
Tap..tap...
Bhumi menuruni tangga sambil bersiul dengan langkah melayang setengah berlari, aura bunga bermekaran dengan latar belakang pink menghiasi sekitarnya, selalu aura itu yang mengelilinginya sejak ia menikah, hingga membuat orang sekitar yang melihatnya iri bercampur jemu.
"Ck, ck...kasihannya putra sulung keluarga ini, bujang bukan, duda juga bukan. Dibilang perjaka, udah punya istri, dibilang punya istri tapi gak ada, macam duda. ck..ck..."
Bhumi sudah kebal dengan ledekan yang dia dapat tiap harinya dari Senja sejak mereka dilarang serumah pasca dirinya sembuh.
" Pagi, om, Bu." salam Bhumi pada Fathan dan Rianti yang duduk di ruang tamu mengabaikan keberadaan Senja, sementara Bian masih mondar-mandir mengangkut wadah bekas jualan.
" Kamu gak masalah dengan keadaan ini, Bhum." tanya Rianti
" Keadaan apa?"
" Vara gak di sini, lagian kenapa kamu gak sesekali bawa Vara kemari."
" Gak apa-apa, masih bisa nginep di sana. sebenarnya aku mau bawa Vara kemari, tapi situasi rumah belum kondusif, Bu. Aku panik waktu ibu telpon aku tempo hari sambil nangis-nangis gitu."
" Ya gimana ibu gak nangis, adik mu nangis kejer di sini sambil dia cerita apa yang dilakukan perempuan itu."
" Ja, lain kali kalau kamu gak sanggup menghadapi dia sembunyi di belakang Mas. jangan bikin ibu panik."
" Iya, maaf."
"Yan, kamu duduk di sini." Rianti menepuk ruang kosong di sampingnya, saat Bian melewati ruang tamu.
" Sebentar bu, nanggung."
" Sini, beresin wadah ada orang yang nanti angkut."
Sedetik Bian meletakkan bokongnya di sofa, Rianti langsung memeluknya, mengusap punggung Bian dengan lembut.
Tubuh Bian sontak menegang, yang detik berikutnya relaks saat mendengar penuturan ibu.
" kamu juga, lain kali kalau bersedih jangan sungkan berbagi, jangan kayak kemarin pulang subuh. Kita ini keluarga, sudah senang atasi bersama, atau jangan-jangan kamu gak anggap kita keluarga?"
Bian segera menggeleng, dia tidak sanggup bicara, suaranya tertelan rasa haru.
" Maaf, aku hanya tidak ingin membebani kalian." Bian mengurai pelukannya, suaranya tercekat.
" Makan kamu yang banyak itu lebih membebani uang belanja rumah ketimbang kamu cerita." ucap Bhumi.
" Bhumi..." peringat Rianti yang tidak mendapat respon apapun dari Bhumi.
" Keluarga ini, unik ya, yang satu anak pelakor Ibu. aku, anak yang tidak diakui, Mas Bhumi punya istri tapi rumah terpisah, ibu, janda berasa bersuami. Apa kata dunia!" tutur Senja.
Mereka terkekeh, " bisa di daftarin ke MURI sebagai keluarga gak jelas." celetuk Fathan.
" Ayah, kapan nikahi ibu?"
Uhuk..uhuk...
Rianti yang tengah minum, tersedak mendengar penuturan putrinya." Enjaaa..."
" Apa? Ini aku beneran loh ngomongnya. Aku takut ayah Fathan ditikung, Aku gak mau ya ibu balik sama bapak Edo, gak ada!" tegas Senja.
Ada di satu sudut hati Bian yang tercubit atas penolakan Papanya.
" Atas dasar apa kamu ngomong begitu?"
" Dia tiap hari kemari, memang mau apa kalau bukan pendekatan sama ibu."
Rianti menghela napas berat," Papa kamu kemari lebih ingin berdekatan sama kalian ketimbang ibu, lagian setiap beliau kemari kan kalian juga ada."
Setelah hari kejadian hari itu, setiap hari Edo memberanikan diri mampir untuk sekedar menyapa para anaknya meski hanya Bian yang menyembur hangat akan keberadaannya.
