
" Sayang, buka mata dulu yuk matanya, kita harus berangkat sekarang." Bhumi menepuk-nepuk ringan lengan Shavara yang masih terlepas dalam tidurnya.
" A,..harus banget sekarang?" ucap malas Shavara sembari mengusak pelan matanya.
" Maaf sayang. Kalau gak sekarang adik tersayang kamu bakal membuntuti kita." Bhumi merapihkan rambut Shavara yang kemudian dia ikat rambutnya.
" Aku cuci muka dulu ya, kamu mandi gak?"
" Enggak. Cuma cuci muka doang."
Bhumi melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 12.45. Dini hari.
Shavara keluar dari dengan wajah lebih segar, ia membantu Bhumi memasukan beberapa pakaiannya.
" Kamu bersiap aja dulu, yang ini biar Aa yang rapihin."
" Maaf, ya, A."
" Ra, bawa ini buat di jalan. tadi barbeque-an." kalian gak sempat makan banyak karena meladeni adu mulut si adek."seru Fena dari ruang makan dengan Anggara setia menemani sambil mengemil kue coklat dibarengi secangkir teh.
Ia menyiapkan bekal berupa sandwich tiga tumpuk sebanyak tiga buah, sebotol kopi untuk Bhumi serta sebotol susu coklat untuk Shavara.
" Makasih, Ma. Maaf, mengganggu waktu istirahat Mama." Bhumi yang menimpali.
" Ck, gak perlu sungkan. kalian pake acara kayak orang kabur gini juga kan karena si bungsu mama yang lebay itu, gak tahu Mama kenapa dia jadi over posesif gitu sama tetehnya, ngalah ke siapa sih dia." dengkus Fena.
Shavara menahan tawa melihat bola mata Papa-nya berputar malas. dia tahu pasti Papa-nya ingin bilang 'ngalah dari Mama yang semuanya serba didramatisir. " Pa, kalau mau ngomong sesuatu jangan ditahan, Pa." ledek Fena.
" Masih sayang nyawa, Ra." Shavara terkikik geli, sementara Fena dan Bhumi bingung.
" Kami pamit, Ma." Mereka berlalu setelah menyalami keduanya.
" A, maaf ya, Adit sikapnya makin jadi." Shavara mengusap lengan Bhumi yang sedang memegang stir.
" Aku cuma gak paham Kenap siakp Adit jadi begitu, dia kayak gak percaya sama aku." ada sedikit kekecewaan dari Bhumi atas sikap penolakan Aditya saat barbequean tadi manakala dia memberitahukan rencana liburannya.
" *APA..." Teriak Aditya yang terkejut yang membuat yang lain terjengkit kaget *
" Gak, aku gak setuju teteh Vara liburan sendiri." sewot Aditya.
" Sama saya, Dit."
" Gak peduli saya, Pak. Pokoknya enggak."
Aditya yang lebih menolak keras atas rencana Bhumi, sementara Wisnu diam tenang sembari memanggang daging dan sosis
" Dek..." tegur Shavara.
" Kalau mau liburan, kita barengan. Gak ada penolakan!" tegas Aditya.
" Dek, mereka mau bulan madu, mana ada bulan madu berjamaah." Tegur Anggara.
" Adek gak bakal ganggu mereka, kok. Adek cuma mastiin teteh aman."
" Teteh kamu aman sama saya, Dit."
" Mana ada, bapak aja kejebak a tu nenek lampir. pokoknya adek gak setuju kalian pergi berdua doang." Aditya pergi masuk ke dalam rumah."
" Dek, mau kemana?" tanya Fena.
" Packing, jadi nanti biar tinggal pergi."*
Mereka semua menghela napas lelah bercampur atas sikap ketidakjelasan Aditya yang makin ke sini makin jadi kalau berkaitan dengan teteh-nya.
Shavara menghembuskan napas berat saat mengingat kejadian tadi." Aku harap Aa gak sakit hati atas siakp adek."
Bhumi mengambil tangan Shavara yang menganggur di atas pahanya yang kemudian dia kecup, dan genggam di atas pahanya.
