Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
53. Tunangan.


__ADS_3

" Pa... Vara buka pintunya ya, Vara mu ngomong sama Papa."


Tidak ada sahutan dari dalam, Wisnu menarik Shavara dari pintu." Lo masuk duluan, gue nyusul."


" Hmm.." Bhumi mengusap kepala Shavara dengan bibir tersenyum sebelum memasuki ruang kerja Anggara yang tertahan karena ucapan Shavara.


" Kak, maafin aku. aku udah bikin kakak ditolak...huhuhu..hiks...."


" Dek, ayo kita ke kamar kamu dulu."


" Biar adek, A. Aa masuk aja ke dalam takut pak Dewa dipukul Papa." Aditya membawa Shavara kedalam rangkulannya.


" Kalian masuk ke kamar terus jelasin ke gue apa yang terjadi." seru Aditya ke para sahabatnya yang diam menonton drama.


" Terus aku?" Senja menunjuk dirinya.


" Kamu mau ikut atau serangan sama mama gue?"


" Ikut."


" ya udah, ayok."


Bian merangkul pundak Senja yang gemetaran takut dan mengajaknya ke mar Aditya yang sedang menenangkan Shavara.


" Amri jeng, kita ke dapur. mas Fathan mau nunggu dimana? say sendiri bingung mau ngapain cuma tadi pas kalian datang saya lagi nyiapain makan malam."


" Saya nunggu di ruang tamu saja dari pada ngerecokin dapur." Fathan melangkah kembali ke ruang tamu.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Lo gak ada waktu yang lebih niat lagi apa buat lamar adik gue ampe harus dadakan begini." Wisnu tengah mengubek lemari pakaiannya mencari batik buat dikenakan Bhumi.


" Nanti gue cerita, kalau gue cerita sekarang takut Lo salah paham. Lo kan satu pabrik sama adik cantik Lo itu yang jalan pikirannya gak bisa gue terka." Bhumi baringan santai sambil menonton tv di kamar Wisnu.


Wisnu mendengkus sebal, hampir satu jam dia terperangkap negosiasi antara papanya yang sulit melepas anak gadisnya dengan sahabatnya yang sudah ngebet menikahi adiknya.


" Yang ini aja ni, belum pernah gue pake." Wisnu melempar batik tulis berwarna coklat yang mengenai kepala Bhumi.


" Ngelamar cuma pake kaos polo, sepede apa Lo diterima di keluarga gue." Wisnu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.


" Ck, cerewet Lo. mau nelpon siapa Lo?"


" Adnan sama Elang, gue mau nyuruh mereka ke sini sebagai saksi. jadi sewaktu-waktu Lo tol*l kayak si Aryo, mereka tahu apa yang harus dilakukan sebagai hukumannya."


" Ck, gue gak bakal goblok banget ampe nyia-nyiain Shava. gue di sini ini bukti gue tulus sama dia."


" Gak ada jaminan ke depannya Lo gak erorr. lagian mana ada orang tulus ngelamar pake kaos terus dia terlambat datang, sopan sekali anda, tuan." ponsel sudah terpasang di telinga Wisnu menunggu Adnan menjawab sambungannya.


" Hallo."


" Lo ke rumah gue, Bhumi mau ngelamar Vara. jadi pake batik yang resmi. sekalian kasih tahu ke Elang. kalian gak datang gue bakar rumah Lo."


klik...


Wisnu seenak jidat matikan sambungan telponnya.


" Wow, kakak ipar gue amazing cara meminta orang yang baru saja mengomentari moral gue." sindir Bhumi.


" Ini gambaran jelas ke Lo kalau Lo berani nyakitin Vara, habis Lo di tangan gue."


" Dan itu gak akan terjadi. cukup ibu dan Senja yang tersakiti atas kebrengsekan lelaki, dan gue menjadi bagian dari luka keduanya. Lo pikir gue se-idiot apa yang mampu mematahkan satu lagi hati perempuan karena nafsu ditambah mertua gue macam nyokap Lo. Lo harus pikir sampe situ, Nu." tegas Bhumi menggebu.


Bhumi baru tahu jika dirinya selalu bereaksi berlebihan apapun mengenai Shavara.


