
Seorang pria tengah tertunduk lesu di tepi ranjangnya dan merutuki dirinya sendiri karena teledor tidak menanyakan no kontak sang pujaan hati.
Tadi pagi saat bangun tidur, Bhumi yang sedang dilanda kasmaran dibalut semangat 45 langsung meraih ponselnya untuk menelpon Shavara sekadar say hello.
Namun saat hendak membuka aplikasi WhatsApp, tangannya berhenti bergerak ketika menyadari dirinya tidak memiliki nomor kontak Shavara.
Dan semenjak saat itu hingga kini yang telah berlangsung satu setengah jam dipotong mandi dan shalat Bhumi tidak henti-hentinya memaki dirinya sendiri.
Tidak menghiraukan panggilan dan teriakan para muridnya yang minus akhlak yang selalu mengacau di hampir tiap Minggu paginya untuk mengerjakan tugas fisika sebagai alibi untuk menutupi gengsi karena kejombloan mereka yang muda dan ganteng tapi anteng di rumah pada hari Minggu.
" Ja, mas kamu semedi atau gimana diteriaki gak balas?" Tanya Ajis yang sedang mencangkul pada senja yang tengah menyirami tanaman.
Setiap lima sekawan yang terdiri dari Biyan, Devgan, Leo, Ajis, dan Aditya atau lebih banyak dari itu berkunjung di hari minggu ke rumah Bhumi pasti disuruh mengurus tanaman taman Rianti sebagai imbalan sarapan yang disuguhi tuan rumah.
" Gak ngerti, dari tadi belum turun juga, kencan buta semalam gagal kali." Jawab senja yang mencabut rumput kering di depannya.
Empat pemuda terbilang tampan itu kaget melotot bukan main, ini berita hangat, mereka meninggalkan pekerjaan mereka dari ibu memilih mendekati Senja yang sedang berjongkok.
" Kencana buta? Pak Dewa?" Bian yang sedang mencampur tanah di pot bergeser turut mendekati Senja bersama potnya karena pekerjaannya nanggung hampir selesai.
" Iya, ibu semalam bikin pertemuan perjodohan buat masa Bhumi dengan anak dari teman arisannya, aku pikir berhasil. Mas Bhumi pulang jam tiga pagi. Tapi pagi-pagi tadi dari dalam kamarnya aku dengar mas Bhumi marah-marah."
" Gagal maning, gagal maning. mas mu itu maunya yang kayak gimana sih, dek?" Tanya Leo bingung.
Mereka tahu ini bukan kali pertama Rianti menjodohkan guru gantengnya itu. Informasi perjodohan Bhumi mereka dapatkan dari Senja dengan imbalan sebatang coklat Silverqueen.
" Aku curiganya kali ini bukan mas Bhumi yang nolak, tapi beliau yang ditolak. Buktinya mas Bhumi pulang pagi."
" Nobar bola kali sama sahabatnya." Sangsi Devgan.
" No, aku udah telpon satu-satu para jomblo senior itu, tapi mereka bilang justru mereka lagi nunggu mas Bhumi tapi gak datang juga."
" Ck, ck, ini misteri hidup. Kemana kah pak Dewa semalam, terus mengapa sampai sekarang guru idola kita itu belum juga nunjukin batang hidungnya?" Gumam Bian sembari memegangi dagunya sok mikir.
" Dek, tadi kamu bilang para jomblo senior, terus jomblo juniornya siapa?" tanya Ajis.
"Kalian lah. hahahaha. hepmh. penuh." Senja memuntahkan rumput yang dimasukan ke mulutnya oleh Leo.
" kakak." bentak Senja membersihkan mulutnya dari lumpur rumput.
" Kamu gak sadar kamu juga jomblo."
" Aku gak bakalan jomblo kalau kalian enggak ngancem orang yang lagi usaha pdkt ke aku." sentak senja kesal.
Bukan rahasia lagi di sekolah kelima pemuda itu merupakan pawang Senja bagi siapa saja yang ingin mendekatinya harus lulus ujian dari mereka dahulu.
