Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
26


__ADS_3

" Assalamua'laikum..." Teriak Aditya memasuki rumah bersamaan dengan berderingnya ponsel Fena yang duduk bersandar manja pada dada suaminya.


" Wa'alykumsalam."


" Fen, maafkan aku. Tapi ku mohon tolong aku, di luar ada Edo."


" APA?" Anggara mengernyit bertanya melihat istrinya berteriak dan tiba-tiba duduk tegak dengan mata membelalak.


" Kamu dengar aku kan, Fen." Suara bergetar Rianti menandakan ia sangat ketakutan.


" Iya, aku denger. Cuma aku mau mastiin aja. kamu yakin itu Edo? Bukan bayangan yang lagi gentayangan?"


" Fena...dia masih hidup. Mana bisa dia gentayangan. Ku mohon kemarilah, di depan Bhumi sedang marah."


" APA?" Di sebrang Rianti menjauhkan telinganya dari ponsel. Sungguh kalau Fena mau suara dia bisa membuat orang tuli mendadak.


" FENA..." Rianti sedikit kesal bercampur gregetan.


" Oke, aku ke sana. Dimana pun kamu sekarang berada jauhi mereka."


Fena menutup ponselnya, dan menarik Anggara yang sedang menikmati acara televisi.


" Pa, ayo kita pergi ke rumah Rianti."


" Ngapain? Nanggung, ma."


Klik...


Tanpa basa-basi Fena mematikan televisi." Ma..." Protes Anggara.


" Si Edo datang ke rumah Rianti, Bhumi ngamuk."


" APA? Mama serius?" Aditya kaget.


" Bilang dong." Anggara mengikuti istrinya berjalan ke garasi setelah mengambil kunci mobil.


" Dit, kamu ikut." Titah Fena.


Saat akan memasuki mobil bertepatan dengan kedatangan Wisnu dan Shavara, sontak mereka beralih menuju mobil Wisnu.


" Nu, gak usah turun. Kita langsung ke rumah Tante Rianti, di sana ada kiamat kecil."


Wisnu yang baru mematikan mesin mobil kembali menyalakannya, langsung memarkirkan mobil untuk meluncur pergi.


Sedangkan dalam hati Fena dia  menggerutu kesal sampai tak sadar dirinya menangis mengingat saat-saat pertama mereka bertemu.


" Ma, tenang. Gak perlu cemas." Anggara menepuk-nepuk punggung tangan Fena.


" Pa, aku keingetan gimana kondisi dia saat itu, sangat menyedihkan....hiks."


" Aku udah penasaran lama, Ma. Sejak kapan Mama dekat dengan ibu Rianti?" Tanya Aditya yang duduk di kursi penumpang belakang.


" Mama hampir menabrak dia, kalau papa gak ngerem mobilnya tapi waktu saat itu mungkin kita kecelakaan. Dia sambil mengendong bocah kecil menyebrang jalan, pas kita turun dia sedang menangis."


" Mengapa? Mengapa kalian tidak menabrakku?  Mati, itu lebih baik untukku daripada aku menderita terus menerus." Bentak Rianti kala itu yang membuat gadis berumur lima tahun dalam gendongannya menangis histeris ketakutan.


Fena dan Anggara saat itu terdiam mematung kaget, saat sadar pertama kali yang Fena lakukan adalah menggendong Senja kecil, dia takut akan terjadi sesuatu dengan gadis itu jika masih bersama ibunya yang terlihat kacau.


Setelah dibujuk oleh warga dan yang lain yang melihat kejadian itu akhirnya Rianti yang terlihat depresi mau dipindahkan  ke warung kopi.


Tanpa diminta di sanalah seolah sudah tidak bisa lagi menahan bathinnya Rianti bercerita dari pertama dia tahu suaminya berselingkuh, tuduhan kejinya, meniggalkan mereka dengan segudang sumpah serapah yang berhasil membuat jiwanya lebih down. 


Tadi dia baru saja bertemu dengan perempuan yang merusak rumah tangganya yang terlihat cetar dan menghina dirinya yang terlihat kumuh.


Perempuan itu menghina kalau hidup mereka akan selalu menyedihkan, dan selama Rianti yang menjadi ibunya, anak-anaknya akan selalu menderita. Saat itu ia bekerja di toko roti dengan honor yang hanya pas-pasan dan terkadang kurang untuk biaya hidup seadanya dengan dua anak yang menjadi tanggungan.


Fena yang merasakan pilu menawarkan pertemanan, tanpa disadari Rianti setiap tiga hari sekali dalam seminggu Fena mengajak dia ke temannya yang seorang psikiater.


