Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
63.


__ADS_3

" Aku gak turun ya, Pa." Bian memarkirkan mobil di parkiran rumah sakit, Edo hendak menjenguk Desty.


" Kamu beneran gak mau nengokin Mama?"


Bian menggeleng," selama aku berantem sama bang Bhumi karena merasa iba terhadap kondisi Mama, aku gak akan menjenguk Mama. Dia mengusirku, aku berasa hancur saat itu juga. aku gak mau ngambil resiko walupun kecil."


Edo mengangguk paham, ia tersenyum kecut." mereka baik padamu?"


Bian mengangguk," setidaknya aku dianggap ada."


Edo memalingkan wajah merasa sakit, " Apa Aira selalu begitu? ofensif, Papa sampe kaget."


Bian terkekeh," kalau bang Bhumi, tangan kanan ku, maka Aira adalah tangan kiri ku. aku gak bisa kehilangan keduanya."


" Tapi kamu bisa kehilangan kami." nada sedih dari Edo yang membuat Bian bergeming dalam tempatnya tanpa meespon apapun.


Dia tidak tega menambah luka lagi untuk Papa.


" Papa jangan ganggu pernikahan bang Bhumi."


" Papa hanya ingin melihatnya walau dari jarak jauh tidak mengapa."


Bian mengerang kesal," oouhh came on, Pa. jangan mancing buat sakit hati lagi."


" Yan, Papa sudah menjadi orang berdosa dan bodoh selama ini, sakit hati sudah siap Papa tanggung."


" Aku yang gak tega lihat Papa menderita. Pa, jangan sakiti diri Papa."


" Setelah tujuh belas tahun, ini kali pertama Papa melihat Dewa, demi apapun, papa rela tersakiti asal masih bisa melihat kalian."


Bian mengigit bibir dalamnya," Aku gak benci Papa, hanya kecewa saja."


" Maaf."


" Sudah lah, toh sudah masa lalu."


" Hmm. Papa turun."


" Aku gak mau Mama pulang ke rumah." ucapan Bian mengehentikan gerakan Edo membuka pintu mobil.


" Yan,..."


" Apa Papa masih mau tetap bersama Mama setelah semuanya terbongkar?"


" Tidak, tapi kalau langsung mengusir dia, penderitaannya tidak akan terlalu menyakitkan."


" Apa yang akan papa lakukan?"


" Papa akan tinggal di apart, dia tidak tahu soal apartemen ini. Sedangkan dia akan tetap tinggal di sana dan harus doa yang membuat tagihannya."


" Oooh, terserahlah."


Setelah memastikan Edo masuk ke dalam rumah sakit, Bian melajukan mobilnya kembali ke rumah, dia harus meluruskan perselisihannya dengan sang Abang.


❤️❤️❤️❤️❤️


Bhumi membaringkan tubuh di kamarnya mengabaikan segala kebisingan tawa dan teriakan dari luar kamarnya.


Percakapan dengan ayahnya beberapa saat lalu lah yang mengganggunya kini.


Beberapa saat sebelum Edo ke rumah sakit.


Tok tok tok


ceklek.


Bhumi terkejut melihat ayahnya," ada apa?"


" Papa ingin bicara, boleh?"


" Soal?"


Edo menarik lalu menghembuskan napasnya berharap sesak di dadanya berkurang.


" Pernikahan kamu."


Tidak ada timpalan dari Bhumi, Edo melanjutkan," Izinkan Papa menghadiri pernikahan kamu."


" Aku sudah ada om Fathan."


Jleb.


Edo merasa ada sebilah pisau yang menusuk langsung ke jantungnya, nyeri itu sangat terasa. tangan Edo mengepal sampai ruas jarinya memutih. ia hanya bisa tersenyum kecut.


" Tapi Papa sangat ingin menyaksikan pernikahan kamu, Wa."


" Bisa jangan sebut nama itu? itu hanya mengingatkan saya pada kejadian hari itu."


Edo mengangguk," Maaf."


" Sudah kan bicaranya?"


" Son, please, izinkan Papa menghadiri pernikahan kamu, dari jarak jauh pun gak masalah." bujuk Edo, walau dengan berat hati memanggil putra kesayangannya dengan sebutan umum.

__ADS_1


Bhumi diam memperhatikan edo, setelah menimbang ia berucap, " Ceritakan kenapa kau begitu mencintai wanita busuk itu dan rela meninggalkan kami."


Edo mengerang, ia tidak sudi mengingat kejadian dulu yang merupakan awal dari kebejatannya.


" Kita ngobrol di dalam saja, ya."


Bhumi menutup pintu kamarnya, lalu berjalan ke arah sofa yang terdapat di ruang tengah antar kamar." Kita duduk aja di sini."


