Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
57. Ada Apa Dengan Semalam.


__ADS_3

" Kamu langsung tidur ya, tadi pas nyivm kamu aku rasa napas kamu hangat." Bhumi membelai pipi hangat Shavara. mereka berdiri di teras rumah Shavara.


Shavara terkikik," ada alat baru buat ngukur panas ya."


Bhumi tersenyum," alat khusus buat kamu, si cantik pujaan hati."


" Modusnyaaa..."


" Alat ini emang manfaatnya banyak selain bikin nagih." bisik Bhumi.


Shavara menumbuk perut Bhumi. entah lah mengapa civman yang semula hanya pelan selalu berakhir panas.


" Langsung tidur, aku gak mau kamu sakit."


" Kamu juga langsung pulang. jangan mampir ke angkringan dulu."


" Bentaran aja ke sana cuma mau ngecek anak-anak."


" Tapi udahannya langsung pulang."


" Iya, cantik. masuk gih, istirahat."


" Hati-hati. malam." Shavara hendak membuka pintu namun tangannya


Bhumi mengecup bibir Shavara sebelum melepaskan tangannya." Sayang kalau dilewatkan." Shavara tersenyum lalu menghilang di balik pintu.


Saat Bhumi hendak menaiki motor dia mendapat dari Adnan di ponselnya.


" Gue sama Elang di club, have fun kita sebelum Lo nikah. gak ke sini berarti cupu. btw, gue punya kejutan buat Lo.😏🤪"


" Ck, ni orang suka banget nyari gara-gara. bilang aja gak ikhlas gue punya bini." gumam Bhumi.


Bhumi menaiki motornya sebelum menjawab pesan Adnan." Iye, gue ke sana. tapi bukan berarti gue terima tantangan Lo, cuma pengen lihat aja Lo dicengin cewek, kan udah tua." Bhumi melajukan motornya menuju tempat Adnan berada.


Wisnu menuruni tangga saat berpapasan dengan Shavara." Dek, telpon balik Ana, tadi dia nelpon nanyain kamu." Bhumi memberikan ponselnya ke Shavara.


" Gimana progres Aa sama dia?" Shavara menerima ponsel dari Wisnu.


" Progres apa?" tanya Wisnu dengan muka lempengnya.


" Ck, aku tahu ya kalian pernah civman."


Wisnu menatap Shavara." Dia cerita?"


" Gak sengaja, keceplosan dia pasa Mira nanya kenapa senyum-senyum mulu kayak orang gila."


" udah cepetan telpon balik dia."


" Aa mau kemana? baru pulang juga." Shavara mencari kontak Berliana.


" Cuma nongkrong sama yang lain." Wisnu Enthus dapur mengambil minum.


Saat dirinya hendak keluar dari dapur sudah ada Shavara yang memberikan ponselnya.


" Jangan pulang pagi."


" Bentaran doang, ad ayang mau dibahas."


" Jangan mainin Ana, dia teman aku."


" Emang Aa ada tampang playboy? Aa pergi dulu."


Sampai di kamar, Shavara menyalakan laptop dan membuka room chat di WA-nya sebelum memasuki kemar mandi.


Shavara menyanggul handuk di kepala saat duduk di meja belajarnya, ia membuka WA-nya.


Ia memutar beberapa foto yang dikirim nomor tanpa nama, ia membesarkn gambar, tubuhnya menegang disusul gemetar menahan geram.


Shavara tergesa-gesa ke kamar Aditya yang terlonjak kaget karena suara kerasa saat pintunya dibuka.


" Teh, ada apa?" Aditya merubah posisi dengan duduk menyandar di headboard.


" Man hp kamu, teteh mau pinjem."


Aditya merogoh bantal disebelah, mengambil ponsel dari bawahnya."


" Ini."


" password?"


" Masih sama."


Shavara pun keluar kamar tanpa permisi, " gak jelas." dumel Aditya yang melanjutkan tidurnya.


❤️❤️❤️❤️


" Woy, lama amat." omel Adnan saat Bhumi mengambil duduk di sofa bundar meja mereka.


" Lo WA gue pas gue balik dari rumah Shava. kenapa gak ngomong waktu di resto?"


