
Fena yang selalu mengawasi Aryo sejak kedatangannya, berdengkus sinis saat melihat dia menyusul putrinya ke toilet.
Tentu itu tidak bisa dibiarkan, tetapi menjatuhkan mental tetua mereka terlebih dahulu harus menjadi prioritasnya.
" Jeng, mantu mu ini, bukannya guru yg ditaksir muridnya itu ya, yang dulu bikin Anka mu viral." ungkit salah satu temennya.
Fena mengangguk bersemangat dong, melihat umpan itu. Sedangkan Deby dan Wita pucat pisa.
" Kamu benar, anaknya di Deby. Itu naksir mantu saya, tapi ditolak berkali-kali malah, terus dia tetap usaha gitu sampe nelanjangin diri kepergok sama yang lain. Dia gak nerima kalau anaknya memang semurah itu, dan ponakannya emang sebrengsek itu, sumpah ya dikasih makan apa ya mereka sama orang tuanya, menjijikan!!!" ungkap Fena enteng membongkar aib orang.
" Beruntung ya jeng, gak jadi besanan, bayangin kalau jadi, nama Nasution akan jelek, jeng."
" Iya, baru kali ini saya beruntung adanya orang tol0l macam mantan anak saya itu."
Bhumi, orang yang dibicarakan hanya bisa menghela napas panjang.
Kebenciannya pada keluarga mantan calon besannya itu kian besar saat adanya percobaan penjebakan pada Bhumi.
Fena bertekad kuat ingin mengguling mereka sampai mereka tenggelam, mengingat lambannya Wisnu dan suaminya mengurus jera Aryo.
Maka setelah puas mempermalukan Wita dan Deby dirinya pamit ke toilet. Ujung matanya melirik pada Bhumi yang terlihat santai saja tanpa beban.
Fena terkejut kala melihat putrinya tengah berpegangan dengan mantannya. seketika Fena naik pitam, kemarahannya sudah di ubun-ubun.
"Apa yang sedang kalian lakukan, lepaskan tanganmu darinya, Bedeb4h!!"
Pekikan itu mengundang atensi Shavara dan Aryo yang terjengkit kaget namun pegangan tangan itu tidak dilepas serta pengunjung lainnya termasuk Bhumi yang segera ke sana.
" Eeh, Mama..ini..tidak..."
" Gue gak nikah sama bokap Lo, jangan manggil gue Mama, sedang apa kalian berdua?"
Shavara sudah kaku di tempat di wajah ketakutan, pikirannya kosong.
Aryo melirik pada kerumunan orang yang menonton mereka, senyum smirk-nya tercetak tipis saat mendapati ada Bhumi diantara mereka, mengabaikan keberadaan Monika.
" Kami...sedang...membahas janji temu kami yang belum sempat terjadi..."ucap Aryo ragu.
Sontak bhumi menatap Shavara dingin meminta penjelasan.
" Apa? tidak mungkin..."
" Tanyakan saja pada dia, kalau Tante tidak mempercayai ku."
Shavara tergagap, kepanikan menyerangnya," A..aku..me..mang..membuat ..temu..jan..ji...ta..Pi..."
" Huh, kau menyebut ponakan Aya tol0l, dan anak saya murahan, lantas sebutan apa untuk putri mu yang bersuami meminta ketemuan dengan mantannya." ejek Deby sembari menyeringai culas.
Shavara menggeleng cepat," I..ini...tidak...seperti..."
" Pilihan mu lebih buruk dari pada saya, Mas." bisik monika yang berdiri di samping Bhumi.
Bhumi mendelik sinis pada Monika yang sedari tadi ujung jarinya mengusap menggoda di lengannya," Jangan samakan istri saya dengan putri anda yang tidak tahu malu itu, saya yakin dia punya alasan untuk itu mengingat mantannya masih sering mengganggu dia." bela Bhumi yang tidak senang istrinya dihina.
Shavara mengangguk cepat, " lepaskan tanganmu darinya, bajing4an." murka Fena.
Sebelum sempat Aryo melepaskan cekalannya satu tinjuan keras melayang ke wajahnya.
BUGH...
" Kyyaaa...." teriak Shavara kaget bercampur takut.
Tidak hanya Shavara yang berteriak namun juga beberapa penontonnya. Restauran menjadi heboh dan kisruh.
" Aaaarrrrrggghhh..." Aryo memegang hidungnya yang mengeluarkan darah.
