Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
56. Iri.


__ADS_3

" Ck, katanya gak ninggalin bekas, ini apa?" omel Shavara pada Bhumi lewat cermin.


Shavara menelisik dadanya yang banyak jejak merah, sudah tidak lagi malu pada Bhumi, bagian atas Shavara hanya berbalut br'a dan thank top.


Bhumi yang berdiri di belakang dengan bertelanjang dada dan rambut basah karena habis menuntaskan hasratnya terkekeh.


" Godaannya terlalu menggiurkan untuk dilewatkan sayang, punya kamu bagus banget." Bhumi mengecup sedikit mengigit bahu Shavara.


Aktifitas Panas mereka harus terhenti saat Bhumi mendapat telpon dari Rianti untuk segera pulang dan menjelaskan perkembangan masalahnya.


Shavara mengenakkan bajunya dengan raut masih cemberut.


" Jangan cemberut begitu, aku civm lagi, mau?"


" Yang ada bibir aku dower."


" Makin sexy." Bhumi mengenakan kemejanya, namun tidak dikancing.


" Kamu gak mau ganti daleman, punya kamu basah banget lho." ucap Bhumi sedikit meledek.


Wajah Shavara kontan memerah," pake apa, semvak kamu?"


Bhumi menyeringai, " mau?"


" Jangan ngada-ngada.".


" Nanti aku stock daleman kamu, atau beberapa baju kamu simpan di sini aja."


" Kita lihat nanti, sekarang cepatan pake bajunya."Shavara menyisir rambut yang acak-acakan.


" Aku mau potong rambut deh kayaknya, kamu bikin rambut aku kusut."


" Jangan, aku suka saat rambut kamu tergerai, kamu kelihatan menggairahkan banget." Bhumi juga menyisir rambutnya namun dengan jarinya.


" Kak, rambutnya jangan cuma disisir, harus dikeringin."


" Nanti juga kering kena angin."


" Ck, kamu pake helm, nanti bau. nurut napa sih."


" Katanya buru-buru tapi disuruh ngeringin rambut segala." gerutu Bhumi.


" Issh, nyebelin."


" Gus, saya balik dulu ya, kalau ada laporan yang masuk dikasih simpen aja di atas meja."


"Siap, bos." sahut Agus, manajer warungkita.


Bhumi menggenggam tangan Shavara saat keluar dari restoran yang berhasil memicu gubahan anak buahnya.


" Si bapak, pantesan cuek sama pelanggan cewek, punyanya lebih yahud." celetuk pramusaji pria.


" Mending tu mulut mingkem, atau Lo kehilangan pekerjaan." sahut yang lain.


❤️❤️❤️❤️


" Mau beli sesuatu dulu gak?"


" Enggak, aku pulang ke rumah kan ya?"


" Om sama Tante di rumah aku. tadi heboh banget di rumah."


" Gak nyangka mantan kamu segitu nekatnya."


" Telpon kamu yang paling bikin aku kalut, aku takut kamu termakan omongannya. aku paling gak mau berantem sama kamu." Bhumi mengecup punggung tangan Shavara dengan satu tangan memegang stir mobil.


" Gak lah kamu kan udah jelasin tentang dia. apalagi pas dia ngomong kalau kamu gak bernafsu sama aku, kan jelas banget bohongya."


" Kalau dia lihat tato buatan aku di leher sama dada kamu pasti dia tambah kejang."


Shavara menggeplak paha Bhumi, sedangkan Bhumi tertawa kecil.


" Assalamualaikum." Slam keduanya begitu memasuki rumah.


Mereka terkejut dengan banyaknya orang yang duduk di ruang tamu.


" Ini ada apa, ya?" tanya Bhumi ragu-ragu.


" Kok pulangnya telat?" tidak menghiraukan pertanyaan Bhumi, Rianti malah balik bertanya.


" Selesain sedikit kesalahpahaman sama Shava dulu, baru pulang."


" Sini kalian duduk." ajak Fena mengusir Aditya dari sebelahnya.


" Mama." protes Aditya.


" Kamu awas dulu, teteh kamu pemeran utamanya masa gak bagian tempat duduk."


Shavara duduk di tempat Aditya sebelumnya, Bhumi mengusir Bian dari kursinya. keduanya kini duduk lesehan di lantai.


