Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
58. Adu Taktik.


__ADS_3

" Diam dan dengarkan aku atau aku ambil keperawanan kamu supaya kamu gak ngomong hal-hal yang aneh lagi." ancam Bhumi meyakinkan dengan mata menatap tajam.


Shavara membalasnya dengan sorot bengis, ia sekuat daya menggerakkan kepalanya yang tertahan karena kuatnya pegangan Bhumi di tengkuknya.


" Matanya gak usah melotot gak nakutin aku juga, malah tambah lucu." ledek Bhumi yang berhasil membuat Shavara naik pitam.


" Lepas, atau gue hancurin kaca mobil lo."


" Hancurin aja, punya calon mertua sultan tinggal pinjem satu, kan di garasi kamu masih banyak."


" Gak tahu malu, sama kayak selingkuhannya." cibir Shavara.


Bhumi menghela napas berat, dia sungguh bosan mendengar tuduhan itu. Tanpa aba-aba Shavara membenturkan kepalanya ke wajah Bhumi yang langsung mengerang memegang hidungnya.


" Aaaaa,...sayang. ini sakit banget, tahu." ringis Bhumi memeriksa hidungnya patah atau tidak, namun hidungnya berdarah, Bhumi mengambil tissue dari kotaknya.


Shavara menggeser menjauhkan diri." Lebay, manja. segitu gue gak pake tenaga. kalau kamu pikir bisa mengintimidasi aku lewat kekuatan kamu, aku ingatkan kalau aku pemegang sabuk putih pencak silat. sekarang buka pintunya." sengit Shavara.


Setelah memastikan hidungnya baik-baik saja, Bhumi menyeringai devil," menarik, pacar aku ini selain cantik dan feminim juga kuat, hmm? pengen nyoba kekuatannya."


Bhumi maju perlahan membuat Shavara mundur," berhenti gak?"


" Enggak, Ayo tunjukan kekuatan kamu, lebih kuat mana antara pencak silat dengan karate."


" Siapa yang punya karate?" bingung Shavara.


" Aku, ban hitam."


" Bohong, kamu bilang gak punya duit buat dibuang-buang."


" Aku punya teman sekaya Adnan dan Elang, mereka yang bayar iurannya."


Shavara menenggak ludahnya was-was," kenapa gak bilang?"


" Kamu gak nanya, dan aku pikir gak penting juga, tanpa ban hitam, aku masih bisa melindungi kamu."


Shavara berdecak, tangannya menahan dada Bhumi yang sudah hampir merapat padanya." Mundur, iiihhh.."


" Gak mau, kan kita mau adu kekuatan."


Shavara menjilat bibir bawahnya karena gugup," kamu bilang mau jelasin, mana?"


" Kamu bilang gak mau dengar, gak jadi."


" Sekarang aku mau dengar, cepat jelasin." Shavara mendorong dada bidang Bhumi yang kian meresahkan karena hembusan napasnya mengenai wajahnya.


" Beneran mau dengar?"


" Iya." sentak Shavara.


" Gak pake ngamuk."


" Gak."


Bhumi menjauh, namun tangannya menarik kuat tangan Shavara, otomatis badan Shavara tertarik maju.


" kenapa ikut maju? pengen dicivm?"


" Iiih, kamu yang narik aku." Shavara berontak mencoba melepas tangannya.


" Stop, tangan kamu nanti copot, aku gak akan lepasin tangan kamu. sekarang dengerin aku."


" Tinggal ngomong, bawel."


Bhumi menghela napas dalam-dalam, "sabar, Bhum. sabar. orang sabar nikahnya cepat." Bhumi menghibur diri dalam hati.


Tatapannya meneduh, kedua tangannya menangkup tangan Shavara, kemudian mencivm punggung tangan lentik itu.


" Bhumi, ih, lepasin." Rajuk Shavara.


" Mas, panggil aku, mas. gak sopan panggil nama doang."


" Aku orang sunda gak manggil Mas."


" Aku yang Jawa."


" Gak ngurus gue."


" Shava, jangan uji kesabaran aku, jangan manggil nama, apalagi Lo-gue. kamu tahu pasti aku gak bisa kasar sama kamu, tapi aku bisa bikin kamu gak bisa jalan tinggal bawa mobil ini ke hotel, gampang." peringat Bhumi.


