Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
62 Ujian sebelum Pernikahan.


__ADS_3

Pagi buta Edo sudah duduk bersandar memegang stir sambil mengamati rumah yang pernah dia tinggali dulu, matanya menatap sendu rumah dengan sejuta kenangan yang masih jelas tersimpan rapih di ingatannya.


Semalam dia keluar mengikuti Bian yang keluar rumah dengan membawa ransel besar di punggungnya.


Dadanya terasa sesak saat menyaksikan langsung buan memasuki rumah yang dibukakan rianti dengan seribu omelan berakhir dengan jeweran di telinga Bian.


Alih-alih marah atau protes yang terdengar malah tawa senang Bian yang dijewer meremas kuat satu tempat di hatinya yang terasa nyeri. apa pernah dia maupun Desty membukakan pintu kala Bian pulang? tentu jawabannya tidak pernah! bahkan tak jarang mereka tidak tahu apakah ada hari-hari Bian pulang atau tidak ke rumah.


Matanya menyorot nyalang saat melihat Fathan yang keluar dari rumah terhalang satu rumah dari rumah mantan istrinya berjalan menuju rumah itu.


Dirinya tertegun kala pintu itu dibukakan Senja yang menyambutnya hangat dengan senyum lebar, sorot matanya menyimpan iri seiring kian sesak di dadanya kala Fathan mengusap pucuk kepala Senja.


Edo memalingkan wajah, ia tak sanggup melihat adegan hangat bagai keluarga tersebut, namun panas di pelupuk matanya tidak bisa menyembunyikan nyeri di hatinya.


Edo sampai meremas kemeja bagian dadanya guna menekan apa yang dia rasakan." Yaaa...tuhannn...ini sangat menyakitkan." lirihnya dibarengi turunnya air mata.


" Dia..anakku...demi tuhan dia anakku...ku mohon ampuni aku tuhannnn..." Edo memukul-mukul dadanya karena rasa sakit di hatinya yang kian menusuk.


" Tuhann..beri aku kesempatan untuk mengenal dia, untuk memperbaiki apa yang sudah ku rusak."rintihnya sangat memilukan.


Dddrttt...drrrt.....


Edo mengabaikan panggilan dari id caller Siena untuk kesekian kalinya sejak semalam, dia muak dengan dua saudara itu, dan tak hanya itu dia merasa dirinya orang paling bod0h selam belasan tahun memelihara orang-orang yang menghancurkan dirinya.


Setelah menimbang, Edo membuka pintu mobil, memperbaiki penampilannya, lalu mengambil langkah ke rumah mantan istrinya.


Ketiganya tertegun saling menatap dengan sorot berbeda, Fathan dengan kekagetannya, Edo dengan penyesalannya, dan rianti dengan kemarahan sekaligus kekecewaannya.


" RI..."


" Siapa yang mengudang mu kemari?" Suara bariton dari arah dalam rumah menambah suhu ruangan lebih tingo dan menegang.


" Dewaaa..." panggil pelan Edo.


" Jangan pernah kau sebut nama itu." desis Bhumi.


BUGH...BUGH...BUGH....


Mengambil langkah lebar dan cepat Bhumi menarik kerah jas hitam lalu melayangkan pukulan yang tetap tangan lainnya tidak melepaskan cengkraman di kerja tersebut hingga pukul demi pukulan terus menyusul.


" Namu itu telah mati karena kau telah membvnvh jiwanya, nama itu telah hancur saat kau meninggalkan rumah ini."


" Kyaaaaa....Mas...Bhumi..." rianti menjerit ketakutan ditambah pekikan ibu-ibu lainnya.


" Bhumiii,....." Fathan memegangi Bhumi yang akhirnya sia-sia saja.


Maka Fathan meminta bantuan ada para ibu untuk untuk memanggil lelaki dewasa guna membantunya.


Dari lantai dua penasaran dengan teriakan dari bawah Senja turun, dan langkahnya terhenti di tengah anak tangga saat melihat Kakaknya tengah mengamuk, dengan kaki gemetar, Senja berbalik arah ke atas kembali ke kamaranya untuk menelpon Adnan.


