
" Bima, ya Allah. Lo bawa mobil kayak yang baru bisa bawa aja. pelan benget dah." sewot Mira.
" Bawel Lo, gak lihat tuh di depan macet." dengkus Bima.
" Gue laper, Bim." masih Mira yang merengek.
" Idem."
" Bian, Lo baru makan siang bareng gue." kata Kenzo.
" Kalau gratisan mah perut gue mendadak busung laper. makasih, Vara cantik." Bima melirik Shavara yang duduk anteng di dekat pintu.
Penghuni yang terdiri dari dua pria dan tiga lelaki menyerbu Bima yang cengengesan.
" Beban Lo." cibir Berliana.
" Cie..cie...calon kakak ipar ngebela adik iparnya...awww..aaaaaawwww..Na, sakit, Na. oy..astaga bule kampung lepas agak rambut gue." serangan Berliana menjambak dan menarik rambut Bima tanpa ampun meski buma sudah berteriak minta maaf.
" Memang udah pasti Ana yang akan jadi kakak ipar gue?" goda Shavara.
" Coba aja Lo buka kerah kaos Ana, Var. dis itu banyak gigitan nyamuk raksasa." celetuk Kenzo.
Berliana dengan wajah memerah karena malu berganti menjambak rambut Kenzo," Adaw... Ya ampun, Ana. sakit Na, astaga..."
" Na, gue buka dikit ya, penasaran gue gimana sadisnya pak Wisnu." ucap Mira penasaran.
Berliana mendelik tajam," kalau gue buka Lo juga harus buka baju Lo, Lo pikir gue gak tahu kalau Kenzo sering gigit lo? gue lihat ya Lo bolak-balik apart Kenzo, bilang gak mau tapi leher Lo merah- merah." dengkus Berliana.
Mira membelalak kaget, ia merapatkan jaket Kenzo yang dia kenakan." jangan cari penyakit, Yang." ucap Kenzo yang rambutnya langsung ditarik Mira.
" Adududuh..sakittttt. rontok ini mah rambut aku." Kenzo mengambil tangan Mira di rambutnya, lalu mengecup punggung tangannya yang kemudian dia pegangi.
" So sweetttt." ledek Berliana.
drrrtt...drrttt...
Shavara tersenyum ada pesan masuk dari Bhumi, namun senyum itu tidak bertahan lama saat gambar tangan lentik berada di atas paha kekasihnya. tulisan caption." Tolong lindungi aku dari ulet keket, sayang." Tidak menurunkan kegeraman Shavara.
" Lo kenapa, Var?" Mira merebut ponsel Shavara saat melihat raut tidak mengenakan dari wajahnya.
" tangan siapa ini?"
" Monik. Kayaknya dia punya rencana ngambil kak Bhumi."
" Anj... bab*..." Semua anggota kebun binatang disertai cacian meluncur santai dari bibir sexy Mira, Kenzo hanya menggeleng tanpa mampu mencegah.
" Gue telpon pawangnya aja." Shavara mengambil kembali ponselnya.
" Siapa?"
" Pacarnya lah." Shavara menempelkan ponselnya di daun telinga menunggu jawaban dari seberang.
" Hallo, Vara. ada apa sayang?"jelas rasa terkejut dari pertanyaan itu.
" Aku ingin kita ketemuan di WarungKita."
" Kamu kenapa? apa kamu disakiti sama calon suami kamu?"
" Jangan banyak tanya dulu aku lagi gak baik-baik saja, nanti aku jelasin kenapa aku telpon kamu, bisa gak kita bertemu di sana?"
" Tentu, sayang. kita ketemuan di sana."
" Aku udah di jalan menuju sana, aku tunggu kamu di sana."
" Siap, cantik."
Klik....
" Gila, seriusan Lo mau dia ke sana?" tanya tidak percaya Mira.
" Iyalah."
" Kalau nanti mereka berantem?"
" Siapa?"
"Calon laki Lo sama si bego itu." ucap Mira gregetan.
" Kaka Bhumi bukan tandingannya, dia tuh emang orangnya aja yang toxic tapi gak bisa gelut. Kaka Bhumi pemegang sabuk hitam karate."
" Ooohhh..pantes." mereka pun mengangguk-angguk paham.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Brak...
Adnan terjengkit di kursinya akibat Kinan yang membuka pintu ruang kerjanya dengan kasar.
" Ck, jelangkung lo." jemu Adnan.
Kinan duduk bersila kaki, hati-hati menaruh tas branded-nya di atas meja Adnan.
" Bacot. gue pengen Lo pertemukan gue dengan Dewa."
