Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
93.


__ADS_3

" Pa, kamu ngapain sibuk sama hp kami terus, kamu selingkuh? kita lagi bersantai ini?" sungut Fena yang bosan melihat suaminya sedari tadi asik dengan ponselnya.


" Ck, Kamu ini ngomong diluar nalar, ini pak Jagar menghubungi papa. Dia mau kemari."


" Ngapain? Bawa si cabe amatir itu sekalian?"


" Gak tahu, cuma memang papa mau menjalin bisnis sama beliau. Bentar ya Ma, papa ditelpon beliau ini." Anggara menjauh dari keriuhan warung.


Warung makan pinggir tebing menjadi favorit para wisatawan berteduh dari derasnya hujan yang entah kapan redanya, bahkan Aditya cs dan Adnan cs sudah menjadikan warung itu seperti milik mereka yang kini battle nyanyi yang ternyata mendapat bala bantuan dari para pengunjung lain yang turut gabung terbagi dalam dua tim tersebut.


Gelak tawa, dukungan dan cemoohan dari dua tim saling bersahutan. Di tengah hingar bingar koplo dan dangdut Edo tersenyum dan sesekali tertawa kecil, tetapi bukan karena mereka melainkan melihat interaksi Bhumi dengan Shavara lah yang membuat hatinya membuncah bahagia.


Silih berganti mimik geli, jahil, tawa lepas dan beberapa kali merengut Bhumi karena berhasil dikerjai Shavara yang betah untuk direkam dalam memori Edo.


" Kenapa Pa?" tanya Bian dengan napas tersengal seusai nyanyi koplo.


" Abang kamu ternyata tidak sedingin yang papa kira." tunjuk Edo dengan dagunya pada Bhumi.


" Ketimbang dingin bang Dewa itu lebih ke galak sih." Bian melihat Bhumi yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengelabui Shavara yang mencari ponselnya yang Bhumi sembunyikan di dalam kaosnya.


Edo menoleh ke Bian," kalau Abang kamu galak kok kalian bisa dekat."


" Abang galak sebagai guru, kalau di luar sekolah friendly abis malah ke kita. Banyak dari pedagang angkringan yang Abang kelola dipegang para muridnya yang membutuhkan."


" Termasuk kamu?"


 " Hmm, hadiah ulang tahun papa dari aku yang tahun lalu itu hasil dagang angkringan aku."


Edo terdiam dengan seulas senyum hari, pulpen, Bian menghadiahinya pulpen yang sampai sekarang masih dia gunakan.


" Masih ada gak barangnya?"


" Ada, papa pake malah."


Bian terkaget sejenak, " boong." Bian menutupi salah tingkahnya.


" Beneran, kamu telpon aja asisten Papa suruh foto tempat pulpen Papa."


" Ian percaya papa." sejak mereka dekat Bian memanggil dirinya dengan panggilan masa kecilnya.


" Yan, kira-kira suatu hari nanti Abang kamu bisa memaafkan Papa gak ya." Edo mengalihkan pandangan pada Bhumi yang masih betah menggoda istrinya.


" Dengan papa liburan bareng kita membuktikan Abang gak benci papa. Atau memang cara asuh ibu Rianti yang berhasil." ucap Bian sembari merenung.


" Maksud kamu?"


" Awal mula pendekatan aku ditolak habis-habisan sama Abang bahkan sampe dua kali masuk rumah sakit..."


" Apa? Yang benar kamu? Kamu masuk rumah sakit kan cuma karena OD."Edo terkaget, namun memorinya berputar kapan itu terjadi.


Bian tersenyum sendu, netranya memandang Edo lembut." Aku gak bilang orang rumah. penolakan papa akan diriku, kesibukan mama dengan dirinya sendiri mencegahku memberitahu kalian. Hanya bibi dan para sahabat ku yang tahu."


" Yan,..." Edo merasa bersalah.


" Its okay. udah lewat juga. Saat aku bilang aku bukan anak Papa sikap Abang mulai menjinak, tapi esensinya bukan itu. Seharusnya baik aku anak Papa atau bukan disebabkan keberadaan akulah Papa meninggalkan mereka sejatinya Abang tetap membenciku, tapi sikap ibu Rianti saat bertemu dengan ku dan mengetahui aku bukan anak Papa aku sadar itu hasil didikan ibu."


Edo mengangguk-angguk paham, mantan istirnya memang wanita baik, sangat baik bahkan.


