
Pejalan boncengan yang biasa diisi obrolan random, bahkan sedikit perselisihan, kini dihiasi keterdiaman yang panjang antara suami istri tersebut. mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Bhumi sibuk dengan pemikiran bagaimana membaut Arleta jera karena sudah Bernai main fisik dengan istrinya, sementara Shavara terbayangi redupan sinar mata Arleta dibalik sikap arogansi dan keras kepalanya.
" Turun, udah sampai." kata Bhumi yang menyadari penumpangnya belum juga bergerak dari atas motornya.
" Hah, ooh...iya..." Shavara melihat ke sekeliling rumah, ia menghela napas malas, sesmpainya di rumah dia melihat banyaknya mobil yang terparkir di pekarangan rumahnya.
Ia menyandarkan tubuh di punggung suaminya, enggan turun dari motor.
" Mau sampe kapan kita nangkring di motor?"
" Males aku tuh kalau udah berurusan sama mama, jadinya ribet dan gede macam gini."
Bhumi terkekeh," beliau sayang kamu."
" Aku tahu, tapi demi apapun ini persoalan kecil."
" Ya udah, cepet turun."
Dengan tanpa minat Shavara turun dari motor. Bhumi memegang tangan Shavara memasuki rumah.
" Di ruang tamu mereka melih Toni dan beberapa asisten dari perang tua Shavara dan Fathan.
" Kayaknya mereka ngumpul semua." bisik Shavara.
Bhumi mengangguk, matanya fokus pada Toni yang mengangguk kecil padanya.
Benar saja di ruang keluarga telah hadir semua orang tua, bahkan Fathan. Mira meringsek memepeti Kenzo yang duduk tenang di sampingnya.
" Kamu udah datang sayang, duduk di mana saja senyamannya kamu." tawar Fena yang paham melihat keengganan Shavara.
Ia selalu gregetan dengan sikap malam berkonfrontasi dari putrinya tersebut, entah menurun dari siapa mengingat ia selalu bersemangat kalau sudah da keributan.
Shavara memilih duduk dalam rangkulan tangan Anggara yang menyambutnya hangat." Di sini aja, Ma."
" Jadi jelaskan apa yang terjadi?" Fena langsung ke topik pembicaraan.
" Aku yakin Mira udah jelasin, bahkan si adek dan konconya pasti udah memperkuatnya." sindir Shavara melirik Aditya cs.
" Memang, tapi apa kamu gak mau nambahin apa gitu?"
Shavara menggeleng," enggak, capek. habis ngegertak dia kalau kita dekat dengan RaHasiYa jual dia berani membawa ini melebar ke magang aku."
Fena dan yang lain mengangguk-angguk." jadi apa yang akan kamu lakukan? Tu perempuan sepertinya tidak tahu malu dan takut."
" Gak ada, dia cuma remaja labil yang cari perhatian. Gak perlu lah dibawa ke jalur serius."
" Gak bisa, sayang. Pembullyan ada, salah satunya Karne pemikiran kamu itu." tolak Anggara.
" Pa, dia masih punya masa depan, kit jangan merusaknya dengan catatan kriminal di arsip kepolisian."
" Bukan kita, tapi dia sendiri." sanggah Fena.
" Ma..."
" Vara, seperti yang kamu bilang, dia masih remaja. tapi kalau dia waras dan normal remaja seusianya sedang sibuk-sibuknya mukiran pr pelajaran atau ngegalauin pacar yang seusianya. bukan maksain cinta sama lelaki yang usianya terpaut jauh bahkan siap jadi pelakor." Potong Fena sewot.
" Apa teteh rela pak Dewa direbut dia? ingat sekuat-kuatnya iman jika lelaki merasa tidak diinginkan dia akan lari juga." sambung Wisnu.
" Aku gak..."
" Siapa yang relain Aa Bhumi sih? Aku gak bilang begitu. Awas aja kalau di berani rebut Aa Bhumi." elak Shavara menggebu-gebu. matanya mendelik sengit pada Bhumi yang alisnya naik tajam.
Ucapan Bhumi terpotong karena berbarengan dengan Shavara yang menyanggah tudingan Kakaknya.
