
" Kak Biannn...cepetan..udah siang ini." teriak senja di ambang pintu yang terbuka lebar.
" Ja, berangkat aja duluan kalau emang gak sabaran." teriak balik Bian dari ruang makan.
" Gak mau. cepetan ih."
" Ini baru jam setengah delapan. kan masuknya jam delapan sans aja lah."
" Issh, buruan gak. aku aduin mas Bhumi ya kalau kamu semalam Mabar bukannya belajar."
" ck, Cepu Lo."
" Biannn." tegur Rianti dari pekarangan sedang menyiram tanaman yang mulai pusing dengar ocehan mereka yang saling tarik otot.
" Maaf, Bu. lagian anak ibu yang satu itu gak asik masuk sekolah harus tepat waktu."
" Memang harusnya begitu, Bian. udah kamu sana jangan makan mulu, ibu udah siapin bekal di Senja buat kamu."
" Ibu memang the best. mau deh di masukin jadi anggota KK sini." buan berjalan menghampiri Rianti untuk bersalaman.
" Ibu yang gak mau."
seketika raut Bian menyendu." Karena aku anak pelakor? kan aku udah buktiin kalau bukan anak Papa."
" Bukan itu, kamu masih jadi anak dia, kecuali dia buang kamu baru ibu adopsi kamu. ibu cuma gak mau terlibat dengan dia."
" Kak, bisa kita berangkat sekarang?" Senja berusaha mengurai kabut gelap yang mengelilingi mereka.
Tanpa lagi protes Bian melangkah ke arah Senja yang sudah menungguinya di samping motor sportnya.
" Ibu sayang kakak, jangan sedih gitu dong." ucap senja saat motor mereka keluar dari pagar rumah.
" Tahu, sedih aja ibu nolak aku jadi anggota keluarga."
" Pahami perasaan ibu yang dikhianati mama kamu, jangan egois dan serakah. aku marah ni."
" Iya, maaf."
" Kak, mobil pengintai itu datang lagi." tunjuk senja ke mobil hitam yang terparkir berjarak dua dua rumah dari rumah Rianti.
" Nanti kakak beresin, sekarang kita sekolah dulu."
Saat melintasi mobil tersebut mata Bian dibalik helmnya membelalak lebar.
" Tuan, sepertinya tuan muda melihat saya." ujar sang sopir.
" Itu lebih baik. kita berangkat Ko." titah Edo pada Joko, sang sopir. yang tepatnya sopir pribadi anaknya, Bian.
Satu mobil sedan hitam melintas yang akhirnya parkir tidak jauh dari lapak Rianti yang dikerumuni pelanggan.
Saat mobil itu hendak melaju, mata Edo melihat Fathan yang turun dari mobil sedan tersebut.
" Apa dia sering mampir, Ko?"
" Hampir setiap hari, tapi biasanya kalau nak Senja sudah pulang."
Selama ini Edo menugasi Jono untuk mengawasi segala gerak gerik keluarga Rianti.
" Untuk apa?"
" Tuan, sebaiknya membaca hasil laporan detektif itu, semuanya ada di sana."
" Oh, begitu." tukas Edo seraya memejamkan matanya, sudut hatinya gusar karena terusik keberadaan Fathan di rumah itu.
Di mobi Brio biru yang terparkir di seberang rumah Rianti terdapat wanita dan anak kecil mengamati rumah Rianti.
" Jadi ini rumah nenek baru Langit, Ma?"
" Iya, ini rumahnya. nanti sepulang Io sekolah kita mampir ke sini supaya nenek kenal Langit."
" Papa-nya mana?"
" Papa kerja."
" Kayaknya Papa baru Io gak suka Io, Ma." ucap Rio Dewantoro, anak Kinan.
"Gak gitu, sayang. Papa cuma kaget aja kok."
" Langit lebih suka papa Erik, Langit kangen Papa Erik, Mama." mata Langit mulai basah.
