Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
88. Over Thinking


__ADS_3

Bhumi membuka matanya, ia menoleh ke kanan dan kiri mengingat di mana dia sekarang, tempat asing yang secar acak dia pilih untuk memarkirkan mobilnya setelah menghabiskan hampir dua jam berkeliling tanpa arah.


Bhumi menegakkan duduknya, melihat jam tangan, pukul setengah lima pagi.


Bhumi keluar dari mobil, melihat sekeliling hamparan kebun teh dihiasi embun dengan udara segar pemandangan yang menakjubkan.


Ia melakukan peregangan dan olah pernapasan. ya tuhan, pegal-pegal sekali badannya, harap dimaklumi dia tidur di dalam mobil dengan ruang gerak sempit.


Bhumi menarik risleting jaketnya hingga leher, udaranya sangat dingin, tubuhnya menggigil.


" Bagaimana keadaan istrinya, semalam dia sungguh kecewa pada Shavara, dia tidak menyukai istrinya berdekatan dengan lelaki yang dia benci.


satu masalah belum selesai ditambah masalah lain. fiuuhhh...


Setelah dirasa cukup, Bhumi kembali masuk ke dalam mobil, berniat mencari makanan penghangat tubuh.


^^^^^


Suara sesegukan serak diantara tangisan yang berasal dari orang yang seluruh tubuhnya masih dibaluti selimut di kamar gelap walau fajar telah menyingsing.


Suara teriakan serta dentuman benda dari dapur tidak mengusik wanita itu untuk beranjak dari kasur, dirinya benar-benar tenggelam dalam kesedihan yang dia buat sendiri berdasar dari dorongan pikirannya yang mengembara tidak beraturan.


" Aa..maafin aku...aku..hanya....hiks...hiks.." itu kata yang teramat sering dia ucapkan sedari semalam.


" Ku..mohon..ja...ngan..bersama dia..." Shavara meremas kaos bagian dadanya yang teramat sesak dan nyeri.


Bayang Bhumi menghabiskan malam bersama Arleta lah yang membuat dirinya menangis semalaman.


Pikirannya disibukan dengan bayangan Bhumi bermesraan dengan Arleta seperti yang dia bilang, apa yang dilakukan antara lelaki dan perempuan menghabiskan malam bersama selain memadu kasih.


Apalagi Shavara tahu persis bagaimana memabukkannya sentuhan Bhumi," Ya tuhan... tidak.. Aa jangan biarkan dia menyentuh mu..." lirih Shavara dengan dada yang terasa sesak.


Ini sakit, bayangan mereka saling menikmati atu sama lain. di aman mereka melakukannya, di dalam mobil? buka kamar? Tidak...tidak...ini akhir tahun tentu kamar hotel sudah penuh dibooking.


Shavara membuka selimut dari atas kepalanya," Bagaimana mereka melakukannya, apa dengan or4l? atau penyatuan? Tidak... tidak... Aa Bhumi tidak mungkin menyelingkuhi ku, dia benci praktek perselingkuhan..." Shavara menggigit kuku-kuku jari-jarinya karena cemas.


" Tapi aku yang mendorong dia untuk peduli pada Arleta, tapi kan hanya peduli, sedikit melembutkan sikap bukan untuk berselingkuh..." Shavara menyasar tangan dia atas kasur mencari ponselnya.


Ia merubah posisi menjadi duduk,membuka aplikasi pencarian soal skandal di sekolah dulu yang melibatkan Aditya dan Bhumi yang mengharuskan Mama-nya turun tangan.


Tangannya menutup mulutnya yang ternganga kaget akan video meski blur serta artikel mengenai tingkah Arleta pada Bhumi.


" Tidak..tidak mungkin anak sekolah berani melakukan ini di sekolah, pada gurunya pula. Well mungkin mer ak bisa bertingkah nakal tapi tidak sevulgar ini.." lirihnya ngeri.