Lagi-lagi Edo hanya bisa tersenyum kecut, walau begitu dia mengikuti langkah Bhumi.


" Saat itu malam dengan guyuran hujan lebat, karena jarak pandang yang terbatas, Papa menabrak seorang gadis kecil yang ternyata adiknya dia. sebagi bentuk tanggung jawab Papa bawa mereka ke rumah sakit," Edo menarik napas dalam.


" Tanpa diminta, sambil menunggu adiknya yang dirawat dia bercerita tentang penderitaannya, papa pun menyewakan tempat tinggal karena di belum memilikinya setelah diusir oleh kedua orang tuanya yang melarang mereka pulang sebelum mendapat uang untuk membayar hutang-hutang mereka."


" Ck, keciri banget dramanya, dan kau tertipu cerita picisan itu? come on, saya lihat dia, saya yakin itu karena tubuh semoknya." sinis Bhumi.


Edo tida menggubris kesinisan putranya." Papa angkat dia jadi sekretaris.."


" Sebagai bentuk tanggung jawab dan kemanusiaan."


Dengan berat hati Edo mengangguk mengakui." Dia cekatan, juga berwawasan luas, karenanya kerjaan Papa sangat terbantu, dan kita semakin dekat "


" Kau sering menghabiskan waktu bersamanya dengan dalih lembur dan kerja keluar kota. saya masih mengingat itu, tidak ada lagi waktu untukku, bahkan sekedar untuk bermain sebelum berangkat kerja, dia berani menyusul mu ke rumah dengan alasan rapat atau bisa ketinggalan pesawat."


Mata Bhumi menerawang ke masa lalu dimana dia mulai kehilangan sosok ayah, dan berharap paman ramahnya, Fathan. datang dan menghiburnya seperti biasa, namun itu pun tidak dia dapatkan itu awal dari kesepian dan kekecewaannya, hatinya rusak.


" Maaf."


" It's okay, itu cuma masa lalu, seterusnya bisa saya tebak, karena masa-masa itu aku bahkan hampir lupa wajah mu. dua tahun kau bermain belakang dengannya."


Edo memandang sendu Bhumi," bagaimana..."


" Karena aku menghitung di kalender setiap saat kau tidak bisa pulang,


setipa itu tiba aku patah hati, dan lama-kelamaan menjadi remuk."


" Saat wanita itu datang bersama perut besarnya, dan dengan berbangga diri menyatakan dia hamil anak mu lalu menghina dan mengurus Mama, saat itu aku murka,, dan diriku kebas rasa begitu kau sampai rumah kau membelanya lalu memfitnah ibu yang mengandung anak haram."


Bhumi cengengesan merendahkan," ....Anak haram...masih aku ingat sebutan itu untuk anak yang dikandung istrimu, sementara wanita itu hamil diluar nikah hasil dari perbuatan mu yang kau bela mati-matian. sampai mati pun saya tidak akan melupakan hinaan mu pada Mama."


Edo menundukkan kepalanya, ia merasa malu," Ya..akhirnya aku tahu semua cerita dia bohong belaka, mereka anak yatim piatu dari sebuah desa dengan orang tua yang meninggal tanpa mewariskan hutang bahkan mereka mewariskan beberapa harta namun habis dalam sekejap karena sikap boros wanita itu."


Bhumi beranjak, ia masa bodo mengenai informasi wanita itu, Bhumi pikir itu bukan urusannya. " kalau kau datang pada pernikahanku, pastikan tidak ada satupun yang curiga bahwa kau ayahku, saya tidak sudi, bagiku om Fathan yang terbaik."


" Katakan pada wanita itu untuk tidak pernah menunjukan diri di depanku, atau kembali ku seret dan ku habisi dia." Bhumi memasuki kamarnya.


Edo menangis tergugu penuh penyesalan, menjadi terbuang sangat menyakitkan, seluruh tubuhnya bergetar merasa bersalah yang teramat sangat.


❤️❤️❤️❤️❤️


Edo memasuki ruangan kelas tiga mencari pasien bernama Desty.


" Mas." Edo berbalik, ada Siena yang masuk dengan membawa kantong kresek.


" Mas, dari mana saja kok baru nengokin."


" Sibuk, dimana mbak mu?"


" Di paling ujung. Mas tolong pindahin mbak, tega banget mereka menempatkan mbak di sini."


" Pindahkan saja kalau kamu punya uang." Edo membuka tirai penghalang.


Kedua tangannya di masukan ke dalam saku celana, menatap datar istrinya yang terlihat memprihatinkan.


" Mbaknya tidur ya, jangan dibangunkan mas. kasian kalau mbak bangun yang ada cuma ngerengek sakit aja. para tetangga para ngeluh."


"Hmm." Edo tidak berminat untuk membangunkannya.


