
Selama perjalanan pulang dua insan tersebut diam, sesekal meraka berbasa-basi yang berakhir hening menimbulkan kecanggungan yang tak kasat mata.
Di sela menatap pemandangan luar, Shavara sesekali melirik bhumi yang menghadap depan berkosentrasi menyetir seakan ia pemula, Shavara menghembuskan napasnya kasar, ia menatap sendu tangannya dan juga tangan Bhumi yang menumpuk di persneling lalu berpindah mengusap pahanya menekan kembali ingatannya mengulang memory di saat Bhumi hampir tidak pernah membiarkan tangannya lepas dari genggamannya dimana pun dan kapan pun saat mereka berdua.
Shavara memberanikan diri menghadap Bhumi, bersedekap perut, " Kakak ada masalah?"
Bhumi mengerut dahi bingung, "Enggak, kenapa?"
" Kak, kita sudah janji saling terbuka loh. kalau kakak begini aku juga bakal begitu." ucap Shavara geregetan..
" Kamu ngomong apa sih, yang jelas, Yang."
Sekali lagi Shavara menghembuskan napas kasar," Yang, kamu kenapa? kamu ada masalah?" Bhumi bingung dengan sikap Shavara.
" Seriusan kakak nanya aku begitu? di sini bukan aku loh yang aneh tapi kamu."
"Aku ngapain? aku gak ngapa-ngapain, Yang."
"Justru..." Shavara memalingkan wajah kembali melihat arah luar.
" Yang, hei. Shava, Yang.. jangan menggantung gitu, gak enak tahu digantung."
" Biar, biar sekalian kecekek." timpal Shavara menggebu."
" Tega amat." Bhumi mengusap-usap lehernya karena ngilu.
Hening lagi, jeda ini sudah ke empat Kalinya. Shavara diam dalam kemuramannya, di satu sudut hatinya ada yang nyeri.
Shavara memainkan kedua tangannya saling memilin iseng, ini cukup mengganggunya, ini kali pertama dia merasa galau sekaligus takut. Dia takut Bhumi sudah merasa bosan padanya sementara dirinya mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan Bhumi.
Shavara memandang miris tangannya, " kak."
"Hmm?"
"Kak, tangan aku kayaknya kesepian dech." ucap Shavara, Bhumi memandang benda yang sedari tadi ingin ia gapai.
Tangan Bhumi yang di atas paha mengepal erat, sekuat tenaga mencegah dorongan hati ingin memainkan jamari lentik itu dan membawanya untuk dia kecup.
" Hah?", Bhumi seakan linglung padahal dia hanya tidak tahu harus meresponnya seperti apa.
"God damn it Bhumi, cuma itu yang Lo bisa untuk menanggapinya." rutuk bathin Bhumi.
Shavara mengangkat tangannya membawanya ke Bhumi, " tangan aku single, jomblo."
Bhumi menoleh melihat tangan yang berputar-putar di depannya, tangan itu bersih dari aksesoris." Kamu mau dibeliin cincin?"
Shavara melongo, dengan kesal dia menurunkan tangan itu." Kamu pikir orang tuaku gak mampir beliin aku sampe aku minta ke kamu?" hentak Shavara.
Bhumi terperanjat, ia serba salah." kalau gitu ngomong, apa yang mau kamu omongin jangan ngode."
Shavara berpaling, " Forget it." ucap Shavara lesu.
Bhumi bisa melihat raut sedih di wajah kesukaannya itu, ia menghela napas kasar. ia sendiri tertekan dengan seribu khawatirannya.
" Gimana keadaan Senja?" Shavara mengalihkan kemumetan pikirannya.
Bhumi kali ini tidak langsung menjawab, dia menimang jawaban yang tidak berakhir seperti tadi. dirinya terganggu kala Shavara lebih tertarik melihat keluar ketimbang bercengkrama dengannya.
" Enja, kenapa dengan En..., astagaaa..." Bhumi menepuk dahinya.
" Yang, putar balik jemput Enja dulu gak apa-apa ya?" Bhumi memutar stir mobil, ia memutar balik ke jalan menuju kantor Mahendra corp.
"Memang Senja belum pulang?"
" Dia di kantor Bian minta dijemput, aku lupa, Yang."
" Ck, berantem lagi gak?"
" Gak, emang ada perlu penting." suara gamang Bhumi menandakan keraguannya, pasalnya barada di tempat yang bukan seharusnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Saking gugup bukan main, Senja sedari tadi memainkan ujung rok seragamnya, adanya Bian duduk di sisinya tidak mengurangi kegugupannya.
Di depannya, pengacara tengah mempersiapkan berkas untuk dia tanda tangani.
" Senja, baca dulu isinya baru tanda tangan." ucap Arnav lembut pada Shavara.
" Kakak saja yang kasih tahu saya."
" Secara keseluruhan surat ini merupakan pernyataan bahwa pak Bian menyerahkan aset yang menjadi hak anda pada diri anda otomatis beralih ketika pak Bian berusia 18 tahun dan itu dua bulan lagi."