" Gimana urusan dengan perempuan itu?" tanya Anggara pada Bhumi.


" Seharusnya sih udah beres, tadi dia marah karena tahu anaknya dibawa bapaknya." jawab Bhumi.


" Kira-kira dia akan jadi boomerang tidak bagi rumah tangga kalian?"


" Saya pastikan tidak, Om."


" Kalau begitu kita ke acara selanjutnya." Fena menumpuk tangan bersemangat.


Shavara yang melihat wajah adiknya yang berubah muram menjadi bingung.


" Malam ini, kalian akan menikah."


" APA?" baik Bhumi maupun Shavara kaget bukan main, kenapa rencana pernikahannya berubah gini.


" Selepas Bhumi dan yang lain pergi nyusul kamu, Mama kamu langsung menghubungi WO, EO, O,O,O,O. Apa lah itu, Papa Adah berusaha nyegah tapi gagal." jelas Anggara.


" Ma, gimana dengan minggu depan? Mama gak bisa merubah jadwal seenak Mama." protes Shavara.


" Ini nikah berdasarkan agama aja dulu, minggu depan kalian ijab Qabul lagi. penghulunya juga masih orang sama." Fena menunjuk lelaki paruh baya yang tersenyum bingung.


" Ma, Vara beneran bingung ini."


" Sayang, kejadian tadi pagi bikin Mama ambil tindakan ini, tu perempuan kayaknya gak punya urat malu, mama khawatir masih banyak perempuan lain yang urat malunya putus yang bakal ganggu kalian, makanya Mama ambil keputusan ini. Mama gak mau ya kalian ribut soal perempuan atau laki-laki random lainnya."


" Kan tinggal nunggu beberapa hari lagi, Ma."


" Mama paham, tapi kalau kalian udah nikah, kalian tinggal tunjukkan bukti kalian saling memiliki, kalau cuma pacaran doang mah gak akan mempan. pelakor sama pebinor sekarang tuh udah macam kayak zombie kudu dimusnahkan pake obat khusus." tutur Fena panjang kali lebar.


Shavara menghembuskan napas gusar," Ma, sekarang pernikahan bukan jawaban mengusir pelakor, pebinor. justru orang nikah yang sekarang jadi target mereka."


" Masa sih, seenggak tahu malu gitu mereka?"


" Iya, ada yang bilang cukup jadi gak tahu diri aja untuk jadi pelakor, pebinor."


" Astaghfirullah, pasti mereka jelek orangnya."


" Ma, jangan main fisik kalau mau menghina." tegur Anggara. istrinya ini kalau sedang kumat mulutnya pedas kayak boncabe level 13.


" Mama gak ngomong soal fisik doang,Pah. tapi kalau dia cantik kan dia gak perlu rebut pasangan orang, dia pasti bisa cari pasangan yang single. awas aja ada yang berani ganggu kita, gak peduli siapa dukungannya Mama libas habis. itu peringatan bagi Papa sama yang lain."


" Kok, Papa? kan papa mah udah teruji, Ma. Gak ada yang Papa butuhkan kecuali Mama. the only one deh."


Semuanya terkekeh, sedangkan Fena mendengkus karena salah tingkah.


" Kesimpulannya pernikahan ini mau dimajukan atau sesuai rencana awal, Bu Fena?" tanya penghulu itu.


Fena dan keluarga menatap Bhumi dan Shavara, Bhumi yang ditatap menatap Shavara.


" Sesuai jadwal asal aja, Pak. maaf, merepotkan bapak." Shavara tersenyum kikuk.


" Gak apa-apa. apa yang katakan ibu Fena tidak salah, tapi argumentasi kamu juga gak salah. sebaiknya pernikahan itu dilakukan dalam suasana dan pikiran yang matang dan terang."


" Kalau begitu kami permisi dulu, ya. semoga semuanya berjalan lancar." bapak penghulu, RT, dan RW meninggalkan rumah setelah mendapat permohonan maaf dari keluarga.


" Mama sih suka seradak-seruduk. santai gitu loh, ma." omel Anggara.


" Ya maaf, Mama kan gak mau anak mama menderita lagi karena lelaki."