" Sakit hati sih enggak, tapi ya mbok jangan dadakan gini gitu loh perubahan sikapnya, kan aku jadi bingung."
" Maaf, ya, A." ucap lembut Shavara.
" Stop minta maaf, aku gak ngerasa diganggu atau apa lah, gitu. Udah biasa kok menerima sikap Adit yang labil itu."
Perubahan sikap Aditya yang berlebihan terhadap Shavara dirasakan sejak liburan sekolah tiba, dia seperti lintah yang terus menempeli Shavara.
Bahkan mereka harus janji temu di luar rumah agar quality time mereka tidak diganggu Aditya.
" Aku berasa kawin lari dari Papa, A." Bhumi tersenyum sedikit terkekeh.
" Mulutnya, aku meminang kamu dengan terhormat ya, sayang." jempol Bhumi mengusap bibir ranum itu, mulut Shavara menangkapnya, ia mengigitnya.
Bukannya sakit, Bhumi malah merasa tubuhnya meremang. Ia memandang lembut Shavara.
Shavara, entah mengapa selalu berdesir hangat hatinya seperti saat pendekatan dulu kala tatapan dibarengi senyuman lembut itu mas
ih Bhumi berikan padanya.
" Kenapa lihatin aku gitu banget?" degup jantung Bhumi berdetak hebat.
Ini yang selalu dia rasakan setiap kali mendapati Shavara menatapnya.
" Gitu, gimana?"
" Kayak yang cinta banget sama aku." Bhumi berniat bercanda guna menutupi kesalahtingkahan dirinya.
" Memang cinta banget, sih aku." ucap Shavara cepat.
" Hah?" Bhumi meremas stir kuat-kuat ia mendengarnya, tapi ingin mendengarnya lagi.
Jantungnya bertalu-talu kian menggila, Shavara bukan sosok yang berkata cinta untuk menunjukkan kasihnya, ia lebih menunjukkan dengan tindakan.
" Gak ada pengulangan." Shavara berpaling keluar jendela menutupi malunya.
" Aaarrghhh, pengen cepat sampai."
" Buat apa?"
" Pengen cepat miliki kamu seutuhnya, pengen nyatu dalam diri kamu, sayang. Aaarrghhh..." Bhumi geregetan sendiri, ia menambah laju kecepatannya.
" A, pelan-pelan, jangan ngebut."
" Cium, aku dulu."
" Aa, apaan sih, fokus nyetir."
Bhumi merendahkan kecepatannya," Civm, sayang."
" Di pipi tapinya?"
" Bibir lah, sayang. Aku bukan anak SMP."
" Astagaaa__, kalau udah nyampe iya, dicivm."
__ADS_1
" Enggak, mau sekarang. Bibir kamu ngegoda aku banget."
" Enggak, ya. kalau udah sampe aja."
" Cium, beb. kecupan doang juga gak apa-apa yang penting ngerasain bibir kamu."
" Astaghfirullah, A..."
" Ah lama." Bhumi melepas seltbelt-nya sembari menepikan mobilnya ke bahu jalan.
Membingkai rahang Shavara, lalu melum'atnya, bergerak pelan nan lembut, sangat lembut atas bibir atas dan bawah Shavara seakan ingin merekam rasa benda favoritnya ini.
Mata mereka terpejam khidmat dengan dua bibir saling membelai dan bergerak berirama. Shavara mengalungkan tangannya ke leher bhumi, meremas tengkuknya, memainkan rambut Bhumi yang membangkitkan lahar gair4h dalam tubuh Bhumi.
" Hmmhhmmhh, ssssshhhh...eeeehhhh...." Bhumi menahan kepala belakang Shavara agar tetap di tempat saat ia ingin menjauhkan wajahnya.
Lama, lum'atan itu berlangsung hingga memang mereka membutuhkan oksigen baru terlepas.
Bhumi mengusap bibir sekitaran bibir Shavara yang banyak jejak salivanya.
" A, jalan."
" Pengen nyivm kamu lagi." lirih ya menahan gejolak gair4h.
" Jalan, atau kita ditangkap polantas."
Cup...