" Dadakan pengen aja ini, Lo kan bentar lagi mau nikah."


Bhumi melempar cangkang kacang, "jangan lebay, gue nikah hampir gak ada yang berubah kecuali kondisi keuangan gue."


" Ni, pesanan Lo." Erlangga memberikan papperbag pada Bhumi.


" Thanks, kesiksa gue Shava gak punya ini."


" Lo bilang ada kejutan, apa?" Bhumi memperhatikan suasana club' yang semakin hingar bingar.


" Nanti gue kasih tahu, nikmati aja dulu, tapi Lo jangan kaget." ucap Erlangga melirik Adnan yang tersenyum smirk.


" Gue baru kaget kalau Lo pacaran sama adek gue." seloroh Bhumi yang tanpa disadarinya membuat Erlangga menegang di tempatnya. sementara Adnan terkikik puas.


Bhumi memperhatikan mereka berdua, ada yang ganjil," Lo gak macarin adek gue kan?" mata Bhumi menyipit tajam.


Erlangga menampilkan raut sesantai mungkin," gak lah, masih sayang nyawa gue."


Atau Lo lebih sayang dia, baru Lo pacarin." sahut Adnan yang mendapat injakan di kakinya dari Erlangga.


Tepat Aryo tenggelam melewati koridor antar kamar lantai dua Monika dan para temannya memasuki club dengan pakaian yang serba tipis dan pendek yang sangat provokatif.


Mata lelaki pemangsa wanita menatap binar santapan segar, Monika makin percaya diri dengan dandanannya.


" Anjirr, rame banget padahal hari kerja." ucap teman Monika bernama Arda yang berambut sebahu.


" Justru di hari kerja waktu yang pas ngedapetin mangsa. mereka capek, sumpek. jadi butuh hiburan. besoknya Lo bisa beli apapun kalau mereka puas." sahut Monika.


Ekor matanya menangkap tiga lelaki yang tadi di Warungkita. dan satu diantara mereka yang sedang Monika inginkan.


" Da, foto gue, kalau gue udah dapet mangsa gue. Monika memberikan ponselnya.


" Lo mau kemana?"


" kalian buka table aja dulu, gue nyusul. gue ada misi."


Monika memperbaiki tatanan rebut dan pakaiannya sebelum menuju meja mangsanya.


" Hai."


" Adnan dan Erlangga menoleh pada gadis Yangs udah tidak gadis cantik itu.


" Hallo juga, nama?" jawab Adnan langsung mengukirkan tangan terlalu bersemangat, sedangkan Bhumi cuma menoleh sesaat namun melanjutkan kembali kesibukannya dengan tabs tanpa merespon.


" Monika." Monika membalas uluran tangan itu.


" Gue Adnan, yang ini Elang, dan itu Dewa." nama Dewa yang selalu digunakan saat berkenalan, Adnan tahu persis batas ruang Bhumi.


" Boleh kan aku duduk di sini?"


" Boleh." Adnan mendorong Bhumi yang langsung mendelik padanya walau akhirnya dia bergeser.


Monika terkikik lembut, dia melangkah ke antara Bhumi dan Adnan. sengaja kakinya menekan sentuhan ke lutut Bhumi.


Monika mendudukan diri dengan tubuh menempel pada Bhumi bahkan separuh tubuhnya menindih Bhumi yang sedikit tersentak sebelum menggeser lagi.


" Maaf, gak sengaja." Monika menekan ke paha Bhumi saat hendak menggeser tubuhnya, di sana dia sedikit meremas paha itu dan tetap bertengger meski duduknya telah di posisi nyaman.


" Tangan Lo."


"Iya?" Monika memasang mimik bingung.


" Awasin tangan Lo." ucap Bhumi bersuara datar dengan tatapan dingin.


Monika tersenyum kikuk, ia pun menyingkirkan tangannya dari sana." Maaf, lupa. habis nyaman banget."

__ADS_1


Monika menaruh tangannya di sisi tubuhnya di atas sofa, jari kelingkingnya bergerak meraba sisi paha Bhumi.


Alih-alih merespon ucapan Monika, Bhumi menatap tajam Adnan yang nyengir lebar padanya.


