Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
77. Karena Cinta dan Sayang


__ADS_3

15 menit sudah Bian dan Robert duduk saling berhadapan terhalang meja bundar di lounge the Altair sebuah lounge mewah bak teman sejawat karena sesama mengenakan pakaian formal kantoran.


Seharusnya Robert sudah kembali pulang ke Amerika bertemu kangen dengan anak dan istrinya namun mereka melarang kembali sebelum hubungannya dengan Bian membaik.


Sudah banyak cara dengan berbagai jurus ditempuh Robert mendekati Bian, namun sejauh ini hasilnya hanya seuprit.


Bian teguh pendirian enggan mengakuinya sebagai ayah, sebenarnya andai Robert tahu bukan Bian tidak ingin tapi ia tidak enak hati pada Edo yang mana mereka sudah mulai terbuka dan dekat.


" Son, apa sebegitu sulitnya kamu memaafkan Daddy yang terlambat mendatangimu?."


Bian diam sembari memainkan tangannya, kebiasaannya saat dia gugup.


Bian menghela napas," Aku senang Om..."


" Daddy, tolong panggil aku Daddy."


" Aku hanya tidak ingin Papa marah dan merasa kesepian setelah mengetahui semua ini. Kau akui aku senang kau ternyata tidak seburuk yang ku pikirkan, tapi...aku tidak ingin Papa merasakan apa yang pernah aku rasakan. Yaitu seorang diri."


" Papa hanya punya aku, Senja dan bang Bhumi masih menolaknya walau ibu Rianti dengan terpaksa menerimanya, tapi itu pun atas bujukan keras om Fathan."


" Jadi ku harap O..Da...Dy...memahamiku..."


Grep...


Bian tersentak dari arah belakang dua tangan memeluk lehernya, lalu kepalanya dikecup khidmat oleh seseorang yang selama ini ia rindukan aksi ini.


Tanpa diketahui oleh keduanya sejak tadi Edo duduk satu meja membelakangi Bian, ia mengikuti keman Bian pergi hari ini saat tahu mobil yang ditungganginya tidak mengarah ke gedung perkantoran.


"Maaf, dan terima kasih..." ucap Edo pelan.


Jantungnya berdegup kencang kala Robert meminta Bian mengakui ia ayahnya, keresahan menghinggapinya. Rasa bersalah untuk sekian kali merambah hatinya.


Meski belakangan ini ia mendukung Robert untuk dekat dengan Bian, tapi ternyata melihat mereka berdua dekat sangat menyakiti hatinya, lebih ke rasa takut ia kehilangan Bian.


Ia tidak lagi boleh egois, fokusnya sekarang anak-anaknya bahagia. Kesalahannya dulu sangat fatal akibat kegilaannya yang bermain dengan wanita disaat dia masih menjadi suami wanita lain.


Bian memegang tangan besar itu erat, memberi kode kalau dia menyayanginya.


Edo memutari kursi itu, berjongkok di bawahnya. menatap Bian yang menunduk dalam yang ternyata untuk menyembunyikan matanya yang basah.


" Yan, Papa akan ikut bahagia kalau kamu bahagia, tidak dipungkiri ada sejumput rasa ketakutan Papa kamu lebih memilih Daddy mu, tapi papa tahu diri untuk tidak egois karena selama ini mengabaikan kamu. kesalahan Papa sangat besar untuk kamu maafkan.janga pikirkan...."


" Aku tidak bisa tidak memikirkan Papa, papa memang mengecewakan aku, tapi itu karena aku menyayangi Papa." potong Bian.


" Dan Daddy tidak bermaksud memisahkan kalian, Daddy hanya ingin kamu memberikan kesempatan Daddy untuk memperbaiki kesalahan Daddy sebagai ayah kamu." timpal Robert.


" Pa..."


" Papa akan mengikuti apa mau mu. Papa di sini akan selalu ada untuk anak-anak papa. Kamu kakaknya Senja, adiknya Dewa."


Bian menatap Robert." Bagaimana dengan keluargamu di sana?"


" Mereka sangat excited, mereka melarang Daddy pulang kalau belum berbaikan dengan kamu. Mereka memarahi Daddy yang tidak tahu kalau kamu sempat OD."


" Benarkah mereka menerima ku?" Bian hanya tidak ingin mendapat harapan palsu


Dia sungguh ingin memiliki keluarga, hanya itu!