Kinan mendesah berat," kita turun yuk, kenalan sama nenek baru Langit." Kinan membuka pintu mobilnya tanpa menoleh pada Langit yang bermuka muram.
Langit pun membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Mama-nya dengan bahu menurun.
" Assalamualaikum." salam Kinan lembut sambil tersenyum manis melangkah mendekati mereka yang tengah mengobrol.
Rianti dan Fathan menoleh," wa'alykumsalam. siapa ya?"
" Kenalkan saya Kinan, calon istri Dewa dan ini anak saya Langit yang juga calon anak Dewa." dengan percaya Kinan memperkenalkan diri mereka.
Fathan dan Rianti saling lempar pandang, mereka meragukan ucapan Kinan." pasti ada kesalahan, kami memang baru melamar untuk Bhumi, tapi bukan kamu orangnya." todong Rianti.
Di tempatnya Kinan salah tingkah, kakinya berganti menumpu." bisa kita bicara, Bu?"
" Tante, panggil saya Tante. tentu, kita harus bicara." Rianti beranjak ke pintu yang terbuka.
" Silakan masuk." bocah cilik itu hanya menunduk berjalan mengikuti langkah kaki jenjang Kinan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
" Mari om, Tante. kita berangkat dulu."
" Iya, sana pergi takut keburu terlambat."
Bhumi berjalan menahan diri untuk merapat dengan Shavara karena keberadaan kedua orang tua calon istrinya yang dia yakini masih memperhatikan mereka.
" Pagi, calon istri. cantik bener pagi ini." bisiknya.
Shavara berusaha keras untuk tidak salah tingkah, namun tidak dengan wajahnya yang memerah karena tersipu-sipu." jadi kemarin cantiknya kW?"
" Gak, cantik beneran juga, tapi ini lebih-lebih. apa karena sudah nerima lamaran aku ya kamu terlihat makin shining gitu."
" Gembel banget kamu, kak."
" Gak gombal beneran ini, dari tadi aku pengen nyivm kamu banget. tapi mata laser? papa kamu nakutin." bisiknya.
Sesampainya di motor RX-King-nya yang di parkir condong keluar dari pagar rumah Nasution, Bhumi segera membantu Shavara mengenakan helm dengan sedikit curi kecup pipi yang kontan membuat Shavara panik tengok kanan-kiri.
Shavara menumbuk lengan Bhumi." Kak, jangan gitu,ih."
" Maaf, gak bisa nahan. cantiknya kebangetan."
Bhumi menaiki motornya, mengulurkan tangan membantu Shavara menaiki motor.
Ia langsung mengalungkan tangan Shavara ke pinggangnya yang segera Shavara tarik namun tertahan Atang besar Bhumi yang menangkupnya.
" Kak, nanti kelihatan Papa."
" Gak akan, sengaja aku markir motor agak mojok gini."
" Ada Aa Wisnu."
" Dia sibuk ngisi perutnya."
" Ck, punya calon suami gini amat."
" Tapi suka kan." Bhumi menstarter dan melajukan motornya.
" terpaksa." ucapnya manja.
" Aku ikhlas." kekeh Bhumi.
^^^^^
Mata Anggara masih menatap ke depan dengan raut suram meski suara motor sudah menjauhi huniannya.
" Terus aja cemberut, Pa. anak dapet yang baik kok kayak gak suka banget." dumel Fena yang lelah dengan kecemburuan Anggara pada Bhumi sejak semalam tidak berhenti mengeluh.
" Bukan gak suka tapi ini terlalu cepat. Vara masih terlalu muda buat nikah."
" 23 lho, pa."
" Masih anak kecil."
" Pa, bayangin anak papa yang naif itu nikah sama orang manipulatif macam Aryo, gimana? papa mau? syukur-syukur ada orang baik kayak Bhumi yang tulus sayang banget sama Vara."
__ADS_1
" Mama tahu dari mana Bhumi tulus?"
" Buktinya sejak dekat dengan Bhumi, Vara gak minta uang tambahan ke kita, coba ingat-ingat dulu sewaktu sama Aryo, berapa kali dia minta duit tambahan?"