Memakan waktu tiga tahun untuk menyembuhkan psikis Rianti yang ternyata terluka parah akibat pengkhianatan suaminya.


Setelah Rianti sembuh, perlahan mereka berdua merintis usaha makanan karena Rianti yang pintar memasak.


Di sanalah cikal bakal warungkita yang sekarang dikelola Bhumi dan Wisnu sejak lulus kuliah, ditangan mereka dan bantuan investasi dari Erlangga dan Adnan warungkita sudah memiliki beberapa cabang.


" Kok aku gak pernah liat mama Rianti ke rumah? Kalian lama Lho temenannya." Renung Aditya sedih.


" Karena memang mama yang ke rumah dia satiap habis nganter kamu sekolah."


" Kok gak pernah ngajak Adit main ke rumah ibu Rianti?"


" Kenapa sih pengen banget punya kenangan sama tante Rianti? Kalau diajak kamu cuma bisa ngerusuh doang di sana, toh makanannya kamu makan tiap hari." sewot Fena.


" Aku cuma sedih, Ma. Senja pasti kesepian ya."


" Enggak, dia punya banyak teman."


" Isssh, mama mah gak peka, ini Adit lagi bangun suasana haru lho." Dumel Aditya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Adnan memejamkan mata merutuki situasi yang berubah panas ini, alih-alih ia tetap membujuk Edo pulang, ia memilih berbalik menghalangi Bhumi yang berjalan mendekati mereka.


Yang dari sorort matanya Adnan tahu Bhumi akan sangat memanfaatkan pertemuan ini." Bhum, tenang. Bokap Lo udah mau pulang." Bujuk Adnan yang badannya terus terdorong oleh badan besar Bhumi padahal tubuhnya tidak kalah besar dengan Bhumi.


" Ngapain dia kemari?" Tanya dingin Bhumi.


Bertolak dengan raut Bhumi yang membencinya, justru Edo memandanginya dengan sorot rindu yang terasa memuakkan bagi Bhumi.


" Dewa, papa merindukan kamu." Lirih Edo tersayat pilu melihat kebencian di mata putra yang dulu selalu menatapnya penuh bangga.


" Hehehehe, rindu...sakit jiwa Lo." Tangan bumi ingin meraih jas Edo yang didorong Adnan hingga dia gagal meraihnya


" Lang, bantu gue malah dia berdiri aja." Teriak Adnan yang menyadarkan Erlangga ke dunia nyata.


" Dek, kamu pergi ke kamar, bawa juga ibu masuk." Ujar Erlangga yang sedikit mendorong Senja.


Karena takut dengan langkah cepat Senja membawa ibunya masuk ke dalam rumah, sepanjang Senja berjalan, netra Edo terus mengikuti langkah gadis yang terlihat manis itu.


" Bhum, tenang. Tetangga udah pada lihatin. Bokap Lo udah mau pulang." Adnan terus berupaya membujuk.


" Seharusnya dia gak boleh datang lagi kemari setelah dia membuang kami.


" Seharusnya manusia sok suci ini tidak pernah menginjakkan kakinya di sini lagi setelah menyebut rumah ini adalah sarang maksiat zina.


" Seharusnya lelaki tua ini ku hajar habis-habisan setelah mulut kotornya menghina adikku sebagai anak haram." Hardik keras Bhumi meluapkan luka batin yang selama ini dia tanggung.


" Paman, pulanglah. Atau paman dipukul olehnya." Adnan sibuk sendiri.

__ADS_1


" Pukul ayah, nak. Jika itu bisa membuatmu mengampuni kesalahan ayah " lirih Edo.


" Ya Tuhanku, paman, pergilah kami tidak bisa menahannya lagi." ucap Adnan sedikit meninggikan suara


Erlangga berinisiatif membawa Edo pergi dari pekarangan rumah, Namun saat melewati Bhumi, dengan gerak cepat Bhumi menarik lengan jas Edo dan langsung memu-kvlnya.


Edo terjengkang jatuh dengan hidung  berdarah.


" Akhirnya kena juga, percuma gue buang tenaga ngalangin Lo." Adnan melepas pegangannya pada tubuh Bhumi, dia mundur lalu duduk di teras memperhatikan Bhumi yang langsung mengamuk melampiaskan amarahnya.


Setelah tubuhnya bebas dari Kungkungan Adnan Bhumi lekas menyerang Edo, dia menarik berdiri lelaki tua itu, dilanjut mengha-jarnya kembali, kemudian Bhumi mengangkangi tubuh Edo dan bertubi-tubi tanpa ampun melayangkan sera-ngan.