" Mereka tidak sabar ingin mengunjungi mu, tapi harus menunggu Emily, adikmu dari liburannya dulu."


Selanjutnya Bian meminta persetujuan Edo yang mengangguk padanya. Edo berdiri, menepuk pundak bian.


" Papa tunggu kamu di kantor, papa juga harus lebih giat mendekati Enja." dia memahami mereka berdua butuh waktu untuk saling bicara secara pribadi.


Sebelum pergi Edo mengecup ubun-ubun Bian." Papa sayang kamu."


Sepergian Edo, suasan untuk ebbrap saat hening. " Da...d...mm..."


" Bagaiman kalau kita mulai dari makanan favorit, Daddy sangat lapar."


Bian tersenyum relax, walaupun ia akhirnya mengangguk," Aku ingin makan pizza."


" Oh nooo, Daddy akan dimarahi mommy Helen mu, kalau membiarkan kamu makan junk food itu." erang Robert.


" Kenapa?"


" Karena itu junk food. Apalagi memangnya."


" Tapi itu enak."


" Gak bergizi, itu kata mommy mu. Dia hanya akan membiarkan kamu makan itu sebulan sekali."


" Owwwhhh noooo...Dad." kini Bian yang meringis.


" Yeah itu sangat menyebalkan, tapi jangan khawatir kita bisa memakannya kalau tidak diketahui mommy mu."


" Oohhh yes, Dad. That's cool." melakukan sedikit kenakalan selalu membuat Bian bersemangat.


" Hahahahahaha kau dan Emily kan cocok."


" Aku senang mendengarnya, dia perempuan, tidak mungkin kan aku berantem dengannya. Bang Bhumi selalu memarahiku kalau aku berantem sama teman perempuan kelas ku."


Mereka tertawa membayangkan kenakalan-kenakalan yang akan mereka lakukan di belakang mommy Helen. setelahnya obrolan ringan bergulir.


" Setelah dari sini kamu akan kemana?"


" Ke kantor Papa menjemput Senja. Aku ingin sedikit mengejutkannya."


" Boleh Daddy ikut?"


" Tentu."


❤️❤️❤️


" KAUU...." Desty seperti kesetanan menyerang Senja,


Dia ambil sepatu hak tinggi-nya, kemudian dia lempar yang berakhir mengemai kening Senja hingga bocor berdarah.


" Kyaaaa.." Senja memegangi kepalanya yang terasa sakit.


" SENJAAAA..."


Teriak Edo dan Toni kaget serta petinggi perusahaan juga kaget bukan main. Mereka tidak sempat menghalau serangan itu.


Bersamaan dengan lemparan itu pintu terbuka mendapati Robert dan Bian yang terbelalak kaget


"MAMAAA..."


Bian berlari mengamankan ibunya, refleks dia tarik punggung Desty hingga terjerembab di lantai.


Sementara Robert tercengang lebar tidak percaya akan kelakuan kekanak-kanakan dari wanita yang dia tahu sangat elegan.


" BIAAANNN..." bentak Desty yang tidak dihiraukan Bian, dia terlalu mencemaskan Senja, tepatnya dia mencemaskan reaksi Bhumi padanya yang tidak bisa menjaga Senja.


Desty yang melihat raut Edo untuk Senja merasa sedih, dia merasa terbuang. Dulu Edo menatapnya dengan menggilainya, dia adalah dunianya.


Tatapan Edo tidak lagi padanya, bahkan bagi Edo dia bagai makhluk tidak kasat mata.


" AAAAWWW...SAKITTT...." tangis Senja.


" Panggil dokter." Edo dirundung kepanikan.


Toni berserta yang lain segera menelpon petugas kesehatan perusahaan.


Menggunakan sapu tangan berbahan satin, Edo menyumpal darah yang terus mengalir, raut ketakutannya tertampak jelas di sana.


Edo mendudukan Senja kembali ke sofa, membawanya ke dalam rangkulannya." Sayang,...bertahanlah."


" Bian, kau jaga dia, jangan sampai dia lolos. Ibu mu benar-benar..."


" Pa..." Edo menatap Senja. Ia menggeleng.


Senja memegangi lengan Edo, " Jangan,...cukup...biarkan aku yang membalasnya." ucapnya lemah.


" Hmm.."


