Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
65. Ulah Kinan.


__ADS_3

" fiyuuhhh...." Kinan merasa lega luar biasa bisa meninggalkan area lounge tanpa diikuti.


Tadi saat keluar dari pelataran lounge ia benar-benar menancap gas khawatir dibuntuti. aksi nekatnya bentuk keputusasaan dirinya sejak Bhumi menutup semua akses yang bisa menghubungi mereka.


" Eeeuuhhhh..." satu lenguhan terdengar dari jok penumpang belakang, Bhumi bergerak-gerak tidak nyaman.


" Dewa, kenapa?" suara lembut Kinan dan sikap sok tidak paham mencoba mengelabui Bhumi.


" Eeuuhhh....Aaarrgghh..." Bhumi menulikan pendengarannya dari suara Kinan yang mendayu rayu.


Duk..duk....


Bhumi mulai memukul-mukul jok melampiaskan hawa yang semakin panas.


" Wa, are you oke?"


" Berhentihh....aarggh...berhenti...."


" Gak bisa, kita lagi di jalan, sayang." Kinan melepas blazer yang dia kenakan.


Terpampanglah tank top pas badan menyuguhkan kulit mulus dari bahu sampai lengan.


" Eeeuuhhh.... Aaarrgghh..." Bhumi mengalihkan muka, ia mengacak rambut, ia meronta saat dorongan kuat dari dalam tubuhnya ingin menyentuh Kinan.


Ia membuka jendela mobil yang ternyata dikunci dari pengendali pengemudi.


" Buka...buka jendelanya....aaahhh...aaahhh..."


" Sorry, beb. gak bisah...udara dinginh bahayah." Kinan sengaja mengeluarkan suara mendesah saat berbicara.


Dan itu berhasil memicu sesuatu dalam tubuh Bhumi." Aaarrghhh..."


Dalam waktu bersamaan di ruang kerja Erlangga, Adnan berjalan bolak-balik terkadang menyambungkan telpon lalu mematikannya lagi.


" Nan, Lo ngapain kayak setrikaan gitu? udah telpon Wisnu belum?" Erlangga duduk di kursi kerjanya mengamati semua rekaman cctv yang terkait peristiwa Bhumi dan Kinan.


" Gue gak berani."


" Nan, gak lucu, kita udah deal Lo yang nelpon dia karena ini kesalahan Lo."


" Lo aja napa yang nelpon wisnu. dia galak, Lang."


" Tahu, dan Lo main-main sama calon iparnya, kan oon." sungut Erlangga.


" Menurut Lo kenapa Kinan nyulik Bhumi?"


" Mana gue tahu, dia kan emang sed3ng."


" Kalau karena duit, diantara kita Bhumi yang paling miskin. kalau karena cinta, Bhumi bukan yg paling jago. jadi ngapain si Kinan nyulik dia."


" Karena haus belaian."


" Hah?"


" sini Lo." Adnan berjalan ke meja lalu berdiri di belakang Erlangga.


" Lo lihat ini." tunjuk Erlangga pada penangkapan layar diana Bhumi mulai gelisah setelah meminum yang diberikan bartender.


" Gue hafal gelagat ini, karena sering nolongin Lo yang dijebak cewek-cewek matre."


" Dia diberi obat perangsang?" terka Adnan yang diangguki Erlangga.


Adnan kembali mondar mandir dengan sejuta cacian dan sumpah serapah mengutuk aksi Kinan.


" Panash...si4lan...aaakkhhh...."


" Aku perbesar volume ac-nya."


" Aaaaakkkrrrrggghhh...." erangan tertahan itu kian menyalang, Bhumi belingsatan, dan a sudah tidak tahan.


DUGH..DUGH...


" Dewa, astaga. stop nendang-nendang mobil aku." geram Kinan.


Dia kesal dengan jalan yang tersendat, ditambah Bhumi yang sedari tadi meraung kalap menendang memukul badan mobilnya.


" Panashhh..ah sial..panash..." teriak Bhumi frustasi, sesuatu dalam tubuhnya ingin disalurkan.


" Wa, ini ac-nya udah aku full,-in loh." Kinan sengaja sedikit mengangkat kakinya saat menoleh ke belakang.


Urat leher Bhumi menonjol kuat saat netranya melihat haha putih mulus yang tidak ditutup tok mini Kinan.


Kinan mengehentikan mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah, ia mencondongkan diri ke belakang.


