Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
76. Roda Kehidupan Berputar.


__ADS_3

Ceklek...


" Dek,..." wajah Wisnu menyembul disela pintu.


Shavara yang tengah membersihkan wajah menoleh sejenak," Hmm?"


" Kamu masih marahan sama Bhumi?" Wisnu masuk ke dalam kamar adiknya tanpa seizinnya.


Tidak ada jawaban dari Shavara, ia enggan membahas soal ini.


" Sampai kapan kamu mau keras kepala kayak gini? kalian sudah menikah, Bhumi bukan keluarga kamu yang gak akan putus hubungan dan terus bersabar dengan ngambeknya kamu yang Aa rasa konyol ini."


Raut Shavara muram," Konyol? difitnah selingkuh itu konyol?" suaranya meninggi tidak menerima.


" Hmm, konyol. kamu seharusnya nanya kenapa dia menuduh kamu begitu."


" Karena trauma soal Papanya." Wisnu menggeleng akan tebakan adiknya.


" Karena kamu gak pernah tegas sama Aryo."


" Aku terang-terangan nolak dia."


" Sikap kamu, Bhumi menangkap kamu yang dulu ingin menolongnya."


Lewat cermin mata mereka saling beradu pandang," Aa tahu dari mana?"


" Bhumi sendiri yang bilang. Dia itu orangnya peka, saking pekanya dia bisa baca perubahan raut wajah orang. Mendengar kalian ingin temu janji wajarlah kalau dia marah."


" A, aku janjian sama dia itu agar dia mencyduk Monika yang sedang merayu Aa Bhumi, pancingan, janji temunya aja di Warungkita."


Shavara lantas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja riasnya, lalu mengotak-atiknya" ni lihat chat-an aku sama dia, terakhir waktu Aa Bhumi ngirim foto mereka di Warungkita."


Wisnu mengambil ponsel tersebut, ua membacanya bahkan men-screenshot ke obrolan ponselnya.


" Moniq masih ngedeketin Bhumi setelah di club itu?"


Shavara mengangguk," Beberapa kali dia mengirim gambar mesra kebersamaan mereka, tapi Aa Bhumi bilang itu hoax, Aa juga katanya di sana."


" Memang."


" Dia masih terus kirim DM, atau pesan bahkan sering telpon Aa Bhumi. Aku sendiri takut Aa Bhumi terayu, tapi..."


" Kamu jelasin ini ke Bhumi?"


" Udah, tadi waktu Aa jemput aku."


" Terus kenapa kalian masih marahan?"


Dengan ragu Shavara berkata jujur," aku yang masih belum mau bahas soal ini, hati aku masih sakit."


" Ini yang Aa bilang konyol, kalian itu menikah dengan niatan bersama selamanya, bukan pacaran yang sewaktu-waktu bisa putus. Baru persoalan sepele gini aja lama urusannya padahal cuma butuh bicara."


" Dek, di masa depan nanti dalam rumah tangga kalian pasti ada persoalan yang lebih besar, kalau kamu selalu pake cara diam kamu padahal gak menyelesaikan masalah bisa-bisa kalian pisah, mau?"


Shavara mengoyak-koyak tipis kapas yang dia pegang karena gusar, memikirkan itu Shavara panik sendiri, Suaranya bergetar saat menjawab." Enggak lah...tapi..."


" Cara marah kamu yang keseringan berlarut-larut bikin orang lelah, sekarang Bhumi masih bertahan, tapi kita gak tahu nanti. Apa kamu pernah berpikir, mungkin karena ini Aryo berpaling pada teman mu itu?"


Shavara terdiam merasa tertohok, dia yang selalu diam karena tidak mau ribut, membiarkan waktu yang mengurai masalah dan tidak menuntaskannya, hanya membiarkannya saja hingga sewaktu-waktu masalah tersebut kembali terulang.


Shavara menggeleng," Aku...aku bingung..."


" Ck, piara aja terus ego kamu, kasih cewek lain celah diantara kalian. Kalau kamu nyari dia, dia di kamar Aa."


" Aa cuma mau ngomong itu, ini juga mau balik ke kantor lagi, cepat obrolin sebelum terlambat." Wisnu berbalik melangkah ke pintu membiarkan Shavara merenungi perkataannya.


Shavara menunduk sesegukan diantara dua lengannya yang bertumpu dengan siku, menangisi kepengecutannya.


Kebiasaannya lari dari masalah hanya karena merasa terbebani kalau berkonflik menjadikan dia bersikap kekanak-kanakan.