" Sendiri aja ke sini?"


" Sama teman, lagi nyari teman pelindung aja ini, banyak biaya darat banget aku gak tahan."


" Ck, sengaja juga jadi tontonan buaya." celetuk Erlangga menatap terang-terangan ke pakaian yang kenakan Monika yang kini hampir memperlihatkan cd-nya karena kaki ya disilangkan.


" Dari teman, dia yang milih. belum sempat pulang tadi." jawab Monika kikuk.


" jangan kemari kalau gak mau digoda."


" Ya gimana teman lagi galau, karena solider aja sih ini."


Selama mengobrol, tangan Monika sesekali bergerak mengusap sisi paha Bhumi yang tidak direspon olehnya sama sekali.


" Mas, satu ini sibuk ya." Monika sedikit merubah duduk menghadap padanya.


" Boleh ya lihat." bukan hanya wajah ya yang dimajukan namun juga badannya. jelas sekali da-danya dia gesekkan di langan Bhumi.


Monika mengulum senyum saat tidak mendapat protes dari Bhumi." Wow, amaz. di club masih sempat lihat neraca keuangan." tunjuk Monika ke layar tabs.


Dia sedikit mengelus perut Bhumi saat menyingkirkan tangannya dari atas tabs.


" Kamu anak ekonomi?" tanya Adnan yang mulai ketar-ketir kerena tatapan Bhumi.


" Kesekretariatan, tepatnya." lagi, tangan lentik itu jatuh di paha Bhumi yang langsung ditepis Bhumi.


" Mantap."


Di jeda berbincang, Monika sesekali sibuk di ponselnya yang lain seakan ada hal yang penting, lalu dia menutup dan senyum smirk jelas tersungging di bibir sexy itu.


" Dapat hadiah ya, senang banget." ucap Adnan.


Monika menggeleng anggun." " cuma ngasih kabar orang rumah."


Obrolan pun kembali tercipta santai ala fuckboy Adnan, sebenarnya hanya Adnan dan Monika yang bicara walau Erlangga terkadang nyeletuk nyelekit yang ditujukan untuk Monika.


Bhumi menerima telpon masuk, ia mengerti kan kening pasalnya Aditya yang menelponnya.


" Hallo."


" Kamu dimana?" Shavara bertanya langsung.


Bhumi memeriksa lagi nomor yang masuk, ia memperbaiki duduknya menjadi tegak." sayang, kenapa?"


Adnan, Erlangga memperhatikan Bhumi yang terlihat cemas. sedangkan Monika mengulum senyum.


" Jawab dulu pertanyaan aku, kamu dimana, Bhumi."


Bhumi menghela napas gusar." maaf, sayang. aku mampir dulu."


" Ke mana?" ada getaran dalam suara Shavara.


" Kita ketemu ya, aku jelasin."


" Kamu di club ya."


Bhumi mengangguk lesu " Iya, tapi aku mau pulang kok."


" Susah nurutin maunya aku langsung pulang?" suara itu menyiratkan dengan jelas rasa kecewa.


" Bukan begitu, sayang. tadi Adnan.."


" Jangan sok perhatian sama aku, kalau masih mau main sama yang lain "


Ucapan Bhumi terhenti, ia mengerutkan dahi bingung.


" Kamu ngomong apa? aku ke sini sama Adnan dan Elang."


" Bohong aja terus, aku lihat kamu bermesraan sama cewek. aku benci kamu, Bhumi."


Klik...


Bhumi menatap ponselnya yang gelap, ia termenung cukup lama. Shava-nya hanya memanggilnya dengan nama, kesalahan apapun yang Shavara pikirkan itu pasti berat.


" Bhum, kenapa Lo?" tanya Erlangga.


" Semuanya baik-baik saja kan." suara lembut mendayu Monika di dekat telinga Bhumi serta remasan seduktif di pahanya menyadarkannya.


Bhumi menoleh bibirnya hampir menyentuh bibir Monika, kontan Bhumi memundurkan wajahnya. Bhumi hendak bicara namun diinterupsi suara berat lainnya.


" Sorry, bro. gue telat." Wisnu datang dengan gaya kasualnya.


