
" A, turunin." ucap Shavara malu menyembunyikan wajahnya di dada Bhumi karena godaan para sahabat dan sepupunya serta para undangan yang cukup dekat dengan sang punya hajat.
Saat Bhumi tiba-tiba menggendongnya ala bridal setelah berpamitan hendak istirahat terlebih dahulu sebelum resepsi.
Edo mengulum senyum dengan keberanian putra sulungnya yang terkesan tidak punya malu itu, tetapi orang yang mengetahui peristiwa semalam pasti paham jika sepasang pengantin itu membutuhkan waktu istirahat lebih.
Bhumi terkekeh," A?" tanya Bhumi menahan senyum, ada rasa hangat menghampiri sanubarinya.
Shavara mengangkat wajahnya, " Iya, kenapa? gak suka?"
" Suka, suka banget malah."
" Aku akan memanggil mu Aa."
" Tapi aku orang jawa, sayang."
" Aku juga bakal manggil kamu Mas, kok."
" Kapan?"
" Kalau aku lagi jengkel atau marah sama kamu."
" Kok gitu?" Bhumi tidak menyukai konteks begitu.
" Ya..gimana ya... menurut ku panggilan Aa itu lebih romantis aja gitu."
" Aku terima tanpa protes deh, daripada gak ada panggilan spesialnya."
Sebenarnya menggendong Shavara itu masih berat bagi Bhumi karena tubuhnya yang belum fit, namun hanya ini satu-satunya cara agar mereka bisa pergi untuk beristirahat.
Sungguh dirinya masih terlalu lemah untuk acara berat ini, tapi apalah daya dia tidak bisa lagi menahan dorongan hati ingin segera menghalalkan tunangannya.
Saat kematian yang terasa dekat yang dia rasakan akibat nyeri tadi malam menyadarkan dirinya sebagai manusia penuh salah enggan meninggalkan raga ini dalam balutan dosa.
Namun tiba-tiba saat di anak tangga, penglihatan Bhumi berkunang-kunang. Bhumi berhenti melangkah sejenak, ia menggeleng-gelengkan kepala," Aa, kenapa?"
" Yang, maaf ya..." ucap Bhumi sebelum ia terjatuh, walau demikian tangannya tetap bertahan menjaga tubuh istrinya hingg Shavara jatuh di atas tubuh Bhumi.
Brughhh...
" A..AA..." teriak Shavara panik.
suara benda jatuh, dan teriakan Shavara membaut orang yang masih berkumpul di dalam rumah segera berlarian mengerumuni mereka.
" A,..bangun ... Mama.. Papa..." Isak tangis Shavara.
" Aa..bangun..." Shavara menggoyang-goyangkan badan Bhumi.
" Dek, minggir dulu. ini om Doni mau periksa."Wisnu merangkul Shavara agar menjauh dari Bhumi yang masih tergeletak.
" Na, tolong temani Vara." potong Wisnu pada Berliana.
"Baik, Pak."
¥¥¥¥¥
" Ck,..ck...lemah Lo. belum juga malam pertama udah tepar duluan." ledek Adnan yang berdiri di samping ranjang sambil bersedekap dada menatap remeh Bhumi yang berbaring di kamar Shavara bareng Erlangga.
" Ck, jangan sampe gue ngomong ini salah Lo soal semalam." dengkus Bhumi lemah memijit keningnya.
" ****, sakit banget pala gue, kalian ga ad ayang punya obat apa."
" Udah makan belum?" tanya Erlangga yang mendapat jawaban gelengan kepala dari Bhumi.
" Ngopi?" Bhumi mengangguk.
" Good, ngapain Lo sekarang ngerengek kalau Lo bikin masalah." sahut Erlangga.
" Gue dari pagi ngekhawatirin Shava yang gak angkat telpon gue. Lo paham yang namanya worry sama calon bini gak?" sarkas Bhumi jumawa yang berhasil mendapat delikan sebal dari dua sahabatnya.
Adnan tersenyum smirk, " ga tahu aja Lo...aawwsss..." Erlangga menginjak kaki adnan.
Bhumi menatap mereka berdua yang bertingkah mencurigakan.
" Apa? kalian merahasiakan apa dari gue?"
" Ck, udah jangan banyak curiga, sembuhin aja dulu sakit pala Lo."
" Elang jatuh cinta sama cewek? siapa?"