Ceklek...


Bhumi bertabrakan dengan Adnan dan Erlangga yang hendak masuk ke kamar wsinu.


" Ngapain Lo sih di kamar ini?" tanya Adnan.


" Awet amat berantemnya." Timpal Erlangga.


" Kalian ngapain ke sini?"


" Di undang Vara."


" Ngapain? Boong Lo." Bhumi menelisik waspada.


" Seriusan, Vara ngundang kita bakal barbequean."


" Kok dia gak ngomong apapun sama gue?" Bhumi mental pintu kamar Shavara dengan layu.


" Namanya juga lagi berantem." hiburan Erlangga.


" Lo sendiri Kenapa gak tahu bakal ada barbeque-an?" ledek Adnan.


" Ck, gelap ah." Bhumi melipir ke kamar sebelah kamar istrinya.


" Lo berhutang traktiran ke gue." bisik Adnan sebal.


" Thank, bro."


" Lagian kenapa sih Lo gak ngomong langsung ke Bhumi kalau Lo naksir adiknya?"


" Huh, lu tanya diri Lo sendiri, kalau Lo punya adik perempuan, terus ada laki modelan Lo naksir adik Lo, Lo restui gak?"


" Enggak!" jawab cepat Adnan dengan tegas.


" Itu Tahu. Sadar juga kalau Lo brengsek." Erlangga memasuki kamar.


" Anjir, gue menghina diri gue sendiri." monolog Adnan menyusul Erlangga.


Tok...tok...


" Dit, buka, Dit." Bhumi berteriak di depan pintu kamar Aditya.


" Ada apa, pak?"


" Kapan kamu bisa bujuk kakak kamu? katanya kamu pawang dia, tapi kok tumpul gitu."


" Yee..bisanya ngeledek, bapak sendiri suaminya gak mampu rayu istrinya."


" Ck, cepetan bujuk terus dong, Dit. Payah banget dah."


Ceklek...


Bhumi dan Aditya menoleh ke kamar sebelah yang pintunya dibuka.


" Ngapain Aa ke kamar Adek?" tanya Shavara diambang pintunya.


" Kamar Aa Wisnu sempit ada Anan sama Elang."


" Kamar aku juga sumpek, ada mereka." Aditya melebarkan celah pintu yang memperlihatkan para sahabatnya ribut soal PS.


" Iya teman kamu berisik, ngapain pada main sekarang?"


" Mau ikut barbequean lah, teteh pilih kasih teman Aa Wisnu diajak, temen aku enggak. Diskriminasi itu namanya."


" Teman kamu makannya banyak kayak ngerampok, Dit."


" Namanya juga masa pertumbuhan, teh."


" Ck, alasan."


Shavara melirik Bhumi yang sejak tadi memperhatikannya, jantungnya berdetak cepat karena gugup."Aa, bisa kita bicara?"


Bhumi langsung mengangguk cepat, dia tidak akan melepas kesempatan ini," Tentu, bisa, dimana?" sambar Bhumi.


" Di dalam kamar aja, gimana?"


" Oke." Bhumi bersemangat melangkah ke kamar istrinya dengan senyum terus tersungging.


Saat pintu tersebut tertutup, Aditya menggeleng-geleng," Ck, Bucin itu meresahkan, guru galak jadi meleyot gitu." cibirnya.


Sudah 15 menit mereka hanya duduk berhadapan di pinggir kasur dengan saling pandang tanpa kata. Shavara yang gugup sekaligus takut sedari tadi hanya menjilati bibir bawahnya. Sedangkan Bhumi betah diam dengan memperhatikan gerakan lidah istrinya menjilati bibir ranum tersebut, sangat menggodanya.


Hasrat gaira4hnya terpancing naik dia tahan mati-matian. Dia ingin bibirnya lah yang menggantikan lidah tersebut, bahkan bibirnya berkedut ingin menghisap lidah itu.


" Eeekhmmm..ekheemm..." Untuk menahan gejolak tubuhnya hanya deheman yang bisa ia lakukan.


" Sayang..." panggil Bhumi dengan suara serak beratnya.


Ya tuhan dia rindu mencecap bibir itu, pusat tubuhnya menghangat bereaksi.


" Maaf."


" Hah?" Bhumi nge-lag. itu bukan yang dia harapkan.


" Aku kekanakan nyuekin kamu terus. Maaf!"


Bhumi menggeleng," itu...karena kesalahan aku yang..."


