
" Teh, tumbenan kamu jadi cepu begini?" tanya Fena sedikit aneh.
Shavara mengedikan bahu," Cuma cari jalan pintas. Kalau ada jalan mudah, ngapain dipersulit." imbuh Shavara santai.
Fena mentik Shavara ke dalam pelukannya," Mama senang kamu begini, kamu punya Mama jagoan, manfaatkan ya."
" Astaga Mama, di mana-mana ibu tu larang anaknya berantem ini lah dipancing." sewot Aditya yang sedang makan sekuteng di warung puncak pas.
" Ck, ngapain hidup membosankan kalau ada yang lebih seru." sahut Fena di tengah menerima suapan sekuteng dari suaminya.
" Mama Lo emang lain, Wis." celetuk Adnan.
" Mak gue."
" Dan itu berlaku untuk kamu, Ana." ucapan Fena menghentikan gerakan Berliana yang menikmati mie instannya.
" Aa...apa maksud, Tante?" matanya melirik Wisnu yang mencoba khusu dengan bubur kacang hijaunya.
" Jangan kibulin Tante. Tante tahu anak sulung Tante naksir kamu. mata dia kalau bukan buatan Allah udah copot dari tempatnya itu sedari villa gak berhenti curi pandang kamu, mana sikap so coolnya itu nyebelin abis." cibir Fena yang mengundang tawa puas dari Adnan.
" Kalau Wisnu gak gantle ngakuin kamu sebagai pacarnya, Tante punya banyak teman yang anaknya gak kalah berdamage dari Wisnu. perempuan itu harus dikasih status jelas baru dicivm."
" Uhuk...uhuk...ya tuhan..Ma...kenapa gak sekalian aja bilang grepean." kesal Wisnu akan perkataan frontal ibunya yang bocor itu.
" Kamu udah sentuh dia sampe mana, A?" Fena berdiri bertolak pinggang.
" bukan itu pointnya, Ma."
" Kamu harus nikahi dia."
" Ma, Aa bakal nikah kalau sudah waktunya."
" Cih, Cemen, grepean bisa, ijab Qabul gak mampu. Pa, anak kamu tuh."
" Kan kamu yang lebih banyak ngasuh dia, Ma." Sindir Anggara.
" Terus sikap pengecut dia siapa yang ngajarin? Mama gak gitu ya, Papa aja Mama todong buat nikahi Mama."
" Papa nikahi Mama bukan karena todongan mama, tapi emang papa ngebet, Ma." sanggah Anggara.
Dia tidak Sudi istrinya digambarkan menjadi sosok genit hanya karena sikap tidak sabaran Fena yang terlebih dahulu mengucap memintanya dinikahi. Sejak awal berhubungan Anggara memang ingin memperistrinya setelah sekian lama mengejar mengejar dengan modus bala bantuan tugas kuliah. Baginya perempuan itu harus diminta bukan meminta.
" Ma..bukan begitu..."
" Wis, Lo yakin mau adu omong sama emak-emak, makhluk penguasa alam?" bisik Adnan.
Wisnu melirik Mamanya yang on-fire untuk berdebat mengurungkan diri membalas ucapan ibunya. Ia hanya mampu menghela napas kasar. Anggara dan yang lain memandang Wisnu prihatin.
" Mama menang, aku kalah, iya aku salah." ucap Wisnu murung yang mendapat beberapa kekehan dari yang lain.
Sementara dia ruang rawat Arleta, Deby duduk berhadapan dengan Arleta.
" Apa yang terjadi sama kamu sampai kamu rela dihina begitu oleh guru kamu?"
" Untuk apa Mama tahu, aku sudah lupa kapan terakhir Mama peduli padaku." sinis Arleta.
" Leta, tolong kerjasamanya. Papa Jagar ingin bercerai, kita akan hidup hanya berdua, kita harus saling memahami, Leta."
" Kalau begitu pertemukan aku dengan Papa kandung ku."
