
Shavara berdecak melihat Bhumi bertelanjang dada," kita harus bicara." Shavara mencoba fokus akan niatnya, menghalau godaan membe'lai tubuh kencang itu.
Bhumi memeluk pinggang Shavara, tersenyum mendengar decakan kekasihnya." soal kamu yang sedih karena Aryo? apa dia menyakitimu?"
Shavara menggeleng." bukan soal itu, aku gak apa-apa. tapi soal kita, kita terlalu jauh, kita gak bisa begini, akan merugikan aku."
Bhumi mere'mas pinggang Shavara." Kamu bikin aku marah, kamu menyamai aku sama ba-jingan itu." ucap Bhumi tidak suka.
Shavara memba'sahi bibirnya karena gugup, dia menolak diintimidasi tatapan Bhumi yang menatapnya tajam.
" Tapi kamu mengkhianati perkataanmu."
" Yang mana?" tanya Bhumi serius ngikuti Shavara.
" Kamu bilang mencintaiku, tergila-gila padaku, tapi disaat aku ingin kamu bersamaku, kamu tidak bisa. itu bukan cinta, itu gombalan tipu daya." ada pancaran kemarahan bercampur kekecewaan dalam sorot mata Shavara.
" Kalau begitu, beritahu aku cinta itu seperti apa?"
" Kamu bersamaku setiap aku menginginkannya. seharusnya aku menjadi prioritas mu...."
" Meskipun itu tengah malam?" potong Bhumi cepat.
" Iya."
" Meskipun kamu sedang sakit?"
"Iya."
" Meskipun kamu lelah?"
" Tidak ada lelah kalau kamu mencintaiku." bantah Shavara.
" Itu yang Aryo tuntut dari kamu?"
kepala Shavara mengangguk ragu. ia tidak suka pertanyaan dari Bhumi, kenapa juga dia harus marah, aku yang saat itu pacarnya saja tidak keberatan.
" Apa Aryo selalu ada setiap kamu menginginkannya?" selidik Bhumi.
" Tidak."
" Apa Aryo selalu menginginkan kamu ada setiap hari ia butuh?"
" Iya."
" Apa dia melakukan hal yang sama dengan yang kamu lakukan?" ulang Bhumi bertanya.
" Tidak selalu." cicit Shavara ragu, kenyataannya Aryo tidak pernah peduli apa kebutuhan dia.
" Dia selalu ada disaat kamu ingin?"
" Tidak."
" Dia memprioritaskan kamu di atas segalanya?"
" TIDAK." pekik Shavara.
Shavara melepas pelukan Bhumi, menjauh darinya, dia bingung, dia ingin mengelak namun tidak bisa.
"Tidak, kenapa kamu mengulang-ulang pertanyaan mu. dia tidak melakukannya, puas kamu."
" Berarti dia tidak mencintai mu."
Shavara terhenyak, hatinya sakit mendengar itu." Hanya kamu yang mencintainya namun tidak dengannya." Bhumi seperti menjatuhkan bom pada gadisnya.
" Berhenti! dia mencintaiku. kami bertunangan, tahu apa kamu soal kami." teriak Shavara menolak perkataan Bhumi.
" Yang akhirnya putus." jawab Bhumi terkesan santai, namun raut wajahnya menyiratkan peringatan.
" Tapi tetap kami bertunangan, itu lebih serius dari pacaran."
" Apa dia menikahi mu? empat tahun pacaran, dua tahun tunangan, nyatanya dia tidak menikahi mu, sayang." cecar Bhumi.
Shavara bungkam seribu bahasa, ucapan Bhumi mengena telak ke egonya.
Bhumi mendekati Shavara yang menatapnya nanar, membawanya ke dalam dekapannya yang mendapat penolakan kecil tidak berarti dari gadisnya karena Bhumi yang kukuh memeluknya, menepuk-nepuk punggungnya menenangkan.
