
Tubuh Shavara menggigil kuat saat dibaringkan di kamarnya," heran kenapa bisa menggigil, kan mereka mandi air hangat." ucap Fena menyelimuti Shavara hingga dagu.
" Dua jam, Ma, mereka di bak meski air hangat kalau selam itu dingin juga mana tengah malam." sahut Aditya menyerahkan baskom berisi air hangat.
" Kita bawa ke rumah sakit aja yuk." tawar Wisnu.
" Gak perlu, Papa udah panggil dokter Doni." Anggara datang bersama seseorang yang dipanggil dokter Doni.
" Don, kalau bisa sebelum jam enam subuh panasnya harus sudah turun ya, kan mau dirias. hari ini hari pernikahannya." pinta Fena.
Doni terkekeh, " Aku usahakan ya, Fen. kalau gak berhasil jangan ngajak gelut." seloroh Doni yang paham betapa bersumbu pendeknya teman SMA-nya tersebut.
❤️❤️❤️❤️
Bhumi ditidurkan di atas kasurnya pukul tiga dinihari, tubuhnya lemah bagai tak bertulang setelah hampir semalaman menahan gairah dan pusing yang sangat menguras energinya.
Beruntung dia tidak sampai merusak kesucian Shavara yang mereka jaga salama ini.
Bian, dan Adnan memandangi Bhumi dengan raut prihatin.
" Masih Lo ngeyel mau ngadain acara kayak gini lagi, bang,?" sarkas Bian.
" Kalau lakinya bang'sat kayak gue kenapa enggak. gue nyesel banget, Yan."
" Lo mau di sini atau di rumah bang Wisnu?"
" Sini, dia mah banyak keluarganya. Bonyok juga pagi nanti bakal datang. gue nginep di kamar Lo ya." Adnan berjalan ke arah pintu.
" Hmm, gue tidur di sini. ngawasin bang Bhumi." Bian duduk di sofa panjang.
" Bang, kira-kira apa yang terjadi sama Aryo? kalian gak bakalan lepasin dia kan!" pertanyaan Bian menghentikan upaya Adnan membuka pintu.
" Dia gampang di TKO. sekarang aja perusahaannya sudah hampir gulung tikar. memang sedari dulu Wisnu pengen ngambil alih, tapi segan karena saat itu dia masih tunangan Shavara. paling Wisnu cari waktu buat hajar dia."
" Lo mau turut bantu?"
" Tentu, biar bagaimana pun ini kesalahan gue. Lo sayang sama dia kerena dia abang Lo, sedangkan bagi gue dia udah gue anggap adik."
" Lo lebih tua dari bang Bhumi?"
Adnan mengangguk," Beda sebulan kita."
" Anjir, cuma sebulan, kayak beda berabad-abad kesannya." cibir Bian.
" Bisa Lo ngomong begitu sekarang, tapi waktu bokap Lo berulah Lo bakal tahu berapa lemahnya dia dipaksa dewasa, dipaksa kuat. dulu badan dia kecil, karena sering kerja kasar badan dia jadi gede." imbuh Adnan dengan sorot mata mengenang masa lalu.
Bian tertunduk malu mendengarnya." Dia bertahan demi membalas dendam nyokap dan bokap Lo, dia pengen nunjukin ke mereka khususnya bokap Lo kalau mereka bisa sukses tanpa bantuannya. kita sebagai teman cuma bisa ngasih jalan, selebihnya dia sendiri yang usaha. I proud of him, very much!"
Adnan bersandar di pintu setelah dia menutup pintu di belakangnya. setetes air mata jatuh meresapi penyesalan yang dia terima akibat dari ulahnya.
" Nan," panggil Erlangga dari ujung tangga.
" Gimana Kinan?"tanya Adnan, Erlangga mengedikkan bahu masa bodo.
" Gue tinggal setelah gue yakin dia dicocok tiga orang itu."
" Terus?"
" Lo khawatir soal dia?" sinis Erlangga
" Ck, kagak. gue cuma mastiin dia gak ganggu Bhumi lagi."
" Ragu sih dia masih berani nongol di sini lagi, salah satu dari mereka itu germo. dan dia bilang dia bakal bawa Kinan pergi, lumayan badannya mulus."
" Kita tidur di kamar Bian, dia tidur di kamar Bhumi." ucap Adnan saat Erlangga hendak menuju kamar Bhumi.
" Boleh tidur sekamar sama Senja gak, ya?!! mumpung Bhumi payah." Erlangga menaik-turunkan alisnya.
" Ck, lo bilang gue biang kerok, ternyata Lo gak beda." Adnan melangkah ke kamar Bian.
Sedangkan Erlangga ke kamar senja yang ada di depannya." serius Lo mau tidur di sana?"
" Enggak lah, cuma mau sun malam aja."
" Ini udah pagi, pe'a."
" Ya udah sun fajar."
" Jangan mainin dia, dia masih polos."
" Lihat mata gue, Lo liat sesuatu kan?"
" Cuma kotoran mata doang."
" Ck, masuk Lo sana." Erlangga masuk ke kamar Senja.