" Ya gimana dek, demi nilai."
" Dasar mental kacung."
" Itu kan di sekolah. tinggal kamu cari pacar anak yang bukan satu sekolah." sahut Bian.
" Ada mas Bhumi yang bakal ngehajar orang yang amin ke rumah aku. aku tinggal bersama pura mahkota yang dzalim, bang." rengek Senja mendramatisir.
" Sabar,Ja. sabar. semuanya pasti ada akhirnya." Devgan mengelus pundak Senja sok prihatin.
" Kamu cariin mas mu pacar. biasanya lelaki kalau udah punya pacar sibuk dengan urusannya." usul Bian.
" Ini ibu lagi usaha. padahal mas Bhumi banyak pekerjaan lho, termasuk membina kalian agar lebih waras, tapi masih aja punya waktu ngurusin aku. Herna aku tuh." dumel Senja.
" Gak sopan gosipin guru di rumahnya sendiri lagi." Ucap suara berat dari belakang mereka
Mereka menoleh, dan terlonjak karena terkejut, ternyata Bhumi sudah berdiri sambil bersedekap.
" Eh, bapak. Udah galaunya?" Celtuk Devgan yang mendapat jitakan dari teman-temannya.
" Siapa yang galau?" Bhumi melirik Senja yang sudah bersembunyi di belakang tubuh kekar Bian.
Ajis beranjak menghampiri Bhumi. Kemudian menepuk-nepuk pundak Bhumi" Pak, tabah. Memang tidak semua bisa berjalan lancar seperti yang kita mau." Nasihatnya sok bijak.
" Saya biasa saja, gak galau, dan semuanya berjalan lancar." Bhumi menyapukan tangannya di pundak seakan mengusir debu dari tangan Ajis.
" Tangan saya bersih, pak. tadi kerja pake sarung tangan. emang saya bosan hidup bikin bapak kotor."
" Lha kamu sendiri kotoran, karena punya otak kotor kebanyakan nonton bokep."
" Sabar Jis, sabar. orang sabar bininya cakep kayak bidadari." monolog Ajis.
" Terus kenapa bapak nyuekin kita yang udah bela-belain datang pagi." Sungut Leo.
" Ini baru jam setengah sembilan, kalian datang jam berapa?"
" Setengah tujuh." Timpal Bian.
" Ck, ck,..sopan sekali berkunjung di pagi buta. kasihan para jomblo ini. Nasib-nasib." Ledek Bhumi menggeleng kepala.
"Bapak, kita jomblo bukan karena nasib, tapi pilihan." Protes Leo.
" Oh, ye. Siap AA yang dari kelas 10 sampe kelas 12 ngejar Arleta tapi belum jua berhasil, malah dia lebih kacau mengejar saya, Leo." Cibir Bhumi.
" Bapak..."
" Shuuttt, akui saja Lo kalah, Yon. Ini kita bukan lagi bahas soal kegagalan percintaan Lo, tapi pak Bhumi." Potong Bian.
" Saya tidak gagal, saat saya tidak mengejar saja para wanita mendekat, apalagi kalau saya berminat." Ucap Bhumi terkesan menyombong,
Para murid hanya bisa mengangguk, mau membantah juga percuma memang begitu adanya meski dengan berat hati.
" Kalau semuanya lancar kenapa bapak terlihat galau." Tanya Devgan.
" Saya melakukan kesalahan, kesalahan yang fatal." Ucap Bhumi meratap.
" Menghamili dia?" Tanya Ajis hati-hati yang langsung dihadiahi sentilan di jidatnya oleh Bhumi.
" Kalian tahu sedikit cerita tentang keluarga saya, saya tidak akan melakukan hal hina seperti itu." Ucapan Bhumi membuat Bian diam tidak nyaman.
" Terus apa?" tanya Leo.
" Saya lupa minta nomor hpnya."
