
" Mbak Vara, tolong kasih potocpyan administrasi anak-anak ke Bu Ratna ya." staf muda bernama Gayatri dipanggil Aya yang tadi pagi menanyakan status hubungan Bhumi dan Shavara.
" Baik, Bu."
" Jangan panggil saya ibu, toh di sini saya yang paling muda, dan sepertinya usia kita gak begitu jauh. Dan jangan terlalu formal."
" Hehehe, baik, mbak." Shavara mengambil kertas-kertas itu dan melangkah ke arah kantor guru.
Melihat suaminya berdiri di depan Arleta di kantor, Shavara menunda tujuannya. Dia malah berdiri menyaksikan drama dia orang tersebut.
Suara Arleta yang memekik cukup menjadi perhatian, ia melihat mereka kini menjadi tontonan para murid lain.
" Harus ya di koridor." gumamnya diela helaan napas beratnya, malu, itu yang dia alami.
Bagaimanapun dirinya kini dikaitkan dengan Bhumi.
" Bapak mulai menyukai aku, kan? Aku yakin bapak sudah mulai menyukai aku." ucap Arleta senang bukan main dengan mata berbinar menangkupkan tangan di dada.
" Akhirnya, usahaku setelah kian purnama menampakkan hasilnya, memang hasil itu tidak mengkhianati usaha." Arleta terus berbicara tanpa menyadari ekspresi Bhumi yang kini dingin padanya.
" Istri ku yang memintanya." ucap tegas Bhumi.
" Apa?" Arleta berhenti menari-nari meski senyumnya masih terpatri meski tersisa sedikit.
" Istri saya yang meminta agar saya berbaik sikap sama kamu. Semuanya kerena istri saya." Bhumi menekan kata istri.
Jderr....
Tubuh Arleta kaku mematung, senyumnya perlahan menghilang. Terlihat jelas biar kecewa di manik hitamnya, dia tidak suka akan perkataan itu. Bayangan dia punya masa depan dengan Dewa hilang seketika.
" Bapak bohong, bapak hanya ingin menyembunyikan perasaan bapak yang mulai tergugah atas usaha saya."
" Lihat saya, apa saya terlihat senang melihat kamu walau hanya sedikit? Tidak, kalau terserah saya, kamu sudah habis di tangan saya karena ulah mu kemarin. tapi istri saya orang baik, dan saya terlalu mencintainya untuk menolak permintaannya."
Kegembiraan yang tadi menghinggapinya buyar seketika akibat perkataan yang menohok itu.
" Kenapa bapak bisa mencintainya padahal kalian belum alam kenal, saya yang lebih dulu kenal bapak seharusnya bapak labuhkan cinta bapak pada saya, bukan padanya. Bapak tidak adil." Arleta mengucapkannya dengan menggebu-gebu.
Bukannya menjawab, Bhumi malah melangkah mendekatinya berhenti berjarak satu jengkal di depan Arleta.
Grepp...
" Kamu memiliki banyak pengalaman dengan bermacam lelaki melebihi saya dengan perempuan, rasakan pelukan saya." ucap Bhumi tepat di telinga Arleta.
Tubuh Arleta kaku dan menegang dalam pelukan Bhumi, semua mata penonton membelalak tidak percaya, Shavara meremas kertas bawaannya, wajahnya menyiratkan kecemburuan.
Bhumi memeluknya mengukung penuh tubuh Arleta dengan tubuh besarnya dengan lama dalam posisi demikian. Saat Arleta hendak membalas pelukan itu, Bhumi melepasnya, Arleta kecewa.
Dadanya terasa nyeri, dia masih ingin merasakan pelukan itu meski bukan jenis pelukan yang dia inginkan. pelukan itu dingin, bahkan sarat keengganan.
" Meski kamu bilang tidak pernah merasakan kasih sayang ayah, tapi pasti ada sewaktu-waktu dalam hidupmu pak Zagar memeluk mu, dan kamu yang terbiasa jatuh dalam pelukan lelaki lain dengan banyak wajah. Bandingkan dengan pelukan mereka, apa kamu merasakan ada sedikit suka di pelukan ini?"