" Angkat, bang. kumohon angkat, bang kalau Abang angkat nomor ini aku berjanji akan selalu menuruti maunya Abang meski itu erorr." gumam Senja sambil mengigit-gigiti kukunya.


" Hallo." sapa suara khas bangun tidur dari sebrang saluran.


" Bang ke rumah, mas Bhumi lagi ngehajar papanya kak Bian."


" Apa? serius?"


" Abang, jangan banyak gimmick, cepetan kemari. aku tutup ya."


Setelah menelpon Adnan, Senja pun menelpon Fena yang selalu melindungi ibunya.


" Assalamualaikum."


" Wa'alykumsalam. Tante, maaf mengganggu, tapi di bawah ada papanya Kak Bian yah sedang diamuk massa Bhumi, Mama nangis histeris, Tan." ucap Senja panik.


" Tante , ke sana. akmu jangan jauh jauh dari ibu kamu."


Klik...


Senja memandangi ponselnya yang langsung di putus Fena setelah sadar dia bergegas berlari ke kamar Bian.


Bian duduk di pinggir ranjang menatap kosong jendela yang sudah menampilkan langit bercahaya kebiruan.


Helaan berat napas disertai raut menderita tertampak jelas di wajahnya sebagi bentuk penyesalannya meminta pengertian kakak tirinya atas perasaannya.


Taruhan untuk memilih antara rasa iba pada Mama-nya saat perjalanan pulang dengan keluarga yang baru dia miliki, begitu menyiksanya.


" Lo tol0l, Bian. t*lol pake id1ot. Bahkan Lo enggak ngerasa rasa kasihan ini bukan bentuk pengabdian pada orang tua tapi seenak jidat Lo minta bang Bhumi memahaminya ingin membalas jasa pada wanita itu!" Bian memukul-mukul kepalanya


" HAHAHHAHAHAHAHA, ****, damn it, selaman gue nyari alasan yang gue bisa berbaik hati padanya, tapi gak bisa nemuin satu pun." sarkasnya pilu.


" Dan karena kecerobohan gue, gue terancam kehilangan keluarga gue....hiks....gue gak sanggup sendiri lagi setelah gue ngerasain bagian dari keluarga." Bian siah bermonolog mencari pembenaran atas segala pemikirannya dengan derai air mata yang lagi-lagi mengalir.


Riau ribut dari bawah Bian abaikan, dia tidak punya celah di dirinya untuk mengurusi urusan orang lain.


Tok tok tok...


Sekali diabaikan.


Tok tok tok


ketikan ini mulai menjaga gedoran.


dhor...dhor...dhor...


Gedoran cepat yang mampu menggoyangkan dinding kamar memaksa Bian membuka pintu.


" Budeg Lo? adaa papa Lo di bawah. kalau Lo gak turun sekarang mungkin sudah mati di tangan mas Bhumi." semprot Senja


Bian tertegun, lalu tergesa-gesa menuruni anak tangga melewati Senja, lalu riuh ketakutan dan panik dari tetangga yang sedang membantu ibu memenuhi ruang tamu.


Edo terkapar lemas di ambang pintu dengan lebam dan luka yang menghiasi tubuhnya, tidak jauh darinya Bhumi tengah meronta yang dipegang beberapa lelaki diantaranya Adnan dan Erlangga yang ditelpon Adnan.


Buru-buru Bian berlari ke tengah diantara mereka," Pa." Bian sungguh tidak tega dengan kondisi ayahnya yang babak belur.


" Bawa bokap Lo pergi dari sini sekalian sama diri lo."


Bian menoleh pada kakaknya yang teramat dia sayang." Bang, jangan begini. gak mau gue keluar dari sini."


" KELUAR!!! HIDUP KAMI AMAN DAN NYAMAN SEBELUM LO DATANG, GUE GAK SUDI NAMPUNG ORANG YANG PEDULI PADA WANITA IBLIS ITU WALAU SEDIKIT! PERGI!!!"