Adnan mengangkat alisnya sambil menyeringai." Lo tahu kan resto dia, datang aja sendiri."
" Dua hari gue mantengin dia sampai tu restoran tutup, tetap aja dia gak mau nemuin gue. kalau lewat Lo, gue yakin dia gak bakalan nolak."
" Gue yang nolak."
" Nan, Lo yang ngenalin gue sama dia, Lo yang bikin gue tergila-gila sama dia, Lo harus bertanggung jawab." bentak Kinan.
" Bosan gue denger itu . Eh, nenek lampir, bukan cuma Lo yang gue kenalin, bukan cuma Lo yang suka sama dia, tapi gak ada yang seedan Lo." bentak balik Adnan.
" Lo teman gue bukan sih?"
__ADS_1
" Bukan, kan Lo yang mutusin pertemanan kita."
" Ck, seriusan Lo gak mau bantu gue?"Adnan mengangguk tegas.
" ADNAN, INI GUE YANG MINTA, KINAN, TEMAN YANG PALING LO PEDULIKAN." teriak Kinan frustasi.
" Geer, gue peduli sama semua cewek, bukan cuma Lo."
Adnan menatap tajam Kinan, wajah yang biasa tengil kini berubah kejam, " lo...sudah bikin gue bosan dan malu, enyah dari hadapan gue dan jangan ganggu Dewa.Pergi Lo. tahu tahu apa yang bisa gue lakukan termasuk pada keluarga besar Lo."
Kinan yang seketika terkejut dengan perubahan cepat raut wajah Adnan akhirnya meciut, tanpa kata dia berlalu dari ruangan besar tersebut.
Aryo menatap sebal Kinan yang mengganggu rutinitasanya.
❤️❤️❤️❤️
" Ah...ah ..ah..." napas memburu dari keduanya setelah pergelutan panas di siang bolong di apartemen Kinan
" Wow,..WOW...Lo beringas abis, *****." ucap Aryo yang sangat puas atas pelayanan dari Kinan yang beda dari biasanya.
" Jaga mulut Lo, ashole." Kinan beranjak duduk tanpa memperdulikan tubuhnya yang terekspose.
" Apa yang mengganggu Lo?"
Permainan kali ini Kinan yang sering lebih dominan bahkan hampir membuat Aryo kewalahan membaut dirinya curiga.
" Adnan gak mau bantu gue, dewa gak bisa didekati lagi. shitt, gue gak Thai lagi harus gimana." ucap Kinan disela meniupkan asap nikotinnya.
Aryo terkekeh meremehkan," ternaya Lo gak se-princess yang Lo pikir." tangan Aryo membelai punggung Kinan.
" Tinggal dua hari lagi, Nan." Aryo tersenyum saat menyadari Kinan mulai terpancing gairah.
Kinan berbalik, merangkak menaiki tubuh Aryo yang yang bagian bawahnya sudah siap," Jangan nyudutin gue, Yo. effort Lo apa?"
" Lo dapetin Dewa, sisanya biar gue. Vara gak sekeras kepala mantan Lo."
Aryo memegangi pinggul Kinan yang mulai naik turun dengan di atasnya saat ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar.
Melihat Shavara yang menelponnya, Aryo bergegas mencabut miliknya, lalu menyingkirkan Kinan dari atas tubuhnya agar dia bisa duduk tegak.
Kinan yang tengah dilanda g4irah hendak protes namun Aryo meneletkakn telunjuknya di depan bibirnya.
" Hallo, Vara. ada apa sayang."
masih dengan ponseo yang diapit bahu dan telinga, Aryo tanpa membersihkan tubuh, bergegas mengenakan boxer dan celana.
Dia melempar asal ponselnya ke atas kasur, lalu mengenakan pakaiannya yang mendapat protesan dari Kinan.
" Lo gak bisa pergi saat gue on fire."
" Shhuutt...itu Vara. dia ngajak ketemuan di WarungKita." Aryo menyemprotkan parfum Kinan sebanyak mungkin guna menghilangkan jejak kegiatan panasnya.
" Gue cabut." ucap Aryo setelah meneliti penampilannya.
" Hmm, gue nyusul, gue mau nuntasin dulu, nanggung."
Sepanjang jalan aryo tidak berhenti bersiul, bahkan jalan yang macet begitu dia nikmati. harapan ingin bertemu mantan yang dia target untuk balikan di depan mata, tentu dia harus tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Bahkan saat tiba dan mengunci pintu mobil siulan itu masih bernada riang, dia menuju tempat dimana Shavara katakan.
" MONIKA." bentaknya menggelegar melihat kekasihnya duduk menempel dengan lelaki yang sangat dia benci.