Dia panas hati membayangkan suaminya berpaling darinya hanya karena remaja edan macam Arleta.
" Makanya selanjutnya apa tindakan kamu agar tu orang gak macam-macam lagi." kukuh Fena.
" Ketimbang mikir itu, aku lebih bertanya-tanya Mama tahu dari mana aku dapat masalah di sekolah? Mama menaruh mata-mata di sana?"
Jantung Fena jedag-jedug kalut waktu putrinya melihatnya dengan tatapan menyelidik.
" Ya dari mana lagi kalau bukan dari adik kamu." Aditya menunduk dirinya sendiri dengan mimik tidak percaya, untuk kesekian kalinya ibunya yang cerewet namun dia cintai menjadikan dirinya tumbal kala membuat sesuatu yang tidak menyenangkan bagi anggota keluarganya.
" Iya, dek?" itu hanya basa-basi Shavara tahu betul Mamanya itu berbohong, tapi seperti biasa yang dirinya malas memperpanjang masalah percaya saja akhirnya.
" Iya-in aja, deh. biar cepet." sungut Aditya merengut.
Tidak berselang lama ponselnya berbunyi menampilkan pop up transfer-an ke rekening e-walletnya. Matanya membelalak besar melihat jumlah yang dikirim Mama-nya.
" Iya, teh. Dedek yang kasih tahu Mama. Dedek marah akan sikap tidak terpuji Arleta yang tidak mencerminkan siswa dari instansi pendidikan yang terakreditasi A."
Kali ini Aditya menjawabnya bersemangat dan penuh khidmat yang disambut respon oleh uang mendengarnya dengan rotasi mata bosan.
" Iya-in aja dah. Biar gak ketahuan bohongnya." balas Shavara malas. Yang mendapat kekehan dari yang lain kecuali Aditya yang merengut sok imut.
" Back to topic, please." lerai Fena.
" Septi yang awal Vara omongin, Vara gak akan melakukan apapun, kecuali dia menggoda Aa Bhumi langsung. Baru di kick off hidupnya."
" Kalau pak dewa yang oleng?" celetukan Ajis melahirkan tatapan sengit dari Fena, Rianti dan tentu saja Shavara pada Bhumi.
" Dijamin Halal 100% itu gak kan terjadi." jawab Bhumi tegas dengan mata mendelik tajam ke Ajis yang menciut di tempat.
" Yakin?" tanya Fena.
" Yakin, Ma. Dapet Shava aja udah puji syukur aku tuh."
__ADS_1
" Ya sudah pembahasan sampai sini, toh Vara sendiri yang tidak mau perpanjang masalah. tapi, Papa menekankan kalau dia keterlaluan, baik kamu menerima atau menolak, kamis udah sepakat akan menindak lanjutinya sesuai cara kami." tegas Anggara yang tidak bisa dibantah Shavara.
" Mama masih penasaran kenap kamu gak bertindak tegas ke dia?"
" Ma, dia cuma remaja."
" Itu bukan alasan dia bisa seenak jidat berulah kayak tadi pagi."
" Ma, tapi dia juga korban dari ketidak becusan keluarga menanamkan nilai-nilai norma. Gak semua anak beruntung kayak Adit atau Ajis yang mendapat haknya.
De, dan Leo contohnya. tapi mereka beruntung bertemu dan berteman dengan model Adit dan Ajis walau bikin kita pusing. tapi tidak dengan dia, dia dikecewakan oleh realita yang tidak sesuai ekspektasinya. Dia tidak tahu apapun soal tanggung jawab karena tidak ada yang membimbingnya." jawaban Shavara yang panjang lebar membaut seisi ruangan hening.
" Dia layaknya Senja, hanya produk dari komunikasi keluarga. Meski Enja tumbuh tanpa Papa Edo, tapi Mama Papa, ibu, dan Aa Bhumi memberikan kasih dan cinta padanya, tapi tidak dengan Arleta. Kita harus peka, kalau memang kenyataannya dia memang packinging-nya begitu, Vara sendiri yang akan bikin dia jera. Begini-begini juga Baru anaknya Mama Fena-kan ya." tukas Shavara.