Berselang 10 menit kemudian Senja tengah diperiksa oleh dokter perusahaan." Kami sudah mengupayakan agar darah tidak mengalir, tapi tentu saja nona muda harus diperiksakan ke rumah sakit." dokter itu memberesi perlengkapannya.

__ADS_1


Selama itu juga tanpa disadarinya Senja menggenggam tangan Edo guna meredam rasa sakitnya.


Tentu Edo menyambut genggaman itu dengan menggenggam balik tangan mungil itu.


" Tentu, terim kasih atas usahanya."


" kami permisi."


Ruangan kini hanya tersisa, mereka berlima serta Toni di sana.


Kini barulah Desty merasa was-was akan apa yang terjadi." Mas, a...aku...minta maaf...a..ku...minta maaf..."


Edo menatapnya nyalang," Mau apa sih kau kemari?, di sini bukan tempat mu lagi."


" Ma..mass...aku tidak bisa menerima talak dari mu."


" Saya tidak peduli, saya telah menjatuhkan talak, dan sidang cerai sebentar lagi akan dilakukan, sebaiknya kau bersikap kooperatif, atau saya habisi kamu." murka Edo, dia amat sangat marah.


Senja mengusap lengan Edo, sedangkan Bian dengan telaten tengah menyuapinya teh manis dalam sendok kecil..


" Pa,..."


" Bang Toni, suruh pihak keamanan membawanya keluar, sebarkan ke seluruh gedung perusahaan agar dia dilarang masuk." pinta Senja yang langsung diangguki Toni.


Desty membelalak, " KAU..."


" Ck, diam, suara mu jelek. Kau itu pencuri, jadi jangan bertingkah sok memiliki semuanya di sini. Pergi."


" Bian, apa kau akan diam saja melihat ibu mu dihina?"


" Hmm, sebaiknya kau pergi." ucap Bian datar.


Mata Desty kian melotot membesar, dia menggeram." Kau, bocah. tunggu pembalasan ku nanti."


" Bosan, cari aja duit buat makan, gak usah mikirin pembalasan."


Tok...tok...


Sang sekretaris masuk bersama dua petugas keamanan," Bawa dia." seru Edo.


Mereka langsung melaksanakan perintahnya." Robert, tolong aku.. Robert demi masa lalu kita, aku ibu dari anak mu, please tolong aku..." teriak Desty tidak tahu malu saat diseret oleh kemanan.


" Akhirnya dia mengakui Bian bukan anak Papa." ucap Bian sembari tersenyum kecut.


Senja memeluk lengan Bian." Tapi kakak, Kakak aku, aku anak Papa. Jadi kakak anak papa." ucap Senja tidak sadar, dia terlalu memikirkan sakit hatinya Bian.


Edo tersentak begitupun dengan Bain, keduanya mengulum senyum bahagia.


" Kamu benar, aku kakak mu, jadi kita Papa."


" Dan Daddy." tambah Robert tidak mau kalah.


Bian menyeringai sumringah." dan anak Daddy."


" Lumayan uang jajan nambah." celetuk Senja yang mengundang tawa semuanya.


❤️❤️❤️❤️


" Senjaaa..... Kamu kenapa, nak?" pekik Fena heboh saat melihat kening Senja yang diperban.


Semua orang yang tengah mempersiapkan bahan barbequean di pekarangan samping samping berlarian keluar.


Sebenarnya Senja malas menerangkan, tapi kalau tidak dijelaskan akan panjang urusannya.


Maka dengan hati-hati sembari mata melirik Bhumi mulut Senja bercerita apa yang terjadi tadi.


" Terus si wanita itu gimana? Bonyok gak dia sama kamu?" geram Fena.


" Gak, Tan. Kan ceritanya Enja-nya lagi terluka, Tan. lumayan nyot-nyotan loh ini, Tan."


" Bahasa mu, Ja. absurd banget." ucap Aditya.


" Udah..udah ..biarkan Enja ganti baju dulu. Ja ke kamar mbak yuk." lerai Shavara.


Di kamar, Bhumi dan Rianti yang ikut masuk, kembali bertanya pada Senja." Kamu beneran gak apa-apa? Kenapa gak telpon Mas?"" tanya Bhumi.


"Papa?" tanya Bhumi tidak suka.