__ADS_1
" A...apa saja yang jadi milik saya?"
" Apa yang jadi milik pak Bian adalah milik anda."
" Termasuk gedung ini,?"
" Termasuk gedung ini."
Senja menutup mulu dan matanya membelalak tidak percaya, pasalnya Senja sangat mengagumi gedung yang berlantai 45 dengan interior mewahnya.
" Seriusan?".mkayaknya bagian aku gak sebesar itu."
" Terima saja, itung-itung menggantikan bang Bhumi." seru Bian santai tanpa merasa keberatan.
" Silakan kak." asisten pengacara menyodorkan pulpennya pada Senja.
Senja mengelap tangannya yang sudah berkeringat sebelum menandatangani semua berkas.
Ceklek..
" Bian, Mama mau ajak..." Perkataan Desty terhenti karena dia terperangah kuat terkejut dengan rupa gadis manis khas campuran Italia yang duduk di samping putranya.
Sontak tubuhnya menegang kaku, wajah itu persis suaminya versi perempuan. tubuh Desty oleng dan mungkin terjatuh jika dia tidak berpegangan pada handle pintu.
" Di..dia siapa?" tanya Desty tercekat.
" Aku yakin mama tahu dia siapa dan anak siapa, mukanya begitu mirip bukan? bagai pinang dibelah dua." jawab Bian memegang tangan Senja yang sudah gemetaran takut di samping tubuhnya.
Senja sendiri, sebenarnya dia takut melihat wanita yang cantik karena makeup melototinya, namun ketika mengingat wanita ini adalah penghancur keluarganya, ia abaikan rasa takut tersebut.
Matanya menatap tajam wanita yang setahun lalu baru dia ketahui adalah benalu dalam ruang tangga orang tuanya.
Andai dia tidak membersihkan kamar ibunya, dia tidak akan menemukan foto-foto wanita itu yang sedang bermesraan dengan ayahnya.
Ibu dan kakaknya tidak akan memberitahukannya, terbukti saat dia mengetahui cerita kelam dari buku diary ibunya dilengkapi dengan barang bukti mereka masih berupaya mengelak sampai akhirnya dia mengorbankan diri mogok makan yang mengakibatkan dirinya sakit barulah mereka bercerita.
Bian sangat menikmati melemasnya tubuh dan raut horor ibunya, ini hal yang tidak boleh dia dilewatkan. dia tidak boleh melewatkan saat ibunya melihat Senja dengan ketakutan seperti melihat se-tan.
"Siapakah kamu? Bian siapa dia, kamu sudah menjadi CEO, jangan sembarang memasukkan orang asing sebagai tamu mu." Desty berucap setenang mungkin.
" Ma, dia bukan orang asing, Ma."
" Anak dari papa." potong Bian yang membuat pengacara menatap penuh arti padanya.
" Bian, tutup mulutmu, papa mu hanya mempunyai kamu sebagai putranya.," Desty membentak yang membuat Senja terjengkit, omongan Desty membuat Senja tersinggung.
" Sekarang kau sebaiknya mengeluarkan dia, cepat..Keluarkan dia.." Desty menjentikkan jarinya tidak sabar untuk mengusir Senja.
" Dasar anak durhaka, pake kuping mu. KELUAR..KELUAR SEKARANG!!"
" Ma..." Bian keberatan.
" Saya tidak mau, saya kemari atas undangan kak Bian. Tante saja yang keluar." ucap Senja mengabaikan tatakrama.
Desty meradang dia mengambil melangkah lembar ke arah Senja, menarik kasar kerah seragamnya sampai senja terhuyung hampir membentur meja, Arnav segera mengamankan berkas tersebut sebelum Desty menyadarinya.
"Awss...lepas..nenek tua..." Senja memegangi tangan Desty yang memiliki kuku panjang runcing.
" Apa kau bilang, nenek tua? kurang ajar." merematkan bibirnya Desty menjambak rambut Senja.
" aaawwws...adaaaawww...lepas..."
" Mama... keterlaluan..." Bian mengambil tangan ibunya berusaha melepaskannya dari rambut Senja.
" Bian lepaskan mama." bentak Desty.
" Mam kalem, santai, relax."
Senja menjauh dari sofa dia hendak keluar ruangan, namun Desty keburu menarik tangannya lalu menamparnya keras
PLAK....
kepala Senja sampai tertoleh ke samping, ruangan seketika hening saking terkejutnya, gerakan itu sangat cepat tidak terdeteksi hingga tidak ada yang bisa mencegahnya.
" KYA...AAAAAWWWWSSS....sakit..." teriak refleks Senja.
" Rasakan." tangan Desty kembali terangkat untuk kembali mengarah pada Senja, Senja sudah menutup mata meringis takut.
Namun Senja tidak merasakan apapun di pipinya, ia membuka satu mata mengintip, disusul keduanya terbuka lebar membola kala tangan lentik terawat itu dipegang tangan besar dengan sang empunya menatapnya
Shavara mengajak Senja menjauh dari medan ketegangan, ia mendudukkan senja di atas kursi kerja Bian.