" Bang, aku mohon jangan usir aku. kalau kamu gak punya kalian aku gak akan bisa bertahan lagi."

__ADS_1


Saat Bhumi hendak bicara, Fathan menutup mulutnya," Jangan bicara yang akan kau selalu kelak." ucap tenang Fathan menatap manik Bhumi.


" Di sini terlalu banyak orang, kita pindah saja ke rumah saya."


" Tidak ada yang perlu dibicarakan, hanya perlu mereka tinggalkan rumah ini dan jangan kembali lagi." sinis Bhumi.


" Bhum, kita berbeda dari mereka. menyakiti bukan keahlian kita."


Edo yang melihat bagaimana perkataan menohok dari orang yang dulu dia anggap rival mempengaruhi perubahan emosi putranya semakin membuat dirinya merasa seperti pecundang.


❤️❤️❤️❤️


" Mas, tolong kursi itu di tempatkan di sini."


" Mbak, bunganya aku pesan yang putih, bukan warna labil putih bukan krem bukan. ganti, jangan mengecewakan kami."


Fena sejak matahari terbit suda wara-wiri keluar dan dalam rumah, memerintah, menegur, bahkan protes pada vendor yang dinilainya kurang memuaskan, meski pernikahan diselenggarakan secara sederhana, tetapi tetap butuh persiapan matang mengingat tamu yang undang suaminya bukan kaleng-kaleng.


" Nya, ada telpon." seorang ART menghampirinya.


" Dari?"


" Senja."


Fena tidak buang waktu berjalan ke dalam rumah, namun tidak lama dirinya berteriak memanggil suaminya yang membuat kerabat terheran-heran.


" Ada apa, Ma?" bukan hanya yang menghampirinya, namun juga Wisnu dan yang lain yang berkumpul di teras samping.


" Kita harus ke rumah Rianti, si Edo nyari masalah. sumpah ya, kali ini kalau dia bersalah papa jangan cegah aku buat hajar dia."


" Wisnu, kamu ikut. Adit, coba telpon Bian dia dimana."


" Aku juga ikut." interupsi Shavara dengan raut khawatirnya.


" Teh, jangan


kamu calon penganten gak boleh keluyuran." ujar adik dari Mamanya.


" Benar kata Tante kamu, kamu tunggu kabar aja di sini." seru Fena.


" Tapi..."


" Teh, bisa ya diajak kerjasamanya." Aditya merangkul Shavara dengan satu tangan menggamit ponselnya masih menunggu jawaban dari Bian.


" Ajak aja, Ma. aku yakin Bhumi sekarang lagi marah-marahnya, Bhumi hanya luluh sama dia doang."


" Ya udah cepetan atuh ke mobil sekarang."


Di sopiri Wisnu mereka menuju kediaman Fathan, Aditya lantas menelpon Aira dan para sahabatnya dia pikir kesemrawutan tali kasih keluarga sahabatnya sudah waktunya diluruskan.


Setiba di sana Aira sudah menangis yang sedang ditenangkan oleh Leo, dan para sahabatnya yang menunggu di depan rumah Fathan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Na, apa Mas kamu sudah berhasil dihubungi?" rintih Desty, dia merasa tubuhnya terpisah-pisah.


" Belum, mbak. di Bian juga ditelpon gak diangkat-angkat. ini sebenarnya ada apa sih, mbak? mengapa mas Edo yang biasa lembut sama mbak bisa sebrutal ini?" Siena berasa hampir serangan jantung kala asisten rumah menelpon dirinya untuk mendampingi kakaknya yang dipukul suaminya.


Desty diam bergeming, matanya menerawang pada kejadian semalam, perihal identitas Bian. kegelisahan merayapi sanubarinya.


" Tidak, tidak bisa. aku tidak bisa dibuang setelah apa yang ku dapatkan." sebagaimana mantan sekretarisnya Desty paham, Edo tidak akan segan-segan melempar bahkan membvnvhnya jika dia bersalah.


" Aku harus membuat Bian memiliki seluruh harta Mahendra, meski kita dibuang setidaknya bisa hidup sejahtera." gumam Desty.


