Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
85.


__ADS_3

Bhumi merangkul pundak Shavara, merak berjalan beriringan mengitari kebun dengan pemandangan yang indah nan dingin karena usai disiram hujan.


Bhumi menghela napas tertahan kala melihat tatapan kosong Shavara dengan raut gusar.


" Kenapa?" Bhumi menggosok-gosok lengan atas Shavara.


Shavara menoleh sedikit menengadah." hah?"


" Kenapa?"


" Eeng..."


" Jangan bilang gak ada apa-apa, sementara aku lihat muka kamu kayak orang gak baik-baik saja." Bhumi mengecup pelipis Shavara.


Shavara mengetatkan rangkulan di lengan suaminya, sedikit mencivm lengan itu.


" Hanya khawatir kamu berubah pikiran tentang aku karena semalam..."


Bhumi seketika memeluk Shavara, mengecupi puncak kepalanya, " Entah bagaimana aku bisa meyakinkan kamu kalau tidak ada yang berubah, pandangan aku ke kamu masih sama, Shava, wanita favoritku


wanita ayang aku inginkan bukan yang lain."


Shavara lingkarkan tangan di pinggang Bhumi, memeluknya dengan tangan gemetar. membenarkan wajahnya di dada bidang Bhumi.


" Aku mencintaimu. Aku takut kamu ada rasa jijik dikemudian hari setelah insiden semalam. Aku takut kehilangan kamu, aku sudah terlanjur sangat mencintai kamu."


Wisnu yang berjalan di depan mereka mengepalkan tangannya yang ada di dalam saku jeans-nya, begitupun dengan yang lai langkahnya turut berhenti saat mendengar percakapan mereka, ternyata memang kekerasan verbal itu tidak bisa hilang dalam sehari.


Sejenak Bhumi mengukung Shavara menempel ke tubuhnya, ia lantas membingkai wajah Shavara," Aku tidak mungkin tidak mencintai mu setelah apa yang kamu beri padaku. pengertian mu, kasih mu, cinta mu, dukungan mu, segala yang aku butuhkan kamu berikan. Begitu pun aku, aku ingin memberikan semuanya padamu, Cinta. Hanya untuk kamu. Percaya padaku, hmm!?"


Shavara mengangguk, matanya basah karena tetesan air mata yang membasahi pipi, Bhumi menyekanya, ia berikan satu ciuman ringan di bibir Shavara.


" Ungkapkan segala penderitaan mu, kita obati bersama." Bhumi mengambil kedua tangan Shavara yang terdapat bekas luka ikatan di pergelangan tangannya. Lalu ia mengecupnya syahdu dan dalam.


" Love you. aku akan selalu mencintaimu."


" Terima kasih, walau kini aku ternoda..."


Bhumi menggeleng,ia berbisik ke telinga Shavara," Gak, kamu tidak ternoda sama sekali. Kan semalam aku udah mencuci, membersihkan, dan membilasnya."


Wajah Shavara bersemi merah teringat pa yang mereka lakukan di dalam kamar mandi.


Paraduan cinta yang sangat lembut dan pelan namun tidak mengurangi kenikmatannya. Bhumi begitu memujanya dengan segala belaian dan ucapannya.


Setiap kali Bhumi menghujamkan dirinya menyatu ke dalam diri Shavara, ia mengutarakan segala cintanya hingga Shavara merasa melayang dan melupakan kejadian memilukan itu.


Bhumi menatap Dala manik Shavara," Nikmati hidup ini, sayang. Jangan biarkan secuil kesakitan menghapus jejak kebaikan di sekitar mu. Kamu punya kakak dan adik yang luar biasa, luka kamu menjadi luka mereka. Kalau kamu ingin mereka bahagia, maka berbahagialah. bersama ku, bersama keluarga mu."


Shavara tersenyum, ia. dia harus bangkit dan keluar dari tragedi itu, untuknya, untuk keluarganya.


