kan ya!"
" Kamu maunya beneran batal?" Shavara kembali berucap sengit.
" Eeeehh,..ya enggak lah." jawab Bhumi cepat.
__ADS_1
" Lagian, kamu kan guru fisika, pinter dong. kita ini udah 99% persiapan pernikahan kita rampung, walaupun aku kesel sama kamu mana tega aku batalin pernikahan, ini bakal bikin keluarga kita malu."
Shavara berjalan ke arah Bhumi lalu menendang tulang keringnya.
" Aaaaa...wss. sakittt...sayang.. astaghfirullah, bar-bar banget." Bhumi mengupas tulang keringnya.
" Bodo, kesel aja aku bawaannya karena omongan kamu."
" Iya, maaf..maaf. lain kali aku gantle ngakuin." Bhumi menarik Shavara, mengecup punggung tangan Shavara.
" Jangan marah lagi."
" Dih orang kesel gak boleh, tadi katanya boleh."
" Iya, boleh. tapi jangan lama-lama."
" Iya, enggak aku turun dulu. kamu disuruh turun buat makan."
" Hmm." Bhumi menarik Shavara, menahan lehernya lalu mencivmnya, tanpa segan walau di depan wisnu.
" Udah, cuma segitu doang berantemnya, pake drama manggil segala." cibir Wisnu pada keduanya yang kompak melirik sinis padanya.
Tapi beda dengan Shavara yang malu, maka ia refleks mengigit bibir bawah Bhumi lelaki kembali menendang tulang betis Bhumi sebelum keluar dari kamar.
" Astaga, sayang. sakit, jangan nendang-nendang."
" Kamu-nya sembarangan nyosor." dumel Shavara.
" Udah, Dek. urusan gak bakalan kelar. itu kamu ditungguin Ana sama Mira buat balik."
" Hmm, gue pulang duluan." Wisnu merangkul Shavara untuk turun.
Tok...tok...
Tatapan Bhumi mendatar saat mendapati Bian berdiri di depan kamarnya. ia menutup pintu kamar di belakanganya tanpa mengudang Bian masuk.
" Ada apa?" Bhumi menyilangkan tangan di dada.
" Bang, maaf. aku udah hilangin perasaan aku kok."
" Gak ngurus sih."
" Bang, jangan begitu. gue tahu gue salah."
" Gue? kamu mau gue-lo an sama saya?" tekan Bhumi menunjuk dadanya.
Bian sontak tergagap, ia mengibas-kibaskan tangan cepat karena panik," Bu..bukan begitu. ini keceplosan, aku belibet lidah."
" Bang, please. jangan usir aku." rengek Bian.
" Kamu udah licik main deal-deal an di depan orang sama Senja yang memang bakal kalian lakuin yang bikin saya sebagai lelaki gantle gak bisa ngusir kamu, pastiin aja kamu gak ngibul buat bikin Senja kayak raya."
Bian nyengir lebar," Hehehehe, kebaca ya."
Bhumi berdecak malas," Ini terakhir kalinya keluarga kamu bikin keluarga saya sedih, urus orang tua kamu."
Bian tersenyum senang," Siap, pokoknya aku bakal lakuin apapun yang Abang mau."
" Termasuk hapus segala perasaan simpatik kamu buat wanita itu?" Bhumi ingin memastikan sikap Bian demi langkah selanjutnya. Bian mengangguk mantap.
" Ya udah kamu pergi."
" Siap, love you abang, sarangheo." Bian memberikan finger love pada Bhumi yang direspon datar-datar saja.
Bhumi menoleh ke kamar Senja yang ternyata Senja sudah berdiri di ambang pintu.
Bhumi menghampirinya, mereka masuk ke dalam kamar tanpa menyadari Bian melihat hal itu lalu dengan lancang mencuri dengar di celah pintu yang dia buka sedikit.
Senja duduk di tepi kasur dengan Bhumi berjongkok di depannya.
" Kamu baik-baik saja?" Bhumi menggenggam kedua tangan Senja.
" Aku gak tahu omongan Mas waktu ngusir kak Bian itu serius. maaf."
" Lupakan namanya juga keluarga kalau berantem suka ngawur." elak Bhumi yang tidak menginginkan Senja bersedih lagi.
" Tapi syarat aku bakal bikin kita tetap terlibat dengan lelaki itu." ucapnya merujuk pada Edo.