__ADS_1
" HAH?" Semuanya kaget tidak percaya.
" Seriusan?"
" Astaga toge."
" Astaghfirullah."
" Tuhan maha besar."
" Kok bisa?" Tanya mereka serempak.
" Bisa lah, ini buktinya." Dengkus Bhumi akan reaksi mereka yang berlebihan.
" Udah cari di sosmed-nya?" Devgan mengeluarkan ponselnya.
" Udah, gak ada. Kayaknya dia bukan pelaku dunia maya."
" Ya Tuhanku, ku kira cuma bapak yang bermental jadul anti sosmed. Ternyata masih ada yang lain " cerocos Ajis.
" Bukannya dia anak teman Tante Rianti? Kenapa gak samperin aja rumahnya?" Ucap Leon menggebu-gebu.
" Alasannya apa? Masa iya saya datang, permisi om, saya mau ketemu anak om mau minta no hpnya, gitu?"
" Iya juga ya, apa kata bapake kalau perkara hp aja bisa lupa, gimana kalau di sindir. non hp aja lupa gimana kalau lupa membahagiakan anak saya?" Skeptis Bian.
" Auto ngejeledak si bapak ganteng ini" Seloroh Ajis. yang diabaikan Bhumi.
Kali diladeni dia tahu, dirinya akan semakin diledek
" Bapak suka banget dia?" Tanya bersuara lembut.
" Banget, dari pandangan pertama udah suka." Bhumi keceplosan.
" I..BBUUU....MAS BHUMI..." Senja berlari ke dalam rumah tidak sabar mengabarkan hal fenomenal ini.
Bhumi tersentak sadar, sial, mereka melupakan keberadaan adiknya yang bocor abis mulutnya.
" Kalian tangkap dia sebelum bicara sama ibu atau kalian dapet hukuman menjawab 50 soal dalam 1×24 jam."
Keempat pemuda itu lantas berdiri kemudian berlari menyusul ke dalam rumah.
" Senja...."
" Enja..."
" Enjot...."
" Petang...."
❤️❤️❤️
Wisnu membawa secangkir kopi ke teras samping dimana seperti biasanya papa sibuk dengan burungnya . Ia masih melihat mama dan adiknya saling sahut debat begitu serius dengan ponsel Adit di depan mereka bagai membahas rahasia negara.
" Pa, gak ikut gabung?"
" Hmm." Wisnu duduk lesehan membantu Anggara membersihkan kandang burung.
" Kamu tahu sesuatu?" Tanya papa.
" Apa?"
" Papa tadi curi dengar, mereka ada ngomong tentang si adek Vara." Bisik papa.
" Enggak, tadi bukannya Adit udah lapor ke kalian pas sarapan kan."
Anggara mengangguk." Si adek udah bangun?"
" Gak tahu, yang pasti dia belum turun."
" Ini udah jam setengah sembilan, belum makan dia. Bangunin geh."
Brak....
Wisnu dan Anggara tersentak kaget menatap Fena yang berdiri dengan raut tegang.
" Adit, bangunin teteh kamu, kalau bisa seret dia."
" Siap, Bu bos." Aditya memberi hormat kemudian berlari ke dalam rumah.
Nyatanya gadis yang masih tiduran di dalam kamar berwarna pink soft itu sudah bangun dari dua jam yang lalu, dia kini sibuk mencari sosial media Bhumi.
Bangun dengan senyum tersungging di bibir, langsung cuci muka, shalat kemudian memegang ponsel menunggu calon pacarnya menelpon.
Setelah 30 menit menunggu, barulah dia sadar kalau mereka belum bertukar nomor ponsel.
Tok..tok...
" Teh, suruh mama ke taman." Ucap Adit di balik pintu yang tertutup.
" Ngapain?"
" Gak tahu, cepetan ih, teteh tau kan apa yang terjadi kalau lelet."
" Iya..iya..." Shavara beranjak dari ranjang.
