Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
55. Beres Urusan.


__ADS_3

" Bhumi, ada apa?" Rianti turut berlari panik keluar rumah mengikuti putra sulungnya.


Begitupun dengan yang lain, mereka pun turut berlari.


Bhumi seakan tuli, dia terus berlari ke arah motor yang terparkir di luar pagar.


" Bhumiii... nak, tenang dulu, ada apa?" Rianti berhasil menggapai tangan Bhumi saat dia hendak menaiki motornya.


" Si Kinan itu mendatangi Shavara di kampusnya, Bu." ucap cemas Bhumi.


" Kenapa kamu takut kalau memang diantara kalian tidak ada apa-apa, seharusnya kamu santai saja." ucap Anggara.


" Om, saya bukan mengkhawatirkan soal saya dan dia, tapi wanita itu sudah tidak waras, Om. bisa saja dia bertindak agresif sama Shava. saya hanya mencemaskan kondisi Shava, Om."


" Gue ikut Lo." ucap Wisnu.


" Gue juga." Adnan dan Erlangga pun berkata sama.


" Boleh saya bawa anak saya? saya akan bantu kalian, tentu saja tapi saya tidak ingin langit melihat kelakuan ibunya." tanya Erik.


" Bawa saja, dia anak Lo kan?" ucap Bhumi sengit.


" Terima kasih." segera Erik menggendong Langit menuju mobilnya.


" Tunggu, ada barang-barang bawaan langit di dalam."


Saat Rianti kembali masuk, Fathan mencegahnya, ia yang lantas mengambil semua barang bawaan langit dan memberikannya pada Erik.


" Saya pamit, dulu." Erik pun melajukan kendaraanya.


" Bu, aku pergi dulu, aku gak bisa biarin Shava mengahadapi dia."


" Iya, pergi lah." Bhumi melajukan motornya dengan kecepatan penuh disusul para sahabatnya.


" Runyam amat perasaan gara-gara jamet satu ini. penasaran kayak gimana bentukannya."


" Lumayan cantik, tapi khas wanita 'main' gitu." julid Rianti.


" Cih, kenapa wanita macam itu lebih banyak menjamur ya ketimbang wanita baik-baik."


" Kebanyakan makan micin kali." celetuk Anggara yang melangkah masuk ke dalam rumah.


" Micin lagi yang disalahin, kasian amat si micin." gerutu Fena, Fathan dan Rianti terkekeh geli.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Seorang wanita sexy dengan dress di atas paha berdiri menyandar di pintu mobil Brio dekat gerbang kampus memperhatikan setiap orang yang melewati gerbang tersebut.


Di dalam kelas mahasiswa ribut kecewa dengan tidak hadirnya Wisnu, tidak biasanya dosen super-duper disiplin nan galak itu abstain tanpa keterangan.


" Var, Aa Lo yg galak itu gak ngomong apa-apa kalau gak mau masuk, gue cuma sekelas doang hari ini, udah demi ni, eh kagak masuk lagi bete bet dah." dumel satu mahasiswi yang terlihat jelas diburu waktu saat masuk kelas tadi.


Sejak skandal Aryo dimana Wisnu membela Shavara tempo hari, satu kampus kini sudah tahu jika dosen irit bicara nan dingin namun manis tersebut adalah kakak kandung Shavara.


" Enggak, tadi perasaan di rumah pak Wisnu udah siap-siap pergi dah." jawab Shavara.


" Ngantin yuk lah, gue sih seneng aja beliau kagak masuk walau kecewa kan seharusnya gue masih bisa tidur, tapi karena gue belum siap presentasi, gue nikmati keadaan ini." ucap Bima senang.


" Emang Lo gak pernah siap, bahlul.," cibir mira. Shavara dan para sahabat berjalan keluar kelas.


" Mending kita nge-mall, Lo udah beli hp baru belum, Var?" seru Berliana.


" Belum, tempo hari gak jadi beli keburu gue ngambek."


" Tukang ngambek Lo, cowok Lo ntar kabur lho." Bima menakut-nakuti Shavara.


" Itu kalau lo cowoknya, Bima mah pengen senengnya doang tapi gak mau berbagi sedih." cibir Mira.