Sementara Bhumi, menolaknya terang-terangan, sedangkan Senja hanya menyambutnya datar antara rindu dan juga kecewa masih menggelayuti hatinya. Beruntung Fathan memberi vibes positif baginya dengan advice yang baik perihal silaturahim.
" Itu alibinya saja, aku yakin bapak pengen balikan. Aku cuma negasin hanya ayah Fathan yang aku mau menjadi ayahku. Ibu juga jangan pura-pura tutup mata akan perasaan ayah Fathan." telak Senja.
" Bang, aku gak nyangka kalau om Angga beneran melaksanakan isi perjanjian pranikah itu." Bian mencoba mengalihkan pembicaraan, meski itu jelas terlihat.
" Lagian kamu mau-maunya menyepakati syarat konyol itu." timpal Fathan.
Senja yang tahu mereka berdua tidak menyukai pembahasan ini, hanya cemberut tidak berani menyela melihat tatapan tajam Bhumi padanya karena raut sedih ibunya.
" Ya gimana namanya juga cinta, daripada diembat yang lain, mending aku iyain." jawab Bhumi enteng.
" Gak dingin tuh ranjang, bang."
" Anyep, Yan."
" Hahahahahaha..." gelak semuanya.
" Kaciaaannm..deh Lo...." tukas Senja dengan mimik sok prihatin.
" Bu, liburan ini, aku mau ajak Vara liburan."
" Enja ikut."
" Enggak."
" Mas, kok pelit, biasanya diajak."
" Ini tuh liburan diisi dengan bulan madu, Ja. ngerti dong. Di sini diganggu mulu." gerutu Bhumi.
" Ja, liburan ini kamu harus mempelajari perusahaan." sahut Bian.
" Tuh dengerin."
" Dih, kenapa? Kan yang CEO-nya kakak bukan aku."
" Ck, kamu ini, duit pengen, mikir gak mau. Walau kakak yang kerja sebagai pemilik saham terbesar kamu juga harus tahu seluk beluk perusahaan, lagian kakak gak selamanya juga jadi CEO bisa jadi suatu hari nanti kamu yang ngegantiin."
" Gak, gak mau, aku kalau udah balas dendam sama nenek lampir itu juga bakal dibalikin tu saham."
" Ck, jangan begitu, perusahaan jangan dijadikan permainan, ini nyangkut hajat orang banyak. Di perusahaan papa ratusan kepala keluarga menggantungkan kesejahteraan dari kita."
" Ta..pi..."
" Dek, dengerin Mas, kamu kalau gak mau saham itu, lepas. tapi gak ada salahnya kamu belajar bisnis, perempuan harus pinter nyari duit." imbuh Bhumi.
" Ini aku lagi nyari duit lewat dagangan dessert sama sarapan aku."
" Kamu perempuan, ada masanya akan menghabiskan waktu lebih banyak di rumah ngurus keluarga, dari sekarang belajar nyari duit tanpa harus keluyuran."
" Dek, itu pertanggungjawaban moril aja, nanti siang ke perusahaan ya." ajak Bian.
" Hmm, soal uang kakak yang ternyata dijadiin arisan gimana?"
" Udah kakak hubungi, mereka akan kasih itu ke kakak dipotong tunggakan bulan ini."
" Bu, Bhumi pamit mau ajak jalan Shava." Bhumi beranjak mencium punggung tangan Rianti dan Fathan.
" Oh, iya, Bhum. Nanti siang kamu sama Vara datang ke acar arisan ibu ya, ibu mertua mu mau pamer menantunya katanya."
" Baik." Bhumi beranjak membuka pintu, tubuhnya refleks memasang gestur pertahanan saat melihat orang yang berdiri di depan pintu.
Edo, lelaki paruh baya yang berdiri dengan senyum lebar meski senyuman itu tidak bisa menyembunyikan raut kesedihan di wajahnya.
" Pagi, kamu mau pergi?"
" Hmm."
Meski hanya deheman, itu memberi efek luar biasa bagi Edo yang selama ini tidak dianggap ada.
" Papa bawa sarapan, udah makan?"
Bhumi diam, enggan menjawab. Seperti biasa.
" Do, masuk. bawa apa itu?" tanya Fathan mencoba mengurai ketegangan di sana.
" Sarapan, siapa tahu ada yang belum sarapan."
" Syukurlah, kita memang belum sarapan."
" Aku pergi." ucap Bhumi.