" Lelaki itu? siapa?"Bhumi tidak ingin Senja rusak hatinya dengan memanggil tidak sopan pada orang yang memang ayah mereka.
" Aku bingung mau manggil dia apa?" Senja berusaha sesantai mungkin, walau dadanya terasa sesak.
" Terserah, asal jangan lelaki itu. gak sopan."
" Om? dia ayah kandung ku. untuk panggil ayah, dia terlalu asing untuk panggilan itu." ucap senja sendu.
" Kenapa baru sekarang dia datang? kenapa gak dari dulu dia menyelidiki kebenaran fitnah wanita itu? aku pasti gak akan merasa kehilangan sosok ayah." lirih Senja, matanya mulai berair.
" Takdir, supaya kita kuat. kamu lebih kuat dari Bian, Bian lebih kuat dari Mas." Bhumi menghapus air mata Senjam
Senja menggeleng," Mas yang terkuat."
" Iyain, supaya kamu senang."
" Ihhh, jangan begitu...ini beneran tahu. bang Adnan udah cerita gimana usaha Mas buat beli susu aku." Senja mengusap wajah Bhumi, lalu membingkainya.
" Kalau anak lain, pasti cuma nangis doang. tapi Mas rela jadi tukang kuli pasar, pengantar susu, lopper koran, tukang parkir di usia anak-anak demi aku dan Mama."
" Karena Mas sayang kalian, makanya kamu jangan lagi bersedih karena dia." Bhumi masih tidak sudi memanggil papa untuk Edo.
Senja mengangguk," Aku usahakan. tapi dada aku sakit kalau ingat...aku bingung manggilnya apa..." rengek Senja.
" Bapak aja udah, itu kan panggilan umum." Senja mengangguk.
" Mas, gak marah kan kak Bian masih di sini?"
" Enggak, daripada dia jadi gelandangan yang cuma jadi beban negara mending kita pungut." Senja menumbuk gemas lengan Bhumi.
" Susah banget ya bilang sayang."
" Mana ada sayang-sayangan antar cowok, dek. kalau buat adek, sekebon mas kasih."
Senja terkikik," Gengsi ya?" moodnya sudah kembali walau sedih itu masih terasa.
" Enggak, ya..cuma gak mau ngasih aja sama orang gak jelas kayak dia."
" ngomong boleh gak peduli, tapi setiap kak Bian susah, Mas yang kasih tempat." cibir Senja.
" Udah ah jangan ngomongin dia. Kamu istirahat, besok hari bahagia Mas, jangan disambut sedih gini."
" Mas juga istirahat aku gak sabar punya Kakak perempuan."
Bhumi berdiri, ia mengusak kepala Senja," Kita pasti baik-baik saja."
Senja mengangguk," Pasti."
" Mas ke kamar dulu." Dia mengecup kening Senja sebelum berlalu ke kamar.
Bian buru-buru masuk ke kamarnya, mengigit bibir bawahnya menahan tangis bahagia sekaligus haru. ingin dia memeluk kakak tersayangnya itu, tapi masih sayang nyawa.
Devgan, Leo dan Ajis mengetuk kamarnya, mereka tanpa permisi masuk ke dalam.
" Yan, kita pergi yuk." ajak Leo.
" Di sini lagi rame." Bian mengusap sisa air matanya.
" Lo gak ikutan sibuk juga. kita disuruh Tante Rianti buat nemenin Lo."
Bian yang sedang berpura-pura memberesi buku di meja belajarnya berhenti," beneran?"
" Iya, beliau khawatir Lo sedih." ucap Devgan yang sudah berbaring di atas kasur.
" Kalian lihat, ibu gak baik gimana buat gue, kemarin gue balik, gue lihat bokap lagi nyiksa nyokap dan kalian tahu, gue gak ngerasa kasian sama dia tapi endingnya entah etna mana yang masuk di diri gue gue malah ke bayang dia dan merasa kasian, gara-gara perasaan itu pak Dewa ngusir gue, untuk dianulir." cerita Bian.
Mereka bertiga diam," mending cari udara dulu yuk, buat nenangin diri." ajak Ajis.
" Menurut gue juga gitu sih. Lo jangan bikin Tante Rianti cemas, beliau lagi sibuk ngurus pernikahan pak Dewa kalau harus mikirin Lo juga takutnya beliau sakit."
" Hmm."
