Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
81. Drama Club'


__ADS_3

Berliana dan cs bergoyang diwarnai lampu kelap-kelip yang menyinari menyesuaikan alunan dentuman keras musik mengiringi langkah kaki dan gerak tubuh bergoyang para pengunjung di floor dance club paling tersohor di Bandung.


Visualnya yang cantik bule pasti menarik perhatian pengunjung tidak terkecuali satu orang ini, namun tatapannya bukan memuja yang ada kebencian yang dalam.


Wanita yang sedari tadi menatap berlian dengan kebencian memotret sang objek lalu mengirimnya ke ponsel yang ia yakin mantan sahabatnya itu akan memberitahukan kakaknya.


" Hei, cantik. Lagi lihat apa sih?" pria tua berperut gendut yang tengah mengusap pahanya meraup bibir sexynya.


" Om, gak di sini." tolaknya kala tangan keriput itu bergerak naik masuk ke dalam rok mini-nya.


" Kamu aku bayar bukan untuk berbicara tapi memuaskan ku." cibir pria gendut itu sembari membuka resleting celananya dan mengeluarkan isinya yang tidak seberapa panjang itu.


Dari ekor matanya Monika melihat Berliana ditinggal sendiri, dia ingin membuat perhitungan dengan perempuan itu, namun harus ditahan karena pria tua yang terus protes padanya sejak tadi ini.


Dalam hatinya, Monika ingin menghajar pria bau tanah itu andai dia punya kuasa." aku akan memuaskan om selama om mau, tapi izinkan aku pergi sebentar untuk mempersiapkan diri."


" Okay, *****. pergilah dan puaskan aku." pria itu memukul b*k0ng sintal sebelum Monika berjalan ke arah sang target


Ia mengambil gelas yang berisi minuman berwarna dari pramusaji yang berseliweran berkeliling berjalan melenggok mendekati sang objek, mengabaikan para lelaki hidung belang yang kelaparan yang menggodanya karena pakaian minimnya.


Dari lantai dua, Shavara berdiri sisi pembatas memandang iri Berliana cs yang masih asik menyatu dengan musik.


" Mukanya main banget pengen ke bawah, sayang." bisik Bhumi menempelkan tubuh mereka mengukung rapat Shavara dengan tubuh besar demi menghalau pandangan beberapa pria yang betah menatap wajah cantik istrinya.


" A, aku ke sini tuh buat apa, kalau cuma nonton doang mah mending tidur." sungut Shavara.


" Aku gak mau kamu dilihatin banyak cowok, sayang. Dance Sam aku aja di sini." satu tangan Bhumi mengalungi pinggang Shavara, menggoyang-goyangkan tubuh mereka dengan mengecupi kepala belakanganya setiap dua menit sekali.


"Sekarang aja mereka pada lihatin aku, mana ada sih orang ke club pake Hoodie dan jeans gini?"


Bhumi terkekeh," kamu jadi trendsetter, aku yakin."


Perlakuan mesra Bhumi pada sang pujaan hati membuat seseorang yang duduk agak pojok terhalang beberapa meja dari mereka iri setengah mati.


Ingin dia berteriak dan menghardik agak menjauhi Dewa-nya namun apalah ia tidak bisa, hidupnya sudah hancur hanya kerena kenekatannya.


" Hei, kamu kenapa?" tanya Aryo yang memangku orang tersebut.


Dagunya menunjuk pada mereka berdua, Aryo memandang arah dagu Kinan, ia termangu sejenak mendapati mantannya berad dalam club, hal yang tidak pernah ia temui selama mereka bersama.


" Ini yang mereka panggil mantu idaman, ternyata hanya lelaki pembawa dampak buruk pada Vara-ku." cibir aryo.


" Masih ngakui dia cewek kamu? mau rebut kembali gak" Kinan tersenyum smirk.


" Ck, masih mau ganggu mereka? Jangan ngajak-ngajak gue. gara-gara Lo gagal eksekusi malam itu, gue bangkrut. Lagian mulut Lo ga bisa jaga rahasia."


