
" Menjadikan janda? apa yang kau
bicarakan? Kakak ipar saya duda sewaktu mereka menikah." Ucap Siena meyakinkan.
Manik Bhumi menatap Edo meminta jawaban," Dia tidak tahu kalau Papa saat itu masih terikat pernikahan."
Bhumi terkekeh, kekehan yang terdengar sangat menyeramkan, tangannya yang menarik kerah, berganti posisi mencengkram leher belakang Desty.
" Cara bermain mu sangat pro, svndal."
" Pak Dewa, berhenti menghina kakak saya, kakak saya wanita terhormat menikah dengan cara terhormat, memang beliau duda, tapi tidak ada yang salah dalam pernikahan mereka. mas Edo menikah lagi karena istri terdahulunya berselingkuh..."
" Kamu yang berhenti cerewet perawan tua." hardik Senja dengan napas memburu mengejutkan semuanya.
Sakit, hatinya sangat sakit mendengar semuanya. ia tidak membayangkan bagaimana perasaan kakaknya yang menyaksikan semua pengkhianatan itu.
Ia tidak memperdulikan tingkah polahnya akan dikatai tidak sopan pad wanita yang berstatus gurunya.
" Mas...." Senja keluar dari celah antara Aditya dan Leo, berlari ke dalam pelukan Bhumi yang spontan melepas cengkeramannya dari Desty yang langsung terduduk karena lemas.
Senja meremas kemeja Bhumi, menengadah menatap Bhumi disertai luruhan airmatanya." Mereka jahat, sangat jahat. aku akan balas mereka dengan apa yang ku miliki sekarang." Senja berkata di tengah tangisan sesenggukan.
" Mas, jangan khawatir, Enja yang akan menangani mereka." Bhumi mengangguk sambil mengusap air mata Senja.
" Hei, kenapa kamu peluk pak Dewa, dasar tidak punya malu." Siena menarik kasar Senja guna memisahkan mereka.
Senja terhuyung mundur hingga hampir jatuh, beruntung Bhumi masih bisa memeganginya.
Mata Bhumi membuat lebar," KAAAUUU..." teriak Bhumi membahana.
Satu tangannya menarik tangan Siena yang kemudian dia dorong Siena dengan kasar hingga jatuh terantuk ujung meja yang mengenai pelipisnya.
" Aaawwwss, pak Dewa." Siena menoleh, mengabaikan darah yang mengaliri pelipisnya.
" Anda kasar sekali, saya melakukannya demi anda agar anda tidak lagi dipermalukan oleh murid. anda melukai saya demi murid yang tidak tahu malu itu?" tanyanya tidak percaya.
" Gadis yang kau sebut tidak tahu malu itu adik saya, Bu Siena."
Siena tertegun di tempat, dia merutuk dalam hati melupakan hal itu, melihat mata Senja yang terlihat kosong karena kaget dalam pelukan Bhumi.
Siena segera memasang mimik menyesal, ini demi masa depannya.
" Maaf, maafkan saya." lirih Siena.
Baik Bhumi maupun yang lain tidak memperdulikan drama Siena, mereka terfokus pada diri Senja yang terlihat masih syok.
Setelah menenangkan diri, Senja melepaskan diri dari Bhumi, ia berjalan pelan menuju Siena yang kini duduk bersandar ke meja.
" Selingkvh,...huh..memuakkan!" Senja tersenyum kecil meremehkan," lihat saya, bandingkan wajah saya dan Kak Bian, diantara kami siapa yang lebih mirip dengan bapak Edo. Lihat wajah saya Bu Siena, mirip siap wajah ini? saya lah anak dari istri tertua yang kau tuding berselingkuh."
Mata Siena silih berganti menelisik mereka berdua, pupil matanya membesar kala ia menyadari sesuatu," Kau..kau...kalau kau anak istri tertua yang merupakan adik dari pak Dewa, berarti..." Wajah Siena gagap kaku.
" Bingo, kakak mu yang berselingkuh dengan lelaki tua itu, bukan ibuku. dia merebut ayah dari pak Dewa tercinta mu. kakak mu yang bermental murahan melemparkan dirinya pada lelaki beristri, dia pelakor sesungguhnya, dia wanita bejat sesungguhnya." bentak Senja penuh kebencian.
PLAKKKK....
" Berani kamu berkata kasar tentang kakak ku bocah drama, tahu apa kau soal mereka." hardik Siena menggila.
" SIENAAA..."
" SENJAAAA...."
Semua terkesiap karena bunyi nyaring yang disusul teriakan dari Edo dan Bhumi secara bersamaan, wajah Senja yang memiring karena hentakan tamparan keras yang nyata bekasnya di pipi Senja.
Edo murka, dia melangkah lebar mendahului Bhumi yang hendak menyerang Siena.