Wisnu terperangah bengong akan efek dari perkataannya yang niatnya hanya guyonan karena dirinya gugup mendapati adiknya yang tiba-tiba dilamar.


" Oke, Fine. gue paham. gue cuma bercanda doang, Bhum. sorry kalau candaan gue keterlaluan."


Bhumi menyugar rambutnya kasar." gue juga sorry, gue langsung spaneng kalo soal Shava. Lo gak tahu susahnya gue yakinin adik Lo kalau gue lah pelindung dia, jadi gue gak suka aja ada orang yang ngeraguin perasaan gue meski itu bercanda."


" Ya udah, ini clear. mending Lo pake bajunya, kelamaan bokap gue nunggu Lo yang ada lamaran ini gatot beneran Lo."


Bhumi bergegas mengganti pakaiannya, lengkap dengan memakai pomade dan minyak wangi yang harum semerbak.


" Minyak gue habis gue intip malam pertama Lo."


" Pelit amat sama adik ipar."


Sedangkan di kamar lain Aditya menginterogasi para sahabatnya yang tidak mendapat hasil apapun.


" Jadi kalian gak tahu menahu apapun?" mereka menggeleng.


" Gue udah periksa pintu pak Dewa dikunci." ucap Ajis yang mendapat pelototan dari semuanya.


" Serius Lo gak sesopan itu?" heran Devgan.


" Kapan?" tanya Bian.


" Aaah, pas Lo bilang mau ngambil air minum ya." tebak Leo yang diangguki Ajis tanpa dosa.


" Anjir, kebangetan banget Lo." Aditya menoyor kepala Ajis.


" Ya kepo gue tingkat akut, ngapain laki sama perempuan berduaan dalam satu kamar, gue tempelin kuping gue ke pintu aja tetap gak kedengaran, heran gue."


" Kamar mas Bhumi ada sistem kedap suaranya." jelas Senja.


" Pantesan." mereka semua mengangguk paham.


" Ck, gak ada faedah Lo semua gue tinggal. mending kalian keluar, nyempitin kamar gue banget Lo pada." usir Aditya yang berjalan masuk ke kamar mandi.


" Lha dia yang tadi nyuruh kita ngumpul, amnesia tu bocah."


Bian dan yang lain menyusul bergabung dengan yang lain sambil sibuk mengetik di ponselnya.


❤️❤️❤️❤️


Ketika Bhumi turun sudah ada Adnan dan Erlangga yang duduk bersama Fathan dan Anggara dengan pakaian resmi atasan batik semua.


Bhumi duduk di tengah Adnan dan Erlangga karena mereka yang menarik dirinya.


" Gue secepat mungkin kemari meski di jalan hampir belok ke THT karena omongan Wisnu, sebab takut ancaman Wisnu aja gue batalin ke sana. Lo utang penjelasan ke kita." ucap Adnan pelan.


" Lo gak hamilin Vara kan?" tanya Erlangga.


" Ni muka masih mulus jadi buang jauh pikiran kotor Lo. cuma Lo yang suka nyelup."


" Udah jarang gue."


" Kenapa? belok Lo?" tanya Adnan heran.


Erlangga menyandar ke sofa, " Ck, udah insyaf aja sih. gue mau nyoba serius." tanpa Bhumi sadari mata Erlangga menatap Senja yang tertawa dengan guyonan Devgan.


" Ma, Vara-nya mana? dia gak mau lanjutin acara lamarannya ini?" tanya Anggara.


" Gak bisa gitu dong, om. saya yang panggil Shava-nya, om." serobot Bhumi.


" Duduk aja di situ, Bhum. atau saya batalin."


" Siap, om."


Fena menggeleng geli," Mama panggilin ya."


Perlu waktu 10 menit untuk memanggil Shavara yang cukup membuat jantung Bhumi berdetak cepat Karena cemas, saat Shavara menuruni tangga netra Bhumi bagai terpaku kuat di sana.

__ADS_1


Kebaya modern hijau daun dengan sanggul sederhana dan makeup natural mampu menonjolkan kecantikan Shavara mengingat semuanya dilakukan secara mendadak.


"Cantiknya bini gue."