Potongan tanktop yang menyembulkan dad4nya makin menyiksa Bhumi.


" Dewa, sayang. ada yang bisa aku bantu? aku gak ngerti ada apa dengan kamu, tapi kamu terlihat tersiksa." Kinan mengulurkan tangan hendak menyentuh paha Bhumi.


" Diam, bangs4t. Lo pikir gue tolol? gue tahu apa yang Lo lakuin ke gue?" murka Bhumi mehentak tangan Kinan.


" Ooh, kamu tahu, so kenapa kita enggak..."


CUIH....


Kinan terhenyak saat ludah yang disembur Bhumi mengenai wajahnya.


Kinan mengambil tissue dari dasboard, lalu membersihkan " Wa, kamu benar-benar gak menghargai effort aku buat kamu." suara Kinan mendayu sedih berharap memberi efek pada Bhumi.


" jauhhhh..jauhhh Lo dari gueeehhh..."


" Gak bisa, aku gak bisa lihat kamu menderita gini." Kinan berdiri hendak ke belakang.


Saat Kinan makin membungkuk hendak pindah ke belakang, belahan dad4 makin menumpahkan isinya.


" OOOHHH..****..." pekik Bhumi.


TINNN...TINNNN...


Beruntung lampu sudah berubah ke lampu hijau. Bhumi merasa lega, dia mengambil ponsel mencoba menghubungi seseorang, namun geraknya tertahan karena apa yang terjadi dengan dirinya.


Sedangkan Kinan merutuk gagal menggoda Bhumi, dia tidak menyangka Bhumi masih bertahan padahal Oba tyang diberi berdosis tinggi. dia memutuskan laju mobilnya.


Saat melihat wajah Shavara yang menjadi wallpaper-nya, demi mengalihkan pikirannya dan agar bisa menuntaskan dorongan yang semakin kuat, Bhumi menatap wajah Shavara sambil memegang miliknya.


" Nan, ngelihat gelagat Lo yang mencoba membuang waktu gue berpikir sesuatu tentang Lo."


Mata elang Erlangga tiba-tiba memicing menaruh curiga pada Adnan. " Mata Lo tolong dikondisikan ya, gue gak suka cara natap Lo ke gue." sengit Adnan.


" Lo gak kerjasama sama cewek gil4 ini, kan?"


"Apa maksud Lo? gue gak terima ya."


" Wajar kalau gue curiga, Lo ngebet banget ngadain ini party, padahal udah ditolak habis-habisan sama Wisnu dan Bhumi. Kinan juga teman lo." tekan Erlangga.


" Itu bukan alasan Lo curiga ke gue, gue gak sebego itu nyerahin Bhumi ke Kinan. dan gue udah gak temenan lagi sama si cewek rese itu. Sumpah ya gue tersinggung banget."


" Terus kenapa dia ada di sini?"


" Mana gue tahu, gue bukan satpam dia."


" Ya udah, kalau Lo gak terlibat, cepetan telpon Wisnu, gak lucu kalau dia diperkos4 cewek."


" Oke,oke ini gue telpon. tapi gue takut, takut. Lo tahu sendiri Wisnu kalau marah nyeremin abis."


" Ya tuhan, Anan. temen gue lagi dalam bahaya, Lo masih sempat mentingin diri sendiri? terlalu sih ini."


" Dia juga temen gue, bangs4t."


" Ya udah telpon." kukuh Erlangga.


" Iya, ini gue telpon."


" Awas aja Lo gak jadi telpon. gue telpon RaHasiYa, buat runtuhin kerajaan bisnis keluarga Lo, gue serius ini." ancam Erlangga.


Adnan menelpon Wisnu, namun sayang tidak dijawab. lantaran ponsel yang terus berbunyi itu tertinggal di atas meja makan yang belum ada orang yang menyadarinya.


Di rumah Anggara tengah diadain pengajian untuk kelancaran acara besok yang dihadiri para tetangga dan anak panti asuhan yang diundang, para wanita sibuk menyuguhkan makanannya dan mengatur hampers.


Di kamarnya, Shavara tengah dihias mahendi oleh sang ahli profesional bersama para sepupu lainnya.


" Gak nyangka aku, ternyata teteh duluan yang nikah. ku pikir teh Anjali yang duluan kan dia pacarannya udah lama." ucap salah satu sepupunya tidak ketinggalan Berliana dan juga Mira.


