Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
96. Tanggung Jawab.


__ADS_3

Gegap gempita malam tahun Baru masih dinikmati sukaria oleh penghuni villa dengan sikap random masing-masing bahkan sampai pukul tiga dinihari kaula muda masih segar bugar.


" A, tidur yuk." Shavara menggoyang-goyang lemah lengan Bhumi.


" Tidur duluan aja, dek. Kami masih mau ngobrol. Pinjem dulu suaminya sebentar boleh kan?" Wisnu melirik jemu Shavara.


" Beneran, aku sih silakan yang rese gak mau pisah sedari tadi kan Aa Bhumi, bukan aku." jawab jumawa Shavara.


" Iya sih yg lagi dibucinin abis sama pasangannya. Gak perlu pamer, puas!" sewot Mira yang memang sejak tadi selalu kebakaran jenggot akan aksi panas Bhumi yang seenak dewek main nyosor Shavara tanpa peduli tempat.


" Iri tanda tak mampu bestie. Kacian deh Lo tuanngan sih punya tapi gak bisa mesra-mesraan... HAHAHHAHAHAHAHA." Shavara langsung ngibrit lari ke kamar lalu menguncinya saat sadar Mira dan Berliana menyerangnya.


" Jelas nikah sama Lo, adik gue lebih bahagia, Dia lebih lepas dan terbuka. thank ya." seru Wisnu.


" Gue yang makasih kalian udah izinin gue nikahi perempuan yang menakjubkan itu. dengan segala aib yang terjadi kalau orang lain pasti udah bertingkah sombong, tapi dia dan kalian tetap saja bikin gue merasa berharga."


" Pastiin aja Lo gak lemah, kayaknya lebih Lo yang satu tu lebih bebal ketimbang Kinan." ujar Erlangga.


" Enggaklah, tapi dia memang lebih parah dari Kinan...keduanya juga memang gak guna kok di kehidupan gue."


" Gue masih gak nyangka aja Lo yang pertama nikah diantara kita, padahal Lo yang paling cupu pengalaman soal perempuan." ucap Adnan.


Bhumi terkekeh," banyak pengalaman belum tentu siap nikah, bro. Lo misalnya." sindirnya santai.


" T4i Lo. Bisa belagu Lo sekarang."


" Jelassss, kebanggaan hakiki pria adalah mengambil tanggung jawab dan meratukan anak gadis orang."


❤️❤️❤️❤️


" pleaseeee... berhenti..aku sakit.... istirahat sebentar...Om..." rintih Siena tergeletak lemah dengan darah air mata yang tidak pernah berhenti sejak kedatangannya di mansion besar ini, ia merintih di bawah tubuh Deka yang masih terus menggagahinya untuk kesekian kalinya.


" Gak bisa, malam ini kamu milik saya, saya udah bayar untuk hal sia-sia kalau saya berhenti." Deka menggigit bibir bawahnya karena nikmat, ia pacu lebih kencang saat hendak mencapai puncaknya.


Dua erangan buas dari dua insan yang berpeluh dengan makna yang berbeda mengakhiri aksi panas ini, satu mengerang puas tapi satunya berteriak kesakitan.


Malam ini benar-benar malam yang durja bagi Siena. dia diperkos4 tanpa henti, matanya melirik ke jam dinding kamar,' pukul lima.' bathinnya.


Dia tidak sabar menunggu pukul delapan, batas perjanjian mereka, dan itu bagai seabad.


Deka beranjak turun dari ranjang, mengenakan bathrobe-nya lalu mengangkat telpon pelayanan rumahnya.


" Angkat dia dari sini."


Siena sontak menatap Deka yang menelpon sambil menyalakan cerutu terbaik dunia dia tangannya.


" Tuan, bukankah massa ku sampai pagi nanti."


" Aku udah bosan dengan mu, punya mu bengkak dan longgar sudah tidak nikmat lagi."sahutnya santai terkesan mencemooh tanpa beban.


" Siapapun akan bengkak, tuan. kau memakai aku semalaman."


" Tidak, punya ku yang lain tahan lebih lama."


Tok..tok....


" Masuk...."