" Ck, buk..."


" Stop, gue ada kabar buat kalian." potong Shavara mencegah adu omong yang tidak berkesudahan antara Bima dan Mira.


" Ape?" Bima mendelik sebal pada Mira


" Gue mau nikah Minggu depan." para sahabat diam mencerna, baru detik berikutnya heboh gak karuan hingga menarik perhatian beberapa mahasiswa di sekitar.


" Lo hamil?" celetuk Kenzo.


pletak...


Refleks Shavara menjitak kepala Kenzo.


" Ada gak pikiran yang lebih mulia di otak Lo kenapa gue nikah muda?"


" Lo udah di gol?" timpal Bima yang langsung mendapat tendangan di tulang keringnya dari Berliana.


" Gue masih ori, sempit, sepet. kayak daun sirih. gue nikah karena cinta."


" Hueks...." Bima meledaknya, berpura-pura muntah.


" Seriusan cuma itu?' sangsi Kenzo.


" Iya, Zo. gak semua cewek murahan kayak cewek-cewek di sekeliling Lo."


" Cakep." sahut Mira sambil tersenyum miring.


" Aku tahu, kan kamu enggak murahan."


" Jiaaaa...udah aku-kamu, perjodohan ini kayaknya bakal gong ini, Na." teriak Bima pada Berliana yang menahan senyum.


" Jangan mulai."


" Mir, jangan gengsi. terima nasib aja, biar Kenzo playboy, gue yakin kalau Lo jadi pasangannya dia bakal meleyot kayak ubur-ubur." seru Shavara yang mendapat delikan dari Mira dan kekehan dari para sahabatnya, termasuk Kenzo.


Mira dan Kenzo yang dijodohkan untuk kepentingan bisnis dua keluarga berusaha menerima keadaan.


Saat menuju kantin, mereka berpapasan dengan Aryo yang tengah adu mulut dengan Monika.


Tiba-tiba Aryo main tarik tangan Shavara yang langsung ditahan Kenzo dengan memegang satu tangan lain.


" Kalau mau ngomong tinggal permisi, gak usah kasar, lepas gak? atau Lo bakal dipermalukan kembali."


" Lo siapa?"


" Banyak bacot, lepas."


" Lepas, by. kenapa kamu masih peduliin dia?" Monika menghentak tangan Aryo dari tangan Shavara.


" Ck, diam. cerewet. Var, kita bicara yuk, aku mau minta maaf sama kamu."


" Gak mau."


" Var, aku minta baik-baik lho ini gak sopan banget nolak."


" Dih, dibilang dia gak mau malah maksa, gak banget jadi cowok." cibir Mira.


" Yo, gue udah maafin Lo. pergi sana."


" Kalau gitu minta Aa Wisnu buat tarik omongan dia ke Akbar Hartadraja, kamu tahu, perjanjiannya bisnis aku batal karena kakak kamu itu yang mensabotasenya."


" Bilang aja sendiri. gue mah ogah berurusan lagi sama Lo."


" By, udahlah. jangan ngemis sama anak manja ini, kita cari klien lain. yuk kita pergi." Monika menarik tangan Aryo yang langsung ditepis olehnya.


" Kamu pergi aja dulu, jangan ngerecokin kalau gak bisa bantu."


" Jangan nge-drama di sini. Vara, Lo cabut duluan aja sama Ana dan Mira. soal mantan Lo biar gue sama Bima yang urus." ujar Kenzo.


Berliana menarik tangan Shavara untuk pergi dari situ, mereka batla ke kantin dan memilih ke cafe depan kampus.


Saat ketiganya berjalan santai sambil bercanda ala mahasiswi, dari arah depan ad ayang memanggil Shavara.

__ADS_1


" Shavara."


Mereka berhenti melangkah, memperhatikan orang yang memanggil Shavara dengan suara lembut tersebut tengah berjalan mendekati mereka.


Wanita dengan dress tanpa lengan dengan high heels berjalan percaya diri sambil mengibaskan rambut sebahunya menghampiri mereka.


" Dia kira lagi iklan shampoo kali ya, gue yakin banyak ketombe yang berterbangan itu." julid Mira.