Matanya menangkap senja yang tertawa lepas menikmati penampilan Ajis membenarkan semua ucapan Bian. tanpa butuh waktu lama Senja bisa berdamai dengannya meski masih harus bersembunyi-sembunyi dari Bhumi. Ol


" Sudahlah Pa gak usah banyak pikiran, nikmati saja liburan ini, belum tentu papa bisa liburan bareng Abang lagi." Bian menepuk-nepuk bahu Edo.


" Hmm, betul juga kata mu, tapi diabaikan itu ternyata tidak enak ya."


" Papa pernah mengabaikan abang sama ibu sebelum pisah?"


" Gejala awal pria menjadi brengsek adalah mengabaikan keluarga, Yan. menggeser mereka dari posisi prioritas dalam hidup dengan yang lain." monolog Edo penuh penyesalan.


Bian bungkam," Andai aku gugur, kalian pasti tidak akan pisah." ucapnya pahit.


Edo tersentak menatap Bian tidak percaya akan perkatannya," No,...jangan begitu...saat itu Papa benar-benar brengsek, dibutakan cinta pada ibumu, Andia kamu tidak da sekalipun papa yang ibu mu akan mencari cara lain agar Papa menikahinya. Prioritas ibu mu adlah dirinya dan Tante mu, kamu hanya salah satu alatnya."


Bian menunduk menyembunyikan luka hatinya, Edo mendekatkan muridnya pada bangku Bian, menepuk-nepuk punggung putra bungsunya itu.


" Papa sayang kamu, sayang kalian bertiga." dengan mata tidak bosan menatap pura sulungnya itu.


Bhumi menarik Shavara menjauh dari keriuhan restoran duduk memangku Shavara di pojokan warung yang menyuguhkan hamparan ladang teh hijau yang disirami hujan yang cukup lebat.


Memeluk pinggang istrinya sambil sesekali mengecupi pelipis Shavara.


" A, gak kasihan lihat papa Edo?"


Bhumi menatap sinis Shavara," Kamu beneran peduli padanya? Bahkan sebelum semalam kalian tidak dekat."


Shavara membelai menenangkan rahang Bhumi," Dia ayah mertua aku, bagaimana pun hubungan kalian tidak mengubah hal itu."


" Sayang..."


" Aku gak akan maksa kamu, tapi semalam saat kamu pergi, Papa Edo berucap maaf terus menerus padaku. beliau menyalahkan diri sendiri akan sikap kamu padaku."


Bhumi menyusupkan kepalanya ke leher Shavara, menghirup wangi tubuh istrinya yang cukup berhasil menenangkan emosinya.


Shavara membelai rambut Bhumi," Aku memikirkan kita ke depan saat kita punya anak kelak."


Bhumi mengangkat kepalanya menelisik wajah Shavara mencoba membaca pikiran istrinya itu.


Shavara membelai wajah Bhumi, ia membalas tatapan suaminya.


" Saat kita punya anak ada kemungkinan kita berbuat salah, atau berkonflik dengan anak kita...pasti menyakitkan namun sebagai orang tua masih kita tidak mungkin pudar meski anak kita astaghfirullah akan tabiatnya."


" Sayang, aku gak mau penerus kita melihat ketidak aliran kamu dengan Papa Edo. dan aku melihat penyesalan di mata beliau."


" Sayang, Soal ini sangat menyakitkan, sayang."


" Pasti..itu pasti sangat menyakitkan, tapi kita tidak bisa menutup kesempatan orang untuk merubah diri. papa tidak lagi muda, sayang. Aku gak mau kamu menyesal dikemudian."


Tubuh Bhumi menegang, membayangkan Papa-nya pergi selamanya sangat mengganggunya. Dia tidak ingin itu terjadi, ternyata dirinya belum siap."


Shavara tersenyum teduh, ia memberi kecupan hangat di bibir Bhumi." Papa menyayangi kamu, sikap dinginnya pada Bian menggambarkan penyesalannya sama kamu."


Bhumi tahu itu. Bian sering bercerita perihal itu. Dia senang ayahnya tidak bahagia setelah meninggalkan dirinya dan ibu.


" Beri aku civman yang panjang m, akan ku pertimbangkan saran kamu."


Refleks Shavara menggeplak lengan Bhumi," modus setiap saat ya, pak."


Bhumi menyeringai, menarik Shavara mempererat pelukannya." terlalu sayang untuk diabaikan, Bu."


" Mending kita foto-foto."