" Hati-hati di jalan. Dan maafkan Papa." lirih Edo pada tiga kata terakhir.
Bhumi meninggalkan rumah tanpa menanggapi ucapan ayahnya.
❤️❤️❤️❤️
Tok..tok...
__ADS_1
" Tunggu__bentar..."
Ceklek....
" Wow,....Soo... hot..." decak Bhumi saat melihat pemandangan di depannya.
Di mana istrinya hanya berbalut handuk yang menutupi dada sampai pertengahan paha.
Bhumi mendorong pelan perut Shavara agar ia bisa masuk, lalu menarik pinggangnya menempel ke tubuhnya.
" Kyaaa...."
Klik...
Saking kagetnya Shavara berteriak atas serangan ******* ganas memakan habis bibirnya dari Bhumi dan satu tangannya yang lain dengan lihai mengunci pintu.
" Hmmm...wangihhh..." desah Bhumi beralih menghirup kulit leher telanjang Shavara.
" Baru mandi ya..adem kulitnya..aku suka..." bisiknya seraya meniup cuping Shavara.
Tubuh Shavara meremang, ia mengalungkan tangannya ke leher Bhumi membuat Bhumi makin mengeratkan pelukannya. selain bibir Bhumi yang aktif mencecap area lehernya, tangannya juga bergerak lincah membelai tubuhnya.
Shavara menggeliatkan tubuhnya pada tubuh Bhumi, Bhumi menangkup bok0nk Shavara yang tungkainya langsung mengalung di pinggang suaminya.
Bhumi tanpa beban melangkah ke ranjang yang menggoda menawarkan sejuta kenikmatan.
Tangan besar itu mengelus pah4 mulus dengan mata saling memandang, tatapan keduanya sayu disulut gairah.
Cup...
Shavara mengulum senyum, ia mengelus rambut suaminya dengan sayang.
" Love you." mereka bibir Bhumi mengatakan itu tanpa suara.
" Me too, love you."
Brugh...
Tubuh Shavara menerjang ranjang disusul Bhumi yang mengukung ya.
Ikatan handuk itu terlepas, perlihatkan daging kenyal mengintip menyembul dibalik ujung handuk.
Sudah tidak tahan lagi Bhumi mencecap hangat daging itu, lalu sesekali menghisapnya.
Satu tangan memainkan buah itu, merem4snya sedikit kuat yang dirasa sakit walau Nikmat perlu Shavara. melahap lalu menyedot bagai bayi yang kehausan.
" Sshhh...aaaahhh..Aa..." erang Shavara meremas rambut Bhumi.
" Aa...aku....mau..kee..kampussshhh...aaahhh.. Jangan gigit..sakit..."
Plop...
Bhumi melepas mulutnya dari pucuk berwarna pink itu." maaf, gemes aku..."
Satu tangannya bermain di pucuk satunya." Aa...hhh...aahhhh..."lenguh Shavara yang mengundang senyum Bhumi.
" Aku kangen...sayang..."
" Akuhh...hmmmhh..."
Bhumi membungkam mulut ranum itu dengan bibirnya, ia terlalu meras dahaga akan istrinya.
*****4n yang semula lembut, perlahan diperdalam dengan menghisap kulit yang terasa manis itu.
Hingga terbuka maka lidah Bhumi kontan masuk menyerbu rongganya mengabsen setiap gigi.
Kegiatan yang terus berlangsung lama yang mana jaket Bhumi sudah terlepas, dan kini kancing kemejanya sudah terbuka dua anak akibat ulah nakal tangan Shavara.
Tok..tok...
" Pak,...Teteh...makan..masih pagi..jangan bikin ponakan dulu..teteh belum wisuda..." teriak Aditya di balik pintu.
Civman itu sontak terhenti dengan erangan kesal dari Bhumi." Ck lama kelamaan tensi ku tinggi aku gara-gara gangguan ini."
Bhumi menjatuhkan diri disamping Shavara yang sibuk membenahi handuknya." Makanya jangan main serobot. Pasti banyak ini bekasnya." rungut Shavara mempout bibirnya.
Ia beranjak duduk, pun dengan Bhumi yang mendekap pinggang Shavara dengan dagu bertopang di bahu Shavara.
Bhumi terkekeh," Gak betah aku kalau badan kamu polos bening gitu."