" Aku salah tidak menjawab panggilan mu, tetapi aku yang ada bersamamu di sini. jika situasi ini adalah di masa lalu mu, apa dia akan ada di sini dan membujuk kamu yang merajuk padanya?"
Shavara bergeming, dia ingin menjawab, tapi dia tidak yakin. Aryo tidak akan membuang waktu membujuknya, dia akan mendiaminya lalu menelponnya berbicara yang berakhir dialah yang bersalah.
" Tidak, orang arogan sepertinya tidak akan mau direpotkan bertengkar, saling memahami, mencari solusi. dia hanya ingin didengar, tidak mau mendengarkan. itu BUKAN cinta, Shava. bukan seperti itu cara mencintai, Shava."
Bhumi menyelipkan sejumput rambut ke celah telinga Shavara, membe-lai, memainkan daun telinganya lembut. Shavara menjauhkan kepalanya dan tubuhnya dari Bhumi.
" Jangan menyentuhku. si paling mengerti mencintai padahal belum pernah pacaran." sindir Shavara, dia sangat tersinggung.
Bhumi melepasnya, di bawah tatapannya ia memperhatikan Shavara yang kebingungan, dan sakit dalam waktu bersamaan.
" Kamu marah, begitupun dengan ku, jangan pernah membandingkan aku dengannya yang membuat kita berakhir di sini."
" Kau ingin menyentuhku sepuas mu, itulah mengapa kita di sini." elak Shavara sinis.
Mata Bhumi menghunus Shavara, " Kita tidak akan kembali ke titik awal akan tuduhan mu kalau aku hanya bernafsu pada tubuhmu, kan shava. aku menolak itu. aku menawarkan pernikahan yang tidak diberikan Aryo untukmu."
Shavara termenung, ia membalas tatapan Bhumi. ada luka di matanya.
" Aku...bingung. seharusnya bukan begini situasinya."
Bhumi menghampirinya, membawa gadisnya duduk di sofa merangkulnya mengusap lengan Shavara menenangkan.
" Aku di sini, kita akan saling mengkhawatirkan, bertengkar, merajuk, berbaikan. ku harap effort aku membujuk mu tidak kamu abaikan hanya karena satu kesalahan ku."
Shavara mengurai rangkulan, bergeser menjauh, tapi Bhumi masih menggenggam satu tangannya." maaf, kalau perkataan aku menyakitkan tetapi itu memang bukan cinta, Shava. walau pun ada, itu bukan untuk mu yang sangat berharga, karena itu toxic."
" Tapi selama ini, itu yang aku pahami." cicit Shavara.
" Dia selalu memaksa ku ada untuknya, kalau aku mencintainya, itu kata dia."
" Kenapa kamu tidak meminta yang sama darinya?" Bhumi mengelus punggung tangan Shavara.
" Dia bilang aku tidak pantas meminta itu, karena posisi kami berbeda."
" Maksudnya?" genggamannya tangan Bhumi mengetat, walau tidak menyakiti.
" Dia bilang, dia sedang merintis menciptakan kenyamanan masa depan untukku, dan aku yang akan menikmati masa depan darinya sebaiknya diam jangan menuntut apapun, dan harus membantunya."
Bhumi memejamkan mata kesal, " Ya tuhan...dan kamu menurutinya saja?" Bhumi tidak percaya itu.
" Aku masih muda, selain keluargaku, dia orang yang terdekat dengan ku." elak Shavara membela diri.
Bhumi berjongkok di depan Shavara, memegang ke dua tangannya. menatap lurus manik kecoklatan itu Shavara memutus tatapan itu dengan melihat ke sembarang arah.
" Shava, lihat aku." Shavara mengabaikan permintaan lembut tersebut.
" shava, lihat aku." Bhumi memegang dagu Shavara agar melihat padanya.