Nyeri dan nyut-nyutan amat dia rasakan, dapat dipastikan hidungnya patah.
Bhumi lantas menarik Shavara menjauhi dari sana, ia membawanya ketua dari kehebohan para wanita itu, membawanya ke mobil.
" Kyaaa....Aryo, anakku..bak Fena..." teriak panik Wita.
" Panggilkan Dokter...bawa ambulance ke sini darurat..ada yang kritis.." teriak Deby kalut.
Sementara pelakunya berdiri santai bersedekap perut terlihat puas.
^^^^^
" Benar kamu mengubungi dia?"tanya Bhumi dingin yang tengah dilanda kecemburuan.
Shavara yang sejak mereka masuk ke dalam mobil menunduk karena takut mengangguk.
" Kapan?
" I..itu..."
" Setelah kita menikah?"
Shavara menggeleng," Bu..bukan..."
" Kenapa?"
" I..itu...A... maaf...i..ini..tidak..."
" Jawab, Shavara... Kenapa kamu menghubungi dia? Masih suka kamu sama dia?" bentak Bhumi gregetan dengan sikap Shavara yang bertele-tele.
Shavara terhenyak, ia mengerut ciut. banyak akt ayang ingin ia katakan namun semuanya tertelan karena takut.
Mata Bhumi menatap keluar mobil, melihat Aryo yang dibopong para tenaga medis menggunakan tandu.
" Aku kecewa sama kamu, kalau kamu memang segitu masih ingin bersama dia, bilang. Jangan main belakang. Aku memang memang mencintaimu, tapi aku bukan pemaksa dalam urusan cinta. Aku benci pengkhianatan, dan kini kamu yang melakukannya."
Jatuh sudah air mata Shavara yang tertahan sejak di dalam restauran tadi" Ti..tidak ..aku...tidak..mengkhianatimu...itu..."
" Sudah lah aku tidak peduli, lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Kita harus ke rumah sakit menjenguk mantan tersayang mu."
" Tidak,...kita harus menyelesaikan kesalahpahaman ini,...sumpah demi tuhan..aku tidak..."
" Jangan bawa-bawa tuhan untuk kebohongan mu,Vara. cukup kamu mengkhianatiku, jangan ditambah membohongiku."
" Aku tidak bohong...aku..." Shavara menyugar rambutnya frustasi, ia benci dirinya yang panik saat ketakutan hingga dirinya tidak bisa bicara."
" Ya tuhan..to..tong..aku..." Raung Shavara ditengah tangisnya.
Bhumi merasa sakit melihat Shavara yang tidak berdaya, tapi egonya lebih besar daripada kepeduliannya, maka dia pun hanya membiarkan Shavara menangis tanpa menenangkannya.
¥¥¥¥
Aryo langsung dirawat di UGD, sedangkan yang lain menunggu di depannya.
Deby melirik sengit pada Fena yang terlihat santai tidak merasa bersalah atas tindakannya pada keponakannya.
Dengan entengnya Fena menceritakan apa yang terjadi di restoran pada mereka tanpa dikurangi tetapi didramatisir menurut versinya yang berhasil membuat Deby naik pitam dan marah namun tidak bisa menyangkal.
" Saya akan mengambil jalur meja hijau, Fena."
" Silakan, kalau Lo berani. Awas saja kalau gak jadi nuntut bakal diketawain sih sama sendal jepit gue." balas Fena senga.
" Ma..." tegur Anggara.
Sementara Wisnu menggeleng-geleng kepala. Dia sibuk mengurus cctv restauran untuk berjaga-jaga.
Bersama mereka telah berkumpul keluarga kedua belah pihak. Arleta, tiada henti memandangi Bhumi yang duduk di samping Aditya.
Baru lah sesaat dia bersirobok dengan Aditya matanya dia turunkan dan palingkan darinya.
Sementara Shavara mengawasi Monika yang terus mencuri lihat pada suaminya, terkadang matanya bertemu pandang dengannya
bukannya gentar Monika malah memberi senyum smirk padanya.
Ingin Shavara berteriak, tapi itu tidak mungkin. dirinya masih sakit hati atas tuduhan Bhumi yang entah darimana.
" Saya pulang, buang-buang waktu menunggu di sini."
Deby berdiri sewot" kamu tidak bisa seenak jidat meninggalkan..."
