
pintu yang terpanting kasar karena dorongan keras mengejutkan tiga orang yang di dalam kamar.
Mereka berdua kaget, tertegun, suara tangis Shavara yang menyadarkan mereka l, saat Bhumi hendak maju, Wisnu mendahului melangkah lebar
Wisnu menerjang Aryo yang mencoba mencuri civman pada Shavara yang menangis meronta dengan pakaian yang sudah terkoyak hingga dia tersungkur terantuk headboard, Shavara mencoba melepaskan belitan tali di kedua tangannya yang terangkat.
Dadanya kini di tutupi tangan Aryo, ia merasa dirinya menjijikan.
Bhumi segera mendekatinya, ia melepaskan tali tersebut membawa Shavara ke dalam pelukannya, mendekap istrinya yang dalam kondisi kacau masih tergugu.
" Sshhtttt....tenang sayang, tenang...." Bhumi menciumi kepala la Shavara mengusap-usap punggungnya hangat.
Tubuh Bhumi membelit tubuh Shavara yang gemetaran kuat." Sshhhtt,....menangis lah, ada aku...tenang..ya..."
Kinan, yang keberadaanya terlupakan sejenak menatap keduanya dengan sendu. Ia bisa melihat tidak ada ruang di hati Dewa untuknya.
"Bangsat,..m4ti Lo di tangan gue..." murka Wisnu, men3ndang-nend3ng brutal tubuh Aryo
Bughhhhh...
BUGh......
Dari belakang Wisnu menarik rambut aryo, ia lalu menghajar Aryo tepat di hidungnya yang kemudian terdengar retakan tulang.
" Kyaaaa...." jerit Kinan ketakutan, tangannya Yaang memegang ponsel gemetaran.
Aryo yang memang setengah mabuk, terkejut namun refleksnya yang hilang memudahkan Wisnu terus menghajarnya tanpa ampun, dan tanpa jeda.
Terlanjur dibalut amarah wisnu tidak mengindahkan jeritan dari dua wanita dan Aryo yang tidak melawan, dia sungguh kalap. wajah Aryo sudah tidak berbentuk, di semua sisinya.
Tidak hanya bagian atas, hampir seluruh tubuhnya menjadi sasaran kaal posisi Aryo jatuh tergolek.
Aryo sudah terkapar di dinding setelah dilempar Wisnu lewat pukulannya terakhir. Napasnya naik-turun, namun mata tajamnya tidak lepas dari Aryo.
Suara rintih terdengar pilu ketakutan mengalihkan pandangannya, ia lantas menghampiri Shavara yang berlindung dalam dekapan Bhumi.
Namun sebelum itu dia menendang-nendang perut, tulang rusuk Aryo yang sudah tidak bergerak.
" Kyaaa....Kyaaaa..." teriakan kencang ketakutan dari Kinan sejak awal Wisnu beraksi mengembalikan perhatian Bhumi.
Bhumi mengendorkan pelukannya, lewat matanya meminta Wisnu untuk memeluk istrinya yang langsung disambut Wisnu yang membawa Shavara ke dalam dekapan eratnya.
Adnan yang sejak tadi berdiri bergerak ingin memeriksa Aryo namun dicegah Wisnu." Jangan sentuh dia, dia masih hidup
gue hanya ngasih dia istirahat buat Nerima yang selanjutnya."
"Oke." Adnan memilih menuruti daripada yang habis di tangan Wisnu.
Sementara Bhumi beranjak berdiri mendekati Kinan yang berdiri menutupi wajah mengalami pandangan yang brutal tadi.
Perlahan dia menurunkan tangannya, dapat lihatlah raut kemarahan di wajah lelaki yang selalu membayangi pikirannya, " De... Dewaaaa....ma..maafkan.."
PLAKK....
tamparan kuat dengan punggung tangan Bhumi menghentikan ucapan Kinan.
" De..Dewa...kau..menam..."
PLAK...PLAK....
Kembali tamparan bolak balik di pipi Kinan. yang seketika memerah membuat Kinan terhuyung mundur ke tembok.
Sambil memegangi pipi yang nyeri nyut-nyutan, matanya kian membola, ia syok Dewa-nya berani menamparnya.
" De... Dewa..kamu..tidak sedar siapa yang kamu tampar?"