" Shava, kedepannya mungkin aku belum bisa selalu memuaskan kamu, karena banyak hal yang harus aku lakukan, bukan berarti kamu bukan perioritas ku, tetapi ada orang- orang yang harus aku nafkahi, keadaan yang menjadikan aku kepala keluarga. makanya aku pasti punya kesibukan lain selain kamu, tapi kamu boleh marah, meminta, menuntut apapun sama aku. ibu, Senja, dan kamu adalah wanita-wanita kecintaan aku, apa kamu keberatan dengan itu?"
__ADS_1
Shavara menggeleng," tentu kamu harus menyayangi mereka, mereka keluarga mu. tapi...bisakah kamu...." omongan Shavara menggantung.
" Kamu akan menjadi bagian keluargaku boleh bermanja padaku, kita berantem, merecoki ku, tapi nanti kita berbaikan. khusus untuk mu kita harus bermesraan, kayak tadi juga boleh banget, kalau mau lebih dari tadi kita harus nikah dulu. aku gak mau digo'rok Wisnu, atau ditempeleng papa kamu, belum lagi si Adit yang sok-sok sangar pas diancem nilai langsung meleyot. lihat, betapa spesialnya kamu, sayang." Bhumi membelai wajah Shavara.
Tatapannya kini meneduh dan menghangat, Shavara salah tingkah ditatap seperti itu, dia belum terbiasa.
" Dih, itu mah maunya kamu." Shavara mencoba menghilangkan salah tingkahnya.
" Aku masih inget Lo des-ahan kamu, nikmatin banget gitu. bikin aku semangat menumpas penjajah di muka bumi ini." seloroh Bhumi.
"Kakak..." rengek Shavara malu.
" Ah..aku suka kalau kamu merengek manja gitu, jadi pengen civm kamu lagi dan berlanjut ke yang lain." tangan Bhumi mengelus lengan Shavara.
" Stop it."
" Aku janji kali ini ku bakal sampe tuntas...hmmph.." Shavara membungkam mulut Bhumi yang semakin kacau.
" Kita sebelum selesai ngobrolnya, jadi jangan singgung yang lain." ucap Shavara di depan wajah Bhumi.
Bhumi mengangguk, Shavara menjauhkan tangannya dari bibir Bhumi. kini keduanya saling menatap, tepatnya bhumi yang memaksa mereka saling menatap.
" Aku ingin kamu menjawab telpon aku." pinta Shavara ragu.
" Sayang, sebenarnya aku bukan termasuk orang yang bawa hp kemana-mana. aku bukan pawang WiFi, tapi, untuk kamu, pasti aku jawab telpon kamu, meski aku lagi diteror tuyul sekalipun, aku gak bakalan mengabaikan telpon masuk lagi, takut diantara mereka ada telpon dari kamu."
" Aku kekanakan ya?" Shavara meringis sendiri.
" Gak tahu musti jawab apa, takut bikin kamu marah. kalau aku gak jawab telpon kamu, itu berarti kau lagi gak megang hp, tapi nanti aku telpon balik kamu. atau kalau kamu butuh aku, datang aja ke rumah."
" Kalau kamunya gak di rumah?"
" Ibu atau Senja akan menghubungiku terus-menerus sampai aku pulang."
" Gak apa-apa aku ngeribetin kamu? kyaaa..." teriak kaget Shavara.
Bhumi menarik pinggul Shavara, dia menempatkan diri diantara kaki Shavara. sontak Shavara menutup bathrobe bagian bawahnya yang terbuka ke atas.
" Kita pacaran, yuk saling ngeribetin. walau aku gak yakin itu suatu keribetan, ngebayangin aku pulang ada kamu di rumah, atau kamu ketiduran di ranjang aku, terus aku bangunin kamu pake civman, ngeraba dikit boleh lah ya...adawww."
Shavara menggeplak kepala Bhumi." sayang..."
" Jadi orang kok otaknya mesum banget, bisa gak, gak mikir menjurus ke sana, heran deh." sungut Shavara greget.
" Sayang ini namanya normal, setiap lelaki pasti mikir ke sana kalau berdekatan dengan perempuan yang dia cintai." Bhumi menge'lus pinggul Shavara intens.
