Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
95. Karma Siena.


__ADS_3

Shavara menutup pintu kamar sembari menghembuskan napas kasar, menimbang sesaat lalu melangkahkan kaki berjalan ragu dan gugup menuruni tangga hendak bergabung dengan yang lain di halaman samping villa, dia sudah bisa menebak akan diledeki oleh mereka yang bermulut lemes sekelas Adnan dan Ajis.


Apalagi ditambah rambutnya yang masih sedikit basah akibat mandi wajib, 99% dia bakal jadi Bullyan mereka no debat soal itu.


Tangannya memegang pegangan pintu geser,menarik lalu menghembuskan napas berat.


Kreetttt....


Pugghh....


Shavara terhenyak mundur beberapa langkah kecil karena terkejut akan pelukan dari Bhumi yang menubruk dirinya.


Merasakan tubuh Bhumi yang gemetaran, Shavara menjadi panik. Ia mencoba melerai pelukan itu namun Bhumi malah mengeratkannya " sayang..."


" Begini..begini aja dulu..please...aku butuh kamu..." ucapnya dengan suara bergetar...


" Sayang, ada apa? Lihat aku dulu.." dari bahunya, kepala Bhumi yang ditempelkan di lehernya Bhumi menggeleng cepat.


Tanpa bicara Bhumi mendorong tubuh mereka memasuki ruang, lalu mengangkat tubuh Shavara refleks ia mengalungkan kedua tungkainya ke pinggang Bhumi.


Bhumi langsung meraup bibir Shavara, melum'atnya kasar seakan butuh pelampiasan untuk pelepasan emosinya.


" Sayang, kamu baik-baik saja? Tubuh kamu gemetaran hebat lho ini." Shavara menyudahi civman tersebut, bibirnya berasa kebas karena hisapan kuat bibir Bhumi.


Bhumi tidak menjawab, ia malah memilih menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setiba di dalam kamar, Bhumi mengunci pintu kamarnya. Barulah Bhumi menurunkan Shavara memastikan kakinya memijak stabil.


Mereka beradu pandang, Shavara menelan kata-kata yang hendak dilontarkan kala melihat wajah Bhumi yang tampak sengsara dan sarat emosi yang silih berganti di wajahnya.


" Kenapa, hmm?" tanya Shavara seraya mengusap rahang Bhumi.


Ingin bumi berkata namun berat rasanya, maka dia kembali Civm Shavara dengan kasar. Memag'utnya cepat tanpa kelembutan sama sekali namun Shavara tidak protes.


Civman itu turun ke leher, menyesap sedikit di sana lalu terus turun ambil tangannya menurunkan resleting blouse-nya hingga teronggok di lantai disusul dengan pakaian lainnya.


Bhumi sedikit memberi jarak, ia pun segera melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya, kini keduanya polos tidak berpenghalang satu kain pun.


" Beautiful, always beautiful.." ucapnya serak.


" Terima kasih...hmmmmmh..."


Bhumi melarangnya berucap, ia langsung menikmati dad4 Shavara yang tersaji nyata di depannya. menghisap lalu mempermainkannya dan kedua tangannya oun tutur sibuk mengeksploitasi setiap inci tubuh Shavara yang dengan senang hati menyambutnya.


Aksi ranjang Bhumi kali ini benar-benar kasar dan mendesak, Shavara merasakan milik kesakitan di intinya namun tidak tega memprotes. berapa kali suara meraung nyalang dari mereka terlontar saat gerakannya semakin cepat keras sensasi yang memabukkan itu.


" SHAAAVAAA...." pekiknya hebat saat benih dirinya menyembur deras ke mulut rahim istrinya. Bhumi berguling lalu menghempaskan tubuhnya ke samping Shavara.


Bukkgghh..."


Napas Bhumi tersengal-sengal, matanya menatap langit-langit kamar. Ia duduk lalu menarik selimut guna menutupi tubuh mereka, lalu membaringkan diri di samping Shavara.


kilasan kejadian tadi kembali berputar," Bodoh....bego banget Lo jadi manusia, Bhum." rutuk Bhumi.


Mulanya dia hanya berniat memperhatikan Edo dari kejauhan bertitik fokus ke punggung besar namun terlihat ringkih itu. Ia hanya ingin memastikan ucapan Shavara.


Lama ia memperhatikan ayahnya, keresahannya semakin menjadi saat Edo sedikit membungkuk dan menyeka ujung matanya yang terkesan ada air mata.


