
Mereka mondar-mandir di depan UGD, para wanita menangis, terkhusus Shavara menangis dalam rangkulan dia sahabatnya. tanpa ada yang menyadari jika Erlangga dengan setia memeluk Senja yang sedari rumah sudah banjir air mata dengan tubuh gemetar.
Ketakutannya beralasan bagi Senja, Bhumi tidak hanya sekedar kakak, tapi juga pelindung dan sosok ayah yang selama ini tidak Senja miliki.
Ceklek...
Mereka langsung menghampiri dokter begitu pintu dibuka," Bagaimana, dok?" tanya rianti berbalut cemas.
" Pasien dalam keadaan stabil, pasien pingsan karena kelelahan dan dehidrasi saja. over all semuanya baik-baik saja. sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat."
" Alhamdulillah..." ucap mereka serempak.
¥¥¥¥
" Baru ini gue ngehadirin pernikahan ada pengantin pingsan, dua kali pula, yang laki lagi yang pingsannya." ledek Adnan.
" Ck, coba aja Lo nahan birahi semalaman, kalau ini menimpa Lo, Lo pasti gila." sinis Bhumi menghalau rasa malu di hatinya.
" Lagian kenapa harus gue tahan, gue mah hajar. mau si Kinan kek, atau siapa kek. besoknya tinggal minum pil anti hamil." ucap Adnan santai.
" Jangan didengar, dia mah kan emang jablay versi laki-laki." sahut Erlangga.
" Lo sampe mimisan, gue kira Lo punya penyakit parah, udah takut aja gue." ucap Adnan berlebihan.
" Berarti Lo pikir betapa beratnya beban gue semalam."
" Yang lain mana? kok cuma kalian yang nemenin gue? bosen tahu."
" Pada pulang dulu, ganti baju."
Ceklek...
Shavara memasuki ruangan masih dengan pakaian pengantinnya walau riasan wajah rambutnya sudah dilepas yang kini rambut panjang itu diikat asal namun masih terlihat cantik.
" Sayangggg...." Bhumi merentangkan kedua tangannya, mengabaikan infus yang bertengger di salah satu tangannya.
" Ini ni, kalau akibatnya ngeyel dikasih tahu, Mas." Shavara mengomel namun tak urung menyambut masuk ke dalam dekapan suaminya.
" Mas? kamu marah sama aku?"
" Gimana gak marah, aku bilang juga apa, istirahat, udahan. tapi keukeuh pengen nerusin pake bab nanggung. tepar kan jadinya." cerocos Shavara gregetan.
" Ya kamu lihat sendiri tamunya bukan kaleng-kaleng, mana bisa aku ninggalin pelaminan."
" Itu tamu Papa, Aa wisnu, memang beberapa ada tamunya om fathan. biar mereka aja yang nyambut daripada ujungnya kamu pingsan bikin aku takut aja." Shavara menumbuk dada bidang Bhumi.
Prok..prok...
" Wow, sangat romantis, hari pertama jadi suami istri kalian beradu mulut. dan kamu Vara, sudah cocok jadi emak-emak daster yang ngomel karena suaminya gak ngasih jatah bulanan." ledek Adnan bertepuk tangan.
" Dan kalian bisa gak ninggalin kita berdua supaya kita bisa beneran adu mulut? ada yang pengen disalurkan dalam diri gue."
" Anjir, baru pulih dari pingsan langsung mesum." walau demikian adanya dan Erlangga beranjak keluar ruangan.
" Aa, ih. apaan sih gak sopan banget." dumel Shavara malu meski ia sendiri tidak paham maksud dari ucapan Adnan.
Bhumi menarik tubuh shavara masuk kedalam pelukannya." Aku kangen kamu, kamu kenapa gak jawab telpon aku tadi pagi. itu yang bikin aku pingsan."
" Lebay, aku gak bisa jawab, karena badan aku panas."
Bhumi sontak menaruh punggung tangannya ke dahi Shavara." Memang anget. sini bobo bareng."
" Mana muat." tolak Shavara.
" Muat, sini. skin to skin, itu efektif mengatasi panas." Bhumi menggeser tubuhnya memberi ruang pada Shavara.
" Enggak ah, gak enak kalau ada orang masuk."
" Mereka tahu kita pengantin baru." Bhumi menarik Shavara agar berbaring di sampingnya.
Sementara dia sendiri berbaring miring menghadap Shavara." Cantik banget istri aku." ucapnya dengan tangan membelai lembut wajah Shavara.
