
" Kak..." panggil Shavara mendekatkan kepala ke Bhumi.
" Iya, kenapa?"
" Turunin aku di depan gerbang masuk aja ya?"
" Kenapa? aku anter sampe ketemu Mama Papa."
" Jangan, nanti Mama banyak tanya, lebih ribet. biar aku aja yang jawab pertanyaan mereka."
Motor berhenti di pos satpam, dua satpam memeriksa Bhumi.
" Pak, ini teman saya, mau anter sampe sini doang kok." ujar Shavara membuka kaca helm-nya.
" Eh, neng Vara, maaf gak mudeng saya. tumben dianter orang."
" Iya, pak."
" Silakan masuk atuh." satu satpam membuka gerbang masuk.
" Kak, aku turun di sini aja."
" Gak mau. aku anter kamu. kamu pikir aku dari spesies tampang sih ganteng, tapi sayang berani nganter cuma sampe pos satpam." cibir Bhumi yang mendapat tawa dari dua satpam tersebut.
" Neng, Vara. tadi tunangannya datang lho, awas nanti berantem."
" Tunangan?" Shavara dan Bhumi saling lempar tatap lewat kaca spion.
" Iya, itu mas Aryo. mentang-mentang punya temen ganteng sama tunangannya sendiri lupa."
Shavara tertawa garing," maksud saya, saya sama dia udah gak ada hubungan lagi, kami udah putus."
" Woalah, masa sih? tapi kenapa mas Aryo masih pake status sebagai ruangan neng."
" Gak tahu, belum move on kali. lain kali kalau dia datang jangan diizinkan masuk ya, pak."
" Siap, neng."
" Mari, pak. kami masuk dulu." pamit Bhumi.
" Iya, den."
" Panggil Bhumi saja, pak."
"Oke, mas Bhumi."
Bhumi melajukan kembali motornya ke rumah Shavara.
Terlihat jelas raut cemas di wajah cantik itu, Bhumi mengambil tangan Shavara yang membelit pinggangnya, mengusap punggung tangannya lembut.
" Kak, gimana kalau Aryo bikin ribut di rumah."
" Gak gimana-gimana, paling Mama kamu ngusir dia." Jawab santai Bhumi.
Shavara menggeplak bahu Bhumi," Kak, aku serius."
" Yang bercanda siapa?"
" Gila aja mantan kamu itu kalau nyari ribut di rumah kamu. kamu kira papa kalem kamu, kakak pendiam kamu, adik sok galak kamu. akan diam aja ngelihat sikap bo'doh dia? gak sayang. relax, oke? relax." tangan Bhumi masih mengelus punggung tangan Shavara yang digenggamnya.
" Atau jangan-jangan kamu masih ngekhawatirin dia, takut dia diapa-apain? kamu masih mikirin dia? iya? cie...mantan yang masih peduli." sindir Bhumi.
" Apaan sih, kak. gak gitu, aku males aj dia nyari ribut mulu."
" Emang apa sih yang dia mau dari kamu?"
" Dia minta ganti aku urus dokumen perusahaan yang dibakar Adit."
" Lha itu mah dia sendiri juga bisa."
" Aku udah kasih tahu, tapi dia gak mau ngurus."
Ketika motor mendekati rumah Shavara, mereka melihat seorang wanita paruh baya dan lelaki yang dipastikan itu Aryo berdiri di luar rumah dengan pagar terbuka lebar.
Deru motor mengalihkan perhatian mereka pada Shavara dan Bhumi, mereka turun dari motor, membuka helm. saat akan berlan ke mereka, Bhumi memegang tangan Shavara agar mereka menghampiri bersamaan.
" Shavara,...Vara..tolongin mas-mu, Var." Wita segera menghampiri shavara.
Bhumi sangat tidak suka dengan kata Mas-mu itu.
" Iya, Tan, kenapa?" tanya Shavara polos.