Selama menghujani pukulan pada Edo kilasan bayangan masa lalu berputar di kepalanya, dimana ibunya menangis, menjerit, lalu tertawa akibat goncangan bathin setelah sekretarisnya datang dan memperlihatkan foto-foto kemesraan dia dengan Edo.


Masih kuat dalam ingatannya tuduhan keji ayahnya yang menyebut ibunya jalank karena hamil anak orang lain, menyumpahi adiknya mendapat karma atas perzinahan yang tidak bisa dibuktikan.


Dia kecewa karena dipaksa keadaan untuk dewasa dini merawat adiknya karena ibunya yang sering teledor, bahkan pernah Senja hampir jatuh dari tangga karena Rianti melamun di depan balkon.


Menyumpahi Rianti dan Bhumi akan hidup sengsara karena mencuranginya disaat dia pergi bersama wanita simpanannya itu setelah ketok palu hakim yang menyatakan mereka putus hubungan suami istri.


Kilasan menyesakan itu menambah semangat Bhumi mengha-jarnya.


Marah, kecewa, bingung, sedih yang selama ini tidak bisa dia ungkapkan terlampiaskan dalam setiap pukvlannya.


Erlangga sangat kewalahan menahan tubuh Bhumi agar berhenti bertindak lebih anarkis.


" Bhum, berhenti. Dia bokap Lo."


Ucapan Erlangga seakan tidak didengarnya, Bhumi terus saja memukulinya.


Karena cemas menunggu, Rianti mengintip dari sela pintu dan matanya terbelalak lebar melihat apa yang terjadi di depannya.


" Tidak, Bhumi. Berhenti...nak. Bhumi...dia bisa ma-ti." Rianti buru-buru keluar dari persembunyiannya lalu berlari mendekati mereka namun dicegah oleh Adnan.


" Tante, di sini saja. Biarkan Bhumi melepas segala emosi yang dia tahan selama ini." Ucap Adnan menenangakan.


" Tapi Bhumi bisa membnvhnya...hiks... Adnan, pisahkan mereka, Tante mohon."


Adnan bergeming di tempatnya, Rianti kembali masuk ke dalam rumah melewati Senja yang menatap syok kemarahan tidak terkendali kakaknya untuk pertama kalinya.


Di dalam rumah Rianti menghubungi Fena, dia buntu, tidak tahu lagi kepada siap dia minta bantuan.


Di luar, Erlangga masih sibuk dengan upayanya yang menjauhkan Bhumi dari Edo yang terlihat percuma.


" Bhum, sudah. Dia bisa ma-ti."


" Adnan, mari, Lo." Namun Adnan tidak menghiraukan teriakan Erlangga.


Frustasi karena situasi yang tidak bisa dia tangani, Erlangga berlari keluar pagar," TOLONG ..TOLONG SAYA..."


Bersamaan dengan teriakan Erlangga, mobil yang disopiri Wisnu berhenti di laut pagar rumah Bhumi.


Beberapa warga yang ada di luar dan lewat rumah berhenti dari kegiatannya dan memperhatikan Erlangga yang terlihat panik, beberapa saat kemudian bersama para warga keluarga Wisnu berbondong-bondong mendatangi rumah asri itu.


Begitu melihat apa yang terjadi para lelaki berlari menggerumuni Bhumi hendak menjauhkan Bhumi dari tubuh Edo yang sudah tidak berdaya.


" Ya tuhan..ya Allah...ya Rabb..." Teriak Fena nyaring panik bercampur ngilu.


" Bhumi, ganteng, stop. Ereun...ulah sampe lengeun maneh kotor kena geutih lalaki bang-sat iyeu." Pekik Fena.


Butuh waktu dan tenaga extra untuk memisahkan Bhumi dari tubuh yang tergeletak itu karena Bhumi kukuh masih belum puas melampiaskan amarahnya.


Melalui ekor matanya Wisnu memberi kode pada Shavara agar mendekat, namun shavara menggeleng karena takut hingga Wisnu menarik Shavara untuk memeluk Bhumi meski Shavara sendiri menangis tersedu-sedu.


" Kak, sudah...semuanya sudah cukup...hiks..." Ucapnya disela-sela isakannya.


Meski gerakan berontaknya melemah, namun masih ada sisa upaya itu. Bhumi belum sadar itu Shavara, Bhumi mencengkram kuat tangan mungil Shavara yang melingkari tubuhnya," awas..." geramnya


" Aaaa..ws..." Rintihan dari suara lembut yang selalu dirindukannya menyadarkan dia, matanya menatap Shavara tidak percaya, sedetik kemudian dia merengkuh kuat tubuh Shavara, ia membenamkan dirinya di sana, dalam pelukan tangan mungil gadis kesayangannya dada gemuruh Bhumi mulai tenang.