" Maaf, ya. aku maksa pengen tetap nikah hari ini padahal kamu pasti masih sakit." Shavara mengusap rahang Bhumi.
Bhumi menggeleng," Aku juga maunya hari ini, menjadikan kamu istri aku salah satu mimpi aku." Bhumi memeluk Shavara, lalu ia mengecup kening Shavara khidmat.
" Aku gak nyangka bakal segitu jatuhnya cinta sama seseorang, selama ini hanya sekedar suka yang cepat pudar, itulah mengapa aku enggan menjalin kasih. tapi sejak bertemu kamu, perasaan ini semakin lama semakin menguat."
" Makin lama aku tidak hanya ingin menyentuh mu tapi juga memilikimu, bahkan dalam khayalan ku kita sudah saling menyatu ratusan kali dengan berbagai gaya, dan aku masih ingin bersamamu gak ada bosannya."
" Apa sih mesum banget." Shavara menggeplak dada Bhumi yang terkekeh.
Bhumi mendekatkan wajahnya" Masih berasa gairah malam itu yang membuat sakit sekujur tubuhku, kalau bukan alam sadar yang teramat mencintai mu, mungkin Kinan sudah aku lahap. Dia bahkan sudah menelanjangi dirinya."
Mengikis jarak diantara mereka,
Cup..
Bhumi menempelkan bibirnya pada bibir Shavara, perlahan melu mat mendesak Shavara agar membuka bibirnya.
" Hmmh__"mata mereka perlahan memejam saat penyatuan bibir itu dirasa semakin intens.
" Hmmh..." satu tangan Bhumi memeluk Shavara, dan satunya menyusup di bawah bantal menarik tengkuknya agar pagvtannya lebih panas
Tubuh mereka saling mengerat meniadakan jarak dalam pelukan yang mengukung satu sama lain dengan posisi pas untuk merasakan gair4h masing-masing.
" Ahhh...ssshh..." lenguh Shavara menarik rambut Bhumi saat bibir Bhumi turun ke leher jenjangnya.
Shavara merasa bagian bawahnya terasa hangat dan agak basah, " Aaa..hh." Shavara menggigit bibir bawahnya menikmati sapuan Bhumi di kulit lehernya.
Satu tangan Bhumi yang bebas infus bergerilya menjamah tubuh Shavara yang dibalas Shavara memasukkan tangannya kebalik piyama suaminya mengusap punggung yang keras itu.
******* demi dasahan saling berlomba dari keduanya.
Bhumi bergerak agar Shavara merasakan dirinya, menggoyangkan tubuhnya yang kontan membuat Shavara membuka kedua kakinya menerima tubuh yang mendesak masuk tersebut.
" Aaahh..shhh...kamu rasakan itu, sayang. punya aku selalu berdiri keras kalau dekat kamu, mana tahan aku gak nyentuh kamu."
" Aaahh..A,..aku..." Shavara menengadahkan wajahnya, menggeleng karena kepalanya pening. tangannya meremas kuat rambut hitam legam.
" Aku juga sayang..ingin masuk ke dalam dirimu..." Bhumi mengecup dagu Shavara dengan sorot mata kian sayu berkabut gair4h.
" Aaahhh.. Shava, aku ingin kamu..." erang Bhumi melum'at bibir Shavara dengan tangan terus bermain di Shavara.
" Sayang, sekali saja tolong akuuuhh.."
" Kan semalam udah."
" Itu malam, sekarang pengen lagi...aaaahh...." Shavara sudah basah.
__ADS_1
Bhumi membawa tangan Shavara ke tubuhnya" Setelah ini aku berjanji akan memuaskan kamu." Bhumi berkata dengan suara serak yang dilanjut melum'at bibir sensual itu.
" Sayang, please...aaah...iya..sayang..."erang Bhumi yang keinginannya dituruti Shavara membuat tubuhnya menggelinjang hebat.
Lama mereka bermain tanpa gangguan yang ternyata menyingkir duduk di depan ruangan mereka, membuat Wisnu yang baru datang bawa pakaian salin adiknya urung membuka pintu keran sayup-sayup terdengar lenguhan dari dalam, ia melihat ke arah dua sahabatnya.
" Lo pasti paham apa yang terjadi di dalam." ucap Adnan tidak merasa terganggu.
" Astaga, ini di rumah sakit."
" Salahkan obat perangsang."