" Vara, dari mana kamu jam segini baru pulang?" bukan Anggara, atau Wisnu yang bicara dengan nada tinggi itu, melainkan Aryo.
Shavara terkejut melihat banyak lebam di wajah Aryo, itu pasti ulah kakaknya yang pendiam itu.
Anggara, Fena, dan Wisnu yang mendengar suara tinggi Aryo merasa tidak suka, mereka juga menghampiri Bhumi dan Shavara, maka mereka berdua pun ikut keluar dari gerbang rumah.
Tubuh Shavara sontak gemetar ketakutan, ini yang selalu terjadi jika Aryo memarahinya. Bhumi memerhatikan itu semua, dia mendekat, memastikan Shavara merasakan keberadaannya.
Dan benar saja, saat Shavara merasakan pundaknya bersentuhan dengan Bhumi, entah mengapa dia merasa aman.
" Bu..bukan urusan kamu, kita sudah berakhir, Aryo. untuk apa kamu kemari?"
Beberapa saat Aryo terdiam karena jawab Shavara.
" Untuk perihal kemarin, dan aku tetap ingin kamu yang bertanggung jawab."
" Lo punya Monika, dia bagian kesekretarisan. tentu dia tahu cara ngurusin dokumen itu, Aryo."
" Var, bisa tidak kamu lebih sopan memanggil mas-mu?" tegur Wita.
" Yang ada ajarin anak Lo sopan santun, Wita. ini bentak anak gue aja dia." tegur Fena tegas. dia tidak suka makanya ditegur oleh orang lain.
" Mbak..."
__ADS_1
" Pergi, saya dari tadi udah jatuh kalian pergi, dasar tidak tahu malu beruntung kita tidak jadi besanan, bisa-bisa saya tidak punya muka mempunya besan kayak kalian." hardik Fena yang sudah jemu dengan tingkah dia orang ini.
Aryo yang sudah naik pitam sejak melihat mantan tunangannya dibonceng lelaki, tak ayal emosinya naik tajam.
Aryo menyeringai smirk, " Tidak tahu malu? Well, well,...well...ini yang katanya anaknya anak perempuan baik-baik, jam setengah enam baru pulang,. setelah putus dari aku, kamu jadi wanita nakal ya? udah berapa lelaki yang sudah memakai kamu? jalank!"
PLAK...
BUGh...BUGh....
Aryo tersungkur dengan tidak estetiknya.
Anggara dan Wisnu murka atas perkataan Aryo, mereka maju ingin menghajar Aryo, namun sudah didahului orang lain. sementara Shavara terperangah tidak percaya akan dikatai kasar oleh lelaki yang belum pernah menyentuhnya.
Wisnu yang melihat kekagetan Shavara membawa adiknya itu ke dalam rangkulannya.
" Sshh, tenang. kamu sada kan kamu bukan wanita seperti itu?" Shavara mengangguk.
" So..."
" Gak nyangka aja dia segitu ga punya atittude -nya."
" Namanya juga kampungan. maklumin aja dia orang kaya baru."
" Aa gak berniat berhentiin kak Bhumi?"
" Ngapain? dia udah mewakili Aa sama papa yang udah pengang ngedengerin ocehan mereka."
Satu bogeman ke bogeman lain Bhumi berikan pada Aryo dengan keras tepat di wajah dan perutnya, Wita berteriak minta tolong, beberapa penjaga rumah tetangga keluar namun hanya menonton.
Mereka melihat ada Anggara berdiri di sana yang berarti semuanya bukan masalah.
Aryo mengerang kesakitan, Bhumi menarik kerja bajunya." bagian tubuh mana dari dia yang udah Lo sentuh sampe Lo berani manggil dia dengan hina."
Bhumi menyudahi eksekusinya, dia menarik kerah baju Aryo, " Bacot doang gede, skill bencong. tarik ucapan Lo, atau gue pastiin Lo cacat seumur hidup."
Kencangnya tarikan di kerah bajunya membuat Aryo sulit bernapas, ia mengerang menyedihkan." Minta maaf padanya!"