" Ka..kamu-nya jangan bikin aku kesal."


" Gak ada sama sekali niat aku, aku cuma pengen bikin kamu bahagia."


" bohong, semalam kamu bohongin aku."


" Gak bohong, aku cuma belum bilang, semalam pas mau pulang dari rumah kamu Adnan kirim pesan aku minta aku ke club, di sana ada Elang juga, sekalian aku mau ambil sesuatu dari dia."


" Kenapa gak bilang?"


" Kan aku mikirnya kamu gak ada hp, aku dapet WA kamu aja kaget. aku gak mikir sampe ke laptop."


" Terus kenapa kamu bermesraan sama Monik?"


" Mana ada aku bermesraan sama dia, daripada ngomong muter-muter aku cerita sekarang." Maka meluncur kata demi kata tidak ada yang dikurangi sama sekali.


Bola mata Shavara membesar dengan mulut menganga tidak percaya." Jangan frontal juga ceritanya."


" Aku gak mau kamu dengar dari orang lain."


" Tapi masa kamu sampe bilang dia remas pah* kamu?"


Bhumi mengangguk," Tapi aku marahin plis dikasih bonus pelototan dari aku."


Sontak Shavara mengibas-kibas paha Bhumi tidak rela, Bhumi mengulum senyum geli melihat reaksi Shavara yang masih memasang muka jutek.


" Kamu diam aja pasti."


" Tadi aku bilang marah, sayang."


"Tapi gak kamu tepis, sama aja kamu menikmati." omel Shavara.


Bhumi mengambil satu tangan Shavara, meletakkannya di atas pahanya, menekannya di sana.


" Di... dimana dia memegangnya?"


Bhumi menggeleng," Gak tahu. gak ngerasa apa-apa sih. mungkin di sini.., atau di sini..., atau di sini...", dibawah bimbingan tangan Bhumi, tangan Shavara diletakkan di atas paha lalu menekannya kuat-kuat dari bawah hingga atas.


Suara berat Bhumi menghipnotis Shavara bagai robot, Bhumi mendekatkan wajahnya semakin dekat hingga dua bi'bir itu bertemu semula hanya menempel saja.


Lalu secara perlahan Bhumi menggerakkan bi'birnya melum'at, satu tangan lain membelai tulang rahang Shavara.


Kepala Shavara ikut bertolak memiring mengikuti Bhumi yang kini melum'atnya semakin intens.


" Hmmhhmmhh.." lenguhan keluar saat bibir itu mengganti posisi, tangan Shavara mere'mas p*h* Bhumi.


Shavara menempelkan tubuhnya seiring tangannya merangkul leher Bhumi guna memperdalam civman itu.


Mempertemukan bagian depan mereka, menggesek di sana membuat Bhumi mengerang nikmat disela civmannya


Keduanya saling bernafsu melum'at membelit dan menghi'sap lid*h dengan bertukar saliva.


" EEEKKHHH...sshhh.. hmmhmmh..." Bhumi tidak puas, satu tangan lain membelai lembut punggung Shavara sambil melahap bibir ranum itu.


mereka menyudahi aktifitas favoritnya," Aaaaaahhh..aaahhhh....hah...hah...hah..." kening keduanya beradu dengan napas saling memburu, Bhumi membelai pipi Shavara yang merona merah.


" Nikmat mana punya aku atau dia?" Shavara menatap langsung ke netra Bhumi.


Ucapan Shavara menghentikan gerakan tangan Bhumi, ia memisahkan diri, raut wajahnya yang semula hangat kini memberengut.


" Tunjukan padaku foto-foto yang kamu maksud, karena aku sama sekali gak paham apa yang kamu bicarakan tapi aku gak suka mendengarnya." Bhumi menyalakan mesin mobil dan meninggalkan taman itu.


Shavara duduk merapat ke pintu, dia tiba-tiba takut bicara lagi.


Saat mereka tiba, rumah dalam keadaan sepi," Bi, Mama mana?" tanya Shavara ke art yang sibuk di dapur.


" Nyonya ke rumah nyonya Rianti, Non."


" Kalau begitu aku ke kamar dulu ya."

__ADS_1


" Baik, non. saya siapkan sarapan dulu, ya."


" Untuk dua orang ya." Shavara melirik Bhumi yang membuntutinya namun tidak berkata apapun.