Perkataan itu mencubit sudut hati Edo, perih hatinya mendengar rentetan kata demi kata itu. Ia menunduk malu sekaligus sedih.
Itu yang selalu membayangi pikirannya, sejak ia tahu Senja putri kandungnya. Dengan atau pun tanpa ampunan dari mereka Edo merasa seperti orang tolo0l yang terperdaya hasrat sesaat.
Ekor mata Bhumi melirik edo yang terlihat nestapa, hati kecilnya ingin mendekati beliau, namun ingatan hari sial itu masih membayanginya.
" Maksudnya apa tuh kalimat terakhir?" tanya Fena tidak enak hati.
" Pikir aja sendiri Mama tuh kayak gimana?" jawab Aditya yang mendapat lemparan bantal sofa oleh Fena.
" Mama tuh cinta damai ya."
" Iya, iya...memang siapa yang bilang Mama buang ribut!?" sindir Aditya.
" Ck, sudahlah bubar...lebih baik kita makan. Kalian harus makan di sini." Fena beranjak ke dapur.
Saat tubuh Fena menghilang dari penglihatan, Anggara mengangkat dua jempolnya untuk Aditya.
Setelah urusan makan malam beres, di dalam kamar, Fena menelpon Deby. Dia ingin mengultimatum sosialita yang selalu membuatnya naik darah itu.
Di kamar Shavara, Bhumi menatap lurus istrinya yang kembali jadi pendiam selepas membubarkan diri dari pertemuan.
" Jadi itu sio kepala kamu yang bikin kamu diam nyuekin aku sejak dari kampus?" Bhumi duduk di pinggir kasur melapas kemejanya.
" Hah?"
" Kamu, mikirin wacana perihal Arleta yang tadi kamu ucapkan dengan lantang di depan mereka."
Shavara menghela napas kasar," Kamu gak suka?"
" Aku gak suka dia mulai berani nyerang kamu."
" Selama ini sikap kamu yang penuh kebencian sama dia apa membuahkan hasil dia menjauhi kamu? Enggak kan, dia malah makin jadi."
" Di toilet tadi dia secara terang-terangan penuh kepercayaan diri menyatakan kalau kamu pacar dia di depan muka aku."
Bhumi terperangah kaget, " Benarkah, lancang sekali dia." desis Bhumi tidak terima, Bahakan terkena jijik.
" Lantas kita harus bagaimana, aku gak mau kamu cedera, kita tahu remaja yang labil emosinya akan lebih agresif, karena mereka cenderung berpikiran pendek tanpa mengenal resikonya apa?"
" Aku udah mikir benang merahnya, kenapa dia seakan menjadi egois. Itu karena dia terus terluka, terus dikecewakan, terus mendapat penolakan dari orang-orang yang dia sayang."
" Terus agar dia berhenti aku harus menerima dia gitu?"
" Enak aja, awas aja kalau kamu oleng, aku santet kamu. Biar ini jadi urusan kau dan Mira."
" Kenapa Mira diajak tapi aku enggak. sayang, baurkan aku yang memberesi dia."
" Karena dari jaman sekolah dulu dia ahlinya bikin pembully KO. entah kenapa dia masuk bisnis bukannya psikologi. Dan satu lagi, faktanya perhatian dari mu, meski itu kebencian adlah hal yang dia sukai daripada tidak da yang peduli padanya, makanya dia terus berulah, sayang."
" Sayang, jangan bikin aku khawatir. Kalau begitu kasih tahu aku apa langkah yang akan kamu ambil."
" Aku janji bakal kasih tahu kamu, tapi demi apapun seakrnag ini aku gak bisa mikir apa-apa. ikuti arus aja aku mah."
" Beneran?"
" Ck< gak percayaan amat. Udah ah aku amu mandi, terus makan."
Bhumi berdiri, dia sigap dia membuka email sisa pakaiannya," Kita mandi bareng."
" Enggak, gak maauuu.. bakal lama nanti..."
" Gak apa-apa, toh mereka pada sibuk urusan masing-masing." Bhumi mendorong Shavara yang sudah berdiri di depan kamar mandi.