" Aaakkh..."
Wita sudah menangis histeris, dia memohon pada Fena dan Anggara untuk minta anaknya dibebaskan dari orang asing tersebut.
" MINTA MAAF!" bentak Bhumi menggelegar dengan urat menonjol di leher.
" Maa....maa...f..."
" Gak denger gue Lo ngomong apa? ngomong yang jelas, brengs'ek."
" Ma..aaf..a..t...as..per....ka..ta..an ku, Vara..." Bhumi melepas cengkeramannya.
Aryo lekas menghirup oksigen yang dirasa sempat hilang, ia terbatuk-batuk. sesudahnya ia berbaring di aspal.
" Sekarang kalian bisa pergi dari sini." sebenarnya Fena sudah bosan mengucapkan kata-kata itu.
" Tidak bisa, Tan. sebelum Vara mengurus dokumen yang dibakar Adit.
" Tan, saya sudah bayar Vara dengan motor. tentu dia harus ngerjain apa yang saya suruh."
keluarga Shavara terperangah," Itu cuma motor matic, dan kamu bilang dulu adalah hadiah karena mendapat proyek." tegas Fena.
" Bukan itu, Tan. itu bayaran kerja dia yang sudah dihancurkan Adit, jadi saya minta Vara untuk bertanggungjawab. atau saya ambil motornya." kata Aryo yang tebal muka sekali itu.
" HA..HA..HAHAHHAHAHAHAHA...kamu mau perhitungan? okay, ingat, saya dah list semua pengeluaran Shavara untuk perusahaan kamu, tunggu di sini." fena berbalik amsuk ke dalam rumah.
Aryo seketika panik, ingin rasanya dia minta bantuan Anggara atau Wisnu, tetapi tatapan datar terkesan dingin dari membuatnya menelan semuanya.
Tidak berapa lama Fena keluar dengan membawa kertas," Ini..."
" Tan, Tante salah paham. saya tidak bermaksud hitung-hitungan."
" Mbak, Aryo..."
" Diam kamu, Wita. gak becus mendidik anak." hardikan itu membuat nyali Wita menciut.
" Sampai akhir tahun ini saya harap kamu melunasinya." Aryo sontak panik akan ancaman Fena.
Melihat raut nelangsa dari mantannya menimbulkan rasa kasihani dalam hati Shavara, ia tidak bisa dalam situasi begini berulangkali, maka untuk terkahir Kalianyar Shavara memutuskan untuk menolongnya.
" Ma, sudah. lihat Aryo sudah...."
" Sudah apa? terus kamu mau apa?" potong Fena, dia paham kemana arah pembicaraan putrinya yang kelewat baik itu.
" Vara ingin..."
" Kali kamu mau membantu dia, maka mama gak akan segan melarang kamu berhubungan dengan Bhumi lagi." ultimatum Fena.
Benar kan pemikiran dia, Shavara pasti luluh dengan ekspresi yang ditampilkan Aryo.
Sontak baik Bhumi maupun Shavara tersentak, lidahnya kelu tidak lagi sanggup meneruskan perkataannya.
Ia menoleh pada Bhumi yang menatapnya kecewa, seseorang yang selalu mencoba memberi yang terbaik untuknya, kini dia buta sakit hati.
Sedangkan Aryo bagai mendapat angin segar melihat respon mantannya yang melihatnya dengan raut sedih. " Var, kali ini saja tolong, Mas. Mas janji setelah ini mas tidak akan meninggalkan kamu, kita bisa Kemabli seperti semula." bujuk Aryo.
" Kamu masih cinta Mas, kan? masih sayang mas, kan? mas tahu kamu tidak akan begitu mudah lepas dari mas. kamu terlalu mencintai mas, Var."
Ucapan Aryo menelan semua rasa simpati Shavara pad mantannya." Lantas, bagaimana dengan mas? apa mas mencintai ku?"
