Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
51. Membujuk


__ADS_3

Bhumi melajukan motornya dengan mengebut antara ingin menyalurkan kemarahan, atau menyalahkan kondisi keluarganya. yang pasti saat ini wajah Bhumi datar dengan tatapan dingin menajam.


Brakhh...


Pintu dibuka kasar oleh Bhumi yang mengagetkan mereka yang tengah belajar bersama di ruang tengah, ia mengambil langkah lebar memasuki rumah.


" Bu...ibu..." panggil Bhumi mengabaikan kebingungan para remaja yang memperhatikannya.


" Ada apa sih, Bhum. pake teriak segala." Rianti keluar dari dapur dengan tangan dilap serbet.


" Ada yang mau aku omongin." Bhumi mendudukan Rianti di ruang tamu. Ia berjongkok di depan Rianti


Sementara para remaja berseragam putih abu-abu mengintip dibalik pintu antar ruangan.


" Dari kemarin kamu bilang ada yang mau diomongin, tapi gak juga ngomong."


" Ibu langsung teralihkan oleh Bian saat itu, aku gak mau ibu gak konsentrasi aku apa yang aku aku omongin, makanya soal aku dipending dulu, kita cari solusi soal Bian dulu, tapi ternyata putusan aku salah di mata Shava."


Bian yang namanya disebut, mendapat tatapan bertanya dari para sahabatnya yang lantas dia mengedikkan bahu tidak menahu.


" Shavara? kok dia dibawa-? kamu gak hamilin dia kan?"


Prang...


Bhumi dan Rianti serta para sahabat menoleh ke arah benda jatuh pecah, di pintu dapur Aditya berdiri mematung dengan pecahan gelas yang sudah tercerai berai di lantai.


"Bapak gak menghamili teteh aku kan?"


Bhumi berdiri, dia mengusap wajah kasar semakin gregetan dengan situasi yang tidak jelas ini.


" Enggaklah, bukan itu yang mau saya omongin."


" Alhamdulillah." Rianti mengusap dada lega.


" Terus soal apa?" tanya Aditya penasaran.


" Bisa gak kalian duduk bareng di sini kalau mau tahu." Bhumi sudah tidak peduli lagi mereka tahu akan rencananya.


Mereka bertujuh berebut duduk di sofa saling menyempil.


Baginya urusan Shavara adalah yang terpenting, saat ini gadisnya tengah marah dan meragukannya, pengalaman buruk si'alan kekasihnya menyulitkan dirinya.


" Bu, aku sudah melamar Shava, dan dia sudah menerimanya."


" Tidak bisa, aku tidak menerimanya." serobot Aditya kaget.


" Kenapa enggak? kak Adit jangan sampe bikin kakak aku patah hati ya." timpal Senja tidak kalah sewot.


" Kenapa bapak gak minta izin keluarga ku?"


" Udah, Saya melamarnya karena om dan Tante setuju."


" Saya enggak."


" kenapa? kamu mau teteh kamu di deketi Aryo lagi? kalau dia menikah dengan saya, saya punya hak mencegah itu. kamu tinggal pilih teteh tercinta kamu menikah dengan saya atau dengan Aryo." gertak Bhumi.


" Gak mungkin teh Vara mau balikan sama si baji'ngan itu, teteh saya bukan orang bodoh."


" Memang bukan? namun dia naif. kemarin saja Shava hampir mau bantu Aryo kalau saya gak nyegah."


" Terus kelanjutannya gimana?" sela Bian.


" Saya sudah berjanji padanya bakal langsung ngomong sama ibu, dan rencananya selesai semester datang ke rumahnya, namun Senja menceritakan apa yang terjadi sama kamu, saya endapkan cerita itu sampai persoalan kamu ada titik terangnya." mata Bhumi mengedar ke mereka yang masih setia mendengarkan.


" Namun ternyata Shava menilai salah dari tindakan saya, dia pikir saya mulai ragu dengannya seperti Aryo yang selalu menunda-nunda pernikahan mereka."


" Jadi ini salah aku, Andai aku tidak bertindak gegabah dengan bercerita pada Senja." renung Bian merasa bersalah.


Para sahabat memandangi Bian dengan raut simpati, sedangkan Bhumi mendelik tajam ke arah Bian yang menunduk.


" Apa sih, angkat kepala kamu, bukan begitu. kamu jangan bikin saya nambah ruwet, kalau memang ingin menolong, bantu cari solusinya bukan menyalahkan diri, kita keluarga kan!"


Bian mengangguk takdzim," Sekarang teteh dimana?" tanya Aditya.