Anggara termenung sebelum menjawab." Iya..ya.."
" Iya lah. mama udah notice Bhumi dari lama, dia dikenalin ke banyak anak teman mama yang lebih kaya dari kita, tapi dia tolak. apalagi yang kita cari, baik, pasti. udah terjamin itu mah. papa tahu sendiri kan."
" Hmm." Anggara setuju dengan argumentasi istrinya.
" Udah ah, keselnya. toh, mereka bakal tetap tinggal di sini setelah menikah, Papa bisa tahu keseharian dia nanti pas tinggal di sini." Fena berbalik masuk kembali ke dalam rumah.
" Nu, angkut papa mu ke kantor ni daripada ngerecoki Vara mulu." ujar Fena saat melihat Wisnu duduk di sofa ruang tamu.
" Iya, in6i Wisnu tinggal nunggu Papa siap."
" Kamu jalan duluan, Papa bawaannya males ke kantor."
Kring... kring...
" Hallo." salam Rianti.
" Maaf, jeng. kayak ya rencana hari ini diundur dulu ya, ada tamu dadakan yang ngaku calon istrinya Bhumi ini." ucap Rianti dari seberang saluran.
66
" Apa? anak kamu mengkhianati anak aku?" teriak Fena yang mengagetkan Wisnu dan Anggara.
" Bukan begitu, ini ngaku-ngaku dia aja, tapi aku gak yakin. makanya aku mau interogasi dia."
" Aku ke sana."
"Jangan jeng, urusan bisa berabe."
" Kamu mau sembunyiin sesuatu dari aku, Ti?"
" Bukan begitu, tapi kamu kan cepat panasan orangnya yang ada malah gelut. saya mau cari infonya dulu ini, di sini juga ada Fathan kok."
" Ya udah saya tunggu, awas aja anak kamu berani selingkuhi anak saya, barangnya saya potong pake gergaji nanti." ancam Fena menggebu.
Tidak lama telpon disudahi dengan tatapan bertanya dari dua pria yang duduk di ruang tamu.
" Ada perempuan yang ngaku calon istri Bhumi datang ke rumahnya." ucap ragu-ragu Fena pada Anggara yang mukanya langsung berubah galak.
" Kita ke rumah dia sekarang." Suara tegas dari orang pendiam sangat menakutkan bagi Fena yang bar-bar. ia pun hanya mengangguk patuh.
❤️❤️❤️❤️
" Jadi begitu ceritanya, Tan. saya tulus mencintai anak Tante."
" Kamu tahu Bhumi sudah punya calon istri yang bukan kamu?" Rianti melirik ke halaman samping, Diaman Fathan sedang bermain dengan Rio.
Kinan mengangguk, " tapi saya tahu Dewa masih mencintai saya. saya titipkan anak saya di sini ya, Tan. supaya Tante dan anak saya bisa lebih dekat. saya harus ke pengadilan untuk perceraian saya."
Rianti tersenyum meremehkan." kamu gak punya sopan santun dan terkesan kurang ajar ya, kita baru bertemu dan kamu sudah berani menitipkan anak kamu di sini?"
" Maaf, Tan. tapi ini terpaksa. saya ingin kita lebih dekat."
" Karena saya orang baik, saya mau bantu kamu, sekarang kamu bisa pergi, selesaikan urusan kamu."
Kinan buru-buru beranjak keluar, takut akan tatapan tajam Rianti.
Di mobil, Kinan menenangkan dirinya," tenang, Kin. semua akan sesuai keinginan Lo, Dewa akan menjadi milik Lo, awalnya ja mereka gak suka, tapi siapa yang bisa menolak derita anak kecil tanpa bapak. gak ada, Kinan. gak ada." monolognya sebelum menyalakan mesin dan meninggalkan kompleks.
Tidak lama mobil Anggara tiba di pekarangan yang mana Anggara turun dari mobil sebelum mobil benar-benar berhenti.
" Kamu kok nyupirya lelet banget." omel Anggara sebelum turun.