" Aku memang sempat minta ketemuan sama dia."


Bhumi terkaget," Hah? Jadi..."


" Itu agar dia datang ke Warungkita waktu Moniq goda kamu tempo hari itu. Aku ingin Aryo yang menangani langsung Moniq yang ku pikir dia bakal jera, tapi tahunya..."


" Enggak, kan." sela Bhumi, Shavara mengangguk.

__ADS_1


" Benaran cuma waktu itu? gak ada lain hari?" Shavara menggeleng.


" Aku cuma ingin bebas dari mereka yang terus ngeruwetin aku. Lama-kelamaan aku juga kesal dan bosan, makanya pada waktu kamu kirim foto itu, saat itu juga aku telpon Aryo."


" Omongan dia, kayak kalian..."


" Aku gak tahu kenapa dia ngomong begitu, dia juga yang pegang tangan aku padahal aku berusaha melepasnya."


Bhumi mengangguk-angguk," Jadi di sini dia cuma pengen kita salah paham, terus dia pikir bisa merebut kamu dari aku." terka Bhumi mencoba merangkai teka-teki ulah Aryo.


" Aku gak mau balikan sama dia, dan gak akan pernah mau." timpal Shavara cepat.


Bhumi mengigit dinding dalam pipinya karena senang," Kenapa?"


" Kok, kenapa? Ya karena aku punya kamu. Emang karena apalagi." sontak Shavara.


Bhumi tersenyum lebar, ia mengambil tangan istrinya, lalu mengecup punggung tangannya syahdu.


" Kamu kenapa senyum-senyum gitu?"


" Hehehe, senang. Segitunya kamu cinta aku." ternyata bukan aku doang yang cinta mati sama kamu, kita saling cinta, saling bucin ternyata."


BLUSH...


Shavara bergeser menjauh karena salah tingkah," Apa sih...enggak ya."


Bhumi maju mendekat dengan tangan mengusap tangan Shavara yang dalam genggamannya.


" Iya...ya..." goda Bhumi yang mendekat setiap Shavara menjauh.


" Enggak."


" Iya, enggak...enggak enggak..."


Cup....


" Hmmmhh...". Bhumi mengecup bibir yang dirindukannya itu, bertahan beberapa lama sebelum kemudian melum'atnya dalam.


tangannya mengelus tipis lengan Shavara yang berhasil mengirim aliran remang ke tubuhnya.


Ia membingkai wajah Shavara lalu memejamkan matanya untuk memperkuat aksinya.


" Hmmmh..buka mulutnya, sayanghhhh..." bujuk Bhumi di tengah menghisap kuat bibir atas istrinya.


" Eeeehhhh...sshhh..." Bhumi memasukan lidahnya saat bibir itu terbuka, pag'utannya semakin beringas, melahap semua sudut bibir yang dirindukannya itu.


" Hmmh...ssshhhh...." Shavara mengangkat tangannya menarik-narik rambut Bhumi, menempelkan dirinya pada tubuh suaminya menyesuaikan diri dengan gerakan Bhumi.


" Sayanghh...." Bhumi menjatuhkan tubuh mereka, men1ndihnya tanpa melepaskan pag'utannya ke atas kasur.


Tangannya bergerak acak mengeksplorasi tubuh istrinya membuainya pelan lalu memeluknya erat, menempatkan dirinya pas di atas istrinya.


Meliuk-liuk menyalurkan gaira4hnya." Aahh..eeehhh..." lenguh keduanya menikmati pacuan dua bib1r itu yang saling menghis4p dan mencecap.


" Eeehhh...aaahhh....Aa..Aa...to..long...akuuhhh." Shavara mengacak-acak rambut suaminya karena pening menyerang saat bibir suaminya turun pelan inci demi inci menikmati kulit halus istrinya dengan tangan meraba ke balik baju bagian depan istrinya.


" Aaaaahhhh...sshhhh..." kala tangan besar itu menangkup miliknya satunya dan mulut Bhumi melahap satunya walau terhalang kain.


" AAAAAA...."


Cup...


Bhumi mengecup, kemudian menjauh dengan napas terengah-engah.


Namun kedua kening mereka saling menempel dengan mereka saling memandang." Love youhhh..." ungkap Bhumi.


" Love you too..and..more..." Bhumi tersenyum puas dengan jawaban istrinya, ia memeluk erat istrinya.


" A,..."


" Hmm?"


" Yang di bawah keras banget."


Bhumi terkekeh, mau nolongin tuntasin gak?"