" Dia memang mengenal beberapa temannya yang terbuang bakal saat SMA dulu, tapi tidak seperti...pelacvr begini..." renungnya, tidak juga dengan Monika yang menurutnya wanita paling berani diantara teman nakalnya itu.


" Ya tuhan.. bagaimana ini, bagaimana jika Aa tergoda dan mereka melakukan hubungan bad4n...berapa lama, berapa kali, apa Aa terpuaskan..." pertanyaan yang makin melantur terus memenuhi pikiran Shavara.


Ia pun panik dan cemas dengan pikiran yang terus berkecamuk di kepalanya" Tidak...tidak Aa korban perselingkvhan, dia tidak mungkin mengulangi kesalahan ayahnya..." Shavara meyakinkan diri.


" Tapi...bukan kah katanya itu genetik, bisa menurun.. bagaimana jika Aa saking marahnya padaku dia lantas membuktikannya.. sendiri...tidak aku tidak mau..." membayangkan dirinya harus berbagi ranjang dengan wanita lain membuat hatinya panas, kecewa, sekaligus sedih.


Shavara melempar ponselnya ke sembarang arah, ia kembali menutup diri dengan selimut, kebiasaan jelek setiap kali dia merasa sedih.


Namun ternyata kebiasaannya itu lebih menyiksa dirinya karena bayangan Bhumi bergvmul dengan Arleta semakin nyata. Maka menangis lagi lah dia.


"Hiiiiihhh..dingin ...asli sih beku bentar lagi gue ni." geraham Aditya bergemeletuk menahan hawa dingin.


Semalam hujan kembali mengguyur bumi, yang membuat hawa menusuk tulang. Aditya semakin mengurungkan dirinya ke dalam selimut dan tiduran di sofa


" Pak Edo, selam Bhumi jadi gak datang kemari?" tanya Anggara ikut berkumpul di ruang tamu bersama tetua lain menatap hamparan hijau rumput pekarangan yang terawat baik.


" Jadi." ada nada kegusaran tipis dari ucapan tersebut yang berhasil mengelabui mereka.


" Tumben Vara belum bangun..."gumam Fena bertanya-tanya.


" Mereka dalam rangka bulan madu, sekarang cuaca dingin wajar lah kalau masih di dalam kamar." seru Fathan.


" Assalamualaikum." salam Bhumi dari arah luar villa.


" Wa'alykumsalam." jawab mereka serempak


" Lho Bhum, kok kamu dari luar, mama kor skalian masih tidur." Fena bertanya seraya menerima uluran tangan Bhumi yang hendak menyalaminya.


Dikarenakan di depan para orang tua, maka secara terpaksa Bhumi pun mengalami Edo, semilir hari menghinggapi sanubari Edo kala punggung tangannya dicium Bhumi walau hanya sekilas.


Begitu oun dengan Bian yang tidak secara sengaja melihat itu dari teras, dia harus memalingkan muka demi menyembunyikan senyuman yang merekah di Bibirnya.


" Iya, Ma....Bhumi ke kamar dulu permisi.."


"Tunggu bentar, kamu kenapa terlihat kuyu begitu?" Fena dan yang lain memperhatikan penampilan Bhumi yang pakaiannya kusut, mata merah dan sayu, rambut berantakan, wajah terlihat lelah.


" Gak apa-apa, Ma. permisi Bhumi mau bersih diri dulu.."


" Tunggu, Mama..."


" Ma, Bhumi capek, kasihan..." potong Anggara yang cukup melegakan bagi bumi yang kemudian mengangguk kecil sebelum berlalu dari sana.


" Bhumi, tolong panggil Vara supaya turun buat sarapan." teriak Fena.


" Iya, ma." Bhumi menaiki tangga dengan langkah lesu, ia sangat malas dan belum siap menghadapi istrinya apalagi dalam keadaan lelah begini, khawatir naik pitam.


Ceklek....


