Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
47. Reuni.


__ADS_3

" Kak, maaf ya lama." ucap Shavara dari ambang pintu antar ruangan.


Bhumi menganga takjub melihat penampilan cetar kekasihnya dengan rambut kuncir kuda dihiasi poni ala korea. namun bibirnya berubah merengut saat dia menyadari off shoulder dress hitam kombinasi abu-abu memperlihatkan bahu mulus gadisnya itu.


" Shava, kamu cantik banget tapi apa harus make baju itu?" Bhumi tidak menutupi keberatan dalam suara juteknya.


" Kenapa? ini gaun yang kamu beli tadi lho." balas Shavara heran.


" Kok gitu bajunya?"


"kenapa nanya aku, kamu yang milih." jawab Shavara heran sendiri.


Bhumi merutuk tidak percaya telah memberi gadisnya pakaian yang bisa memperlihatkan bagian tubuhnya yang putih halus.


"Sudah-sudah gak perlu berantem, Bhum, mau langsung pergi atau Vara ganti baju, dengan resiko kalian terlambat." tawar Fena.


"Ganti baju, Tan. gak datang ke reuni juga gak apa-apa daripada bahu Vara kelihatan orang lain."


" Konyol banget kamu, udah kalian pergi sana. kamu mau rencana kamu gagal." omel Fena.


" Iya, ya. ya sudah kepaksa banget ini saya setuju ide Tante."


" Rencana apa?" tanya Shavara.


" Pamerin kamu ke teman-temannya. udah sana pergi keburu malem."


" Adit mana, Ma?" tanya Shavara


" Keluar tadi dapet telpon dari temannya." ujung mata Fena melirik Bhumi untuk memastikan calon am tuanya ini tidak tahu kondisi Biyan.


" Yuk, Shava kita berangkat sekarang." Bhumi mengulurkan tangan yang langsung digapai Shavara.


" Ma, Pa, A. Vara pergi dulu." keduanya mencium tangan Fena dan Anggara.


" Hati-hati."


Bhumi menyalakan mesin mobil namun tidak langsung jalan, ia menoleh menatap Shavara yang duduk di sampingnya.


" Kamu cantik banget, kamu harus banget pake baju itu?" tangan Bhumi terulur menyentuh bahu Shavara yang terbuka.


Shavara menghela napas berat, " ini baju pilihan kamu lho, kak."


" Ck, aku asal ambil aja supaya gak kelihatan banget kita pake ruangan itu, aku kan terlalu sibuk fokus ke kamu, jadi gak lihat modelnya gimana." ucap Bhumi kesal sendiri.


" Ini lagi, kenapa juga harus dikuncir, kan leher kamu kelihatan banget." telunjuk Bhumi menyusur pelan leher pacarnya yang mengirim sengatan listrik ke tubuh Shavara.


Tatapan sayu Bhumi yang memperhatikan leher jenjang mulus itu membuat Shavara khawatir.


Matanya beralih ke bibir berlipstik merah menggoda," Kenapa pake warna merah?" telunjuk dan jari tengah memainkan bibir bawah Shavara.


"Kak, kita bakal terlambat ini." ucap Shavara serak.


" Gak apa-apa, aku belum bisa ikhlasin kamu dilihat sama lelaki lain." ucap Bhumi bersuara berat.


Matanya masih tertuju pada bibir menggoda tersebut, Bhumi mendekat tangannya terulur ke belakang kursi.


"Kak,..." panggil Shavara tercekat menahan napas.


Wajah Bhumi tepat di dekatnya hampir tanpa jarak, sedikit bergerak menempellah dua bibir itu.


" Seth belt." bisik Bhumi, ujung bibirnya menyentuh bibir Shavara saat berucap.


" Terlalu dekat." Shavara berkat tanpa menggerakkan bibirnya.


Cup...


Bhumi mengecup Shavara, hanya menempel saja.


" Kak, lipstiknya rusak."


