
Bian berlari terburu-buru melintasi koridor rumah sakit dengan raut cemas, di depan UGD dia menemukan ibunya yang tengah menghardik Wisnu, Adnan, dan Erlangga yang duduk anteng di bangku tunggu.
" Kalian,...kalian akan saya tuntut karena penganiyaan." Ancam Desty dengan telunjuk menunjuk Wisnu.
Wisnu menaikkan alis dengan mimik heran, sudut matanya menangkap siluet Bian yang diam memperhatikan kelakuan ibunya.
" Tepatnya siapa yang akan dituduh menganiaya suami Tante?" Tanya Adnan menantang.
" Kalian bertiga."
" Ada buktinya?" Erlangga bersuara.
" Kalau kita gak nganterin suami Tante kemari siapa yang sudi memisahkan dia dari amukan anak yang dia buang, mungkin dia sudah meninggal." Sengit Adnan.
" KAMU berani melawan saya?" Desty melotot murka.
Adnan berdiri menghadapi langsung Desty." Yang harus memberi peringatan itu saya, Tante yakin mau bawa ini ke ranah meja hijau? Saya yakin Bhumi dengan senang hati akan menuntut balik suami Tante dengan perbuatan tidak menyenangkan."
" Karena dia suami saya terbaring di UGD."
" wajar sih, siapa coba yang gak marah melihat pria yang meninggalkan anak dan istri demi wanita lain." jawab Adnan to the point.
Desty mengernyit heran, ia menelisik Adnan mencoba mencari tahu siap lelaki ini.
" Itu takdir dari tuhan, jodoh mereka telah selesai."
" gak gitu caranya, memfitnah istri demi mendapatkan suami."
" Tutup mulut kamu."
" Tante yang tutup mulut, 17 tahun Allah say diam ketika Tante menghasut om Edo untuk tidak menafkahi mereka, 17, tahun yang lalu saya diam melihat Tante sering menghina Tante Rianti. kasihan, ternyata dengan merendahkan diri jadi pelakor cuma segini yang Tante punya." Adnan melihat secara terang-terangan Desty dari kepala hingga ujung kaki.
" Btw, taa Tante mereka H, itu palsu. ibu saya punya aslinya dan gak gitu coraknya. dan beliau gak perlu jadi pelakor hanya untuk tas semacam itu." tukas Adnan mempermalukan Desty yang wajahnya sudah memerah.
Wisnu dan Erlangga sengaja menahan tawa namun akhirnya dilepas juga tawa meledak tersebut
" Ma, bagaimana keadaan Papa?" Bian berjalan mendekat.
Desty menatap sinis Bian," untuk apa kamu peduli? Kalau kamu tidak menolak menandatangani surat pelimpahan itu, ini semuanya tidak akan terjadi." sinis Desty.
Bian melirik tidak nyaman ke Wisnu yang sudah sibuk dengan ponselnya.
" Ma, ini bukan saatnya mama membahas itu."
" Justru ini saat yang tepat membahas soal warisan itu, supaya mata kamu terbuka. Apa sulitnya sih tinggal tanda tangan, kalau kamu gak sanggup menangani perusahaan, biar mama yang melakukannya."
" Ma come on, gak etis banget ngomongin harta sementara papa ada di dalam." Tunjuk Bian ke ruang UGD, Bian mulai kesal.
" Itu dosa kamu, bukan mama. kalau kamu gak ngasih syarat konyol itu papa kamu tidak akan mendatangi wanita tua itu, dan anak kurang ajar itu tidak memvkvli ayahmu."
" Gak pantas dia menjadi guru, mama akan bikin dia dipecat." Siena diam mendengarkan, dia belum sadar lelaki yang dibicarakan adalah lelaki incarannya.
" Yang mukvl kak Edo, seorang guru, mbak? Tanya Siena mulai tertarik.
" Iya, guru keponakan gendeng kamu ini."
" Siapa Yan? "
" Tante gak perlu tahu, toh ini gak ada hubungannya dengan Tante." Sinis Bian.
" Bian, gak sopan kamu, dia Tante mu." Desty menghardiknya.
" Cuma numpang doang. ngapain pengen tahu segala, cukup duit papa yang dia nikmati gak perlu memperkeruh."