" Itu namanya Mama meragukan Bhumi kalau dia pria baik-baik."


" Enggak gitu ya, Pa. hanya waspada." elak Fena.


" Udah ah, Papa capek. yuk kita pulang."

__ADS_1


" Gak makan siang dulu, Pa?"


" Makan apa? dari tadi Rianti cuma ngikuti maunya kamu, mana sempat dia masak."


" Kan laper, Pa." Fena mode manja, membuat yang lain keki sendiri karena terbiasa melihat Fena mode macan.


" Makan diluar, Mama yang traktir." canda Anggara. namun Anggara mengulurkan tangan untuk dipegang Fena.


" Issh, romantis sekali anda. makan diluar istri yang bayar." dumel Fena namun tak ayal tangannya menyambut uluran tangan suaminya.


Anggara terkekeh, memancing emosi istrinya yang bersumbu pendek ini adalah kesenangan baginya.


" Dek, mau pulang bereng, gak?" tanya Fena pada Aditya.


" Enggak, adek mau belajar dulu baru pulang. di rumah mah gak bisa belajar diganggu Mama mulu."


Fena nyengir lebar." maaf, gak ada yang bisa diganggu lagi selain kamu, Aa kamu gak gak asik, mukanya datar gitu. teteh kamu cengeng, ujung-ujungnya ngadu Papa."


" Kamu, teh?"


" Shava biar saya yang nganter, kami mau ke percetakan dulu buat undangan." sahut Bhumi."


" Kalau gitu kami permisi dulu."


❤️❤️❤️❤️❤️


" Lo sih dulu pake acara ngeladenin Kinan, ribet kan jadinya." ucap Erlangga setelah mendengar cerita apa yang terjadi di rumah tadi.


" Ck, waktu itu gak kelihatan culasnya dia." elak Bhumi.


" Gue kasih tahu satu hal, sebelum dia deketin Lo, dia deketin gue duluan, tapi gue gak notice, gue hafal tabiat macam tu cewek, makanya tu cewek sampe sekarang gak suka gue, benci malah."


" seriusan?" Adnan tidak percaya segampang itu Kinan.


" Hmm."


" Kenapa gak cerita?"


" Ngapain? kayak cewek aja."


" Kalau Lo cerita, gue gak bakal nerima dia, Elang." greget Bhumi.


" Ck, gak gitu konsepnya, Lo kalau gak suka juga gak bakal nerima dia, Lo nerima dia karena Lo suka, kalau pada akhirnya Lo ilfeel sama dia ya itu beda cerita."kukuh Erlangga.


" Lo punya masalah sama dia?" tanya Adnan penasaran, karena baru ini Erlangga seenggak begitu suka pada orang.


Erlangga menggeleng," Gak secara pribadi, tapi teman SMP gue ada yang pernah jadi korban dia, dia udah habis-habisan belanjain Kinan tapi ujungnya dibuang gak jelas, untnung gue bisa minta balik uang dia."


" Anjir, gak tahu malu banget Lo, Lang. cowok, Lang. cowok. anti minta balik duit." cibir Adnan.


" Bodo, cewek macam Kinan mah kudu diperas balik, bro. coba aja, Bhum. Lo bilang kalau Lo kere, semua harta Lo udah jadi milik Vara, dia bakal ninggalin Lo."


" Lo gak dengar Kinan bilang dia cinta Bhumi."


" Ck, cinta-nya dia harus dengan uang, man. coba aja usaha itu."


" Memang semua harta gue udah dipindah nama."


" APA?" Tiga sahabat Bhumi terkejut yang membuat pengunjung yang ada menoleh padanya disebabkan juga terkejut termasuk Monika yang duduk dengan para temannya.


dia duduk di meja di samping empat lelaki itu namun membelakanginya. Monika sungguh kaget dengan ucapan Bhumi.


Monika tidak bermaksud mencuri dengar, tapi yang namanya ngobrol tetangga meja pasti satu atau dua kata terdengar.


' Gak ke Shava semua, gue bagi ke ibu sama Senja."


" Gila, Lo. kalau Lo jodoh sama dia kalau kagak?" Adnan yang protes.


" Belum sah, baru draft doang. sesudah ijab rencananya baru gue bawa ke notaris."