" Aku lebih dari mampu untuk mengh4jar mu." desis Dewa dengan rahang tegang beradu.
BUGHH....
Satu tonj0kan keras mengenai tulang pipi langsung menjatuhkan lawan merosot menempel tembok sampai setengah pingsan kepayahan tergeletak di lantai.
Brugghhh....
Bhumi membungkuk, menja mbak rambut Kinan, lalu berkata tegas," Kau bin4l, tapi tidak dengan istriku. Dia milikku, seharusnya kau jauhi dia demi keselamatan mu." dengan santai ia membenturkan kepal kinan ke tembok.
" Kyaa...." lirihnya pelan.
Pipi tulangnya berdarah, bibirnya robek disertai lelehan darah yang mengalir di beberapa bagian wajahnya yang bengap.
Tangan Kinan masih memegang ponselnya yang masih menyala dengan fitur video.
Belum puas, Bhumi mencek1k leher Kinan hingga dia tertarik berdiri.
" De..Dewa...i..ni...bu..kan sa..lah..ku...Ar..Yo..me..maksa..ku..."lirih Kinan yang tubuhnya terangkat karena cekikan Bhumi.
Bhumi tidak mendengarkan, ia mengencangkan cekikannya yang menghasilkan suara cicitan kekurangan napas.
" De..Dewa...A..aku...ma..ti...le..pas..kan...."
" Gue benci Lo, kurang keras apa yang diberi Elang padamu. Mental badak juga Lo..."
" De...wa...A...ku...aaa....."ucapannya terpotong ketika pasokan oksigen menipis.
Mulutnya buka-tutup buka-tutup mengharap ada oksigen masuk.
Adnan menghela napas gusar, tidak banyak yang bisa dia lakukan di tengah dia sahabatnya yang paling kejam dalam ke adaan rah tengah emosi.
Ia terlebih dahulu mengambil selimut yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuh Shavara dan Wisnu.
Kemudian dia melangkah mendekati Bhumi yang tidak kalah kalap dengan Wisnu. Di tangan Bhumi, Kinan bagai seonggok daging gantung, wajahnya sudah memucat.
" Bhum, lepasin dia, dia sudah mau mati." pinta Adnan lembut.
" Diam, Lo. Lo masih bela perempuan binal ini?" murka Bhumi.
" Bukan, tapi kalau Lo bikin di mati, Shavara akan menjadi janda. Lo mau itu?"
Mendengar nama istrinya, cekikan di leher mengendur, Shavara! Bathinnya yang langsung membawanya kembali pada realita.
" VARAAA....." bertepatan dengan kedatangan Mira bersama dengan yang lain yang baru menemukan mereka setelah memeriksa satu persatu kamar yang mendapat umpatan dari para penghuni mesum tersebut
Mira dan Berliana langsung mengambil alih sahabatnya, mereka mendekap tubuh yang gemetaran hebat itu, Shavara menggigil dengan wajah pucat.
Wisnu yang merasakan ketakutan Shavara kembali marah, ia beranjak berdiri lalu Kemabli melangkah ke arah Aryo yang mulai sedikit sadar.
Tanpa membuang waktu ia layangkan pukvlan terus menerus membabibuta.
Suara hajaran itu membaut tigak wanita itu ketakutan, mereka saling mendekap.
Kenzo melepas jaketnya, Berliana dan Mira membantu Shavara mengenakan jaket tersebut yang kemudian di resleting sampai leher. Kenzo tetap duduk di sana bersama para wanita memperhatikan aksi Wisnu dan Bhumi.
Bisma yang melihat Aryo sudah tidak layak dijadikan lawan nekat memegangi Wisnu, ia kesusahan menjauhkan Wisnu dari Aryo yang entah masih hidup atau mati, karena tidak da pergerakan sama sekali dari tubuh lemah tersebut.
Burgh...
Mata mereka beralih pada Kinan yang ternyata dengan entengnya dilempar ke pojokan kamar yang tubuhnya terkulai mengenai nakas.
Erlangga yang memegangi Monika menyaksikan semua itu di ambang pintu, mengabaikan Monika yang memalingkan diri dari kekacauan di depannya.
" Gue benci wanita binal ini, Lo gak bisa ngurus dia, Lo berurusan sama gue."