Bagi Bhumi melihat Shavara ditengah emosi marahnya bagai menemukan oase di tengah padang pasir saat dirinya haus dahaga.


Aditya sibuk menghubungi Bian walau tangannya gemetar tidak karuan, sesekali dia melirik Bhumi yang anteng dalam rengkuhan Shavara.


Warga bergegas membawa Edo ke rumah sakit diantar Adnan dan Erlangga yang disopiri oleh Wisnu.


Kini suasana rumah sudah kondusif, senja diam memperhatikan ibunya yang menangis sambil bercerita tentang kejadian hari ini.


" Ja, minum dulu." Aditya menyodorkan segelas air hangat padanya.


Sedangkan Bhumi di kamarnya bersama Shavara yang tengah mengobati luka di tangannya.


Bhumi menatap luka Shavara yang menunduk sepanjang mengobati tangannya.


" Aduh .." Bhumi meringis saat Shavara menekan lukanya.


" Maaf, gak sengaja " ucap Shavara cepat takut Bhumi marah, ia sebenarnya gugup.


Saat malam dimana Bhumi membentak Edo saja masih membuatnya syok, ditambah kejadian ini, Shavara takut pada Bhumi.


Bhumi yang melihat Shavara tidak nyaman bersamanya menghela napas gusar.


" Kamu takut sama aku?" dengan polosnya Shavara mengangguk, menyadari kesalahannya dia berganti menggeleng.


" Yang bener yang mana, takut atau enggak?" Bhumi berharap sedikit menggodanya mampu menurunkan ketegangan Shavara.


" Ta..takut..tapi takut kamu tersinggung terus kamu amarah sama aku." cicit Shavara ragu.


" Angkat kepala kamu, dan lihat aku." Shavara menggeleng.


" Angkat Shava."


" Enggak mau."


" Angkat, Giman kamu tahu aku amarah atau enggak kalau kamu gak lihat aku."


" Ngapain lihatin orang yang barusan marah."


" Ya supaya kamu tahu aku bukan amarah sama kamu."


" Tapi tadi kamu kelihatan marah banget, pasti juga sekarang masih marah."


" Jangan berasumsi, lihat dulu marah atau enggak. dosa Lo berprasangka buruk sama orang.


Karena jengkel dia dituduh berprasangka buruk, dengan cepat Shavara mengangkat kepalanya.". jangan suka fitnah ya, kau gak berprasan..."


Cup...

__ADS_1


Bhumi mengecup cepat bibir Shavara, lalu ia tersenyum menyaksikan kekagetan Shavara yang melotot padanya.


" Ishh, suka banget ngagetin, kelakuan kayak gitu ko dipiara."


" Kayak gitu gimana?"


" Nyosor."


" Nyosor? emang aku siang?"


" Lha emang bukan?"


" Aku sosor beneran ya kalau emang aku siang."


" Lha selama ini anda ngapain saya?"


" Sayangin kamu." Bhumi terkekeh geli mendengar gombalannya sendiri.


" Iyuh, gembel." shavara bergidik geli semriwing.


" Hahahhaha, gombal, cayang." Bhumi tergelak sembari menarik pinggang Shavara menempel padanya.


" Kakak, berhenti. ih. ini beneran geli kupingku."


" Ya tuhan lebay banget, katanya perempuan suak digombalin."


" yang alay kayak gini mah di lempar ke sumur sama aku." omel Shavara.


" Hahahhaha...." Shavara terpana melihat Bhumi yang terbahak lebar, menyukai apa yang dilihatnya, refleks Shavara mengusap rahang Bhumi hingga sang empunya menelan.


" Suka, aku suka lihat kak Bhumi yang seperti ini."


" Pasti tadi kamu ketakutan banget ya, maaf ya." ucapan itu tersirat penyesalan. Bhumi sendiri takut Shavara berubah pikiran tentangnya.


" Udah berapa lama?"


" Apa?"


" Menyimpan semua emosi kakak?"


Bhumi sedikit melonggarkan rengkuhannya, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.


" Sejak lelaki tua itu pergi dari rumah bersama wanita simpanannya, dia tidak tahu bahwa esoknya sampai tiga bulan kemudian ibu menghabiskan waktunya dengan menangis, tertawa, marah-marah, sedih. mengabaikan keberadaan Senja hingga aku, bocah yang tidak tahu apapun soal bayi harus mengurus dia. selama itu kami memakan hasil masakanku yang alakadarnya.