" Wa, bisa kita bicara?" pinta Toni saat mereka bersikap muka di ujung anak tangga bawah.
" Soal?"
" Senja, perusahaan, Desty. dan Arleta."
mereka berjalan melipir sisi lain taman belakang, menjauh dari semuanya." Katakan."
" Desty mulai menganggu Senja dengan menyebarkan rumor dia anak ahram dari tuan Edo, itu mempengaruhi sikap para investor dan dewan direksi. Dia mungkin sudah lama tidak terlibat, tapi sebagai mantan sekretaris dan istri tuan Edo, omongannya masih menjadi pertimbangan mereka."
" Lainnya?"
" Tuan Edo mencari semua mengenai Arleta."
Bhumi mendengarkan di tempat tanpa berniat menolak, ekor matanya melihat Edo yang sendang bertelepon.
" Thanks atas infonya."
" Saya siap melayani tuan muda." ucapan itu mampu membaut tubuh Bhumi menegang.
" Jangan katakan itu, saya tidak sudi menerima apapun darinya."
__ADS_1
" Paling yang terjadi di masa kan datang,tuan Edo mempersiapkan saya untuk melayani anda."
" Ck, berhenti bersikap konyol. Kau bantu saja Senja. lakukan apapun agar wanita itu tidak menyentuh Senja meski kekerasan yang harus kau lakukan. aku minta ini sebagai teman lama." Bhumi menepuk bahu Toni sebelum menghampiri ayahnya.
" Bisa kita bicara?" Edo berbalik kala suara putra sikunya menyapa rungu-nya.
Sejak dia terpaku, sebelum mengangguk," Tentu, dengan senang hati Papa bicara dengan mu." Edo memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
" Kenapa kau mencari tahu soal Arleta, dia bukan buronan atau penjahat. jauhi dia, bair saya yang mengurusnya."
" Tentu, Papa tidak kan memasuki kasus ini tanpa kamu minta, tetapi berwaspada, harus. Mengingat dia berani menyerang menantu kesayangan papa."
Bhumi terkekeh-kekeh sembari tersenyum miring," Mending kau lakukan sesuatu pada Siena ketimbang dia."
" Siena?"
" Iya, mantan adik iparmu itu sama meresahkannya dengan Arleta."
" PAPAAA..AAAAAA...." Shavara meloncat menggelendoti lengan mereka.
" Gini dong akrab kan indah dilihatnya."
" Aku gak kelihatan senang lho, Yang."
" Kamu juga gak kelihatan marah. stop marah, gak capek apa marah, benci terus selama puluhan tahun. papa udah tobat, kewajiban kita menyambut niat balik itu."
" Terserah Yang, terserah."
❤️❤️❤️❤️
Baru saja Deby menutup telepon dari Fena saat mendengar pintu rumah dibuka oleh Arleta.
Tanpa tendeng aling-aling Deby melempar kuat guci kecil keluaran China yang terletak di atas meja ke arah Arleta yang terhenyak kaget. Pasalnya guci itu terbang hampir mengenai pelipisnya.
Dada Deby naik turun karena amarah yang menggebu-gebu." Bisa kamu berhenti menjadi wanita murahan?" hardik Deby.
Mata Arleta membesar, sakit....dia sudah terbiasa mendapat celana menghinakan seperti ini sampai dia kebal, namun kala kata-kata penghinaan itu terlontar dari wanita yang melahirkan berhasil meruntuhkan pondasi kewarasan kejiwaan yang memang sudah tinggal seupil.
" Mama, apa-apaan sih, main lempar aja. kalau kena aku gimana?" teriak Arleta refleks saking kagetnya.
" Sekalian kamu mati juga gak rugi Mama." balas teriak Deby.
" MA, Mama kesambet atau apa, bisa ngomong gitu."
" Kamu yang bikin Mama kesel karena gak berhenti-henti bertingkah gila layaknya orang orang gak punya otak ngejar-ngejar suami orang yang udah ribuan kali nolak kamu sampe tega mau ngelabrak istrinya." teriakan Deby makin menggila.