" Tadi kami pisah di mall, dia pulang tanpa menunggu penjelasan lanjutan dari saya."


" Saya pulang dulu, pak." Aditya bergegas beranjak ngambil tas lalu menyalami Bhumi dan Rianti sebelum meninggalkan dia rumah Bhumi.


" Terus kita gimana?" bisik Ajis pada Devgan.


" Nunggu lah, Lo mau Bian makin terpuruk? Lo tahu kan gimana Bian begitu mengagumi pak Bhumi?"


Ajis mengangguk, " oke.


❤️❤️❤️❤️❤️


" Assalamualaikum." Salam Shavara masuk rumah dengan lesu dan raut menyendu.


" wa'alaykumsalam." jawab Fena yang diabaikan Shavara yang langsung menuju menaiki tangga.


" Var,..Varrraaaa..." panggil Fena dengan suara meninggi yang tidak digubris Shavara yang terus melangkah namun kentara tanpa kepastian.


Dari ekor matanya Fena pun mendapati Wisnu yang melangkah ke arah dapur.


" Pa, ada apa sih sama anak-anak kamu? Wisnu masuk main negeloyor aja gak ngucapin salam."


" Udah, papa yang jawab. mama lagi manggil-manggil Vara."


" Tersu Vara dipanggil gak nengok-nengok. apa mama harus minta tolong TNI buat disipilinin mereka? atau manggil kiyai buat ngajarin mereka akhlak?"


" Gak perlu, mama aja cukup. kan ketegasan mama berasa TNI bahagia sipil macam kami."


" Papa lagi muji mama, kan? Fena menyipit curiga.


" Tentu, istriku cantik nan ayu dan lembah lembut."


" Kok jatohnya kedengaran lagi fitnah ya." sindir Mama yang dibalas senyum lembut Anggara.


" Enggak, ini dari hati paling dalam papa." Anggara memegang dadanya guna meyakinkan istrinya yang akali ngamuk jenderal bintang lima pun pasti dilawan.


" A, suruh Vara kemari." pinta Fena pada Wisnu yang baru keluar dari dapur.


" Ma, biarkan Vara istirahat dulu." ujar Anggara.


" Kalau begitu, suruh dia mandi, terus kemari."


Wisnu tanpa kata melaksanakan perintah ibunya, cari aman aja sih dia mah.


¥¥¥¥¥¥¥¥¥


Tok...tok....


" Dek, Aa masuk ya." Wisnu mendorong pintu kamar Shavara yang ternyata sedang baringan di atas kasur sambil menetap tangan yang tersemat cincin di jari manisnya.


" Dek..."


Shavara terduduk di atas ranjang," Ada apa, A?"


" Bersih-bersih gih, mama nunggu di bawah."

__ADS_1


Refleks Shavara menegang, " Emang adek salah apa?"


" Kalau nyuekin panggilan Mama itu bukan kesalahan, jadi kamu santai aja."


"Aku melakukan kesalahan ya." ucap Shavara memelan sambil meringis.


" Kamu ngerasa?"


" Enggak sih, aku gak denger Mama manggil aku."


" Tapi kamu dengar Mama jawab Slam kamu?"


Shavara menggeleng," Kamu engeh mama ada di ruang tengah?"


Shavara menunduk lalu menggeleng lagi," Ada masalah?" Wisnu mencoba membaca air muka Shavara yang memang terlihat muram.


" Enggak, Vara mau mandi dulu. Aa ada di sana, kan?"


" iya." jawab Wisnu sebelum menutup pintu.


Shavara duduk di sofa tinggal berhadapan langsung dengan Mama yang atas permintaanya Wisnu dan Anggara meja disingkirkan.


Fena menelisik benar Shavara yang duduk di hadapannya kemudian napasnya dihembuskan kasar.


" Kamu kenapa??" tanya Fena selembut mungkin.


Shavara mencoba memberanikan diri menatap Fena walau jantungnya berdetak cepat."emang Vara kenapa?"


" Mama lihat kamu kayak kemarin lagi, murung." Shavara tertegun, ia tidak nyangka ibunya bisa menebak suasana hatinya. ia pun menunduk seraya memilin-milin tangan karena gugup.


" Bhumi nyakitin kamu?"


" Enggak." cicitnya.


" Vara, mama gak suka dibohongi, mama gak amu kamu kayak kemarin galauin dalam waktu lama. cerita atau mama cari sendiri penyebab kamu galau."


Diam untuk beberapa lama akhirnya Shavara." sepertinya hubungan aku sama kak Bhumi tidak akan berhasil." jawab Shavara terbesit rasa nyeri di hatinya saat mengatakan itu.