" kamu benar, niat hati ingin bulan madu romantis, gak lucu kalau endingnya berakhir di penjara.
Bhumi kembali ke kursinya, menggenggam tangan Shavara, sedangkan satu tangan yang lain menyetir.
Bhumi melepas genggamannya untuk mengelus ringan pelipis Shavara." Tidur lagi, gih. kalau sudah sampai, Aa bangunin."
" Enggak, mau nemenin Aa aja." Shavara menggenggam tangan suaminya untuk dia tumpuk dalan pangkuannya.
Namun berselang 15 menit dengkuran halus dengan napas teratur dari Shavara sejenak mengalihkan perhatian Bhumi.
Dia terkekeh, saat mendapati Shavara tertidur dengan pose kepala miring, mulut terbuka kecil dengan tidak tidak estetiknya.
Bhumi kembali menepikan mobilnya, kembali membuka seltbelt-nya, mencondongkan tubuh ke Shavara, mengecup kepalanya lalu menurunkan sandaran kursi, menyelimutinya dengan selimut agar istrinya nyaman.
" Sok-sokan mau nemenin, lama dikit udah tidur. biar ngeces masih cantik."
Bhumi membelai bibir Shavara." Bibirnya cepet banget bengkak sih, tapi sexy. Kan jadinya pengen lagi."
Bhumi menatap Shavara lembut sembari mengusap kepalanya," Maaf, udah maksa nikahi kamu, padahal kamu pasti sudah punya banyak mimpi."
" Aku agak pernah mengira akan sejatuh ini jatuh cinta pada seorang wanita sampai takut kehilangan. Semua perasaan ini sudah aku habiskan untuk kamu, Cinta banget aku sama kamu, secinta itu, love. Love you!." ucapnya lirih saking membuncah hatinya dengan kehangatan segala perasaan yang dia tuangan untuk istrinya.
Bhumi mengecup kening Shavara lama dan dalam mengungkapkan segala perasaan sayang untuk Shavara.
Sekali lagi dia usap kepala Shavara sebelum dia kembali duduk tegak di kursinya.
Sambil satu tangannya menggenggam tangan Shavara dengan jempol yang mengusap punggung tangannya yang dia taruh di atas pahanya, dia melajukan mobilnya menuju tujuannya.
^^^^^°°
Shavara mengenakan bathrobe dengan handuk menggulung di kepalanya saat keluar dari kamar mandi dengan penampilan sudah segar.
Ia tersenyum melihat Bhumi yang tertidur telungkup menyilang di atas kasur tanpa membuka kaosnya, hanya jaket saja yang sudah tersampir di sandaran sofa.
Bhumi langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur saat mereka memasuki kamar tidur.
Shavara melangkah perlahan mendekati suaminya, ia menjulur tubuhnya melewati punggungnya untuk melihat wajah Bhumi.
Shavara tidak menyadari bagian depannya menempel di punggung Bhumi yang memberi efek tersendiri bagi suaminya saat dirinya bergerak-gerak kecil saat membangunkannya.
Bhumi menggeliat, Shavara menjauhkan diri, namun baru setengah jalan dirinya ditarik Bhumi hingga diapit oleh tubuh Bhumi.
" Kyaaa...." kaget Shavara, menumbuk pelan lengan bhumi.
" Ngagetin aja." sungutnya.
Bhumi terkekeh, dengan mata terbuka sedikit. " Jam berapa?" Suar Bhumi serak-serak sexy.
" Enam."
Bhumi melihat ke jendela kamar, di luar tangah hujan sedang." Masih gelap."
" Kita di Bandung, pegunungan pula. Ya pantaslah gelap." Shavara merapihkan rambut poni Bhumi yang terjatuh menghalangi keningnya.
" Cocok buat unboxing." perkataan itu diucapkan dengan kesan malas, namun remasan tangan Bhumi di pinggang mengatakan keseriusannya.
" Malam aja ya. Kan namanya malam pertama."
Bhumi menggeleng, ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Shavara." pengen kamu." Shavara mengigit bibir bawahnya dan meremas tangan Bhumi saat dia mencivmi ceruk leher jenjang itu.