" Mau angapain Lo? jangan peduliin dia, Lo bukan emaknya."
" Enggak peduli gue, gue cuma bilang kasian aja sama ceweknya. siap-siap sakit hati tu cewek."
" Cerewet Lo. mending Lo tidur. Bentar lagi hajatan Lo dimulai." tukas Erlangga yang mulai tidak anyaman.
" Belum tahu aja dia siapa ceweknya, auto jadi maung dia." gumam Adnan yang terdengar oleh Erlangga yang langsung melotot padanya.
ceklek...
Senja dibantu Mira memasuki kamar dengan membawa nampan yang berisi sarapan dan juga buah-buahan buat Bhumi.
Mata Erlangga tidak lepas dari gadis berkebaya pink soft yang terlihat memukau dimatanya dengan riasan natural ala remaja.
Adnan mengusap kasar wajah Erlangga" Kedip mata Lo, abangnya engeh gak boleh main ke rumahnya lagi Lo." bisik Adnan.
" Mas, makan dulu. kata Mama Fena kalau Mas gak makan, resepsinya gak jadi, terus mas dilarang nemuin mbak Vara selam sebulan, honeymoon-nya juga batal." Senja menaruh nampan di atas nakas.
" Seram amat dek, ancamannya."
" Makanya makan."
" Buat kita mana, dek?" tanya Adnan.
" Ambil sendiri. jangan manja." sembur Mira.
" Busyet tega amat."
" Mas, Kata Tante Fena paling lambat 20 menit dari sekarang ini nampan harus sudah dibawa lagi ke bawah dengan piring kosong atau mbak Vara dibawa pergi."
" Serius?" dua perempuan itu mengangguk mantap.
__ADS_1
" Kita tinggal dulu ya." pamit mereka menutup pintu kamar.
Sontak bhumi makan sarapan dengan tergesa-gesa sampai dia tersedak, mertuanya itu terkenal melaksanakan segala ancamannya.
" Ck,..ck...hari pertama jadi mantu Lo kelihatan ngenes banget, Bhum." Adnan menyodorkan segelas air padanya dengan mimik sok prihatin.
" Diem Lo, Lo bucin dan ampe nikah gue yang ketawa paling gede."
" Idem." timpal Erlangga.
" Apa gue kudu spill siapa yang Elang taksir ya...Lo penasaran gak, Bhum?"
" Enggak tuh, cuma RIP buat ceweknya, banyak-banyakin aja makan ati supaya hatinya gak ilang." sahut Bhumi santai yang mengundang gelak tawa Adnan.
" HAHAHHAHAHAHAHA...Anjir, ini sih penolakan secara lembut kan ya, Lang." sindiran Adnan tidak dihiraukan Bhumi yang pikirannya ke waktu dia makan. sedangkan Erlangga sudah melayangkan sorot laser.
" Btw, gimana nasib temen Lo semalam?"mereka paham Bhumi merujuk pada Kinan.
❤️❤️❤️
Blam...
Lelaki botak dengan seringai mesum melempar ponsel yang dia rebut dari Kinan ke kasur lalu berjalan melambat sambil membuka resleting celana jeansnya.
" Nakal ya berani nelpon orang padahal disuruh diam aja di kasur." lelaki bernama Baron tersebut melempar celananya ke sembarang tempat memperlihatkan boxer ketatnya.
Kinan menggeleng takut." A..ampun . tolong ampuni saya, tolong jangan lagi-lagi..."
" Bukannya Lo suka dimasukin karena itu Lo ngasih obat perangsang ke laki-laki?"
" Ti..tidak ..bukan begitu maksudnya." Kinan tidak mau lagi ditiduri mereka.
Intinya masih kebas dan sakit karena robek, semalaman dia dipaksa melayani mereka bertiga yang berlibido tinggi tanpa jeda.
Bahkan hingga pukul sembilan Kinan masih telanjang di balik selimutnya, dia tidak mampu berjalan.
" Sebutkan berapa yang kalian mau, asal kalian membebaskan saya. saya punya uang untuk membayarnya."
" Ck, hubungan antar lelaki tidak melulu tentang uang, nyonya." Baron menaiki ranjang, merayap mendekat, refleks Kinan menjauh sambil memegang ujung selimutnya.
Ceklek....
aksi Baron terkesan saat Erik memasuki kamar dengan penampilan rapihnya.
