Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
87. Berantem.


__ADS_3

Selama perjalan dari rumah sakit, suasana dalam mobil hening, satu tangan bhumi memegang stir sedangkan tangan yang lain menggenggam tangan Shavara sambil ibu jarinya sesekali mengelus punggung tangan itu.


Bhumi menahan diri membuang napas gusar manakala netranya melihat tatapan kosong Shavara meski dia melihat ke depan.


" Ada apa?"


" Hah? Kenapa?" Shavara bingung sendiri.


" Ada apa?"


" Jangan katakan gak ada apa-apa, aku bisa lihat kamu mikir sesuatu. sesuatu yang buat aku gak suka karena bikin kamu gak enak dipandang." sela Bhumi saat Shavara membuka mulut hendak bicara.


" Seriusan gak ada apa-apa." jelas itu bohong. Keraguan tercipta nyata dalam ucapan itu ditambah manik Shavara yang bergoyang kala mengatakannya.


" Anggap aja aku percaya."


Kembali suasana senyap, kini Shavara yang sesekali menatap Bhumi yang diam seribu bahasa.


Shavara akhirnya tidak bisa lagi bersikap Baisa saja, ia buang napas kasar, dikala sekelebat ingatan yang dia lihat tanpa disengaja tadi.


Saat menunggu lift, Shavara melihat jelas raut patah hati, kecewa, dan amarah menyatu dalam tangisan Arleta. Dan itu berhasil mengusir pikirannya.


" Dia mencintaimu." kata Shavara tiba-tiba.


" Siapa?"


" Murid kamu, Arleta."


Bhumi menoleh sekilas," Lantas?"


" Dari matanya aku bisa lihat dia tergila-gila padamu."


" Aku mencintaimu." balas Bhumi.


" Sikap kasarnya tadi hanya sebagai tameng, dia benar-benar mencintai mu. Dia perempuan baik-baik."


Bhumi menyeringai miring." Kalau menurut kamu perempuan yang bisa tidur dengan sembarang lelaki itu baik, lantas kamu disebut apa? Yang memberikan keperawanan kamu pada suami kamu, yang maha Malia?" sarkas Bhumi.


" Aku sedang serius."


" Aku juga gak lagi bercanda."


" Dia masih SMA, jadi gak mungkin..."


" Hanya karena kamu masih perawan di masa SMA kamu bukan berarti orang lain juga begitu, kamu pernah berteman dengan Monik, kan tanya dia kapan pertama kalia hubungan badan?"


Shavara diam, dia kalah bicara.


" Tapi aku melihat Arleta memang mencintai kamu." kukuh Shavara


" Langsung saja ke intinya. Apa maksud kamu bicara demikian sama aku. Kamu bukan bicara hal yang tidak aku tahu sebelumnya.


" Kenapa kamu tidak menerima..."


Bhumi terkekeh miris," Dia membuka kaki di hadapanku, menawarkan dirinya untuk ku. Sepanjang hidupku aku punya kisah yang sangat menyebalkan dengan wanita nakal dari segi mananya aku bisa nerima dia?" ada kemarahan dalam perkataan itu.


" Setidaknya kamu pertimbangan dia."


" Demi tuhan Shavara, apa kau sedang melakukan apa yang sedang aku pikirkan?"


" Dan apa itu?"


" Kau sedang menyodorkan suami mu pada perempuan lain. segitu saja persamaan mu padaku? Atau memang kau seseorang yang bisa berbagi suami karena sifat baik mu yang suka berbagi itu."


Sejak kejadian kemarin susah payah aku meyakinkan kamu kalau aku sih seperti dulu sama kamu, aku rela bercint4 habis-habisan layaknya seorang hyper hanya demi menumbuhkan keyakinan dirimu kalau aku masih mau kamu yang selalu merasa rendah diri karena merasa kotor.


Namun sekarang hanya karena tangisan bocah gila, aku justru mendapati kalau kamu yang gak mau sama aku. Aku merasa dibuang, Shavara. Aku merasa kamu gak butuh aku lagi setelah melakukan berbagai cara s3x, dan kamu kono bosan padaku, maka kau singkirkan aku." bentak Bhumi, dia sangat marah sekaligus tersinggung.


" A, jangan keterlaluan. Aku bilang begitu karena aku pernah dikecewakan, dan aku tahu persis sakit hatinya Arleta."

__ADS_1


" Kalau kamu sudah tahu, lantas apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


Bhumi mengambil jalur lambat,


menghentikan mobil, kemudian dia keluar dengan membanting pintu. Shavara sampai harus mengerjap saking terkejutnya.


Shavara menangis karena takut, ini kali pertama dia melihat Bhumi marah padanya. Dapat Shavara lihat bagaimana Bhumi mengatur napas guna meredam kekesalan dan kekecewaannya.


Bhumi kembali masuk ke dalam mobil, Shavara buru-buru mengelap airmatanya yang masih saja terus meluruh turun meski tidak ada suara tangisannya.