Langkahnya terhenti saat melihat Monika diantara mereka, matanya jelinya langsung menangkap letak tangan Monika.


" Duduk, sini." Bhumi senang hati bergeser memberi ruang di samping Monika pada Wisnu.


Monika kontan tegang kaku, matanya bersirobok dengan netra legam nan tajam milik Wisnu.


" Ka...kayaknya sofanya terlalu penuh, a..aku permisi, teman akuu takut nyariin aku" Monika buru-buru melipir pergi tanpa menoleh kembali.


" Siapa yang main sama dia?" tanya Wisnu dingin, matanya menatap langsung Bhumi.


" Lo tahu gue enek sama modelan kayak gitu, jadi jangan lihat gue seolah gue kecyduk selingkuh."


" Tangannya ada di atas paha Lo, dan kalian hampir nempel gitu, Giman gue gak curiga."


" Belum sempat gue singkirin, Lo keburu datang.."


" Dia gak ngapa-ngapain, tu cewek yang datang sendiri." ucap Erlangga.


" Lo kenal dia? kok bawaannya sewot." tanya Adnan


Wisnu menjatuhkan punggung di sandaran sofa." dia mantan sahabat Vara yang selingkuh sama Aryo karena sakit hati gue tolak."


" Anjirrr, cabe busuk dong dia." celetuk Adnan.


" Lo juga yang paling nanggepin." Erlangga menoyor kepala Adnan.


" Lha, ada ikan nyodorin diri, masa kucing nolak."


" Ck, kucing garing murahan Lo."


" Gue balik. Lang, thank HP-nya." Bhumi mengangkat papperbag kecil lalu pergi dari club.


" Yaa..kok balik baru nyampe juga." rengek Adnan manja.


" Jijik, Nan. jijik." Bhumi meninggalkan mereka.


" Kalian kalau masih mau di sini, perhatiin dia gue yakin Bhumi target dia, dia benci banget sama Vara. tapi jangan kalian nikmati, kayak gak ada jalank lain aja Lo pada. awas aja khianati gue."


" Siap, gue gak like yang nyakitin neng Vara." sahut Erlangga.


" Gue emang pemain, tapi gak yang murahan banget juga kali." timpal Adnan.


" Gue balik, nyesel gue nurutin Lo pada. Lo sampe kobam akut gue lindes Lo." m Wisnu menunjuk pada Adnan.


" Coba hilangin kebiasaan berantem saat Lo mabok, gak kasihan Lo jadiin anak orang keluar masuk club cuma ngurusin Lo mabok." maksud Erlangga adlah Wisnu dan Bhumi yang datang sebagai tameng kala Adnan mabok dan biasanya berakhir adu jotos dengan pengunjung lain.


Di meja lain, Monika menelpon Aryo setelah puluhan pesannya tidak digubris, meminta untuk dijemput. dia tidak tahan berlama-lama di sini sementara dapat dia rasakan tatapan tajam dari meja yang tadi dia singgahi.


" Ck, kemana sih ni orang." mata laser Wisnu saat melewati mejanya menuju keluar membuat nyali Monika ciut, mood untuk bersenang-senang hilang sudah.


" Mon, ngapain dih sibuk sama hp, Lo yang ngajak Lo yang gak asik." rungut Arda.


" Sorry, gue nelpon pacar gue dulu buat joint sama kita."


Bhumi menaruh ransel ke lantai dan menaruh papperbag kecil di atas meja saat satu pesan masuk ke ponselnya.


" Lebih baik kita pikir ulang pernikahan ini." pesan dari nomor Shavara membekukan tubuh Bhumi.


Tangannya gemetar saat menghubungi Shavara yang tidak dijawab, lalu ia mengirim pesan yang juga hanya dibaca namun tidak dibalas.


Raut wajahnya kini panik bercampur cemas, jantungnya berdegup kencang bersumber dari rasa takut yang menghinggapinya. ia lantas mengambil kunci mobil kemudian berlari keluar kamar.


" Tidak, tidak bisa. aku tidak bisa kehilangan Shava hanya karena foto." Bhumi mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.


Bhumi untuk kesekian kalinya menekan icon telpon menghubungi Shavara yang tetap tidak dijawab.