" Kenapa?"


" Dia enggan menikahi aku."


Fena beradu pandang dengan anggar Adnan Wisnu." kemarin dia terlihat sungguh-sungguh ingin meminang kamu."


" Dia berubah pikiran." Shavara meremas kedua tangannya ya saat mengatakan itu.


" Dia bilang begitu?"


Shavara menggeleng," dia mengingkari janjinya untuk bilang ke Tante Rianti soal kami, dan akan bertindak lanjut. itu kan persisi alibi Aryo ketika menunda pernikahan kami." suar Shavara bergetar.


" Alasannya apa?"


"Keluarga."


Brakh....


" Itu benar adanya. hah..hah..hah... teteh jangan overthingking." Aditya menjatuhkan diri duduk di sofa samping Wisnu.


Semua orang yang berada di ruangan tengah memperhatikan Aditya yang terlihat kecapekan.


" Kamu dari mana, Dek?" tanya Fena.


" Belajar bareng di rumah pak Dewa. beliau sekarang lagi galau lebih akut malah ketimbang teteh."


" Bian, tidak hanya tahu kalau dia bukan anak om Edo, dia pun tahu kali mamanya memanipulasi laporan perihal kehamilan Senja yang membuat om Edo menuduhnya sebagai anak orang lain. menurut teteh, sebagai kakak pak Dewa harus membiarkan ini? seperti pak Dewa cuek perihal alin terkait Bian?"


Shavara menegang di tempat, ia menatap Aditya tidak percaya." Kamu bohong."


" Teteh tadi langsung pergi, teteh telanjur kecewa, Ma."


Terdengar helaan napas berat dari Fena," Kenap teteh gak dengar alasannya secara full. teteh gak Nerima keadaan keluarga Bhumi yang rumit itu?"


Shavara menggeleng cepat," bukan begitu, Ma. teteh pikir itu cara dia untuk mundur dari hubungan ini..."


"Gak semua pria seperti aryo, Vara. masih ada papa mu yang sudah teruji ketulusan cintanya. kamu gak fair menyamaratakan semua lelaki hanya karena ulah satu lelaki brengs'ek." potong Fena tegas.


Shavara menunduk dalam, " Maaf."


" Kamu sebenernya cinta gak sih sama Bhumi? kok mama jadi meragukan perasaan kamu sama dia ya ketimbang perasaan dia sama kamu."


Shavara terdiam, dia enggan menjawab bukan karena ragu soal perasaannya, namun karena dia tidak nyaman membicarakan soal pribadi pad orang lain, termasuk keluarganya.


" Mungkin gini lebih baik, kasihan Bhumi kalau kamu gamang begini, kamu gak mikir kamu jahat."


" Ma...jangan kelewatan, wajar kalau Vara masih trauma. empat tahuna anak kita ditipu." sanggah Anggara.


" Ya sudah, lebih baik mereka putus sebelum Bhumi lebih tersakiti."


" Gak mau." refleks Shavara berucap. entah mengapa bayang dirinya jauh dari Bhumi itu sangat menakutkan.


" Kamu jangan egois, Vara. kamu yang menggantung perasaan Bhumi, bukan dia."


" Aku tahu, Ma. tapi gak harus sampai putus segala, Ma." Shavara kalut.


" Aku tahu aku kekanakan gak ngedengerin lasan dia secara keseluruhan, tapi...gak sampai harus putus, Ma." lirih Shavara seraya mengusap cepat airmatanya yang jatuh.


" Mama gak bisa bersikap sewenang-wenang begitu, aku sama kak Bhumi yang menjalani hubungan ini, Mama gak bisa..hiks...huhu..gak bisa..huhu...hiks.." Shavara menangis tergugu, ia sungguh merasakan sakit di dadanya saat ibunya menyuruh putus.


Mereka semua tertegun, dengan airmata yang terus luruh meski ia terus menyekanya, ia terlihat terluka.


" Kamu gak bisa berhubungan dengan lelaki kalau kamu belum bisa menghilangkan kisah masa lalu mu, kasihan pasangan kamu, Vara." Fena berusaha putrinya terbit memahami maksud ucapannya, bukan mengintervensi hubungan tersebut.


" Dek, apa Bhumi selama kalian dekat, melakukan apa yanga dilakukan Aryo?" tanya Wisnu.


" Seperti?" Shavara sendiri bingung.


" Egois? meminta uang padamu? menggunakan tenaga mu untuk kepentingannya?membuat mu membolos demi urusan pribadinya? suka marah-marah gak jelas sama kamu?"