" Kau sudah tua, A...yaaahhh...dulu punggung itu terkesan kokoh dan tegap, Sekarang entah mengapa terlihat kecil." gumam Bhumi dengan mata tidak melepas dari Edo.


Lam kemudian keresahan itu berganti menjadi kasihan saat menyadari Edo terlihat sangat kesepian.


Entah dorongan dari mana, tanpa berpikir dua kai Bhumi mengambil segelas minuman lalu melangkah kaki yang ternyata mendekati Edo.


Kaget?, ia sendiri pun terkejut, kepalang basah ia meneruskan kedekatan ini walau tubuhnya mulai gemetaran sedikit demi sedikit getaran dari kaki lanjut ke atas.


" Aaakhhh..." Bhumi mengusap kasar wajahnya.


" kenapa? jangan bilang gak apa-apa, sayang. jelas kamu sedang ad masalah." ucap Shavara lembut.


Lam berpikir," Aku berbicara dengan dia..."


" Dia? Siapa?"


" Lelaki tua itu."


Shavara tertegun, kemudian menarik Bhumi ke dalam pelukannya.


" Aku membencinya, Shava...aku sangat membencinya...entah setan mana yang menggodaku, aku mengajaknya bicara." racau Bhumi penuh kepanikan.


" Sshhutttt...tenanglah sayang, pelan.. pelan...ku hebat, sayang. aku bangga sama kamu." bisik Shavara sambil mengusap kepala Bhumi.


" Aku sangat membencinya, sur hidupku aku bertahan demi melihat dia terluka, tapi..tadi...aku....hiks...hiks...." sakit, s saos tiram kali dadanya melihat ayahnya sendiri di hari tuanya.


Tubuh Bhumi gemetaran hebat," Sayang...aku..ingin.. membalasnya, namun...dia...dia...ayahku...hikkssss.... hikkssss..."


" Aku membencinya...namun aku ikut sakit saat melihat dia....ya..tuhannn....ku balas kejahatan dia..tuhan ku mohon....aku tidak mampu membalasnya dengan tanganku, balas lah dengan kuasa mu, tuhan." terus saja Bhumi meracau.


Shavara tidak menegurnya dia membiarkan bhumi meluapkan segala emosinya, dadanya basah karena air mata Bhumi.


Lama mereka saling memeluk, satu diam mendengarkan, satunya bicara melepas segala ras ayang tersimpan di hati.


❤️❤️❤️❤️❤️


Selepas bhumi pergi, Edo tersenyum pada semua orang memberitahu mereka kalau dia baik-baik saja. netranya berlabuh di Rianti yang tersenyum meneduhkan padanya.


Rindu, dia rindu senyuman itu,. namun hanya sesaat ia bisa menikmatinya. dirinya sadar ada Fathan yang berdiri tidak jauh dari Rianti yang memperlihatkan mereka. Bukan takut, tapi segan dan malu pada sahabat mantan istirnya tersebut.


Edo kembali memandang pemandangan, dia akuo beban di hatinya hilang. Bian ingin menghampirinya mengucapkan turut bahagianya, namun tertahan saat Anggara mendatangi Edo.


" Bukan bermaksud mematahkan kebahagiaan kamu, meski kita terbilang tua, tapi jangan kurang air gak bantu-bantu yang muda mempersiapkan segala bahan untuk barbequean." Anggara menepuk bahu Edo.


" Sorry, saya hanya sedang bereuforia saja."


" Its okay."


" Tebak-tebakan tu penganten anyar bakal gabung kita gak nanti malam?" tanya Adnan memprovokasi taruhan pada sahabatnya dan sahabat Shavara yang mengelilingi pemanggangan.


" Berapaan taruhannya?" Erlangga meladeni. tanpa menyadari tangannya masih menggenggam tangan Senja.


" Taruhan dosa tahu, bang." Bisma sok bijak.


" Lo ikutan pake bando Lo." dengkus Adnan.


" Traktir makan di resto Elang."


" Okay, Deals..."


" Siapa yang milih gabung?" tanya Adnan.


" Gue..."


" gue..."


" Idem..."


Sahut semuanya kecuali Adnan.


" Ck, tidak berprinsip Li pada ngikut-ngikut doang."


" Terserah kita lah, kecuali Abang takut...kalah... HAHAHHAHAHAHAHA.." tantang Mira penuh dengan mengejek.


" Awas jangan nangis Loh, Mir."


" Paan dah, ga tak gue mah. dah kasih mandat ke inj nih kalau kalah." ucapnya sembari merangkul lengan Kenzo.