Bhumi bergerak berbarengan dengan menarik rapat tubuh Shavara ke tubuhnya.
Tangannya bergerak sensual mengitari pinggangnya untuk menyelundup ke balik jubah mandi itu, mengusap naik-turun kemudian terus merayap ke atas, berhenti saat menyentuh kulit kenyal yang menjadi favoritnya.
" Aaahhhh..." desahnya saat dirinya diremas-re mas. tangannya menyalip mengalun ke leher Bhumi.
"Eeehhh..." Lengkuhan itu kian meninggi menyusul mengerasnya re masan itu, Shavara menjambak rambut Shavara. Kakinya mengejang lurus kala sensasi gair4h menyapanya.
" Enak, sayang?" Shavara mengangguk, Bhumi sedikit bangun, bertopangkan untuk menahan tubuhnya.
" Bagaiman dengan ini?" Bhumi memilin-milin ujungnya, dan satunya lagi dia lahap walau terhalang kain.
" Aaaa...aaahhh..." Bhumi menyibak kain penghalang itu, memperlihatkan apa yang dia sukai.
Matanya sayu, " Sayang, aku sudah turn on." Bhumi membuka kaitan tali, ia naik menindihnya.
Shavara dapat merasakan tubuh bawah Bhumi mengeras, dan memanjang.
" Aaahhh...sayang..." lengkuh shavara saat Bhumi menggeseknya, kemudian ia berdiri.
Matanya melihat tubuh polos istrinya, tubuhnya menegang minta dipuaskan.
Ia membuka kaosnya, melemparnya asal. celananya menyusul, dengan gerakan cepat ia menurunkan celananya, menendangnya asal memperlihatkan dirinya yang berdiri menjulang tegak.
Ini bukan yang pertama Shavara melihatnya, namun setiap kali melihatnya ia selalu takjub. sontak seketika tubuhnya ingin dipuaskan.
"Aa...hhh..."
" Aku datang, cinta."
Bagian bawahnya menggelitik hangat, ia bergerak gelisah." Aaa..."
Bhumi memposisikan tepat di tengah, permukaan milik keduanya bertemu, Bhumi menggeseknya, Shavara meremas rambutnya.
" Aa..."
__ADS_1
" Kamu sudah basah... Aku siap masuk, sayang." Bhumi perlahan bergerak ke depan.
" Eeehhh.." sempit, Nikmat tapi sempit. Bhumi merasa tersesat.
" Aaakkkh...saki...tttt..." Bhumi bergerak maju lagi.
" Tahan sayang, ini sudah di tengah.. Kalau aku melepasnya nanti akan teras lebih sakit...aaakkhh..." Bhumi mengecup leher Shavara, ia merasa sakit di kepalanya karena remasan laut tangan Shavara.
" Aaa..,hhh..mmhmmm...." Bhumi mencivm rakus bibirnya, memag'utnya menarik sensual. sambil dirinya bergoyang menerobos dinding selaput kesucian..
" AAAAA.....HHH...." Shvara mengigit bahu Bhumi kala Bhumi berhasil menembusnya.
" Sa..Kii...ttt..."
" Maaf..maaf sayang." Bhumi mengecupi wajah Shavara. dirinya berhenti agar istrinya menyesuaikan dirinya di dalam sana.
Ia baru ini merasakan kenikmatan yang luar biasa." Aku gerak ya..."
"Pelan-pelan."
" Hmmm." perlahan Bhumi bergerak hati-hati maju mundur.
Sedikit sakit, namun lambat lain Shavara mulai merasakan nikmat.
Tangan lentiknya merayap membelai punggung kencang suaminya menghayati sensasi nikmat yang pertama kali dia rasakan
Setiap kali Bhumi menghujamkan dirinya, keduanya mengeram nikmat. Lengkuh saling menyahut dalam kamar itu.
Bhumi terus bergerak, Shavara membuka diri memberi akses. Gerakan Bhumi dipercepat saat dirinya hendak mencapai puncak kenikmatan.