" Iyuh Mir, jorok banget omongan Lo. Var, Lo kenal dia?" bisik Berliana.


" Cuma lo cewek body goals yang gue kenal." jawab Shavara.


" Terus itu siapa manggil Lo?"


Shavara menggeleng," Gue juga baru tahu kalau gue banyak penggemarnya."


" Lawakan Lo fitnah banget." cibir Mira.


" Iya, kamu siapa ya?" tanya Shavara.


Kinan mengulurkan tangan dengan senyum manis di bibir." Maaf ya bikin kamu bingung. kenalkan saya Kinan Purba, calon istri dari Dewa, lelaki yang kamu rebut."


Mereka bertiga mengangkat alis dengan pernyataan Kinan barusan." Ck, satu lagi hama yang harus dihempaskan." sindir Mira menggerutu.


' Pardon me?" Kinan khawatir salah dengar dengan kata-kata kasar itu.


" To the poin aja langsung maunya apa, Tan." tembak Mira.


Kinan melongo dipanggil Tante, heull, gak liat body mulus gini, ia pun bersedekap perut, " aku mau kamu jauhi Dewa, stop menggoda dia."


Tiga gadis itu mengernyitkan kening, " Situ waras? baru keluar rumah sakit jiwa?" cibir Mira.


" Bisa kamu diam, aku gak punya urusan sama kamu, tapi kamu yang paling berisik."


" Karena omongan Lo yang paling erorr. kenal kagak, main perintah aja, tentang laki orang lagi."


" Shavara, kamu hanya pelampiasan Bhumi selama aku pergi, jadi aku ingin mengambil apa yang memang milik aku."


Shavara diam, ingin mendengar lanjutannya.


Kinan membasahi bibirnya,sebelum melanjutkan kata-katanya. Dia dipenuhi rencana menurunkan mental Shavara." katakanlah kalian selama ini pacaran, tetapi kamu pasti kesepian karena dia tidak pernah menyentuh mu, kan? dia tidak memiliki gairah dengan mu kan? dia begitu datar dan dingin itu bukti dia gak suka kamu, karena dia gak akan menyentuh yang tidak dia sukai."


Shavara menggigit bibir dalamnya menahan senyum," dia lakukan itu ke kamu, ya? kok tahu banget."


Shavara menyingkap rambutnya ke belakang, memainkan kerah leher turtle necknya hingga terlihat tipis jejak-jejak merah di leher Shavara dan dipastikan Kinan melihatnya.


Dan Shavara tahu pasti bahwa Kinan telah melihatnya, terbukti mata Kinan membola besar dengan mulut menganga, tangan mengepal kuat.


" Aku gak tertarik mengumbar kegiatan mesra kami, karena itu privasi dan aku menghargainya, namun yang pasti aku gak punya masalah dengan itu." ucap Shavara lembut namun menekan.


Jari telunjuknya sengaja bermain-main di sekitar leher dekat rahang yang Shavara ingat pasti di sana masih nyata bekasnya.


" Mir, pinjem hp Lo." pinta Shavara.


" Buat apa?"


" Gue makan, cepatan pinjem hp Lo." Shavara mengulurkan tangannya.


" Ck, ni. jangan berantem cuma gara-gara dedemit ini."


" Tergantung."


Shavara mengetik nomor Bhumi di ponsel Mira lalu menekan icon hijau. mata Shavara membalas tatapan intens Kinan.


Telpon di jawab pada dering ke tiga." Hallo."


" Mantan kamu mendatangi aku, ni. dia minta aku jauhin kamu. gimana baiknya ya ini?"


Kinan panik, ia pun merebut ponsel dari Shavara." Ngapain kamu nelpon Dewa.." ucap Kinan marah.


" Terus aku telpon siapa, tukang parkir kampus? aku gak mau rebutan soal cowok. apalagi ribut. kalau ini soal kak Bhumi, ya harus ada kak Bhumi-nya buat selesain


masalah kamu. ngapain kamu pake labrak aku."


" Kita bisa bicarakan baik-baik."


" Ya harus ada kak Bhumi-nya juga kan? kalau enggak yang ada malah ribut gak jelas."


