Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
41. Isshhh


__ADS_3

Shavara melihat dirinya yang tenggelam dibalik Hoodie kebesaran lewat cermin.


" Kak, ini kegedean." protes Shavara pada Bhumi yang tengah memasukan kemeja kedalam celananya.


"Enggak, emang begitu modelnya. diluar dingin, dan itu buat nutupin ****** dileher kamu." Bhumi memeluk Shavara dari belakang.


Mereka saling pandang lewat cermin." Kamu cantik." bisik Bhumi sengaja menempelkan bibirnya menggelitik telinga Shavara.


Shavara menghela napas berat, banyaknya jejak ganjil berwarna merah di lehernya, " curang, kamu gak ada sama sekali."


" Aku udah ngasih kesempatan ya, siap suruh gak manfaatin." jawab Bhumi.


Shavara berbalik badan, ia berjinjit penuh tanpa tedeng aling-aling mengigit bawah rahang Bhumi.


" Aaa...sakit sayang." Bhumi mengusap bagain bawah rahang yang digigit itu.


Bukannya merespon protesan Bhumi, Shavara malah melihat dari atas sampai bawah tubuh Bhumi.


" Kakak, bukan 180 yang dibilang kan? tinggi banget soalnya." curiga Shavara.


Bhumi nyengir menggapai tangan Shavara," 192, sayang.


" Ya tuhan, pantes aku berasa jalan sama raksasa. aku cuma 163 an dah kayaknya." ucap Shavara mengira-kira.


Bhumi kembali merapatkan tubuh mereka, menggoyang-goyangkannya random.


" Jadinya kelihatan imut kamu-nya, Shava. jangan insecure, oke."


" Ck, jangan mulai modus, aku laper, dan kita harus segera pergi." Shavara melepas tangan Bhumi yang membelit pinggangnya.


Bhumi tersenyum meledek," ke goda ya."


"Enggak ya..cuma kakak kan gampangan ho-rny. aku yang repot."


" Cuma sama kamu."


" iya in aja supaya cepat."


Mereka berjalan ke ruang tamu, Shavara mengambil tas selempangnya. Bhumi mengambil undangan dari ranselnya.


" Sayang, ada reunian SMA aku. kamu ikut ya." Shavara menerima undangan itu.


" Kenapa aku harus ikut?"


" Karena Adnan maksa aku buat hadir, males sebenarnya, tapi dia panitianya."


" Ada Kinan juga?"


"Kali, aku gak pernah ikut reunian sebelumnya." Bhumi mengambil paperbag berisi pakaian kotor mereka.


" Pake baju apa?"


" bebas, cuma semi formal gitu kode dressnya."


" Gak apa-apa ngajak aku?"


" Justru harus sama kamu." Bhumi memegang siku Shavara menuju pintu.


" Aku gak punya dress semi formal."


" Acaranya malam Minggu, Sabtu kita bisa nyari." Bhumi membuka pintu kamar.


" Kamu rencananya pake apa?"


" Antara batik sama kemeja terus jas. gitu doang paling." mereka menunggui lift.


" Warnanya senadain ya."


" Kayak couple-an gitu ya? oke." ada dua orang dalam lift saat pintu lift terbuka.


Dalam lift mereka diam, Shavara sibuk dengan ponselnya menjawab pesan yang banyak dari Mira dan Berliana.


" Kenapa? sibuk banget sama hpnya?" sindir Bhumi.


" Ini bales pesan Mira sama Ana yang nyari aku."


" Jangan kabur lagi kayak kemarin, kalau marah, Jambak aja aku, omelin sekalian gak apa-apa. daripada aku kalut mikirin kamu takut ada apa-apa."


"Iya, maaf."


Ting...


Mereka langsung menuju restoran, begitu keluar dari lift. perut yang lapar meninggalkan manner table bagi Shavara. Ia makan dengan lahap tanpa sungkan.