Dua pelayan wanita dan dua pelayan lelaki memasuki ruangan.


" Pakaikan dia baju, dan langsung bawa pergi dari sini. Bersihkan semuanya." Deka berjalan masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa segelas wine namun langkahnya terhenti karena ucapan Siena.


" Siap, tuan."


Mereka langsung mengurus Siena layaknya barang yang harus segera disingkirkan.


" Tuan, mengapa kau tidak menikahiku, meski anda mengatakan saya membosankan, namun semalaman anda tidak henti menjamah saya. Itu artinya anda menyukai saya."


" Agara apa saya menikah mu?" tanya Deka meremehkan.


" Agar anda bisa lebih. Puas menggagahi saya." ada nada sinis dalam ucapan tersebut.


" Cukup dengan semalam saya tidak mau merasai mu lagi."


" Tuan, kalau saya hamil and pasti bertanggung jawab kan?"


Kontan Deka terbahak-bahak," Menikahi mu? Jangan mimpi. katakan pada kakakmu modus menjebak dengan kehamilan sudah bukan trend lagi. Kalau kau hamil, gugurkan!"


Mata Siena memerah, sakit hatinya ditolak mentah-mentah bagai ia binatang busuk."


" Cepat enyahkan dia dari sini."


" Baik, tuan." dengan cepat dan tergesa-gesa mereka melaksanakan perintah.


Setelah semuanya selesai, mereka tidak lekas memboping Siena dari kamar yang sudah bersih tersebut karena dia tidak mampu berjalan, bahkan untuk bergerak sedikit pun tubuhnya berasa kaku.


Selama eksekusi pngusirannya, otak Siena berputar bagaimana cara dia tidak hancur setelah apa yang terjadi.


" Andai mas Edo tidak menceraikan mbak Desty hidupku tidak akan begini, maka...dia yang harus membayarnya." satu seringai buas terpatri di bibirnya.


Deka keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar, lantas ia berjalan ke beberapa sudut kamar mengambil kamera yang menyala dan memperhatikannya untuk beberapa saat sebelum ia mematikan timbul on dari kamera kecil yang memang sengaja ditaruh di sana sejak kedatangan Siena.


Ia kemudian menelpon Edo yang memang sudah menunggu di villa.


" Bagaimana?" tanya Edo langsung ke inti.


" Dia meminta aku menikahinya.l kalian dia hamil."


" persis trik kakaknya dulu."


" Dia seperti akan merencanakan sesuatu."


" Tentu saja dia akan merencanakan sesuatu, kau amankan saja rekaman itu. targetku menjadikan mereka gembel atau PSK, terserah mereka mau yang mana asal anak ku tidak membenciku lagi."


" Selamat berjuang kalau begitu."


" Thank atas kerjasamanya."


" Jangan sungkan."


❤️❤️❤️❤️


Shavara tertidur miring ke arah balkon, dia sudah bangun dari satu jam yang lalu namun tidak langsung beranjak, matanya menatap fokus pada Bhumi yang berdiri di balkon yang belum jua sadar dirinya telah bangun.


Biasanya, entah bagaimana Bhumi selalu tahu kalau dirinya bangun dan akan langsung memeluknya sebelum melabuhkan kiss morning, tapi ini satu jam lepas sudah belum ada respon apapun dari suaminya.


" Lagi mikirin apa sih, suami ganteng ku ini khusu' banget sampe ga dengerin aku panggil-panggil tadi." Shavara mengalungkan tangan di lengan Bhumi, menjatuhkan kepalanya ke lengan atas suaminya.


Bhumi menoleh sejenak tertegun kaget dengan sikap manja istrinya, dia suka, sangat suka.


" Kok cuma lihatin doang,tapi gak dijawab." rungut Shavara menengadahkan kepalanya membalas tatapan Bhumi. Bibirnya menurun sebal.


Bhumi terkekeh sebelum melabuhkan kecupan pena ke bibir menggemaskan itu.

__ADS_1


" Jangan bilang ga ad apa-apa, tubuh tegang kamu mengatakannya kalau kamu lagi mikir sesuatu."


Bhumi tergelak senang, entah karena apa." udah mulai hafal tentang aku ya."