Hanya ruangan gelap yang Bhumi terima begitu pintu itu terbuka karena dorongan pintu olehnya.


Ia berdiri sesaat untuk menyesuaikan pandangan indi tengah kegelapan, napasnya tergelak saat melihat tubuh yang di dalam selimut bergerak-gerak layaknya orang menangis.


Bhumi pelan-pelan menutup pintu lalu berjalan ke kamar mandi dengan hati-hati agar tidak mengganggu istrinya.


Napasnya terhela kasar kala tangisan tertahan terdengar di balik selimut tersebut, namun dia abai. Dia ingin segera menyegarkan diri, tubuhnya pegal-pegal semalaman tidur di dalam mobil.


Begitu pintu kamar mandi di tutup yang ternyata sengaja tidak tertutup rapat oleh bhumi tangisan Shavara membesar. tentu Bhumi ingin memeluk menenangkannya namun dia tahan, dia tidak ingin istrinya terus over thinking padanya.


Shavara kini menangis karena merasa sakit hati karena Bhumi tidak mendekatinya seperti malam-malam kebersamaan mereka sejak menikah, jika Bhumi pulang terlambat akan terlebih dahulu menghampirinya lalu mengecup kening dan sedikit mencium bibirnya. Hal yang paling dia sukai karena merasa dicintai.

__ADS_1


Shavara tentu tahu kedatangan Bhumi sejak membuka pintu dari bau parfumnya, dia berharap Bhumi datang padanya dan melakukan ritual yang Bhumi sebut sebagai bentuk kecil kasihnya.


Shavara menangis sejadi-jadinya sampai terdengar ke kamar mandi, Bhumi yang berdiri di bawah shower menumbuk k sla tembok kamar mandi dengan air mata yang luruh menyatu dengan air shower.


Dia marah kepada dirinya sendiri menyebabkan istrinya menangis, tapi dai pun tidak tahu bagaimana menghilangkan kebiasaan Shavara yang selalu over thingking tanpa bertanya dahulu.


Hatinya tidur sakit mendengar tangisan itu, dia lemah, lemah terhadap Shavara. Shavara adalah kelemahannya. bertahun-tahun dia membentengi diri dari pengaruh wanita di luaran sana khawatir dia akan seperti ayahnya, tapi kini seluruh hati dan jiwanya sudah dipenuhi Shavara.


Shavara, satu nama yang meluluh lantakkan hidupnya. Bhumi menyudahi ritual mandinya, ia menarik handuk besar lalu dililitkan ke pinggangnya.


Langkahnya terhenti di ambang pintu begitu dia melihat Shavara duduk di sana, menunggunya.


" A, mari kita bicara."


" Jangan sekarang, aku capek." Bhumi melangkah ke kopernya.


" Capek ngapain? Kamu beneran nyamperin murid kamu itu?" Shavara meremas tangannya yang saling mengait.


" Jangan mulai, terserah kamu pikir apa, tapi akh tidak seburuk itu. Itu lebih menjurus kamu menghinaku mengingat kamu tahu latar belakang luak jiwaku, aku kecewa kamu mikir demikian tentang aku."


Jleb...


Ada pisau menusuk jantungnya, ia menyesal mengatakan itu." Kalau begitu ayok kita bicara, kita luruskan kesalahpahaman ini."


" Di sini tidak ada kesalahpahaman, aku tidak melakukan apapun, kamu yang sibuk sendiri dengan pikiran over kamu itu. ibu kebiasaan itu, itu bisa merusak hubungan kita yang masih berumur jagung ini."


Bhumi mengenakan pakaiannya di depan Shavara tanpa sungkan toh ini bukan yang pertama kali dia melakukannya, toh mereka sudah tahu luar dalam soal tubu masing-masing.


" Turun lah, mereka tinggal menunggu mu untuk sarapan." Bhumi berjalan ke arah pintu.