__ADS_1
Edo mencengkeram kerah lalu mengangkat Siena yang ketakutan untuk berdiri, Bahakan kaki Siena menggantung di tangan Edo," maaf, maaf, aku refleks Mas."cicit Siena yang tergagap takut melihat wajah Edo yang memerah.
BUGh...
Tanpa kata, Edo menghajar Siena hingga dia terlempar membentur lemari hias luka dari pelipis tulang pipi, dan robekan bibir menghisap wajahnya." Kyaaaa...A...aaa..." rintih Siena memegang punggungnya yang sangat sakit.
" Lancang sekali kau tampar putriku, kau kira kau siapa? setelah bertahun-tahun saya membiayai hidupmu dengan nyaman, kau berani melakukannya pada putriku."
BUGh ...
Satu pukulan lagi mengenai wajahnya yang membiru, Siena pun terkapar diambang antara kesadaran dan tidak.
Desty menatap ngeri masih adiknya, namun ia tidak punya tenaga untuk melawan.
Suasana ruangan sontak hening, Bhumi membawa Senja ke dalam pelukannya menyembunyikan pandangan Senja dari tindak kekerasan itu
" MAAAASSSS..." pekik Desty menangis." tega kamu menyakiti adikku karena hal yang belum jelas. mudah sekali kamu dihasut mereka, Mas. apapun yang terjadi di masa lalu, selama belasan tahun ini faktanya aku yang menjadi istrimu, aku yang setia selalu bersamamu, aku keluarga mu." cerocos Desty tanpa merasa bersalah.
" Benarkah itu hanya hasutan? benarkah kau setia, Mama?"" sarkas Bian di tengah ketegangan ruangan.
" Bi..Biannn..."
Bian berjalan ke meja kerjanya, membuka laci terbawah, dia mengambil map hijau tebal melemparnya ke hadapan Desty.
Seluruh isinya keluar berserakan, salah satu diantara mereka ada foto-foto Desty dengan banyak pria berbeda, serta buku diary tebal.
Mata Desty terbelalak sempurna, wajahnya kini menegang panik sekaligus takut, dia lama menatap putranya itu." aku menemukan itu dia lemarimu, dalam buku itu kau bodohnya menceritakan semua rencana mu menghancurkan keluarga atasanmu hanya demi hidup nyaman." bukanya sambil menggeretakan rahang.
" Di sana juga ada hasil tes DNA yang menyatakan aku putra dari pria bule itu, dan sejak aku tahu betapa jahatnya kau, ku sewa seseorang untuk mengikuti setiap kau keluar rumah persis setelah Papa keluar untuk menafkahimu."
Robert tersentak, ia sontak menatap lekat Bian.
" Aku yang kesepian karena sikap tidak peduli mu, dan sikap dingin Papa padaku sekaligus hancur bathin akhirnya lari ke obat sialan yang membuat ku OD."
" Aaa..apa maksud mu, Bian? i..ini tidak benar." ucap Desty panik, mencoba mengelak.
Edo melangkah ke arah Desty yang kini menciut takut karena sinar mata Edo yang menggelap, tatapan tajamnya melihat hal janggal berwarna merah di leher Desty, ia pun tersenyum miring nan hambar. " Desty, diam lah. tidak ada yang peduli akan perkataan busuk mu."
" STOP."
Satu tangan Edo melayang hendak memukul Desty, namun urung karena teriakan Senja.
" Jangan bapak kotori tangan bapak untuk wanita benalu itu, saya yang akan membalas mereka, bapak dan kak Bian hanya harus menyetujuinya."
" Apapun untuk adikku." sahut Bian pasti sambil beradu tatap dengan Desty yang mengernyit.
" Papa mengerti, dan Papa mendukung mu, nak." timpal Edo yakin.
Desty menatap mereka dengan bingung," A..ada apa ini? Mas? kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
" Berhenti lah bicara, orang tua. masa sejahtera mu telah habis, mulai saat ini yang akan kau lihat kesejahteraan saya dan keluarga saya."
" Mas, ini tidak benar. apa maksud yang dia katakan."
" Pak Edo, saya ingin anda menghentikan semua jalur kehidupan mewah dia, beserta circle-nya." seru Senja.
" Dalam sekejap kamu akan mendapatkannya."
" Kak Bian, hentikan total semua aliran dana pada wanita itu, dan tutup semua akun berlangganan dia, sebarkan kalau dua wanita itu bukan lagi bagian dari Mahendra."
" STOP, KAU KURANG AJAR, bocah. kau pikir kau siapa berani mengatur kami, hah?" hardik Desty yang mendapat tatapan kejam dari Bhumi.
Kontan Desty menutup mulutnya, tatapan dari manik hitam itu adalah hal yang selalu membuatnya gusar.
Senja menatap penuh pada Desty, berdiri dengan gestur tegak, kini dia berani melawan karena dia pemilik sah dari Mahendra corp.
__ADS_1
" Saya, putri sah sekaligus pewaris dari Edo Mahendra. jaga sikap anda padaku, baik buruknya kau berakibat pada kehidupan mu selanjutnya." ucapnya tegas dan puas saat wajah Desty berubah pucat pias.