" Gak bakal keburu, sahabat aku bentar lagi.."


Bhumi beranjak sembari menarik Shavara berdiri," Keburu, main cepat." paksanya membawa Shavara ke kamar mandi.


" Issshhh..jangan di sana, bakal lama banget."


" Di sini. Kasihan Adit kalau di ranjang."


" Kenapa?" tanya Shavara bingung.


Blam....


Sementara di kamar sebelah terhalang tembok, empat remaja berdiri diatas lutut khusu menempelkan telinga pada tembok saat mereka mendengar suara lirihan.


" Hooh, kan belum dengar suara raungan maung." timpal Devgan.


" Mungkin punya pak Dewa letoy, cepat keluar." sahut Leo.


" Gak seru." tukas Aditya.


Empat sahabat itu turun dari ranjang, melanjutkan permainan PS-nya yang tertunds kerena suara aneh dari tetangga kamar mereka.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Meski hidungnya masih dibalut perban, Aryo memaksakan diri pergi ke perusahaan Nasution. merasa dirinya dekat dengan wisnu karena kompromi Wisnu tempo hari, maka hari ini dengan percaya diri Aryo bersikap santai layaknya masa dulu dia masih bertunangan dengan Shavara.


"A, kamu tidak bisa menghancurkan perusahaan aku. Soal di restoran aku tidak akan membawanya ke polisi. Ini berlebihan."


" Maaf, pak."


" Kamu pergi, lakukan pekerjaan kamu." ujar wisnu pada sekretarisnya yang jelas tampak ketakutan.


" A..."


" Panggil saya dengan sopan, pak Aryo."


Suara tegas Wisnu mengubah sikap Aryo yang semula santai menjadi formal. Meski dalam hati dia menggerutu, mau tidak mau dengan ego yang tinggi Aryo pun meladeninya.


" Anda berjanji untuk tidak menyentuh perusahaan saya, tapi asisten saya mengatakan sudah beberapa hari ini perusahaan saya tidak beroperasi semuanya kerena anda yang mempengaruhi kolega kami untuk menarik barang-barang dari kami."


" Sebutkan kesalahan kamu di restoran itu?"


" Apa?" Aryo bingung karena Wisnu mengatakan hal yang berbeda dari yang dia bahas.


" Satu, kamu menyentuh tangan Vara, padahal kalian sudah lama putus. dua, kamu memfitnah dia perihal kalian ada janji temu." Wisnu memainkan bolpoinnya mengintimidasi lawan.


" Itu bukan fitnah, dia yang minta bertemu dengan saya..."


" Jadi kalian ketemuan?"potong Wisnu. Ia mengambil ponselnya dari atas meja.


Aryo gugup seketika," Tidak karena saya..."


" Kamu mengurus selingkuhan kamu yang ternyata sekarang mendekati ipar saya." Aryo mendorong ponselnya ke hadapan Aryo.


Yang memperlihatkan ruang obrolannya dengan Shavara.


" Aa .. apa..."


" Tanyakan padanya kalau kau tidak mempercayainya, selain saya siapa lagi yang dia dekati sebagai cadangan sugar daddy-nya disaat kamu bangkrut."


" Di...dia mendekati mu?" Aryo syok.


" Tepatnya, dia menjadikan kamu pelarian karena saya menolak dia. Dia membenci Vara yang berhasil menggaet kamu ketimbang dia."


Aryo membeliak atas informasi tersebut," Kau pasti bercanda."


Wisnu hanya tersenyum smirk dengan mengetikkan bahu.


" Perusahaan itu sekarang milik saya, baru setengah jam yang lalu tepatnya."


Brakhh...


Aryo menggebrak meja Wisnu dengan mata menyalang," KAU...AKAN KU BALAS KAU ..."


" Tiga, kau menjebak ipar ku dengan obat perangsang."


Kali ini Aryo pucat pisa, tubuhnya kaku di tempat." A...sa..ya...tidak...paham..."


" Kinan sudah mengakuinya, dia juga menerima hukumannya, berita kebangkrutan Purba masih jadi perbincangan kalangan bisnis. sulit bagimu untuk tidak mengetahuinya."


Aryoenengagk salivanya, jalannya bergerak cepat, ia menjilati bibir bawahnya yang tiba-tiba terasa kering.


" I..i..itu...."


Bragh kedubraghkkhhhh...


Tiba-tiba Aryo berdiri hingga membuat kursi yang di dudukinya jatuh.ia berlutut dengan tangan menyatu di dada.