Mata Kinan berbinar, melihat suaminya, namun detik kemudian wajahnya pias saat menyadari dirinya tengah bersalah.
" Woy, bro." Baron turun dari ranjang menghampiri Erik lalu bertos ala pria.
" M__Mas__tolong aku___" mohon Kinan ragu-ragu.
" Tanda tangani berkas ini, maka kau bebas." Erik melempar amplop besar ke hadapan Kinan.
Kinan tanpa bertanya dan curiga langsung mengeluarkan isinya lalu menandatangani semuanya.
Erik memeriksa berkas tersebut, dia tersenyum puas." Good. sekarang Lo bisa bawa dia."
" Udah beres ni?" Baron memastikan yang membuat Kinan menatap mereka dengan bingung.
" Beres."
Erik berbalik melangkah hendak meninggalkan kamar hotel," mas,...jangan pergi, kamu janji mau membebaskan aku, jangan ingkar, Mas." pekik Kinan frustasi.
" Dengan ditanda tanganinya berkas ini, kamu menyatakan menceraikan aku, dan aku sudah membebaskan kamu, kamu bukan lagi istriku."
Wajah Kinan pucat pias, " Maasss___kamu gak bisa__"
" Kamu juga menyerahkan hak asuh padaku, dan semua perbuatan hukum yang pernah kamu lakukan tidak berlaku renteng padaku. jadi aku bebas dari konsekuensi baik perdata maupun pidana yang disebabkan oleh mu." sela Erik.
Semalam dia mendapat telpon dari Erlangga yang akan menuntaskan kehidupan Kinan karena mencoba menjebak Bhumi, ditambah dengan informasi dari RaHasiYa, Erik syok mengetahui istrinya maupun keluarganya tengah terbelit hutang akibat gaya hidup mereka.
Cintanya, pengorbanannya tidak dihargai oleh wanita yang sangat dia cintai, hatinya yang retak karena kaburnya Kinan demi mengejar cinta monyetnya dipecahkan berkeping-keping dengan kabar tragedi Bhumi.
Sebenarnya Erik enggan melepas wanita pujaan hatinya itu, namun ancaman RaHasiYa yang akan menghancurkan bisnis pribadinya maupun keluarga besarnya serta diputus kerjasamanya dengan RaHasiYa lah yang akhirnya membuka mata hati Erik.
Kinan menggeleng horor," Mas, kamu tidak bisa menipuku begini, aku hancur kalau kau juga meninggalkanku." lirih Kinan dengan derai airmata.
" Bukan aku, tapi kau yang meninggalkan ku sejak empat bulan yang lalu. kurang apa aku padamu? selama ini aku berikan apa yang kau mau, bahkan aku rela menjadi selingkuhan mu saat kau berpacaran dengan dia."
" Percayalah ketika lelaki bersedia menjadi pilihan nomor dua, dia sedang merendah dirinya demi cintanya. sedalam itu cinta ku padamu, tapi apa balasan mu padaku, kau mempermalukan aku, saat reuni kau secara terang-terangan mengejar dia yang jelas bersama kekasihnya dan menolak mu sementara banyak dari teman mu yang mengetahui kau adalah istriku."
Mata Erik memerah menahan emosi dan air mata yang menumpuk di pelupuknya," Kabar mengenai apa yang kau lakukan semalam membuatku menyerah mempertahankan dirimu, Ki. aku pergi, ini semua demi kebaikan ku dan Langit!"
" Nikmati akibat dari obsesi tol0l mu itu." Erik melanjutkan langkahnya membuka pintu lalu dengan cepat menutupnya.
Dia bersandar pada daun pintu yang tertutup rapat itu, mengigit bibir bawahnya menahan tangis yang hendak menguar keras, disertai air mata yang akhirnya luruh, dia menumbuk-numbuk dadanya yang terasa sesak karena saking sakitnya.
" Kenapa, kenapa kamu tidak cukup dengan hanya cintaku. Dewa tidak pernah mencintai mu, Kinan sayang. tidak pernah!!" rintihnya terdengar menyedihkan.
❤️❤️❤️❤️
Bhumi memilin-milin tangannya dengan gusar saat hendak mengetuk pintu kamar mertuanya dimana istrinya dirias.
Ibu mertuanya sungguh tidak memberikan kemudahan baginya untuk bersama istrinya, beliau memindahkan tempat riasan Shavara yang tadinya di kamarnya pindah ke kamar orang tuanya.