Wisnu melirik Mama-nya yang meringis minta maaf lewat kaca spion tengah.
Sedangkan di dalam ruang, Rianti menepuk keningnya kala melihat mobil Anggara." Waduh, kenapa jadi runyam begini, ya?"
Rianti berlari menuju kamarnya, lalu mengunci dua kali pintunya.
Ia lantas segera menghubungi anak sulungnya yang menjadi sumber masalah ini.
❤️❤️❤️❤️
Bhumi sedang berkeliling mengitari ruangan mengawasi ujian kelas 10 IPA 2 saat dia mendapat telpon dari ibunya.
" Assalamualaikum, Bu."
" Wa'alykumsalam. kamu pulang sekarang."
" Hah, Bhumi lagi ngawas Bu."
" Pulang Bhumi, calon bapak pertua kamu ada di rumah, beliau lagi marah besar."
" Kenapa?" tanya Bhumi was-was, otaknya langsung traveling mencari kesalahan apa yang sudah dia lakukan. nihil, tidak ada!"
" Kinan, dia nitipin anaknya di sini. kamu jelasin ke kita siapa Kinan."
Tak....
Rianti memutuskan sambungan menyisakan Bhumi yang terpengarah karena terkejut.
" Oh, ****. apa maunya sih perempuan itu?"
Bhumi berlari sepanjang koridor menuju ruang guru, di sana dia menemukan guntur di ruang tamu.
" Tur, Lo ada ngawas?"
" Gak ada."
" Gantiin gue di kelas 10 IPA 2. ini urgen."
" traktir tapinya."
" Iye, kayak cewek Lo." Bhumi berlari ke ruangannya, langsung merapihkan barang bawaannya.
" Oke."
Guntur terbengong melihat cepatnya Bhumi berlari meninggalkan ruangan. Siena yang baru masuk bingung pastinya.
" pak Dewa mau kemana, pak Guntur?"
" Ijab Qabul nikah." jawab asal Guntur keluar dari ruangan guru.
" Issh, apa sih. itu gak mungkin lah, dia aja belum lamar aku." sewot Siena.
❤️❤️❤️❤️
" Assalamualaikum." salam Bhumi dengan napas ngos-ngosan.
" Papaaa..." seorang bocah berlari ke arahnya dengan merentangkan tangan minta dipeluk.
Sementara Anggara, Fena, Wisnu, Rianti, dan Fathan menatapnya dengan tatapan horor. Bhumi menggeleng cepat, ia mengabaikan rengekan bocah kecil itu yang kini mulai menangis.
" Aku telpon Adnan dulu, baru ngejelasin, sebab dia yang paling tahu maunya cewek eror itu." Bhumi menempelkan ponsel di telinga.
" Hallo "
" Ke rumah gue sekarang, si Kinan nitipin anaknya di rumah gue, keluarga om Anggara ada di sini semuanya. gue tunggu dalam waktu 15 menit."
klik....
" Jelaskan aja dulu seadanya, Bhum. calon mertua lelaki mu dari tadi ngancem mau batalin nikah."
Bhumi melangkah masuk masih mengabaikan tangisan bocah yang sangat memperihatinkan tersebut " Oh, tidak bisa, Om. saya aja gak kenal bocah ini, masa hanya karena kegilaan perempuan yang belum move on sampe harus menghempaskan mimpi saya."
" Jadi kamu mengakui punya hubungan dengan perempuan itu?" tanya Anggara mengintimidasi.
" Kita duduk dulu. saya jelaskan masa lalu saya dengar perempuan itu."
" Itu anak kamu nangis gak dibujuk supaya berhenti dulu, berisik tahu." sindir Fena judes sambil berjalan ke arah sofa.
" Gak minat kalau itu bikin kalian ragu sama saya." tegas Bhumi yang juga melangkah ke sofa.
" Tega kamu, Bhum sama anak kecil."
" Ini soal prioritas, Tan. bagiku saat ini Shava perioritas Bhumi."