Langkah Bhumi terhenti saat mendengar perkataan Shavara, " Kenapa kamu gak mau membicarakan ini, apa kau melakukannya yang aku pikirkan." kekeraskepalaan Shavara salah menempatkan waktu.


" Kau beneran ingin bicarakannya sekarang? demi tuhan aku lelah, dan juga lapar. perpaduan yang tepat untuk marah, Shavara." bukankah Shavara bisa merasakan kalau dia tmwagj bersusah payah menahan amarahnya, dia tidak ingin menyesal dikemudian hari.


" Kau menghindari ku, kau sedang mencoba mengukur waktu demi mencari alasan menutupi kesalahan mu."


" Demi tuhan, baik lah..kita bicarakan sekarang..." sentak Bhumi yang cukup mengagetkan Shavara.


tak..tak..


Bhumi menekan saklar menyalakan lampu, mereka tidak mungkin saling berteriak di tengah masyarakat gelapan bukan.


Begitu lampu menyala, Shavara menutup wajahnya karena silau, perlahan-lahan ia menurunkan tangan itu yang berhasil menghentikan langkah Bhumi mendekati ranjang.


dia terkejut menjurus syok melihat penampilan Shavara, rambut awut-awutan, wajah bengkak, mata sembab dan merah, hidung merah dan meler. Sungguh memperihatinkan.


Bagi orang yang tidak tahu apa yang terjadi mereka akan menyangka Shavara frustasi ditinggal nikah oleh kekasihnya pas sayang-sayangnya. Sungguh tidak berkelas sekali penampilan istrinya itu.


Namun pemandangan itu lah yang menguapkan amarah Bhumi hilang entah ke mana.


Apa semalaman istrinya itu menangis, apa semalaman juga dia tidak tidur?. pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat Bhumi mengurungkan niatnya membicarakan masalah yang tidak ada masalah tersebut.


" Kita bicara setelah makan, dan kamu mandi lah dulu. Aku ambilkan


sarapan buat kamu." Bhumi berbalik kembali melangkah ke luar kamar.


" Minimal cuci muka, sayang. sikat gigi mu." ujar Bhumi sebelum menutup pintu kamar.


Shavara bergegas ke kamar mandi, " AAAAAA....." dia akhwat melihat dirinya di pantulan cermin wastafel begitu buruk rupa sekali dia.


Helaan napas kasar tak terelakan saat Shavara melihat kakak dan adiknya duduk di ranjang begitu dia keluar dari kamar mandi.


" Keluar lah, teteh gak punya tenaga dan waktu buat ngobrol sama kalian." seru Shavara malas tanpa minat.


" Oh my God, itu muka, wajah orang bukan, gorila bukan. tidak berbentuk sekali." Aditya keceplosan, dia kaget melihat muak Shavara yang bengap. padahal sudah mandi, bagiamana kalau Aditya melihat yang tadi sebelum tersentuh air.


" Kenapa? cerita kalau ada masalah." tawar Wisnu.


" Menangis lah kau juga manusia..." Aditya menyanyi penggalan lagu yang sedang jadi andalan fyp dalam vibes sedih.


" Stop, dek. Muka udah ancur gitu disuruh nangis lagi. Mau gimana lagi itu muka harusnya."


" Kalau cuma mau ngehina teteh mending keluar, teteh sakit kepala."


" Sorry, sis. Kita gak bisa ninggalin kamu sebelum mendapat jawaban, Biasa ini perintah dari sang Baginda ratu." sahut Aditya.


" Kali ini hukuman kita sarapan dengan dua sendok makan kuah sop saja kalau kita gagal menggali informasi dari kamu, dek." timpal Wisnu.


" Maka dari itu, tanpa perlu mbuang waktu mending teteh cerita. kita mempertaruhkan solidaritas antar saudara."


" Ada pilihan lain?"


" Teteh diinterogasi langsung sama Mama tanpa bantuan Papa."