" Tapi gak selalu juga kak, aku kayak..."
" Kita nikah, aku gak suka pikiran negatif kamu tentang kesukaan aku yang satu itu."
" Gak mau."
"Kamu barusan nolak lamaran aku?" Bhumi tercengang.
" Ih, bukan gitu, kamu masih berpotensi selingkuh."
" Dilihat dari mana-nya?"
" Well, ada mantan kamu yang mau deketin kamu lagi, mantan itu kayak setan sering bergentayangan ujung-ujungnya kamu tergoda, terus berpaling dari aku." sengit Shavara.
Bhumi terkekeh," ingat, kita taruhan soal dia. Aku menang, kamu kasih apapun yang aku mau."
" Gak mau, kamu gak jauh-jauh dari mesum pastinya."
Bhumi gimmick terkejut," kok tahu, kamu tahu banget apa kesukaan aku. aaah...jadi terharu."
Pletak...
" Jadi kamu tahu dong kalau sekarang aku pengen banget nyivm kamu." Bhumi berdiri di atas kedua lututnya, menempelkan tubuh mereka menyampirkan rambut Shavara ke belakang, memegang tengkuk mulus itu.
" Kak...hmmmhhh".Bhumi menjatuhkan civman, bergerak memag'ut lembut mengelus tengkuk Shavara, dan dia semakin gencar saat Shavara membalas pagu'tanya.
" Hhmmm...hhmmhh...aaaaa...khh.." desah Shavara saat bibir lelaki itu melepas bibirnya namun langsung menghi'sap turun ke leh*rnya tanpa jeda, berlama-lama di sana.
Bhumi menjauh, tatapannya sayu berga'irah." kita sudah bicaranya kan?" Shavara mengangguk.
" Soal komunikasi, kita sudah saling paham, kan?" lagi, Shavara mengangguk.
" Good, soal Kinan, atau perempuan lain yang membuat mu ragu, waktu yang menunjukan kalau aku setia." Shavara mengangguk.
" Deal, kita lanjutkan ya." tidak tahu apa maksud Bhumi, Shavara yang masih terlena akan civman Bhumi, hanya mengangguk.
Bhumi tersenyum, ia pun mendekatkan wajah, dengan miring, dan langsung melu-mat rakus bibir yang selalu menggodanya itu.
"Hhmmmhhh.." Shavara meremas lalu mengacak-acak rambut Bhumi seiring intensnya civman itu.
Tangan Bhumi turun masuk ke dalam kerah bathrobe, membelai ceruk leher Shavara dan terus bergerilya di sana turun lambat ke bawah.
" Kakh..." tangan Shavara memegang tangan Bhumi agar berhenti.
" Maafhh... aku gak tahan."
Bhumi merebahkan tubuh mereka ke sofa dengan pose menin'dih.
Kembali Mela'hap bi-bir itu, kedua tangannya bergerilya ke mana-mana ke sekujur tubuh berbalut bathrobe itu.
Tangan itu menge'lus atas kaki yang terbuka dengan bibir sibuk di leher Shavara.
Tangan itu merayap naik turun sepanjang p*ha mulus itu.
" Kakh.." panggil Shavara mende'sah menikmati belaian tangan besar itu.
" Hmm." gumam Bhumi tidak jelas.
Kepala Bhumi bergerak turun menge'cupi area ceruk leher dan da-da Shavara, merusak tatanan bathrobe yang terbuka memperlihatkan bagian atas Shavara, ikatannya mengendor.
Hisapan di l*her memabukkan Shavara yang meremas kuat rambut Bhumi, tubuh Bhumi meliuk seirama liukan tubuh Shavara menikmati surga dunia itu.
Tangan Bhumi naik ke atas mer*mas pinggul, merayap ke samping dan bawah antar ************.
Bhumi berhenti namun tangannya tidak berpindah, ia menjauhkan wajah itu, menatap Shavara yang tengah berga'irah seperti dirinya.