Di dalam, Erlangga hanya memandangi gadis favoritnya, tidak lebih. dia tahu perasaannya ini salah, karena dia tahu dia tidak sanggup hanya dengan satu wanita saja.
Benar kata Adnan, mereka pria-pria bang'sat yang cuma ingin menikmati wanita tapi tidak mau berkomitmen. jangan salah kan mereka, wanita yang selama ini ada disekitaran mereka lah penyebab mereka berpikir demikian.
Menghela napas berat Erlangga berbalik keluar kamar," Udah?"
__ADS_1
Erlangga menoleh ke Adnan yang masih berdiri di depan kamar Bian.
" Lo beneran nungguin gue?" Adnan mengangguk yang mendapat decak sebal dari Erlangga.
" Yuk tidur. lumayan dua jam-an."
Sedangkan setelah dua jam, Bian masih menatap Bhumi yang tergolek tidak berdaya, tidak lama dia melenguh bangun.
Bian segera menghampirinya," bang?"
Bhumi berhati-hati merubah posisi setengah duduk, ia memijit keningnya yang pusing," apa yang terjadi?, kenapa sakit sekali Kapala saya?"
" Abang agak inget soal Kinan?" Bian membantu bhumi untuk duduk.
Kilasan kejadian semalam sepotong demi sepotong berkeliaran di ingatannya," sshhh,...terus gimana kelanjutannya?"
" Kalau yang Abang maksud nasib itu cewek, bang Elang yang urus."
" Hmm, mana hape saya, saya mau telpon Shava." ucapnya serak.
❤️❤️❤️❤️
Di lantai bawah sudah ramai hiruk pikuk persiapan akad adiknya namun wisnu masih sibuk bertelponan di balkon kamarnya sambil memperhatikan kesibukan di bawahnya.
" Jadi semuanya sudah beres?"
"......."
" Oke, thank perkara dia biar saya yang urus, itu pun kalau dia masih punya nyali berhadapan dengan saya. terima kasih untuk semuanya."
Tok..tok...
Wisnu menutup telponnya kala Fena memasuki kamarnya.
" A, Vara keukeuh pengen nikah sekarang aja, kamu mau kan gendong dia ke kursi pas akad nanti?"
" Iya, Ma. turuti aja apa maunya Vara, toh gak terlalu lama juga acaranya."
" Kamu sudah telpon Bhumi?"
" Sudah, dia juga gak mau diundur. sudah lah emang keduanya ngebet nikah."
❤️❤️❤️❤️
Aryo menyemprotkan parfum pada tubuhnya setelahnya meneliti lebih seksama penampilannya sambil bersiul riang.
" Mas, kamu mau kemana?" lirih Monika mengapit selimut guna menutupi ketelanjangannya, ia mengernyit menahan sakit di sekujur tubuhnya yang penuh dengan memar.
Setelahnya Aryo melarang Monika untuk keluar dari apartemen sampai waktu yang belum ditentukan, semaunya Aryo saja.
" Pernikahan Vara." Aryo mengenakan jasnya.
" Mas, untuk apa kamu ke sana?"
" Mereka mengundang ku, tentu aku harus memenuhi sekalian memberi kesan pada Vara kalau aku masih peduli padanya."
" Mas, kamu tidak akan kembali padanya kan?"
" Justru seharusnya aku tidak memutuskannya hanya demi kamu."
Monika panik, dia tidak bisa kehilangan Aryo," Kenapa masih mau berhubungan dengannya? kalian sudah lama pisah, mas."
" Ck, berisik. putus dengannya itu penyesalan aku, ternyata pacaran dengan mu tidak membawa keberuntungan untukku. ku kira pacaran dengan mu, kau bisa membantu ku di perusahaan ternyata..zonk. kau hanya bisa bergoyang di atas kasur saja. tidak berguna!"
Monika tertegun, dia tidak menyangka lelaki yang terlihat romantis dan lembut bisa sekejam ini." Mas, dia sudah menikah." Monika menangis karena sakit hati.
" Akan ku rebut kembali, sebelum hubungan ini dirusak oleh mu, dia sangat mencintaiku, jadi aku yakin tidak sulit mengambilnya kembali dari pria miskin itu." Aryo berjalan ke arah pintu.
Aryo keluar dari kamar diikuti Monika yang mengenakan bathrobe. di ruang tamu sudah ada asistennya.
" Bisa kau kosongkan jadwalku sampai siang hari ini?"
Asistennya mengangguk gugup," Jadwal bapak hari ini free."
" Lho, bukannya setelah jam makan siang ada meeting dengan klien?"
" I..itu...mereka membatalkan kesepakatan, dan beberapa kolega juga memutus kerja sama kita."
" KOK BISA?" Aryo terkaget, dia duduk di sofa single.
" Sepertinya tuan muda Nasution memberi pengumuman terkait perusahan anda, bahwa perusahaan anda milik adiknya yang anda tipu.'
" APA?"
" Itu... tidak..."
Drrt ..drrrt...
Aryo menjawab telpon yang masuk dari nomor tidak dikenal." Hallo."