Tidak ingin mengganggu mereka, para orang kota itu berjalan berpencar menikmati panorama indah pegunungan berudara sejuk sehabis hujan, mereka menghirup lalu melepas napas udara tersebut.


Hawa dingin menggigil mereka tahan demi menyesap embun yang langka bagi mereka.


Ajis iseng memetik setangkai bunga, lalu menyelipkan di telinganya." Adit, ayok kejar aku..." dia berlari alay layaknya film romantis di tengah hamparan kebun teh.


" Males ikutan gila gue."


Dukh....


Brukh...


" Aaawws...." Ajis nyusruk tengkurap kesandung dahan akar besar dengan tidak estetiknya di mana sebelah kakinya ke atas.


" Hahahahahaha...alay sih Lo. Lo kira lagi main film indihe .." ledek Devgan dilatari terbahak dari mereka yang ada.


Mereka berjalan berpencar walau masih jarak dekat, para wanita bersuka selfie bersama para pria dewasa, yang mana Wisnu sesekali mengecup kepala Berliana tanpa kentara disela selfie tersebut.


" Siapa sih yang bilang kejar-kejaran di kebun teh itu romantis. Pembodohan itu." gerutu Ajis sambil membersihkan diri dari lumpuh basah.


" Orang kota norak ni gini bentukannya. belajar biologi gak Lo." sahut Leo.


" Gak dibahas soal teh. Jadi gue gak tahu. Mau apa Lo, iri kebodohan gue ya."


" Beg0, bod0h aja bangga." Bian menimpali.


" Bantuin napa." Ajis mengulurkan tangan.


" Tinggal berdiri." tidak ada satupun yang mau menolongnya.


" Makan yok, Vara lapar lagi ni" ajak Bhumi yang memang berjalan paling akhir. agar bisa modus bermesraan di tengah hawa dingin pegunungan.


Mereka mengelilingi kebun teh guna menghindari tontonan menegangkan antara Fena dan aditama terkait Monika.


Tanpa sengaja restoran yang mereka pilih ternyata sama dengan tempat janji Fena bersama Aditama.


" Bapak yang traktir. Kan kita di sini karena bapak." ucap Aditya.


" Kenapa aku berasa jadi orang tersalah ya kalau Adit yang ngomong."


Shavara terkikik, ia ogah meladeni keduanya, dia memilih mengeratkan pelukan di pinggang suaminya seraya menyandarkan tubuhnya.


" kamu boleh pulang sekarang, saya ikhlas ngongkosin." seru Bhumi.


" Enggak ya, saya mah orangnya solider, gak mungkin senang sendiri, jadi terpaksa saya stay di sini sama mereka."


" Gak ada yang minta padahal." celetuk Adnan disela menghembuskan napas guna melihat asap napas di tengah suasana berembun.


" Balik lah ke resto makan yang panas-panas adem ni." Leo mengikuti para manusia dewasa yang enggan meladeni para remaja lebay.


" penasaran gue gimana kelanjutan si Moniq." Mira melajukan kakinya lebih cepat sambil menarik Kenzo.


Ketika yang lain berlomba kembali ke restoran, berbeda dengan Bhumi, ia kembali berjalan pelan serta menahan tangan Shavara yang juga ingin bergegas sampai ke restoran.


" Aa, cepatam ih, jalannya kayak keong." omel Shavara geregetan.


Bhumi menarik Shavara hingga ia menubruk dadanya." Sengaja, kamu pernah ruangan tapi modus macam gini aja gak paham."


" Coz kamu bilang belum pernah pacaran, tapi Thai teknik modus macam gini." Shavara menyelidik curiga.


Bhumi mengusap wajah Shavara yang matanya memicing." jangan curigaan, gak pantes muka ayu kayak kamu curigaan gitu.