" Termasuk resto ini?"tanya Wisnu, Bhumi mengangguk m.


" Gila, sebucin itu Lo sama Vara." ucap Erlangga.


" Dia pemilik resto ini, tapi kenapa seberuntung itu itu, Vara." kata hati monika.


" Gue keberatan." ucap Wisnu.


" Lha, adeknya dikasih duit dia gak mau." Erlangga dibuat bingung oleh Wisnu


Monika s makin memasang telinganya walau mata dan bibirnya bercengkrama dengan para temannya.


Wisnu menggeleng." Lo lakuin ini karena Papa?"


Bhumi menggeleng," gak sepenuhnya karena beliau."


" Jangan semua omongan Papa Lo kabulin, gimana pun Lo cowok, harus punya pegangan."


" Lo nganjurin Bhumi poligami?" tanya Erlangga.


" Ck, otak kalian ini, cewek mulu. maksud gue, dia juga harus punya simpanan, lebih buat pelebaran bisnis sih. kalau disimpan Vara semua kasihan dia. apa bedanya dia sama Aryo yang jadiin adik gue partner kerja. gue gak mau adik gue jadi aplikasi transfer terus ikut pusing mikirin nafkah keluarga, m gue maunya adik gue hanya menikmatinya saja." tutur Wisnu.


" Silakan, gue pikir Lo peduli sama teman, ternaya ujung-ujungnya tentang adeknya." sahut Adnan.


" Ck, kebanggaan cowok yang udah nikah tu kala istri terlihat sejahtera, bro. Lo gak paham sih teori itu." Wisnu berdecak sebal.


" Tapi, calon mertua Lo, Bhum. makin jadi aja damage-nya. komentar Adnan setelah mendengar cerita mengenai apa yang terjadi di rumah tadi.


Kini empat sahabat itu nongkrong di Warungkita untuk refreshing.


" Hmm, gue butuh mertua kayak gitu untuk menghalau perempuan gak bener."


" Lo tahan, Wis punya Mama kayak gitu?"


" Banyak untungnya malah." kata Wisnu, dia tidak terganggu sama sekali dengan image Mama-nya yang sangar.


" Adek gue mana, Bhum?"


" Di ruangan gue, tidur, habis bikin undangan langsung tepar dia."


" Jangan Lo macem-macemin dia, tinggal menghitung hari kalian halal, sabar bro. ujar Erlangga.


Lagi, Monika terkejut," bagaimana mungkin begitu cepat Shavara mendapat kebahagiaan, sedangkan gue makin menderita. Monika kini merasakan kalau Aryo tidak sebaik yang tampangnya pasang.


" A, kakak." suara lembut mengambil atensi empat lelaki tersebut. Shavara menghampiri mereka.


" Udah bangun, sayang. sini duduk." Bhumi menepuk tempat kosong di sampingnya.


" Capek, dek?" Wisnu menyodorkan segelas air putih pada adiknya.


" Hmm, kalian mau sampe kapan nongkrong?"


" Memang kenapa?" tanya Adnan.


" Udah malam istirahat lah, kalian besok kerja lagi, kan."


" Dih..dudududu... perhatiannya adek abang ini." Adnan mengusap rambut Shavara.


" Bukan ke kalian sih, tapi Aa sama kak Bhumi. kalian mah kalau enggak ke sini pasti ke club." dengkus Shavara.


" Tahu aja di neng cantik ini." ucap Erlangga menyeringai lebar.


" Permisi, ini Kak nasi gorengnya." pramusaji wanita datang menyajikan pesanan Shavara.


" Terima kasih, mbak." Shavara meraih piringnya.


" Ada lagi yang mau dipesan?"


" Tolong tulis nomor WA kamu." celetuk Adnan.


" Tidak ada, kamu bisa pergi." Bhumi mengabaikan permintaan Adnan.


pramusaji tersebut tersenyum lalu pamit.


" Bhumi gak asik."


" Diem Lo, gak ad lagi lo mainin pegawai gue, terakhir Lo punya hubungan sama pegawai gue yang dia marahin pas Lo mutusin dia."


" Dia pegawai baru? baru liat gue." Erlangga ikut nimbrung.


" Anak magang. sekarang kan musim magang."