Bhumi bagai tersambar petir mendengar ucapan Shavara yang terkesan masih mengharapkan mantannya.
Bhumi meraup oksigen, mendadak dadanya sesak.
Bukan hanya Bhumi yang terkejut akan pertanyaan itu, namun keluarganya pun sama terkagetnya, mereka merasa terkecoh dengan sikap Shavara yang terlihat sudah move on.
Wajah Fena sudah memerah menahan amarahnya," Shavara, jangan bodoh. kau tidak mungkin mengharapkan kembali orang yang sudah menghina mu."
__ADS_1
" Tidak, aku tidak akan berani menghina mu, tadi aku hanya cemburu melihat mu bersama lelaki lain. Tentu, mas tentu cinta kamu, Var." ucap Aryo mencoba meyakinkan.
" Vara, kemari sayang aku tahu kamu masih sangat mencintai ku. mas, akan melupakan kelakuan kamu hari ini. mas, akan memaafkan kesalahan kamu yang sudah tidak sopan pada mas."
Bersamaan dengan ocehan Aryo, Aditya datang dengan motor Shavara.
Dirinya bingung mengapa keluarganya berkumpul di depan rumah, kala melihat Aryo, rahangnya mengeras.
" Ngapain Lo kemari? ngancem mau menjarain gue? kapan?" tantang Aditya dengan wajah senganya.
" Syukur kamu datang, Dek. Dek, kasih motor jelek itu sama dia, dan lain kali kamu jangan membela teteh kamu kalau dia kena soal lagi."
Aditya bingung akan amarah mamanya pada kakaknya yang berdiri mematung.
"Teh....kenapa?"
" Dia mau kembali ke mantannya yang tidak punya akhlak itu." beritahu Fena.
Aditya ternganga, ia melirik Bhumi yang diam dengan bahu merosot kalah.
" Teteh jangan b3go." sentak Aditya.
Shavara terjengkit, ia kembali ke alam nyata, ia melihat ke keluarganya yang menatapnya kecewa.
" Ak..aku...."
" Fix sih teteh bo-doh, aku kecewa sama teteh." melihat kegugupan Shavara, Aditya melempar kunci motor itu ke kaki Shavara. ia langsung masuk ke dalam rumah.
" Tan, Om. saya pamit pulang, saya hanya mengantar Shava." pamit Bhumi yang tidak mau berlama-lama di sini. dia tidak mau terlibat dengan drama yang dia tahu sendiri bagaimana endingnya. sangat menyebalkan menjadi pihak terkalahkan.
Bhumi menyalami kedua orang tua Shavara di bawah tatapan culas Aryo yang percaya diri kalau dia selalu menjadi pemenang di hati mantannya yang sebentar lagi akan kembali menjadi kekasihnya.
Bhumi menatap lekat Shavara saat berpapasan dengannya, ia mencoba memberi senyum tulus meski luka di hati enggan hilang.
" Aku pergi, sampai di sini ternyata kebersamaan kita. selamat tinggal, cinta." ucapnya lembut mencoba ikhlas.
Semua orang yang mendengar dapat menangkap luka yang amat kentara dari kalimat tersebut.
Saat Bhumi hendak melangkah ke motornya ada tangan yang mencekal pergelangan tangan kekarnya.
" Kamu terlalu..." ucap Shavara tercekat saking tidak bisa menahan kekecewaan hatinya.
" Aku bahkan belum bicara apa-apa tapi kalian semua sudah menyimpulkan sendiri masing-masing."
" Vara, jangan bertele-tele." peringat Fena.
" Semula aku berniat membantunya, dan mengakhiri semua kerepotan yang dia beri buat kita, tapi segala omong kosong dia yang memojokkan aku..aku tarik kembali niatan itu."
" Vara, kamu tidak bisa begitu." protes Wita.
" Kami sudah putus, Tante. kesalahan dia begitu banyak, tidka hanya selingkuh Tante, saya tidak akan lupa semua penghinaan dia padaku."