" Namanya jodoh, gak ada yang tahu gimana cara kerjanya." ucap yang lain.


" Ganteng gak, teh. orangnya?"


" Pasti Lahm teteh Vara, cantik, masa pasangannya B aja."


" Penasaran pengen lihat orangnya."


" Lihat aja di hp aku." ucap Shavara.


" Boleh?"

__ADS_1


" Lihat doang kan?"


Mereka mengangguk," Lihat aja ya, jangan ditaksir apalagi ditikung." peringat sepupu yang lain.


" Mana tega kita, itu sama saja dengan menghancurkan kekeluargaan." ucap yang lain yang mengambil ponsel Shavara.


" Mbak, ini masih lama gak?" tanya Shavara ke yang melukis mahendi.


" Bentar lagi, sabar ya, cantik."


" WAAAAWWWW.., ganteng abis..pantes teteh Vara mau dinikahi." maka mulai lah komentar mengenai Bhumi dari para sepupu Shavara.


Kinana memasuki area gedung apartemen mewah di mana dia punya unit di sini.


" Buka...BUKA PINTUNYA."


" Dewa, please jangan mengacaukan rencana aku. percaya sama aku ini demi masa depan kita."


" AAAKKKHHHH....Bhumi melepas bajunya karena dia sudah tidak tahan.


" Shava... Shava sayang..." Bhumi melonglong pilu sambil membuka kancing jeans-nya.


Kinan yang melihat dari kaca spion tersenyum smirk.


Kinan memarkirkan mobil, namun mesinnya masih menyala." Wa, ikut aku ke apart aku yuk."


Bhumi sudah tidak tahan, dia tidak menggubris omongan Kinan. kini bhumi melepas celananya, namun dibawah sadarnya mengacaukan niat itu.


Bayangan Shavara yang akan kecewa padanya, pernikahan yang terancam gagal.


DUG...DUG...


Bhumi memukul-mukul atap mobil sedan mewah itu," Dewa, stop. ikut aku, aku bisa nolongin kamu."


Kinan beranjak ke belakang, namun kaki Bhumi menendangnya membuat Kinan terjerembab di kursinya hingga tubuhnya terkena stir mobil dan membunyikan klakson.


TINNNN...TINNN...


Kinan terkejut, ia bergegas memperbaiki posisi mengabaikan bokongnya yang nyeri.


Buru-buru dia mematikan lampu saat dua satpam menoleh mencari asal suara.


" Diam di situ, jel3k...aaakkh...to..long..." Bhumi makin mengamuk.


" TO...LOOONGGGH....TOLONGGG...."Tendangan dan pukulan Bhumi layangkan untuk menyalurkan frustasinya.


" Shava...SHAVAAAA...TOLONG AKU...SHAVAAAAA...." Bhumi masih menyalurkan tenaganya ke sembarang arah.


" DIAM, DI SINI TIDAK ADA DIA, CUMA ADA AKU. Sebut namak, akan ku sembuhkan sakit mu, sayang."


Kefrustasian Bhumi menular ke Kinan yang mulai panik, karena dia salah perhitungan.


Seharusnya setelah Bhumi menenggak minumannya, Kinan harus segera membawanya bukan malah menunggu reaksi obat tersebut yang kini sudah bekerja.


Kinan memutar otak mencari cara membawa Bhumi masuk ke dalam tanpa dicurigai penghuni lain.


Bhumi mendorong ke bawah celana jeans-nya," Dewa, jangan di sini. kit ahrus masuk ke apartemen aku dulu." Kinan memegangi tanga Bhumi yang langsung dicekal kuat Bhumi.


" Ku..bunuh..kau setelah ini..." desisi Bhumi, tuhan..dia sungguh tersiksa.


Tiba-tiba, sosok tuhan sebagai penolong terlintas di otaknya.


" Wa, lepas.. Ini sakitttt ..." Bhumi melepas tangan Kinan


" Ya tuhan, ya Rabb...inikah siksa mu karena dosa-dosa ku..maafkan aku....aaakkkhh..tolong..tolong aku, tuhan.." Bhumi menumbuk-numbuk kepalanya ke punggung jok.


Kinan kalut, dia sudah diujung rencananya, dia tidak boleh gagal. jika dia tidak bisa memaksa Bhumi ke unit-nya, maka di mobil pun jadi. yang terpenting tujuannya berhasil.