" Duduk," potong Jagar.
" Mas..."
" Duduk. Ini rumah sakit." jahat mulai kesal dengan tindakan istirnya yang belakangan sering mempermalukan dirinya.
Bagi Wisnu urusan Aryo tidak semenarik dengan kejanggalan dari sikap Bhumi dan Shavara yang duduk berjauhan.
Jelas tertampak Shavara yang habis menangis tanpa Bhumi hiraukan. Kelas pengantin baru itu sedang perang dingin.
" Wita, kamu jangan diam saja. anak kamu dianiaya..."
" Tante, diam lah. Mama melakukan ini karena Aryo membuat kesalahan fatal. Dia menjebak suami dari adik saya dengan obat perangsang." sela Wisnu yang mulai kesal dengan keributannya.
Keluarga Aryo terperangah tidak percaya," Jangan fitnah kamu..."
" Saya punya buktinya, kalau soal sepele ini di bawa ke hukum saya pastikan bukan hanya perusahaan Aryo yang hancur tapi dia juga mendekam di penjara."
" Wis.. Tante mohon jangan ganggu perusahaan Aryo." pinta Wita.
" Terlambat, Tan. saya terlanjur menggulung tikar perusahaannya beberapa menit lalu. Sudah saya beri dia beberapa kesempatan untuk memperbaiki diri, tapi tidak dia lakukan dengan baik."
" Wisnu, om mohon..."
__ADS_1
" Sudah lah biarkan saja, mas Jagar akan membantu Aryo, mbak."
" Benarkah?" kini Anggara yang angkat bicara, semua orang terdiam was-was.
" Tidak, saya tidak akan membantu apapun." jawab Jagar pasti.
" Kalau begitu kami permisi, sudah tidak ada lagi yang harus kami bahas." di pimpin Anggara, keluarga Nasution meninggalkan rumah sakit.
" Mas, kamu tega..."
" Diam, Deby.karena ulah Kamu yang tempo hari menyudutkan Aditya di sosmed membuat perusahaan saya turun. Dan saya tidak mau karena ulah sembrono ponakan kamu jerih payah saya hancur."
" Mas ..."
" RaHasiYa memutus kerjasama dengan perusahaan kita, itu hal yang sangat buruk bagi perusahaan. Ketimbang kalian selalu menyalahkan mereka, lebih baik kalian ubah sikap kalian, suka atau tidak! Ini kalau kalian masih ingin makan." Jagar meninggalkan mereka.
" Pa, apa benar perusahaan Aryo telah bangkrut?" Wita sangat cemas, pasalnya dari perusahan Aryo lah nama mereka masih diperhitungkan.
" Papa tidak tahu, tapi lambat laun jika Aryo tidak mengubah sikapnya, pasti bangkrut juga."
" Papa bujuk lah mereka, selama ini mereka masih mendengarkan Papa."
" Sejak hubungan mereka putus, Wisnu sudah beberapa kali hendak menghancurkan perusahaan Aryo, tapi Papa cegah. sekarang Papa sudah tidak punya muka lagi, Ma. perbuatan Aryo sudah tidak bisa ditolerir lagi."
^^^^
" Teh, salah mobil, mobil pak Dewa di sana." Aditya menghalau Shavara yang hendak masuk ke dalam orang tuanya.
" Enggak, teteh pengen ikut kalian daja."
" Kenapa?" tanya Fena yang sudah duduk di kursi depan.
Shavara menggeleng, Fena menghela napas lelah." Masuk lah. Di rumah baru bicara."
" Kalian berantem?" tanya Wisnu pada Bhumi yang berdiri di depan mobilnya, menanti istrinya datang.
Helaan napasnya terdengar gusar, kala ternyata Shavara ikut dalam mobil mertuanya.
" Enggak,.."
" Kalau Lo gak terus terang, gue gak bakal bantu Lo."
" Cuma berselisih dikit."
" Ck,...bego..kita kumpul di WarungKita."
" Hmm, gue anter ibu dulu."
Shavara langsung berlari ke kamarnya begitu mereka sampai di rumah.
" Vara, Var...sini..."
" Sudah lah.tunggu dia tenang dulu." cegah Anggara pada Fena yang sejak dalam mobil menginterogasi putranya tapi tidak mendapat jawaban apapun, Shavara bungkam seribu bahasa.
" Mama juga kenapa jadi gegabah gini?"