Mereka berempat setelah izin pada Rianti dengan dua motor pergi dari rumah.
Bhumi Menatap langit-langit kamarnya, mencerna mengenai kejadian hari ini, ia memijit -mijit keningnya yang pening.
Dia berdecak merasa lelah kala pintunya kembali diketuk, dan makin sebal saat Adnan dan Erlangga berdiri di sana." Bhum, pergi yuk."
" Males."
" Ck, Lo belum tahu juga gue ajak kemana?" mereka memasuki kamar Bhumi.
" Kemana pun Lo ajak, itu pasti sesat."
" Ya elah su'udzan Lo."
__ADS_1
" Lo pasti ajak gue ke club, Lo masih terobsesi bikin bujang party." tebak Bhumi.
Adnan berpura-pura terkejut dengan tebakan Bhumi." Kok tahu?"
" Nyetak di jidat Lo."
" Aisssh, yuk pergi. kayak perawan Lo kalau ada masalah ngurung di kamar."
" Berdiri, kita pergi." Erlangga menarik tangan Bhumi.
" Dih, maksa."
" Berdiri gak, gue seret ni." ancam Adnan
" Nan, bisa gak Lo pergi, rusuh Lo."
" Enggak bisa, Lo yang ngebet nikah, tapi Lo kelihatan yang dipaksa nikah. Lo butuh healing." Adnan menarik-narik kaki Bhumi.
" Anan, ya tuhan. kayak bocah aja Lo."
" Lo yang preak kayak cewek, ini gue disuruh nyokap Lo."
" Nan, ya tuhan...ni gue besok bakal nikah, gue butuh istirahat, Lo malah ngajak gak bener dasar temen lukcnut Lo."
" Janji, gak ngajak Lo ke club. ke lounge aja, gimana?"
" Bukan soal tempatnya, Nan. tapi cewek-cewek yang pasti bakal Lo panggil."
" Ck, cupu Lo. kalau emang Lo demen banget sama Vara, Lo gak bakalan tergoda."
" Ck, pergi Lo."
" kita bakal pergi kalau Lo ikut kita."
❤️❤️❤️❤️❤️
Mereka memang tidak ke club, tapi Adnan mengubah lounge milik Erlangga menjadi semi club dengan lampu khas club hingga dilengkapi musik DJ menghentak cocok untuk berbuat mesum bagi si hidung belang dan perempuan binal.
Anehnya banyak juga pengunjung yang hadir, " Ini semua siapa?"
" Gak tahu, pengunjung club circle Anan kali." jawab Erlangga menikmati dentuman musik.
Bhumi melirik sinis pada Adnan yang tengah menari sambil menggerayangi salah satu wanitanya.
Daripada dia kesal, Bhumi memilih menghubungi yang lain, setidaknya ada orang waras yang bisa menemaninya di sini. sebentar lagi dia tidak bisa mengandalkan Erlangga untuk menemaninya.
" Nikmati saja lah, Bhum. Lo cemberut juga gak ada faedahnya.
" Enak Lo ngomong, gue lapor ke Wisnu mampus kalian."
Makanya jangan lapor."
"Lo hubungi siapa sih sibuk mulu sama hp, gak asik Lo."
" Guntur sama guru yang lain suruh ke sini."
" gila Lo, bawa guru kemari."
" Bodo." Bhumi memasukkan ponselnya, ia berdiri.
" Mau kemana Lo? baru jam sembilan, Anan sengaja ngadainnya masih sore, cuma sampe jam sebelas doang kok." tahan Erlangga.
" Ck, cuma ke toilet."
Setelah Bhumi menuntaskan hajatnya, ada satu tangan lentik mencegat di depannya.
Bhumi mengerang kesal saat melihat milik siapa tangan tersebut, ia menepis tangan itu kasar.
" Nan, seriusan Lo makin gila gini? Lo tahu akan besok gue nikah. gua undang Lo datang minta aja alamatnya ke Adnan.
Kinan tersenyum mengabaikan penolakan Bhumi, tangannya meraba kemeja bagian depan Bhumi.
" Santai, Wa. aku tahu kamu mau nikah, aku ucapin selamat buat kamu tapi masa aku gak boleh kasih kenang-kenangan perpisahan buat hubungan kita."
" Gak perlu. Lo gak sepenting itu."
Sudut hati Kinan tercubit nyeri, namun dia tahan. dia harus sabar demi tujuannya.