Monika bergegas menjauh, dan tubuhnya kaku saat netranya bersirobok dengan netra Mili Aryo yang menatapnya tajam.
Aryo mengambil langkah besar, kemudian menarik kerah belakang hingga membuat Monika terjengkang, lalu menyeret kasar Monika yang meringis kesakitan tanpa diberi kesempatan untuk menolak.
" Masss..., mas..., tolong lepasin." yang dihiraukan Aryo.
geram karena Monika terus berteriak yang mengudang perhatian pengunjung lain, Aryo menarik berdiri Monika, lalu, PLAK... PLAK.. dua tamparan di pipi kiri dan kanan diterima Monika.
" wow..wow.., take eazy man, bukan gitu cara memperlakukan cewek." Bhumi menghadang Aryo sat hendak keluar restoran melalui ruangan dalam restoran.
" Kenapa? dia pacar gue. atau suka dia? doyan dia? gue kasih cuma-cuma, sebagai gantinya Lo balikin ke gue." Aryo menyeringai licik.
" Bukan soal gue demen atau doyan, man. kelakuan dia memang gak patut disebut wanita terhormat, tapi dia belum semenjijikan itu juga sampe diperlakukan kayak virus Corona begitu. apalagi Lo sejajarkan dia sama calon istri gue, jauh level bro. dia cocoknya sama orang sejenis loo doang. tapi ini soal kemanusiaan meski terkadang sulit memberlakukannya pada cewek model pacar Lo, tapi kita cowok, gak jaman main kasar ke cewek meski dia pantes nerimanya."
Ucapan Bhumi itu membuat yang mendengar bingung, apa dia sedang membela wanita teraniaya tersebut atau merendahkannya. yang pasti perkataan itu membuat Monika merasa hina.
Monika menatap sendu Bhumi yang dia kira lebih baik dari Aryo.
" Kalau begitu minggir, jangan ikut campur urusan kami."
" Ogah juga ikut campur, tapi saat Lo keluar dari resto ini, bawa dia bagai Lo abwa manusia bukan binatang." tegas Bhumi.
Tajamnya sorot mata Bhumi membuat Aryo terpaksa tidak lagi menyeret Monika, tapi dia Menempatkan tangannya dia leher Monika lalu menariknya ke luar restoran.
Sementara Shavara dan para sahabat yang tiba lebih dulu mengintip semua adegan itu dibalik dinding teras.
" Busyet, vibes cowok Lo berdamage banget Var. kalau Lo lepasin dia, tol*l sih Lo." ujar Mira.
Drrt ..drrrt....
Ponsel Shavara berdentang, " Hallo." sapa Shavara tanpa melihat siapa yang menelpon.
" Vara sayang, Maaf mas belum bisa ke sana. mas ada rapat dadakan. ini penting, sayang." Shavara melihat siap id caller tersebut yang ternyata dari mantannya.
" Iya, gak apa-apa. lain waktu aja." Shavara menghiraukan sikutan di lengannya dari Mira.
Klik...
" Apasih, Mir. nyakutin gue mulu."
" Jadi kamu yang panggil dia ke sini?" tanya Bhumi yang berdiri di depan mereka.
" Hehehe, iya."
__ADS_1
" Ikut aku, kamu ahrus diberi hukuman."
" Gak bisa dong, bang. kalau dia dibawa pergi yang nraktir kita siapa?" cegah Bima.
" Kalian makan aja sepuasnya, saya yang nraktir kalian. saya bawa dulu teman kalian." Bhumi mengambil tangan Shavara.
Bima mendorong Shavara, " Silakan, gak perlu dibalikin."
^^^^
" Kak, maaf." untuk kesekian kalinya Shavara meminta maaf yang tidak digubris Bhumi yang terus menariknya menuju ruangannya.
" Aku nungguin kamu lama, sayang. kamu tega aku dipegang-pegang dia."
" Kamu kan tinggal awasin tangannya."
" Udah, malah namanya agresif. aku berasa dilecehin. tega kamu." ucap Bhumi saat membual pintu ruangannya.
" Kamu panggil pawangnya Lo, itu efektif kan."
" Aku kin gak suka ngedenger omongan kamu. kamu serius telponan sama dia."
" Buat lepasin kamu dari ulat itu." Alibi Shavara.
Bhumi memangku Shavara saat menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang, memandangnya sayu. " Kamu harus bertanggung jawab."
" Dia gak nyoblos kamu ya."
" Heh itu mulutnya, punya aku yang nyoblos bukan perempuan itu."
" Maaf, tapi dia gak sejauh itu juga. aku dari sejak datang ngawasin dia. aku jga gak rela kalau dia sampe ngeraba-raba kamu."