" Ini karena kalian yang lelet, masa bikin Aryo satu aja gak bisa."
" Ma, sabar, Wisnu sedang berupaya mengambil alih perusahaan itu agar jadi milik Vara tanpa keluar banyak modal. Mama ngerusak rencana dia."
" Masa? Terus sekarang gimana?"
" Hancur, padahal posisi mereka sudah di bawah, gak ada lagi yang mau kerjasama dengan mereka."
" Maaf, Mama gak tahu. pokoknya ini salah kalian, mama gak salah! coba kalian kasih tahu Mama..." Fena beranjak masuk ke kamarnya.
" Perempuan, dia yang bertingkah, dia yang ngambek. Dek, kamu awasi teteh kamu." pinta Anggara pada Aditya.
" Siap."
^^^^^
" Terus Lo bentak dia?"
" Gue kelepasan, Nu. Adik Lo di tanyanya diam mulu, gue geregetan.. jadinya ya..begitu..."
" Ck..ck... siap-siap aja Lo jadi duda perjaka." ledek Adnan.
" Lo sih dulu susah diajak main ke rumah Wisnu jadi gak tahu kan kepribadian adiknya." timpal Erlangga.
Mereka ditelepon Bhumi untuk turut berkumpul, Bhumi mencari aman dari amukan Wisnu jika sewaktu-waktu situasi tidak menguntungkan baginya.
Tapi yang terjadi sebaliknya kini dia yang dipojokkan oleh keduanya sejak cerita itu bergulir.
" Untung Lo bela Vara di depan mereka makanya gue tahan ni tangan gue buat bogem Lo."
" Ya..dia istri gue, mau sesalah apapun Shava, gue gak bakal biarin dia dipermalukan di depan umum, apalagi di depan cewek ganjen itu."
" Monika."
" Ngapain mereka ada di sana?"
" Mana gue tahu."
" Seharusnya Lo tahu, dia kan nge-crush-in Lo."
" Hahahahahaha..." mereka puas atas ledekan Adnan, dan melihat muka Bhumi yang menekuk dalam
" Tapi Lo nuduh dia, sama aja nyari masalah. Dilihat dari sudut manapun gak da Vara modelan playgirl." celoteh Adnan.
" Iya lah pasti, makanya gue nikahi, dia perempuan baik-baik."
" Tapi Lo tuduh dia selingkvh "
" Gak nuduh, cuma nanya."
" Lo pake Kata curang, diem, Lo akui aja Lo salah." sentak Adnan saat Bhumi hendak menyangkal.
" Iya, gue salah."
" Vara itu gak dekat sama Mama karena mulut mama yang kayak toa, belum lagi kepalanya bersumbu pendek, makanya Vara selalu ketakutan kalau dekat Mama. Sekarang Lo bentak dia, dan nuding dia. Bakal lama urusannya, dua kalau marah lama banget baiknya."
" Seriusan?" Bhumi mengusap wajahnya kasar.
" Berapa lama?"
" Bulanan, tergantung approach lo."
" Lagian Lo kok punya ide dia bisa curang dari mana sih. Gue gak paham cara pikir Lo." tanya Adnan.
" Gue cemburu, mereka berpegang tangan terus otak gue traveling ke beberapa waktu sebelum kita nikah, Shava terkesan lembek padanya."
" Dia begitu orangnya, kalau karena gak marah-marah banget terkesan ngebiarin, dia mah orangnya gak mau ribut. makanya diantara kita dia yang paling sering ngalah." sahut Wisnu.
" Ini pentingnya nikah harus tahu karakter masing-masing terlebih dahulu, salah ucap dikit jadi gede." ucap Erlangga.
" Bucin Lo cuma sampai sini, udah end?"
" Belum lah, gak bakalan juga berhenti selama Shava jadi istri gue."
" Mana ada bucin ngebentak, bucin mah ngemanjain." Erlangga menimpali.
" Ck, kalian gak ngasih solusi cuma bisa mojokin, nyesel minta kalian kemari." Bhumi beranjak ke arah belakang.
" Mau kemana Lo?"
" Toilet, mau ikut?" sentak Bhumi kesal.
" Sekalian americano satu."
" tiga" rapat Wisnu.
" Lo lagi ngapain?" tanya Erlangga yang melihat Wisnu mengotak-atik ponsel Bhumi.
" Mau ngintip lokasi bulan madu dia, enak aja bawa adik gue gak sekalian kakaknya."