Tanpa berkata apa-apa, Bhumi menyalakan mesin lalu melajukan mobil. Shavara tidak berani bertanya hendak kemana mereka, aura Bhumi sangat menyeramkan sampai akhirnya mereka tiba di villa.


Bhumi langsung membuka pintu mobil dan mengambil langkah lebar membuka pintu villa. Meninggalkan Shavara yang masih duduk di dalam mobil, biasanya Bhumi membukakan pintu bagiannya, tapi kini menoleh padanya saja tidak.


berjalan pelan tanpa semangat Shavara melintasi ruangan hendak langsung masuk ke dalam kamarnya, di ambang pintu dia terkaget melihat Bhumi memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


" Kamu mau kemana?" suara Shavara begitu lemah dan serak.


" Kita sudahi bulan madu ini, aku mau ke puncak bergabung dengan yang lain. kalau kamu terserah mau kemana, pergi tetap bersama Arleta juga terserah gak akan aku larang." sarkas Bhumi.


Shavara terdiam, ia bergeming di sana dengan dad ayang terasa nyeri akibat omongan tersebut.


"A, aku gak bermaksud begitu, aku hanya meminta kamu untuk tidak terlalu kasar padanya..."


Bhumi menjeda sejenak aktifitasnya, ia menatap tajam Shavara." Tahu apa kamu tentang dia, kamu berkata begitu seolah-olah kamu mengenal baik dia, hari ini kamu minta begini, besok kamu minta aku apa? Hah? Aku bukan ojek shadaqah kamu. Kalau kamu sudah tidak mau lagi bersama ku, bilang. Dengan tanpa drama aku aku akan mengabulkan permintaan mu."


Shavara menggeleng kepala cepat, dia bingung kenapa menjadi rumit begini. dia panik." A, Kenapa kemana-mana, aku tidak sampai berpikir demikian, maaf kalau aku menyinggung perasaan kamu, ini hanya...maaf." melihat tatapan Bhumi yang menghunus tajam padanya, Shavara mengehentikan ucapannya.


" Aku membenci dia. cukup itu yang kamu tahu, moral ku yang melarang aku menceritakan papain soal apa yang telah dia lakukan padaku hingga membuat aku jijik padanya."


Bhumi menutup koper, dan menguncinya," Kali kamu mau ikut dengan ku, ku beri waktu 15 menit untuk berkemas, atau aku tinggalkan ku di sini."


Shavara terperangah, dia tidak menyangka Bhumi bisa bersikap kasar padanya. Maka, secepat mungkin Shavara bergerak selepas Bhumi meninggalkan kamar.


" Sial, soal. Kenapa jadi kacau begini." geram Bhumi sambil memukul stir.


Drrtttt...drrt....


Tanpa berpikir panjang Bhumi membalas pesan dari Arleta tersebut, terdengar sadis memang, tapi dia sungguh muak dengan anak didiknya ini.


" Saya tidak peduli sekalipun kamu mati hari ini, penyesalan terbesar saya adalah pernah menolong mu!"


Bhumi menutup aplikasi obrolan dan melempar ponselnya ke kursi belakang bertepatan dengan kedatangan Shavara. Lantas Bhumi menyalakan mesin mobil dan menjalankannya menjauh dari villa.


Di tempat lain, Arleta menangis meraung duduk di taman dekat rumah sakit sambil memukul dadanya kuat-kuat. Ini amat terasa nyeri sekali.


Semula wajahnya saat Bhumi membalas pesannya, dia berharap ini lampu hijau untuknya setelah selama ini dirinya selalu diabaikan, namun itu hanya sejenak, isi pesan itu terlalu kejam untuknya.


" TIDAKK..MAS DEWA..AKU MENGINGINKAN KAMUUUU....huhu...hiks..ku mohon mengerti akan keinginan ku ini.ku mohon..." lirihnya penuh kesakitan di tengah malam, di kota asing.


Tangannya bersimbah darah yang berasal dari cutter yang diremas dengan tangannya setelah dia membaca balasan pesan tersebut, kebiasaan yang hanya Dewa yang tahu.


❤️❤️❤️❤️


Hampir menjelang pukul dua dinihari mobil Bhumi akhirnya tiba di villa yang dia sewa untuk menyambut tahun baru bersama keluarga besarnya.


Lagi-lagi, tanpa menunggu Shavara, Bhumi memasuki villa yang sudah disambut oleh Edo.


Bhumi refleks berhenti agar tidak mendekati lelaki yang paling dia benci.


" Sudah datang, Mas?"


Bhumi tanpa menjawab melanjutkan melangkah masuk ke dalam villa.


Edo menghela napas kasar, dia rela menahan kantuknya demi menyambut kedatangan putranya dari Wisnu yang ditelpon Bhumi berharap bisa bicara walau sepatah dia patah kata saja, tapi yang ada jangan bicara, direspon saja tidak.


Merasa ada yang tidak lengkap, Edo mencari-cari, dan dirinya bernapas lega bercampur khawatir melihat wajah sembab Shavara yang baru keluar dari mobil, dan tanpa semangat menutup pintu mobilnya.