" Cuma nempel."


Cup...


" Hmmh.." bibir Bhumi bergerak berirama. melu-mat, matanya setengah memejam dengan tangan naik menahan tengkuk Shavara.


" Hmmh.." Shavara membalas dan Bhumi segera menyusupkan lidahnya bergerak lincah seiring saling mema-gut intens.


" Eeeeehhhmmmhh..." Shavara meremas bagian depan kemeja Bhumi.


"Aahhh....shayanghhh..aaahhh." Bhumi menghisap, menyedot kuat silih berganti bibir atas dan bawah Shavara.


" Sayanghh...hah..hah..." kening mereka beradu dengan napas memburu.


Bhumi menjauh, Shavara mengambil tissue lalu mengelap bibir Bhumi," lipstik aku rusak, pindah semua ke kamu kayaknya."


Bhumi tersenyum, jangan pake warna merah, aku gak tahan."


Bhumi menjatuhkan kepalanya di bahu Shavara, mengecup bahu terbuka itu," aku gak rela kamu dilihat yang lain, sayang." erang Bhumi menelusupkan kepalanya ke ceruk leher Shavara, menghisap wanginya.


" Aku gak ikut aja kali ya." Shavara mengambil telunjuk Bhumi yang bermain abstrak di lehernya.


Bhumi menjauh, ia menggenggam tangan lentik itu, membawa ke pahanya dan meremasnya di sana.


" Oke, kita berangkat." Bhumi melajukan mobilnya sebelum urusan gaun menjadi runyam dan semua rencana yang sudah dia susun berantakan.


Shavara terkikik, Bhumi meliriknya seraya mencubit kecil punggung tangan kekasihnya." sakit, kak."

__ADS_1


" Seneng banget bikin aku senewen."


" Lepas, akuau perbaiki lipstik aku."


" Jangan, warna cukup segini aja."


" Ck tapi beluber kemana-mana."


Dengan berat hati Bhumi melepas tangan tersebut, namun tangannya berpindah ke atas paha Shavara.


¥¥¥¥¥¥¥¥


" Sayang, tunggu sebentar." Bhumi menahan tangan Shavara yang menunduk hendak memegang tuas pintu mobil.


Shavara menoleh," kenapa?"


" Bentar." Bhumi membuka jas hitamnya lalu menyampirkannya ke tubuh Shavara.


" Kak, gaun aku jadi gak kelihatan." ucap Shavara setengah merengek.


" Kamu masih cantik tanpa gaun itu juga."


" Apa sih omongannya absurd gitu. ini kakak jatohnya g semua formal kalu cuma pake kemeja doang." Shavara mengepak-kepak bagian depan kemeja abu-abu tersebut.


"Aku ada dasi di tas." tangan Bhumi merogoh ke ransel kerjanya di bangku belakang.


" Cukup dengan dasi semuanya terjawab, taaadaaa...." Bhumi memasang dasi berwarna hitam tersebut.


Shavara bersedekap dada," Ck, mau tebar pesona ya? kok kelihatan lebih ganteng sih."


Bhumi terkekeh, " ya Giman mau gomanain juga aku memang kelihatan ganteng, cinta." Bhumi mengecup bibir Shavara sebelum membuka pintu mobil.


" Haddehhh, harus aja modusnya."


Tangan Bhumi tidak lepas dari pinggang Shavara sejak memasuki ballroom hotel tempat reuni diselenggarakan.


" Well,..well...most wanted SMA Garuda Muda akhirnya datang juga setelah sekian purnama, sekian reuni selalu abstain." sindir Adnan lantang menghampiri Bhumi dan Shavara yang memasuki ruangan yang menarik perhatian yang hadir.


" Ck, masih Lo haus perhatian." decak Bhumi bersalaman ala pria diantara mereka.


" Wajib itu mah, mamen."


" Hai, Vara. cantik bener. kalau udah bosen sama Bhumi, kamu tahu nomor aku, cantik." Adnan mengedipkan satu matanya.