" Cih, hasil dari morotin aja bangga."

__ADS_1


" Bangga dong, uang calon suami sendiri ini, wleee..."


" Sumpah Lo nyebelin habis."


" Deal gak ni." lerai Erlangga.


" Deal lah..masa enggak." balas Adnan bersemangat.


❤️❤️❤️❤️


Siena kaku dia tempat, " bak, aku seorang guru, gak etis kalau harus menjual diri."


" Terus harus mbak terus yang merendahkan diri?" tanya Desty tajam.


" Mbak, aku gak mau..."


" Kamu gak punya pilihan, Siena. Kebetulan ad akilegaas aedo yang sangat menyukai kamu." Desty mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


" Mbak, mbak seriusan mau jual aku?"


" Serius, bakal gak bisa hidup tanpa AC, gak lucu punya mansion tapi gak mampu bayar listrik.


" Hallo."


Desty menyalakan laudspeakers ruang obrolannya." Hallo Pak Deka... bagaimana malam dingin anda?"


" Kesepian, tentu saja."


" Tebak, saya telpon kamu mau ngomong apa?" ucap Desty sedikit menggoda.


" kamu? tapi saya lebih suka sama adik kamu yang guru itu."


" Okay, berapa yang bapak tawarkan?"


" Dia masih gadis?"


" Seharusnya masih, sih." Desty melirik ke Siena yang menggeleng cepat dan kencang dengan raut memohon padanya.


" Saya kasih 700 kalo dia masih perawan."


" Juta?"


" Kamu pikir saja sendiri, saya seorang Deka."


" Kalau enggak?"


" Hanya 70."


" Okay, Deal." sahut Desty tanpa protes. Dia tidak dalam posisi menawar harga, dia butuh mendesak.


Hidupnya yang menderita sudah lama dia tinggalkan, dan dia tidak mau lagi merasakan itu. sudah banyak halanyanhd ia buang, dan renggut Melawai batas norma yang berlaku demi masa depan sejahteranya.


" Saya akan jemput sebentar lagi...saya ingin pergantian tahun berbagi kehangatan dengan adik mu."


" Siap." Desty menutup ponselnya.


" Mbak, tega kamu menjual aku. Aku adik mu, mbak." pekik Siena menolak keras.


" Siena, di usia mbak sudah sedikit pasarannya. kamu yang sekarang harus berusaha untuk kita hitung-hitung kamu balas Budi ke mbak."


" Mbak, demi tuhan. apa kau merasa rugi berkorban demi keluarga mu?"


" Siena, please. Jangan banyak bicara. Kamu bersiap-siaplah. Sebentar lagi pak deka apak menjemput mu."


Mata Siena memerah, air matanya meluruh." mBak, aku gak nyangka kalau mbak akan Setega ini padaku."


" Dek, dulu aku. Sekarang era kamu. kita tidak bisa hidup dalam kegelapan di mansion ini, Siena."


" Mbak..."


Siena berkali-kali menelepon Bhumi berharap dijawab dan membawanya pergi dari sarang terkutuk ini, namun sayang panggilannya tidak kunjung dijawab.


Tok..tok...


" Siena, turun. Jemputan kamu sudah datang."


Ceklek...


" Mbak, mbak masih bisa membatalkannya. Ku mohon, mbak."


" Ck, cerewet. Mbak hanya minta sedikit pengorbanan kamu. Ingat, ini hanya secuil dibanding pengorbanan mbak."


Desty memegangi siku Siena yang terus menolak untuk melayani Deka.


Seorang pria berjas sudah menunggu mereka di ruang tamu, Desty langsung mendorong Siena pada lelaki itu.


" Ini, nyonya. pesan dari tuan Deka untuk anda." lelaki yang berstatus asisten pribadi Deka menyerahkan amplop putih.


Desty membuatnya, matanya langsung berbinar setelah membaca pesan dalam secarik kertas yang berupa undangan menginap di kamar presidensial suit di hotel berbintang lima.


" Wow, sampaikan salam saya untuk beliau."


" Kalau begitu kami permisi."


" Ya...silakan bawa dia."


Dua pengawal menarik lembut Siena yang menolak mengikuti asisten itu.


" Mbak...tolong pikirkan kembali..."


Blam...


Desty menutup pintu, ia lantas lekas berbenah untuk pergi ke hotel, hatinya senang malam pergantian tahun ini dia akan tidur nyenyak di kamar mewah.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Derrt ....derrrttt...