Shavara memekik, tangannya terus memanjakan Bhumi, jari kakinya meregang tegang, saat puncak gair4hnya yang tiba, Bhumi menambah kecepatan hujamannya.
" AAAAA......hhhhhh...." lengkuhan melolong kerasa di tengah sepinya fajar.
Balas mereka bertalu terengah-engah, mereka merasa takjub dengan kedahsyatan yang abru saja menimpa mereka.
Bulir keringat membasahi tubuh bagai sehabis mandi padahal cuaca sangat dingin menusuk.
" Aahhh...sshh..." ringis Shavara saat Bhumi menarik melepas dirinya.
Menjatuhkan diri di samping istrinya, dadanya terasa plong, tubuhnya lemas, semua syaraf seakan tertarik.
" Nikmat banget, sayang." gumamnya puas seraya menerawang.
Ia menoleh ke samping memandangi istrinya yang terlihat beribu kali cantik." Terima kasih."
" Hmm." Shavara menyembunyikan wajahnya ke lengan Bhumi karena malu.
" Dingin."
Bhumi beranjak mencari selimut yang tidak da di tempatnya. Ia menggeleng geli akan kehebatan mereka membuat selimut tergeletak di bawah ranjang.
" Kasur kayak kapal pecah deh kayaknya, masa selimut ada di bawah." Bhumi menyelimuti tubuh keduanya.
Ia menarik Shavara merapat ke tubuhnya." A,...udahan dulu, sakit." ucap Shavara lelah.
" Cuma pelukan, sayang." Bhumi mengecup bahu polos Shavara.
" Sayang, aku sangat mencintai kamu." ucap Bhumi segenap jiwa.
Shavara tersenyum, " Aku juga.
" Kamu milik aku. Luar dalam kamu sudah menjadi milik aku." Bhumi mengeratkan pelukan di pinggangnya.
" Hmm, kamu memiliki aku." ucapannya melemah, matanya memejam.
Tidak lama ia tertidur dengan Bhumi betah memandangi." Ya tuhan,...jaga istriku dalam kebahagiaan selalu." do'anya syahdu.
❤️😀😀❤️
Di waktu bersamaan, di kediaman Nasution.
" Teteh,...teteh...buka, teh. Udah siang ni, waktunya berangkat." Aditya mengetuk-ngetuk pintu kamar Shavara.
Ia meraih kenop pintunya yang ternyata tidak terkunci.
" Teh,..." Aditya tertegun, kamar itu kosong.
" MAMAAA... teteh gak ada, teteh diculik.." Aditya tergesa-gesa menuruni anak tangga dengan kepanikan ke arah ruang makan.
Di sana, dengan santai Wisnu tengah melahap sarapannya.
" Apa sih, dek. Masih pagi teriak-teriak." sungut Fena.
" Teteh gak ada di kamarnya."
" Udah pergi."
" Dia diculik." Aditya ngeyel.
" Ck, diculik gimana, dia sama suaminya."
" Itu dia, pak Dewa menculik dia."
" Jangan konyol."
" Kenapa mereka ninggalin aku." ada rasa kecewa dalam ucapan itu.
" Dek, kamu yang keterlaluan, mereka sudah menikah, biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka."
" Mama gak ngertiin adek."
Matanya beralih ke kakaknya," A..." ada permohonan dalam rengekan itu.
" Makan, Ngambek juga butuh tenaga." sahut Wisnu.
Ia mengelap mulutnya karena sudah menghabiskan sarapannya. Ia beranjak menyalami keduanya baru lah pergi dengan menarik kerah belakang Aditya.
" Aa..lepas..sakit ini."
" Bawel, Naik." Wisnu masuk ke dalam mobilnya.
" Ogah, aku mau nyusul teteh."
" Memang tahu mereka kemana?"
Aditya bungkam, kemudian dia menggeleng.
" Masuk."
" Buat apa dah, aku belum mau ngurusin perusahaan."
" Ck, katanya mau nyusul teteh kamu, mau ikut gak?"
__ADS_1
Mata Aditya berbinar, ia mengangguk cepat, kaki ya panjangnya memutari mobil Wisnu.
" Mati kita berangkat."...