Kalau kamu punya teman macam Adnan dan Erlangga gak perlu punya pacar buat tahu modus kayak gitu. Aku sampai eneg ngelihat dia jalan kayak siput kalau bawa ceweknya."


Shavara tertawa, " Lagian mau aja diajak jalan Sam cowok mesum macam bang Anan."


" Daripada dia bikin onar, mending ngorbanin diri."


Shavara mengecup rahang Bhumi," Makasih yang udah sabar."

__ADS_1


" Iya, makanya jangan berani adu kesabaran sama aku kalau kamu belum punya teman macam Anan dan Elang."


" Hahahahahaha." Bhumi menatap Shavara dengan berbinar saat dia tertawa terbahak-bahak yang menghentikan langkah yang lan.


Setelah situasi sendu yang tadi tawa it bagai sinar matahari bagi mereka.


" Teh, ayok. Cepetan." desak Aditya yang ingin segera memeluknya.


" Iya, iyaa teteh ke sana."


" Tuh kan Adit memang nyebelin m, sayang."


" Tapi dia adikku." Shavara menarik Bhumi yang melangkah malas-malasan.


" Sayangnya begitu." gerutu Bhumi yang merangkul pinggang Shavara.


Saat hendak tiba di restoran, ada tangan yang mendorong Shavara.


" kyaaa...." pekik Shavara kaget.


Beruntung tangan Bhumi yang di pinggang Shavara menahan tubuhnya hingga dia tidak terjatuh, hanya oleng sesaat saja.


"awaasss,,...pegangin si domba kabuurrr...."teriak Fena yang terlambat dengan napas ngos-ngosan.


" Lo....kanapa lo jahat sekali...." bentak Monika berani.


Matanya menyorot nyalang pada Shavara yang kebingungan. Dia sangat membenci mantan sahabatnya itu.


Semua orang hendak mendekat yang di kode menggeleng oleh Bhumi, hingga diurungkan dan hanya memperhatikannya saja.


" A...ada apa?"


" Kenapa lo tidak pergi menjauh darinya? Kenapa dia masih menanyakan Lo setelah gue rela berkorban untuknya? setelah dia membuat gue menjadi wanita panggilan. Kenapa Lo yang dia sebut?"


Shavara diam memperhatikan dan hanya berdiri dia sana. tidak menimpali apapun dari entah apa yang terjadi dengan Monika yang membuatnya menyerang dirinya.


" Dia sadar dari koma, dan nama Lo yang disebutnya. Mama Wita memohon pada gue untuk membawa Lo ke sana. Lo harus bertanggung jawab, bangs4t."


Umpatan itu menyulut kemarahan dari semuanya yang hadir, namun Shavara menanggapinya santai. Dilihat dari raut wajahnya dia tidak terganggu sama sekali.


Dia lebih terfokus pada kabar terbaru Aryo, ada rasa takut menghinggapinya, dia khawatir mantannya itu kembali mengganggunya.


Tadi saat Fena bernegosiasi lahan dengan Aditama dengan dirinya sebagai imbalan jangka panjang bersamanya, dia mendapat telpon dari Wita jika Aryo terus manggil nama Shavara sejak kembali dari masa kritisnya.


Marah, kecewa, sakit hati. tentu Monika rasakan. Dia bagai manusia tidak kasat mata. Dia terbuang dan itu menambah kebenciannya pada Shavara.


" Lo anak manja yang gak berguna seharusnya Lo sama menderitanya dengan gue. setidaknya Lo beri mas Dewa buat gue, dia cinta gue, tapi lo yang menghalanginya


bukan kah rekaman yang gue kasih ke Lo menjadi bukti akali dia tidak mencintai Lo, dasar wanita perebut."


Shavara terlihat tidak amarah, tapi Bhumi yang mendelik tajam padanya. berani sekali Anita yang tidak tahu diri ini mengklaim soal dirinya.


Shavara malah mengalihkan pandanganya pada Fena dan Anggara yang terlihat mencemaskannya.