" De.. Dewa...A..aku..."
BUGh...BUGh....
" Kyaaa...." cicit Kinan memegangi perutnya.
__ADS_1
Mata para wanita memejam ketakutan kala Dewa menendang-nendang perut Kinan.
" Ya tuhan..Bhum. Sudah..iya gue yakin setelah ini dia gak akan muncul di depan Lo lagi." Adnan dibantu Kenzo menarik Bhumi dari tubuh Kinan yang sudah banyak luka.
" Gue paling jijik cewek modelan Lo, nyesel gue dulu pernah berurusan sama Lo, sekarang gue jadiin Lo musuh gue, Lo bisa tanya sama dia apa yang pernah gue kasih sama orang yang gue sebut musuh.p3rek! CUIH..." Bhumi meludahi wajah Kinan.
Kini netranya menatap Shavara yang didekap kedua sahabatnya, perlahan dia kembali melangkah ke arah ranjang, membungkuk mengulurkan kedua tangan pada kekasih hatinya.
Hatinya nyeri melihat istrinya terlihat kacau, ia sungguh ingin mengoyak tubuh dua Insan durja itu.
" Sayang...maafin aku..." Shavara langsung menerjang tubuh Bhumi lalu menangis tergugu dalam pelukan suaminya.
Shavara yang sejak tadi isi kepalnya kosong, kini mulai menyesuaikan diri, dekapan yang bertubi-tubi dia rasakan mengembalikan kesadaran atas situasi yang ada.
Suara Bhumi, adalah suara yang sangat ia butuhkan, suara yang dia rindukan sejak awal Aryo membopongnya.
" Di...dia ..."
" Shhuuuttt...sudah..semau sudah aman, tenangkan diri mu, sayang...." Bhumi memeluk erat Shavara, mengecupi keningnya berulang kali.
" A..aku..di..dia...."
Bhumi mengusap-usap punggung mungil yang bergetar itu, ia mengukung Shavara dalam dekapannya.
" Sepertinya mereka tidak jera dengan apa yang sudah mereka alami." Erlangga mendorong kasar Monika ke dalam kamar, dia sangat kesal dengan kelakuan biadab keduanya yang tiada habisnya.
" Sebaiknya kita kasih apa yang mereka mau."
" Maksud Lo?" tanya Adnan.
Erlangga mengambil bungkusan kecil yang berisi serbuk putih. Ia mengeluarkan sapu tangannya lalu menghampiri Kinan.
Tanpa basa-basi Erlangga memasukan setengah serbuk itu ke dalam mulut Kinan, pun demikian juga pada Aryo, tubuhnya yang terkulai tidak berdaya, Namun dia masih diambang sedikit kesadaran, belum sepenuhnya pingsan.
" Itu apa?" tanya Bisma.
" Obat perangsang, kita lihat tersiksanya mereka di mana tubuh mereka yang tidak berdaya itu ingin dipuaskan. gue minta yang dosis tinggi. Cctv juga sudah menyala." dagunya menunjuk tiga cctv yang ada di dalam kamar yang hanya menyala atas permintaan penghuninya.
Semuanya terkesiap menahan napas, mereka tidak bisa membayangkan tersiksanya dua orang laknat itu menangani gejolak bir4hi dengan tubuh lemah itu.
" Gue udah buka kamar di sebelah buay kita nonton. Bawa aja mereka ke sana. Biar di sini gue sama Anan yang urus."
Hanya Kenzo dan Bisma yang mengisi kamar tersebut, Bhumi dan Wisnu memutuskan membawa Shavara ke hotel terdekat bersama Berliana dan Mira yang keadaanya Sam berantakannya.
Melalui televisi berukuran 45 inci mereka menyaksikan apa yang dilakukan Erlangga dan Adnan.
Tanpa sungkan mereka berdua melucuti semua pakaian tergetnya hingga polos, Bisma yang menenggak saliva melihat tubuh mulus Kinan sedangkan Kenzo melihat dengan sorot datar.
Erlangga menyiram wajah mereka dengan air yang terdapat dalam teko yang disiapkan di atas nakas.
BYURrr...
Mereka gelagapan namun detik kemudian mereka kembali memejamkan mata, tapi sedetik kemudian mata mereka kembali terbuka walau terlihat memberat.