" Cuma segelas."
" Gue gak minum."
" Air mineral, aku janji."
Bhumi memicing curiga pada sikap tenang Kinan." Lo sedang merencanakan sesuatu."
" Ya tuhan, enggak Dewa. aku tulus mau berdamai sama kamu."
" Setelah ini Lo gak ganggu gue lagi."
Bibir Kinan terangkat sumringah," Gak akan, aku janji. aku gak minat sama suami orang."
Bhumi melangkah ke meja bartender, ia duduk di bar, enggan membuka meja untuk mereka.
" Ngobrol dulu, Wa."
" Bacot, gue pergi." Kinan menahan saat Bhumi hendak pergi.
" Oke, oke. kita langsung ke menu utama." bujuk Kinan.
" Satu." pinta Kinan ke arah bartender.
" Siap."
Tidak lama bartender menyodorkan gelas beling berisi cairan jernih.
Tanpa curiga Bhumi menenggak habis cairan itu, barulah Bhumi tahu kalau itu minuman beralkohol.
" Si4alan, Lo nipu gue. itu alkohol kan!" geram Bhumi, ia langsung berdiri hendak pergi namun oleng karena pusing.
" Cuma sedikit, gak ngaruh apapun." timpal Kinan santai, namun matanya menatap intens Bhumi.
Bhumi yang untuk pertama kalinya minum, dan langsung diberi yang berkadar alkohol otomatis mabok.
" Lo s3tan. Lo jebak gue." racaunya diantara sadar dan tidak.
Bhumi memaksa berdiri walau dia merasa kakinya lemah tidak bertulang.
" M4ti Lo, Kinan." ucap Bhumi pelan, matanya satu setengah tertutup.
" Jangan menyumpahi calon ibu dari anak mu, dear." Kinan berdiri menyangga tubuh Bhumi yang hampir jatuh.
" Ki..nanh..Lo te..gahhh...gueh bakal buat perhitungan sama Lo.. panashh..." Bhumi menggeliat merasa suhu tubuhnya meninggi, ia butuh sesuatu.
Kinan yang tahu obat yang dia campur sudah bereaksi mengambil langkah.
" Bawa." ucapnya pada dua pria besar yang setia berdiri tidak jauh dari bar.
Dua pria tersebut menjauhkan Bhumi dari Kinan yang ditolak Bhumi.
" No, gue gak mau." Bhumi menarik serta tangan lembut itu.
" Sabar, sayang. aku di sini." Kinan merasa senang saat Bhumi tidak mau jauh darinya.
Bhumi berjalan meninggalkan lokasi diseret dua pria tersebut.
Di tempat parkiran, saat Bhumi hendak di masukan ke dalam mobil, bertepatan dengan Guntur yang keluar dari mobilnya yang terparkir berjarak dua mobil.
" Wa, pak Dewa?" Kinan menoleh ke arah suara, dia sedikit panik.
" Cepat masukan." Kinan bergegas masuk ke balik kemudi."
" Woy, mau diapain teman gue." saat Guntur hendak mencegat, mobil tersebut sudah meluncur meninggalkan lokasi.
Buru-buru Guntur masuk ke dalam lounge, mencari Adnan dan Erlangga yang kata Dewa ada bersamanya.
Banyaknya pengunjung yang makin memadati undangan dari king of party di sosial medianya, mempersulit gerak Guntur mencari dua sosok itu.
Guntur langsung menghampiri meja dimana Adnan dan Erlangga duduk.
" Dewa diculik."
" Hah?" Adnan dan Erlangga melongo bingung.
" Ck, gue tadi di parkiran lihat kalau Dewa diculik, cewek pelakunya, tapi gue gak kenal."
" Serius?"
" bertele-tele Lo pada. periksa aja setiap cctv, khususnya cctv bagian parkiran kalau kalian gak percaya."
Melihat raut serius Guntur, Adnan dan Erlangga segera berlari ke ruangan Erlangga.
" Astaga, si wanita gil4 itu..." geram Adnan saat melihat rekaman cctv parkiran.
__ADS_1
Mereka segera menelpon Wisnu, meski mereka tahu akan dimarahi sahabatnya itu, tapi nasib Bhumi lebih berarti....
Yuk...di like, komentar, dan kasih hadiah serta vote bintang 5. jangan lupa subscribe juga ya ...baca cerita aku yang lain juga ya!!!!