" Kembali..." Shavara tersenyum meremehkan, " Aku bahkan tidak pernah mengingat kamu lagi pasca kita putus, jadi bagaimana kamu bisa percaya diri kalau aku ingin kembali padamu sementara aku sudah memiliki kekasih yang sangat baik padaku."
" Kekasih yang sangat mencintaiku." Shavara menatap dalam. Bhumi yang kini menggenggam tangannya sejak awal Shavara berkata, tersenyum lebar.
" Kekasih yang memelukku di saat aku gundah, lelaki yang tidak menghakimi ku, Aryo. dia sangat mencintaiku."
" Bullshit, tidak akan ada orang yang mencintai wanita kaku seperti mu selain aku." ucap Aryo marah, ia merasa dipermainkan.
" Dia tidak kaku, tapi meski demikian aku masih tetap akan mencintainya." balas Bhumi dengan rahang mengeras.
" Aku tidak peduli bagaimana tanggapan dirimu padaku. toh kau bukan seseorang yang berarti lagi untuk ku. jadi pergilah, Aryo. pergi!!!" Sentak Shavara.
" Kau akan menyesal, Bara. menyesal lihatlah, dengan dia kau menunggang motor, selama dengan ku kau Bahakan tidak pernah kepanasan. keputusan yang bo'doh, Vara!" hardik Aryo.
" Stop." ucap Anggara,
dia bosan putrinya sedari tadi dihina.
Aryo menenggak salivanya melihat Anggara berjalan tegak ke arahnya.
PLAK....
Aryo dan Wita terbalik tidak percaya, Anggara yang terkenal sabar bisa melakukan kekerasan terhadap Aryo.
Anggara mencengkeram kerah jaket," Perusahaan tidak seberapa mu itu menyusahkan keluargaku, DNA kau berani menghina putriku di hadapan ku. apa sebaiknya saya hancurkan saja perusahaan mu itu supaya kau tidak lagi mengusik putriku?"
Aryo menggeleng cepat," Ja..jangan..om.. maafkan saya, om. saya tidak akan mengganggu Shavara lagi, saya janji." sumpah Aryo.
" Kalau begitu menyingkirlah dari keluargaku, jaga jarak dengan Bara. hormati dia Setipa kau bertemu dengannya, jika kau tidak melakukannya jangan kan perusahaan mu, perusahaan ayah mu pun mampu ku libas."
" Ba..baik.. Om..." Aryo sudah gemetaran di tangan Anggara yang memiliki mata setajam elang.
Anggara melepas pegangan di jaketnya, Aryo bergegas mentik ibunya pergi menuju mobil.
" Tunggu." interupsi Fena.
" Bawa motor jelek ini, saya gak mau suatu hari nanti anak saya terkena fitnah hanya kerena motor ini."
" Tidak ada tempat, Tan. motor itu biarlah saya beri untuk Vara, bagaimana pun Vara sudah membantu saya walau semua dokumen itu dihancurkan oleh Adit." Tolak Aryo. Aryo berharap dia masih memiliki sedikit kehormatan di depan mereka.
" Pak Mamat."
" Siap, Nya." Satpam terbirit-birit lari menghadap Fena.
" Bawa motor ini ke rumah dia, dan ini uang buat pak Mamat pulang." Fena memberi tiga lembar seratus ribuan.
" Siap, Nya."
Muka Aryo memerah karen malu akan penolakan dari Fena. Diikuti pak Mamat Aryo meninggalkan kediaman Nasution.
" Kalian berdua." tunjuk Anggara pada Bhumi dan Shavara.
" I...iya...Pa." jawab gugup Shavara.
__ADS_1
" Masuk, udah Maghrib. papa ingin mendengar penjelasan kalian dari mana kalian semalam." Anggara merangkul istrinya memasuki rumah.
Shavara menegang di tempat, Bhumi mengupas punggung tangan Shavara dengan jempolnya, Wisnu menyeringai tipis melihat kecemasan adiknya itu.....