__ADS_1
" Gak bisa."
" Kenapa? Dia tidak mau mengakui ku juga?"
" Dia sudah meninggal."
" Bohong, Mama bohong. Papa tadi bilang akan mengatakan pada papa kandung ku kalau mama tidak bisa mengurus ku."
Deby memijit pelipisnya," Dia tidak ada di Indonesia."
" Di mana?"
" Amerika."
" Nama?"
" Leta, stop. dia tidak akan mau mengurus mu."
" Kenapa?"
" Karena Mama sudah mendapat bayaran darinya."
Mata Arleta membesar mulutnya terbuka kaget." Mama menjual diri?"
" Jaga omongan mu."
" Kalau begitu jelaskan."
" Dia pengusaha dari Amerika. Dia ingin perusahaan papa kamu, mama bantu dengan mencuri berkas rahasia perusahaan dengan imbalan setengah saham perusahaan jadi milik Mama sementara saham Papa hanya 15% saja."
" Pap tetap bersama mama karena Papa tidak mau kehilangan saham itu?"
" Aku gak ngerti."
" Perusahaan yang sekarang papa pimpin adlah hasil rintisannya sendiri, sementara target pengusaha Amerika itu perusahaan Kakek kamu yang sahamnya dibagi rata pada kedua paman dan bibi kamu."
" Kenapa papa sekarang berani melawan Mama?" karena Papa dan pada saudaranya sudah menjual sahamnya pada Atma Madina ditambah milik pengusaha itu dengan barter saham dari perusahaan Navarro dan koleganya yang berada di Amerika yang berhasil mereka ambil alih.
Meski mama memiliki saham 45%, Mama tidak bisa berbuat apapun. Ini Atma Madina. Bara Atma Madina pengusaha yang tida punya hati pada pengkhianat."
" Sekarang giliran kamu bercerita."
" aku pernah nyoba bunvh diri di jembatan saat tahu papa Jagar bukan papa kandungku. Saat itulah pak Dewa menyelamatkan aku. Saat papa dan Mama sibuk dengan kegiatan masing-masing, pak Dewa yang menemaniku sampai akhirnya aku jatuh cinta padanya."
" Sejak kapan kamu tahu kalau papa Jagar bukan ayah kandung mu."
" Aku tahu dari mulut Papa sendiri. Aku maksa Papa minta ditemani saat weekend ke Dufan, Papa menolak tapi aku terus memaksa sampai akhirnya papa marah dan menyebutku anak haram." ada airmata yang jatuh dari matanya
Rasa pedih itu ada, rasa kecewa itu masih nyata. seperti anak gadis lain, baginya Jagar adalah cinta pertamanya.
" Bohong, Papa tidak mungkin mengatakan hal itu. Memang dia cuek padamu tapi dia bukan orang jahat."
" Tapi itu kenyataan, Ma."
" Bayangkan oleh Mama aku dikecewakan oleh orang yang sangat aku hormati, aku patah arang, Papa tidak lagi segan menjadikan aku orang asing. Aku mengharap pelukan Mama tapi mama sibuk dengan diri mama sendiri.
Aku kesepian, suatu Heri ada dorongan dalam diriku untuk terjun ke sungai, tapi itu dibatalkan karena pak Dewa menarik ku lalu ia memeluk ku dengan kata-kata menenangkannya. Sejak itulah ku jadikan pak Dewa pahlawanku menggeser posisi Papa." mata Arleta menerawang ke masa lalu, ada kerinduan untuk kembali ke masa itu.
" Masa-masa itu adalah masa terindahku, aku punya tempat mengadu, aku..seperti punya rumah untuk kembali. Lantas makin lama aku makin serakah, aku ingin pak Dewa menjadi bagian hidupku, tapi dia menolak ku, Ma. sudah segal cara aku lakukan, tapi beliau semakin menjauh bahkan membenciku.