" Tiap hari lihat problem kamu dan muka kamu yang sering berubah ampe aku tahu kapan kamu bakal bad mood dan good mood. puncaknya waktu kamu marah kar aide konyol aku."


Bhumi memindahkan tangan merangkul Shavara, mengusap lengan atas istrinya." senangnya punya istri yang pekaan."


" Ck, ngeledek. Kalau aku pekaan aku pasti tahu pas Aryo selingkvh, tapi apa...yang ada aku kayak orang bego."


" Kok inget mantan, kita lagi honeymoon ini."


" gak usah gimmick cemburu, kamu tahu pasti benci banget sama dia wajib dia memperkosa aku."


Bhumi mengecup puncak kepala Shavara," Jangan diinget lagi kalau itu bikin kamu merasa insecure. Wanita yang kupilih berarti itu wanita hebat." Bhumi mengakhirinya dengan mencium sayang pelipis Shavara.


" Kemabli ke topik, kamu lagi mikirin apa? Atau kit akan berbelit-belit lagi kalau kamu berkelit terus."


Bhumi menghela berat, istrinya ini mulai keras kepala." kalau aku ngomong kamu jangan banyak pikiran tapi."


" Tergantung sih."


Bhumi memposisikan Shavara berhadapan dengannya, ia memastikan Shavara fokus akan dirinya.


" Siena dijual oleh kakaknya untuk melayani seseorang."


" Siena? Siapa?" Shavara menimbang siapa dia, pasalnya nama itu pernah dia dengar.


" guru yang di sekolah yang naksir berat sama aku. sekaligus adik dari pelakor busuk itu."


Shavara terkejut bukan main," Kenapa? Seperti Kinan dan Monika?


Rasa tidak percaya dari Shavara bisa dimaklumi, dia yang terbaik terjaga dan berasal dari keluarga harmonis tentu perihal prostitusi merupakan hal yang tabu.


" Papa meninggalkan mansion untuk mereka, dan mereka membutuhkan biaya untuk memeliharanya."


" Kenapa gak dijual saja? Kan lumayan hasilnya." ucap Shavara setelah keluar dari keterkejutannya.


" dia berharap baik dan Papa masih Sudi mengirimi mereka uang."


" Tapi ternyata enggak?"


Dengan berat hati Bhumi mengangguk," Aku yang menyuruh mereka untuk gak ngasih sepeserpun pada mereka. Aku yang memaksa mereka untuk memilih siapa yang mereka pedulikan, mereka tidak bisa ada diantara kami." ucapnya penuh kebencian nan datar.


Shavara mengusap menenangkan lengan Bhumi." Terus Kenapa kamu mikirin dia? Kamu gak tega?" teliti Shavara.


" Jangan mancing."


" Aku gak mancing, tapi curiga. Dia yang dijual kenap kamu yang mikirin, coba. Suka sama dia?" Shavara sedikit membentak karena tidak suka.


Bhumi kdka langsung menjawab, ia malah memandangi intens wajah Shavara.


" Kamu berubah, biasanya kamu akan ikut iba, dan merengek kasihan."


" cih, terus kita berantem seperti kemarin. gak Sudi. Kalau itu pantas buat dia, yang kenapa enggak." sinis Shavara.


Bhumi belum terbiasa dengan istrinya yang ini." ini beneran kamu?"


 " Kenapa? Muka ku berubah ya?"


" Kamu yang berubah."


" Aku yang dulu udah ga ada, waktu kita berantem semalam aku nangis, ditambah coba mengingat apa yang Mama ucapin memang terdengar tega sih, namun itu cara jitu memperisai diri."


" Kita memang harus mengasihani orang, tapi jaman sudah berubah banyak orang memanfaatkan rasa kasihan itu untuk kepentingan egonya, makanya harus memilah mana yang harus dikasihi, mana yang harus dicueki."


Shavara mendekap pinggang Bhumi, menyandarkan kepalanya di dada Bhumi," orang sekarang menjadi mengerikan. Murid kamu contohnya, atau Kinan."