" Kita langsung ke kampus atau kamu mau pulang dulu?" tanya Bhumi begitu mereka sampai di parkiran motor.


" Langsung kampus aja. aku udah kasih kabar papa, kayaknya Aa Wisnu cerita soal Aryo."


" Kamu juga harus cerita ke aku."


" Siapa yang kemarin gak angkat telpon aku." sindir Shavara mencebik.


" Oke, aku salah. kita gak perlu berantem soal kemarin kan, semua udah clear. tapi kamu bisa kan ketik pesan ke aku kalau aku gak jawab telpon kamu, aku pasti merespon balik."


Cup...


Bhumi mengecup pipi Shavara sebelum mengenakan helm ke gadisnya yang reflek Shavara memukul lengan Bhumi.


" Ini di parkiran, tolong jaga sikap." omelnya.


Bhumi terkekeh," kamu bikin aku khilaf melulu." ucap Bhumi menaiki motornya.


Menjulurkan tangan membantu Shavara duduk di boncengannya." Dih, orang gak ngapa-ngapain, malah disalahin. situ yang terlalu gampangan." cibir Shavara


Bhumi tergelak, " itu semua karena kamu, sayang."


" Udah ih, jalan. hampir telat ini." Shavara lingkari tangan di pinggang Bhumi.


" Siap, nyonya..."


¥¥¥¥¥¥¥¥¥


" Pulangnya aku jemput. kamu keluar jam berapa?"Eropa sudah tiba di depan kampus Shavara.


" Jam duaan, mau ngerjain tugas."


" Tunggu aku, paling lambat aku nyampe jam empat. ada les tambahan. seharusnya kemarin, tapi nyonya ngambek pake acara kabur."


Shavara terkikik, " Motor aku gimana?"


" Ada di rumah, nanti aku suruh Adit yang ngambil."


" Ya udah, aku masuk. kamu hati-hati."


"Hmmm. Kalau Aryo datang lagi, tendang aja burungnya."


" Iya. pergi sana nanti terlambat."


" Siap, cantik. love you." ucap Bhumi sebelum menutup kaca helmnya.


" Ya tuhan, jantung. santai aja napa, ini bukan kali pertama dia ngucapin itu." gumam Shavara memegang dadanya yang merasakan berdetak cepat.


Prok...prok...


Monika keluar dari dalam mobil yang terparkir." katanya cewek baik-baik, tapi belum lama putus udah punya pengganti...ck..ck...mereka ketipu banget sama Lo." Monika berdiri bersedekap dada dengan kepala terangkat culas siap berperang.


Shavara malas meladeni mantan sahabatnya itu, ia berbalik badan lalu berjalan ke arah


gedung fakultasnya, yang langsung dicekal sikunya oleh Monika.


" Jauhi pacar gue, atau gue rebut juga laki Lo yang ini." ucapnya diakhiri seringai culas.

__ADS_1


Shavara hendak menjawab, namun tangan lentik seseorang menghentak cekalan Monika.


" Lo yang harus bilang ke laki Lo supaya gak nyamperin Vara lagi, *****." ujar Berliana sengit.


" kalian ini, selalu ikut campur. Lo lagi caper karena suka sama pak Wisnu kan? modelan kayako gak bakalan dilirik dia." sinis Monika panas.


" Gak juga, gue bisa lihat Aa Wisnu mer spon dia, berapa kali Lo dianter pulang sama Aa, Na? sesuatu yg gak pernah Lo dapetin, Bahakan ketika sih sohiban sama gue." Shavara mengejek Monika yang melototinya.


" Gak usah ladeni dia, girls. orang saraf kurang gizi." cebik Mira.


Mereka pergi, dengan tagihan jawaban dari Shavara soal kemarin. mengabaikan Monika yang masih mengawasi kepergian mereka dengan tangan terkepal menahan amarah.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Selamat pagi, semua." Bhumi memasuki ruang guru dengan wajah senyum senang.hal yang jarang terjadi hingga membuat beberapa gue mengernyit bertanya-tanya.