" Itu udah lama juga kali." Adnan dan Erlangga mengedikkan bahu santai.
Berliana yang berdiri di belakang Wisnu bergerak tidak nyaman, ia membayangkan tadi yang dilakukannya bersama Wisnu did alam mobil sebelum turun. itu tertangkap amat jeli Adnan.
" Bibir kamu kenapa, Na?"
" Hah? memang kenapa?" Berliana bingung sendiri atas pertanyaan Adnan.
" Bengkak, bukan disengat binatang kan, ya." ucap frontal Adnan.
Karena malu, Berliana meringsek ke punggung Wisnu.
" Ngapain Lo lihatin bibir dia, gak sopan." omel wisnu.
" Bukan lihatin, kelihatan."
" ck, sama saja, yuk kita pergi." Wisnu menggenggam tangan Berliana berlalu dari sana.
" Woy, kalian gak nyari hotel kan?" jari tengah Wisnu acungkan sebagai jawaban.
" Kita juga pergi, cari makan kek." ujar Erlangga.
" Heeh, kayaknya masih lama sih, kita ganggu Wisnu aja yuk."
" Nyari penyakit." Maka berkumpul lah mereka di kantin rumah sakit.
¥¥¥¥
" Lo gak bisa nahan sampai rumah apa? sampe kedengeran keluar tahu." sembur Wisnu saat Shavara di toilet berganti pakaian.
" Emang?" respon Bhumi enteng.
" Lega, Bhum?" tanya Adnan.
" Banget.. sumpah, gue kalau ketemu Kinan bakal gue bejek-bejek tu orang gak peduli dia cewek. jijik gue!"
" Lo gak bakalan ketemu dia lagi." celetuk Erlangga.
" Kapan Lo honeymoon?" tanya Adnan, mengalihkan topik.
" Mau ngapain Lo pengen tahu?"
" Gue ikut lah. jalan-jalan berdua itu gak menyenangkan tahu."
" Dih, erorr. ogah gue dikintilin Lo."
" Ck, gue bisa kasih teritorial malam pertama sukses, Bhum."
" Gimana kalau kita liburan ke Bali?" ucap Berliana.
Adnan menggeleng," No, ini akhir tahun. dingin-dingin begini ya ke tempat yang dingin."
" Lo pikir ke kutub."
Disaat dua orang itu ribut, Wisnu yang duduk di samping berliana meresak merapat, tanpa kentara tangan yang sedari tadi bertengger di belakang Berliana mengupas punggung gadis bule tersebut.
" Kamu mau ke sana? kita aja berdua." bisik Wisnu."
" Eng..enggak.., Pak." gugup Berliana atas usapan tangan Wisnu yang bergerak abstrak.
" Bapak? kita sudah setuju kamu manggil aku apa kalau diluar kampus." Wisnu menggigit pundak Berliana pelan.
" Kalian bisik-bisik apa? mau jalan sendiri? gak bisa, kita harus menutup tahun barengan." cegah Adnan.
" Sok tahu Lo." dengkus Wisnu.
" Lagian siapa yang mau bareng Lo? gabut amat hidup Lo ngintilin orang." cibir Bhumi.
" Dih, belagu mentang-mentang udah punya pawang tetap." balas Adnan.
" Iya dong, hari gini masih macarin anak orang, malu sama umur." ucap Bhumi jumawa yang mendapat lemparan bantal sofa dari para sahabatnya.
" Si jomblo akut kalau udah punya pasangan sombongnya kayak orang OKB." cibir balik Erlangga.
" Kalian gak malu menganiaya orang sakit?" ucap Shavara selepas keluar dari toilet.
" Sayang..ayanggg aku....aku sayang banget sama kamu....muacchhh..."
" kak Bhumi geli, ih. gak pantes sama muka kak Bhumi yang jantan gitu, alay banget." Berliana bergidik geli mendengar ucapan Bhumi yang sedang viral di fyp-nya.
Wisnu terkekeh seraya mengusap lembut lengan Berliana.
" Sabar, sayang. namanya juga lagi puber." bisik Wisnu.
Berliana salah tingkah, dia belum terbiasa dengan sikap lembut dosennya yang terbiasa galak padanya.
" Ditambah emoticon love sama orang monyongin bibir, gue sleding juga Lo, Bhum." dengkus Adnan.
" Kalian kenapa sewot, gue cuma mengetakan perasaan gue."
" Tapi jangan Laya begitu." protes Adnan.