Kinan mengeluarkan ponselnya, ia memasangnya di holder penyimpanan ponsel yang diletakkan di kaca spion.


Dia mengajak seseorang untuk melakukan video call, setelah memastikan kamera ponsel mengarah ke yang dia mau, Kinan bok*ngnya guna melepas rok mininya.


Bhumi yang melihat tubuh mulus Kinan memejamkan matanya merafalkan seribu do'a.


' Ya Allah, ini ini hukuman mu untuk atas apa yang udah aku lakukan, ku mohon izinkan aku bertaubat. lindungi aku dari fitnah setan ini, Allahu.." racau Bhumi, disela m membaca ayat kursi dan tiga Qulhu.


" Sayang, aku ke kamu ya..." Kinan mulai melangkah ke kursi belakang.


Duk...


" Adduhh..ssshhh..." Bhumi kembali menendang Kinan.


" Sayang, bisa gak gak usah pake tendang, aku mau nolongin kamu doang, gak ad maksud lain. kita keluar bereng-bareng yuk, aku rela kamu makan." rayu Kinan mengacaukan pikiran bhumi.


" Hah..hahhhhh..." Bhumi terus mencuci otaknya dengan azab dosa, atau memikirkan Shavara dan pernikahannya disela hasrat yang kian menggebu.


" Nan, Lo bum juga berhasil nelpon Wisnu?"


" Belum."


" Beneran Lo nelpon dia?"


" Ya tuhannn..ni, lihat ni." Adnan memperlihatkan panggilan ke luar dari ponselnya.


" A, hpnya ini, dari tadi bunyi terus tahu." adik dari Mamanya memberikan ponsel pada Wisnu yang duduk bersama dengan Aditya para sahabatnya termasuk Bian di ruang tengah.


Mereka masih duduk-duduk ngobrol dengan yang lain seusai pengajian yang sudah selesai dari 10 menit yang lalu.


" Makasih, Bi." saat Wisnu menerima ponselnya panggilannya berhenti.


Wisnu mengernyit saat melihat banyaknya panggilan dari Adnan.


" Abang mau telpon bang Anan dulu, ini dia banyak banget nelpon abang, biasanya dia bikin masalah kalau gini." Wisnu beranjak menjauh dari mereka sambil menelpon Adnan


" Siip, bang.


" Woy, Lo dari mana sih, gue telpon gak diangkat-angkat."


" Masalah apa yang Lo lakuin?" tanya Wisnu tidak menggubris ucapan tidak sopan sahabatnya itu.


" Iii...iii..niiii...soal Bhumi."


" Kenapa dia?"


" Bukan gue...tadi kan kita ke lounge Elang, terus gue ngadain acara buat dia, eh..ternyata..."


" to the pointnya apa? kalau Lo mau ngajak gue gabung, gue gak mau." tolak Wisnu sengit.


" Bu,..bukan..i..itu...tadi ada Kinan..."


" Weeeehh, calon ratu sehari baru turun." celetuk Devgan saat Shavara menuruni tangga sambil sibuk dengan ponselnya karena ada undangan video call dari nomor asing.


Wisnu menoleh pada objek yang dituju Devgan," Dek, jangan main hap sambil turun di tangga, jatoh entar." peringat Wisnu.


PRAK....


Memang ada yang jatuh, namun bukan Shavara, dia malah berdiri kaku dengan raut tegang mata membola lebar, selanjutnya tangisan Shavara menggema luruh seisi ruangan.


Aditya dan wisnu berlari menuju Shavara menangguhkan panggilannya dengan Adnan, disusul yang lain.


" Teh, kenapa? ada apa?" aditya panik melihat wajah Shavara yang syok.


Tangan Shavara menunjuk ke ponselnya yang tergeletak berjarak beberapa undakan tangga.


Bian yang berdiri paling bawah mengambil ponsel tersebut, matanya membelalak melihat apa yang dilihatnya.


Wisnu merebut ponsel itu, rahangnya mengeras. " Kamu bawa jaga teteh, dek." wisnu menuruni tangga.


" Ada apa?" Fena ikut panik pasalnya tangisan Shavara tergugu keras.


" A,..."panggil Anggara.


Wisnu memberikan ponsel Shavara pada Papa-nya.


Muka Anggara memerah karena marah." siap yang melakukan ini?"


" Ini masih live, Pa." Wisnu lantas Sadar kalau ia masih terhubung dengan Adnan, maka dia pun kembali meneruskan percakapannya.