" Aku belum tahu gimana bentukan si Siena ini, tapi Mama, Papa dan bang Anan sudah cerita soal masa lalu ibu Rianti. bagiamana mental ibu dan kamu dihajar habis-habisan. Aku memahami Kenap kamu membenci Papa Edo, tapi kan beliau sudah menyesalinya, apa salahnya kita memberinya kesempatan untuk berubah lebih baik."


Shavara merubah posisi, kini ia membingaki wajah Bhumi," soal wanita yang kamu sebut pelakor, aku akan dukung kamu. sebagai mantan korban pelakor, aku tahu pedihnya dikhianati. Ini aku belum menikah, sakitnya bukan main. kalau bukan kerena ancaman Mama mungkin aku masih bermuram durja.


Apalagi ibu. Aku gak bisa membayangkan hancurnya gimana, bukan saja perkara cinta yang runtuh, tapi kepercayaan."


Bhumi merapihkan rambut Shavara yang terima angin pagi," Walaupun itu kejam?"


" Itu subjektif. terlalu banyak orang jahat diluaran sana. Jadi apa yang terjadi dengan si Siena itu?"


" Papa mengatakan kemungkinan dia akan membuat satu atau dua drama setelah ini. seperti kakaknya dulu."


" Kemungkinannya seperti apa? Aku belum berpengalaman menjadi wanita jahat."


Bhumi terkekeh," sindiran yang elegan, sayang. tapi sayangnya aku juga belum tahu, aku kan juga lelaki yang manis."


" Manis apaan, bringas gitu. jalan aku sakit ini."


" Maaf, kemarin pasti kamu kesakitan."


" Jangan dibiasakan, maksud ku, gak jadi masalah kalau kamu melampiaskannya padaku, tapi tetap harus dengan lembut. Itu kalau memang benar kamu cinta aku sih." sindirnya mendelik sebal.


" Ya tuhan. perempuan dengan segala kata sindiranya." Bhumi membawa Shavara kedalam dekapannya yang erat.


" Lusa, sekolah sudah aktif, kamu magang di sana. Bersiaplah akan ulah Arleta dan Siena. Aku tahu Adit dan yang lain pasti jagain kamu, tapi tetap waspada itu harus."


Shavara mengangguk-angguk saja


Bhumi memegang rahang Shavara mendekatkan wajah mereka, melum'at bibir yang selalu menggodanya.


pag'utan itu berlangsung lam sampai Shavara mengalungkan tangannya di leher Bhumi, Bhumi mengeratkan tubuh mereka tanpa jarak dan celah.


Tangannya bermain di rambut Shavara memegang tengkuknya seiring kepalanya yang memiring memperdalam ciuman itu.


Lidahnya bermain indah saling membelit, menghisap, melahap rakus melahirkan suara decapan dan ******* yang saling berlomba mencari dan memberi kenikmatan.


❤️❤️❤️❤️❤️


Bhumi dengan semangat 45 memperhatikan penampilannya, hari ini ia berpakaian kerja sederhananya hanya kemeja berwarna mocca dan dasi coklat tua serta celana panjang hitam yang ia kenakan.


Ransel hitam serta jaket kulit di tangan bend ayang terakhir menyertainya sebelum mengunci pintu kamar lalu bersiul riang menuruni tangga.


" Duuuhhhh,...yang sudah dua hari tidur bareng guling semangat amat menjemput masa depan." ledek Senja di tengah suapan sarapannya.


" Iya, dong. Enak kalau udah halal mah tinggal sat-set. Emang itu jomblo."


Senja dan yang lain yang ada di ruang makan melongo hebat, mereka bagai ketiban lotre mendapati Bhumi menanggapi ocehan Senja yang biasa dia abaikan.


Pernikahan bisa merubah perangai seseorang memang benar adanya. Bhumi bukan sosok pendiam, namun dia bukan seseorang yang mau buang tenaga merespon ocehan yang baginya tidak berfaedah.


" Halal, tapi pisah rumah. Itu mas kawin korban atau nyicil." ledek Bian.


" Daripada situ ditarik ulur perasaan. kemarin diterima sekarang seakan ditolak. situ tali rapia." singgung Bhumi mengenai hubungan Bian dan Aira yang kemarin memposting dirinya bersama seorang pria terlihat dekat dan mesra saat liburan yang lalu.