" Wow, dewasa sekali sahabat aku ini, beda sama situ yang umur banyak tapi macam anak-anak. main labrak bae, model-model tukang playing victim sih ini mah." cibir Mira.


" Bisa mingkem gak mulut kamu."


" Enggak, ngadepin cewek model Lo kesenangan gue yang lagi butuh pelampiasan dari perkara proposal judul." culas Mira makin jadi.


" Mau nunggu di mana, mbaknya?" tawar Berliana.


" Na, ada apa?" tanya Kenzo saat dia dan Bima menghampiri mereka.


" Ni si tante Tante, ngaku-ngaku calon istrinya kka bhumi, terus nyuruh Shavara putus dari kak bhumi." Mira yang menjawab.


" Situ pelakor?" tembak Bima santai.


Kinan melotot kaget," Jaga ya mulutnya, saya wanita baik-baik yang minta teman kamu buat gak ganggu calon suami saya." tunjuk Kinan pada Shavara.


" Jaga juga lambe mu, Tan. jangan ngaku-ngaku calon suami orang dong. keciri banget kan pelakornya. ngaku aja situ pelakor." mulut Mira memang harus dijahit.


" Shava." panggil seseorang yang sedikit meninggikan suaranya.


Bhumi dengan setelan formal dibalut jaket turun dari motornya.


" Amsyong, damage sugar daddy-nya mantap jiwa." gumam Mira terpesona.


" Dewaaa..." Kinan langsung nemplok di lengan Bhumi yang tidak dihiraukan oleh sang empunya yang lebih tertarik memeriksa tubuh Shavara.


" Kamu baik-baik aja?" Bhumi menggenggam tangan Shavara dengan raut khawatir.


" Cepat amat, bang nyampenya." ucap Bima.


" Khawatir sama calon bini takut diapa-apain." jawab Bhumi langsung sambil meneliti Shavara.


" Dewa, aku lho yang mereka keroyok." rengek manja Kinan.


" Lebay, alay. gak inget umur, cuih banget dah." cibir Mira.


" Kita ke ruangan gue aja, Bhum." ujar suara datar dari wisnu yang turun dari mobil yang disopiri Adnan.


" Mending ke warungkita, gak enak kalau di sini." seru Bhumi.


" Ya udah kita langsung ke sana. Kenzo, kamu bawa perempuan menyebalkan ini, jangan sampe dia lolos." ujar Wisnu.


" Gue sama Dewa pergi ke sananya." kata Kinan namun tidak ada yang menggubrisnya.


Bhumi sudah menarik tangan Shavara untuk ke motornya, sedangkan Kenzo langsung menyeret Kinan yang terus berteriak menolak yang mendapat perhatian dari orang-orang yang lewat.


" Tante, mending diem. gak bakal ada yang respon Lo. bang Bhumi udah jalan jauh."


❤️❤️❤️❤️


Ruang kerja Bhumi kini diisi Wisnu dan Shavara yang duduk bersampingan di sofa panjang, Erlangga dan Adnan duduk berpencar, serta Bhumi sendiri duduk di kursi kebesarannya.


Sementara para sahabat Shavara di lantai satu menikmati traktiran Bhumi sebagai bentuk terima kasih sudah menolong Shavara.


Kini Kinan duduk di sofa tunggal di tengah-tengah mereka.


Bhumi menarik kursi kerjanya ke hadapan Kinan, dia duduk mencondong dengan tangan menumpu di kedua pahanya dengan mata menatap tajam pada sang pesakitan


" Kinan, gue gak ngerti lagi bahasa apa yang bisa Lo pahami kalau gue nolak Lo, dari kata-kata halus, sampai kasar. dari bahasa sindiran sampai terang-terangan. masih aja Lo ganggu gue."


" Karena aku memang gak mau kamu tolak aku, Dewa. kalau kamu kasih aku kesempatan kita bisa kembali merajut kasih kita."


" Dari Kata mana yang gak Lo ngerti omongan gue kemarin malam, gue gak minat sama Lo apalagi suka."

__ADS_1


" Kamu dulu suka aku, sekarang pun aku bisa bikin kamu suka."


"Itu yang gue penasaran, Kenapa Lo segitu sukanya sama gue? perasaan dulu gue enggak ng-treat Lo sedemikian rupa."