" Ck, kamu gak tahu apa yang aku alami malam itu, itu malam yang mengerikan untukku." Kinan menerawang pada malam kehancurannya.


Sebab, bukti kebejatannya malam itu dia kehilangan hak asuh putranya. Bocah yang selalu dia gunakan untuk mendapat simpati dari para lelaki dan uang dari mereka.


" Yakin gak mau dapetin ceweknya lagi?'


" Mau lah, tapi gue lebih sayang diri gue. Gue mau cari yang lain yang sama beg0 dan kaya seperti mantan gue itu."


Kinan memandangi Dewa, bertanya-tanya dalam hati,' begitukah tatapan Dewa kalau jatuh cinta? sangat lembut, sangat memuja kekasihnya. Dia menyesal dulu berselingkuh, seharusnya dia bertahan dengan sikap dingin Dewa, alih-alih berpaling seharusnya dia lebih berusaha menaklukkan Dewa.' itu pikirnya.


" Berhenti berkhayal, Lo masih hidup aja harus bersyukur, RaHasiYa tidak segan menghabisi nyawa sesuai permintaan kliennya."


" Gue tahu, gue hanya...ya...belum bisa menerima." sinis Kinan.


" Fokus ke gue, kita bisa saling memuaskan."


" Gimana sama cewek yang datang sama kamu tadi?"


" Sedang BO, jangan pikirkan dia, dia disewa sampe pagi." Aryo menurunkan wajah Kinan padanya.


" Punya aku udah kangen sama emutan kamu." bisiknya seraya mendesah ketika pinggul Kinan menekan selangkangannya.


" Dek, kamu sering ke club? Aa lihat kamu gak kaku atau gugup gitu?" Wisnu datang berdiri di sampingnya.


Dia jengkel, Adnan dari tadi cerewet minta menyewa satu perempuan yang tentu saja mereka tolak.


" Beberapa kali nganter Ana, bareng yang lain juga." dengan dagunya menunjuk para sahabatnya.


" Ana? Kenapa?"


" Galau gara-gara dosen yang dia taksir dekat dosen lainnya. Itu dosen sok ganteng bikin PHP mahasiswi-nya, A." adu Shavara pada Bhumi.


Wisnu terkekeh, matanya tidak melepas dari Berliana yang membuat dirinya resah dengan beberapa pria mendekatinya beruntung Kenzo menghalaunya.


" Kamu gak ngelantai?"


" Jangan ngeledek, teman Aa yang satu ini bikin bete, masa aku disuruh jagain ni pager." Shavara mencubit punggung tangannya.


" Aawwwss, sakit sayang."


" Mulai ngerasain sesak ya diposesifin." ledek Wisnu.


Shavara berbalik, membalas pelukan Bhumi, " enggak tuh, mending diposesifin daripada diselingkuhin apalagi di PHP-in." tekannya pada kata terakhir.


Ddrrttt.....


Shavara menyalakan ponselnya, membual pesan yang masuk yang mengirim gambar Berliana.


" Orang yang Lo bilang wanita terhormat dan lebih pantas untuk kakak Lo ternyata gak beda sama gue, hanya seorang cewek bin4l." Shavara menengok kanan-kiri mencari pelaku pengirim pesan, sayang tidak menemukannya.


" Ada apa?" Bhumi melihat wajah Shavara yang cemas.


" Ini." Shavara memperlihatkan isi pesan tersebut.


Bhumi memberikannya pada Wisnu. Mereka tuh celingukan cari sosok dengan gerakan ganjil.

__ADS_1


" Dia tidak mungkin di sini, dia sudah berada dalam kuasa Aryo." ucap Wisnu pelan meyakinkanya diri sendiri.


Adnan yang yang mengusulkan ke club, dia yang paling cemberut manyun sok imut padahal amit-amit di pandangan para sahabatnya.


Dia sangat memperihatinkan, hanya duduk-duduk melihat sekelilingnya berasikmasyuk.