Siena menatap heran Desty yang sejak sadarnya terus meracau," mbak, mbak gak gila kan dari tadi ngomong sendiri?" pertanyaan yang tidak digubris Desty karena sibuk dengan rencananya.


Kesal dirinya tidak ditanggapi, Siena memilih pergi keluar dari ruangan yang berisi dua belas ranjang.


❤️❤️❤️❤️❤️


Merendahkan harga diri, dan menurunkan ego, kini Edo duduk bersimpuh di depan Rianti yang menangis dalam pelukan Bhumi yang masih menatapnya nyalang penuh kebencian.


Edo menceritakan semua dari awal sampai mengapa sampai dia bisa meninggalkan istri dan anaknya.


Edo yang terlalu percaya kepada Desty yang sudah dia anggap orang terdekat, mengatakan jika sehari-harinya Rianti menghabiskan waktu dengan Fathan dengan cara tidak wajar.


" Ribuan kali aku bilang Fathan itu sahabat kecil aku, orang tua ku sudah menganggapnya anaknya sendiri, dan Fathan lah yang menemaninya kala aku di posisi rentan saat ibu dan ayah meninggal, bukan kamu. di ada lebih dulu sebelum kamu hadir dalam hidupku." ucap kesal Rianti.


" Dia menyukai mu, aku tahu itu."


" Bukan berarti kami berselingkuh, sampai aku hamil sesuai tuduhan mu."


" Masih ku ingat dengan telunjuk mu itu kau menunjuk-nunjuk ku berzina, menyebut anak yang ku kandung anak haram. ironi-nya dibelakang ku kau yang berselingkuh, sekretaris mu hamil."


" Itu karena aku marah dan hanya ingin membalas atas apa yang kau lakukan."


" Pembelaan! kenapa kamu gak bertanya padaku perihal foto-foto yang kau dapatkan. aku main tuding hingga mentalak ku."


" Aku bersalah, berdosa besar tidak mempercayai mu, berdosa besar terpedaya oleh dia."


" Kenapa Mas baru percaya sekarang? aku dulu juga bilang kalau aku gak selingkuh dengan Fathan, tapi mas lebih mempercayai wanita jahat itu. kalau sudah hancur begini paa yang akan dilakukan masa untuk memperbaikinya?" pekik Rianti.


" Bagaimana rasanya dipecundangi oleh gvndikmu?"sinis Rianti.


Hancur, sudah tidak ada lagi kebanggaan yang bisa Edo tunjukan, dia memang salah, dia memang kalah, kalah oleh ego dan kesombongannya.


" Ck, semua karena uang, wanita miskin gak bervalue seperti dia menargetkan lelaki berduit bermental rendah diri kayak dia."


" Ck...ck..ck...kasian deh Lo. anak secantik Senja Lo buang untuk wanita rendah macam dia." cibiran Fena itu menghancur leburkan identitas Edo dari segala arah.


" RI, beri mas kesempatan menyayangi kalian lagi untuk mengganti waktu yang sudah terbuang. Mas, mohon, beri masa kesempatan itu?"


" Kesempatan apa yang kamu maksud, Edo? kembali rujuk dengan Rianti? setelah kamu hampir membuatnya gila? nonsens." ucap Fena sinis.


" Ma, jangan..."


" Aku berhak mengatakan ini, Pa. papa menyaksikan sendiri bagaimana frustasinya Riri saat. ditinggal suami dalam keadaan hamil tanpa uang sepeser pun. sekarang setelah Riri menjadikan anak-anaknya hebat dan sukses, seenak jidat dia minta diberi kesempatan."


" Apapun yang terjadi suami seharusnya lebih percaya pada istrinya ketimbang wanita murahan itu. kalau tu perempuan ketemu dengan saya, habis tu cewek."


" Jangan mau, Ri. jangan mau dirujuk. daripada kembali nikah sama orang bego macam dia, mending kamu nikah sama Fathan, bujang lapuk ini rela gak nikah karena cintanya sama kamu."