Saat Shavara muncul lewat pintu geser, dan berjalan ke arah mama, mama dan Adit memperhatikan langkah Shavara secara seksama.
" Apa ma manggil teteh?" Tanya Shavara saat sudah berhadapan dengan mama.
" Berdiri di depan mama yang bener." Titah mama tegas.
Shavara mengernyit bingung." Ini udah bener."
" Rapetin kakinya."
" Kayak gini?" Shavara menempelkan kedua kakinya satu sama lain.
Wisnu dan Anggara mendekati mereka, hanya ingin melihat bukan menginterupsi. Mereka tidak seberani itu pada mama.
__ADS_1
" Iya, bagus. Sakit gak?"
" Enggak, cuma oleng aja berdirinya."
" Semalam pulang jam berapa?"
Shavara menunduk memainkan ujung kaos rumahannya.
" Jam setengah tiga." Ucapnya pelan.
" Tuh kan ma. Adit gak boong." timpal Aditya.
" Kemana aja setelah dari restoran?" Tanya mama.
" Ke festival kuliner itu Ma."
" Masa sampai pagi?"
" Di sana ada konser musiknya, MA."
" Seru gak?" Serobot Aditya yang mendapat pelototan dari mama.
" Maaf." Aditya memukul-mukul bibirnya.
" Terus?"
" Kan hujan deras. Banget. Kita nunggu hujan reda."
" Kan bawa mobil."
" Tetap aja bahaya Ma, makanya Vara minta nunggu hujan baru jalan."
" Jalan? Kemana?"
" Ke mekdi 24 jam, itu aku bawa pesenan Adit dan Aa Wisnu juga."
" Sampai pagi?"
" Iya." Shavara mengangguk.
" Ngapain di sana?"
" Makan, ngobrol. Ma."
" Sampai pagi?"
" Iya."
" Gak mampir-mampir kemana-mana lagi kan?" Tanya Fena curiga
" Enggak. Dari sana kita pulang."
" Hmm." Mama manggut-manggut seraya mengetuk-ngetuk dagunya.
" Kenapa sih, Ma?" Tanya papa bingung.
" Saat hujan deras kalian nunggu dimana?"
Di sini baru telihat gerak-gerik mencurigakan dari Shavara yang berdiri berpindah tumpuan dari satu kaki ke kaki lainnya.
" Di..di mobil." Jawab Shavara was-was.
" Ngapain aja di mobil?"
Shavara sudah keringat dingin, dia memilin ujung kaosnya makin kecil.
" Ngob..ngbrol."
" Jawab jujur." Bentak mama.
" Ma, itu teteh udsh jujur." Bela papa.
" Papa diem, mana ada orang ngobrol bibirnya bisa bengkak." Fena memberikan foto berupa close up wajah Shavara semalam.
Shavara terhentak tegak, ia menatap mama takut-takut.
" Teh,..." Panggil papa.
" Dek.." Wisnu memegang bahu Shavara menguatkan.
" Ma,..." Cicit Shavara.
" Jawab jujur."
Shavara bukannya tidak mau menjawab, tapi dia malu, mengatakannya.
" Mama..."
" Dia harus bertanggungjawab, seenaknya nyium anak gadis orang pada pertemuan pertama."
Shavara menggeleng," ma, gak begitu adanya."
" Bagaimana kebenarannya?"
" Ma, please..maafin Vara, Vara janji gak bakal..."
" Bullshit, gak mungkin gak terjadi lagi, wong nikmat kan." Sindir Fena.
" Ma.." tegur papa.
" Mama akan menelpon jeng Rianti untuk membahas ini. Ini gak bisa dibiarin."
Fena beranjak masuk ke dalam rumah dengan amarah. Sementara para lelaki karena masih syok, masih diam di tempat.
Suar tangis Shavara lah yang membuat mereka bergerak ke dalam rumah.
" Ma...mama..." Shavara menyusul ke dalam rumah....
Yuk habis baca tinggalkan like, komen, vote, hadiah, dan juga share ya .
__ADS_1