Kini pukul 22.30. Wib. Bhumi masih betah mencivmi tengkuk dan sepanjang tulang selangka Shavara yang telanjang mengabaikan ponselnya yang terus berdering.


mereka tertidur dengan Shavara membelakanginya, sementara tangan Bhumi memeluk pinggangnya.


" A, angkat dulu telponnya siapa tahu penting." Kata Shavara malas.


Dengan berat hati Bhumi mengambil ponselnya dari nakas, saat melihat siap yang menelpon dia tuah kembali ponsel tersebut.


" Siapa?"


" Gak penting."


" Siapa?"


" Siena."


" Mau apa dia?"


"Gak tahu, dan jangan maksa aku buat jawab. Sekalinya ngejawab, dia bakal terus nelponin aku melebihi debt colector."


Shavara terkikik, " Satu lagi yang harus dibasmi." keluhnya kemudian.


" Bar-baran mana sama murid kamu?"


" Yang pasti dua-duanya mengganggu."


" Untung aku dididik sama mama Fena, kali enggak, siapapun yang jadi istri kamu bakal keok dari awal."


Bhumi tertawa kecil nan bahagia." Makasih mau memperjuangin aku, dan maaf sudah bikin hidup kamu runyam" bisiknya di telinga Shavara.

__ADS_1


" Setimpal kok, malah melebihi ekspektasi ku."


Bhumi menarik dagu Shavara agar memiring untuk dia lum'at dan dilanjut pag'utan panas saling menghisap dengan lidah saling membelit sambil tangannya membelai naik turun bagian depan Shavara yang mengundang lengkuhan berat dari Shavara.


" Hmmmh...sekali lagi ya..."


" E3hhh....shhh....aaaaahhhh.... Kala Bhumi mengangkat satu kakinya dan dirinya lekas memasukinya tempat favoritnya.


" Aaah... aaaaakkhhhh.....sshh...." Bhumi menggigit bibir bawahnya saking nikmatnya.


" Syanghhh...ssshhh..eeeehhh...." Shavara menjambak rambut Bhumi menikmati sensasi goyangan pinggul itu.


" AAAAA....HHHH...FASTERRRR..."


" With my pleasure, honey..." Bhumi dengan bersemangat mempercepat gerakan maju-mundurnya.


Edo mengambil ponselnya yang terus bergetar dari saku celananya.


" Hallo?" salamnya saat nama kolega kentalnya menelpon dirinya.


" Mantan mu menawarkan adiknya, sepertinya dia sudah putus asa."


" Kamu terima?"


" Tentu, kau ingin rekaman videonya?" bangsat memang pria paruh baya yang bernama Deka ini.


" Tentu, untuk berjaga-jaga. aku dengar dia naksir anak sulungku."


" Okay, aku tutup dia sudah sampai." tanpa menunggu jawaban Deka memutus sambungannya.


Edo menaruh ponselnya dengan wajah tersenyum," telpon dari siapa, om? senang amat." tanya Erlangga.


" Kolega bisnis."


" Masih jalan, om bisnisnya. Bukannya bursa saham tutup?" Adnan ikut nimbrung.


" Bisnis yang lain."


" Hey..hey...kalian semua jangan iri, jangan dengki karena sebentar lagi eukeuy bakal ditraktir habis-habisan sama you..you..you..." tunjuknya satu persatu pada mereka yang terlibat tarian lagi.


" Berisik Lo, jangan takabur belum pas 24 teng ya..." sindir Erlangga.


" Lagi yang manten, gak bosen apa di kamar muli." dumel Bisma.


" jomblo, haram buat sirik." sarkas Mira yang mendapat lemparan daun selada dari Bisma.


Tepat sekitar pukul 23.50. detik-detik pergantian tahun, ketika para penghuni villa berbagai saling canda dan tawa bahkan saling suap di tengah barbequean, sepasang pengantin baru itu turun sambil berpegang tangan, tepatnya Bhumi yang merangkul pinggang Shavara yang berusaha sedikit menjauhkan diri dari suaminya yang ingin terus menempel padanya karena malu.


POK..POK....


" Wellcome back. my pengantin..." seru luas dari Erlangga sambil bertepuk tangan meriah.


" Woy, kenapa kalian pada turun dah. Percuma, anying." decak Adnan kesal yang ditimpali tawa terbahak-bahak dari yang menang taruhan.


Pasalnya sedari tadi dia sudah jawa akan menang, tidak tahunya berasa diprank.