" Shava, sayang. pokoknya kita bakal bareng forever. aku sayang banget sama kamu, love..love...sekebon..."
" Kak Bhumi...ih...geli tahu..." refleks Berliana berteriak.
" Emang kenapa?" Bhumi bingung sendiri.
" Udah, Na. dia mana tahu apa yang lagi viral. dari jalan dia imut hidupnya cuma sama rumus doang, heran gue. jadi orang kudet amat." cerocos Adnan.
" Apaan sih, emang di luaran sana apa yang lagi rame?" tanya Bhumi pada Shavara.
" Orang selingkuh, omongannya kurang lebih kayak kamu gitu."
" Anak SD udah selingkuh?"
" Dia ngerasa kelakuannya macem j4met SD." Erlangga menggeleng kepala, yang lain malah terbahak-bahak.
__ADS_1
Ceklek...
Para orang tua datang menjenguk termasuk Edo, raut Bhumi seketika berubah datar. Shavara mendekati suaminya mengelus tangan besar itu.
Edo nekat menjenguk setelah berdebat panjang dengan Rianti ditengahi Fena, Anggara, dan Fathan.
Edo sangat memohon diberi kesempatan untuk membayar dosanya sebagai ayah. dua kali melihat anak sulungnya pingsan membuatnya takut kematian akan lebih dulu menghampiri ketimbang perdamaian mereka.
" Jangan begitu, sayang. aku percaya suami aku orang baik, hatinya sabar seluas samudera." Shavara mencium kening Bhumi setelah mengatakan itu.
Bhumi menggenggam tangan Shavara yang dibiarkan oleh sang empunya.
" Gimana kondisi kamu, Bhum?" tanya Anggara.
" Baik, Pa." jawab Bhumi kaku.
Sejak seusai akad, Fena dan Anggara meminta Bhumi untuk memanggil mereka Mama-Papa. ada rasa hangat kala itu menyusup di hati Bhumi, ia senang memiliki keluarga utuh, hal yang paling dia rindukan.
Saat itu, dalam dekapan Anggara Bhumi mengangguk, dengan tangis haru." Terima kasih..terima kasih sudi menerima Bhumi dengan segala latarbelakang ku yang rusak." lirih Bhumi.
" Papa bangga pada mu, Wisnu sering menceritakan tentang kamu, sayang kamu tidak pernah sempat bertemu putri Papa yang mageran itu dari lama." terselip humor mencoba memecah suasana sedih kala itu.
Dimana para hadirin turut menangis, dan Rianti menunduk menyeka air mata, ada rasa bersalah pada anak-anaknya yang tidak menghadirkan keluarga harmonis di rumahnya.
Fathan menggenggam satu tangan Rianti, menyalurkan ketenangan." Aku gak akan pergi lagi, kita akan selalu bersama-sama." bisiknya.
Rianti mengangguk, " terima kasih...terima kasih sudah menguatkan aku.."
" Kembali...kamu sudah berhasil membesar anak-anak yang hebat, saatnya kamu bahagia, Ri." kode Fathan.
Ceklek...
dokter dan dua perawat memasuki ruangan, memeriksa kondisi Bhumi.
" Dok, kapan menantu saya bisa pulang, saya pengen cepatnya punya cucu?" tanya Fena receh.
Dokter dan perawat tersenyum kecil, sementara Shavara bersembunyi memepet suaminya karena malu.
" Kamu dengar, sayang. sebagai anak dan mantu yang baik, kita harus segera mengabulkan harapan Mama." ucap Bhumi santai yang mendapat cibiran kecil dari istrinya di lengannya.
Sedangkan para sahabatnya memutar mata malas.
Dok, kapan anak saya bisa pulang?" tanya Rianti.
" Kalau kondisi tetap stabil, besok boleh pulang."
" Dewa, jaga diri, cukup Papa yang hidup dalam penderitaan dan penyesalan."
❤️❤️❤️❤️
Bhumi yang dirawat mengharuskan Wisnu mengurus pembukuan Warungkita, malas berkutat di ruangan Bhumi, Wisnu memilih mengerjakannya di salah satu meja pelanggan sambil menunggu kedatangan Berliana cs yang ingin menjenguk ke rumah sakit.
" Mas." Wisnu mengangkat wajahnya dari laporan, ia melepas pulpennya lalu bersedekap dada saat melih Aryo menghampirinya.
Wisnu mengangkat jempol rasa tidak tahu malunya Aryo, hingga masih berani menghadap dirinya.