" Sudah bacotan Lo? Kalau sudah pergi Lo ke majikan Lo."


Semuanya terkejut akan respon Shavara yang tidak biasa berkata kasar.


Monika meradang, dia mendekat, Bhumi dan yang lain udah siaga.


" Tanggung jawab s3tan. Lo datangi dia, Lo harus kembali jadi tunangannya setelah Lo bikin dia cacat." hardik Monika.


" HAH?" ini tidak kalah mengagetkan."


" Makanya gue kasih kembali mas Aryo buat Lo, tapi Lo beri mas Dewa buat gue."


" HAHAHHAHAHAHAHA...." sedetik kemudian mimik Shavara serius dengan tatapan menajam.


" Sinting, lont3 kayak Lo tempatnya di kaki pak Aditama bukan dia samping suami tercinta, dan ter-hot gue." sombongnya


Monika mengangkat tangan hendak menamparnya, namun dicekal lalu dihentakkan oleh Bhumi.


" Lo hanya anak manja yang freak, cuma bisa merepotkan sekitar Lo."


Shavara lantas menarik tangan Monika, memukul wajahnya yang membuat hidupnya mimisan, lalu memelintir tangannya dan menggeplak kepalanya lalu menend4ng lutut bagian dalam hingga Monika terjatuh berlutut padanya.


BUGH...


PAK....


Dugh...


" Gue punya pencak silat, ngalahin Lo mau pake mata tertutup bagi gue.


Sebagai mantan yang Budiman, gue bakal datengin tunangan Lo, tapi tolong bilang ke dia, move on. Gue sudah bahagia."


Shavara meninggalkannya yang diikuti oleh yang lain kecuali Fena, Anggara dan Aditama.


" Pak, mumpung mucikarinya di rumah sakit. Ganyang dia sampai bapak puas, tapi sediakan lahan yang strategis dengan harga rendah untuk saya." Kata Fena.


" tapi dia gratis, kan ya." timpal Aditama.


" Tentu, saya shadaqoh sama bapak. asal jauhkan dia dari anak saya selama mereka masih di sini."


" Bere itu mah Bu."


Monika yang masih berlutut menunduk menangis tersedu-sedu mendengar obrolan yang menempatkan dirinya bagai benda tidak berharga.


Sial, dia tadi terlalu gegabah. Bernai kabur dan menawan Shavara di depan orang tuanya. tapi sakit hatinya lah membuat dirinya lupa situasi.


¥€¥¥¥¥


Hasil dari bujukan dan rayuannya pada ibunya akhirnya kini dia bersama Bhum berdiri di samping ranjang Aryo yang dikelilingi alat medis.


Mereka tiba kala langit sudah gelap, yang memang seharusnya mereka sudah kembali ke villa.


" Sa..yang...Vara-ku sa..yang...ma..af..."


" Sebaiknya kamu berhenti mencoba bicara. Aku sudah memaafkan mu,karena kamu begini juga ada salahku yang menghubungimu.


Aryo, aku menghubungimu tempo hari karena aku tahu Monika tengah mendekati tunangan ku, aku berharap kamu mendisiplinkannya, bukan untuk kembali padamu.


Kajian ini aku harap menjadi pembelajaran bagimu. Tangan mu sudah tidak bisa digunakan lagi, suruh Monika merawat mu. aku pergi."


Shavara berbalik lalu pergi meninggalkan Aryo yang meneteskan air matanya.


Sikap dingin dan. tatapan datar tanpa belas kasih dari Shavara untuknya menggugah rasa penyesalan di dirinya.


Mata bening itu, dulu selalu memujanya, bibir itu meski dia tidak berhasil merasakannya namun selalu tersenyum lembut padanya.

__ADS_1


Mata Aryo menerawang ke masa lalu, saat dia merasa dicintai.