" Lo dalam masalah, Nan. sebaiknya Lo kumpulan bukti kalau Lo gak terlibat atau Lo habis di tangan gue." Wisnu menutup telponnya.


Di sana Adnan terduduk lemas di sofa atas ancaman Wisnu, Erlangga menatap simpatik pada sahabatnya.


" Tanggung sendiri ya."


" Gue punya feeling Bhumi dalam bahaya." monolog Adnan.


" Pastinya, dia diculik, Man."


" Kenapa dia gak nyulik gue aja sih? duo gue lebih banyak dari pada Bhumi, gue juga lebih pro memuaskan cewek ketimbang Bhumi yang gue yakini masih perjaka."


" Karen Lo pasti dengan sukarela diperkos4, Gak tahu menantang jadinya." Erlangga berucap demikian sambil matanya sibuk ke layar komputer dengan tangan di atas kelincahan pergerakan mouse.


Wisnu menelpon Akbar Hartadraja tanpa menghiraukan jam berapa saat ini, dia begitu membutuhkan pertolongan koleganya ini.

__ADS_1


" Hallo."


" Sorry gue ganggu. gue Wisnu."


" Gue tahu, it"s okey. ada yang bisa gue bantu?"


" Bisa Lo minta tolong ke Mumtaz atau siapa saja di RaHasiYa baut nolongin temen gue?"


" Kenapa gak Lo langsung, Lo punya nomornya kan, kan kalian klien RaHasiYa."


" Iya, gue punya tapi gue segan, gue gak terlalu dekat dengan mereka."


" Sans aja sama Mumtaz mah, gue bukannya gak mau nolongin, tapi kalau Lo langsung, itu lebih efektif. aaah itu ada Adgar. Gar, sini Lo."


" Apaan?"


" Ini telpon dari Wisnu Nasution, dia minta bantuan ke Mumtaz, Lo telponin dia gih."


" Dia lagi di Rusia, NATO bikin ulah."


" *Ibnu?"


" Sama, lagi di sana juga."


" Udah sih Lo telpon dia, coba aja dulu. emergency ini, temennya dalam bahaya*." mendengar obrolan duo Hartadraja membuat kaki Wisnu lemas, dia pun duduk di sofa.


" Oke deh. tapi Lo jangan halangin gue ketemuan sama ical ya."


" Dia masih TK, Gar."


" Gue cuma main sama dia, tega Lo gak ngizinin sepupu main."


" Gue tahu Lo gak nganggep Ical sekedar sepupu. dia masih itik."


" Gue pasti jaga dia. Lo mau gak gue dukung soal percintaan Lo yang gak direstui itu, Inget gue CEO, omongan gue bisa jadi pertimbangan Kakek."


Wisnu gregetan mendengar obrolan itu, dia tidak punya waktu untuk menguping urusan pribadi Hartadraja, itu jala sahabatnya dalam kagentingan.


" Oke-oke. telpon Mumuy dulu sana."


" Hallo, kenapa, Gar." suara berat Mumtaz menyapa telinga Wisnu yang refleks menegakkan tubuh sebagai sikap menghormati.


Mumtaz di usia mudanya sudah menjelma sebagai sosok pengusaha bersama rekannya Ibnu di bidang kemanan bank dan lainnya sekaligus peretas dunia di bawah naungan perusahaan keamanan cyber yang saat ini mor satu di dunia bernama RaHasiYa ( Baca Terikat Mumtaz) dengan segala sepak terjangnya.


" Di line lain ada Wisnu Nasution, bang. mau bicara sama Abang."


" Oke, gue terima, earphone Lo tetap stand by ya."


" Oke."


" Hallo, bang Wisnu."


" Hallo, Mumtaz. sorry ganggu."


" Gak apa-apa, apa yang bisa gue bantu?"


" Teman saya, diculik orang, dan saya kira dia dalam bahaya."


" Ngobrolnya pake bahasa santai aja ya, bang. gue mumet kalau pake bahasa resmi, umur kita juga gak begitu jauh kan."


" Oke, gue cuma sungkan aja sama lo."


" Santai, kalau sama om Angga baru gue resmi. gue minta nomor hp temen Lo, kalau bisa sama nomor penculiknya juga. segera ya."


" Oke gue kirim." Wisnu segera mengirim nomor ponsel Bhumi, untuk nomor Kinan dia harus memintanya pada Adnan.