Senja mengigit bibirnya, dia tidak sadar mengucapkan itu. Ia menunduk takut-takut.


Rianti yang duduk tidak jauh dari Bhumi langsung mengusap lengan Bhumi." Bhum. Biarkan semuanya terjadi, jangan memelihara kebencian, gak ada manfaatnya. Kamu juga coba lah berdamai."


" Ibu gak boleh mudah memaafkan dia, ingat, ibu dulu hampir gila karena dia, ibu hampir bunuh diri karena dia. kita gak boleh memaafkannya."


" Sayang, anak ku Bhumi. Ternyata saat melihat dia, hati ibu tidak sesakit yang ibu kira. Karena kita sudah membuktikan padanya kita baik-baik saja, tetapi dia tidak. Apa yang terjadi pada Bian mengatakan segalanya. Tuhan telah membalasnya dengan caranya sendiri. ibu hanya ingin menikmati masa tua dengan tenang,"


" kalau kamu belum bisa berdamai dan memaafkan ya tidak mengapa, tapi jangan buat diri kamu susah untuk sesuatu yang tidak bisa diubah."


" Buuu.." Bhumi menjumput rambutnya kesal, dia belum bisa menerima keluarganya dengan mudah menerima lelaki brengsek itu.


" Aku pergi menenangkan diri." Bhumi beranjak pergi yang ternyata masuk ke kamar Wisnu.


Saking marahnya dia tidak melihat Bian yang berdiri di depan kamar Shavara.


Senja sudah sesenggukan menangis." Maaf, ini salah Enja. Enja hanya ingin merasakan punya ayah. Meski ada ayah Fathan tetap saja..."


" Tetap berbeda, hmm?" Rianti membelai rambut Senja.


" Gak apa, Mas mu akan paham. Dia hanya...ya... sedang menyesuaikan diri saja. Jangan merasa bersalah, beliau memang papa mu." Rianti memeluk Senja khidmat


" Ja." panggil Bian di ambang pintu.


Bian memberanikan diri memanggil Senja setelah menimbang-nimbang cukup lama.


" kamu baik-baik saja?"


" Kak, mas Bhumi marah sama aku, aku...."


Grepp...


Bian melangkah lebar membawa Senja kedalam pelukannya." Kakak ada di samping kamu, jangan marah sama bang Bhumi, tapi kamu juga jangan berputus asa. ikuti apa yang hati kamu tuntun." Bian mengecup kepala Senja.


" Vara, maaf ya keluarga ibu merepotkan kamu."


Shavara menghampiri Rianti yang duduk di samping ranjang. Ia mengambil tangannya dan menepuknya lembut.


" Jangan bicara demikian, Bu. aku tersinggung, aku kayak orang asing bagi ibu. sebelum aku menikahi Aa Bhumi Mama sudah menceritakan semuanya, Aa Bhumi juga, dan aku menerima masa itu, toh masa lalu aku juga tidak bagus-bagus amat. kita barengan aja yuk saling menyembuhkan luka." matanya melirik bergantian kepada ketiga orang itu.


" Bagaimana dengan Aa?"


" Aku gak akan nikahi Aa Bhumi kalau dia berhati batu, maklumi saja kalau hatinya masih belum menerima, pelan-pelan saja ya."


" Dek, kamu mandi yang lain udah ngumpul di bawah." Bian mengusap lengan Senja


^^^^


Tok..tok..


" Masuk..."


Shavara melihat suaminya masih rebahan malas di atas kasur berantakan milik Wisnu.


Shavara duduk di bawah kaki Bhumi," Gak ikut gabung, A." Shavara mengusap betis Bhumi.


" Bentaran lagi."


Puk...


Shavara memukul betis Bhumi," Kalau gak turun aku marah lagi ya, kamu kok gak menghargai aku."


" Emang udah mulai?"


" Ssh, tahu ah."


" Aku tinggal, lewat pintu itu kamu gak juga bangun, aku marah besar sama kamu." Shavara beranjak berdiri.


" Kenapa Enja dengan gampangnya menerima lelaki tua itu? aku sudah menceritakan kebusukan lelaki itu, kenapa dia masih mau menerimanya?" Bhumi bangun terduduk, terlihat sangat lesu.

__ADS_1


Langkah Shavara terhenti, ia berbalik melihat suaminya." Karena Senja ingin seorang ayah."