__ADS_1
" Kamu hanya mengidolakannya, kamu masih di usia labil."
Sontak mata atlet menajam menatap Deby," Ini bukan kegilaan sesaat, Ma. aku memang masih muda tapi perasaanku nyata, perasaan ku tulus. terbukti perasaan ini masih bertahan hingga kini." teriak Arleta.
Ia jemu dan marah kalau apa yang dia rasakan selalu dikatakan hanya untuk sesaat. Dewa berjuta kali mengatakan itu, dan berjuta kali hatinya sakit mendengarnya.
" Lantas kenapa kau menjual diri, demi tuhan Arleta, kau menjual diri."
" Aku tidak menjual diri, penolakan pak Dewa yang membuatku mencari kehangatan perhatian dan kasih sayang ke peria lain, dan itu aku dapatkan. Memang imbalannya adlah aku harus tidur dengan mereka, tapi itu lebih baik daripada aku merasa sendirian dan kosong, Ma.
Mereka memberi apa yang aku ingin kan, aku memberi apa yang mereka inginkan, itu adil."
Deby terhenyak, ia terkejut menatap Arleta yang seperti melihat bukan putrinya.
" Kamu tidak butuh kekayaan dari orang lain, papa dan mama bisa memberikannya."
Sinar mata atlet meredup, ia mengelap napas kecewa," Kau melewatkan point' pentingnya, aku mendapatkan kasih sayang, fasilitas nyaman hanya bonus."
' Itu semu, Leta."
" Lebih baik, kau bahkan tidak memberikan itu sama sekali padaku."
" Mama peduli padamu. siapa yang datang ke sekolah dan membereskan masalah yang aku buat, Mama dan papa. Kemana para hidung belang mu itu?"
" Menungguku di apartemen, memelukku, menenangkan ku bahwa semua akan baik-baik saja." sahut Arleta yakin, dengan berani dia tatap Deby.
" Ma, aku hidup dengan sugar Daddy, dan itu bukan hal yang tabu lagi. Banyak orang melakukannya." Arleta mengatakan hal itu dengan mimik santai tanpa beban.
" Leta, sejauh apa pergaulan bebas mu itu?"
Arleta mengedikan bahu," keberadaan sugar Daddy membuatku tidak lagi mengharap perhatian dari Mama dan Papa."
Jleb...
Sakit, jantung Deby terasa ditusuk." Kita perbaiki, ya."
" Gak mau, Mama berjanji untuk menjadi ibu yang baik untukku kalao Papa marah karena aku ganggu, tapi berulangkali Mama mengingkarinya."
" Ini demi masa depan mu?"
" Banyak orang yang memilih hidup sepertiku dan dia hidup nyaman dan sejahtera."
" Kamu akan dicap buruk, Leta."
Arleta mencibir sambil mengedikkan bahu," resiko."
Lama tidak da yang bicara, merek hanya saling menilai.
" Pantas pak Dewa-mu menolak mu, kamu memang sulit untuk diberitahu."
tangan Arleta mengepal, tubuhnya menegang," aku bisa mendapatkannya kembali. Pak Dewa hanya untuk ku."
" Jangan bodoh, dia sekarang menjadi menantu Nasution. Meski pak Angga terkesan baik, dia pengusaha, selalu ada sisi menghabisi dalam dirinya jika keluarganya diusik. Kau hanya kan kehilangan para sugar Daddy mu. intinya berkaca lah pada apa yang terjadi pada Mas mu."
" Tapi aku tidak mau kehilangan pak Dewa."
Deby yang sudah sadar bahwa putrinya sudah tidak bisa dinasehati berdiri hendak pergi, dia mulai jenuh di sini.
" Kau sudah merasa besar, mama angkat tangan. Hilangkan pikiran itu, dengan nikmati saja kehidupan mu yang sekarang. tapi ingat, tabur tuai berlaku sepanjang hidup." tukasnya yang lalau meninggalkan Arleta yang termenung.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️