
Lady, hrs diakui sebaik-baiknya perempuan akhirnya banyak yang akan terbawa pengaruh pesona lelakinya, apalagi Bhumi yg menghujaninya dengan kata-kata cinta dan sikap gantle.
Beruntung lelakinya Bhumi jadi ketimbang dia nyoblos Vara, dia milih Vara yang 'ngerusak' dirinya, walau cuma sampe megang sama naik turun aja kok, Vara aja yg mulai sekarang otaknya gak suci lagi,....xixiixixiii...so stay cool ya...
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️😘😘😘
Prang...prang....BUGh...BUGh...
Kinan melempar apa yang bisa dia lempar dan memukul setiap benda yang di jangkaunya.
Kamarnya berantakan dengan benda yang berserakan belum lagi serpihan kaca dari botol-botol parfum koleksinya.
" Kenapa? kenapa kamu tega mempermalukan aku, Dewa?" teriak Kinan.
" Kalau tidak bisa dengan cara baik-baik jangan salahkan aku jika aku berbuat nekat demi mendapatkan kamu." ucapnya sambil melotot di depan cermin dengan tampang yang sudah awut-awutan.
" Tidak pernah ada kata gagal dalam kamus ku mempesona lelaki, terlebih itu kamu, aku wajib berhasil." ucapnya seraya seringai devil dari bibir se'xy-nya berlipstik merah menyala.
"Penghinaan malam ini harus kamu bayar seumur hidupmu bersama ku, dan ku pastikan itu tidak lama lagi terwujud."
Tring....
Kinan mengambil ponsel di meja, matanya membeliak besar saat satu video yang dikirim Erlangga dia putar.
Video petualangan dirinya bersama tiga lelaki dalam satu kamar beradegan ranjang panas.
Tring...
Satu pesan masuk dari Erlangga," Dan Lo akan kembali bersenang-senang dengan lebih dari tiga lelaki jika tetap nekat mengganggu Dewa."
Prang....
Kinan melempar kencang ponsel tersebut ke kaca besar seukuran tubuhnya.
❤️❤️❤️❤️
Bhumi menahan Shavara duduk di antara kedua kakinya dengan tangan membelit kekasihnya.
" Sayang, relax. gau usah tegang begini." Bhumi memijat pundak Shavara yang tubuhnya kaku bak robot yang dibalut jas.
Tadi selepas Bhumi menyelesaikan kebutuhannya Shavara bergegas keluar dari mobil dengan wajah panik sekaligus syok.
Dalam suhu dingin menusuk, Shavara dengan tangan gemetar, gigi bergemeletuk, dan pandangan bingung, ia merapihkan pakaian serta rambutnya.
Tubuhnya diam kaku serta mata melebar saat tiba-tiba dari belakang tangan besar merengkuh seluruh dirinya masuk ke dalam dekapan tubuh polos Bhumi.
" Maaf, maaf. aku udah bikin kamu ketakutan, sayang." ucap Bhumi seraya mencium wangi rambut Shavara.
" Sayang, jangan risau begini..."
" Aku memegang milikmu yang seharusnya tidak aku lakukan, kak." racau Shavara.
" Aku akan bertanggungjawab terhadap dirimu, sayang."
Shavara menggeleng, ia linglung." Ini..ini salah, kak."
" Aku tahu, sayang. aku tahu..ini semua salah ku. ku mohon maafkan aku." ucap bhumi berat karen dia kedinginan.
" Ka..kamu masuk mobil di sini dingin. ini udah malam kita harus segera pulang " potong Shavara cepat melepas dekapan Bhumi.
Kedua tangan Bhumi jatuh terkulai lemas saat Shavara melepas tangannya dan masuk ke dalam mobil kursi penumpang belakang, bukan depan.
Bhumi menyusul Shavara, langsung menempatkan Shavara duduk diantara kedua kaki panjangnya lalu mengapitnya di sana, yang langsung mendapat penolakan Shavara meski akhirnya menurut akan keinginan Bhumi.
Mereka diam dalam keheningan mobil, Bhumi menaruh dagunya di bahu Shavara.
" Maaf,..."
" Ki..kita sudah terlalu jauh." ucap Shavara.
Bhumi mengangguk," Sangat jauh, aku ingin melangkah jauh bersama kamu." tangan kiri Bhumi mengambil tangan kanan Shavara.
Sambil menatap Shavara yang enggan melihatnya, ia menyelipkan sebuah cincin ke jari manis Shavara.