" Kak Fena..." Fathan merasa bukan waktunya membicarakan jodoh meski tidak dipungkiri dia pun khawatir Rianti kembali pada Edo.

__ADS_1


" Mas, hidupku sudah baik-baik saja dengan luka yang kau torehkan, kenyataan yang aku dapati sekarang dan menjadi luka mu itu bukan urusan ku."


" Tapi akuuu...ingin mengenal anakku." mata Edo menatap Senja, dan hatinya nyeri saat Senja melengos darinya.


" Lagian siapa juga yang mau punya ayah macam dia, yang tega menolak anak yang dikandung istri malah lebih mengakui anak Gundiknya dengan dalih bertanggung jawab. situ waras?" Ucapan telak dan sadis itu berasal dari Senja yang mengagetkan semua orang.


" Ja..." lirih Bian.


" Kenyataanya begitu, kalau bukan karena para tetangga yang rela patungan membiayai persalinan ibu yang sangat sulit hingga harus cesar, kalau bukan kebaikan dari mama Bang Adnan aku gak bakalan masih bernyawa sampai saat ini."


" Dia, lelaki yang kau sebut Papa, menghina ibu ku, melukai mental kakak ku, itu semua butanya mata hati dia demi wanita yang kau sebut Mama."


" Bukan hanya keluarga mu yang terluka, dia juga." Aira tidak terima dengan perkataan Senja.


" Aira..." Bian memberi kode menggeleng.


" Om Edo memang bersalah, tapi jangan menghakimi Kak Bian. aku saksinya betapa hancurnya kak Bian yang tidak dianggap oleh ayahnya, yang ibunya hanya sibuk dengan dirinya. aku yang menjadi saksi kak Bian hampir bvnvh diri lewat narkob4." ucap Aira serak disela tangisannya.


" Aku yang membujuknya agar mendekati pada Dewa, aku akan melakukan apapun agar kak Bian punya keluarga, karena hanya itu yang dia inginkan.


" Tante, pak Dewa, Senja. luarannya Kak Bian memang sangar, tapi dalemannyA lembut bagai silk puding. Tampangnya bagai superhero, tapi hatinya terpengarah bagai korban penyiksaan, penyiksaan dari masa lalunya. percayalah apa kata-kata ku."


" Kalau kalian masih meragukan aku, pinta lah apa saja, aku yakin dia akan mengabulkannya." Aira sudah putus asa membujuk.


Suasana hening, setelah ucapnya panjang Aira.


Bian yang duduk di sebelahnya, menarik lalu menggenggam tangan Aira.


Gadis bertubuh mungil ini memang paling terdepan membelanya.


" Apa saja?" tantangan itu datang dari Senja.


" I..iya, apa saja." cuap ragu Aira yang di pandangan Bian lucu.


" Sepeti kata Tante Fena wanita itu mendekati om bule itu karena harta." Senja Bahakan tidak sudi memberi panggilan untuk edo.


" Aku ingin semua harta dia dialihkan atas nama ku. toh itu memang hak ku bukan kak Bian, suka atau tidak disukai oleh bule itu maupun wanita, darah lelaki itu yang mengalir di tubuhku, bukan di kak Bian."


Hentakan napas memenuhi ruangan, hingga terdengar suara tepukan.


Prok..prok...prok...


" Bagus, Senja. good job. gap percuma Tante tatar kamu menjadi wanita egois untuk orang-orang yang menyakitimu."


" Abaikan kebaikan pada orang yang buta akan kebenaran, hiraukan cacian yang terpenting kita menang." Kata Fena sambil mengacung-acungkan kedua jempolnya.


" Tapi Mas tidak setuju. berapa kali Mas bilang, kita tidak butuh harta dia!" tekan Bhumi tidak suka.


" Senja gak bilang kita butuh, tapi untuk mengalahkan wanita iblis itu dan rasa sakit yang aku rasakan saat aku mengetahui kalau aku tidak diinginkan, maka pembalasanku adalah merebut apa yang dia sukai. bagaimana tawaran ku, Aira? apa Bian mu berani memberikan apa yang dia punya?"