" Sayang, liburan ini kita bulan madu yuk."
Mata Shavara berbinar dengan anggukan kepala bersemangat." Kemana?"
" Kemana aja, tapi yang dingin-dingin beku mumpung musim hujan."
" Gak seru, susah keman-mana kalau hujan gini."
" Kan bulan madu, sayang. Di mana-mana bulan madu itu waktunya dihabisin di kamar. Paling keluar buat makan, terus masuk kamar lagi."
" Heh, kalau itu mah di sini aja open kamar hotel, jadi."
" Gak mau, adik atau kakak kamu kan rese, pasti mereka nyusul kita. Kan gagal juga cetak golnya sayang."
" Aku nikah udah lama, tapi masih perjaka, apa kata dunia persilatan...ngenes gak sih aku...cup...cup..." Bhumi mengecup bahu Shavara.
Shavara mengusap wajah Bhumi yang merengut." Kamu nikahi aku demi itu doang?"
Bhumi menggeleng," Kamu gak bosen nanyain itu mulu? Kalau cuma pengen Tiu doang mah udah aku Riska kamu sedari kita pacaran. tapi kan...itu mendesak...kamu tahu sendiri aku nyosor nya gimana sama kamu dulu..."
" Sekarang apalagi, gak bisa kita berduaan..." sela Shavara.
" Itu tahu, ini karena cinta, aku cinta kamu. intinya kalau menyangkut kamu birahiku naik berjuta-juta volt. kamu menggoda banget." Bhumi mengigit-gigit halus bahu Shavara.
" Lama amat, laper banget ini." rungut Aditya.
" Tinggal makan." sahut Shavara santai.
" Ck, Papa." Anggara yang duduk di kepala meja melipat korannya.
" Kamu itu, udah kelas 12 masih aja ngerek ngadu." jenuh Wisnu.
" PAPAAA..." Aditya makin menjadi merengeknya, Bhumi hanya menggeleng geli.
" Pa, akh minta izin ngajak Shava liburan."
" Kemana?"
Mata Bhumi melirik Aditya yang terlihat terlalu bersemangat menguping, kalau Wisnu terlihat tidak peduli walau dia yakin telinganya terpasang siaga.
" Rahasia."
" Yaaaaa...." Anggara terkekeh dengan protesan putra bungsunya.
❤️❤️❤️❤️
Bian bersama Aira berkumpul bersama para nyonya sosialita menghadiri arisan dollar yang diikuti Desty.
Aira meringis ngeri melihat penampilan para sosialita tersebut, ada yang berambut melebihi jambul katulistiwa-nya syahrini, ada yang berbulu mata melebihi kecepatan petir di tengah malam, belum lagi ad ayang berlipstik merah seperti darah segar yang nemplok.
" Kak, lama gak di sini-nya?" bisik Aira pada Bian.
" Enggak, udahan kocok langsung cabut. Kenapa?"
" Serem sama dandanan mereka."
" Itu kamu di masa depan."
Puk...
Aira menumbuk lengan Bian," gak ya... amit-amit."
Bian terkekeh," Gak percaya ini, baru kelas sepuluh udah pake pewarna bibir, aku cium tahu rasa kamu." Bian mengelus bibir bawah Aira.
Kontan Aira menegang di tempat, sapuan tangan besar Bian sangat meresahkan. Rona semu merah di pipi Aira tak lagi bisa disembunyikan.
Bian mengulum senyum akan ketersipuan kekasihnya," Baru digituin udah salting, gimana beneran dicium coba. Kekelenjotan kamu."
Hari ini adalah penarikannya yang ternyata yang keluar nama Desty.
Ceklek...
" Jeng, sorry, saya terlamba...tttt...." ucapan Desty melambat kala mendapati Bian di dalam private room restauran mewah itu.
" Sedang apa kalian di sini?"
__ADS_1
" Mengambil arisan saya." jawab Aira.
" Apa-apaan kalian, ini punya Mama, Bian."
" Kalau begitu kembalikan uang aku yang di transfer Papa."
" Bian, jangan keterlaluan kamu, kamu sudah mengentikan semua dana Mama, mama butuh uang, Bian." sentak Desty.
" Ma, itu bukan urusan Bian, ini permintaan Papa Robert atau beliau akan mempidana Mama dengan dasar pencurian."