Arleta terdiam, dia tidak ingin menjawabnya, karena pelukan itu memang terasa hambar tidak ada kehangatan di sana yang dulu pernah dia rasakan.
" Bapak beneran tidak pernah menyukai saya?" lirihnya memilukan, jelas terluka
Bola mata Bhumi merotasi jenuh," Pertanyaan yang membosankan, dan kamu tahu jawabannya."
" Dulu kita begitu dekat."
" Sampai kau merusaknya dengan jatuh cinta padaku. hal yang paling itu menjijikan." timpal cepat Bhumi.
Wajah Arleta pucat pisa, dadanya terasa sesak." Tidak adakah ruang untuk saya walau hanya secuil?" mohonnya.
" Dulu saya menolong mu karena asas kemanusiaan, saya paham rasa keputusasaan mu menjadi orang yang tidak diinginkan. Tapi semuanya punah sejak detik kamu menyatakan perasaan kamu yang mengotori hubungan harmonis antar manusia. Bagiku kisah dulu hanya beban untuk kehidupan saya yang sekarang."
" Bapak tega." mata Arleta memerah dengan genangan kristal bening di pelupuknya.
Alis Bhumi terangkat," Memang apa yang saya lakukan."
" Bapak mempermainkan perasaan saya."
" Jangan playing victim, apa pernah saya merespon atas perasaan kamu? Lucu, kamu yang berulah, kok saya yang dipersalahkan."
Jleb...
Ketajaman kata-kata itu menghunus langsung hatinya.
" Saya benci bapak." teriak Arleta tidak tahu malu.
Teriakan itu mengudang siswa keluar dari kelas yang semula hanya bisa menonton lewat jendela mengabaikan larang guru yang tengah mengajar.
Drama antara guru tegas nan tampannya dengan murid yang terus mengejarnya lebih menarik ketimbang pelajaran.
__ADS_1
" Bagus lah, enyah kamu dari hadapan saya." setelah berkata demikian tanpa belas kasih, Bhumi melanjutkan langkahnya.
Ucapan kejam itu, menghasut sisi dirinya untuk berbuat nekat, dia cabut jepitan di rambutnya, ujung jepitannya yang lancip ditekan di leher.
" TIDAK...SAYA TIDAK AKAN MENYERAH..."
" Saya akan bunuh diri, dan bapak yang akan disalahkan atas kematian saya." teriak Arleta frustasi.
Para siswa berteriak panik, dan ketakutan, par guru berlarian mendekatinya sambil menenangkannya.
Keributan di sekitarnya lah yang menghentikan langkah Bhumi, dia berbalik memandang Arleta dengan matanya yang tajam.
Ia tersenyum miring meremehkan," Bodoh, benda sekecil itu tidak bisa membunuh mu dalam waktu singkat. bahkan kau masih bisa dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan."
Sikap meremehkan dari Bhumi lah yang paling menyakitinya daripada kata-katanya. Arleta terduduk dengan tangan meremat kuat ujung tajam jepitan itu hingga tangannya berdarah.
" Sudah, Dramanya?" ucapan tanpa simpati itu mengoyak kuat hati Arleta.
Ia menangis meraung di tengah koridor di tonton ratusan siswa. Maka bertambah lagi lah berita hot hari ini, dan semuanya soal Bhumi.
Begitu pintu kelas dibuka siulan, godaan, dan gebugan meja menyambutnya. kecuali satu orang yang memandanginya sengit, yaitu Aditya Nasution.
" Ck, sekarang ada hot topic apalagi tentang saya."
" Ciee ..cie.e...yang katanya ga suka tapi dipeluk juga tu penggemar." sahut Megan, sedekat itu hubungan murid dan wali kelasnya.
" To the point. Saya kurang mahir nebak soal perlambean gibah."