Di tempatnya Arleta berdiri kaku dengan mimik menegang.
" Dari mana Mama..."
" Mama mendapat telpon dari Fena Nasution. Segala cerocosannya mengenai kamu bikin Mama gila. Kamu telah membuang muka Mama, leta. Kamu bikin Mama malu."
" Ma, dengerin dulu penjelasan Leta."
" Apalagi yang mau didengar dari kamu, kamu di sekolahin dari TK sampai SMA di sekolah mahal dan bonafid tetapi kelakuan seperti wanita pinggiran yang tidak terdidik. rugi Mama keluarin duit banyak-banyak."
Prang...
Deby menjengkit mundur karena Arleta melempar pajangan salah satu koleksi kristal milik ibunya, wajahnya terpampang datar terkesan dingin.
" Ini hasil dari didikan mu padaku, Ma. Kau pikir aliran dana uang tanpa batas yang kau berikan cukup untuk memenuhi segala kebutuhanku? Aku bukan pajangan yang setelah kau beli, lalu kau simpan. And that's enought, gak perlu apa-apa lagi.
Aku manusia, punya hati untuk merasakan kehampaan karena dianggap tidak penting sementara kau fokus pada dunia mu, aku punya otak yang isinya negatif mulu karena selalu mempertanyakan kenap Papa gak sayang aku.
Alih-alih kasih aku penjelasan dari omongan papa yang kau peras bathinnya, Mama lebih sibuk mengurus mas Aryo dan perselisihan mama melawan Tante Fena sementara beliau mati-matian membela anaknya yang jelas berlaku kasar.
Rapi Mama, pernah Mama bertanya padaku kenapa aku begitu tergila-gila pada pak Dewa? enggak, Ma. Enggak!
Mama hanya bisa menghina ku seperti yang lain. Mama hanya peduli pada muka Mama, dari rentetan kata-kata penghinaan Mama semuanya berakhir pada pencitraan Mama, bukan kepedulian mama padaku." teriak Arleta membahana ke seluruh ruangan.
Dengungan gema suara masih tertinggal mengisi ruangan, manakala mata mereka saling pandang dengan saling tuduh.
" Leta, jangan banyak ulah. Nikmati saja apa yang kamu dapatkan. Jangan mengeluh." sengit Deby menolak Segal tudingan Arleta yang menyenggol egonya.
" Dan begini cara ku menikmatinya, jangan mengeluh." sinis Arleta yang merasa sia-sia mengharap perbincangan hati ke hati dengan Mama-nya.
Dia berjalan ke arah tangga naik ke lantai dua, namun langkahnya berhenti karena ucapan Deby.
" Tapi kau pasti punya sedikit malu kala bertekad menjadi pelakor kan."
" Tidak lebih malu daripada memaksa seseorang untuk diminta menikahi mu karena hamil anak orang lain." balas Arleta diakhiri senyum smirk.
" Jaga bicara mu pada ibu mu, Leta. demi Tuhan usia masih muda bersikaplah layaknya remaja. bukan sikap tidak tahu diri yang kau asah."
" Demi tuhan, berhentilah protes, terimalah kalau ini turunan gen dari mu, Mama. Dan hasil investasi uang yang kau kocorkan bagai keran air mengalir tanpa asupan bathin padaku."
Deby terdiam, sikap Arleta yang kurang ajar dan berani membantahnya membuatnya hilang akal.
Arleta menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuknya, air mata mengalir deras tanpa suara hanya redupan sinar di matanya yang memperlihatkan betapa rapuhnya dia.
" Pak Dewa, maafkan aku...aku...tahu aku salah, tapi aku membutuhkan kamu." lirihnya.
Ia menutup matanya dengan satu tangan, di sana malah bayangan tatapan Shavara padanya yang tampak.
Arleta bangun terduduk dengan napas memburu," Sial, kenapa dia menatap ku demikian. Hanya pak Dewa yang boleh menatap ku begitu." monolognya....
ayok dong kasih komen, like dan subscribe. Jangan lupa bintang 5-nya.
Padahal lagi geuring, maksain nulis ini....see you....
__ADS_1