Tubuhnya mulai meliuk, tangan yang lemah mulai menari menggerayangi diri sendiri.
Erlangga dan Adnan beranjak berdiri," Sepertinya obat itu sudah bereaksi. Kita pergi kecuali Lo mau dilahap dia."
"N4jis,biar gue sang3an gak modelan nenek lampir macam dia juga kali." Erlangga menutup pintu yang sudah Riska tersebut.
" Kalian jaga." pintanya pada para penjaga club'.
Di kamar hotel, kondisi Shavara belum membaik, meski sudah tidak lagi menangis, namun sorot mata yang kosong mengusik mereka.
Bhumi membaringkan Shavara di atas kasur, namun Shavara tidak mau melepaskan lilitan tangannya di leher Bhumi.
" Ja..jangan...tinggalin aku...."
Bhumi turut membaringkan diri di samping Shavara, tangannya masih setia mengelus punggung kecil itu.
" Gak akan, sayang. Aa cuma ingin mengisi air bak, kamu ahrus membersihkan diri."
tubuhnya Kemabli gemetaran, tangisannya kembali nyaring menggema mengisi kamar yang semula hening.
Wisnu bergegas memasuki kamar tanpa permisi," Kenapa?" tanyanya cemas.
Bhumi menggeleng," Namun tak urung dia lebih mendekap Shavara.
" Di..dia....ci..vm..A..aku..." lirih Shavara.
" Ba..dan..aku...ko...tor....di..su..dah... menyentuh,..huhuhu..hiks..." tubuh Bhumi menegang setelah mendengar itu.
Wisnu tidak beda jauh, dia menggeram, merasa dirinya gagal.
" Aa, siapin air dulu ya." Wisnu berlalu ke kamar mandi sebelum mendapat jawaban dari keduanya.
aliran air mengisi bak menyamarkan tangis Wisnu, ia mengepalkan tangan karena masih kesal, dia ingin kembali ke club dan menghabisi nyawa Aryo.
Begitupun dengan Bhumi, dalam temaramnya ruangan bercahaya kan sinar bulan, tanpa Shavara sadari wajah yang bertopang di atas kepalanya, kini basah dengan air mata yang keluar dalam diam Bhumi, hanya eratnya pelukan Bhumi yang mengukung tubuh Shavara upaya Bhumi menyalurkan emosinya
Dua pria gagah yang merasa kalah karena kelalaian mereka.
" Airnya sudah siap. Gue di laut kalau Lo butuh sesuatu."
" Thanks, bro."
Shavara diam bergeming bagai porselen saat Bhumi melepas jaket dan pakaian yang membalutnya. Dirinya pasrah kalah Bhumi melepas semau pakaiannya, dan pakaian yang dia kenakan. tatapannya kosong bak tidak bernyawa.
" Sayang, jangan begini, please.. Aa gak bisa melihatnya." kening mereka beradu, tangan Bhumi membingkai wajahnya.
Shavara menjauhkan wajahnya, mencoba memberanikan diri melihat suaminya." Aku tidak lagi suci, dia sudah menyentuhku, kalau kamu ingin meninggalkanku, aku...."
Bhumi merapihkan rambut Shavara," sshhht...tidak ada ayang akan pergi, kamu masih Shava ku yang dulu. Aku mencintaimu dan tidak berkurang sama sekali.
" Tapi aku sudah ternoda."
" Kita mandi, kita bersihkan, kita bilas dimana dia menaruh noda itu."
" Bereng kamu."
" Hmm, tentu sama aku."
Namun muka Shavara kembali meringis mewek, " Apa aku masih pantas untuk mu?"
" Selalu, kita berdua saling memantaskan diri." Bhumi membopong ala bridal istri menuju bak yang sudah terisi air hangat.
Di dalam bak mereka duduk saling berhadapan dengan Bhumi yang memperhatikan Shavara yang mengusak-usak keras tangan, leher, wajah dan bagian depan tubuhnya.
" huhuhu..hiks...huhu..." Shavara menggosok-gosok tubuhnya kuat-kuat, ia mengusap sekitar leher dan dadanya sampai tangannya memerah.
" Sayang, jangan begini. Biar aku yang bersihkan." Bhumi mengambil tangan Shavara untuk dia genggam.