" Aku suka kamu, hanya itu alasannya."


" Tapi gue gak suka Lo, gue suka dan cintanya sama Shavara seorang." tekan Bhumi.


Kinan menggeleng cepat, ia meraih tangan Bhumi lalu menggenggamnya. melihat Bhumi membiarkan kinan memegangnya membuat hati Shavara panas. dia meremas ujung bajunya menahan emosi.


" Enggak, Dewa. kamu gak cinta dia. kamu hanya menjadikan dia pelampiasan karena perselingkuhan aku dari kamu."


" Sorry, Kin. perasaan gue gak sedalam itu bikin gue galau, bahkan gue gak Inget gue cemburu. gue ikhlas dan senang malah waktu Lo mutusin gue."


Kinan menggeleng, genggaman tangannya semakin erat." tidak ada lelaki yang bisa melupakan aku, termasuk kamu, Dewa.


" Bingo." Bhumi melepas kasar tangan Kinan, ia menjentikkan jari yang membuat orang-orang bingung.


" Dewaaa..." Kinan ingin Kemabli menggapai tangan mantannya namun ditolak oleh Dewa.


" Itu,..itu dia yang bikin Lo terus ngejar gue. Lo,..." telunjuk Bhumi menunjuk Kinan." yang merasa sebagai penakluk lelaki sakit hati gue gak cinta sama Lo, sewaktu Lo selingkuhi gue, Lo berharap gue marah, gue galau, gue kecewa, tapi nyatanya gue biasa-biasa saja. ego Lo terpental, jiwa Lo tersiksa ada lelaki yang tidak terpesona oleh kecantikan Lo yang Lo gunakan untuk menaklukan mangsa Lo, lo gak cinta gue, tapi Lo penasaran ingin menguasai diri gw seperti korban-korban Lo sebelum gue." Bhumi bersandar, dia mendorong kursinya menjauhi Kinan.


" Dewa, aku gak gitu, aku tulus cinta kamu."


" Gue gak peduli, Kinan. tapi Lo gak mau dengar itu. Lo akan terus ngejar gue sampai Lo mendapati gue bilang gue tergila-gila sama Lo, dan saat itu barulah Lo ninggalin gue."


" Dewa,..dengerin aku..."


mata Bhumi seketika berubah dingin" Lo yang harus dengarin gue, ini ultimatum terkahir gue buat Lo. menyingkir dari hidup gue, atau Lo jadi penghuni rumah sakit jiwa."


Kinan menegang di tempatnya, " kamu gak bakalan tega, Dewa."


" Coba saja."


" Dewa, kamu gak bisa sejahat ini sama aku." lirih Kinan.


Bhumi mengerang," mulai menjadi orang tersakiti, padahal elo yang bikin hidup gue runyam."


Kinan bingung bagaimana lagi membujuk Dewa agar menerima dia. " Dewa, mungkin kamu gak suk aku, tapi apa kamu tega membaurkan langit tanpa ayah? dia butuh sosok ayah."


" Dia sudah sama ayahnya, tadi dia senang berteman dengan Erik." jawab Bhumi santai.


Kinan melotot, " kamu bohong, kamu gak mungkin sejahat itu menolakku, kenapa kamu memberikan Langit padanya. kenapa kamu lancang, Dewa." teriak Kinan.


" Dia butuh pernah ayah, Kinan." telak Bhumi.


" Yang aku maksud itu kamu. di Amna langit sekarang?"


" Budeg, dia sama ayahnya, Erik Dewantara."


Kinan berdiri menatap tajam Bhumi, " Kamu akan bayar mahal atas kelancangan kamu." kemudian dia meninggalkan ruangan dengan menutup kasar pintu.


" Lah, kenapa endingnya dia yang marah?" tanya Adnan bingung. Bhumi mengedikan bahu.


" Yang penting dia kabur." ucap Erlangga.


" Urusan beres kan ya, hari ini gue gak ngajar cuma gara-gara hal yang gak jelas, gue cabut." Wisnu berdiri." kamu mau pulang bareng, dek?"


" Eh, i..."


" Shava, pulang bareng gue."