" Enggak tahu tuh, situ debt colector yang nomornya harus aku save." jawab Shavara lemes.


" Mulutnya,..."


" Udah, Nan. ngalah sama kakak ipar."


" eh, cacing. gue lebih tua dari Lo ya." sewot Adnan.


"Tetap aja gue duluan yang menghirup oksigen bumi ketimbang Lo."


" Woy, Wa. jangan ladeni Adnan, sini lo udah jadi apa Lo sombong amat gak pernah hadir reuni." teriak temannya yang dari kelompok para pria.


" Sayang, kita ke sana yuk." Bhumi menarik pinggang Shavara bergegas menuju sekelompok pria gagah itu.


"Sayang,..hueks..." ucap Adnan merasakan orang muntah.


" Iri, tanda payah, teman." ejek Bhumi menyeringai culas.


" Kenapa gue bisa temanan sama dia?"


" Karena dia jago mate, fisika dan kimia, sedangkan lo enggak. jadi Lo butuh contekan dia." seru pria berambut cepak yang bernama Toyo, lalu ngeloyor menghampiri Bhumi.


" Hai, Wa." sapa Toyo.


Bhumi menoleh, " Woy, sob." mereka bertos ala lelaki.


" Sayang, kenalin, yang ini teman aku, mereka bukan, jadi kalau ketemu mereka di jalan cuekin aja." tunjuk Bhumi pada tema lelaki yang tadi diperkenalkan pada Shavara.


" Gitu amat, Wa. kita best friend, Wa." timpal Darren, dia lelaki yang berpenampilan necis bak cassanova.


" Toyo." Toyo mengulurkan tangan, namun Bhumi yang menjabatnya setelah menahan tangan Shavara.


" Shavara." balas Shavara kikuk.


"Calon istri, gue." tambah Bhumi.


"Langsung diulti, Gak tuh." sindir luas jemgah.


" Ck, gak amu rugi amat Lo, Wa."


" Mending Lo dijabat dia, tadi tangan gue langsung digeplak sama dia." kilah lelaki bernama Eross.


" Gak ada ya, kalian nyentuh dia."


" Paling pendamping sewaan, seumur-umur kita sekolah, Lo gak pernah bawa cewek." sontak lelaki lain.


" Gue gak semenyedihkan Toyo, ya."


" HAHAHHAHAHA.." Semuanya tergelak mengingat reuni terakhir dimana Toyo menyewa perempuan untuk dijadikan teman undangan yang di bongkar perempuan tersebut saat mabok karena mabuk akibat menenggak koktail yangs udah dicampur minuman keras oleh orang jahil.


" Tahu Lo, Wa. perasaan Lo gak Dateng." ucap Lukas, lelaki blasteran.


" Adnan."

__ADS_1


" Ck, emang ya tu satu laki mulutnya lebih bocor ketimbang ibu-ibu yang ngutang ke tukang sayur keliling, tapi gak bayar-bayar." dumel Toyo.


" Dewa..." tiga wanita berpakaian sexy dengan belahan dada rendah menghampiri gerombolan tersebut.


Bhumi menoleh," Kan, gue bilang apa, itu Dewa." omel Jesika, si paling sexy.


" Sayang, kenalin, ini Jesika, Nina, Rani. Mereka teman sekelas aku SMA dulu."


" Jess, Na, Tan. kenalin Shavara, calon istri gue."


" APA? boong Lo " kaget Nina."


" Daebak, si paling ngumpet udah punya cewek." sahut Nina.


"Gitu dong, Wa. pacaran, jangan kencan sama rumus mulu." ledek Jesika.


" Dia gak pernah punya pacar, beda sama lelaki yang lain kayak mereka." lirik Nina pada para lelaki yang dibalas decakan dan dengkusan dari para tersangka.