" Lantas bagaimana? Dia..."
Bhumi memegangi wajah Shavara, ia hadapkan padanya, netra mereka saling berpandangan.
" Sebutkan di bagian mana saja dia menyentuh mu?" Bhumi sudah bisa menebak, tetapi dia ingin istrinya menyebutnya sendiri.
Dia ingin Shavara keluar dari penderitaannya, dia paham betul dengan sakit jiwa ini, bertahun-tahun dia melihat ibunya berjuang, dirinya berjuang, dia tahu betul bagaimana sakitnya jika jiwa yang menderita berlarut-larut dibiarkan, dan dia tidak ingin istrinya mengalami itu, trauma, hal yang tidak ingin istrinya lalui.
Shavara menggelengkan, ia tidak sanggup." please, kita harus membersihkannya."
" Ta..tapi ..."
" Aku gak mau kamu terus menangisi diri, dan merasa tidak pantas.kita akan membersihkannya bersama-sama kan!?"
Shavara mengangguk, pancaran mata Bhumi yang masih sama padanya membuatnya merasa lebih baik.
__ADS_1
" A, aku mencintaimu." ucapnya sepenuh hati. Ungkapan yang berisi pengharapan dan permohonan.
" Aku lebih mencintaimu. Sangat mencintaimu. Di sini, di sin..di sini..." Bhumi mengecupi wajah Shavara.
Turun ke leher, di sana ia memperlakukan Shavara dengan lembut, dia ingin Shavara tahu bahwa dirinya masih memujanya,asih tergila-gila padanya.
Terus menuruni ke bagian depan lainnya, mengecup, menghisap, dan memainkannya. Bhumi bertekad Shavara melupakan tragedi malam ini dan berganti dengan hal yang memabukkan.
Di ruang tamu, Berliana dan Mira setia menunggu, sementara Wisnu membuat coklat panas di pantry.
" Minum lah." Wisnu menyodorkan dua cangkir coklat itu pada mereka.
" Terima kasih, pak."
" Maaf, kejadian ini karena kami." Berliana membuka mulut.
" Kalau saja saya...."
" Ini salah saya yang minta anter Kenzo untuk ke toilet. Sementara Bisma masih belum usai pipisnya." potong Mira.
" Andai saya bersabar menunggu seperti apa yang Kenzo pinta, saya yakin Ana tidak akan diserang nenek dakjal itu, dan Vara tidak akan di..."
" Tidak da yang salah, mereka yang salah ganggu kalian." seru Wisnu dari sofa yang dia duduki.
" Maaf, saya belum sempat memeriksa kamu, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya pada Berliana. Ada seberkas khawatir menghinggapinya.
Wisnu beranjak mencari kotak p3k saat menyadari beberapa luka di bagian tubuh Berliana.
" Iya, saya baik-baik saja."
" Tidak perlu sungkan, kamu tanggung jawab saya." Wisnu duduk di meja berhadapan dengan Berliana.
Ia menaruh kotak tersebut di sampingnya, membuka lalu mengambil hal-hal yang ia perlukan.
" Biar Mira yang bersihkan." Berliana menahan tangan Wisnu yang siap membubuhkan obat ke lukanya.
" kamu marah sama saya karena lalai menjaga kamu?"
" Ti..tidak..tapi..." matanya melirik pada Mira.
" Kamu keberatan kalau saya mengobati teman kamu?" tanya Wisnu pada Mira.
" Tidak, pak. sekalian dinikahi juga gak masalah. Silakan, teruskan pengobatannya pak."
" Saya sudah buka satu lagi kamar baut kalian istirahat, Vara sudah da Bhumi yang menjaganya.
" Ta..tapi kami ingin..."
" Please, turuti perintah saya, saya sendiri ingin istirahat. dan tidak akan bisa melakukannya kalau harus menjaga kalian secara bersamaan."
Tok..tok...
Mira beranjak membuka pintu yang langsung diterjang aditya cs yang masuk tergesa-gesa.
" A, bagaimana keadaan teteh?" todong Aditya dengan tuat cemasnya.
Mereka sedang asik menikmati jalan-jalan malam saat Bisma menelpon mereka untuk pulang ke hotel dimana Wisnu membuka kamar padahal waktu janji temu belum jua usai.