Bhumi menggeleng," Civm dulu."


"Aaaa..."

__ADS_1


" Kiss, beb."


" Nanti kalau kita berdua saja.


" Now."


" Gak mau, malu..aku mau ambil foto." Shavara meraba-raba kantong celananya yang kosong, wajahnya menengok kanan-kiri mencari ponselnya.


" A, hp aku mana?"


" Man ku tahu."


Mata Shavara memicing curiga dengan sikap innocent Bhumi yang dipaksakan.


" Aa, ih hp aku siniin." rengek Maja Shavara terdengar menggemaskan di pendengaran Bhumi.


" Buat apa sih, toh enggak ada sinyal."


" Aa sendiri ngapain sembunyiin hp aku." ucap Shavara galak.


" Cemburu sama hp yang dilihatin terus."


Mata Shavara berputar jemu," buat selfie."


" Pake hp aku saja." Bhumi mengambil ponsel dari saku celana jeannya yang kemudian diberikan pada istrinya.


" Bilang aja pengen photo aku." cibir Shavara.


" Yaaa...ketebak. Sadar gak kita belum pernah foto berdua." melasnya sambil mengeratkan pelukannya lalu mengecup bahu Shavara.


" Benarkah?"


" Hmmm." Shavara mengatur timer, ia letakkan ponsel tersebut ke tiang balkon.


" Cepetan siap-siap, aku udah ngatur waktunya."


Bhumi bergegas berpose dengan berbagai cara, suasana hangat itu yang hanya dinikmati mereka berdua sekaan mereka berada di dunianya sendiri.


Cekrek..


Cup....


bertepatan dengan Bhumi memegang pipi Shavara agar menghadapnya lalu mencium bibirnya dengan sedikit melum'at.


" AAA....." kaget Shavara.


" Hmmm?" balasnya Santai.


" Malu sama tetangga."


" Gak yang peduli, give me one more kiss, please."


Mau tidak mau, toh dirinya mau, Shavara mengalungkan kedua tangannya ke leher Bhumi.


" cinta Aa ke aku kelihatan banget, ih. penasaran dibucinin guru."


" Lihat aja sekarang." tangan Bhumi nakal merayap masuk ke dalam sweater.


Di dalam tangan itu begitu aktif membelai perut yang terus naik ke atas pas di menyentuh area dada tangan Shavara menangkupnya mencegah hal yang lebih gila.


" Stop ini di wilayah umum." bisik Shavara.


" Kita ke mobil?"


" Tapi aku mau bem saran sama kamu." Bhumi mengecup pinggir bibir Shavara.


Shavara mulai merasa tidak nyaman, ia lantas berdiri setelah merapihkan pakaiannya ia berdiri memunggunginya suaminya agak menjauh darinya yang seperti tidak pernah puas.


Bhumi menyusul berdiri di belakang Shavara, memenjarakan dengan tubuh besarnya. Hujan sudah reda. Banyak pengunjung memilih kembali melanjutkan perjalanannya.


Lama mereka terdiam hanya menikmati keindahan panorama pegunungan dengan udara yang segar.


" Maaf kalau sikap aku membuat gak nyaman, tapi aku gak bisa mengendalikannya, sayang." Bhumi mengecup kepala Shavara.


Shavara sedikit menoleh lalu menggeleng," Gak apa-apa. Aku hanya sedikit bingung."


" Perihal?"


Shavara berbalik badan menghadap Bhumi, tangannya memainkan kancing jaket Bhumi.


" Kamu begitu membenci Leta, tapi detik berikutnya kamu bisa bersikap lembut dan penyayang padaku."


Bhumi mengusap-usap lengan Shavara," Gak perlu heran, memang begitu perasaan ku, aku benar-benar tidak bisa berpura-pura menjadi sikap padanya. Soal dia sudah berlangsung lama, dan memasuki fase sangat memuakkan bagiku."


Bhumi memegang dagu Shavara agar menatapnya, ia memiringkan wajah saat mengikis jarak diantara mereka.


Bibirnya mencium rakus bibir Shavara yang sudah turut tenggelam dalam gair4h suaminya.


Bhumi merapatkan tubuh mereka, menutupi Shavara dari lirikan pengunjung lain, bibirnya sangat kelaparan akan manisnya bibir ranum tersebut.


Ia hisap bibir pink itu sambil memagut silih berganti bibir bawah dan atas, kala Shavara membuka bibir langsung ia lesakkan lidahnya menguasai rongga mulut Shavara.