" Masih calon bini, Bhum. jangan kepedean." cibir Adnan yang kesal di dahului Bhumi.


" Terserah, iri rambutnya rontok ampe botak. yang pasti dia akan menjadi milik gue."


" Kita bisa melanjutkan pembicaraan ini jika mulut Bhumi yang menganga bisa ditutup terlebih dahulu." sarkas Anggara.


Erlangga menyumpal tissue ke dalam mulut Bhumi." Mingkem Bhum, jangan malu-maluin."


Bhumi tersadar dari keterpanaanya," hehe maaf om. habis anaknya cantik bener."


" Saya tahu, kan saya bibitnya. mau lanjut enggak?"


" Mau, Om."


" Oke, kita mulai, Angga." sela Fathan yang melihat Anggara masih ingin mendebat Bhumi.


Anggara menghela napas berat." karena lamaran sudah diajukan, walau mendadak maka saya mengajukan syarat pada Bhumi jika ingin lamarannya saya setujui."


" Pa.." Shavara mengajukan keberatan.


" Vara, percaya sama Papa, apapun yang Papa ajukan demi kebaikan kalian berdua."


" Vara, lebih baik kamu terima atau Papa ngambek terus lamaran kalian gak jadi terlaksana." nasihat Fena yang diangguki Shavara dengan berat hati.


" Persyaratannya apa Angga kalau kami boleh tahu." tanya Rianti


" Tentu akan saya bacakan, tapi intinya saja ya. lagian Bhumi juga sudah menandatangani sebagai bentuk persetujuannya."


" satu, Bhumi tidak akan mengkhianati Shavara. kalau itu terjadi, maka mereka langsung akan bercerai, tidak ada kesempatan kedua atau seterusnya."


" Kalau khilaf, om?" Ajis yang berani bertanya demikian yang mendapat delikan tajam dari Bhumi.


Muridnya ini tidak tahu saja betapa sengitnya negosiasi diantara mereka tadi, bahkan saat ini Bhumi tidak berani bertingkah khawatir akan membuat mood calon mertuanya itu berubah jelek dan semua impiannya menikahi Shavara buyar.


Anggara melirik Bhumi yang menggeleng cepat." khilaf itu kalau sekedar mandangin lama doang barang sehari atau sesaat kalau sampe naksir apalagi selingkuh itu namanya brengs'ek."


" Saya udah bilang tadi om, itu gak akan terjadi." tegas Bhumi.


" Pernikahan tidak seindah yg orang kira kayak pacaran, Bhum. kalau pacaran, setan bakal terus bujuk kita jadian sampe berbuat asusila. kalau nikah, justru setan akan terus berusaha bikin kita pisah sampe cerai. kalau kalian jadi menikah, turunkan ego, karena ini bukan tentang kamu, atau Vara, tapi tengah kalian. paham?" calon pasangan pengantin tersebut mengangguk.


" Kedua, semua kekayaan dan penghasilan Bhumi atas nama istri, yaitu Shavara. jadi, amit-amit kalau mereka ada masalah anak saya gak dibuang kayak sepah yang habis manisnya."


" Waduh, gak bisa nongkrong dong, om." celetuk Adnan.


" Soal teknis selama pernikahan itu kalian bicarakan lah sebagai suami istri."


" Maaf, ni om, saya dan ibu kan biaya hidupnya masih ditanggung mas Bhumi, apa itu akan putus? atau gimana?" tanya Senja takut-takut.


" Kalau soal itu, Bhumi sebagai anak lelaki tentu tetap wajib menafkahi kalian, om gak larang. yang om maksudkan semisal rumah, kendaraan pribadi, dan penghasilan bulanan anak om harus dapet lebih besar dari pada suami. suami selingkuh itu biasanya krn merasa punya duit kebanyakan, daripada habis sama pelakor mending dimakan keluarga iya, gak Senja?"


" Hehehe, iya, om."


" Senja gak perlu khawatir soal itu, kakak pastikan hak kalian akan selalu tetap ada, kita harus bersatu melawan kebandelan lelaki yang baligh tua." seru Shavara mengepalkan tangan.


" Siap, kak. kalau ada yang berani genit ke mas Bhumi atau sebaliknya bakal Senja laporin langsung ke kak Adit."