Baiklah itu cukup mengerikan baginya, maka dengan berat hati dia merayap naik ke kasur lalu duduk di tengah-tengah saudaranya.


" Aku kemarin ke rumah sakit..." makan mengalir lah cerita itu.


" Astaghfirullah, teh. ceroboh sekali anda menyuruh pak Dewa bersimpati pada Arleta. Kalau bukan karena etika guru, adek yakin si Arleta udah dimasukin ke penjara sama pak Dewa, teh." ucap Aditya gregetan dengan jalan pikiran kakaknya ini.


Dia mulai mempertanyakan kakaknya ini baik atau mudah dibodohi.


" Jangan marah-marah ih, teteh tahu teteh udah salah, teteh udah lihat skandal itu." rengek Shavara yang menyandarkan diri ke bahu Wisnu.


" Lagian ada-ada bae mikirnya. pantesan muak pak dewa keruh kayak air bekas santet. beliau tuh paling benci sama si Arleta, bahkan hampir satu sekolah melindungi pak Dewa dari dia, dia mah memang manipulator ulung, jangan terkecoh. Titisan emak ya yang dakjal itu dia." sungut Aditya kesal.


" Adek...jangan ngomong kasar." tegur Wisnu.


" Kesel aku sama si teteh dan dia juga."


" Ya terus ini gimana, tadi Aa Bhumi udah marah banget sama teteh."


" Gak bakalan lama, dia terlalu bucin sama kamu." Wisnu mengecup puncak kepala Shavara.


" Ini ni, akibat nikah yang terburu-buru, kalian belum lama pacaran tapi ngebet banget nikah, belum kenal karakter satu sama lain, jadi ribet sendiri kan. teteh juga sih, berapa kali dibilangin, jangan ovt, gak baik itu, tanya langsung baru mikir." ceoros Aditya modelan emak-emak berdaster yang marahin anaknya.

__ADS_1


" Kamu, kenapa marahin teteh sih. Aku capek dari tadi dimarahin mulu."


" Bagus lah, supaya ovt-nya hilang. kesel aku tuh. Kita sudah payah lho jauhin pak dewa dari si lont3 cilik itu, teteh malah nawarin buat Deket. udah dekat, terus direbut nangeeesss...."


"Adek..kok ngomongnya kayak gitu. Gak baik banget do'ainnya."


" Bukan do'ain tapi..."


" Udah, dek. Kamu bakal kalah ngomong ujung-ujungnya mending ngalah." Wisnu menengahi.


" Ya udah kita keluar dulu, kamu coba pake apa gitu itu mukanya, gak enakin banget dilihatnya, dikira korban kdrt lho kamu itu."


" Padahal lakinya yang tekanan bathin." oceh Aditya sambil turun dari ranjang.


" Kamu itu kalau ngomong gak enak didengar." balas Shavara sinis.


" Perempuan dengan segala dramanya, dia yang bikin masalah m, cowok yang disalahin, ngeribetin."


" Itu tugasnya cewek, kalau gak gitu dunia gak seru, dek."


" Kalian mending pada keluar, omongan kalian makin lama makin gak nyaman di kuping."


¥¥¥¥¥¥¥


" Lho, Bhum. Mana Vara-nya?" tanya Rianti yang sedang menata makanan di atas meja makan.


" Di kamar, maaf Bu. Kami mau makan di kamar." Bhumi melangkah ke dapur untuk mengambil piring, sebenarnya menghindari dari pertanyaan-pertanyaan dari ibunya.


Rianti menahan lengan Bhumi saat ia hendak mengambil makanan, " Ada masalah?" nah kan.


" Tidak ada."


" Bhumi,"


" Sebenarnya tidak ada, kalau dia tidak kreatif dalam berpikir." sarkas Bhumi.


" Selesaikan sebelum melebar. Ayah kamu sudah cerita."


" Ck.."


" Didesak Mama kamu, memangnya ada yang bisa lolos dari kejaran mama kamu."