Matanya melihat kulit lembut yang tidak sepenuhnya terlihat namun cukup menggoda untuk dilahap.
" Sayang, kamu t*lan'jang."
" Hah..." Shavara belum bisa menebak arah ucapan Bhumi.
" Ini..." Bhumi menghisap sembulan kulit kenyal itu.
" Aakhhh..." desah Shavara.
" Dan ini." ujung jarinya mengelus bagian diantara selangk*ngan itu.
Mata Shavara yang semula tertutup sayu, kini terbuka lebar, dengan bibir membuka kecil menggoda. sungguh pemandangan yang sempurna di mata Bhumi.
Shavara melepas tangan dari rambut dan leher Bhumi, mendorong tubuh Bhumi supaya menjauh darinya, namun Bhumi bergeming di tempat dengan masih menatapnya.
__ADS_1
" Kan ...kamu bilang mau beliin aku dal*man juga, jadi ku pikir sekalian nanti salin saja."
" Jadi beneran yang itu basah? yang ini juga udah basah banget." jari itu kini berani mengusap luar yang ditumbuhi bulu halus pendek.
"Kakh..janganhh..please.."
" Suka ya..." satu jari mencoba merayap masuk ke vital itu.
Shavara memegang tangan Bhumi yang mulai kurang ajar bermain-main dengannya.
Shavara menggeleng," Janganhh..hmm?"
Jari yang tadi menyusup, dikeluarkan namun membelai luar kulit tambun itu.
" Kakh.. aaahhh..." Shavara menji'lati bibirnya saat Bhumi menggerakkan tubuh bagian bawahnya yang menonj0l besar itu langsung mengenai tubuh bawah Shavara karena jubah itu sudah tersingkap lebar.
Bhumi mendekatkan wajah ke telinga Shavara," jangan malu, cinta. bukan cuma kamu yang ter*ng'sang, aku lebih-lebih." bisiknya.
Bhumi menjauhkan tangan dari bawah, kini bertumpu di kedua sisi wajah Shavara, membelai wajah yang merona malu itu." cantik, kamu punya-nya aku. hmm?"
Shavara mengangguk," kamu juga boleh menyentuh ku kayak aku tadi."
"Kakh.." erang Shavara malu.
Bhumi terkekeh, ia bangun duduk menjauh dan sempat melihat pintu surga duniawi indah tersebut sebelum Shavara buru-buru menutupi bathrobe bagian bawah.
" Cantik."
Shavara berangsur duduk," Tahu, kakak sering bilang aku cantik." Shavara merapihkan jubahnya seperti sedia kala.
" Bagian bawah kamu, yang cantik." ucapnya mendayu memerhatikan Shavara yang diam berhenti merapihkan jubahnya.
" KAKAK..." Jerit Shavara tersipu-sipu.
Bhumi terbahak-bahak," mau nyoba megang punya aku, supaya adil aja sih. aku gak mau kamu mikirnya aku memanfaatkan tubuh kamu." Bhumi melirik ke bagian bawah yang menyembul jelas dan besar di balik celana bahannya.
Bhumi tidak malu duduk mengangkang memperlihatkan kebanggannya yang tinggi itu, Shavara meneggak salivanya terkejut dan gugup.
Shavara berdiri, mengambil papperbag." hehehehe,..entaran aja. sekarang mending kita tidur, udah malam banget ini, besok aku ada kuis."
Bhumi melirik jam dinding yang menunjuk pukul sebelas, Bhumi mengangguk." yok, tidur. kamu pake Daleman ya. aku takut khilaf kali gak ada penghalang gitu." Bhumi berdiri, memegang tangan Shavara membawanya ke kamar.
" Maksudnya apa? kita gak tidur seranjang, kan kak.?"
" Seranjang, di sini cuma ada satu kamar." Bhumi duduk di tepi ranjang.
Sedangkan Shavara berdiri gugup memegangi paperbag.
" Eh,..aku tidur di sofa kalau begitu."