" Gue bilangin loh."
" Bilang sana, tadinya gue mau ajak Lo, tapi..."
Erlangga membuat gerakan merisleting mulutnya lalu menggemboknya kemudian membuang sesuatu." Gue tutup mulut, kuncinya udah gue buang ke dasar laut."
Adnan menoyor kepala Erlangga," Lo di restoran, depan Lo cuma comberan."
tidak lama Wisnu menaruh kembali ponsel tersebut." Ni..." Bhumi sedikit keras menaruh pesanan mereka.
" Astaghfirullah, sopan sekali pelayanan di sini."
" Berisik, gimana caranya membujuk Shava?"
" Cuma Adit yang bisa."
" Ooohhh..NOOOO...." erang Bhumi kesal.
Wisnu terkekeh-kekeh menikmati kesengsaraan Bhumi." Balik yok...."
" Yuk...gue mau cari guling hidup, ada yang udah nikah tapi tidurnya masih sendiri..kaciaannn deh..." Adnan makin menjadi.
Bhumi menelpon untuk ke sekian kalinya setelah kepergian aora sahabatnya tanpa dijawab sang istri.
__ADS_1
Ingin dia pulang ke rumah mertuanya, tapi khawatir suasana canggung." Bodo ah, daripada lama baikannya."
Bhumi meriah kunci mobil di atas meja, kemudian melajukan kendaraan ke rumah mertuanya.
Tok..tok...
Nekat pukul 12 dini hari Bhumi mengetuk pintu rumah, napasnya tercekat kala Anggara yang membuka pintu.
" Baru pulang?"
" Iya, Pa. Maaf. Pulang larut."
" Hmm, kalau kalian ada masalah selesaikan secepat mungkin jangan berlarut-larut."
" Iya, pa. Maaf sudah bikin. Shava kecewa."
" Gak apa-apa, sekarang langsung saja ke kamarnya.
" Terima kasih, Pa."
Di lantai dua, Bhumi melihat Aditya yang tengah bermain PS di ruang tengah." Belum tidur, Dit."
" Belum, ngawasin teteh. takut ada apa-apa, dari tadi nangis mulu."
Bhumi terdiam, " berapa lama nangisnya?"
" Lama, lebih lama ketimbang waktu putus sama Aryo."
Terdengar helaan panjang dari Bhumi," mau bantu saya gak?"
" Mau, dengan syarat ikut liburan."
" Yang lain aja."
" Gak mau, maunya itu. Saya liburan di rumah mulai bosan."
" Main lah, jangan ngintilin orang yang mau bulan madu."
" Gak ngintilin, cuma bayarin tiket pesanin tempat, di sana kita masing-masing. Iya kali saya mau jadi obat nyamuk."
" Beneran sampai itu aja, kamu gak ganggu kita."
" Iya, apa gunanya juga ganggu kalian."
" Bohong gak ni."
" Ck, kalau saya bohong, saya nambah ganteng deh, pak."
" Serius?"
" Ya Allah. bapak gak percayaan amat."
Selama saya di sini kamu yang sering ganggu kami kalau lagi berduaan di kamar."
" Ya bapak sadar dong kalau kamar saya yang paling dekat, kamar teh Vara agak kedap suar kayak kamar Aa Wisnu, suara kalian kedengaran tahu."
Bhumi kaget," Masa?"
" Misi.."
" Ya maaf...gak tahu."
" Jadi gak ni?"
" Jadi lah bujuk kakak mu..."
" Siiipp... Gampang itu mah." sahut Aditya sumringah.
Namun kenyataannya tidak semudah itu, telah berlangsung tiga hari Aditya membujuk, Wisnu berupaya baik, dan Bhumi yang setiap hari mengatakan maaf tidak cukup membuat Shavara luluh.
" Shava udah berangkat, Ma?" Bhumi baru saja dari kamar istirnya yang ternyata sudah rapih.
Mereka sekeluarga padahal masih berkumpul di ruang makan.
" Sudah, masih belum baikan kalian?"
" Belum. aku gak tahu lagi musti gimana, Ma."
" Kalau malam gak ngomong apa-apa?"
" Gak, saya masuk Shava sudah tidur."
" Langsung aja serang di atas ranjang, pasti baikan."
" Ma..." Anggara lewat matanya memberi peringatan.