" Bagus, kerja sama keluarga penting untuk menghalau perusak dalam keluarga." ujar Fena.


" Siap, Tan."


Erlangga tersenyum melihat semangat Senja bersatu dengan keluarga calon istri sahabatnya tersebut.


" Selanjutnya, dilarang adanya kekerasan baik mental maupun fisik, kalau anak saya pulang dan mendapati kejiwaannya terguncang atau sedikit saja goresan yang diakibatkan dari kekejaman Bhumi, maka saya akan ambil anak saya dan kalian cerai. jadi Vara, jangan takut untuk mengadu, atau bimbang mengambil keputusan jika suami mu melakukan dua hal tersebut. cinta bukan berarti kamu bersedia dijadikan objek kekerasan, toh jika hal itu terjadi, itu berarti suami mu tidak lagi mencintaimu, maka pergilah dari hubungan yang toxic tersebut."


" Vara yakin, kak Bhumi gak bakalan melakukan itu." Shavara membelanya pelan seraya menunduk.


sontak Shavara mengangkat kepalanya kaget," kalian..."


" Kami menyadarinya terlambat, dan kami menyesali itu. dia yang sudah menyakiti mu tapi bersikukuh kamu yang bersalah itu menandakan keegoisannya."


" Vara, rumah tangga yang baik itu, dimana istrinya kuat dan bertahan berada di pihak lawan kala suami melakukan kesalahan, bukan selalu diam dan manggut karena takut. kamu lihat sendiri lah gimana Mama sama Papa." Nasihat Fena.


" Iya, Ma, Pa."


" Tenang, Tan. ada Senja yang akan mengawasi mas Bhumi. bagaimana pun Senja ada di pihak Kak Vara, sesama wanita kita harus saling membantu" Senja memastikan dirinya ada di pihak mana saat kakaknya itu menikah.


" Tolong, ya Senja. kakak iparmu itu kalau berantem lebih milih diam daripada melawan, Tante takut bathinnya terganggu terus ODGJ, amit-amit jabang bayi."


" Baik."


" Terakhir selama Vara belum lulus kuliahnya Vara masih tinggal bersama kami, ini karena saya tidak berniat menikahkan putri saya sekarang, tapi keburu kadung ya mau tidak mau pernikahan ini terjadi ketimbang celaka duluan."


" Berarti belum bisa unboxing dong, pak." celetuk Devgan yang mendapat tatapan tajam dari para audiens.


" Soal itu diserahkan kebijakan keduanya, toh sudah halal." putus Anggara.


" Kalau semua sudah tahu, maka inti acara dilanjutkan." Seru Anggara yang diamini oleh semuanya.


❤️❤️❤️❤️


" Selamat untuk bujang lapuk kita yang akhirnya otw pelaminan." Adnan mengangkat gelas jus jeruknya meminta tos yang disambut malas-malasan oleh para sahabatnya.


" Gak nyangka gue si jomblo yang gak pernah pacaran yang pertama nikah." ucap Erlangga.


" ginta ganti cewek gak ngejamin Lo cepat ke pelaminan ya, bro." sindir Wisnu.


" Lo juga masih single, sesama single dilarang menghujat."


Selepas dari rumah Anggara, para sahabat Bhumi memaksa dirinya untuk ngumpul di Warungkita.


mereka bersikeras Bhumi menjelaskan kenapa dadakan melamar kalau bukan karena Shavara hamil, sahabat durja memang mereka itu.


" Sebucin itu Lo, Bhum."


" Ini bukan soal bucin, Nan. tapi kemantapan, kalau gue gak ngiket Shava sekarang t'kait keburu dihembat yang lain."


" Iya, secara Vara cantiknya gak ketulungan."


" Lo yang playboy aja ngakuin kalau cewek gue cantik, apalagi yang lain. gue gak bisa kehilangan dia."


"Baru ni cowok, demen langsung lamar, bukan demen, nyelup langsung ditinggal." kembali Wisnu menyindir mereka berdua.


" Ck, nyoba-nyoba lah, kalau gak cocok kan ribet, terbukti cewek yang gue deketin gak ada yang bener." kisah Adnan.