" Ck, gak perlu, aku janji gak bertindak jauh asal kamu gak godain aku."
" Mana pernah aku godain kakak."
" Iya..ya..kamu gak pernah godain aku, tapi aku yang selalu tergoda kamu."
" Kak, aku tidur di sofa."
"Gak, ada yang tidur di sofa. kamu pake dal*man aja, aku lupa beli piyama."
Setelah menuruti titah Bhumi, Shavara keluar kamar mandi dengan mengetatkan tali jubahnya, melihat Bhumi duduk santai bersandar di headboard ranjang dengan kaki ditekuk satu dan berselonjor satu dan masih bertel*njang dada dengan rambut acak-acakan akibat jari-jarinya, so hot.
" Bobo sini." Bhumi menepuk-nepuk ruang kosong kasur di sampingnya.
" Kamu kok gak kelihatan kayak guru." kata Shavara duduk di samping Bhumi.
Bhumi mengangkat alis bertanya." kenapa memang?"
" Punya ini." Shavara menusuk-nusuk perut six pack Bhumi.
Bhumi mengambil tangan Shavara meletakkannya di atas perut keras itu, refleks Shavara mengelus perut berkotak namun belum terlalu menonjol itu." efek punya teman Adnan dan Erlangga yang playboy. mereka sering ngajak aku ke gym."
" Buat tebar pesona ke cewek-cewek di sana."
" Kalau mereka iya, kalau aku enggak. lebih ke ngomongin bisnis sama olahraga."
" Bohong."
" Beneran, lain kali kalau aku ke sana, aku ajak kamu. Wisnu juga sering bareng kita."
" Pantes Aa Wisnu juga punya badan bagus."
" Iya dong, kata Adnan ini aset cowok menarik cewek. soal isi dompet urusan sekian. bagusin aja dulu visualnya nanti juga pada kelepekan."
" Udah berapa korban kamu?" Shavara memprovokasi.
" Gak ada, memang banyak yang deketin aku, tapi aku gak mau. sering Adnan sama Erlangga ngatain aku gak normal. padahal aku hanya benci perempuan penggoda, itu saja."
Bhumi memegang tangan Shavara yang mulai mengelus, membuat sekujur tubuhnya meremang." jangan belai aku kayak gitu, aku hor'ny kamu yang capek sendiri." ucap Bhumi serak.
" Siapa juga yang goda, jadi cowok kok gampangan banget. aku cuma penasaran aja kenapa bisa sebagus ini." goda Shavara menaruh tangannya di dada Bhumi dan mengusapnya di sana.
Cup...
Satu kec'upan diselingi sedikit lum'atan di bibirnya menyadarkan Shavara.
" Bersih-bersih, kak." sungut Shavara.
Cup...
Ia kembali mencuri satu kecu-pan saat berpapasan dengan Shavara menuju kamar mandi.
" Ck, gak bisa lihat kesempatan dikit." gerutu Shavara.
Shavara sudah berbaring dibalik selimut saat Bhumi keluar dari kamar mandi dengan yang hanya mengenakan boxer.
" Kak, bisa kurangi tidak malunya dikit aja gak sih." dumel Shavara.
" Enggak bisa, kamu harusnya bersyukur bisa melihat dan merasakan tubuh aku, cewek diluaran sana berebut ingin lihat aku, tapi aku larang." Bhumi masuk ke selimut memeluk Shavara dari belakang.
" Kak, geseran dikit."
" Gak mau. tidur seranjang berdua kamu itu langka, harus aku manfaatin sebaik mungkin."
" Tidur, Shava. jangan berontak mulu." Bhumi mengecup belakang kepala Shavara sebelum menutup mata.
Shavara pasrah, dia pun hanya bisa menikmati dekapan hangat itu....
part ini di posting dari semenjak paginya..kak....tapi banyak penolakan. mog la sekarang udah gak ditolak lagi...😀
like..like....
vote..vote...
favorit... favorit...
komen...komen....
__ADS_1
and
share..share....