" Gue juga cabut. sorry Bhum, gue gak tahu kalau Kinan segil4 itu." ucap Adnan.


Sepeninggal mereka Bhumi menatap Shavara yang terus mencoba menghindari tatapannya.


Bhumi berpindah duduk di sampingnya, membawa Shavara kedekatnya, saat ingin menggenggam tangan lentik itu, Shavara menepisnya. Bhumi mengernyit bingung.


" Gak mau dipegang sama tangan yang udah dipegang mantan." judes Shavara.


Bhumi tersenyum lalu terkekeh." terus gimana ngilangin bakteri Kinan-nya, gak mungkin kan aku gak meluk kamu."


" Ya kamu cuci lah."


" Cuciin."


" Apa sih manja banget, awas jauh-jauh. aku anti pelakor ya."


" Aku gak bisa jauh dari kamu."


" Kamu mah mantan aja gak bisa dijauhin, buktinya dia pegang kau diem aja."


" Maaf, gak lagi-lagi. yang penting kan bukan aku yang megang, sayang."


" Sana ih, kamu cuci dulu, tangan kamu sekalian pake debu."


" Ya udah kamu cuciin."


" Issh, nyusahin aja."


Shavara akhirnya nurut, sambil menghentak kaki ia melangkah ke ruang pribadi.


Di wastafel dengan telaten Shavara menggosok-gosok tangan Bhumi yang melihat kelakuan calon istrinya dengan senyum geli.


Bhumi mengukung Shavara, ia menge'cupi rambutnya, terus merambat ke lehernya, dan berdiam betah di situ selama mencuci sambil sesekali menghirup wanginya dan mengigit kecil bahu mungil tersebut.


" Kak, geli. modus banget dah."


" Wangi, aku suka." wajahnya ia selundupkan di ceruk leher Shavara yang memiringkan kepalanya memberi akses di sana.


" Sampai kapan nyucinya tangan aku udah merah-merah, sayang."


" Ini udah." Shavara mengelapnya dengan tissue.


Setelah kering, Bhumi langsung mendekapnya dari belakang." Tadi aku panik banget, takut kamu marah." Bhumi menumpukan dagunya di atas bahu Shavara.


Melalui cermin tatapan mereka bertemu, Shavara mengusak rambut Bhumi." Aku gak se-childish itu ya."


" Tapi aku suka kamu cemburu. kamu gak diapa-apain kan sama dia."


Shavara menggeleng," dia cuma berusaha manasin aku supaya kita putus."


" Dia bilang apa?"


" Kalau kamu impoten."


mata Bhumi melebar," Gak mungkin, itu bohong, kamu udah pernah megang dia, kan."


Shavara tertawa kecil jenaka, Bhumi menyipit meragukan ucapan Shavara." dia gak bilang gitu, kamu bohong kan."


" Hahahaha, lagian percaya aja, tpai serius dia bilang kamu gak napsu sama aku, karena kamu gak cinta aku."


Bhumi mengetatkan pelukannya, Shavara menyandarkan diri sepenuhnya ke tubuh besar kekasihnya," Andai dia tahu betapa besar napsu aku ke kamu."


Bhumi menggesekkan bagian bawahnya seraya menghisap bawah rahang Shavara, tangannya naik mere'mas benda kenyal kesayangannya.


" Ssshhh, aaahhh...." Shavara merem melek menikmati ulah Bhumi.


civman Bhumi naik ke atas, menolehkan kepala Shavara dan dia ***** bibir ranum tersebut.


Civman itu semakin intens dan panas, Shavara memutar tubuhnya menyambut senang pag'utan lembut dari kekasihnya dengan mengalungkan tangan di leher Bhumi.


Tangan Bhumi mengelus intens punggung Shavara, seiring tangan Shavara mencengkram rambut Bhumi.


" Kita ke kasur, ya." ucap bhumi saat pag'utan itu terlepas.


" Bisa tahan gak nyoblos duluan?"


" Main bagian atas aja ya."


"Jangan ninggalin bekas, leher aku udah penuh."

__ADS_1


" Aku coba."


"Kyaaa..." jerit Shavara saat Bhumi menggendong dirinya ala koala berjalan ke atas kasur queen size tersebut...


__ADS_2