" Tumbenan pak Dewa masuk sambil senyum, lagi senang, pak?" ledek pak Sapto guru matematika IPS.


" Pak Dewa, sini." panggil Bu Ratna dari meja kerjanya.


" Ini ada surat dari HRD, bapak diminta gabung baut jadi pewawancara anak magang." Bhumi menerima amplop berkop surat yayasan.


Sebenarnya dia ingin gabung untuk mempermudah penerimaan kekasihnya, namun ia urungkan, karena hal itu akan jadi Boomerang bagi Shavara.


" Maaf, Bu saya...."


"Pak Dewa gak bisa, Bu. ada rapat perihal revisi jadwal belajar tambahan anak 12 bersama seluruh guru exakta penjurusan IPA. mereka pada protes dengan jadwal padat yang sekarang." kata Guntur yang mendekati mereka.


" Kyaaaaa..." pekikan Bu Ratna mengambil perhatian guru yang ada di ruangan berbarengan dengan kedatangan Siena.


" Omo..Omo...pak Dewa, sekarang udah gede." bisik Ratna memotret apa yang dia lihat.


Ratna memberi hasil dari jepretannya pada Bhumi, Guntur pun ikut gabung melihat karena penasaran.


Di sana ada jelas terlihat jejak gigitan bibir, Guntur mengulum senyum geli menepuk pelan punggung Bhumi.


" Ada apa Bu, pagi-pagi udah ribut." Siena menghampiri mereka.


" Pak Dewa sudah punya pacar." jawab Ratna langsung.


Siena tertegun mencerna sesaat, namun sesaat kemudian tertawa garing." mana bisa, selama ini kita tahu pak dewa gak dekat dengan wanita manapun selain saya." ucap Siena percaya diri yang mendapat respon datar dari ketiganya.


" I..itu gak benar kan pak." gagap Siena.


" Bukan urusan ibu." jawab Bhumi malas.


" Pak, pake ini." Ratna memberi foundation pada Bhumi.


" Saya berpengalaman soal beginian." seloroh Ratna mengerlingkan satu matanya yang berhasil membuat Bhumi keki, sedangkan Guntur terbahak-bahak.


" Makasih, bu." Bhumi melewati Siena berjalan bersama Guntur menuju ruangannya.


" Pak Dewa." panggil Siena berlari ke arah Dewa.


" Yang tadi dibicarakan bu Ratna gak benar,kan." Siena menatap memohon.


" Bukan urusan ibu." jawab Ibnu tegas, kemudian di berbalik badan melanjutkan langkahnya ke ruang kerjanya.


" Pak Dewa." helaan napas malas bukan hanya dari Bhumi, namun juga suruh guru yang mulai jemu dengan drama Siena.


Bhumi berbalik badan." Apa lagi, Bu?"


" Siapa dia? kenapa bapak suka dia, jelas-jelas saya sudah mengejar bapak sedari lama."


Bhumi mendekati Siena, ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, mencari kontak Siena.


" Ibu, lihat ini." di depan mata Siena, Bhumi memblokir nomor kontaknya.


" Jangan spam panggilan dan pesan ke saya lagi, apa ucapan kasar saya kemarin kurang kasar?" Siena tertegun kaget dengan tatapan tidak suka dari Bhumi.


Bhumi kembali berjalan ke ruangannya," pak Dewa..." Bhumi yang jengkel karena Siena tidak berhenti memanggilnya mulai naik pitam, moodnya sudah Riska oleh satu orang ini.


"APA?" bentaknya.


Bhumi mengambil kasar kotak bekal tersebut, lalu memberikannya pada Guntur." makan, Tur. Gue tahu Lo belum sarapan."


Siena terhenyak, segitu tidak sukanya Bhumi padanya, ia menatap sedih Bhumi.


" Saya terima makanan dari ibu Siena, tapi ibu jangan Geer, ibu bukan type saya." ucap Guntur sebelum menyusul Bhumi ke ruang kerjanya.