Shavara menunduk melihat ke tangannya, mulutnya ternganga pada cincin berlian berwarna pink itu. ia menoleh ke Bhumi yang langsung menghadiahinya kecupan di pipinya.
" Maukah kamu menjadi tunangan ku?" ucap Bhumi pelan nan syahdu.
" Tu.. tunangan?" cicit Shavara tercekat. bagai ada bongkahan godam yang menumpuk jantungnya.
"Hmm, tunangan. aku ingin ikatan hubungan ini lebih kuat, sayang. would you?" harap Bhumi.
Shavara tidak menjawab, ia menatap cincin di jarinya. pandangannya menerawang ke hal lain yang membuatnya wajahnya sinis dan muram.
" Apa bedanya pacaran dengan tunangan? aku gak melihat ada perbedaan diantara keduanya. saat kamu bosan denganku, akan dengan mudahnya kamu membuang ku." matanya masih menatap cincin indah tersebut.
"Aku gak bakal melakukan hal bodoh tersebut, cinta."
" Aryo juga dulu bilang begitu, kamu pikir aku segitu baiknya mengorbankan waktu, tenaga dan uangku untuk membantu bisnisnya tanpa iming-iming romantis picisan? tidak, kak. dia menjanjikan segudang kehidupan nyaman padaku hingga aku rela berbaur bodoh demikian." ucapnya menyimpan kemarahan.
" Sayang, aku berjanji.."
" Aku tidak bisa mempercayai janjimu, kemarin kamu ingin menikahi mu, tapi ternyata yang kamu tawarkan kini hanya sebatas tunangan. itu menunjukan perasaanmu padaku sudah memudar. kamu sudah melihat diriku, mungkin keinginan kamu padaku tidak sebesar kemarin, dan mulai bosan. aku juga sudah pernah gagal bertunangan, dan tidak ingin lagi...,"
" Hmmpmmh..." Bhumi memegang leher, lalu mencium serta memag'ut lembut bibir Shavara guna menghentikan ucapan yang menurutnya omong kosong.
" Menikah? maukah kamu menikah dengan ku?, cantik?" ucap Bhumi menjauh sedikit dari Shavara, namun ujung bibir mereka masih bisa bersentuhan.
" Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan mu." balas Shavara.
Bhumi tersenyum, tangannya merayap memeluk Shavara. " Jangan pernah lepaskan aku."
" Aku aslinya pencemburu."
Tangan bhumi merayap di sepanjang perut Shavara." cemburui aku sepuas kamu."
" Aku manja."
" Aku suka yang manja, berasa gagah aja saat kamu bergelayut manja padaku."
" Akh posesif."
" Aku lebih posesif, cinta."
__ADS_1
" Aku pemarah."
" Punya murid semacam Adit, Devgan, Leo dan Bian serta yang lain dengan profesi guru fisika, kamu bakal tahu setebal apa kesabaran ku."
" Aku matre."
" Perempuan harus matre, agar lelaki lebih giat mencari nafkah."
" Ini rencana tersembunyi kamu yang Mama omongin?"
" Hmm, tapi tadi izin ke mereka-nya cuma mau ngiket kamu aja tapi kalau langsung diulti nikah, ituaunya aku."
" Aku..."
" Sayang, apapun tentang kamu, aku siap menerimanya, dan ku harap kamu pun menerima apapun tentang aku." potong Bhumi.
Shavara mengangguk, ia memasukan jarinya ke sela jari Bhumi yang berada di atas perutnya.
" Jadi?"
" Hmm?" balas Shavara.
" Mau menikah dengan ku?"
" Minta izin dulu sama papa, kalau papa bilang yes, aku sih juga yes."
" Tentu, sayang. aku dan keluarga akan datang ke rumah mu. kamu gak boleh berubah pikiran."
"Jangan risau kan aku, pastikan perasaanmu padaku."
Bhumi mengetatkan dekapannya." Jangan ragukan perasaanku, selam 27 tahun aku hidup, cuma kamu yang aku izinin megang pisang aku, sayang." Bhumi menarik Shavara menempel padanya.
" Ka..kamu gak pake celana." shavara menjauhkan diri saat dia merasakan keganjelan di bok*ngnya.
" Sayang, ini celana panjang lho, masa gak gerasain." Bhumi membawa tangan Shavara mengelus paha yang berbalut celana bahannya.
Plak..
" Dalemannya, kan tadi banjir banget tangan aku kena semua." Shavara menggeplak paha Bhumi yang tangannya langsung Bhumi genggam.