" Tolong,..ampuni saya..saya mengaku salah...tolong...setelah anda mengembalikan perusahaan saya, saya berjanji tidak akan mengganggu Vara lagi."


" Enyah aku dari hadapan saya. Bahkan ayahmu datang padaku untuk menggantikan kau menerima hukuman mu pun saya tolak, apalagi pecundang macam kau..."


" Pak Wasnu, saya bersalah, demi masa lalu saya dengan Vara, saya mohon ampuni saya..."


" Enyah kau dari hadapan kami, beruntung saya masih memberimu nyawa dan kaku untuk kau berjalan."


" Sekali lagi kau mengganggu kehidupan adikku, ku habisi seluruh keluarga mu."


" Pergi!!"

__ADS_1


Satunakta ayang diucapkan dengan mata menajam dan bibir tipis, membuat Aryo terbirit-birit keluar dari ruangan Wisnu.


❤️❤️❤️❤️


" Moniq..MONIKAAA.."


" Masz ada ap.."


PLAKKK...PLAK...


Monika terdorong sedikit karena kaget, dua pipinya mendapat kekerasan tanpa alasan.


Ia menatap bingung Aryo sembari memegangi pipinya.


" Massss..."


" Dasar svndal..., pelacvr... memalukan!"


" Mas, kenapa kamu..."


" Apa benar kau pernah mendekati Aryo? Apa benar aku sedang mendekati Suami Vara?"


Monika terhenyak, detik kemudian wajahnya pucat menegang." Mas...mas...aku..bisa..."


" AAAKKHHHH.." Aryo menjamb4k lalu menarik kuat rambut Monika hingga dia menengadah.


Aryo melotot padanya," Huh, kau pikir bisa bebas dariku setelah menghancurkan hidupku? Kalau aku sengsara, maka akan ku bawa juga dirimu bersama ku, Jalank." desis Aryo.


" Mas..maaf..itu cerita lama...A..aku..."


" Jangan berani-berani berulah, p3rek...atau ku sebar adegan ranjang kita.""


" Mas...kamu tidak bisa giniin aku...aku tak sanggup lagi..." lirih Monika yang sudah bosan hidup dalam ketakutan selam bersama Aryo.


Dia harus selalu bersikap waspada atas mood Aryo yang tiba-tiba berubah.


" Bersiap lah..." Aryo melepas jamb4kannya.


" Untuk?"


" Sebentar lagi klien pertamamu akan datang."


" Mas, apa maksudmu?"


" Bayaran, kau ku jadikan wanita bayaran sesuai keahlian mu."


Monika terbelalak lebar, bibirnya bergetar," Maasss..."


" Karena ulah mu, kini aku miskin. Selama ini aku yang membiayai hidup mu, sekarang kau yang membiayainya dengan mereka menggunakan tubuh mu, karena memang hanya itu yang kau punya." Hina Aryo.


" Mas kamu beneran menjual ku?"


" Tidak menjual, mereka hanya punya hak pakai saja atas tubuhmu. aku harus mengumpulkan uang banyak untuk memulai usahaku lagi, tubuh mu yang paling menjanjikan menghasilkan uang banyak, so..."


" MAS, AKMU BRENGSEK! BAJING4N!!!"


Aryo tersenyum miring tidak peduli," Ku biarkan aku menghina ku, selam kau bisa menghasilkan uang."


" Mas..."


" Diam dan berdandan lah yang cantik, kalau dia kecewa atas pelayanan mu, ku hukum kau." Aryo berlalu memasuki kamarnya menyisakan Monika yang menangisi tergugu di tempat.


❤️❤️❤️


Prang....piyaarrr...


Siena menghela napas panjang," Mbak, berhenti mecahin barang. Aku capek bersihinnya." Sentak Siena kesal.


Setiap harinya ada saja kelakuan kakaknya yang secara random memecah barang-barang pecah.


Rumah kotor, bau apek, dan berantakan. Rumah megah itu dalam sekejap tidak terurus.


" DIAM KAMU. Jangan dibersihkan kalau memang tidak mau."


" Tapi kaki mbak nantinya terluka kena pecahan belingnya."


" Ya udah bersihkan jangan banyak bicara."


" Mbak, rumah ini terlalu besar untuk aku bersihkan sendiri, sewa jasa pembersih rumah Napa, mbak."


" Kamu yang bayar."


"Aku gak punya uang."


" Mbak juga sama."