Aira melirik ragu pada Bian, ia meringis minta maaf. kini otaknya berputar mencari alasan untuk menolak tantangan itu.


Bian dan para sahabatnya yang tahu perihal niat peralihan aset pada Senja hanya mengulum senyum belaka.


" Ja, i...ini aku..bukan mau nolak, cuma...kaalu seluruh aset dilimpahkan ke kamu, kak Bian makan apa? ngisi bensinnya pake apa? sisain dikit boleh?"


Para sahabat Bian menepuk jidat tidak habis pikir dengan Aira.


" Ra, Lo ngurus amat sama aset ini, om Edo aja yang punyanya santai." ucap Aditya.


" Dih, jangan berlaga gak tahu ya kalau kekayaan om Edo semuanya sudah beralih ke kak Bian."


" terus nasib om Edo gimana? Lo jangan cuma mikirin Bian doang dong."


Kini tatapan Aira beralih pada Bhumi," pak Dewa, memang saya paham banget bapak benci banget sama om Edo, tapi ikhlaskan ya ngasih dikit buat kak Bian?"


Bhumi merotasikan bola matanya malas," Saya gak ngurus soal ini, saya bahkan gak peduli."


" Oke, Jadi Senja.."


" kamu tahu akan Bian tinggal bersama kami,soal makan dia akan makanan apa yang kami makan. soal bensin, aku bakal ngasih uang bensin versi motor matic, gak motor raksasa gak Guan kayak sekarang itu." sela Senja.


" Mana bisa..di udah oke banget sam motor ini."


" Ya sudah, ternyata Bian-kamu memang agak sekeren yang kamu bicarakan."


" Aku setuju. selama aku masih bisa memiliki kalian aku setuju."


" Oke, deal." senja yang menatap datar Bian bersalaman dengan baik Ayng tersenyum sumringah sambil melirik Bhumi yang menatapnya dingin.


Lagi-lagi rasa nyeri dirasakan Edo, begini rasanya menjadi orang yang tidak dianggap.


" Apa itu berarti Papa diberi kesempatan juga?" Edo menatap Senja penuh harap.


" Papa? aku gak pernah menyinggung hal itu bukan? dulu, aku ingin sekali kau dagang dan menunjukan diri sebagai Papa ku, tapi sekarang....aku sudah punya ayah Fathan. aku tidak butuh kamu." ucap Senja sinis.


Deg...


terbuang..kini Edo terbuang..mata Edo memerah saking tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya.


"Ja,...papa mohon..izinkan papa..."


" Urusan ini sudah selesai, kita kembali ke urusan masing-masing." Bhumi beranjak, dia tidak sudi disuguhkan lagi drama picisan.


Saat di depan pintu, Shavara yang selama perdebatan duduk di teras, setia mendengarkan. ia mengulurkan tangan pada Bhumi, menggenggamnya erat.


" Calon suami aku, the best. sekarang marah, tapi jangan lebih lama lagi ya, terlalu lama memupuk rasa gak menyenangkan akan lebih membuat mu menderita."


" Aku punya kamu kan?" ada rasa takut kekasihnya pergi karena persoalan keluarganya.


" Setelah ijab Qabul, kita saling mendukung, hmm."


Bhumi memeluk erat Shavara, mengecup pucuk kepalnya lama dan khidmat. tanpa mereka sadari aksi keduanya ditonton yang lain di dalam ruangan.


" Kalau kau menyayangi anak mu, jangan aku ganggu kami." ucap Rianti.


" Maaf, aku tidak bisa mengikuti perkataan mu. aku rela kehilangan harta, tapi aku tidak mau menjadi ayah yang gagal lagi." Edo memandang Senja dan Bian secara bersamaan.


" Senja lebih membutuhkan Fathan daripada kamu."


" Menjadi cadangan dalam peran ayah lebih baik bagiku daripada aku kehilangan dia lagi."


" Ma, aku lebih setuju mama menikah dengan ayah Fathan daripada dengan dia!"....

__ADS_1


__ADS_2