" Aku memahami kamu kecewa sama papa Edo, tapi sepuluh tahun dalam hidup mu kamu pernah merasakan kasih sayang Papa tapi tidak dengan Senja."


" Aku sudah berusaha keras menjadi..."


" Tetap saja kamu bukan ayahnya. kasih sayang kamu untuk Senja tidak ada yang meragukannya, Senja pun pasti merasakannya, tapi tetap saja itu tidak bisa mengisi peran ayah yang dia butuhkan dalam hidupnya."


Shavara menghampirinya, berdiri diantara kedua kaki Bhumi, menyisir rambutnya, sedikit merapikannya." Aku gak akan maksa kamu untuk menyambutnya, aku berdiri di samping kamu untuk mendukung mu, tapi sayang, jangan buat Senja merasa serba salah karena perasaannya yang tergerak oleh Papa." ucapnya dengan lembut.


Bhumi memeluk pinggang Shavara, menyembunyikan wajahnya ke perut Shavara." Aku, kenapa dia kembali setelah kami sembuh dari luka kami, setelah kami baik-baik saja." Shavara memainkan rambut Bhumi.


" Yakin Senja baik-baik saja?"


Bhumi bergeming, dia mengingat curahan hati Senja yang merindukan sosok ayah dalam hidupnya.


" Aku egois ya."


" Enggak, Enja begitu karena dia gak ngalamin kejadian itu. Kalian punya sakit yang berbeda oleh orang yang sama, ambil waktu selama yang kamu bisa untuk menata hati."


Bhumi menengadah, ia tersenyum lembut yang dibalas tidak kalah lembut oleh Shavara." terima kasih, manis."


" Manis?"


" Siapa itu?" Shavara memicing.


" Kamu, semua hal yang baik dan mempesona itu kamu."


" Duuuhhh, gembelannya tiada tahannn.."


" Heh, lambe mu, mbak." Shavara terkikik akan kesewotan Bhumi.


" Turun yuk, yang lain udah kumpul kayaknya."


" Dia ada?"


" Ada, om Robert, om Fathan semua ada."


" Kamu jangan jauh-jauh dari aku."


" Hmm, ayok berdiri."


Bhumi menahan pinggang Shavara," Civm."


" ck, harus?" Bhumi mengangguk. Ia menunjuk bibirnya.


" Sehari aja gak civman gak bisa?" Bhumi menggeleng.


" isssh kamu itu."


Shavara membingkai wajah Bhumi, ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke suaminya yang matanya terus menatap bibirnya.


Saat jarak beberapa milicenti, Bhumi menyambarnya, ia raih tengkuk Shavara menariknya mendekat dengan bibir langsung melu mat rakus, ia ingin menyalurkan keresahannya.


Satu tangan meluncur memegang rahang Shavara, tangan lain memeluk pinggangnya, mengarahkan Shavara untuk duduk di pangkuannya.


" Hmmmhmmmhh". Shavara mengalungkan tangan di leher Bhumi serta menempelkan tubuhnya yang langsung disambut Bhumi merapatkannya dengan tangan mengelus punggungnya dan satu lain mengusap pa hanya saat lu matan itu semakin dalam dan berubah saling melahap bibir dengan lidah saling membelit.


" Eeehhh..."lengkuh keduanya dengan tubuh tidak ada ruang.


Bhumi melepas pag'utannya, saling menatap untuk sesaat sebelum bibir secy itu mengecvp rahangnya, turun ke leher mencivmi wangi tubuh istrinya.


" Ssshhh..eeehhh..mhhh..aaahhhh..." Shavara menjambak rambut Bhumi dengan kepala menengadah saat bibir Bhumi memutari pangkal leher jenjangnya sedikit mengecap dan menghisap.


" Aaa..hhh..."


Cup...


Bhumi mengecup leher itu, menjauhkan wajahnya, matanya berkabut.


" Kita ke bawah...kalau enggak...aku...makan kamu." senyumnya lebar saat melihat kondisi istrinya.


Napas Shavara terengah-engah, menahan hasratnya." Jangan gini." rengek Shavara.


" Aku juga kesiksa sayang, tapi mumpung belum parah, makanya kau berhenti."


Bhumi membantu Shavara merapihkan diri." Mana kita di kamar Aa." Bhumi terkekeh.