" Nak Vara, mama dan papa berucap terima kasih kamu mau menjenguk Aryo." ucap Wita syahdu yang diamini suaminya.


" Lain kali kalau Aryo menyebut nama saya, Tante jangan panggil saya. hargai Monika sebagai tunangannya. Seperti saya menghargai suami saya yang kemari atas izinnya."


Wita tertegun, tidak ada lagi panggilan Mama darinya untuknya. Dulu mereka yang begitu dengan kini begitu jauh Shavara membuat jarak darinya.


Dia dan suami juga sebenarnya malu memohon meminta Shavara datang, tapi Aryo yang terus memanggilnya memaksa mereka melakukannya.


" Terima kasih nak Bhumi." Wita mengenalnya karena Rianti yang memperkenalkannya saat dia mengantar ibunya ke tempat arisan.


" Sama-sama, Tan. Saya harap ini terakhir kalinya istri saya dilibatkan dengan Aryo, bagaimana pun cerita mereka telah usai."


" Tapi kalian yang bikin Aryo cacat." celetuk Deby.


" Itu tidak akan terjadi kalau dia tidak berusaha memperkosa istri saya."


" Apa sih susahnya membiarkan Aryo mencicipi dia. toh mereka juga pernah bertunangan." Deby masih mencari celah mengusik Dewa yang pernah mempermalukan putrinya.


" Ma..." Arleta yang berdiri di sampingnya memegang tangannya.


Tangan Bhumi mengepal, rahangnya mengeras." Tidak semua perempuan murahan seperti putri anda, nyonya." balas Bhumi.


Yang membuat Deby melotot nyalang padanya, sementara Arleta menunduk.


" Kami permisi, mertua saya menunggu di lobby." ucapnya menekan kata mertua yang memang berhasil mengurungkan mulut Deby yang hendak bicara.


" Itu kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang guru." hardik Deby yang hatinya masih panas ke mereka yang sudah berjalan beberapa langkah menjauh.


Bhumi berbalik, meski masih di tempat," Ajari putrimu putrimu untuk bertingkah lebih sopan pada gurunya bukan menyodorkan diri untuk dilahap."


" Pak..." lirih Arleta.


" Saya masih menyimpan bukti putri anda melecehkan saya. saya muak berurusan dengan keluarga kalian, menjauh dari keluarga saya atau saya sebarkan itu semua."


" Pak, saya mohon...jangan..." lirih Arleta memohon.


Deby tidak berkutik, dia diam seribu bahasa. tatapan tajam Bhumi yang mengancam yang membuatnya demikian.


Anggara dan semaunya melihat itu dari kejauhan, dia bangga pada menantu dan putornay yang bersikap tegas pada keluarga merepotkan itu. Persoalan merak seperti tiada habisnya.


" Ga, bisa kamu cerita ada apa dengan mereka." pinta Edo.


" Gue cerita nanti di puncak. kita pergi sekarang ke sana." titah


Anggara yang mengkode mereka untuk mengikutinya.


Anggara mengirim pesan pada Bhumi," Papa ajak mereka ke puncak, kamu manfaatkan sisa dua hari bersama istrimu sebelum direcoki si Dede."


Bhumi yang membaca pesan tersebut di dalam mobil menyeringai lebar dengan mata berbinar.


" Kenapa kayak orang senang begitu?" Shavara yang duduk di sampingnya bergidik ngeri melihat suaminya yang tiba-tiba tertawa senang.


Bhumi menarik Shavara dan merangkulnya, lalu mencium sekilas bibirnya." para pengganggu sudah pergi, kita bisa bermesraan sepuasnya."


Shavara membaca pesan yang ponselnya diberikan padanya.


" Ck, Senang amat, meski ada mereka kamu toh tepat aja mesum."


" tentu berbeda, sayang. Kalau gak ada mereka aku bisa mewujudkan imajinasi aku bercinta di ruang tengah, depan tv, dapur, kolam renang, kebun...."