Padahal tubuhnya masih lemah, dan tentu saja dia sembunyikan fakta itu dari pihak istrinya yang selalu mengancam akan memisahkan mereka sejenak sampai doa sembuh.
Tok..tok...
Pintu dibuka dari dalam, Bhumi terpukau menatap sosok cantik yang menggugah hatinya sejak pertemuan pertama,
" Cantiknya..." tanpa sadar Bhumi berucap.
Dua pengantin baru itu saling pandang, seakan waktu terhenti dan sekitarnya berwarna pink dengan bunga-bunga mekar berterbangan di sekeliling mereka.
Duhai pengantin baru ini, membaut iri para kaum jomblo yang menyaksikannya. Shavara menunduk malu karena godaan para sepupunya,, sementara para pria yang berdiri di belakang Bhumi bersiul ramai.
berat " Iya lah cantik, mulus pula. jadi kalau setelah nikah sama Lo dia lecet meski sedikit, gue habisi Lo."
Prang...
Perkataan Wisnu membuat imajinasi Bhumi hancur dan kembali ke dunia nyata dengan sorot dari dua lelaki berstatus kakak dan adik dari istirnya menatap tajam.
__ADS_1
Bhumi menghela napas berat, ia melirik kakak ipar sekaligus sahabatnya dengan sorot malas." Boleh gue gandeng istri tercantik, terjelita, tercinta, terkasih, terlove love sehektar? kita mau ke pelaminan. kalau situ ngiri lamar aja anak orang jangan digantung melulu." sindir Bhumi yang ekor matanya melirik Berliana yang di tempatnya bergerak-gerak gelisah.
" Wwaaaahhh... Aa wisnu udah punya pacar...Uwa .bentar lagi ngebesan." teriak salah satu sepupunya.
" Ck, ni bawa. awas Lo." Wisnu menjauh dari gerombolan para sepupu perempuannya yang berisik.
Bhumi terkekeh, melihat Wisnu TKO." Ayo, sayang kita ke pelaminan.
Digandeng Bhumi, mereka berjalan sambil diarak ramai oleh sanak saudara, pengantin baru itu melangkah menuju pelaminan.
Bhumi dan Shavara ingin menghilang saja karena malu, pasalnya mereka menari-nari dengan gay acak diiringi rebana hasil dari rencana Aditya cs. Para hadirin yang hadir tertawa terhibur.
" A, malu..." bisik Shavara.
" Ikuti aja, tebalin muka aja dulu ya, sayang. kasian Adit udah keluar modal. gak semua pernikahan ada hal memalukan seperti ini." timpal Bhumi.
" Muka kamu masih pucat ini, kita percepat aja ya waktunya." ucap Shavara saat mereka tiba di pelaminan.
" Gak apa-apa, tadi udah cukup kok istirahatnya." Bhumi menggenggam tangan Shavara dengan lembut.
Melalui genggaman itu dia mencoba mensugesti dirinya kalau dia kuat bertahan selama dua jam ke depan.
Akibat kejadian semalam, resepsi dijaga ketat
Dari parkiran mobil, ada orang yang meremas kuat stir mobil memandangi kemeriahan resepsi itu.
" Seharusnya aku yang bersama mu berdiri di pelaminan itu, Vara. bukan orang asing itu."
Dia membuka dashboard, mengerikan sebilah pisau yang bersarung." Kakak mu berusaha mencuri perusahaan yang sudah payah ku bangun, aku pun ingin dia merasakan sakit atas penghinaannya dengan membuat m4ti." monolog Aryo sambil memutar-mutar pisau tersebut.
Dia sembunyikan pisau itu di balik jas-nya saat hendak keluar dari mobil, namun ditengah jalan gerakannya terhenti saat duo Atma Madina, Hartadraja, dan Birawa melewati mobilnya menuju rumah sang punya hajat dengan pengaman yang ketat ala RaHasiYa.
Aryo kembali menutup pintu, mengetuk-ngetuk stir menunggu dalam mobilnya.
Begitu dipastikan rombongan petinggi RaHasiYa itu telah pulang dia keluar dari mobil, memperbaiki letak pisau, lalu merapihkan jasnya.
Dengan gestur rumah dan sopan Aryo bergabung dengan para undangan mengantri menyalami raja dan ratu sehari..