" Iya, Non.


" Makasih, Bi."


" Kamu beneran ngikutin aku?" tanya Shavara saat mereka berdiri di depan pintu kamarnya.


" Iya, aku penasaran sama foto yang bikin kamu marah."


Shavara menghela napas diapun membiarkan Bhumi masuk ke kamarnya. mereka langsung menuju meja yang mana laptop menyala.


Setelah menaruh papperbag, Bhumi duduk di kursi sementara Shavara berdiri membuka room chat dari nomor tidak dikenal, menunjukan foto-foto kedekatan Bhumi dan Monika di ruangan bercahaya temaram.


" Kamu lihat dulu foto-foto itu, aku mau bersih-bersih."


" Kamu gak akan kemana-mana. kita lihat bareng." Bhumi mendudukan Shavara di atas pangkuannya, mengurung tubuhnya diantara kedua tangan kekar itu saat Bhumi menscrool foto menggunakan mouse.


" Pantesan kamu marah, angle-nya memang meresahkan." ucap Bhumi pada foto dimana Monika mencondongkan tubuh.


" Kalian juga bercivman." tunjuk Shavara ke foto selanjutnya.


" Fitnah, memang kami dekat, tapi bibir aku gak sentuh punya dia sama sekali. kalau kamu perhatian kepala aku lebih jauh daripada tubuh aku padanya. Civman tuh kayak gini."


Bhumi memegang dagul Shavara ke arah dirinya lalu memag'ut bi'bir ranum itu.


Shavara menumbuk lengan Bhumi, Bhumi melepaskannya dan terkekeh melihat wajah Shavara yang memerah.


" Bisa gak, gak modus."


" Bukan modus itu, cuma ngasih tahu perbedaan antara muka dekat sama civman." Bhumi menyeringai senang.


" Kamu lihat ni, muka aku mundur menghindar, jadi jangan sembarangan nebak. bibir, lidah ku cuma kamu yang boleh ngerasainnya."


" Gak perlu frontal gitu, ih ngomongnya." Shavara mencubit paha Bhumi yang terkekeh.


" Aku penasaran mana tangan yang kata kamu mere'mas." ucap Bhumi meneliti dari satu foto ke foto yang lain.


" Yang ini loh. kamu lihat kemana sih di depan kamu juga." tunjuk Shavara ke bagian tangan Monika yang di atas p*h* Bhumi.


Bhumi meletakkan tangan lentik itu ke pahanya." Paha aku emang remas-able, kurus gak, besar juga enggak, tapi cukup berotot kan. kuatlah push-up di atas kamu semalaman." bisik serak Bhumi sambil sedikit mengi-git t*linga Shavara.


Ada rasa gelenyar geli di bagian perut Shavara, ia mengigit bibir bawahnya.


Rasa itu semakin membuncah saat tangan Bhumi yang semula memegang mouse kini masuk ke dalam kaos lalu mengelus perutnya.


Bhumi mengecup lengkungan leher Shavara, Shavara menahan napas menikmati sensasi yang menyerang tubuhnya.


" Udah sering aku civm kamu di sini masih aja bikin kamu tegang."


" Kakh..."


" Aku suka suara berat kamu yang ini. bikin aku berg*irah."


" Kamu juga semalam berg*irah, aahhh.." lenguh Shavara saat Bhumi menji-lati te'linganya.


" Gak kerasa apa-apa kecuali jijik."


" Tapi kamu menikmati benda empuk dia?" tunjuk Shavara ke foto yang sedang diperbesar.


Tangan Bhumi merayap naik ke atas perut." Aku langsung menghindar, sayang. jangan pernah bandingin diri kamu sama perempuan murahan itu. hmm."


" Kakh.." Shavara menahan tangan Bhumi yang merayap naik.


" Aku gak tahu punya yang lain, tapi punya kamu kencang, pas di tangan aku, aku suka yang ini."bisiknya mengecup bahu Shavara.


" Kakh, jangannhhh..."


" Janji dulu kamu gak lagi-lagi ngambek sebelum meminta keterangan."


Shavara menggeleng gelisah akibat permainan jari Bhumi." Kakh..." tangan Shavara mencoba menjauhkan tangan Bhumi, yang tidak bergeser sedikit pun.


" Janji dulu, sayang." ucap Bhumi di telinga Shavara.