" Oke ,gue off, dulu ya bang. tunggu info dari gue."


Klik...


" Gimana, A..di mana Bhumi sekarang?" tanya fena cemas yang duduk berdampingan dengan Anggara yang merangkul istirnya gar tenang.


Sementara Shavara dalam pelukan Aditya masih menangis.


" Aa, lagi nunggu info dari Mumtaz, Ma."


" Mumtaz dari RaHasiYa?" Anggara memastikan.


"Iya."


" Memang kita bisa minta bantuan mereka?" Aditya meragu.


" Tadi lewat Akbar dulu, tapi ya.. itu memang semudah itu meminta bantuan Mumtaz."


" Keereen sih Lo bang, kalau bisa minta bantuan beliau." ucap Devgan.


Tring...tring..


Lima menit berselang, Wisnu menjawab panggilan dari Mumtaz yang di loud speak.


" Gimana, Mumtaz?"


" Gue udah Nemu mereka, kayaknya temen lo mang dalam bahaya, Lo keberatan gak kalau anak buah gue eksekusi, takutnya Lo gak keburu nyelamatin dia, jarak rumah Lo jauh dari lokasi."


" Silakan, Mumtaz. bair om yang tanggung jawab." Anggara yang menjawab penawaran Mumtaz.


" Hallo, Om. di Indonesia pasti malam. selamat malam, Om."


Aditya dan para sahabat menganga lebar tidak percaya bisa mendengar dekat suara orang yang menjadi inspirasi mereka.


" Malam." Fena yang menyahuti.


" Hallo, Tante Fena. selamat malam."


" Mumtaz, tolong ya calon mantu Tante. dia Naka baik, besok pernikahannya."


" InsyaAllah, Tante. anak buah aku lagi di jalan menuju lokasi. aku kirim alamatnya ke nomor bang Wisnu ya."


"Iya, terima kasih lho ya."


" Om, Tante. maaf ya besok aku belum bisa menghadiri undangan dari kalian, aku kebetulan lagi di luar. tapi Alfa dan Daniel pasti datang."


Selama mereka berbincang, terdengar suara ketikan komputer.


Drrt ..


Ada pesan masuk ke ponsel Wisnu.


" Bang, gue udah kirim alamat lokasi, dan anak buah gue mendekati sana. Lo bisa hubungi Adgar, di yang mimpin operasi. Gue pantau dari sini, bang."


" Mereka di mana, A." tanya Aditya.


" Di Hartadraja royal residance."


" Kita ke sana. itu dekat sama apartemen gue, bang." ucap Devgan.


" Yo, Lo panggil pasukan Lo." pinta Aditya pada Leo yang merupakan ketua genk bernama the gabuts dimana wakilnya adalah Bian.


" Siap. itung-itung belajar taktik dari mereka." Leo sudah mengirim pesan ke para anak buahnya yang malam ini pasti ngumpul di markas.


" Dek, kamu gak gabung genk-genk itu kan." tanya Fena menekan.


" Eeeh..i..ini...Genk ini dalemnya anak-anak baik kok, ma." Aditya gelagapan.


" Kita nunggu apa? kenapa belum juga nyelametin kak Bhumi." ucap Shavara.


" ini Aa lagi hubungi Adgar, Dek." sahut Wisnu.


" Adgar, CEO Hartadraja corp?" tanya Anggara yang diangguki Wisnu.


" Busyet, bakal seri ni laga." celetuk Devgan.


" gue duluan, bang anak buah udah di jalan." kata Leo berdiri bersama Bian


" Kau ikut." sahut Shavara.


" Enggak, kamu tunggu di rumah. Aa yang lain aja ke sana."


" Mama ikut, dan gak bisa nyegah mama." Fena sudah menarik Anggara untuk berhenti pakaian.


" Kalian pergi lah, selametin calon mantu. urusan rumah ada kami." ujar salah satu adik lelaki Anggara yang menginap di rumah.


" Fen, kalau ketemu penculikya jangan ragu-ragu habisi dia." seru adik dari Fena.


" Siip."


Tring..tring...


Buru-buru wisnu mengangkat telpon dari Adgar.


" Bang, gue udah ada di lokasi, nunggu perintah Lo."


" Lo selametin Bhumi, terserah mau kalian apain, dan amankan penculiknya."

__ADS_1


" Siap, laksanakan."


Wisnu beranjak," Ma, cepatan...aku mau berangkat."...


__ADS_2