" Hmmmhmmm..."


" Sshh...mmhmmm..."


Prang...


Wajah mereka menjauh manakala mendengar jatuhnya benda beling yang ternyata dari mangkuk berisi bubur kacang hijau yang pecah jatuh di depan kaki Arleta.


Yang lain pun mendekat ingin mencari tahu apa yang terjadi.


Shavara terkejut, Bhumi hanya sejenak kaget namun tidak menyesali perbuatannya. Di depan mereka Arleta melihat aksi panas mereka, bukit bening turun lancar dari matanya.


" Leta, kamu apa-apaan, hati-hati dong." omel Deby sebelum menyadari keberadaan suami istri tersebut.


" Let.. Leta..." panggil Deby yang kemudian mengikuti Arya pandang putrinya, dan ia menghela napas kasar.


" Bisakah kalian menjaga perasaannya?" sindir Deby ketus.


" Kami tidak kalian kemari? Dan anda tidak bisa mengatur diri kami." balas Bhumi tidak kalah sinis.


Ia bahkan melabuhkan sebuah kecupan kecil di bibir Shavara sebelum berlalu dari ruang pojok itu.


" Kami diundang ayah mertuamu, alias pap dari istrimu itu." perkataan itu menghentikan langkah mereka.


" Ralat saya yang mengudang diri kemari dengan niat Arleta meminta maaf pada akaliand na berjanji untuk tidak mengganggu kalian lagi." sanggah Jagar.


" Pa... Kita sudah membicarakan ini di mobil. Leta tidak bisa mundur, setidaknya tidak sekarang." mohon Arleta mengharapkan pengertian Papa-nya.


Fena menggeram, ia mengepal tangan menahan emosi ingin mencakar wajah yang terlihat menderita itu.


" Terserah. Saya hanya ingin mengatakan untuk kedepannya apapun perbuatan Arleta saya tidak bertanggungjawab atas dirinya." seru Jagar.

__ADS_1


" PAPA..." Deby keberatan dengan pemberitahuan tersebut.


Arleta memandang jahat penuh luka, ia merasa ada Asatu tempat dalam hatinya yang pecah remuk akan sikap terang-terangan tidak peduli Papa-nya atas dirinya.


Dia mulai mempertanyakan segala perbuatannya dirinya yang membuat Papa-nya menyerah akan dirinya.


'kenapa? Kenapa tidak ada yang mengerti akan perasaan tulusnya pada Dewa?" terus dia isi kepalanya berputar soal Dewa yang sang empunya saja jelas-jelas membencinya.


" Saya mengerti, tuan. Ke depannya saya pun akan lebih tidak menahan diri untuk membalas setiap perbuatan yang tidak senonoh darinya pada saya." ucap Bhumi tegas.


" Pak...please...mengerti saya." netra Arleta beralih pada Shavara yang berdiri dalam rangkulan nyam suaminya.


" Mbak, kita sesama perempuan seharusnya mbak mengerti akan sakit hatinya saya saat mbak merebut pak Dewa dari saya. please...kalau mbak tidak bisa memberikan pak Dewa pada saya, kita bisa berbagi."


Tidaka hanya Shavara yang kaget akan keberanian Arleta bersikap lancang, tetapi semuanya. pun termasuk Deby.


" Deb, gue tahu yang namanya jiwa pelakor itu gak tahu diri, tapi anak Lo yang berani secara gamblang meminta suami anak gue kayaknya Lo wajib bawa dia ke psikiater, deh." seru Fena bersedekap dada.


Arleta menggeleng cepat, ia emmabwa kakinya mendekati ke arah Shavara yang membuat Bhumi refleks mengamankan Shavara ke balik punggungnya.


Sementara Aditya menghalangi langkah Arleta," Dit, minggir. gue gak akan mencelakai Kakak Lo, gue cuma pengen bernegosiasi dengannya."


" Gila, Lo benar-benar gila." sembur Aditya.


" Gue gak gila, gua cuma mau pak Dewa, gue cuma butuh dia dalam hidup gue." putus asa Arleta.


" Stop Leta, Papa bawa kamu kemari untuk menyesali perbuatan kamu bukan untuk menonton pertunjukan kamu." ucap Jagar. menarik tangan Arleta meninggalkan warung.


" Pa,..please...izinkan let's bicara dengan istri pak Dewa, pa." teriak Arleta yang tidak dihiraukan Jagar.