" Kok kamu gak bilang di sini terima magang, kalau gitu aku magang di sini aja." gerutu Shavara.


" Aku gak tahu kamu mau magang." di bawah meja. Bhumi memainkan jemari satu tangan lain Shavara yang bebas sementara dia makana.

__ADS_1


" Ck, di kampusku itu hampir semua jurusan ada program magang deh kayak ya.


" Aku pindah sini aja ya?"


" Jangan, nanti nama kampus kamu yang jelek."


" Memang Vara magang di mana?" tanya Erlangga.


" Di sekolahnya Adit."


" Di perusahaan aku, mau?" tawar Adnan.


" Jangan, kamu gak boleh pindah." sahut Bhumi cepat.


" Napa? takut banyak yang naksir dia ya."


" Diem Lo, Nan."


Obrolan ringan yang memperlihatkan begitu Shavara dipedulikan membaut Monika iri, raut wajahnya menajam tidak suka.


" Lo kenapa, Mon. kelihatan kesal gitu?" tanya temannya.


Monika merubah raut wajahnya menjadi lebih santai, " gak ada, cowok gue gak ng-chat gue jadi kan gue kesel."


" Oh gitu, kirain apa. tapi mantan sahabat Lo beruntung juga ya punya orang yang care sama dia. kalau kalian masih sahabatan mungkin Lo kecipratan untung, Mon dikelilingi cowok ganteng gitu kayaknya mereka eksmud dah."


" Ck, gak perlu jadi sahabat dia buat kenal eksmud, teman gue banyak." Monika menyombongkan diri.


" Percaya sih, secara body Lo ngejual banget buat jadi magnet eksmud."


"Hahahaha iya, dong.".


" Lo udah ada rencana mau magang dimana?"


" Gampang itu mah, kan gue bilang banyak kenalan pengusaha. malam ini clubbing yok."


" kuy lah. bete gue juga."


" Langsung aja dari sini." tawar teman satunya.


" Gak, ganti baju. masa clubbing pake jeans, kelihatan banget mahasiswa." tolak Monika.


" Harus hot, bahkan kit ataupun Han siapa diantara kita yang paling hot."


Obrolannya para mahasiswa itu pun bergulir mengenali dunia malam.


" Dek, Aa mau pulang, mau bareng?"


" Dia gue yang nganter."


" Aku pulang barn g Aa aja ya, kasihan kamu bolak balik.


" Gak ada, kamu harus pulang sama aku." Shavara menatap kakaknya lalu menggeleng.


" Ya udah Aa pulang duluan, Lo anterin adek gue utuh.


" Siip itu mah." maka tersisa lah mereka berdua.


" Ke ruangan aku dulu yuk sebelum pulang."


" Hmm, aku mau ambil tas aku juga."


Shavara dan Bhumi beranjak melintasi ruangan menuju lantai dua diikuti tatapan tidak suka Monika karena dia insan tersebut terlihat saling mencintai walau tanpa skinship karena mereka hanya berjalan berdampingan namun dari bahasa tubuh terlihat jelas mereka saling tertarik.


Tatapan lembut dan senyuman hangat Bhumi menarik perhatian Monika, " Gue pengen mendapat perlakuan itu juga." bathin Monika.


¥¥¥¥


" Sini, duduk dulu sayang." Bhumi tiba-tiba menarik Shavara yang terduduk di pangkuannya.


" Kakak ih ngagetin aja."


" Kangen."


" Ga jelas banget. aku seharian sama kamu Loh ini."


Bhumi menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shavara." Gak tahu kenapa bawaanya pengen selalu sama kamu." ucapnya sedikit tidak jelas.


Shavara memiringkan kepalanya, lalu mengalungkan tangan di leher bhumi ia memainkan rambut Bhumi seiring kec'upan-kecupan yang diberikan Bhumi.


" Kakh, udah malam ayok pulang." suara Shavara memberat.


Bukannya melepaskan diri, tangan Bhumi malah menyusup menyentuh perut ramping Shavara dan bermain di sana. rasa geli dan gelenyar hangat dirasakan Shavara akibat ulah tangan besar itu.


" Hmmhmmhh...". Bhumi menjauhkan wajahnya, sambil membelai pipi Shavara ia menatap Shavara.