"Come on sayang, angkat. aku gak selingkuh, dan gak akan pernah selingkuh."


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


" Nu, bisa Papa bicara sebentar sama kamu?" Anggara yang semula sudah duduk di kursi hendak sarapan, kembali berdiri.


" Pa, sarapan dulu." Fena tenaga menyajikan sarapan dibantu Shavara.


" Bentaran doang, ada yang penting banget ini. takut lupa."


" Gak, makan dulu, kalian kalau diskusi lama."


" Nanti Papa TF, Mama mau sepatu baru kan?"


" Oke gitu dong, kan enak. 10 menit paling lama."


Wisnu dan Shavara berdecak bersamaan, Mama-nya paling bisa mencari jalan memeras papa-nya yang serba hemat menuruti keborosannya.


" Siap, baginda ratu."


Di ruang kerja, Anggara menaruh berkas berisi profil Monika sebagai pengaju magang.


" Kamu yang urus dia."


" Dia pasti menghadap papa dulu."


" Papa bakal serahin dia ke kamu."


" Kita gak perlu basa basi kan sama dia."


" Terserah kamu."


" Wisnu tolak ya, Pa."


"Kamu paling tahu bagaimana menjaga martabat baik adik kamu."


Ting..tong...


" Lho, Bhumi. masih subuh sudah bertamu aja." Fena terkejut pukul 05.30 pagi calon mantunya ini sudah mengetik pintunya.


Bhumi menyalaminya," mau ketemu Shava. ada yang penting banget ni, Tan."


" Masuk dulu, sekalian sarapan. kamu baik-baik aja? kok kelihatan kusut banget.


" Makasih, Tan. baik, Tan. Shava-nya di mana, Tan?"


Kini dua insan yang biasa mesra itu saling berjauhan di taman samping dengan Shavara berdiri berlagak sibuk menyiram tanaman sedangkan Bhumi duduk di kursi teman dengan sabar menunggu Shavara.


" Pak, gak ke sekolah? saya udah mau berangkat ini." Aditya berdiri di ambang pintu teras


" Duluan aja, kan kamu yang ujian bukan saya."


" Kalian lagi berantem?"


" Pergi aja sana, jangan kepo." sembur Shavara.


" Auto batal ni nikahnya." ledek Aditya.


" Adit, pergi."


" Dih ngusir. rumah saya ini, Pak."


Dari arah dalam Fena datang lalu menjewer telinga Aditya, menutup pintu terlebih dahulu sebelum membawa Aditya masuk " Adek, berangkat. kalau enggak motornya disita dua bulan."


" Ck, ibu kandung hanya cinta kepada teteh ku saja,.." sindir Aditya dengan suara fals-nya dinyanyikan dengan keras-keras.


Bhumi menghampiri Shavara yang terlihat tidak berniat menyudahi menyiram taman meski semua bunga sudah basah disirami." Sayang..."


" Aku bukan sayang, aku Shavara."


" Iya, Shava, sayang-nya aku. jangan marah." Bhumi memegang pundak Shavara.


Shavara mendecih," Setelah semalam Lo bermesraan sama cewek lain sekarang Lo merajuk?, gak peduli gue." Shavara menepis pegangan Bhumi dipundaknya.


Dia melangkah mematikan air keran, melipat tangan di perut, menatap bumi sinis." Bilang kalau gak mau diatur, jangan iya-iya, tapi melanggar."


" Sayang, dengerin dulu penjelasan aku."


" Gak mau, nanti kamu bohong lagi."


" Siapa yang bohong, aku minta ketemuan sama kamu tapi gak kamu gubris. aku bakal ngejelasin semuanya."


" Aku gak percaya."


" Sayang,..."


" Pergi aja, Bhum." panggilan tanpa embel-embel di depannya menyinggung perasaan Bhumi, dia tidak suka, namun dia tidak ada daya membujuk. Shavara dalam kode ngambek macannya.


" Dengerin aku dulu, Shava." tekan Bhumi sedikit meninggikan suara.


" Aku gak mau dengar, kamu, akan punya seribu alasan buat nutupin kesalahannya. pergi!"


"Shava, berhenti bersikap egois, kamu berjanji untuk gak gegabah."