" Apaan, dah..."


" Biasa taruhan." sahut Erlangga menjawab Bhumi.


" Ck, kebiasaan. padahal sering kalahnya ketimbang menang-nya. Demen banget menjemput kesialan sendiri."


" Temen, Lo. Bhum." celetuk Wisnu.


' Bukan gue baru mungut dari kobakan ikan."


" Terus aja hina gue. Yang lebih ganteng ang Suak diiriin sih mau gimana lagi."


" Bhumi, bisa Papa bicara." Edo memberanikan diri mendekati Bhumi, walau kecemasan akan penolakan Bhumi akan dia terima.


Bhumi menatap Shavara meminta pendapat yang diangguki olehnya.


" Ada apa?" tanyanya setelah mereka sedikit menjauh dari kerumunan.


" Siena..dia..jual oleh kakaknya."


Bhumi menoleh kaget menatap Edo," papa tidak terlibat, tapi dia jual ke teman Papa. Papa kasih tahu kamu agar kamu mempersiapkan diri dari dramanya."


" Tentu, terima kasih atas pemberitahuan anda." Bhumi masih kagok menyebut kata Papa.


Edo tersenyum miris, namun tidak bisa keberatan." Apapun untuk mendapatkan maaf dari kamu."


" Aa.. tolongg....." teriak Shavara yang dikejar-kejar Aditya yang berlagak mencuri daging yang ad aid piring Shavara.


" Ck, bandit satu ini gak bisa bikin orang tenang. Aku pergi dulu,...Pa... " Bhumi Bergas pergi setelah membuat jantung ayahnya berdetak kencang.


senyum lebar menghiasi bibir Edo." selamat, Pa."


Bian muncul tidak jauh dari sana." Yan...,"


" Aku dengar semuanya...aku akan menjaga Abang, Papa tenang saja." Bian mendekati Edo.


" Yan..." Edo merangkul bahu Bian, menepuk-nepuknya pelan.


" Yan, sini dagingnya habis Lo sama si kamu duafa Ajis ini." panggil Devgan.


" Iya, ke sana dulu."


" Hmmm.."


Beberapa detik menjalang tahun baru mereka sudah bersiap berbaris dalam kelompok masing-masing dengan air mancur dan kembang api di tangan.


" 3...2...1...."


Duarrrr....duarrr....


" Happy New year...." ucap mereka serempak.


Bhumi tidak segan-segan mencium bibir Shavara di depan mereka yang mendapat sorakan membahana dari kaum jomblo.


Namun di sebuah kamar mewah di mansion megah milik Deka tepat jarum pendek menunjuk angka 12, tepat Hujaman Deka merobek selaput darah milik Siena yang menjerit kesakitan.


Deka terus memasuki Siena tanpa kelembutan, ia terus berpacu mengejar kenikmatan tanpa memperdulikan kenyamanan dan lawan di ranjang.


Sepanjang dirinya dipaksa bersatu airmata Siena terus mengalir, dirinya seperti di belah dua. sakitnya bukan main.


Sementara, Desty tengah menenggak wine merah dalam gelasnya dalam balutan bathrobe putihnya menunggu partnernya yang sudah dia hubungi sewaktu di perjalanan menuju hotel.


Banyak sajian makan berat dan ringan dengan harga yang fantastis, dia berpikir toh dia bisa membayarnya setelah Deka membayar kesepakatan mereka lima menit setelah tahun baru.


" Malam ini akan panjang..dan...panas...lama aku tidak mengalami orgasme tubuhku nyeri tidak tersalurkan."


Seringai puas Terlampir di bibirnya yang hasil sulaman.


Tring....


Bunyi notifikasi ponsel," Wow, pak Deka menepati janjinya." matanya melihat jam di layar ponsel.


Dia membual aplikasi m-bankingnya. matanya membelalak lebar saat menerima jumlah nominal yang masuk.


" 700 ribu..." gumamnya tidak percaya.


Sekali lagi dia hitung jumlah mol yang ada, ya,... tepat hanya 700 ribu rupiah Deka mentransfer sejumlah uang untuk membayar keperawanan Siena.


Di kamar itu Deka yang masih duduk tersenyum smirk menatap ponselnya yang menyala karena panggilan masuk dari Desty yang terus dia abaikan.


matanya melirik sinis pada Siena yang tertidur pulas." Kau tidak lupa kan Desty kalau aku sahabat karib mantan suami mu."....

__ADS_1


__ADS_2