" Permisi, ini ada apa?" tanya sang ketua arisan
" Hanya misskmunikasi aja Tan."
" Kalau begitu, saya transfer dollarnya ya."
" Iya,"
" JANGAN!!"
Ucap Bian dan Desty bersamaan, sang ketua dibalut bingung.
" Maaf, jeng Desty, tapi saya sudah mendapat pengumuman dari surat edaran perusahaan Mahendra. Bain yang berhak atas segala apa yang kamu lakukan."
Mendengar itu, Desty membelalak tidak percaya, ia menatap tajam Bian dengan tangan mengepal erat.
" Bian, kamu lihat apa yang bisa Mama lakukan sebagai pembalasannya." setelah mengatakan demikian Desty keluar ruangan.
Saat melintasi ruangan, Desty bertemu dengan Wita dan Deby yang tengah menikmati sajiannya.
" Jeng, jeng Desty." panggil Deby.
" Hallo, jeng. Apa kabar." balas Desty menghampiri mereka.
Melihat makanan yang tersaji di meja, Desty menelan ludahnya, perutnya sangat lapar, sejak dua hari yang lalu dia harus menghemat walau hanya untuk makan.
" Mari gabung, kami sedang menunggu anaknya mbak Wita. Kita mau fitting baju buat pertunangan mereka." ajak Deby.
" Waah, selamat ya. Jeng."
Wita tersenyum ramah," terima kasih, Jeng."
" Ngomong-ngomong, kenapa beberapa hari ini kamu gak pernah kumpul bareng lagi?"
" Maaf, Jeng, saya sedang sibuk bolak-balik Singapura. Mas Edo mau buka cabang di sana."alibi Desty, dia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya, bisa-bisa dirinya dikucilkan, tidak dia belum siap, dan tidak akan pernah siap.
Hingga satu ide terlintas, kalau memang dia tidak bisa lagi bersama Edo, maka dia ahrus mencari sumber uang yang lain.
Matanya jelalatan dihiasi senyum smirk melihat set perhiasan yang dikenakan Deby, Jagar, dia tahu siap suami Desty.
Lelaki tampan pendiam, dingin yang terlihat kejam, namun penuh pesona.
" Oooaaalllahhhh...gak bosan buka cabang mulu."
Desty tertawa cantik ala sosialita," gak paham aku, padahal bagiku, yang di Indonesia, sama Eropa saja cukup. Gak tahunya sampe Amerika aja juga masih belum cukup menurut beliau." merendah untuk meninggi.
Deby dalam hati mencibir omongan Desty meski dia masang mimik ramah.
Saat pintu masuk restauran dibuka, Desty melihat Bhumi berjalan bersama wanita muda menuju meja yang tidak jauh dari mereka.
Sudah ada Fena dan Rianti bersama beberapa teman tongkrongannya. Mereka mengobrol ngalor ngidul.
Tangan Desty yang memegang serbet makan, meremat kuat, pantesan dia selam menjadi istri Edo Mahendra tidak bisa menembus circle strata sosial tertinggi di negeri ini, ternyata ada Feni Nasution yang terlihat akrab bersama Rianti.
Tidak lama juga Aryo datang bersama Monika yang bergelayut manja di lengannya meski Aryo terlihat bosan padanya. Mereka berjalan menuju meja Wita berada.
" Ma..."
" Anak dan mantu ku...sini sayang..duduk sini..." pekik Fena berlebihan yang sangat kentara disengaja.
Bhumi dan Shavara mengalami mereka satu persatu.
Tubuh Aryo menegang dengan rahang mengadu geram, karena kesal Aryo menghentak tangan Monika lalu duduk di samping Wita.
Ekor mata fena melirik Wita dan Deby. Ia menyemat senyum smirk yang belum disadari oleh Shavara.
" Jeng, kenalkan ini Bhumi, Mahadewa Bhumi Mahendra, menantu ku yang paling ganteng sejagat raya. dia lelaki gantle yang berani nikahi putriku, gak cuma ngiket pake tunangan terus selingkuvh kayak bebek entog yang main sama ayam kampus. Xixiixixi." Fena terkikik cantik dengan satu tangan yang tersemat cincin berlian besar menutup bibirnya.
Semua yang duduk di meja Wita beserta beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.