" Pengen cepat-cepat, halal. pengen cepat-cepat rasain kamu, membayangkan aku di dalam diri kamu, begitu nikmat, pasti sangat nikmat." erang Bhumi menarik pinggang Shavara melekat dengan tubuhnya.


" Awas pisang kamu baper, kan berabe."


" Kan ada kamu yang ngocokin."


Shavara menumbuk dada Bhumi." Kak gak usah sekelas itu ngomongnya."


Bhumi terkekeh, ia lalu mendekatkan diri ke telinga Shavara" pisang aku udah baper. kasih perawatan dulu yuk." Bhumi menekan bok*ng Shavara ke miliknya membesar.


Shavara menggeleng." no, aku gak amu Tremor lagi." Bhumi tergelak.


" Biasain nanti juga biasa aja." Bhumi mengigit bibir bawahnya saat dia menggoyang Shavara di atas pisangnya.


" Kakh..."


" Aku mau, sayanngh...aaahhh... nikmat." Bhumi mencivm Shavara menahan tengkuknya untuk memperdalam civman yang tidak lama makin memanas.


lvmatan dan pag'utan saling bersaing mengambil posisi dominan membuat suhu ruangan semakin panas.


tangan Bhumi bergerak naik-turun mengusap punggung halus Shavara dan melapas kaitan br*


" Aaaahh...shhh....aahhh..." lenguh Shavara saat tangan itu berputar ke depan dan bermain dengan miliknya di sana.


" Kakh,...aahhh...ssshh.." Shavara mengigit bahu Bhumi menekan hasrat yang lain naik akibat godaan tangan Bhumi yang mempermainkan puncaknya.


" Kakh..hmmpphh.." dari rakusnya pag'utan Bhumi dengan lidahnya yang bermain membelit dan menghisap, Bhumi jelas makin menggila.


Shavara merubah duduk menghadap Bhumi dengan kaki terbuka di pah* Bhumi. meremas rambut Bhumi seiring naiknya kenikmatan itu.


" Aaaahhh..."


" Hmmmhmmmh.


******* saling bersahutan dalam ruangan itu saat tubuh Shavara dibaringkan diikuti Bhumi di atasnya dengan tangan mengelus di sepanjang tungkai Shavara dan itu memakan waktu lama sampai Bhumi menuntaskan akhirnya di kamar mandi dan CD Shavara kembali basah wali kini Isa punya salinnya karena tadi mereka sempat mampir ke outlet.


❤️❤️❤️❤️


Kinan tengah menenggak minuman beralkohol ya untuk gelas ke tiganya. hari ini rencananya tidak ada yang berjalan lancar, Bahakan menyerang balik padanya saat Erik menolak mengembalikan Langit kepadanya.


" Dewa, Dewa. kenapa kamu tidak memahami keinginan ku, kenapa dia yang kamu sayangi, bukan aku, aku tidak menerima ini. aku yang pertama menjadi kekasih mu seharusnya aku yang kamu puja." racau Kinan menenggak gelas ke empatnya.


" Hai, lady. sedang susah hati, hmm?" di tampan dengan rupa baik nan teduh mendekati Kinan dengan tangan menarik pinggangnya agar menempel padanya.


Kinan mengerjap memperjelas penglihatannya," Siapa kau?"


" Kamu siapa, cantik?" bisik lelaki itu.


" Kinan, kau..."


" Aryo. lelaki yang memuja tubuh mu."


Kinan tersenyum, dia membelai dagu Aryo." Lelaki yang dari tadi memperhatikan aku, hmm."


" Yups. dan kamu perempuan yang kekasihnya direbut oleh mantan ku." terka Aryo yang tadi pagi sempat melihat drama Kinan di gerbang bersama Shavara dan lelaki berjaket hitam.


" Kau...ahhh..perempuan itu, aku benci anak kecil itu yang membuat aku sakit hati.


" Dan aku siap menyembuhkannya dalam semalam."


" Hotel?"


" Aku sudah booking kamar di atas." Aryo menji'lati telinga Kinan


" Sayang kalau disia-siakan."


Aryo tersenyum buas, tangan besarnya menggendong Kinan yang lemas karena mabuk menaiki tangga...


"

__ADS_1


__ADS_2