Shavara mengangguk." i..iyahh...KAKHH." Bhumi mengeluarkan tangannya dari dalam kaos.


" Aku paham kenapa kamu marah, memang sudut fotonya bikin ribut, tapi semarah apapun kita jangan mudah ragu tentang hubungan ini, sayang. aku gak suka. masalah itu diselesaikan, bukan dibiarkan melebar." Bhumi mempererat dekapannya sambil menciumi bahu Shavara.


"Maaf, tapi ngelihat yang di sana Monik, aku langsung gelap mata."


" Sayang, aku tahu dia, seharusnya kamu harus lebih yakin kalau aku gak mungkin selingkuh sama siapapun terlebih dia."


" Tubuh dia lebih sexy daripada aku." Shavara mengingat omongan Aryo.


" Kinan lebih se'xy, aku tetap gak minat. sayang, aku bukan pemuja fisik."


" Aku tahu, maaf ya."


Bhumi mengecup bahu Shavara. "Aku suka kamu cemburu, tapi jangan lewat batas. apalagi membandingkan diri. aku simpen dulu nomornya." Bhumi mengeluarkan ponselnya.


Shavara menatap curiga kekasihnya," Buat apa?"


" Aku yakin ni cewek bakal bikin rese lagi, aku simpen buat bikin perhitungan."


"Kamu ngapain ke club kalau bukan janjian sama Monik?"


Bhumi mengambil papperbag yang dia letakkan di samping laptop, lalu memberikannya pada Shavara." selain memastikan Adnan gak mabuk, juga demi ini."


Shavara membuka paperbag itu, dirinya kaget melihat isi di dalamnya. ia menoleh ke Bhumi.


" Buat kamu."


" Bercanda kamu." Shavara menutup bibirnya tidak percaya.


" Memang isinya apa?"


" Kamu belum lihat?"


" Aku merasa bersalah waktu tempo hari kamu ngambek, jadi aku pesan aja ke Elang, terserah dia mau beli apa."


Shavara mengeluarkan isinya" ini Apple digigit keluaran terbaru." saking senangnya Shavara berdiri lalu berjingkrak-jingkrak sambil memeluk kotak kecil itu.


" Pantesan tagihannya mahal."


" Aaaa..makasih, sayang. aku senang banget." Shavara menunjukan gambar kotaknya.


Alis Bhumi tertarik ke atas, " Sesenang itu?"


Shavara mengangguk cepat." Berkali-kali aku bujuk papa minta dibeliin, tapi disabotes mulu sama Mama. Papa kan gampang diprovokasi mama." keluh Shavara.


" Aaaa...aku senang banget, makasih love." Shavara membubuhi kecupan tipis di bibir Bhumi.


Bhumi tertawa lepas, namun detik kemudian berdecih," kok, gak segan ya ditraktir, biasanya ogah." sindir Bhumi beranjak duduk ke bibir ranjang, ia merasa lelah.


Shavara mendekati Bhumi, lalu duduk menyamping di pangkuannya, ia menyeringai lebar," Aku menghormati upaya kamu yang pengen nyenengin pacar. hargai dong effort aku " alibi Shavara yang disambut dengkusan malas dari bhumi.


Shavara menjawil dagu Bhumi," Gak ikhlas amat, aku aja yang dikasih ikhlas lahir bathin."


Bhumi mendekap pinggang Shavara, sedangkan Shavara membelai wajah Bhumi yang nyata terlihat lelahnya. baru Shavara sadari kalau Bhumi masih memakai pakaian kemarin.


" Kamu belum pulang? bajunya sama yang kemarin."


" Bau ya?"


" Enggak, bau Apple soalnya." Bhumi berdecak, sedangkan Shavara terkikik.


Bhumi menjauhkan wajahnya dari Shavara," pas baca pesan kamu aku baru nyampe rumah, dan langsung cabut lagi. semalaman aku di depan rumah kamu." ucapnya pelan dengan mata terpejam.


" Maaf ya, aku beneran gak suka lihat kamu sama Monik."


Bhumi mengangguk pelan, namun kemudian wajahnya menghadap Shavara, membelai dagunya ringan.


" Aku tahu masih ada sakit di sini," tunjuknya ke dada Shavara." tapi kamu juga harus meyakinkan diri kamu, dengan latar belakang kisah keluarga ku, aku gak mungkin curang di belakang kamu." Shavara mengangguk.