" Mas tahu?" tanya Senja

__ADS_1


" Soal ig Aira? Tahu lah." Bhumi menikmati sarapan nasi uduk favoritnya, apalagi kalau bukan buatan ibu Rianti.


" Mas punya Ig? Kok gak bilang."


" Didownload-in sama Aira dengan dalih supaya dekat sesama ipar. dia yang masang dia yang follow sendiri."


" Mana? Aku juga mau follow mas. Nanti follback ya."


" Kamu aja yang follow sendiri dan follback sendiri." Bhumi memberikan ponselnya.


" Bu, mama Fena mesen nasi uduk dua bungkus."


" Ibu siapin." Rianti beranjak ke lapak depan rumah.


" Bang, hari ini kau sama Senja rencananya seharian di perusahaan." ucap Bian hati-hati.


Pasca penyerang Desty kepada Senja di perusahaan tempo lalu, Bhumi melarang Senja menginjakkan kaki ke gedung itu.


" Aman gak Enja-nya?"


" Aman. Papa udah masang smart lock di ruangan Enja."


" Pastiin aja kamu gak jauh-jauh dari Enja."


" Mas, izinin Enja ke perusahaan?"Bhumi tercenung melihat Enja yang begitu antusias.


" Kamu sadar kan tanggung jawab kamu besar saat memutuskan menerima gak kamu dari... Papa..."


Suasana hening, semua orang yang yang dengar sebutan itu terdiam meresapinya termasuk dua orang yang berdiri di ruang tamu.


Edo merasa jantungnya berhenti berdetak saat panggilan untuk kedua kalinya itu ia dengar.


Tidak ingin putra sulungnya malu, Edo berbalik hendak keluar rumah namun Rianti berdiri tidak jauh di belakangnya dengan membawa bungkusan plastik yang berisi dua box nasi uduk komplit.


Tampak tercetak jelas keterkejutan Rianti di wajahnya, RI...Dew...Bhumi memanggilku Papa." ucap Edo tercekat.


Perlahan-lahan Rianti tersenyum lembut walau matanya berlinang kristal bening," Jangan kecewakan dia lagi, Ma. Dia rapuh!"


Edo mengangguk cepat." Pasti...pasti Ri...maaf dari kalian karunia bagiku...bersama kalian impian ku."


" Mas,..soal bersama lagi...aku... tidak..bisa..."


Edo tertegun, sakit hatinya menerima penolakan itu, namun ia tidak mau egois. kesalahannya dulu memang biadab.


" Aku paham, berbahagialah dengan Fathan. Dia selalu mencintai kamu. Itulah mengapa dulu aku selalu cemburu padanya. Tapi saat ini aku ikhlas kamu bersama dia, aku tidak mau lagi egois."


Rianti menahan harunya, ia seka air mat ayang ternyata tidak mau berhenti . Bukan air mata kesedihan tapi ini air mata kelegaan," Terima kasih."


Edo menggeleng," Aku yang berterima kasih padamu telah mendidik anak-anak menjadi pribadi yang baik."


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Wwwaaaaa...nasi uduk favorit ku...memang gak salah milih Bhumi menjadi menantu." dengan riang Fena membawa nasi uduk itu ke ruang makan di mana anggota keluarganya tengah berkumpul.


" Murah sekali harga diri mu, teh. Hanya dua box nasi uduk." sewot Aditya memprovokasi Shavara agar tersinggung.


" Apa sih adek, pagi-pagi udah julid. Ini buat Papa." Fena menaruh satu box ke depan Anggara.


" Mama beneran cuma mesen dua box doang? Aku gak dibeliin?"


" Ya elah soal beginian aja diributin. Kamu bisa beli di Enja, dia jualan kan di sekolah."


" Di sana bayar, kalau di sini kan gratis."


" Hidup mokondo kamu, dek." sahut Wisnu telak.


" Astaghfirullah, si Aa sekali ngomong bikin ulah hati nanjep pisau."


" Aa, mau sarapan apa?" tawar Shavara pada Bhumi yang duduk di sampingnya.