Bhumi menahan nyeri di kepalanya yang kain berdentum keras, demam di tubuhnya kian naik, Shavara yang berdiri di sampingnya melihat cemas suaminya yang terlihat pucat.
" A, duduk dulu yuk, kamu kelihatan kecapekan." ajak Shavara mumpung tamu belum ada mendatangi mereka.
Bhumi melihat jam tangannya." Nanggung setengah jam lagi."
" Jangan dipaksa, muka kamu pucat banget nanti disangkanya kamu dipaksa nikah lagi."
" Hussh, kalau ngomong jangan ngawur."
" Makanya kita istirahat dulu. aku minta ke Mama kita off dulu nerima tamu ya?!"
" Jangan, gak enak. tamu-tamu ini kelihatan orang-orang penting."
" Daripada kamu sakit."
" Aku gak sakit sayang, cuma memang sedikit capek."
" Kalian lagi ngobrolin apa sih, sampe tamu dianggurin?" tegur Fena saat kolega suaminya berdiri di depan mereka tanpa disambut pengantinnya.
" Eeh, maf ya, Om. harap maklum, dunia seperti milik kita berdua." seloroh Shavara tidak enak hati. memasang senyum manisnya.
Namun senyum itu pudar saat netranya menangkap sosok orang yang paling dihindari, Bhumi menoleh pada arah yang membuat senyum manis istrinya menghilang, ia pun berdiri siaga memepet tubuh istrinya.
Satu tangannya sudah mengalung di pinggang istrinya, ia bisa melihat ibu mertuanya memasang wajah dingin saat Aryo menyalaminya.
Undangan yang sebelumnya tahu kisah Aryo dan Shavara memperhatikan mereka dengan cemas, termasuk Wisnu yang berjalan ke arah mereka.
" Ma, maafkan aku atas kekhilafan ku." ucap Aryo mencium tangan Fena.
Fena tersenyum," Gak apa-apa. Tante justru berterima kasih kamu sudah bertindak b0doh hingga Vara bisa berjodoh dengan lelaki yang lebih baik dari kamu."
Aryo tersenyum kecut menanggapi ucapan kasar itu.
Ia memilih melanjutkan ramah tamahnya pada sang mantan." aku pikir waktu kamu minta kita ketemuan kamu mau balikan sama aku, ternyata..."
" Kamu ketemuan sama dia?" tanya Bhumi menatap Shavara meminta penjelasan.
" Eeeh..Bu..bukan begitu..." gugup Shavara.
Aryo yang paham dengan situasi berinisiatif memanas memanfaatkan situasi.
" Iya, Vara-nya aku men-chat aku minta ketemuan, aku senang banget kamu belum melupakan aku, aku sih tahu kamu gak bakalan mudah menghilangkan rasa kamu ke aku."
Pegangan Bhumi meremas pinggang Shavara, Shavara menoleh pada Bhumi yang tampak makin pucat.
" Eeh...maaf ya Ar....aku saat itu..." tatapan intens Bhumi membuat Shavara merasa terintimidasi.
" Ada apa?" Wisnu berdiri di antara mereka.
Raut Aryo berubah dingin dan mengepal tangannya, saat melihat Wisnu yang terlihat santai tanpa merasa berdosa, ia tersenyum smirk dengan tangan mengarah ke punggung.
" Adik kamu menghubungi kamu minta ketemuan. kamu yakin pernikahan dia yang mau pernikahan ini, bukan kepaksa, kakak ipar?" sindir Aryo.
Wisnu menatap bertanya pada Shavara yang menggeleng cepat.
" I..itu salah salah paham, adek chat dia karena...
Brugh...
Bhumi jatuh duduk ke atas kursi dengan tak sadarkan diri.
Seketika suasana ribut, berteriak ketakutan meski yang hadir di dominasi kerabat dan tetangga karena para undangan yang sudah pulang.
Shavara terkejut, ia terduduk di sampingnya sambil menangis, wisnu mendorong Aryo menjauhi mereka, Adnan, dan Erlangga segera berlari membantu Wisnu.
" Kita bawa aja ke rumah sakit." seru Adnan yang diangguki semuanya.
" Da..darah..." lirih Shavara...
Jangan lupa subscribes, dan banjiri komen serta likenya... dengan vibes positif ya!!!!
See you...baca juga cerita aku yang lain!!!
__ADS_1