" Dia tadi udah ngegerayangin aku loh, sayang."
" Cuma sampe ngeraba tangan."
" Paha jua loh " Bhumi menempatkan tangan Shavara di pahanya.
" Pokoknya kamu harus hilangin jejak dia."
" Gimana? gak ada bekasnya." Shavara menumbuk paha Bhumi.
Bhumi mendekat, meletakan bibirnya tepat di dun telinga Shavara, dan tangannya membimbing tangan Shavara mengelus pahanya.." Ada, gak mau tahu, pokonya kamu harus meraba aku." bisiknya sensual diakhiri mencivm cuping telinga itu.
Satu tangan lain Bhumi menarik tubuh shavara merapat ke tubuhnya, tubuh Shavara menggelenyar geli," jangan modus, kak."
" Modus aja, itu aku jadikan kewajiban aku." Bhumi menyusupkan kepalanya ke lekukan leher Shavara, mengecupnya beruang kali di sana dengan tangan yang masih membimbing tangan Shavara di pah4nya.
" Sayang, kamu boleh lebih dari pah4." udah Bhumi serak.
" Aaakhh..." lenguh Shavara saat Bhumi mengecup bagian depannya.
Shavara, dengan satu tangan meremas rambut Bhumi.
" Kakh,..udah...hmmhmmmhhhh." bibirnya dibungkam bibir Bhumi yang langsung melu-mat habis bibir ranum itu.
Makin lama, aktifitas keduanya makin intens panas terlebih setelah Bhumi membaringkan Shavara di sofa makin lah tangannya itu aktif bereksplorasi.
Hampir semua menu telah terhidang di atas meja, " Ini kita makannya nunggu Bra atau langsung makan aja." seru Berliana.
" Langsung makan aja, gue yakin Vara lama turunnya." ucap Bima.
" Menurut gue juga begitu, mungkin dia yang sekarang lagi dimakan." ucap Kenzo pelan di tiga kata terakhirnya.
❤️❤️❤️
Plak...
Satu tamparan keras Edo layangkan pada Desty hingga dia terdorong jatuh di lantai yang terkejut saat menyambut kepulangannya
" MAS..." pekik Desty kaget sambil memegang pipinya yang memerah.
Edo menatap bengis Desty bagai bintang bus yang siap menerkam mangsanya.
Desty bergidik takut -takut sat mencoba berdiri." Mas, kamu apa-apaan nampar aku. apa salah aku? seharusnya aku yang marah, beberapa hari ini kamu ga ada pulang." bentak Desty.
" Aku gak terima kamu tampar, Mas."
Edo masih diam di tempat tanpa bergerak sedikit pun hanya dadanya naik turun seirama napasnya yang kian menderu.
" Aau apa? apa yang akan aku lakukan kalau masih menampar kamu."
Plak...
Kepala Desty Samapi tertoleh ke samping, Desty bisa rasakan rasa asin di sudut bibirnya.
" Ma...s...mass... kamu kenapa?" lirih Desty.
" Memang benar apa kata orang, jangan menempatkan binatang liat di jalanan ke kandang mewah, atau dia akan mengigit dan merusak kandang tersebut." desis Edo tajam.
" Mas, aku benar-benar gak ngerti maksud kamu. jelaskan padaku, apa salah ku. dua hari ini kamu menolak setiap aku ke ruangan kamu, bahkan kamu melarang aku untuk berkunjung ke kantor kamu."
" Siapa ayah dari Bian?"
Tubuh Desty limbung saking shock-nya dengan pertanyaan itu.
" Di..dia...anak kamu...Mas. kita melakukannya di ruang kerja kamu."
" BOHONG, aku tidak melihat kemiripan ku dengan dia, tapi justru Senja, anak Rianti yang kau bilang bukan anak ku, duplikat aku."
" Bisa kau jelaskan itu?" tekan Edo menajam.
" Mas...itu kejadian lama, kenapa sekarang kamu membahasnya lagi, yang terpenting selama ini Bian sudah baik menjadi anak kamu."
Dalam satu gerakan Edo mengapit kuat dagu Desty hingga dia menengadah. baru Desty sadari mata merah penuh amarah di sana." Jawab saja pertanyaan aku. siapa anak kandung ku, Bian atau Senja?"
__ADS_1
Suara berat Edo dengan rahang bergemeletuk, membaut tubuhnya Desty gemetaran...
Sorry part ini lama, keluarga sakit.. enjoy it dan jangan lupa like, komentar, vote, dan hadiah...bintang lima ya ..love sehektar baut kalian❤️❤️❤️❤️