" Mas, para art bilang mas yang melakukan ini pad mbak, tapi aku gak percaya. Mas akan begitu sangat menyayangi mbak."


" Dari mana kamu tahu saya menyayangi mbak mu?"


Siena tersenyum," Mas ini ngomong apa? Mas, gak akan meninggalkan istri dan anak mas untuk mbak kalau mas gak sayang."


" Hmm, mungkin hanya kegilaan sementara."


" Mas, mas kenapa sih kok kelihatan beda gini."


" Beda gimana?"


" Kayak gak ada khawatir gitu ternag kondisi mbak."


" Memang enggak,, kan saya yang baut mbak mu begini." ucap Edo santai tanpa rasa bersalah.


Siena menganga tidak percaya," Jadi beneran pelakunya Mas? kenapa? kok bisa?" pekik Siena tertahan.


" Karena mbak mu curang."


" Maksudnya?"


" Tanyakan saja padanya. saya pergi, bilang padanya tadi saya membesuknya.


Tidak lama lagi Edo pergi, seseorang membuka tirai yang semula di tutup Siena.

__ADS_1


" Hallo, darling." lelaki itu menutup kembali tirai penghalang.


Tubuh Desty yang berposisi miring, kini terlentang, matanya membola, " Ke..kenapa kamu..."


" Couse, I Miss you."


" Jangan gegabah, nanti ketahuan... "


" Jangan khawatir, suami mu telah pergi." pria bule tersebut mengecup kening Desty.


" Mbak, siapa dia?" Siena bertanya bingung.


" Ups, sorry. mbak lupa kamu ada."


" Bod0, jawab aja pertanyaan ku."


" Ini teman mbak."


" Mbak pikir bisa membodohi ku?" sontak Siena.


ia memandang lamat-lamat pria bule yang lain tidak menggubris kahadirannya.


Si na menutup mulutnya yang terbuka lebar, pupil matanya membesar kala satu kesadaran hadir dalam pemikirannya.


" Jangan bilang dia..."


Desty tertawa kecil" Memang, dia ayahnya Bian."


Satu tangan di balik tirai mengepal kuat, ia sangat marah, giginya beradu gemeretuk.


❤️❤️❤️❤️


Tok..tok..


ceklek...


" Ada apa lagi?" bentak Bhumi yang duduk membelakangi pintu. ia sendang tidak ingin bertwmu dengan siapapun.


Shavara yang membuka pintu terjengkit kaget," maaf, ganggu kamu. aku..hanya..."


Bhumi berbalik, matanya sesaat me, lalu melangkah besar, merengkuh tubuh Shavara ke dalam pelukannya dan tangan satunya menutup pintu.


" Maaf, bukan ke kamu, tadi lelaki itu mengunjungiku." ucapnya serak teredam di lengkungan leher Shavara.


Shavara mengangguk, ia mengusap punggung tegap yang terlihat lelah itu.


" Masih kuatkan untuk ijab Qabul besok?" seloroh Shavara.


Bhumi mengurai pelukan tanpa melepas rangkulan tangannya di pinggang Shavara.


" Habis marathon juga kaku buat ng-sahin kamu aku tetap kuat." raut Bhumi sudah kembali sejuk seperti sedia kala.


Shavara membelai wajah Bhumi," Ck, bakal tetao bucin kayak gini gak kalau kita sudah nikah?"


" Nambah malah."


" Aahhh, jangan...ini juga aku udah nahan mual Loh."


" Aku belum nusuk kamu ya, kok bisa mual."


" Hah?" Shavara bengong nge-lag.


" Mual, nusuk, dan berkahir nikmat. bisa tebak itu apa?" goda Bhumi.


" AAAWW, astaga sayang lepasin jambakannya. sakit ini."


" Habis mesum banget." Shavara mengelus kepala Bhumi yang rambutnya tadi dia Jambak.


Bhumi terkekeh," Bukan mesum sayang, tapi gak nahan."


" Kak..."


" Hmm..." Bhumi menipiskan jarak kepala keduanya.


" Kah..hmmmph.." Bhumi mencivm Shavara lembut yang kelamaan berubah menjadi pag'utan panas saling rakus bibir lawan.


Dengan tangan menarik merapat tubuh keduanya, mengusap sepanjang punggung Shavara yang mengalungkan serta mengacak rambut Bhumi.


" Hmmhh..."


Perpaduan dia lidah itu semakin intens tidak terkontrol , Bhumi membawa serta tubuh Shavara saat ia bergerak berjalan ke arah kasur.


Menjatuhkan tubuh keduanya diatas kasur tanpa melepas pag'utannya.


" Hmmhh..hah..hah..hah..." dengan kening menempel keduanya terengah-engah berebut oksigen.


Ceklek...


" Kurang ajar..."


BUGh....


" Aaaws..."

__ADS_1


__ADS_2