" Untuk hari ini kita sudahi drama picisan ini." tukas Senja.
" Baiklah," Edo berjalan mendekati Robert, menelisik seksama leher Robert yang di sana pun ia temukan hal yangs Ama dengan apa yang dimiliki istrinya.
" Mr, Robert. karena anda sudah terlanjur datang dan melihat hal yang memalukan ini, saya undang anda ke ruangan saya. saya pikir banyak hal yang harus kita bicarakan."
" TIDDDAAAKKK...jangan. diantar skalian tidak ada yang perlu dibicarakan." pekik Desty panik berusaha mencegah pertemuan itu terjadi.
" Banyak yang ahrus dibicarakan terkhusus tentang Bian."
Manik kedua mata lelaki paruh baya itu menatap Bian yang mengangkat alis bertanya," Tentang apa? jelas aku hanya punya satu Papa, dia tidak ada sumbangsih apapun selain menanam ****** pada rahim Mama." tolak Bian jelas.
" Aku menafkahimu, sejak 10 tahun yang lalu aku menafkahimu sebesar $ 500 ribu perbulan. kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan pada ibumu?"
" Benarkah? aku tidak menerimanya, memang aku mendapatkan transferan, tapi itu dari papa ku, Edo Mahendra."
Semuanya kini menatap Desty, terkhusus tiga pria yang tersangkut tersebut.
" Desty? benarkah kau tidak memberikan uangku untuk putraku? bukankah kau bilang dia menikmati nafkah dariku? bahkan tiap bulan aku bilang terima kasih atas namanya."
" Aa..ada, uang itu ada, masih aman di rekening aku?"
" Benarkah, Toni, coba kau periksa transaksi dari dan ke nomor rekening Mama selama sepuluh tahun belakang." ujar Bian pada asistennya.
" TIDAAKKK, JANGAN...ITU TIDAK DIBENARKAN, ITU RUANG PRIVASIKU YANG SEHARUSNYA DIRAHASIAKAN.
" Mama itu dapat hasil dari perusahaan ini, sebagai CEO aku berhak memeriksa rekening mu. atau jangan-jangan uang itu sudah tidak ada di rekening?" tebak Bian yang terlihat akurat karena desty panik bukan main.
" Aaa...ada .. Bian. ibu menyimpannya di arisan agar bertambah."
" Mustahil, tidak ada dalam sejarahnya mendapatkan uang lebih, kamu pasti sudah menggunakannya untuk kepentingan pribadimu." Ucap Bian.
" Desty, ya tuhan...bagaimana mungkin..." Robert tidak melanjutkan ucapannya karena dia tidak tahu kata apa yang pantas untuk Desty."
" Ck..ck... Bian... Bian... mengenaskan sekali hidupmu, setelah aku tidak dipedulikan orang tuamu, uang mu kini kemungkinan hilang dicuri oleh wanita ayang aku panggil Mama." ucap Ajis menggelengkan kepala.
" Di sini, Senja menang banyak dari Lo, dia tersakiti kar na tidak diakui, tapi setidaknya dia masih dikeliling orang yang menyayanginya dengan kocoran dana yang mencukupi." tambah Ajis lemes.
Dua sahabatnya melirik Ajis sebal, namun Bain hanya diam tidak menyanggah, dia tahu betapa tidak sukanya Ajis pada Mamanya yang selalu menyebut Ajis sebagai orang miskin.
" Ajis,.."stop. Bhumi menggeleng, ia tidak tega dengan sorot mata Bian yang meredup.
Selagi mereka berbicara mengenai identitas Bian, mata Desty menajam sejak nama Senja disebut, ia tatap remaja mungil itu dengan kesinisan yang tidak dia coba tutupi.
" Mas, biarkan kak Ajis..." Senja menatapnya memohon.
" No, kau boleh membalas dendam pada mereka, tapi tidak dengan membual luka bathin kakak mu. sungguh itu sangat menyakitkan. sesama anggota keluarga dilarang menyakiti, Enja." Bhumi mengusap Senja yang berdiri membelakangi Desty.
Bian dan Edo yang mendengar itu sangat terharu, Bian menunduk dengan ke dua tangan menumpu di atas meja.
Bian berusaha menyembunyikan bening kristal yang hendak keluar.
Perlahan, Desty berdiri, ia menahan sakit di sekitar tubuhnya. tangannya meraba-raba meraih satu piala penghargaan yang dimenangi Edo sebagai seorang pengusaha
" Semua gara-gara kau, bocah sial4aannnn.." pekik Desty.
Desty berlari sambil mengangkat tangan yang memegang piala tersebut yang mengarah ke Senja.
" SENJAAAA...." teriak semuanya.
Bruggkkhhh....
" KYAAA...." Teriak orang itu kesakitan memegangi kepala dan perutnya...
__ADS_1