¥¥¥¥¥¥¥¥¥


" Pak, kelamaan si Dito mah, saya aja sih, pak." keluh Ajis, sudah 15 menit melihat temannya yang perfeksionis mengisi satu soal namun belum juga selesai.


" Tadi saya pinta, kalian gak ada yang mau maju." Bhumi pun sudah bosan, tapi apa mau dikata, si paling sempurna itu berkali-kali mengulang nulis perangkat hanya karena tulisannya tidak sempurna.


Dito, si perfeksionis yang segalanya ahrus seluruh simetris sedang mengerjakan soal fisika yang belum jug kelar wali hanya satu soal lantaran tulisannya yang selalu dihapus karena kurang sempurna.


" Dito, ah, elah. lelet amat Lo cuma satu soal doang." Nuril yang mengeluh.


" Kaliannya diem, merusak konsentrasi aku aja tahu."omel Dito.


" Dit, Lo tinggal nyalin dari buku ke papan tulis, konsentrasi apa yang Lo butuhin, anying." Yudi gregetan.


" Kan nulisnya harus rapih, Yudi."


" Eh, Mamat. nanti juga gue hapus tuh tulisan." omel Devgan.


" Dit dalam tiga detik Lo belum selesai, gue kawinin Lo sama janda tetangganya si Leo." ancam Aditya yang tangannya sibuk memainkan ribut Gemma.


Maka bagai sihir, Dito segera menulis dengan cepat hingga selesai tidak butuh dari dua detik.


" Bagus, kamu betul, Dito." seru Bhumi melihat hasil jawab Dito.


" Jawaban yang sama dengan Dito hasilnya itu betul."


" Asssiaaapp, pak." jawab para murid.


" Adit, tanah Lo diam, rese banget. pindah duduk sana." Emma menjauhkan tangan Aditya dari rambutnya.


" Ini bangku gue, bocil."


" Pindah."


" Ogah."


" Gue yang pindah."


" Gue lamar juga Lo ya..." Emma mencebik akan ucapan Aditya yang terkesan masa bodo.


Triiiing....


Bel istirahat berbunyi.


Bagi kelas 12 IPA1 suara bel sangat melegakan guru, mereka terbebas dari sikap absurd para muridnya. otak, tidak ada masalah dengan mereka, mereka bertanggung jawab dengan prestasi, tapi akhlak, Bhumi sebagai wali kelasnya menyerah harus bagaimana lagi metode mendidik mereka.


" Kita hari ini les-nya off dulu ya, kata pak Guntur ada pembaharuan jadwal les. kalian ikhlas kan?"


" IKHLASSSS... BANGET." seru semuanya


" Pak, Kenapa kemarin gak les, kata bibi bakso bakso kemarin berantem ya sama pacarnya?" tanya Emma.


" Gak ada, jangan percaya dan disebar rumors gak jelas begitu."


Saat Bhumi berjalan ke luar kelas ponselnya bergetar.


Shavara mengirim pesan mengabari akali Ahri ini dia ada interview di sekolahnya.


" Kalau begitu aku tunggu kamu di sekolah, kita pulang bareng." balas Bhumi.


" Pak, awas nabrak pintu, sibuk amat sama hpnya." sindir Devgan.

__ADS_1


" Kepo banget jadi orang." Bhumi membuka pintu, namun di depannya sudah ada Arleta yang berdiri di depan pintu.


Bhumi menghela napas kasar, dia tidak menyembunyikan kejengkelannya. Bhumi tidak mengindahkan keberadaan Arleta yang menghalangi jalannya, ia sibuk membalas pesan dari Shavara.


" Apa benar bapak sudah punya pacar?" tanya Arleta.


" Gak penting saya ngasih tahu kamu."


" Pak, ini gak adil buat saya, tiga tahun saya ngejar bapak, apa bapak sama s kali tidak tergugah?"