" Ya Lo nyarinya cewek yang digilir hidung belang."


" Astaghfirullah, berdosa sekali mulut mu, nak." Erlangga mengupas dadanya.


Wisnu melempar tissue ke Erlangga yang bertingkah sok alim."


" Tapi gak dalam satu minggu juga menikahnya, bung."


" Gue pengennya malam ini juga malah, Nan."


" Siapa yang mau nikah?" pertanyaan dari suara perempuan memalingkan wajah mereka ke belakang.


Kinan berdiri di sana dengan pakaian ketatnya di atas lutut siap menggoda lelaki yang menjadi mangsanya.


" Dewa." jawab Erlangga.

__ADS_1


" Gak mungkin, dia belum lamar gue."


" Emang bukan Lo calon istrinya,akin gila Lo."


" Nan,ending lo bawa dia pergi." ujar Wisnu.


" Gak mau, Dewa, kamu harus jelasin kalau ini gak benar." Kinan menghentak tangan Adnan yang hendak menarik tangannya.


Bhumi diam tidak menanggapi, baginya Kinan bukan urusannya.


" Dewa, kita harus bicara. kamu gak mungkin marah berlarut-larut sama aku, kamu bilang dulu gak bisa marah lama-lama sama aku, Kenap yang ini kamu gak berhenti marah? aku minta maaf atas kekhilafan dulu."


" Duduk." Bhumi menunjuk kursi yang ditinggal Adnan.


"Bhum." protes para sahabatnya.


" Kita bicara di tempat lain." tawar Kinan.


" Duduk atau gak sama sekali."


" Gak ada mereka juga, Wa. hanya kita berdua, kamu dan aku."


" Gak ada kita, cuma ada kegilaan Lo. duduk atau pergi."


Mau tidak mau Kinan duduk, dia risih atas tatapan tidak suka dari Erlangga dan dan Wisnu.


" Apa yang mau Lo omongin?"


" Aku minta maaf."


" itu pernah kita bahas dengan gue memaafkan Lo. dan Lo pun berakhir ke pelaminan dengan cowok selingkuhan Lo, dan gue gak pernah mempermasalahkannya. jadi soal maaf, udah clear."


Kinan speechless, " Aku mau balikan sama kamu."


" Gue gak mau, dulu, waktu kita hubungan gue gak cinta Lo, saat gue nerima pernyataan cinta Lo, itu hanya sekedar suka itu pun gak lama, karena Lo ngambek melulu, Lo gak seasik yang gue kira. Lo matre kayak cewek yang nganggep jajanin Lo itu tanggung jawab cowoknya, boro-boro buat jajanin Lo, baut hidup gue aja susah, dan Lo gak mau tahu soal itu, sejak Tiu gue gak respect sama Lo."


Kinan berasa ditusuk langsung ke jantungnya.


" Aku sudah berubah, uang bukan lagi fokus utama ku, setidaknya kita mencoba menjalani dulu, Wa."


" Gak minat gue sama Lo apalagi suka. Lo, masa lalu yang gue sesali, bahkan kalau Lo gak melulu nongol di depan gue, gue juga lupa sama Lo."


dan habis sudah pembahasan setelah perkataan tajam itu, namun Kinan tetaplah Kinan yang tidak akan tinggal diam sebelum keinginannya terwujud.


Dia hanya perlu meyakinkan dewa kalau dirinya sudah berubah lebih baik dan siap berkompromi.


❤️❤️❤️❤️


" Dengan disematkannya cincin di kedua calon ini maka resmi sudah diterimanya pinangan Mahadewa Bhumi Mahendra kepada Shavara Nasution. untuk selanjutnya penentuan tanggal dan hal-hal yang terkait pernikahan..."


Edo mematikan rekaman video yang dikirim Bian padanya, dia syok sekaligus bersedih anak lelaki kebanggaannya yang dulu selalu menatapnya bangga padanya, meminang tanpa didampingi dirinya.


Ditambah Fathan yang menjadi tetua Dewa mendampingi mantan istrinya, dirinya merasa dicabik-cabik jantungnya. egonya berhasil dihajar sedemikan rupa.