Bhumi terkekeh, " Aku kan tadi sekap pake tangan, Yang. jadi g beluber."
"Issh, tetap aja aku risih. ini lagi gak pake baju, gak kedinginan apa?"
Bhumi mencium ceruk leher Shavara, ia menggeleng." Ada tempat hangat yang aku suka."
Kepala Shavara memiring saat Bhumi terus mendesak menciumi lalu menghi'sap lehernya. bahan rambutnya sudah dikumpulkan ke satu sisi.
"Kamu wangi, aku suka wangi kamu." tangan Bhumi menatap naik.
"Aaahhhh..." Shavara mendesah saat tangan Bhumi meremas kedua miliknya walau terhalang jas.
" ******* Kamu selalu bikin aku cepat bernafsu." bibir Bhumi meraup bibir Shavara yang terbuka menggoda akibat remasan yang menguat.
Tangan Bhumi masuk ke dalam jas, meremas lalu memainkan ujungnya.
"Aaahhh..kakh..udah ..." ucap Shavara menjilat bibir bawahnya.
" Aku ingin kamu lepas kayak aku tadi."
"Sayang, itu tu nikmat banget. aku yakin kamu gak nyesel."
"No...aaahhhh..kakh..." Shavara mental manik Bhumi yang sangat dekat saat Bhumi memaju mundurkan dirinya mengenai belakang Shavara.
" Sayangh, nikmati."
"No, sayangh...no...please..." ucap shavara menggeleng
Bhumi menghentikan aksi di dada Shavara, menjauh tangannya dari dua benda sekal tersebut.
" Aku mau lagi, mau kamu pegangi punya aku lagi?" tanya Bhumi frontal.
" Gak punya malu banget, Seharusnya kan kamu malu, tapi kenapa aku yang dengarnya yang malu." gerutu Shavara.
Bhumi terkekeh, ia membuka jas hitam tersebut.
" Dingin, kak."
" Itu gunanya aku telanjang dada begini, sayang. come to Daddy, sweet heart.
Shavara bersandar lemas di dada Bhumi, tangan Bhumi menjulur meriah paperbag yang ada di bawah kaki mereka.
Ia menjauh sedikit, mengenakan kalung di leher Shavara, mengecup seraya mengigit kecil pundak Shavara kala menyelesaikannya.
Disusul anting-anting, serta gelang yang diakhiri mengusapnya.
"Ini se stel ya."
" Hmmm." Bhumi sibuk mencivmi tangan Shavara yang dibalut gelang darinya.
"Ini mahal banget. kamu hamburin uang banget."
" Aku mampu membayarnya, sayang. kamu itu matre, seharusnya kamu senang." sindir Bhumi sambil terkekeh geli.
Shavara mendelik seraya mendengkus, Bhumi memeluknya erat.
"Aku cinta pada pandangan pertama sama kamu, dan terus galauin kamu sebelum malam percobaan perjodohan kita itu, bahkan aku yang selalu teliti saking gugupnya sampe lupa minta nomor kamu. memalukan untuk lelaki berusia 27 tahun, sayang."
Cup...
Bhumi mengecup belakang kepala Shavara," cinta kamu pake bangettttt..."
Karena malu bercampur haru, Shavara hanya mengangguk saja.
" Kak, kita pulang ya." pinta Shavara.
"Hmm, telah akg gak mau pisah sama kamu, sayang."
" Apa sih alay banget."
Bhumi memegang dagu Shavara, menatapnya dalam." Kapan kamu sering-sering bilang cinta aku?"
" Setiap kakak bilang cinta, aku jga bilang buat kakak."
__ADS_1
" Gak kedengeran."
"Kan di dalam hati."
"Mana aku tahu. ucapin lantang kayak aku dong."
" Malu, kak mah gak punya malu. udah ah, kita pulang."
❤️❤️❤️❤️❤️
" Besok aku gak bisa main dulu sama kamu, padahal pengen, tapi aku amu ngomongin soal kita sama ibu." ucap Bhumi saat mereka berdiri di depan pintu rumah Shavara.
" Iya."
" Tapi Senin aku antar jemput kampus kamu, kamu kan udah gak ada motor."
" Aku pulang ngampus mau ke Mall, hp aku kan raib."
" Aku anter."
" Aku udah janjian sama Mira dan Ana."
" Jalan sma mereka gak masalah buat aku."
" Kok maksa, ini girls time." sewot Shavara.
" Maaf, lain kali aja girls timenya. ku lagi kasmaran sama kamu."