" Tidak, dan pergi. ingat peraturan batas jarak kamu dari saya. kamu bersikap lancang, saya tidak segan melaporkan kamu ke polisi."


Arleta menatap Bhumi dengan sendu, airmatanya kini mengalir, tangannya terangkat ingin menggapai Bhumi namun ada tangan lain yang mencekalnya.


" Yan, jangan campuri urusan kami." pinta Arleta pada Bian yang memegangi tangannya.


Para murid dalam kelas sudah berkumpul mengelilingi Bhumi, bahkan para siswi yang berhadapan langsung dengan Arleta.


Bhumi mengigit bibir dalamnya menahan senyum geli.


" Kami, pengen banget Lo punya urusan dengan pak Bhumi, tapi sayang, itu gak akan pernah terjadi. pergi, sebelum kita keroyok Lo. gak tahu malu." ujar Mega.


Malu ditonton oleh murid yang berhamburan dari kelas, dengan wajah memerah Arleta pergi dari sana.


" Bapak pasti terharu kita bela, boleh kok bapak traktir kita." seru Reno.


seketika wajah Bhumi mendatar perasaan tersentuh yang sempat dia rasakan menguap entah dibawa apa.


" Siomay, batagor, cilok, cilor, milor. masing-masing lima ribu. lebih dari itu batal."


" HORREEEE..." meski recehan suaranya senang. mereka berlari saling menyusul ke kantin siapa tidak kehabisan apa yang disebutkan wali kelasnya itu.


" Pak, teteh baik-baik saja kan?" Aditya masih berdiri di belakang Bhumi.


Bhumi menoleh," Baik, sekarang lagi di kampus. kamu ambil Motor teteh kamu di rumah bapak ya, ni kuncinya." Bhumi menyerahkan kunci motor Shavara pada Aditya.


pukul 14.45. Bhumi keluar dari ruang rapat bersama Guntur dan guru lainnya di pertengahan jalan pandangannya bertemu dengan mata Shavara yang berjalan bersama dengan Mira hendak menuju ruang interview.


meski pandangan Bhumi ke depan, lalu menunduk singkat saat berpapasan namun bibirnya mengulum senyum kala melihat Shavara yang mengenakan kaos turtleneck berwarna hitam dibalik kemeja putihnya.


Sesaat Shavara tertegun saat jari kelingkingnya digapai seraya elusan dari jari panjang ayang dia tahu siapa pemiliknya.


Shavara menoleh ke belakang," Kenapa Lo, Var?" tanya Mira bingung.


" Eh..enggak..ayok." Shavara menarik siku Mira sedikit buru-buru.


Tring...


[ Aku masih ada yang harus dilakukan, kalau selesai duluan tunggu aku di cafe d'roma dekat sekolah. love you ❤️]


Shavara berdecak, namun tersipu-sipu membaca pesan dari Bhumi.


Saat hendak memasukkan ponsel ke sakit, ada lagi pesan masuk.


[ Satu lagi kelupaan, semangat!! relax aja ok!! Sayang & cinta dari aku❤️]


" Astaga, apa harus sealay gini." gerutu Shavara menggeleng kepala, ia menyimpan ponselnya ke dalam Tote bag ya.


" Halo cantik." Shavara terjengkit kaget ada bisikan disertai kecupan ringan di pelipisnya dari Bhumi yang tersenyum saat mengambil duduk di samping.


" Ngagetin aja." Shavara menggeplak paha Bhumi.


" Maaf, tapi niatnya supaya romantis gitu."


" Romantis gagal, serangan jantung iya."


" Jangan dong, belum nikah kita."


" Kamu udah makan?" tanya Shavara.


" Belum, mau nunggu aku mantan dulu gak? aku laper banget."


Shavara mengangguk," Kalau gitu aku mau pesan dulu. di sini aku udah langganan jadi biasanya langsung mesan ke kasir siapa cepat. ada yang mau kamu pesan lagi?"


" Kentang goreng."