" Ar..Yo..to..long..,"
__ADS_1
" Ini siapa?"
" Kinan, kita gagal..."
" Pantesan mereka jadi menikah hari ini ternyata kau tidak becus. percuma aku memberikan informasi party itu ke kamu, s1al!" hardik Aryo kesal.
" Aryo...tolong aku..." rintih Kinan.
" Kau Kenapa?"
" Me..reka...menahan ku... mereka melec3hkan aku..."
" Di mana kau?"
" Kami di hotel... tidak..jangan ambil hpnya..aku mohon..." terdengar pekikan Kinan dan beberapa suara lelaki.
" Dan kau menelpon ku? bod0h!" Aryo memutus sambungan telponnya.
Ia beranjak berdiri, berjalan mondar-mandir," Ini bagiamana jadi begini? mereka tidak bisa memutus kerja sama semau mereka, mereka harus bayar ganti rugi."
" Mereka bersedia membayar pinalty, daripada meneruskan perjanjian."
Prang.
Monika berjengkit ketakutan melihat kemarahan aryo, ia mundur menghindari pecahan lampu yang di lempar Aryo.
" Tuan Wisnu juga meminta profit yang seharusnya diterima nona Shavara yang selama ini belum pernah diberikan perusahaan."
" Mana bisa begitu, dia..."
Sang asisten menaruh satu bundel kertas di atas meja.," Nona Shavara sudah memberikan kuasa pada tuan Wisnu untuk mengurusi segala hal terkait perusahan. kalau anda tidak bekerjasama, amka anda diwajibkan mengembalikan seluruh modal berserta pembagian hasilnya kepada nona Shavara."
Wajah Aryo memerah, ia menggeleng panik, " Tidak ..ini tidak bisa..."
" Mas..."
" DIAM KAU, PEL4CUR! kesialan ini semua karena kau, Andai aku tidak menggoda ku, andai mulut kotor mu diam, maka ini tidak akan terjadi."
" Mas, stop nyalahin aku, kalau aku bersalah, kamu juga bersalah, hubungan ini tidak kan terjadi kalau Mas..."
Plak...
Aryo menampar Monika hingga terhuyung ke belakang, ia kemudian menjapit dagu Monika agar melihat padanya." kalau aku tidak menyodorkan diri padaku, aku tidak akan mengkhianati tunangan ku itu. itu semua salah mu!"
Prang...
Aryo melempar tubuh Kinan hingga kepalanya membentur lemari pajangan kaca, kepala Kinan mengeluarkan darah.
" Aku harus membalasnya, apa yang akan dia lakukan jika adik perempuan satu-satunya, diperkos4?ucap aryo menyeringai.
Ia berlalu meninggalkan apartemen tanpa mengobati Monika yang masih terkapar pingsan.
❤️❤️❤️❤️
" SAH?"
" SAAAAHHHH...." ucap serempak hadirin yang ada setelah Bhumi melakukan akad nikah pada Anggara.
Bian tersenyum kecut, netranya sejak kedatangan rombongannya tidak lepas keberadaan Edo yang selalu di posisi belakang.
Dia bisa melihat Papa-nya menyeka airmata saat kata sah didengungkan, ingin dia menghampirinya, namun dia tidak mau beresiko kehilangan keluarga baiknya ini.
Bian menengadahkan wajah menahan laju airmatanya yang hendak keluar, ia membenci perasaan sayang yang mulai menyusup di relung hatinya untuk pria yang dia panggil Papa itu.
Bhumi melepas lega luar biasa hatinya bergemuruh hebat, jantungnya berdegup sangat kencang saat untaian kata-kata demi kata sakral diucapkan baik oleh bibirnya maupun Anggara.
Walau kekhawatirannya sejak tadi belum jua reda karena dia belum bisa menghubungi Shavara dan bahkan hingga kini belum jua berhasil menemuinya.
Bhumi celingak-celinguk mencari sosok yang kini berstatus istrinya,Bhumi berdiri kala Shavara digendong Wisnu duduk di sampingnya.
Bhumi memperhatikan secara seksama wanita-nya itu, riasan flawles tidak mampu menutupi seluruh kepucatan wajah cantik itu
" Kenapa?" tanya Bhumi tanpa suara. Shavara menggeleng seraya tersenyum menenangkan .
" Gak apa-apa." jawabnya masih tanpa suara.
" Sakit?" lagi, Shavara menggeleng.
" Ekhem...bisa bisik-bisiknya ditunda dulu, malam pengantinnya masih lama, sabar ya. kalian harus menandatangani akta nikah."
Bhumi mengusap tengkuknya keki karena ditertawakan hadirin, sementara Shavara menunduk malu.
" Sekarang, kita foto."
Setelah semua ramah tamah dilakukan, Bhumi menggendong Shavara ala bridal yang disoraki sepanjang berjalan melintasi ruangan menuju lantai dua.
" Wow..suit..suit...."
" Sabar resepsi dulu sebentar..."
Namun sorakan itu berubah kacau saat Bhumi yang memang sembuh fit jatuh ketimpa tubuh Shavara...
__ADS_1