" Tapi aku gak tahu kalau di depan kamu." lanjut seloroh Bhumi yang membuyarkan suasana romantis mereka.


Bhumi tergelak, Shavara mendorong Bhumi hingga terlentang di kasur, menduduki tepat di perut Bhumi dengan dua kaki terbuka.

__ADS_1


" Berani kamu bertingkah di depan aku?" ucap Shavara gemas.


" Kamu kan traumanya di belakang, berarti gak apa-apa dong di depan."


" Issh, bukan gitu konsepnya, ganteng. coba aja kalau berani, aku bejek-bejek kamu."


" Berani, ni aku telpon nomor yang tadi." Bhumi mencari lalu menelpon nomor si pengirim foto bahkan dia me-loudspeaknya, Shavara melototinya.


Bhumi mencubit kecil pipi Shavara karena gemas.


" hallo." suara serak khas bangun tidur menyapa.


Bhumi menaruh telunjuk di depan bibirnya agar Shavara yang hendak bicara untuk diam.


" Hallo, ini Dewa. kamu Monika?"


Ada jeda untuk sesaat, berikutnya terdengar suara berisik dari seberang.


" Dewa?" suara menjadi bersemangat.


" Yang semalam kamu gerayangi." Bhumi menahan senyum geli melihat Shavara berwajah garang.


" Ooohh, kamu. dapet darimana nomor aku? gercep juga kamu." terdengar suara bersemangat di sana.


" Ada lah. aaaakkhhhh." pekik Bhumi kaget saat Shavara menyerang dirinya dengan mengi'git lehernya.


" Mas, kenapa? aku belum ngapa-ngapain kamu lho." ada tawa garing menyertai ucapan itu.


Shavara selain mengigit, juga mencivmi serta menghi-sap leh*r itu." Aahhh...sayang..."


" Mas, kita jangan begitu, nanti ada yang salah paham. aaahhh.. sshhh..aaahhh..."


Shavara menghentikan kegiatannya, ia mengernyit menatap Bhumi yang juga menatapnya bingung.


" Dia kenapa?" tanya Shavara tanpa suara.


Bhumi mengedikan bahu," halu kali." Bhumi pun menjawab tanpa suara.


Shavara bergerak memperbaiki posisinya yang tanpa sengaja menyentuh vital bagus bawah Bhumi.


" Shhhh...ahhh... sayang..." Bhumi mengusap betis Shavara.


Shavara terkikik," maaf." masih tanpa suara.


" Mas, kamu sama siapa?"


" Aaahhh... seseorang....shhh..aaahh..sayang." panggil Bhumi menggeretakan rahang saat Shavara bergerak semakin menjadi.


Klik....


Bhumi memutus sambungan, ia menggulingkan Shavara yang terbahak-bahak menjadi terlentang.


" Berani nakal ya sekarang."


" Maaf, maaf. habis aku gak tahan ngegodain dia."


" Jangan diulangi lagi, lain kali aku belum tentu bisa tahan, cantik."


Shavara mengangguk, " Iya. kamu mau anter aku bikin kartu telpon gak?"


" Dengan senang hati." Bhumi menyingkir dari tubuh Shavara, berbaring di sampingnya.


Shavara terduduk, " Mandi gih, bau."


Bhumi mendelik, " Bau Apple-nya udah habis ya." sindirnya.


Shavara terkikik, ia berdiri, menarik tangan Bhumi untuk ikut berdiri.


" Bukan begitu. tapi hari ini kita sibuk, aku ada kuliah jam dua nanti, terus kita harus ambil baju segala.... astaga...kamu gak ke sekolah?" pekik Shavara tersadarkan diri akan sesuatu.


Bhumi menyentil kening kekasihnya." Telat buat engeh."


" Ih, kamu jangan dibiasain bolos."


" Gara-gara siapa bikin panik." Bhumi berjalan ke pintu.


" Aku ke kamar Wisnu dulu ya, mau mandi di sana sekalian pinjem bajunya."


Tring...


Bunyi pesan masuk, Shavara menuju mejanya. ia membuka pesan yang masuk, memutarnya dan menatap Bhumi dengan mulut terbuka.