Edo merasa gagal menjadi ayah, kini untuk pertama kalinya Edo seperti seorang pecundang.


tok...tok...


ceklek...


protesan yang hendak terlontar kembali ditelan saat melihat Bain yang masuk bukan Desty.


Bian masih dengan pakaian batiknya memutuskan pulang ingin memastikan reaksi lelaki yang dia panggil Papa.


" Belum tidur, Pa."


" Baru balik kamu?" tanya balik Edo.


" Iya." Bian duduk di kursi terhalang meja kerja Edo.


" Bagaimana acaranya?"


" Jauh dari khidmat, karena komentar teman-teman aku yang dadakan jadi pelawak. tapi karena mereka tulus, ya... lumayan lah..."


" Sudah berapa lama kakak mu berhubungan dengan wanita itu?"


" Shavara, namanya. jangan panggil dia wanita itu, bang Dewa gak suka."


" Oke, Shavara."


" Belum lama kayaknya, tapi apalah arti lama atau sebentar yang penting yakin."


" Itu penting, untuk saling mengenal."


" Papa tahunan menikah dengan ibu Rianti, tapi masih juga tidak mengenal beliau dan lebih mempercayai mama yang notabene orang baru hingga tega melepas berlian demi butiran pasir tidak berarti." telak Bian.


" Bian, dia mama mau, Kenapa papa tangkap kamu tidak menyukainya, malah lebih menyukai ibu Rianti?"


" Pengalaman hidup saja." jawab Bain enteng, namun jelas tersirat kepedihan.


" Kamu tinggal dimana sekarang? apa Papa harus membelikan mu apartemen?"


" Gak perlu, Bian di tempat yang aman dan nyaman, pa." ucapnya lembut.


Perkataan itu kembali menghantam sanubari Edo, apa segitu tersiksanya Bian selama ini di sini?.


" Kenapa kamu gak bilang kalau kakak mu akan bertunangan."


" Itu dadakan, papa pasti menyesal gak ada di sana. Bian dengar, mendampingi anak lelakinya melamar itu suatu kebanggaan bagi seorang ayah."


" Sedikit, kenapa om Fathan ada di sana?"


" Om Fathan sering berkunjung, dan sudah Senja anggap ayah, sosok yang selama ini gak pernah ada dalam hidupnya."


Edo tertegun, lagi-lagi hatinya tersakiti, Edo bingung saat merasakan itu.


" Dan Papa akan kembali menyesal jika Papa tidak segera bertindak untuk memperbaiki diri soal kisah 17 tahun lalu."


" Yan, apa yang kamu tahu soal 17 tahun lalu?"


" Lebih tahu banyak daripada Papa dan cukup membuat ku tidak menyukai Mama." tegasnya terlihat jelas kebencian dan kekecewaan dalam ucapan itu."


" Beritahu Papa."


" Papa harus cari tahu sendiri, itu bentuk pertanggungjawaban Papa atas kesalahan Papa. yang pasti, Bian ulangi, Senja amat sangat terlalu mirip dengan Papa ketimbang aku."


Netra mereka saling beradu, mencari kebenaran yang hakiki.


" Sudah malam, Pa sebaiknya papa tidur." Bian beranjak pergi.


" Kamu tidur di rumah?"


"Enggak, Bian cuma mau ngambil baju, Bian butuh ketenangan selama ujian kalau di sini yang ada semakin ruwet."


Blam...


Edo mengambil dua Foto anak-anaknya, pertama dia lama memandangi wajah Bhumi yang jelas terlihat Ketampanan dan kegagahannya, masih tertampak jelas jejak kedewasaan yang dipaksakan.


" Maafin Papa, sayang."


selanjutnya foto Senja dan di sisi lain foto Bian. untuk ukuran anak seayah, tidak ada kemiripan sama sekali diantara keduanya, wajah Senja jelas duplikat dirinya.


" Yan, Papa akan patah hati sekali Jiak kamu memang bukan anak Papa..."

__ADS_1


Sejak Edo melihat langsung Senja dirinya dirundung keraguan, oleh sebab itu dia menyewa detektif, walau sampai saat ini setiap perkembangan laporan belum berani Edo buka. hanya foto-foto ini yang Edo berani tatap setiap malamnya...


__ADS_2