Shavara memutar bola matanya malas," terserah, asal jangan pengen cepat pulang. awas aja kalau sepanjang kita healing ngegerutu terus kayak si Kenzo."
" Gak bakal, udah masuk. udah jam dua."
" Iya, aku masuk. hati-hati di jalan."
" Hmm, always supaya ketemu kamu lagi."
cup...
Bhumi mengecup kening Shavara sebelum melangkah ke mobilnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Pukul tiga dini hari Bhumi memasuki rumahnya dengan siulan kecil khawatir membangunkan orang rumah.
" Mas."
Bhumi terjengkit kaget melihat senja duduk sendiri di ruang tamu, ia mendekat kala menyadari mata senja sembab.
" Ada apa?" Bhumi duduk di sofa samping Senja, sedikit mencondongkan tubuh kearahnya.
" Kak Bian kasihan, Mas." lirihnya yang dilanjut sesenggukan.
" Hei, kenapa?" Bhumi menggenggam tangan Senja.
" Aku seharusnya membenci dia karena dia anak pelakor, tapi aku sekarang gak bisa benci dia pas tahu akali dia sebenarnya gak bahagia. aku kasihan sama dia, Mas."
Senja menutup wajahnya dengan ke dia telapak tangannya untuk menangis.
Bhumi bergeming sesaat, "Bisa kamu cerita kenapa?"
" Aku gak tahu pasti ada apa? tapi tadi dia bilang mama-nya yang memfitnah ibu hingga papa menuduhnya berselingkuh. ya tuhan, kenapa wanita situ jahat banget." Bhumi membawa Senja ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung menenangkan.
"Biannya di mana?" tanya Bhumi disela kecupan di kepal Senja.
" Di kamar, aku paksa dia buat tidur di sini, tadinya dia mau nginep di rumah kak Devgan tapi aku larang. dia kan punya kita kaos kenapa dia ahrus tidur di rumah orang lain pas punya masalah. Mas keberatan?"
Bhumi menggeleng," Itu bagus. kamu bertindak tepat."
" Mas, harus bicara sama kak Bian, tadi aku lihat dia tertekan, Mas."
"Hmm, sekarang mas antar kamu ke kamar dulu, ini udah pagi."
" Mas gak perlu anter aku, mas langsung aja temui dia." senja beranjak ke lantai atas meninggalkan Bhumi yang menatap sendu.
" Maafin mas yang belum bisa kasih kamu kebahagiaan." monolog Bhumi dengan raut menyesal.
Ia melihat cincin di jari manisnya kemudian menghembuskannya.
Satu orang yang mendengar perbincangan mereka dari dalam kamar tidurnya memegang dadanya erat saat merasakan sakit di jantung.
" Kenapa kamu agak percaya aku, mas? apa yang wanita itu katakan sampai kamu segitu butanya tentang kebenaran ini hingga menyakiti anak-anak mu." monolog Rianti sendu.
¥¥¥¥¥¥¥
Bhumi berjalan ke lantai atas, mengetok hati-hati kamar yang terletak di samping kamarnya.
Bhumi mendorong pintu yang tidak terkunci pelan-pelan." Yan, udah tidur atau udah bangun?"
Bian yang duduk di kursi meja belajar menoleh padanya." Bang, masuk."
Bhumi berjalan masuk tanpa menutup pintu, bisa dia lihat Bian yang sembab sama seperti Senja." masih belajar?"
" Hmm, harus giat kalau mau dapet beasiswa."
" Jangan terlalu diforsir, kesehatan masih lebih utama."
" Tenang itu mah."
Bhumi menatap Bian yang terkesan memaksa santai." Senja nangis, kamu tahu kenapa?" pancing Bhumi.
Bian menggeleng ragu, yang sebenarnya lebih ke takut kalau Bhumi akan marah padanya jika Bhumi mengetahui kebenarannya.
" Huh, tidurlah." Bhumi beranjak.
Saat di pertengahan jalan, Bian memangilnya." Selepas semesteran, pengalihan milik Senja akan terjadi. punya Abang juga kalau Abang mau."
" Saya gak butuh."
" Saya kasih ke kamu, jangan maksa saya." tekan Bhumi saat Bian hendak kembali bicara.
" Oke."
Bhumi menutup pintu di belakangnya, amat yang semula menyorot tenang, berubah menajam sinis.
__ADS_1
" Bagaimana aku bisa menerima harta dari baji'ngan yang membuang keluarganya demi wanita rendahan macam mantan sekretarisnya itu." ucapnya sarat kebencian...