" Suatu hari aku memberanikan diri ke kantor ayah meminta uang untuk beli susu senja, sialnya hari itu wanita itu ada di sana, dia menghasut ayahku dengan dalih senja bukan anak ayah. aku pulang dengan tangan kosong. beruntung aku bertemu asisten ayah yang tahu kisah keluarga kami, dia memberiku uang yang cukup banyak untuk membeli beras, mie instan, telor, dan susu Senja." diakhir kalimat Bhumi tertawa pilu.


" Terus kalau uang itu habis gimana?"


" Aku bekerja menjadi loper koran sebelum sekolah, sepulang sekolah aku kerja serabutan di pasar. dibantu Adnan juga sih."


" Bang Adnan?"


" Heeh, meski dia kelihatan buluk, gitu-gitu dia anak sultan. dia menceritakan kisah ku pada ibunya, bahkan ubunya yang tiap bulan selama dua tahun awal yang membiayai kami. setiap aku sekolah atau mama kerja senja dititipkan di sana."


" Pasi Tante Rini senang, bang Adnan kan anak tunggal, ditambah Senja cantik."


" Tapi sebelum dibantu bang Adnan gimana kamu mengurus rumah?"


" Selama satu bulan aku gak pergi ke sekolah, beruntung ada tetangga yang melihat ku lalu membantuku, dibantu tetangga lain mengurus Senja. bahkan terkadang mereka membelikan kebutuhan Senja, pokonya mereka bergotong royong itulah mengapa Senja banyak orang yang menyayanginya.


" Banyaknya ibu-ibu yang keluar masuk rumah akhirnya sedikit mengobati hati ibu, perlahan ibu bangkit, dan keluar dari nestapanya."


" Masa itu pasti berat banget."


" Bangeth." suara Bhumi serak dan berat, Shavara paham Bhumi ingin menangis.


Shavara menarik leher Bhumi untuk ditaruh di bahunya, mengelus belakang kepalanya.


" Kalau ingin nangis, nangis aja gak usah ditahan."


" Nanti kamu ilfeel."


" Gak akan."


" Bukannya bagi kalian lelaki yang menangis itu lemah?"


" Enggak, setelah apa yang kamu lakukan buat aku, kamu masih terlihat keren. Jangan nyampe duka sendiri lagi ya?"


" Heemm."


" Kalau gak mau cerita ke aku, cerita kee yang lain aja."


" Ke kamu aja, kalau ke mereka biasanya mereka ujungnya nggajak aku ke club."


" Pasti bang Elang yang inisiatif."


" Kok tahu?"


" Tahu, Aa Wisnu sering dapet telpon dari bar buat jemput dia atau bang Anan."


" Kamu gak takut lagi sama aku?"


" Kalau kamu marah-marah lagi takutlah."


" Aku jadi ragu meneruskan hubungan ini?"


" Jangaaann...aku cuma marah sama orang yang emang bikin aku kesel."


" Kali suatu hari annti aku bikin kamu kesel?"


" Paling cuma ngambek aku-nya tapi gak marah."


" Bohong."


" Tanyain aja sama Senja apa pernah aku marah sama dia?" Bhumi termenung.


" Ngomong-ngomong Senja, Giman kabarnya dia." Bhumi menjauh lalu beranjak keluar kamar dibuntuti Shavara, mereka menuruni tangga.


Bhumi menatap pilu Senja yang berwajah pucat pasi," Enja..." panggilnya.


Senja kontan menoleh, dengan derai airmata ia berlari menghambur ke pelukan kakaknya. di sana dia emnajgai tersedu-sedu layaknya layaknya kecil kebiasannya dia ketika dirinya merasa teramat sedih.


Dia saudara tersebut saling memeluk erat dibawah penonton yang matanya mulai membasahi pipi mereka.


Di belakang mereka, tidka jauh berdiri dari daun pintu Bian menyaksikan kasih sayang keluarga yang saling menguatkan, beda dengan dirinya yang sendiri mengahdpai semua ini. Dia merasa kesepian.


Tak mau terluka sendiri yang hampir membuvnvh jiwanya, dan ingin egois merasakan ikatan kekeluargaan Bian bersuara.

__ADS_1


" Abang..."...


Udah up panjang, jangan lupa hadiah, vote, komen dan likenya...bentan komen dan dukungan kalian itu moodbuster aku...senang aja gitu...semoga masih suka dengan ceria ini dan makin suka...see you ..next part.


__ADS_2