" Mbak, datanglah ke mas Edo. Pasti dia luluh juga. Dulu mbak berhasil menggaet mas Edo, pasti sekarang juga bisa. Mas Edo itu bucin sama mbak."


Siena selam ini tahu jika Edo bukanlah duda saat berhubungan dengan kakaknya, malah mereka bekerjasama untuk menjerat Edo.


Tapi di depan Dewa saat itu tentu dia harus bersikap tidak tahu, bagaimanapun dia sudah menargetkan Dewa sejak lama.


" Mbak pernah ke kantornya, yang ada mbak diusir."


" Masa?" Siena kaget tidak percaya.


" Bian?"


" Anak tengik itu memblokir semua akses komunikasi mbak dengannya."


" Ck, makin tidak tahu tatakrama dia itu." Abah Siena.


" Om bule waktu itu?"


" Jangan diharapkan, mbak mengundangnya dengan harapan bisa mengendalikan perusahaan, tapi hasilnya berbalik."


" Mbak, Kenap kita jadi begini? untuk sekedar makan saja kita harus menghemat gila-gilaan, aku gak mau tiap hari makan tempe dan tahu. Mana bisa sehat kita, mbak." rengek Siena.


Mata Desty seketika menyalang dengan rahang mengeras," Ini semua ulah anak si wanita tua itu, mbak harus membalasnya!"


" Mbak, jangan fokus membalas, mbak seharusnya bisa mendapatkan kembali Mas Edo, jauhkan dia dengan Senja, mbak. jauhkan dia dari perusahaan, usir Senja, rayu mas Edo kembali, mbak." bujuk Siena.


Dia tidak bisa melakukannya sendiri karena tidak ingin Dewa melihatnya jelek, maka dia harus memanfaatkan kakaknya ini.


¥¥¥¥


Braggkhh...


" Masss...."


Edo, Toni dan Senja, serta beberapa petinggi perusahaan yang sedang berkumpul memberi ajaran Senja tentang persoalan perusahaan terinterupsi dengan suara berisik Desty.


" Maaf, Pak. Saya..." sang sekretaris sudah takut-takut."


" Kamu boleh pergi, panggilkan security."


" Mas, kamu masih ngambek sama aku? ayolah ini sudah sangat lama, tidak bisa kah kamu memaafkan aku?" Desty memasang wajah sayu.


Kaki rampingnya melangkah ke arah meja Edo.


" Mas, kita sudah lama bersama, seharusnya ikatan kita kuat tidak mudah dipecah oleh pihak luar. bahkan mas berjanji akan pensiun dini agr selalu bersama aku."


" Siapa yang kau maksud pihak luar yang iri?" tanya Senja.


Wajah Desty mengeras seketika, tadi dia tidak melihat remaja sialan itu," Kau sedang apa di sini, Anak haram." bentakan Desty mengejutkan petinggi perusahaan itu.


" DESTYYY..." raung Edo murka.


Tangan Senja mengepal, ingin ia kembalikan kata-kata itu, tapi dia tidak ingin membuat Bian malu.


Setelah menghitung sampai sepuluh, senja yang duduk di sofa berdiri, ia melipat tangan di dada.


" Tentu, saya sedang mengurus perusahaan saya, iya, kan, Pa?" tekan Senja lembut menyimpan ejekan pada Desty.


Edo terperangah, hatinya membuncah hangat, banyak kupu-kupu yang berterbangan dalam dirinya.


Kata-kata yang dia nantikan akhirnya terucap, meski dia tahu itu hanya memanfaatkan situasi, tapi dia tidak peduli. intinya Senja menatapnya.


" Tentu, sayang. Kau ahli waris ku, perusahaan dan segala milikku menjadi milikmu."


" MASS..." Desty tidak bisa menerima.


Sementara senja tersenyum meremehkan," Pa, aku ingin rumah yang ditempati kak Bian. Bisa itu menjadi milikku?"


" Itu... tentu, bisa."


" Mas, rumah itu milikku, kau tidak bisa mengambilnya dariku?"


" Kau memilikinya dengan cara licik, hal itu tidak dipatutkan, jadi sebagai orang yang dirugikan aku bisa mengusirmu."


" KAUUU..."


PRAAKKKKHH...


" Kyaaa...."


" Senjaaa..."


Brakhh..


"MAMAAAA..."


Ini secepatnya aku post, memang tidak bisa setiap hari ya...Maaf n makasih masih mengikuti cerita ini....


Baca karyaku yang lain..ya...

__ADS_1


__ADS_2