" Aku gak gegabah, apa yang aku pikirkan ini berdasarkan foto yang nyata adanya."


" Foto apa? kasih tahu aku. aku gak ngerti apa yang kamu omongin."


" Kamu bermesraan dengan Monika, kamu tahu cerita aku mengenai dia, teganya kamu bermain dengan dia di belakang aku." pekik Shavara, namun matanya mengeluarkan cairan bening yang luruh tidak terbendung.


Bhumi terhenyak, dirinya terpaku pada air mata yang terus mengalir meski sudah Shavara usap.


Dari dalam rumah, Fena, Anggara dan Wisnu yang hendak ke meja makan berlari kecil ke arah teras samping karena khawatir. saat suara Shavara melengking.


" Pergi, kalau mau dibicarakan, bicara lain waktu. saat ini aku gak mau lihat kamu."


Bhumi menggeleng, " Gak akan ada yang pergi, dan aku gak akan pergi sebelum kita selesaikan kesalahpahaman ini, Shava." ucap tegas Bhumi.


Melihat mimik Bhumi dengan rahang yang dirapatkan, Shavara mematung takut, namun dia menolak untuk mundur.


" Tepat ku bilang, kita harus memikirkan kembali pernik..hmmphmmmhh"


Tepat pintu teras dibuka bersamaan dengan Bhumi membekap mulut Shavara dengan satu tangan bhumi lainnya melingkari pinggang Shavara.


" Ada apa ini teriak-teriak?, Bhumi apa yang kamu lakukan pada putriku?" tanya Anggara menggelegar. matanya membola saat Bhumi seperti menyandera putrinya.


" Maaf, Om. aku harus melakukan hal ekstrim begini sebelum anak cantik om ini mengatakan hal-hal yang gak baik." jelas Bhumi.


" Kalian berantem?" tanya Fena.


Bhumi menggeleng, namun shavara mengangguk.


" Yang benar yang mana?"


" Tante, Om. aku bawa Shava dulu." Bhumi mengangkat tubuh Shavara bagai seringan kapas meski Shavara memberontak kemudian berjalan memutari rumah menuju mobilnya.


Sedangkan orang tua dan Wisnu terlalu kaget untuk merespon gerak cepat Bhumi.


" Pa, anak kita diculik di depan kita." gumam Fena.


Wisnu melirik Mama-nya malas," Kamu tahu ada apa, Nu?"


" Pasti soal semalam."


" Ada apa dengan semalam?" Fena bertanya nyolot.


Wisnu menghela napas berat," Makan aja dulu nanti Wisnu cerita, panjang soalnya."


" Ngomong dulu, baru makan. mama penasaran ini."


" Mama kalau dengar bakal emosi, baut marah juga butuh tenaga makanya kita sarapan dulu." Wisnu berbalik amsuk ke dalam rumah.


" Wisnu, ih. cerita dulu ada apa dengan semalam."


" Ma, kita makan dulu yuk." Anggara menyusul Wisnu.


" Gak mau, kamu cerita dulu, Wisnu. lagian kamu kok jadi kakak anteng-anteng aja adik kamu diculik." cerocos Fena yang berjalan di belakang Wisnu.


" Kita tahu siapa yang nyulik Vara, tahu ibu-nya, tahu rumahnya, ngapain cemas." sahut Wisnu enteng sambil mengambil nasi goreng di meja.


Bhumi membawa Shavara dengan bibir yang merengut ke sebuah taman tidak jauh dari kompleks rumah Shavara.


Setelah mobil berhenti, barulah Shavara mengamuk memukuli serta menarik rambut Bhumi.


" Aaawwwss... Shava. sakitttt,..ya ampun beringas amat sih si cantik ini." Bhumi menahan pukulannya lalu mengambil kedua tangan Shavara ia kumpulkan ke dalam satu cekalannya.


Tangan satunya mentik tengkuk Shavara menahannya untuk menatapnya.


" Diam dan dengarkan aku atau aku ambil keperawanan kamu supaya kamu gak ngomong hal-hal yang aneh lagi." ancam bhumi meyakinkan dengan mata menatapnya tajam....

__ADS_1


.


__ADS_2