" Papaa... Langit pengen ketemu papa."
Fena mengalah, ia berjalan dan berjongkok di depan Rio," Siapa nama Papa kamu?"
__ADS_1
Langit melirik Bhumi yang menatapnya datar tanpa minat." Erik, papa aku namanya Papa Erik, tapi kata Mama, aku punya Papa baru namanya Papa Dewa."
" Papa Dewa atau papa Bhumi?" selidik Fena.
" Papa Dewa." Fena menghela napas lega.
Sementara Bhumi mengulum senyum kemenangan, hanya orang-orang yang dekat dengannya secara pribadi dia perbolehkan memanggilnya Bhumi.
" Sini, ayang gendong sambil nunggu Mama kamu pulang." Fena mendudukan Langit diatas pangkuannya saat dirinya duduk di samping suaminya.
' Kamu bisa cerita sekarang soal masa lalu terindah mu itu." sinis Anggara.
" Gak ada yang terindah kecuali Shava, om. semua bermula saat Adnan membawa teman wanitanya yang bernama Kinan...."
Maka dengan lugas cerita Bhumi bercerita dari perkenalan hingga putusnya hubungan Bhumi dan Kinan. meski dia sendiri sudah kabur ingatannya perihal yang menurutnya tidak penting itu.
" Assalamualaikum." Adnan dan Erlangga memasuki rumah dengan raut khawatir.
" Wa'alykumsalam. " jawab penghuni rumah serempak.
" Lama amat."
" Jalanan macet, kalian berhenti nyuruh gue datang cepat. capek tahu mana si elang maunya dijemput mulu lagi." dumel Adnan tanpa sungkan di depan para orang tua.
" Noh lihat, anak Lo." tunjuk Bhumi dengan dagunya pada Langit.
" Ck, gue telpon bapaknya."
" Kamu tahu?" lagi-lagi, Fena menyelidik.
" Tahu, Tan. dia Erik Dewantara. dari Dewantara corp." jelas Adnan.
" Kebetulan Erik lagi cari cara buat ketemu anaknya yang disembunyikan oleh Kinan. dia gak mau Erik mengambil Langit." Adnan mengerikan ponselnya dan melakukan sambungan telpon pada Erik.
" Papa Erik, langit mau papa Erik." ucap langit senang.
" Kamu tahu siapa itu Erik?" tanya Fena.
" Papa lama Erik."
" Gak ada yang namanya papa lama, Langit. dia tetap papa Erik, papa-nya Langit." sahut Fena, langit mengangguk semangat.
" 6." sapa suar berat dari seberang.
" Loud speaker." seru Anggara yang sanggupi Adnan.
" Rik, gue di rumah Bhumi, gebetan calon mantu lo."
" Oh, urusannya sama gue?"
" Anak Lo, Langit di sini."
" Hah? serius Lo?"
" Langit, sini. sapa papa, katanya kangen." seru Adnan pada langit yang langsung turun dari pangkuan Fena.
" Papa. ini Langit, Pa."
" Hallo, langit, Papa kangen Langit."
" Langit juga kangen Papa."
" Langit sekarang di mana?"
" Di rumah nenek baru, tapi langit gak suka Papa barunya, galak. Langit mau papa Erik aja."
" Iya, sayang. papa Langit cuma papa Erik. papa jemput Langit ya."
" Iya, papa. Langit pengen sama Papa. sama Mama langit gak suka ditinggal terus soalnya."
" Iya, langit sama Papa. kita tinggal bersama-sama lagi." ucap bersuara serak menahan tangis itu.
" Udah ya, om mau bicara sama papa Erik." bisik Adnan.
" Papa, kata om-nya kita udahan telponannya. dada Papa. langit sayang Papa."
" Daah..., Papa juga sayang Langit." Adnan mengambil pon6selnya dari Langit yang dituntun seorang pembantu ke ruang tengah.
" Lo kemari atau hidup Lo berantakan."
" Kenapa? jangan drama. Kinan yang bikin kacau bukan gue."