" Jangan ngegas dong, sans aja. lagian siapa yang peduli sih yang mukvl kak Edo."
" Jangan julid song kalau cuma numpang mampunya, kan cuma uang apa yang Tante pedulikan., saya tahu kok." jawab culas Bian.
" Bian, kasar sekali kamus Ama Tante mu."
" Kasaran aman sama mama yang ngeributin soal warisan sementara papa di UGD.
Bian melengos malas menghadapi amukan ibunya yang kalau diladeni akan semakin menjadi.
Bian memilih menjauh dari dua saudara kacau tersebut," mau kemana kamu, Bian?"
" Kemana aja asal gak lihat kalian yang egois." Bentak Bian.
" Mama sudah panggil pengacara untuk menuntut anak durhak4 itu, dan notaris untuk menyelesaikan apa yang tertunda, kamu hanya harus tanda tangan selebihnya itu urusan mama."
" Ma, serius? Papa lagi terbaring sakit lho." Bian benar-benar tidak percaya ibunya sebegitu tidak punya empatinya.
" Kan sudah ditangani dokter." Jawab santai Desty seakan kesehatan Edo bukan masalahnya.
" Kalau begitu aku pun gak akan pernah menyetujui keinginan mama."
" BIAN, bisa gak kamu nurutin mama kali ini?"
Bian berbalik, berjalan kembali dan berhenti tepat di depan Desty dengan raut kecewa bercampur marah." Nurutin mama? kalau aku nurutin mama untuk hal ini berarti aku sama gilanya dengan kalian, no way." tolak Bian frontal.
" Apa maksud kamu? siapa yang kamu sebut goal, dasar anak durhak4." caci Desty membabita."
Bian mengaku satu jengkal memperpendek jarak." kalau bukan gila apa namanya anak pria lain diakui sebagai anak suami orang."
Gelegar.....
Bisa Desty rasakan petir menyambar dirinya, jantungnya berdetak kencang.
" Ba..ba...kamu bohong..."
" Bukan itu yang ingin kau katakan padaku, tp bagaimana aku tahu itu bukan urusanmu, walau itu adalah kebenarannya. Bayangkan apa yang akan papa lakukan padamu kalau beliau tahu tentang ini, jadi berhenti membujukku bertindak salah."
Ekor mata Desty melirik kepada ke tiga pria yang memperhatikan ibu dan anak tersebut. Desty segera merubah mimiknya"Bian, apa yang kamu bicarakan? Dapat hayalan dari mana gagasan kamu itu." Ucap Desty gugup.
" Terserah bagaimana mama mau mengelak, tapi kalau mama berani mendesakku lagi, ku bongkar semuanya." Bian kembali berjalan menjauhi mereka.
" BIAN..AKU IBU MU SEHARUSNYA KAU MENDENGARKAN KU." teriak Desty kesal yang diabaikan Bian yang terus melangkah.
Di jalan di tengah derai airmata Bian mengebut membelah jalanan, ia menyalip gila kendaraan lain yang memancing protesan, matanya terus menangis seiring hatinya yang merasakan sakit.
Sejak menerima Akbar dari Aditya tentang apa yang terjadi pikirannya bukan tertuju pada ayahnya namun tertuju pada Rianti.
Dia belum siap menerima resiko sekecil apapun dari masa lalu orang tuanya, dia rela menerima pukvlan Bhumi hanya untuk meraih kebahagiaan keluarga.
" Aarggghhh...AAARRGGGHHHH....."
" Kenapa harus anak yang merasakan akibat kebrengsekan orang tua. kenapaaaa.... AARRRGGH...." dibalik fullface helmnya Bian berteriak meluapkan emosi.
Hanya mengikuti naluri, motor sport hitam itu terus melaju, ketika menyadari pemandangan sekitar yang dia hafal,
Ckiiittttt....
Bian mengerem motornya tepat di depan rumah asri yang menjadi favoritnya.
Dia duduk di sana untuk beberapa lama sebelum memberanikan diri mengetuk pintu berwarna coklat tersebut.