Shavara mengernyitkan dahi seraya mengejek Bhumi," Belum pernah pacaran, boong banget." bisik Shavara dengan nada meledek.


Bhumi terkekeh seraya mengusap meremas kecil pinggang langsing Shavara.


" Jadi kalau rada kaku, harap dimalkum ya."


" Ran, bahasa Lo ambigu banget, apanya yang kaku?" tanya Lukas usil.


"Gerakannya, pak Lukas."


" Gerakan apa, Bu Rani? aku masih kecil, aku bingung." timpal Darren dengan suara bak anak kecil.


"Gerakan yang mentransmigrasikan satu Saliva ke tempat yang lain. puas Lo."


" Gak paham aku, gerakan apa itu?" lanjut Toyo.


" Gerakan awal masa penambahan populasi penghuni bumi, atau gerak yang bikin kalian langsung buka kamar." tukas Jesika.


' Hahahhaha.." tawa mereka puas.


" Mereka gak tahu apa-apa soal kamu, kak. andai mereka tahu udah sepro apa permulaan kamu itu." bisik Shavara geli.


" Mereka gak akan tahu, cukup kamu yang tahu dan paham, sayang."


" Dewa..." panggil ceria Kinan yang berlari kecil kearahny dan langsung menempel manja di lengan Bhumi.


Shavara bergeming di tempat saat Kinan menarik Bhumi menjauh darinya yang segera Bhumi hentakan pegangan tangan itu, lalu menarik Shavara berdiri di sampingnya.


Kinan tidak jera, dia memposisikan tubuhnya menempel ke Bhumi, Bhumi tanpa kentara menggeser menjauh.


"Kinan, Lo Kinan kan? cewek centil yang suka nyariin Dewa" tanya Jesika.


" Iya, ini gue."


" Ngapain Lo kemari, kelas lo di sana." tunjuk Nina ke arah kelompok pria yang heboh buat nanti acara.


" Ck, rese Lo. salah gue nyamperin mantan?"


" Hah? Mantan?" kaget mereka semua.


" Kapan?"


" Dimana?"


"Bohong."


"Ngibul."Ucap silih berganti diantara mereka.


" Kalau gak percaya tanya aja sama Dewa." seru Kinan jumawa.


Pasalnya saat di SMA bersama Adnan, Erlangga, Darren, dan Lukas. mereka dikenal dengan ketampanannya.


Bedanya, cuma Bhumi yang tidak memanfaatkan ketampanannya untuk menggaet wanita.


Banyak wanita ditolak Bhumi dari yang penolakan halus sampai kasar.


" Beneran, Wa?" tanya Jesika yang mendapat atensi yang lain.


" Iya, cuma enam bulan doang." aku Bhumi santai.


Tangan Bhumi mengusap lembut punggung Shavara yang sudah cemberut.


"Kok, bisa? Lo gak khilaf, kan Wa?" Nina belum bisa percaya selera Bhumi yang centil kebangetan ini.


" Dia nembak, gue terima. terus dia selingkuh, ya,...kita putus." jawab Bhumi enteng.


Sedangkan wajah Kinan sudah memerah tengsin.


"Anjrit, seriusan Lo diselingkuhin?" tanya Nina.


"Spek pangeran berkuda putih kayak Lo diselingkuhin? sakit sih ceweknya." ejek Rani menatap langsung Kinan.


" Wa, kamu gak harus sejauh itu." geram Kinan.


" Stop ngeribetin hidup, gue Ki."


" Guys, gue ambil makan dulu."


Bhumi menarik lembut tangan Shavara yang dalam genggamannya.

__ADS_1


" Dewaaa,...aku cinta kamu, aku mau kita balikan lagi!" teriak Kinan, isi ruangan langsung hening karena suara cempreng Kinan.


Bhumi berbalik, menatap Kinan yang sudah berurai airmata, semua perkataan penolakan yang diujung lidah tertelan kembali sebab buliran bening tersebut...


__ADS_2