" Ada apa?" Bhumi batal pergi, ia malah berjalan ke meja lalu memutar rekaman suara percakapannya di telpon tadi, Bhumi menatap Shavara dengan raut geli.


tring...


" Pacar mu ada sama aku, jangan ganggu kami, boleh kan aku mencicipi dia duluan seperti mas Aryo dulu. btw, dia ganas di atas ranjang!!." bunyi pesan lain yang masuk kemudian.


" fix, sih. dia sint*ng, masih perjaka gini." sungut Bhumi dengan raut jijik, sedangkan Shavara terbahak-bahak sampai memegang perutnya.


" Lucu, sayang...lucu..calon suami kamu lagi dimesumin itu, kok senang sih." Bhumi ngedumel sambil berjalan keluar kamar dengan Shavara yang masih menertawai dirinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Monika tersenyum smirk, setelah mengirim dua pesan yang satu berisi rekaman suara obrolan yang sudah dia edit, dan satunya berupa pesan yang pastinya berhasil memancing amarah pada mantan sahabatnya itu.


Setelah diedit, potong sana-sini obrolan yang bisa bikin salah paham pasangan langsung dia kirim ke Shavara.


Monika memijit kepalanya yang pening, dia semalam mabuk berat demi menghalau rasa malu karena tercyduk Wisnu.


Namun pagi ini setelah mendapat telpon dari Dewa, moodnya berubah naik, dia siap menjalani hari ini.


" Dewa, kamu ditangan ku. sorry, Vara. untuk kedua kalinya lo akan gagal nikah. gimana dong kalau laki-laki lo yang ini juga bisa gue gaet. selamat bermuram durja kembali, Vara." gumam Monika dengan senyum culas-nya.


Ia melihat ke jam kecil yang ada di atas nakasnya, jam menunjukan pukul 09:30 wib.


" Mas Aryo, kemana sih? telpon dan pesan aku gak ada satupun yang dibalas." gerutu Monika turun dari ranjang dengan ponsel di telinganya menelpon Aryo, sejak kemarin Aryo tidak ada menghubunginya.


❤️❤️❤️❤️


Di sebuah kamar di lantai dua, Aryo duduk santai di sofa hanya menatap ponselnya dengan tidak berminat yang tidak berhenti bergetar, telpon dari kekasihnya dia enggan menjawab, matanya lebih tertarik memandangi wanita yang masih bergelut dalam mimpi di atas ranjang besar itu.


Kinan terbangun, ia berkeliling memperhatikan suasana kamar yang pasti bukan kamarnya.


" Siapa Lo?" kinan memegang selimut saat merubah untuk duduk karena di balik selimut itu tubuhnya polos tanpa kain.


" Gue..."


" Aaahh..gue tahu. Lo laki-laki yang ditolak sama si Shavara di kampus itu." terka Kinan.


" Lo kenal Vara?"


" Siapa Vara?"


" Shavara, Lo kenal dia?"


" Dia perebut laki gue, gue benci dia." ucap Kinan sengit.


" Gue mantan tunangannya yang sedang berusaha balikan sama dia."


Kinan terperangah," Lo, didik mantan Lo untuk gak godain laki gue." hardik Kinan.


" Laki Lo yang sok jagoan itu harus jauhi Vara gue." balas Aryo tidak kalah sewot.


" Atau kita bisa bekerja sama buat mereka pisah." cetus Kinan.


"Caranya?"


" Jebak mantan Lo buat tidur sama Lo, gue yakin Dewa gue akan langsung mutusin dia."


" Ogah, Lo aja yang jebak laki Lo buat nidurin Lo."


" Penge'cut Lo."


" Gue gak takut sama Nasution, tapi mereka punya bekingan kuat, mereka dekat dengan Hartadraja, yang pastinya dekat dengan RaHasiYa ( baca Terikat Mumtaz). gue masih waras untuk gak berurusan sama mereka." tolak Aryo.


Kinan terkejut bukan main, benarkah keluarga saingannya itu sepenting itu?.


" Jadi harus gue yang jebak Dewa? hmmm..." Kinan tersenyum mesum membayangkan kebersamaannya dengan lelaki idamannya di atas kasur....

__ADS_1


di post 27,mei,2023. lama ya review-nya. kalau yang ini ditolak untuk yang ke sekian kalinya..gak tahu musti gimana lagi...😭


__ADS_2