Bisma lantas secara general menerangkan apa yang terjadi dengan Shavara yang membuat para remaja itu mau tidak mau menyudahi kulinerannya.
" Sedang istirahat."
" Kalian juga mending istirahat. Bian, tolong buka kamar buat kalian. ini kartunya." Wisnu memberi kartu debitnya.
" A, aku ingin tahu bagaimana ini..."
"Besok, kita bicara lagi. Tunggu bang elang dan bang Anan. Aa juga capek."
Melihat wajah lelah kakaknya mereka pun menuruti perintahnya, menunda rasa penasaran mereka.
Kamar kini sudah sepi, hanya Wisnu yang masih duduk setengah berbaring menunggui mereka.
Mata terbuka kala Bhumi keluar dari kamar." Bagaimana dengan Vara?"
" Sudah lebih baik. sedang tidur."
" Lo udah makan? Gue kok laper ya." Bhumi menuju pantry.
" Gue pesanin makan ya."
" Biar gue pesan ke Anan, dia sama Elang otw sini."
tidak lama suara ketokan di pintu mereka. Wisnu membukanya, matanya menyipit memusuhi saat Monika diantara mereka.
" Kenapa bawa dia?"
" Disuruh Bhumi. Gue juga gak paham buat apa." jawab Adnan ngeloyor masuk.
" Pak, Adit sudah datang?" tanya Kenzo.
" Sudah tadi."
" Gue cuma bisa beli mecdi, cuma itu yang bisa dibeli dengan cepat." ucap Erlangga. Bisma menaruh tiga paper bag ke atas meja.
" Yang lain mana? Gue pikir banyak orang makanya gue beli banyak.
" nanti juga pada kemari, gue suruh mereka beristirahat dulu."
" Di kamar masing-masing. Bawa dia satu kamar sama Ana dan Mira." Wisnu menggunakan dagunya menunjuk Monika.
" Ja..jangan...aku .gak..."
" Diam, lont3, Lo pikir kita bakal dengerin apa yang Lo mau." Erlangga menyeret Monika menggunakan rambutnya.
" Di mana kamarnya?"
" Sebelah."
" Busyet, Lo gak nanggung-nanggung buka beberapa presidential suit." seloroh Adnan.
" Gue kaya makanya p3rwk macam dia ngincer gue."
Sakit hatinya Monika, dia tahu sekarang dia seorang wanita panggilan, tapi tetap saja disebut dengan panggilan hina itu tetap membuatnya merasa rendah.
" Nu, udah kasih tahu Mama, Papa?" tanya Bhumi.
" Nanti saja lah. kita makan dulu, mereka juga pasti masih pada tidur."
" Bhum, sorry. Gue beneran nyesel gak becus jagain Vara." ucap Adnan lesu.
Bhumi menatap Adnan," Pengennya gue marah, tapi di sini gue juga yang salah. Dia tanggung jawab gue, jadi gue rasa gue ga bisa menaruh kesalahan di Lo semua."
" Kita sudahi siapa yang salah, di sini mereka yang mutlak salah. Gak bisa menikmati hidup, dan merusak liburan kita." Seru Wisnu.
Erlangga masuk bergabung dengan mereka, dia langsung melahap makanan yang tersaji." apa mereka mau nerima tu cewek?" tanya Adnan.
Erlangga mengangguk," Mira terlihat bersemangat menarik masuk Monik."
" Justru itu gue takut Monika gak utuh, bang. Mira bar-barnya kelewat parah. tanya aja sama teman kampus kalau Lo gak percaya." sahut Bisma.
Drrt...drrt...
melihat siapa yang menelponnya, ia menghela napas gusar sebelum menjawab panggilan itu." Hallo."
" A, di sana baik-baik aja kan? kok Papa meras agak tenang ya." ucap Anggara di seberang.
" Memang ada beberapa insiden, pa. Tapi sudah bisa kita atasi. Papa kemari pagi aja, sekalian jemput ibu."
__ADS_1
" insiden apa?" tanggapan Anggara yang tegang menular pada Wisnu dan kawan-kawan yang menjeda acara makan mereka....
Jangan lupakan tinggalkan like❤️, komen,vote bintang lima, dan hadiah ya...