" Norak..." celetuk Deby kencang.
" Deb..." Tegur Wita.
" Biar dikata norak, tapi anak saya gak rebut cowok orang...apalagi cowok yang direbutnya cuma berani berani tunangan tapi gak mau nikahi. pasti masa pertumbuhannya kurang gizi buat otak...cuaksss..." Fena makin panas.
Monika yang paham sindiran itu untuknya cuma bisa menunduk malu sambil memainkan sajiannya.
Fena tahu hari ini Genk Wita akan berkumpul di restauran ini, dia dapat kabar dari salah satu genknya, makanya Fena meminta Bhumi dan Shavara untuk datang kemari.
Shavara menunduk, bukan karena tidak enak hati pada Wita melainkan malu menjadi tontonan.
Bhumi menangkup tangan istrinya dibawah meja, membawanya ke pangkuannya. dielusnya punggung tangan lentik itu.
Adu mulut saling sindir antar dua wanita yang saling menyindir itu pun tak terelakkan, beberapa pengunjung menikmatinya pasalnya ucapan yang dilontarkan tak jarang sangat menggelitik.
" Jeng, kalau punya anak pastikan dikasih vaksin buaya rawa, kan setia tu, supaya menangkal virus buaya darat yang akhirnya anak kita pulang bawa penyakit fuckboy, cuma PHP-in doang." Fena makin menjadi.
Ganknya terkikik puas, dua geng itu memang bersaing panas pasca Fena dengan semena-mena mengeluarkan Wita dari Genk mereka. Deby yang tersinggung membuat Genk tandingan meski masih kalah pamor dan gengsi.
" A, aku ke toilet dulu ya." bisik Shavara.
" Aku anter."
" Gak usah."
Aryo melirik memperhatikan Shavara yang hilang di belokan arah toilet. Aryo mengelap mulutnya karena lepas makan. Tanpa permisi ia pun pergi dari mejanya.
Bhumi menyadari mantan tunangan istriya itu berjalan ke arah toilet, ia dengan keras hati menahan diri untuk menyusul istrinya.
Ceklek...
Shavara terkejut mendapati Aryo berdiri di depan pintu toilet perempuan.
" mau ngapain?" tanyanya sinis.
" Kok sinis begini, kenapa? Mentang-mentang udah nikah?" Aryo tidak kalah sinis.
" Ck, gak penting." Shavara melengos hendak pergi yang dihalangi Aryo.
Aryo memegang lengan Shavara,
Sedikit menekannya.
" Kenapa kamu menikahi dia?"
" Lepas!"
" Kenapa? jawab aku Vara. Kamu tidak bisa menikahinya ketika kamu sendiri membaut janji temu dengan ku." desis Aryo dengan mata menyalang.
" Huh, dan saya bersyukur kamu membatalkannya, karena dengan mat asaya sendiri saya melihat betapa kasarnya kamu memperlakukan Moniq."
Aryo tertegun, dia kaget." Kamu ada di sana?"
" Restauran itu dekat dengan kampus ku, tentu saja saya makan di sana. Kasihan sekali Moniq mengorbankan persahabatan untuk lelaki jahan4m macam kamu."
Garis wajah yang semula menegang perlahan turun, raut wajah Aryo melembut. Pernah berhubungan selam empat tentu Aryo tahu bagaimana mengatasi kemarahan mantan ruangannya itu.
Shavara seketika waspada saat senyuman manis Aryo dan tatapan lembut itu menyapanya, tangan Aryo yang masih mengenai lenagn Shavara mengelus lembut.
" Kamu cemburu, jelas kamu cemburu. ternyata kamu masih mencintai ku." ucapnya lembut.
Kening Shavara mengerut bingung, dari mananya sikap dia yang menunjukkan kalau dirinya masih mencintainya?
Dengan tekad bulat Shavara siap menyanggah, ia hentakan kecil-kecil tangannya agar dirinya terbebas, namun satu suara memperburuk suasana.
" Apa yang sedang kalian lakukan, lepaskan tanganmu darinya, Bedeb4h!!"
BUGH....
" Aargghhhh...." hidung Aryo yang patah mengeluarkan darah segarnya....
Ayok kasih komen, like gift dan vote dengan bintang limaaa....
Makasih yang masih ngikuti cerita ini....
__ADS_1