__ADS_1
Setelah tiga ketukan dan tidak ada ada jawaban, Bian nekat memasuki rumah saat indera pendengarannya menangkap suara tangis dirinya berhenti terpaku di sana.
" Na, kenapa dia datang disaat diriku sudah berdamai dengan masa laluku." lirih Rianti.
" Melihat dia seperti membual luka ku, aku sangat membenci dia."
" Apa si brengsek itu menghina mu?" tanya Fena, Rianti menggeleng.
" Kali ini aku menjawab segal tuduhan dia. aku menolak dia sebagaiman dia menolak putriku."
" Bagus, tunjukan pad asi brengsek itu kalau dia hanya remahan biskuit lebaran 20 tahun yang lalu." jawab Fena menggebu-gebu. Anggara seperti biasa hanya menggeleng.
Aditya mengelus kepala Senja yang sedari tadi diam menunduk mendengarkan.
Bian merasakan sesak saat suara tangis berisi kepiluan nan frustasi itu memenuhi akal sehat.
" Senja...." Netra Bian menatap Bhumi yang berdiri di bawah anak tangga memanggil adiknya dengan suara lembut.
Senja berlari kedalam dia tangan yang sengaja direntangkan.
Seketika rasa iri menerpanya, hingga jiwa yang kesepian dalam dirinya meronta egois, matanya berubah sayu sendu.
" Abang." Panggilan itu terlanjur terlontar sebelum mampu dia cegah.
Semua pasang mata menoleh padanya, terlebih Aditya yang terbeliak lebar.
" Abang, adik abang bukan cuma satu tapi dua, aku juga mau dipeluk Abang. Ku mohon peluk aku juga." Lirihnya bersuara berat.
" Nak Bian?" Rianti menelisik wajah muram Bian.
" Bhumi, murid kamu sedang kesusahan, bisa kamu juga memeluknya." Pinta Rianti yang tidak tega melihat Bian.
" Abang, kamu juga abangku, bukankah tidak adil kalau kamu hanya memeluk Enja saja. Aku juga ingin disayang." suara Bian sudah memerah dan serak.
" Bian..." Ketegangan dalam suara Bhumi, membuat Rianti mengernyit bingung.
" Ini ada apa?" Apa kalian sedang bermasalah?"
Alih-alih menjawab pertanyaan, Bian malah berjalan dan langsung duduk dalam posisi bersimpuh menunduk dalam di hadapan rianti yang berdiri.
" Bian, kamu kenapa, sayang? Berdirilah."
" Huhuhu...hiks...." Bian menangis keras, bahunya berguncang.
" Bian tidak punya masalah dengan bang Bhumi, ibu, tapi Bian punya salah pada ibu. Maaf..maafkan Bian."
Rianti menatap Bian tidak mengerti." Kamu gak punya salah apapun pada ibu, kamu anak yang baik."
Bian tersenyum miris mendengar pujian itu meski tak diayal dadanya membuncah senang.
" Hanya ibu, dan orang tua sahabat ku yang bilang kalau aku anak baik, bahkan ibu kandungku sendiri selalu menyebutku anak yang tidak berguna."
" Bian, pasti kamu sedang sedih sekali ya."
Bian mengangguk, ia menatap dalam Rianti" Ibu, aku juga anakmu."
" Bian." tegur Bhumi menggelegar.
" Bhumi, kenapa kau sangat marah."
" Ibu, sebaiknya ibu istirahat. Nanti Bhumi panggil saat makan malam."
Rianti heran akan siap bhumi yang terkesan mengalihkan perhatian." Bhumi, apa kau menyembunyikan sesuatu?"
" Ibu..."
" Bhumi, kau menyembunyikan apa dari ibu?"
Bhumi yang tidak bisa berbohong enggan menjawab." Adit, bawa Bian keluar."
" Bhumi, jangan mempermainkan ibu."
" Ibu, Bhumi akan bicara, tapi biarkan Bian keluar dulu. Oke?" Bhumi gusar.
Aditya menarik bian untuk berdiri,
" Well, tapi ibu memutuskan tidak ada yang akan keluar dari sini."
Aditya serba salah, ia melirik ibunya berharap memberi solusi namun yang di dapat hanya kedikan bahu tidak berguna.
" Ibu...." Erang Bhumi.