" Terus, gimana reaksi Mama?"


" Timpuk aja kepala Vara-nya pake duit, nanti jua lempeng sendiri otaknya" seru Fena dari arah ruang tamu yang tidak jauh dari dapur.


" Fen..."


" Beneran, saya gak bohong. kebiasaan Papa-nya kalau dia lagi ada masalah karena ovt-nya." Fena memang sangat tidak menyukai tabiat putrinya soal satu ini.


Bhumi tersenyum kecil," Akan Bhumi ingat-ingat, Ma."


" Papa gak tahu sebabnya apa Vara ngambek, tapi kamu yang sabar ya, di situasi seperti ini dia pasti keras kepala." seru Anggara.


" Makanya itu Bhumi mau bawa sarapan ke kamar, Shava maksa ngobrolin ini." Dibantu Rianti, Bhumi menginduk makanan ke piring.


" Jangan pake emosi, kalau Vara ga bisa dibilangin mending kamu keluar redakan emosi. papa gak bisa lihat Vara disakiti meski itu kesalahan dia sendiri. Maaf bukan untuk mengintervensi, tapi Papa hanya gak tega saja."


" Bhumi usahain gak terpancing, Pa, Ma."


" Di depan kamar dia berpapasan dengan Wisnu yang duduk di sofa, sepertinya sengaja menunggunya." Jangan dibiasakan keluar sepanjang malam setiap ada masalah, kita tahu resiko terjadinya masalah baru lebih terbuka di luar ketimbang pisah kamar."


" Lelaki itu yang cerita?"


" Hmm, dan berhenti keras kepala. Lo paham gak ada gunanya mempertahankan keegoisan, papa Lo sudah banyak udah untuk menebus kesalahannya, beliau juga sudah tidak muda lagi. Memaafkan beliau itu yang membedakan Lo dengan beliau."


Bhumi termenung, dia harus menyingkirkan dulu persoalan ayahnya, urusan istrinya jauh lebih penting.


Tok..tok...


Ceklek..


" Tinggal buka."


" Kedua tangan aku lagi megang nampan, sayang."


Ada sekelumit rasa hangat mendengar panggilan favoritnya itu selain panggilan 'cinta.'


" Makan dulu yang kenyang baru kita bantai-bant4ian setelahnya." Shavara mengikut Bhumi yang berjalan ke arah sofa.


Mereka menikmati makanan tanpa bicara, bahkan sikap mereka berhati-hati pada satu sama lain takut menimbulkan ketersinggungan sungguh suasana yang canggung.


" Siap untuk bicara?" Bhumi membuka obrolan setelah menyisihkan piring-piring mereka.


Entah bagaimana, namun yang pasti saat ini detak jantung Shavara berdegup kencang, dia khawatir mendengar hal yang mengecewakan dirinya.


" Jangan mulai berpikir yang tidak-tidak. kita hanya akan berbicara jika isi pikiran mu dijernihkan." sahut Bhumi yang melihat raut muka Shavara yang muram.


Mau tidak mau, Shavara mengangguk," Kau kasih waktu kamu untuk mengosongkan pikiran."


" Terima kasih, baik sekali kamu." sindir Shavara.


" Aku memang baik, apalagi sama orang yang aku cinta."


" Siapa?"


" Kamu."


" Kalau cinta, kamu gak bakalan ninggalin aku semalaman demi menemui murid tersayang kamu." Shavara merutuki diri karena tidak bisa mengontrol dirinya.


Alis Bhumi terangkat, " Itu yang mau pikiran sampe kamu nangis semalaman yang bikin


muka kamu jelek begini."


" KAU..."

__ADS_1


" Stop intermezzo-nya, kita mulai bicara serius".....


Ayok tinggalkan komen, like dan hadiah dan vote bintang limanya...❤️❤️❤️❤️🥰🥰🥰🥰


__ADS_2