" Saya akan ke kantor kamu lusa untuk tanda tangan pengambilalihan perusahaan yang menjadi gak Vara."
Aryo menarik kursi di depan Wisnu." Ini yang ingin aku bicarakan, hak apa yang mas maksud? perusahaan itu milik saya, kami tidak menandatangani apapun soal kepemilikan perusahaan itu."
Wisnu tersenyum smirk kemudian mendengkus," Huh, bod0hnya kamu melakukan segalanya lewat online, bahkan kamu membiarkan Vara membayar langsing dari rekeningnya atas apa yang kini menjadi inventaris perusahaan mu. tapi its okey, kalau kamu memang tidak mau memberikannya, gak masalah, nikmati saja perusahaan itu selagi kamu masih bisa menikmatinya."
Wajah Aryo berbinar, senyum lebar terpasang di wajahnya," terima kasih, Mas. saya pastikan saya bisa membahagiakan Vara."
Alis Wisnu terangkat dengan kerutan dahi kentara saat mendengar apa yang Aryo katakan." Vara sudah menikah, dia sudah bahagia. jangan kau usik dia lagi."
Aryo menggeleng cepat," Dia tidak bahagia, buktinya Vara menelpon aku ingin bertemu, itu tandanya dia masih belum move on dariku."
" Terserah khayalan mu, saya hanya memperingati mu." ucap Wisnu tegas dan tajam
❤️❤️❤️
" A, hari ini mulai masuk sekolah?" Shavara berdiri depan lemari bhumi.
Sudah dua hari ini Shavara tinggal di rumah Bhumi yang sedang masa penyembuhan.
Tok..tok..
Shavara membuka pintu dan sedikit memundurkan diri yang mana Bian sudah berdiri di depannya.
" Bang, kata ibu Abang berangkat bareng sama aku, kalau gak mau, Abang gak dibolehin ke sekolah."
" Ck, daripada sama kamu, mending sama istri."
" Mbak, bisa nyetir mobil?
Shavara menggeleng ragu," bisa, tapi belum pro."
" Tuh, kan."
Dengan bahu merosot Bhumi mengiyakan. kemauan ibunya." Telah anter kakak ipar mu ke kampusnya dulu ya? toh kelas bebas."
" Iya, terserah Abang, jangan lama-lama turunnya. pending dulu kalau mau mesra-mesraannya."
" Ck, Cepu." Bhumi menutup kasar pintu.
" Aa, ih..jangan begitu."
" Biarin. aku males keluar kamar pengen terus sama kamu. kapan kita unboxing, udah gak tahan ini." Bhumi memeluk Shavara dengan kepala menyusup ke ceruk leher jenjang Shavara.
Ia menghirup, lalu menghisap kulit lembut itu," Sayang unboxing yuk."
" Heh, eling. siapa suruh sakit."
" Sayang, sakit aku tuh sembuhnya cuma masukin kamu." rayu Bhumi.
" Astaga,..mesum banget punya sua.... hmmphh" Bhumi mencivm Shavara, menggamit rahangnya menikmati lum'atan sensual yang dia tawarkan kemudian memperdalam civman yang semakin intens itu.
Bhumi mengangkat Shavara yang kontan melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Shavara dengan tangan mengalungi leher Bhumi, tanpa melepas penyatuan bibir mereka, Bhumi melangkahnya ke atas ranjang tanpa melepaskan pag'utannya yang menggila.
Tubuhnya sudah di atas tubuh Shavara, dengan satu tangan membuka kancing kemeja Shavara dimana tangannya bermain bebas di sana menikmati apa yang sekarang halal baginya.
Suasana kamar pagi hari terasa panas saat Bhumi menyibak kemeja tersebut yang mempertontonkan apa yang dia idamkan.
Tok...tok....
" Bang...cepetan....udah siang..." gedoran pintu oleh Bian merusak mood yang sudah terbangun.
Tubuh Bhumi jatuh di atas Shavara sambil menggeram kesal, inilah yang terjadi selama dua hari ini mengapa dirinya belum bisa unboxing. kalau tidak Bian, ibunya atau Senja yang tidak mau jauh darinya.
__ADS_1
" Pokoknya liburan nanti kita harus honeymoon, gak boleh enggak, titik!!" pekik Bhumi jengkel sementara Shavara terkikik sambil merapihkan kemejanya kembali.
Ramein ya.... subscribes, komen dan like.....kasih vote bintang lima dan hadiah.....