Bhumi mengikuti Shavara keluar dari kamar dengan tangan saling bertaut." Sayang, besok subuh-subuh kita berangkat honeymoon." ucapnya kala mereka di tangga teratas.


" Kok mendadak?" Shavara menarik tangan Bhumi agar terus melangkah menuruni tangga.


" Gak mendadak, aku udah pesan tiket."


" tapi belum packing."


" Backpaker aja, beli baju di sana mumpung yang lain sibuk menghibur Enja."


" Ck, kamu ini, gak bosan main kucing-kucingan terus sama Adit."


" INILAH PENGANTIN BARU TAPI UDAH SUDAH USANG DAN BELUM UNBOXING, MAHADEWA BHUMI MAHENDRA, DENGAN SHAVARA NASUTION...." teriak Aditya sembari bertepuk tangan kala keduanya memasuki pekarangan samping tempat acara diselenggarakan.


" Lihat tuh, sayang. Adik kamu nyebelin abis. Diluar kandang sok baik dan imut, di dalam kandang pengen sleding aku tuh." bisik Bhumi, dengan satu tangan berpindah ke pinggang Shavara.


" Ck, kamu ini gak bisa apa sekali aja rukun sama dia."


" Gak, dia kalau bukan adik kamu, aku usir, Yang."


" Pak, jangan bisik-bisik kayak diskusi cara buat bayi aja. kalau gak bisa bisa tanya Devgan, pak." teriak Ajis tanpa sungkan yang mendapat pelototan dari Bhumi.


Shavara terkikik," Dibanding Ajis, lebih ngeselin mana?"


" Mau aku cemplungin dua-duanya ke gorong-gorong."kekeh Bhumi.


" Hihihi..."


Melihat putra sulungnya tampak bahagia, Edo turut senang walau bersedih hati tidak ada peran dirinya dalam menciptakan kebahagiaan itu.


Ia tak boleh mengeluh, ada dalam satu ruangan bersamanya saja Edo sudah bersyukur. Belakangan ia sering melamun dengan ribuan kata dalam pikirannya semua kata itu dimulai dengan 'andaikan dulu...'


Anggara menepuk bahu Edo," Do, sabar. Bhumi pasti akan memaafkan kamu." seru Anggara yang sadar akan kemuraman koleganya ini.


"Saya akan akan menggunakan seluruh waktu hidup saya menebus kesalahan saya, saya akan menunggu hari itu tiba."


" Jadi stop bermuram durja begitu."


Edo terkekeh, " Terima kasih kamu mau menerima dia menjadi bagian keluarga kamu, orang tua lain pasti akan sulit menerima latar belakangnya yang broken home."


" Bukan saya, tapi Fena. Sejak dulu Fena lah yang selalu berambisi besanan dengan Rianti."


Tanpa malu Bhumi mengambil duduk berdempet dengan Shavara yang duduk di bangku panjang meja berbarengan dengan Berliana dan Mira serta para wanita lainnya.


Yang lain sibuk,Bhumi malah dneg santianya memainkan jari jemari istrinya, sesekali mencvri kecup pipi, bahkan bibirnya saat tidak ada yang memperhatikan mereka.


" Aa..." geram Shavara yang dibalas senyum lebar oleh Bhumi.


Dia enggan bergabung dengan para lelaki yang mana ada ayahnya. Masih sulit hatinya menerima lelaki itu, meski setiap hari dia bisa melihatnya di rumah ibunya.


"Woy, Bhum. sini masak. enak amat Lo mesra-mesraan di sana, gue juga kan pengen." teriak Adnan.


"Ogah, panas. entar tangan gue jelek kena api."


" Hahahaha...huekkkksss.." koor mereka para lelaki muda yang berada di depan pemanggangan serempak


" Tangan item gitu." ledek Erlangga yang berdiri di samping Senja.


Erlangga yang kukuh mendekati Senja, dia bahkan melototi para sahabat Aditya yang menjahili Senja.


" Gowing gini."


" Vara, ya Allah. Coba bawa laki Lo ke dukun kebanyakan obat alay itu, geli gue.." celetuk Mira.


" Ma, Pa, Bu. habis ini aku sama Senja pamit mau liburan."


" APAAAA..."


Yuk..baca karya aku yang lain... tinggalin jejak ya..kalau dapet komen kalian tuh moodbuster banget!!!love sehektar....,❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2