" Ajis memberikan ponselnya yang berisi beberapa foto dari kejadian di koridor tadi di base sekolah."
Bhumi menggulir foto-foto tersebut dengan malas," Gercep amat ni admin, salut. Coba soal fisika secepat ini menyelesaikannya." sarkas Bhumi memberikan kembali ponsel tersebut pada Ajis.
" Langsung jelasin aja, pak. jangan banyak berkelit." kata Aditya dengan mata yang menusuk tajam Bhumi mencoba mengintimidasi.
Susana kelas yang semula gemuruh, seketika hening
Saat Bhumi membuka mulut, Aditya gegas menyela.
" Tapi saya peringatkan sebagai sesama pria saya sebagai adik dari Shavara, istri bapak. Dan bapak sebagai Bhumi, suami dari kakak saya."
Bhumi menghela napas panjang, ia merasa konyol, tapi tentu saja dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
" Dit, pelukan tadi hanya upaya pembuktian padanya kalau saya tidak tertarik padanya."
" Seriusan, memang harus berpelukan begitu?" Aditya tidak puas dengan alasan kakak iparnya itu.
Derrr...derrttt....
Bhumi membuka pesan yang masuk yang ternyata dari kepala sekolah.
" Pak Dewa, selepas mengajar dimohon menghadap saya di kantor saya."
Bhumi memasukan ponselnya ke dalam saku celana." kita mulai saja belajarnya. kalau bahas gosip butuh waktu lama." Bhumi berjalan ke mejanya.
keluhan tidak puas dan kecewa dari muridnya dia abaikan. Saat menaruh bukunya, ponselnya kembali bergetar.
" Bini Lo lagi diserang Siena di kantor."
Mata Bhumi melebar, dia langsung berlari dengan panik keluar kelas mengabaikan keheranan dari murid-muridnya.
¥¥¥¥
Shavara menghela napas panjang, dia salah meminta Bhumi baik pada Arleta. kini sudah jelas, bagi Arleta apapun dari Bhumi akan dianggap serius dengan hatinya.
Ia pun melanjutkan niatnya yang menuju ruang guru yang dititipkan lembaran potocpyan untuk diberikan pada Bu Ratna.
" Arleta... saya tunggu di ruangan saya." ucap guru BP.
" Permisi, saya mencari Bu Ratna." Shavara mengetuk pintu kantor yang tidak tertutup sebelum sedikit memasuki ruangan yang berisi beberapa guru di meja masing-masing dan dua guru duduk di sofa dengan segelas kopi di depan masing-masing. Salah satunya adalah Siena.
" Bu Ratna sedang keluar, ada apa ya?" ucap Agam.
" Saya mau menaruh potocpyan ini."
" Terus aja di mejanya yang sebelah sana." tunjuknya ke meja yang bertaplak buang-buang pink.
" Baik, terima kasih."
Siena menatap lekat Shavara yang berjalan ke arah meja tersebut, ia lantas menyalakan ponselnya.
" Kamu,... perempuan yang sedang digosipkan dengan pak Dewa kan?" Siena berdiri, walau masih di mejanya.
" Hahm eeee..hhh i..itu...ma..maaf..." Shavara menunduk gugup sekaligus malu.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan siapapun Agam mengirim pesan pada Bhumi.
" Bu Siena, jaga sikap ibu. Itu privasi mereka." peringat guru yang lain.
" Tapi itu tidak pantas, ini lingkungan sekolah mereka malah berbuat mesum." Siena menunjukan isi ponsel berita di sosial media sekolah.
Shavara tersinggung, dia tidak terima seakan-akan telah melakukan perbuatan asusila.
Wajahnya memerah menahan marah, ia mengangkat wajahnya geram.
" Jangan marah, tapi faktanya. Masih magang tapi memberi contoh tidak baik." cibir Siena.
" Kalau begitu kenapa ibu tidak menegur pak Derry dan Bu Sinta yang setiap hari mempertontonkan kemesraan mereka." Agam merujuk pada rekan guru mereka.