" Ini ada apa?" Rianti makin penasaran.
" Dia, anak dari lelaki tua itu, tetapi bukan anaknya." Senja bersuara dengan tatapan dingin mencemooh.
" Ja,..."
" Kak Bian ke sini ingin melihat penderitaan kami akibat perbuatan papa yang bukan ayah kamu kan? Kesel karena gagal ternyata kami gak begitu menderita?" Sinis Senja.
Bian menggeleng cepat. " Bukan begitu, Ja."
" Lalu untuk apa?"
" Aku..."
" Senja, masuk kamar." Titah Bhumi tegas.
" Kenapa? Kenapa mas ingin ibu gak tahu."
" Tahu apa?" Tanya Rianti.
" Senja, masuk."
" Gak mau."
" Enja,. Ja, aku yang bicara langsung sama ibu."
" Aku ingin lihat." Tantang Senja meremehkan.
Bian menghela napas gusar." Syaratnya kamu akui aku sebagai kakak kamu."
" Dih, pengen banget banget diakui. Bokap Lo aja gak ngakui gue."
" Karena gue gak sebrengsek dia."
" Ini kalian kenapa sih, kok malah berantem." Fena menengahi.
Vibe Fena yang di sekolah tadi masih melekat dalam hati mereka membuat mulut mereka bungkam.
" Sekarang jangan ada drama, itu lahannya Tante Fena. Katakan dengan jelas apa yang ingin kalian katakan."
" Ibu duduk dulu yuk." Aditya mendudukkan Rianti.
__ADS_1
Ketika situasi sudah dirasa mendukung, sudah menghitung sampai 10 di dalam hati, Bian menatap lurus pada manik Rianti, " aku anak dari Desty, istri dari Edo Mahendra. Mantan suami ibu." Bian memberanikan diri.
Setelah Bian mengakui itu, ruangan sunyi, sunyi, sepi, hening, Bahkan tidak ada pergerakan sama sekali dari siapapun.
Netra Bian dan netra Rianti masih saling beradu, terlihat tidak ada emosi di mata Rianti, Bhumi was-was. Raut itu adalah raut tujuh belas tahun tahun lalu yang tampak di wajah ibunya sebelum kemudian,
PLAK...PLAKKK..PLAK....PLAKKK....
Semuanya terperanjat kaget, Rianti yang selalu tenang dan sabar dengan mudah melayangkan tam-paran bolak-balik yang maha keras, hal ini dapat dilihat dari merahnya pipi bekas tam-paran itu.
" RIANTI..."
" IBU..."
" TANTE...."
" BIAN..."
Semua orang secara bersamaan berteriak, bahkan punggung Aditya sudah menjadi tameng dari telapak tangan Rianti yang secara cepat menyerang Bian yang bergeming di tempat.
" Yan, pergi. gue sakit ini."
" Makanya awas ngapain Lo di situ." Bian menggeser tubuh Aditya, yang langsung disambut jambretan di rambut gondrong Bian.
" Aaadaaawwww....." pekik Bian refleks.
" Ck, sok-soakn gak butuh pertolongan tapi ngejerit juga." Aditya duduk manis di sofa mengusap-usap punggungnya yang nyeri.
" Ya tuhan,... Rin...lepas. anak orang jadi botak ini." Fena menumbuk-numbuk pelan tangan Rianti yang ada di tas kepala Bain yang meringis kesakitan.
" Biar botak, anak pelakor ini." umpat Rianti.
" Bu, lepas. kasihan anak orang." Bhumi mencoba menajuhi tubuh Rianti yang juga mencoba menen-dang-nendang Bian.
" Kenapa kamu bela dia, dia anak ha-ram dari ayah kamu. Karena dia ayah kamu meninggalkan kita." satu tangan lain yang bebas mengambil telinga Bian lalu diputar kemudian ditariknya.
"Kyaaaaa.... AAA.....wsss...Bu, sakit." terik Bian.
" Pa, tolongin dong aku agak bisa nahan Ririn lebih lama lagi." Fena mengomeli suaminya yang malah menikmati kemarahan Rianti.
" Mama rela aku peluk Ririn? mama gak bakal cemburu?" Anggara memperingati.