Jagar mendorong paksa Arleta memasuki mobil diikuti Deby. Merek hanya memandangi mobil hingga menghilang.


" Papa, apa-apaan sih bawa mereka ke sini." omel Fena.


" Ma, Papa izinkan dia kemari supaya kita tahu sikap yang kita ambil kalau dia berulah lagi, memusuhi musuh dalam bertempur itu kurang tepat, ma. Kita dekati musuh agar bisa mengawasi lawan." terang Anggara.


" Kamu baik-baik saja, dek?" tanya Wisnu.


Shavara mengangguk, " Ma, pa. Vara minta izin pulang duluan sama Aa Bhumi."


Anggara mengangguk," Pergi sana. Kalian nikmati waktu kebersamaan kalian."


Did lam.monil tangan Shavara tidak melepas genggamannya, Bhumi sesekali melirik Shavara yang diam sepanjang jalan.


" Sayang, Kenapa?" tanya Bhumi hati-hati.


" Aku menyesal pernah merasa kasihan sama murid mu. Dia benar-benar tidak punya sopan santun." geram Shavara.


" Berbagi, cih. Loncer sekali lidahnya ngomong begitu." decih Shavara.


Bhumi tersenyum geli," Kamu cemburu? Takut aku direbut dia?"


Shavara menoleh pada Bhumi," Kamu bisa berpaling dariku?" ada tantangan dan kesombongan dalam kalimat itu.


Bhumi menggeleng," Enggak. Aku senang kamu percaya diri kalau aku sangat mencintai kamu." Bhumi mengecup punggung tangan Shavara.


" Bocah cilik itu, berani-beraninya nantangin aku, Di sekolah nanti aku bakal bales dia."


" Aahhh...kamu sudah mulai masuk magang ya."


" Hmmm."


" Sudah jangan cemberut. Kamu tidak perlu membalas dia, biar dia capek sendiri."


" Lagian banyak banget sih yang naksir kamu. Sebel."


" Kamu kenapa naksir aku, hmm?"


" Gak amu jawab. Rahasia."


" Pasti karena civman aku yang memabukkan itu ya."


" Dih kepedean. ingat, kita sama-sama first kiss."


Bhumi mengangguk, " tapi aku lebih pro ketimbang kamu kayaknya."


"Kamu akan otaknya mesum, senang banget ***** aku."


bhumi tergelak tidak mengelak." siapa suruh bikin aku jatuh cinta mati."


" Huekkss..boong. Aku pernah dengar ya lelaki bisa tuh ngelakuin mesum sama perempuan tanpa punya rasa." cibir Shavara.


" Itu lelaki macam Adnan telah enggak dengan aku. Aku lelaki limited edition."


" Dih, ngejelekin temannya sendiri."


" Enggak ngejelekin, itu kenyataannya." Bhumi mematikan mesin, mereka telah sampai di villa.


" Sini dulu." cegah Bhumi saat Shavara hendak membuka pintu.


" Apa?"


" Kiss."


" Ya tuhan..ya Rabb. Itu mulu yang dipengenin." Shavara gregetan sendiri.


" Ada kok yang lain."


" Apa? Yang lain ajalah."


Mata Bhumi berbinar seketika, " benar ya."


" Kok aku feeling aku gak enak ya."


" Enak kok, kamu bakal terengah-engah mendesah." ucapnya sebelum keluar dari mobil.


" Kan..kan... Aa mereka sebentar lagi pulang lho."


" Makanya kita jangan buang-buang waktu." ujar Bhumi memegang pintu penumpang yang sudah dibuka.


" Isshh...gak capek apa?" Shavara menerima uluran tangan Bhumi.


" Gak.. nikmatnya nyandu banget sayang. Gak nyesel aku buka segel sama kamu." bisik Bhumi sedikit menjilat cuping Shavara.


Tangannya meremas kecil pinggang Shavara, begitu sampai di dalam rumah Bhumi langsung menyerang Shavara dengan melahap bibirnya.


" Hmmmmmh..."


" Euuuhhh..shhhh..ahhh...." erang Shavara dimana Bhumi mencumbu pernah dengan tangan bergerilya lancar tanpa hambatan di sepanjang tubuhnya.


" Aaaa...no...aahhhh..." Shavara meremat rambut Bhumi saat bibir sexy itu menghisap lehernya.


" kita ke kamar, sayang..." seru Bhumi dengan suara serak sexinya.....

__ADS_1


__ADS_2