" Hei, sayang. Kamu kenapa? Habis nangis? Apa Dewa menyakiti mu?" Edo berjalan mendekati Shavara yang dengan langkah kecilnya menaiki tangga teras.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Edo, Shavara malah menangis keras, hatinya begitu sakit diabaikan oleh suaminya selama perjalan tadi. Tangisannya yang sengaja dia kencangkan sebagai modus mencari perhatian tidak mendapatkan respon timbal balik. itu berhasil menyayat hati Shavara.


" Oo..ommm..maafkan aku yang sudah menyakiti Aa Bhum, tapi demi tuhan aku gak bermaksud demikian aku hanya tidak ingin Aa Bhumi menyakiti orang lain....hiks...hiks..."


" Kalian sedang berantem?"


Shavara mengangguk, namun detik kemudian menggeleng, namun selanjutnya mengangguk dan terus begitu untuk satu menit ke depannya.


Edo berjalan mengikis jarak, ia memeluk menantunya tersebut menyalurkan kasih dan sayang seorang ayah kepada.


Shavara membiarkannya, dia memang butu sebuah pelukan dari seorang ayah, namun sayang kasih sayang anak-ayah tersebut tidak terlihat bagi seseorang yang berdiri di ambang pintu yang menatap mereka begitu bengisnya.


" Sedang apa kalian berdua? sungguh keterlaluan!" desis Bhumi.


" Jadi apakah ini alasan yang sesungguhnya kamu menginginkan aku bersama Arleta, agar kau bisa bersama bajing4an tua ini?"


" Aa..."


" Dewa."


Shavara dan Edo memisahkan diri terhentak kaget akan fitnah tersebut


" Jaga bicara mu, Dewa."


" Tidak akan, setelah hal menjijikan apa yang sudah dia katakan padaku, Aku pikir perkataan ku tadi sangat logis."


" Jadi, apa kalian bermain curang di belakang ku?"


" DEWAAAA..."


BUGhhh....


Edo memukul wajah Bhumi hingga ujung bibirnya tergigit. Bhumi mengusoa bagian luka tersebut seakan wilayah dekat pipinya.


" Kamu keterlaluan dia mantu papa. tidak mungkin papa menggodanya."


" Kenapa tidak, kau tinggalkan ibu demi wanita yang lebih muda, jadi bisa kemungkinan kau sekarang menginginkan dia, mantu mu."


Edo membelalak mata, dia..spechhless.


" Aa, kata-kata mu sungguh kejam."


" Dan kau pikir, hanya aku yang jahat sedangkan kamu tidak?"


Shavara sungguh terkejut dengan apa yang terjadi, dia tidak pernah sekalipun membayangkan Bhumi bisa sedemikan menyakitinya.


" Aku minta maaf, kamu yang tidak menggubris permintaan maaf aku."


" Karena aku begitu kecewa padamu, selam perjalan tadi aku bertanya-tanya apa yang menyebabkan kamu begitu berkata lancang dengan menyuruhku berbaik hati padanya ternyata ini." Bhumi tersenyum smirk, matanya terlihat lelah dan penuh kekecewaan.


Ada satu tetes airmata yang akhirnya jatuh dari mata merah Bhumi yang langsung dia seka.


" Aku sungguh dibuat beri banyak kejutan darimu, sayang. Pergilah, kuserahkan dirimu untuknya." suara Bhumi bergetar, saking menyesakkan jiwa.


" Aku kemari hanya mau bilang kalau ku tidurlah di kamar biar aku di luar, tetapi ku pikir itu tidak perlu karena kamu sudah mendapat kehangatan lainnya."


" Ya tuhannn, Dewa. Kamu akan menyesal telah berkata sekajam demikian." hardik Edo gregetan.


" Tidak lebih kejam dari apa yang dikatakan dia. Dia menyuruh ku menerima baik orang yang hampir menghancurkan diriku, menghinaku, dan mempermalukan aku. andai tidak ada hukum di negeri ini, sudah ku lenyapkan bocah tengil itu sedari dulu. tapi kini istriku sendiri, tanpa berdiskusi dengan ku mendorong ku berdekatan dengan remaja tengik itutmenggunakan dagunya Bhumi menunjuk Shavara.


" Dewa, Vara sedang bersedih karena kamu tapi kamu malah menuduh dia yang enggak-enggak."


Bhumi yang sudah dililit banyak masalah di kepalanya berlalu dari teras, ia sengaja benturkan bahunya pada Shavara yang meringis sakit.


Bhumi duduk di depan kemudi di bawah tatapan bingung Edo, dan sayu dari Shavara.


Bhumi lantas stir agar mobil bisa dikeluarkan villa.


" Mau Kana kamu, A." tanya Shavara khawatir, ia menuruni anak tangga.

__ADS_1


" Cari Arleta, siap tahu dia bisa menghangatkan kan aku di cuaca yang membeku ini.


Langkah Shavara terhenti, ia syok mendengar kata-kata itu," A, apa aku sangat keterlaluan?" gumam Shavara.


__ADS_2