__ADS_1
" Berani kamu memukul adikku." tekan Bhumi mengadu rahangnya bergelemetuk.
"Kenapa tidak? dia hanya anak haram." ucap Desty sambil menyeringai culas. Bian dan yang lain terperangah dengan perkataan kasar itu.
Sedetik kemudian Desty meringis kesakitan, kala pergelangan tangannya diremas kuat-kuat oleh tangan besar itu.
Rahang Bhumi mengadu tegang, perkataan itu sangat dia benci, apalagi terllntar dari mulut kotor perempuan bi'nal ini.
" Anak haram? siapa?" Bian, putra kebangganmu?" cemooh Bhumi.
Desty terdiam kaku, raut ketakutan bercampur panik terpantau diwajahnya." Bian, usir mereka dari sini."
Bian diam tidak bergerak, dia malah memilih duduk di sofa.
" BIAN...USIR DIA..." Hardik Desty sampai nurat lehernya menonjol.
Ceklek...
" Ada apa ini?" Edo berdiri diambang pintu.
Netranya menangkap kaget atas keberadaan putranya. Bhumi menghempaskan tangan Desty yang langsung berlari ke belakang punggung Edo mencari perlindungan.
" Sayang, teman aku dicekal dia."
" Dewa, tumben kau kemari." Edo tertahan karena rindu.
Bhumi secara terang-terangan berjalan memperbesar jarak dari Edo, hati Edo berdenyut nyeri akan sikap putranya itu.
" Bian, bisa kamu jelaskan ada apa?" Kenapa pak Arnav ada di sini?" tanya Edo pada Fajar yang kini sudah duduk di sofa.
" Istri mu menghina adik saya dengan sebutan anak haram, siapapun yang melihat visualnya pasti mereka paham dia putri siapa." ungkap Bhumi mendahului buan yang sudah membuka mulut.
Edo tertegun, dia memutar setengah tubuh ke belakang untuk melihat Desty yang sudah menciut takut.
" Benarkah itu, Desty? Kau berkata kasar pada gadis dibawah umur? memalukan." hardik Edo tidak percaya.
" Kau memukul anak kecil? tidak bisa dipercaya." ucap Edo menggeleng kepala
" Mas, aku melakukan itu karena dia melawan ku."
" Tentu aja aku melawan, kau mengatakan putra suami mu hanya ada satu, namun faktanya ada dua yang asli." kode Senja.
Desty terperangah, wajahnya langsung pias. ia was-was Edo sadar. Edo menelisik raut Senja secara seksama.
" Kamu salah, Senja. anak papa ada tiga." ucap Edo lembut.
Bhumi menyeringai tipis, menatap pria paruh baya itu dengan sorort mengasihani. Senja melirik sinis Desty yang menatapnya tajam. Edo menangkap keganjilan tersebut. itu meresahkan dirinya.
" Mas, ayo kita keluar. di sini tidak baik bagi darah tinggi kamu, kelamaan di sini kamu bakal stroke." Desty menarik-narik tangan Edo.
Namun Edo bergeming," Sebenarnya ada apa? apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
" Aku mengundang Senja, dia adik kelasku, "
" Pak Arnav?" Edo menaruh curiga.
" Kami tengah membicarakan mengenai aku, Senja datang pas kebetulan saja." Edo menelisik Bain yang sulit dia baca ISIS hatinya.
" Pa, bisa bawa mama? semua kacau karena mama ngamuk gak jelas."
" Bian, tidak sopan." bentak Desty.
"Ma, aku sudah bilang terlambat membicarakan norma padaku. pa, bawa mama atau suasana semaki. tidak menyenangkan."
Edo menatap sendu pada Senja yang memegangi pipinya yang tengah diobati, lalu ada bhumi yang menatapnya menantang siap melawan padanya. Edo menghela napas berat, ini terlalu menyakitkan baginya. dia sungguh tidak mengerti mengapa ini terjadi padanya.
Edo berbalik, ia langsung pergi dari ruangan tanpa memperdulikan panggilan istirnya, ini terlalu menyesakkan, mengapa begitu bodoh.
Edo masuk ke ruang kerjanya, mengunci pintu, berjalan seraya membuka jas yang dia lempar ke sembarang arah, kemudian ia merebahkan diri di atas sofa menutup mata dengan satu tangannya mengembalikan memori pada kejadian 17 tahun lalu.
Shavara dengan telaten membubuhi salep di wajah Senja, pipi chubby itu memerah menampakkan bekas tangan begitu kentara. kini di ruang tersebut tinggal empat orang saja.
" Mas, bagaimana kalau mama lihat ini?" rengek Senja.
" Gak gimana-gimana, cerita aja udah." Bhumi duduk di sofa single.
" Ja, ke festival kuliner yuk?" aja Bhumi ingin menghibur Senja. dan itu efektif terlihat soror mata senja yang berbinar.
" Kak Vara ajak ya?"
Bhumi diam tidak langsung menjawab, ia menatap lama Shavara sementara untuk kesekian kalinya Shavara dibuat sedih oleh Bhumi...
__ADS_1