"Tapi Lo masih berstatus suami dia. di udah ganggu anak Anggara Nasution, calon istri Bhumi aka Dewa."
" Astgaaa..Lo shareloc alamatnya gue langsung otw." erang Erik kesal.
" Cepetan datang."
" Iya, gue gak mau kehilangan klien juga ini. gue tutup teleponnya."
Ketika sambungan di tutup Adnan langsung mengirim alamat Bhumi pada Erik.
" Mungkin kedatangan pria bentak Erik ini akan lama karena mereka sedang ada jadwal sidang perceraian." ucap Rianti.
" Kok Tante Tahu."
" Si Kinan itu menitipkan anaknya dengan alasan itu."
" Adnan, kamu bisa ceritakan Versi kamu mengenai Bhumi dan Kinan itu." pinta Anggara.
" Ini salah saya yang memperkenalkan mereka. kinan itu putri dari James Purba, dari Purba corp. dia terbiasa hidup mewah dan manja.
" Dia suka Bhumi saat pandangan pertama, tanpa Bhumi sadari dengan sifat humblenya Kinan mendekati Bhumi. namun setelah jadian ternyata Bhumi tidak bisa memenuhi gaya hidupnya hingga dia berselingkuh dengan Erik Dewantara ini."
" Sejak putus tidak komunikasi diantara mereka, sampai Kinan memberikan kartu undangan pernikahannya. Selama ini Bhumi tidak pernah menyinggung Kinan sekali pun." tekan Adnan pada kalimat terakhir.
" Terus kenapa dia ngincer Bhumi?" tanya Fena.
" James Purba diambang kebangkrutan." celetuk Anggara.
" Dan pihak Dewantara tidak mau mewariskan hartanya pada Langit karena mereka meragukan identitas Langit sebagai anak Erik. alasan sebenarnya adalah mereka tidak menyukai Kinan yang suka menghambur-hamburkan uang."
" hanya itu?" tanya Fena ragu
" Ternyata dia tidak hanya tidur dengan Erik, tapi juga dengan beberapa pria lain dalam waktu yang sama."
" Cih, ternyata hanya perempuan nakal." dengkus Fena mencibir.
" Assalamualaikum." salam seseorang dari luar.
" Papaaa...." langit berlari keluar dari ruang tengah dengan merentangkan tangan.
" Langit, anak Papa." Erik berjongkok memeluk erat Langit melepas rindu setelah berbulan-bulan dilarang menemui putranya ini.
Mereka menatap hari pertemuan keluarga tersebut.
" Kamu cukup cepath untuk tiba kemari, mengingat pengadilan agama begitu jauh jaraknya dari sini." kata Fena.
" pengadilan agama? saya bukan dari sana. kebetulan tadi saya beri selesai meeting di restoran yang tidak jauh dari sini."
" Bukan dari pengadilan agama? bukannya hari ini jadwal sidang cerai kalian?" Rianti memastikan ucapan Kinan.
" bukan, besok jadwalnya, Tan. biasanya juga dia tidak datang, selalu diwakilkan pengacaranya saja, Tante."
Mereka saling pandang, " kenapa dia berbohong demi menitipkan anak kalian pada saya?"
" Soal itu...saya..."
" Menurut mu bagaimana kejiwaan istrimu?" tanya Anggara tajam.
Seketika ruangan hening, " Dia berubah sejak menemukan foto dirinya dan Dewa dalam album lama dia, Om."
" Dia menyalahkan saya akan kandasnya hubungan mereka, padahal saat kami jadian saya sendiri tidak mengetahui kalau dia punya pacar."
" Dia sangat terobsesi pada Dewa."
tring..tring....
Bhumi mengangkat ponselnya yang terus bergema.
" Hallo."
" Mantan kamu mendatangi aku."...
Mata Bhumi membelalak, ia segera berlari menuju motornya tidak menggubris teriakanhh dari ibunya
__ADS_1
Jangan lupa buat komentar, like, vote, dan kasih hadiah supaya cerita ini makin populer!!