" Aku udah makan, paling minum teh aja."


Saat Shavara hendak berdiri, Bhumi menahannya," Kamu makan aja, bair aku siapin sendiri. takut terlambat, ini hari pertama pertma kamu magang." Bhumi tidak segan mengecup ubun-ubun Shavara saat hendak ke dapur.


" Iri gak, A. lihat temen ada yang mau nyiapin sarapan?" ledek Fena.


Anggara hanya memasang wajah malas, mulai lagi dram sindiran mengandung desakan pada putra sulungnya agar segera menikah.


" B aja."


" Sedikit cenat-cenut, ngaru banget, Wir."


" Nama ku Wisnu, bukan Wira. tapi gak masalah jangan aja Mama lupa nama suami sendiri."


Nah..bahkan...drama di mulai.


" Cih, nyebelin gak bisa diajak berjanda." dengkus Fena.


" Mama ingin jadi janda? Mau nikah lagi, ganti suami?" serang balik Wisnu dengan mengangkat satu alis dan riak muka menyebalkan.


Anggara memicing curiga Fena yang mendadak kelabakan, ia mendelik sinis ke Wisnu yang anteng dengan sarapannya. Ia sontak menghampiri kursi suaminya.


Ia kecup pipi suaminya yang tengah gembul melahap sarapannya," Mana ada, my husband cuma Aa Angga tercintah. Only you...forever you. sarangheo." ucapnya sambil memasang finger love di kedua tangannya sembari mengedip-kedipkan mata genit dan raut wajahnya wajah sok diimut-imutkan.


Aditya yang jenuh, melepas sendok dan garpunya agak keras " Dah lah...bubar...bubar... drama roman picisan membosankan telah dimulai. Aku selesai makannya mau pamit." dia beranjak mencakol ras ranselnya yang kemudian menyalami semuanya.


Fena melihat piring anak bungsunya yang ternyata sudah kosong," Memang udah habis sarapan kamu, Dodol. tu anak kurang asupan biji durian kayaknya." Omel jengah Fena yang disambut tawa membahana dari Aditya yang diakhiri dengan sedakan ludah.


" Uhuk..uhuk..." Aditya merasa tenggorokan perih karena tersedak.


" MAMA MINTA MINUMMMM...."


" Bodo amat...ngapain teriak padahal di tasnya udah ada air sebotol ukuran seliter."


Bhumi dan Shavara menahan tawa, khawatir tawa mereka lepas, buru-buru mereka berpamitan melewati Aditya yang masih sibuk dengan cegukannya dibantu pak satpam upaya mengehentikan.


Di jalan barulah tawa mereka meledak, " Tiap hari begitu?"


Shavara mengangguk." ada aja yang jadi keributan Mama dan adek." Shavara memeluk pinggang Bhumi menikmati udara pagi dia tas motor RX-King suaminya.


Sengaja mereka berangkat lebih pagi agar tidak da yang melihat mereka berboncengan. Shavara enggan menjadi bahan gosip anak murid sekolah ini.


Namun saat Bhumi memarkirkan motornya, ada remaja cantik berlari menghampiri mereka, ia tidak segan memegang lengan Bhumi secara seduktif.


" Selamat pagi, pak Dewa. Aku kangen bapak, hari ini pun aku udah siap untuk bapak." perkataannya mengandung undangan kencan terbuka bersama dirinya.


Bhumi menatap Arleta dengan seragam sexy-nya, menggenggam kuat tangan Shavara yang masih membelit pinggangnya.


Sedangkan Arleta menyuguhkan senyuman indah di bibir ranumnya. Ia sudah mempersiapkan diri dari liburan kembali mengejar lelaki idamannya ini.


Ayah ya sudah membuangnya, ibunya tidak bisa diharapkan. Hanya Dewa satu-satunya harapan dia bisa memiliki ikatan hati.


Biar sekalipun dia suami orang, tapi dia yang mencintai terlebih dahulu, dulu Dewa memperdulikannya, kini dia akan kembali merebut perhatian itu... Dewa hanya untuknya...dia tidak bisa kehilangan satu-satunya pria yang menjadi rumahnya...

__ADS_1


__ADS_2