" Mereka suami istri."
" Kami juga." kata Dewa di ambang pintu dengan napas tersengal-sengal.
Semua orang beralih perhatian ke arah Dewa berdiri, atmosfer uangan menjadi kikuk apalagi wajah Dewa yang terang-terangan menunjukan sikap tidak nyaman.
" Pak Dewa...." melihat Aira Dewa, Siena tersentak kaget, ia refleks mundur yang dirinya terduduk di kursinya.
Tidak sedetik pun Bhumi peduli akan keberadaan Siena, pandangannya hanya tertuju pada Shavara yang wajahnya menegang.
Bhumi membingaki rahang Shavara, menunjukan wajah padanya, " Sayang, kamu diapain sama dia?"
Bibir menipis dengan bening kristal yang hadir di pelupuk mata istrinya menambah kekhawatiran Bhumi.
" Sayang, bicara. Kamu diapain?" Shavara menggeleng.
" Pak Dewa..."
Prakh...
Siena tersentak kaku di tempat, kala penghapus terbang menyerempet persis sisi kanan wajahnya. Dan kelakuan itu menular ke guru yang lain.
Seorang guru bergegas menutup pintu kantor agar suasana dalam kantor tidak terlihat dan terdengar ke luar.
" Lo sentuh lagi istri gue, gue sebar siapa Lo." peringat Bhumi.
Siena menggeleng," Saya hanya ingin menjelaskan situasi agar bapak tidak salah paham sama saya."
Bukannya merespon ucapan Siena, Bhumi malah menarik lembut lengan Shavara ke ruangannya.
" Pak Dewa....pak Dewa...dengarkan saya..."
Blammm....
Teriakan Siena terbenam kala pintu ruang kerja di tutup.
" Bu, malu Bu. Malu..." cibir Agam.
" Pak Agam, mohon jangan ikut campur urusan kami."
" Lha emang ibu punya urusan sama pak Dewa? Saya lihat ibu lebih gak dianggep sih daripada ada persoalan."
" Pak Agam..."
" Bu Siena, terus terang perbuatan ibu pada pak Dewa itu mengganggu kami, kami yang seprofesi dengan ibu jadi malu. kita ini guru Bu, harus jadi contoh." seru salah satu gur senior.
Mendapat siraman rohani dari rekan-rekannya Siena memilih diam, dia kadung malu juga.
Di dalam ruangannya, Bhumi mendudukkan Shavara di atas meja kerjanya, ia membelai lengan atas Shavara bermaksud menenangkannya.
" Hei, kamu baik-baik saja?"
Shavara menggeleng," Kenapa sih banyak yang suka kau? apa kamu sering tebar pesona?" sinis Shavara kesal.
Bhumi terkekeh," Maaf ya, ini resiko punya suami ganteng."
" Kamu kalau memang gak suka tolak dong yang tegas, jangan ngasih harapan sampai-sampai bikin repot gini."
" Aku udah tolak sejelas dan setegas mungkin, sayang. tapi emang merekanya aja yang muka tebal."
" Ck, Aku kalau keseringan ngalamin kayak gini capek juga, A. Aku gak mau lagi ngalamin. Gak mau tahu kamu harus kasih paham mereka sampai mereka berhenti berulah."
" Iya, iya...aku tegasin nanti. sini pelukan dulu."
Bhumi menarik Shavara masuk kedalam dekapannya, namun Shavara menahan tangannya di dada Bhumi bermaksud menolak.
" Gak mau, gak Sudi. aku mengharamkan pelukan kamu." perkataan Shavara membuat Bhumi bingung bercampur sedih.
" Apa maksud kamu dengan haram itu?" tanya Bhumi tegang....
__ADS_1
Maaf lama ya..up-nya.. sekeluarga sakit...makasih yang masih ngikuti cerita ini..jangan lupa tinggalkan jejak...
Like, komen, hadiah, dan vote.. terima kasih banyak. Love sehektar❤️❤️❤️❤️❤️❤️