Shavara menggeleng," Enggak, meski kita berselisih, dia menyelesaikan masalah dengan baik hingga kita cepat baikan."


" Terus kenapa teteh pikir pak Dewa sama kayak Aryo? benar kata Mama, teteh gak fair hanya karena satu kekhilafan teteh langsung men-gudge pak Dewa yang enggak-enggak." ucap Aditya.


"Gimana kalau kalian break dulu. sampai kamu tahu soal perasaan kamu." ujar Anggara.


" Maksud break tu apa sih, Pa? mama sampai sekarang gak paham Lo makna break yang dulu sering papa saranin soal hubungan kita sewaktu pacaran."


" Lha, kamu dulu iya aja kalau Papa bilang break."


" Di otak aku putus, aku mah kalau cowok minta putus, ya di iyain lah. ngapain maksain hubungan, masih banyak kok lelaki lain."


" Hah? itu kenapa Mama kalau kita break dekat sama lelaki lain? ma, break itu bukan putus, Ma."


" Ya terus apa?"


" Ya instrospeksi diri aja kita sapi dengan berjarak gitu."


" Oh, begitu. Jangan mau, Var. enak di dia rugi di kita. jangan mau sama cowok gak dewasa begitu." ujar Fena.


"Lha itu mama mau sama Papa yang sering minta break." serobot Aditya.

__ADS_1


" Mama gak mau konsep papa itu, tapi bagi amma gak masalah balikan sama mantan. kan orang pasti berubah. lagian setiap Papa bilang break, mama mikirnya putus kok, tapi setiap ada lelaki yang deketin Mama, papa langsung deketin mama lagi. apaan itu gak jelas."


" Ma, Pa, fokus. kita sedang membicarakan soal Vara, bukan kisah cinta kalian." peringat Wisnu.


" Teh, kalau kalian punya masalah selesaikan, butuh berapa hari juga selesaikan. supaya status kmu jelas, mau lanjut atau putus. jangan pak konsep gak jelas macam break " seru Fena menyindir Anggra.


" Terus teteh kalau udah begini gimana, Ma?"


" Ya udahan lah, Teteh kamu aja belum berdamai dengan masala lalunya kasihan Bhumi."


"Gak mau, Vara gak mau putus. Mama jahat." ucap cepat Shavara yang mengagetkan semuanya.


" Kasihan Bhumi yang kamu hakimi hanya kerena ulah orang di masa lalu mu, Vara."


" Vara gak mau putus, Ma. Vara bisa minta maaf, terus kita cari solusinya giman, bukan putus. pokoknya Vara gak amu putus." kukuh Shavara yang langsung berlari keluar rumah.


" Wis, ikuti adik kamu." titah Anggara yang langsung dijalani.


Beruntung Wisnu berhasil mencegat dan masuk ked taksi yang ditumpangi Shavara yang kebetulan lewat di depannya.


" Kamu mau kemana, Dek?" rumah kakak Bhumi. Aa gak bisa nyegah aku buat ke sana."


" Enggak mau nyegah juga kok. kalau udah sampe bangunin Aa ya." Wisnu bersandar ke bangku, lalu memejamkan mata.


" Hmm."


sepanjang jalan tidak ada lagi obrolan, sesekali Wisnu membuka mata sedikit hanya untuk melirik Shavara yang melihat keluar jendela sambil mengigit-gigit kukunya tanda dia tengah cemas.


"Ma, kita di sini aja gak nyusul teteh?" tanah Aditya.


" Enggak, mama gak amu berantem lagi sama teteh kamu, cukup sampai sini mama mancing emosi dia. orang kok melow banget. teteh kamu pikir Mama bakal jodohin dia sama lelaki berlevel rendah macam Aryo? enggaklah! mama udah nyari info dari orang terpercaya sebelum mempertemukan mereka."


" Mengingat perjodohan itu gak alam dari teteh putus, berarti Mama udah lama menyelediki pak Dewa?"


" Iya."


" Selagi teteh bertunangan dengan Aryo?"


" Iya."


"Mama gak Suak Aryo tapi mama ngizinin mereka tunangan? sumpah aku gak paham cara mikir Mama."


" Simpel, bagi Mama tunangan itu sama artinya pacaran, yang sewaktu-waktu bisa putus, mama gak pernah anggap serius perihal pacaran. itu saja gak lebih." jawab Fena yang kemudian berjalan ke kamarnya.


" Papa hebat banget bertahan sama Mama yang pola pikirnya gak bisa ditebak." Aditya mengacungkan jempolnya pad Anggara.