" Ya Allah. Masa isi kepal kamu cabul semua sih."


" Salahkan Anan dan Elang yang terus meracuni aku dengan nonton bok3p." Bhumi tersenyum mesum padanya.


" Kamu juga pasti sering nonton. kamu memang masih perawan, tapi cara kamu meraba aku, aku tahu kamu gak polos-polos amat, cinta. Setidaknya tidak dengan otak kamu."


Bhumi melum'at bibir Shavara dengan rakusnya, melahap bibir atas dan bawah bergantian dengan kepala miring Solih berganti arah memperdalam civmannya seraya memejamkan matanya.


" Hmm...mmhhmmm..." Shavara terpancing, tangannya membelai dada bidang Bhumi, meremas kaosnya lalu tangan itu meraba ke leher, mengelus tengkuk dan menyelusup ke rambut yang sudah terasa panjang, meremas rambut itu kala tangan Bhumi mampir dan meremas gundukan depan miliknya.


" Eeeuugghh..." bibir Shavara yang masih menempel terbuka karena rasa nikmat dari sentuhan tangan Bhumi.


Bhumi menarik Shavara untuk duduk di pangkuannya dengan kaki terbuka.


Blouse yang dikenakannya naik memperlihatkan pah4 mulus yang ia belai naik turun.


" eeuhhh...A...ini di parkiran rumah sakit." napas Shavara terengah-engah, sedikit menunduk memandang Bhumi.


Bhumi yang sudah tersulut gairah, " Gelap, sayang. Kita main sekali di sini ya."


" No...mmhmppmmhhh.." Bhumi melum'at bibir itu, satu tangannya mengusap punggung Shavara tangan yang lain turun ke bawah membuka resleting celananya.


Dirinya sudah siap mengarungi kenikmatan dunia. Dia arahkan ke Shavara yang sudah basah.


" Eeuuhhh...." Shavara mendongak merem melek sembari mengigit bibir bawahnya kala Bhumi menyatukan dirinya.


Detik kemudian lengkuhan dan ******* saling bersahutan seirama gerakan tubuh yang mengejar ******* kenikmatan yang ditandai long-longan kuat dari keduanya saat cairan hasil gerak mereka bertemu memenuhi diri Shavara.


Setelahnya tidak yang bicara, keduanya sibuk mengatur napas akibat lelah.


Bhumi merapihkan rambut Shavara yang acak-acakan, Shavara menjatuhkan diri sepenuhnya pada Bhumi yang bersandar di kursinya.


" Terima kasih, Cinta." bisiknya.


" Puas gak?"


" Hmm?"


Shavara menegakkan duduknya, melihat Bhumi." Puas gak? Banyak pasangan yang selingkuh karena urusan ranjang yang tidak memuaskan."


Bhumi tersenyum, menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga. Matanya menatap teduh istrinya," aku mencintaimu dengan segenap apa adanya dirimu, sayang. semua di diri aku udah penuh sama kamu, jadi jangan berpikir kai bisa lepas dari aku. tapi demi apapun aku terpuaskan oleh mu, bukan soal s3x, tapi segalanya."


" Meski Aryo sudah..."


" Meski setelah itu, aku masih tergila-gila sama kamu."


Shavara memeluk Bhumi, menyembunyikan wajahnya yang memandang karena air mata haru di leher Bhumi.


" Sayang, punya aku udah berdiri lagi." Bhumi menggoyangkan pinggulnya


" Ya tuhan ku..." napas Shavara tertahan manakala Bhumi kembali bergerak.


" Satu kali lagi, main cepat. Baru kita pulang."


" Cepatnya kamu belasan menit loh, sayang. Nanti ada yang merokok kita." Shavara mengimbangi gerakan Bhumi.


" Ahh..shhh..ehhh... Sa..yangh...." desah keduanya yang terus bergerak saling berlomba memuaskan....

__ADS_1


__ADS_2