" Ck, gak bakalan."
" Awas saja kalau di rumah misuh-misuh. dan gak ngasih papa jatah." Anggara melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya.
" Papa, ih lenje banget jadi orang." omel Fena.
" Kyaaa...Bu...maaf, tapi bisa istirahat dulu gak, ini perih banget kepala Bian."
" Enak saja istirahat..ibu kamu juga gak ngasih saya jeda sewaktu memfitnah saya."
Rianti lebih kuat menarik rambut Bian."
" AAAA...DAAAA....WWWWWWS...BU..AMPUN BU..."
Senja dan Shavara meringis ngilu mereka saling berpelukan saling menguatkan." Dek, pasti sakit banget itu." ringis Shavara.
" RIP, rambut iklan shampoo kebanggaanya. kita kudu tahlilan baut kepala pitak kak Bian, kak."
" heh, kamu itu."
Di tengah keributan itu Wisnu dan dua sahabatnya memasuki rumah dengan menatap bingung teriakan dari satu orang, dan mata mereka membola besar melihat nasib Bian yang pahanya diinjak sendal berhak tinggi Rianti.
" Nu, ke sini cepatan tolongin mama, mama udah capek dari tadi nahan."
" Papa jangan coba-coba modus but peluk Ririn." tegur Fena saat Anggara hendak memegangi pinggang rianti yang ternyata punya tenaga yang cukup besar.
" Lha ,tadi mama yang nyuruh."
" Batal, ada Wisnu." Fena mendorong Anggara Ayng langsung terjengkang ke atas sofa.
" Kyaaaa....ibu...geli,..aaawwws..sakit. Bu angkat kakinya paha aku robek ini." mohon Bian.
" Ya tuhan ku..."
PRANG...PRANG..."
Celobong kaca yang di atas meja jatuh dan bocah karena senggolan dari Bain yang terus menerus berontak menurunkan kaki Rianti dari pahanya.
" Kamu mau merusak perabotan saya."
" Maaf, tapi kaki ibu jangan nginjek paha aku, minimal lepas dulu gak nya runcing bange itu, sakit."
" Kok kamu ngatur saya."
" Bukan ngatur,tapi sedikit berprikemanusiaan sedikit dong Bu."
" AAAA...wws....adawww...Bu sakit banget." rengek Bian saat jambretan di kepalnya dipelintir.
" Ibu kamu juga gak berprikewanitaan saat merebut suami saya."
" Bu, sudah. itu bukan salah dia." sebenarnya tenaga Bhumi sudah terkuras ia mulai lelah menahan keduanya agar berjarak aman.
Keadaan semakin kacau, yang satu menjerit meminta ampun yang satu terus membaut tangannya sibuk meni-stakan Bian.
" Tapi karena keberadaan dia papa kamu menceraikan mama, kenapa kamu bela dia?"
" Karena dia bukan anak Papa." Bhumi terpaksa mengungkapkan fakta tersebut.
" APA?" teriakan tersebut mengakhiri penyiksaan Bian.
Bhumi segera mengurai tangan Rianti, Wisnu dibantu Erlangga mengangkat tubuh lemas Bian yang langsung terkapar di lantai begitu dilepaskan.
" Bian, apa yang diucapkan Bhumi itu benar?"
Lama Bian tidak menanggapi, hanya gerakan dad ayang menarik dan mengeluarkan oksigen yang tertampak.
" Bian, jawab."
" Aku gak punya tenaga buat menjawab ibu, aku laper butuh makan dan minum."ucpannya sangau terputus-putus lemah.
Mereka yang hadir meringis miris melihat keadaan Bian.
Tok..tok...
" Maaf saya lancang masuk, tapi pintunya terbuka." Ucap pria paruh baya tampan rupawan.
" mencari siapa om?" tanya Adnan.
" Rianti, apa Rianti masih tinggal di sini?"
Rianti yang mendengar namanya disebut menoleh ke arah pintu, tubuhnya menegang kaku dengan mata melebar.
" Fathan..."...
__ADS_1
Maaf terlambat, anak sakit. jangan lupa hadiah, vote, like, komen, kasih bintang lima dan jadiin ke favorit!!!
.