" Makanya Papa langsung nikahi Mama kamu yang super simpel itu. masa kita break, dia manfaatkan buat tebar pesona ke yang lain, kan bete ya udah Papa langsung nikahi Mama kamu yang cantik itu daripada diembat cowok lain."


" Hmm, gitu ya." renung Aditya.


" Dek, lelaki itu harus tegas soal apapun, akali kamu yakin sanggup bersama dia dalam waktu lama, nikahi dia jangan buang waktu buat pacaran."


"Kalian nikah saat kalian masih kuliah kan ya?"


" Iya, cuma kami tinggal bareng sesudah lulus kuliah. selama itu kamu tinggal di rumah masing-masing, menjalani hubungan layaknya suami istri, cuma kakek mu gak mau Mama keluar rumah sebelum lulus kuliah."


" Tapi papa nafkahin Mama kan?"


" Seadanya, namanya juga mahasiswa.masih kere. hebatnya Mama, gak ngeluh atau protes. kakek kamu juga gak ngerendahin Papa."


" Makanya Papa gak bertindak bo'doh seperti om Edo."


" Gak pernah terlintas juga, mama kamu sedari awal udah ulti Papa, Papa berani selingkuh, mama pergi dan gak ada kesempatan kedua. baru dengar ultimatumnya aja papa udah ketakutan banget, Dek."


" Secinta itu Papa sama Mama?"


" pernikahan itu bukan hanya soal cinta, Dek. intinya Papa gak mau kehilangan Mama meski mama terlampau sering bikin kepala Papa pusing dengan ulahnya, tapi itu seninya hidup."


Aditya hanya mengangguk-angguk saja merenungi ucapan Anggara.


❤️❤️❤️❤️❤️


Tok..tok...tok...


" Tenang, Dek." seru Wisnu yang melihat Shavara tidak bisa diam di tempat.


" Iya tunggu sebentar." Rianti yang membuka pintu.


" lho, Vara, Wisnu tumben kemari?"


" Maaf ganggu, Tan. kak Bhumi ada?"


" Ada, di kamar."


" Vara mau ketemu kak Bhumi ya, Tan."


" Sil.." Shavara keburu pergi ke dalam rumah sebelum Rianti menyelesaikan ucapannya, Wisnu hanya menggelengkan kepala.


" Maaf ya, Tan. Var agak sipan, aslinya gak gitu kok." ucap Wisnu tidak enak hati.


rianti tersenyum kecil." Tahu ko, kamu santai aja. masuk dulu yuk."


" Wisnu langsung pulang aja, Tan. nitip Vara ya."


" Gak duduk-duduk dulu?"


" lain kali aja, sekalian rebahan di rumah. assalamualaikum."


" Wa'alykumsalam."


tok...tok..tok..


Cklek...


Shavara kaget disuguhi tubuh menggiurkan dengan tetesan air dari rambut basah Bhumi dan tela'njang dengan handuk membelit dari pinggang sampai lutut, sedangkan Bhumi terkejut mendapati Shavara di depan pintunya, hal yang tidak pernah dia kira.


ponsel yang menempel di daun telinganya masih tersambung pada kontak kekasihnya yang sudah terhitung untuk kesepuluh kalinya sejak dia pulang.


" Kak..." Shavara mendorong tubuh Bhumi masuk ke dalam kamarnya, Bhumi mengunci pintu tersebut dengan pandangan masih terpaku pada Shavara.


" Aku minta ma...hummph..." Bhumi memotong ucapan Shavara dengan civman.


" Yan, kita intip jangan?" seru Ajis.


" Lo mau fisika Lo donat besar?" timpal Devgan.


" Tapi penasaran gak sih, pak Dewa telanjang loh itu." timpal Leo.


" Gue tinggal bilang Cepu ke Adit sih kalau kalian ngintipin kakaknya." ucap Bian yang kontan mendapat decakan sebal dari yang lain.


" Mastiin dikunci atau enggak pintu aja deh, gimana?" Ajis masih mengompori.


" Apa hukum terkahir pak dewa ke kita?" tanya Bian.


" Nyari cacing di sekolah." jawab Leo


" Dna kita gagal, yang berakhir kita ngebersihin kolam renang bang Adnan yang super besar itu. mau lebih dari itu?" Bian memeringatkan


Sontak ketiganya menggeleng, gelengan kepala itu mengakhiri debat Empat remaja yang bersembunyi dibalik pintu dengan pintu sedikit terbuka seusai tanpa sengaja melihat adegan Shavara dan Bhumi di ambang pintu.

__ADS_1


" Gue penasaran aku ini, gimana dong."


"Kalu gak ketahuan gak apa-apa kan ya..."...


__ADS_2