" Oke, cantik." Bhumi mengupas kepala Shavara sambil beranjak ke kasir.


Gerakan refleks Bhumi membuat beberapa pengunjung wanita baper.


Ini lirikan sinis yang kesekian selam lima menit dari amat Shavara yang melihat Bhumi mengobrol santai dengan penjaga kasir sambil menunggu pesanan.


" Taraaaa..." Bhumi menaruh nampan berisi pesanan mereka.


" Katanya bentaran, itu lama. modus banget pengen pdkt sama penjaga kasirnya." sewot Shavara.


Bhumi terkekeh, nyata sekali kekasihnya ini cemburu, kalau dibilangin cemburu pasti ngebantah. dasar perempuan, makhluk paling gengsi sejagat raya.


" Ketawa lagi, iya sih, si yang paling sedang bahagia karena dia crush-nya. cepetan makan, ditunggu paling lama tiga menit, lebih , aku tinggal." makin menjadilah sewotnya.


" Selesai." Bhumi mengelap sudut bibirnya dengan tissue.


"Hah? bentaran amat." Shavara ternganga tidak percaya.


" flash, daripada calon ibu anak-anak aku merah karena cemburu mending kilat makannya."


"Siapa yang cembuuuruuu..." elak Shavara, tapi wajahnya bersemu merah.


" Aku, aku yang cemburu sama hp kamu yang betah banget tamu lihatnya."


" Shavara terkikik, ia malu sendiri dari tadi mencueki Bhumi yang bertanya padanya karena panas hati.


" Dari sini aku langsung pulang atau ke mana dulu?"


" Pulang aja, papa pengen denger langsung dari aku soal Aryo kemarin."


" Oke..."


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Mbak, tolonglah anak saya, saya tahu aryo sudah sangat menyakiti nak Vira, tapi untuk kali ini saja minta Vira buat bantu Aryo." mohon Wita.


Wita dan Aryo saat ini tengah berada di depan rumah Nasution untuk membujuk Shavara membantunya membuat dokumen-dokumen pendirian dan operasional badan hukum perusahaan.


Anggara, dan Wisnu berdiri di belakang Fena yang menggebu-gebu melawan mereka.


" Dih, males banget. eh itu perusahaan anak Lo, ya kali yang punya perusahaan gak bisa bikin surat pendirian perusahaan. ngapain aja kamu selama ini?"


" Tan, ini juga salah anak yang abkar dokumen saya, kalau saya gak mandang masa lalu kami sudah saya laporin ke polisi."


" Eh, Dugong. kemarin saya nantangin kamu buat lapor, mana? pengecut kayak kamu cuma pinter gertak doang. ingat, saya udah gak sabar nuntut kamu atas dasar pelecehan seksual, penipuan, perbuatan tidak menyenangkan, dan lainnya." ancam Fena.


" Mbak, tolong bolehin kami bertemu dengan Vara-nya. kalau Vara tidak mau membantu, saya tidak akan memaksa lagi."


" Dia tidak ada di sini."


" Tante, jangan bohong. Jam segini Bara pasti sudah pulang."


" Dih, sotoy. kamu pikir setelah putus dari kamu anak saya kerjaannya ngegalau-in kamu aja gitu, amit-amit."


Dari kejauhan terdengar deru motor yang semakin mendekat, mereka melihat siap yang datang, ternyata Shavara dan Bhumi.


Melihat mantan tunangannya dibonceng


lelaki, tak ayal emosi Aryo pun menarik tajam.


" Well, well,...well...ini yang anaknya Anka perempuan baik-baik, jam setengah enam baru pulang,. setelah putus dari aku, kamu jadi wanita nakal ya? udah berapa lelaki yang sudah memakai kamu? jalank!"


PLAK...


Semuanya terkejut, " Dasar b3debah...." ucap suara berat yang menyimpan amarah...

__ADS_1


Part ini dipost dari kemarin ya...tgl 11,April.


__ADS_2