" Kenapa? itu kan yang selalu papa lakukan kalau mama marah."
" Astaga.. Mama..gak perlu frontal juga di sini masih ada Adit loh, Ma." protes Aditya yang merasa risih.
" Apa sih, yang frontal itu gini ni..buka baju...."
" Ma...kita mau makan." Anggara menginterupsi omongan istrinya yang pasti lebih ngawur.
" Tahu Shava kemana?"
" Kampus, jemput aja sana, tadi saya bilangannya mau jemput teteh."
" Makasih, Dit." Bhumi berbalik ia menggerakkan handle pintu yang tidak jua bisa dibuka.
" Pintunya dikunci, malam ini bapak tidur aja sama Aa Wisnu."
" Hadehhh, begini amat nasib." yang ditertawai Bhumi.
❤️❤️❤️
" Var, kapan kita makan-makan. uang penjualan cincin masih ada kan?" tanya Bisma saat mereka melangkah ke tempat parkiran.
" Kana uangnya separuh di elo, Bis. Jangan-jangan Lo makan ya." ucap Mira.
" Di uang gue masih ada, di dia..."
" Gimana kalau uangnya separuh buat liburan." ide Berliana.
" Ayok aja sih, gue mah. Yang separuh kita barbequean di rumah aja nanti malam."
" Siiip, Ra, Lo bantu gue belanja." imbuh Berliana. Bisma duit yang di elo aja yang dipake makan-makan."
" Oke, diabisin semua atau gimana?"
" Secukupnya aja, beli yang banyak, gue undang teman Aa Wisnu juga."
" Cie...yang udah punya suami mah enak dijemput ayang." Mira menyenggol lengan Shavara menunjuk Bhumi yang berdiri di body depan mobil.
" kamu juga pulang bareng sama aku selalu." Kenzo mengecup pelipis Mira, mengabaikan reaksi muntah dari Bisma.
Shavara berusaha keras memasang raut biasa, walau dalam hati bersungut-sungut Gue duluan, gue tunggu di rumah ya."
" Oke..."
Shavara terus melangkah lurus dengan tatapan datar pada Bhumi yang sudah memasang senyum walau tidak dibalas olehnya.
" Buka, atau kamu bukan mau jemput aku, tapi si calon simpenan kamu itu." jutek Shavara di pintu depan penumpang.
" Kamu ngomong apa sih, Yang."
" Buka."
" Iya ini aku buka, bisa kan minta baik-baik." Bhumi membuka kunci pintu.
" Aku gak ada minta kamu jemput, apa kamu janjian sama Moniq?"
" Hah? pikiran dari mana itu?"
" Itu juga pertanyaan aku, darimana kamu punya ide aku selingkuh dari kamu sama Aryo."
" Aku minta maaf aku lagi pansa hati itu. Aku cemburu."
" Apa yang bikin kamu cemburui dari lelaki modelan Aryo itu? Kamu di atas dia segalanya."
" Aku tahu, aku..namanya juga cemburu, dia pegang-pegang kamu."
" Aku coba lepasin, kamu lihat itu gak? Gak kan."
Shavara menyeka cepat airmatanya yang tidak bisa diajak bekerjasama." Aku gak suka kamu bentak, apalagi main tuduh begitu. sakit hati aku, A..sakit..mana aku lihat Moniq ngelihatin kamu melulu waktu di rumah sakit. belum lagi murid kamu itu."
" Kamu juga ga ada tegas-tegasnya nolak Moniq."
Bhumi menumbuk setir yang berhasil membuat Shavara berjengkit takut.
" Maaf, soal dia, ku selalu lihatin ke kamu kalau dia menghubungi aku. Urusan dia aku pingin kamu yang menyelesaikannya, tempo hari di depan kamu aku tolak dia. Ini bukan soal aku, dia hanya ingin mengganggu kamu jadi kamu yang harus bertindak, aku yang bakal tuntaskan semuanya."
" Bukan karena kamu mulai goyah?" selama tiga hari sebenarnya Shavara dilanda keresahan suaminya akan merespon Monika yang gencar mendekatinya.
Sejak kejadian di restoran, Monika sering menghubungi Bhumi baik lewat telpon maupun pesan yang tidak pernah Bhumi balas.
" Kita jalan dulu, kita bahas satu persatu."
" Gak bisa aku sibuk."
__ADS_1
" Yang..." erang Bhumi menahan emosi...
"