" Ini beneran gue cuma bisa nontonin orang mesum? Wah, kok gue Marasa harga diri gue jatuh ya."


" Bawal Lo, gue hitung itu udah yang ke sembilan kalinya Lo ngomong gitu." Erlangga mengusap kasar wajah Adnan.


" Lagian kalian ada-ada aja ngelarang gue."


" Ck, nurut napa sih. Gak ml semalam gak bikin Lo jelek, Nan." dengkus Wisnu yang. tidak suka ada seorang perempuan dengan penampilan minim mendekati Berliana dengan segelas minuman di tangannya.


" Kita gini karena sayang sama Lo ya, Nan. kita khawatir Lo jadi hyper." imbuh Bhumi.


" Astaga gue gak sekacau itu ya."


" Elang yang bilang dalam sebulan ini Lo cuma free tiga kali doang, selebihnya main terus."


Mata Adnan menatap sinis Erlangga yang mengedikan bahu santai.


" Daripada cepuin gue, mending Lo bucinin anak kecil kesayangan Lo itu."


" Diem, bangk3." Erlangga panik setengah mati.


" Dia lagi suka sama cewek?" tanya Bhumi.


Adnan mengangguk," Anak SMA."


" Anjir, kenapa ga sekalian anak SD, kalau emang suka yang imut." imbuh Wisnu.


" Tolong bedakan mana yang demen daun muda sama pedofil ya." Erlangga menyahut sinis.


Prank....


Bughhhhh...


" KYAAAAA....."


Ternyata suara teriakan nyaring itu tidak hanya satu tapi berasal dari banyak orang berbarengan bertepatan berhentinya irama musik mengundang para pengunjungvlain penasaran dengan bunyi yang berdentum keras itu.


Pun tidak luput dengan Wisnu cs yang berjalan cepat melihat ke lantai dansa yang ternyata ada beberapa orang jatuh yang kebanyakan wanita, sekarang lantai tersebut dikerumuni orang-orang yang membentuk lingkaran saling sahut dan teriakan memberi dukungan pada dua wanita yang terlibat perkelahian secara beringas.


Mata Wisnu cs membelalak besar, saat Berliana menduduki tubuh Monika lalu memukulinya membabibuta dengan umpatan yang terdengar sadis.


Wisnu bergegas berlari menuruni tangga ditemani Erlangga dan Bhumi.


" Nan, nitip Shava." seru Bhumi sebelum menyusul mereka.


" Vara, sini berdiri di samping Abang jangan jauhan." Adnan menepuk ruang kosong di sisinya sepeninggal Erlangga.


" Gak mau, Abang lagi *****."


" Kamu gak samperin dia? mumpung suaminya gak ada." ujar Kinan yang tengah sibuk dengan milik Aryo di bawah sana.


Mata Aryo yang memejam dan mulut mendesah terbuka melihat pada Shavara yang berdiri agak jauh dari Adnan di tengah kerumunan orang.


" Aahhhh..great, *****..." Aryo menjambak rambut Kinan yang berjongkok diantara dua kakinya.


" Kalau kamu mau balas dendam, ini kesempatannya, kamu rela mantan kamu yang gak pernah kamu jamah dijamah lelaki lain?"


Aryo yang membayangkan itu dan elusan di bawahnya dari tangan ahli Kinan mengerang sampai menggigit bibirnya.


" Aku mau dia, tapi aku gak mau mati konyol." Aryo menjambak rambut Kinan seiring kenikmatan yang disuguhkan Kinan kian melandanya.


" Justru itu, tidakkah kamu sedikit ingin menurunkan kesombongan mereka dengan merusak wanita kesayangan mereka, Nasution mungkin tidak akan bisa kita kalahkan, tetapi aib yang akan mereka terima akan terus membuntuti ego mereka.


" Aku bantu videoin kalian, kalau kita gak bahagia, mereka juga gak boleh, kan?" bujuknya terus.


Mata itu membuka lebar, Kinan terjerambab saat Aryo berdiri dan melangkah dengan celana yang resleting masih terbuka bahkan miliknya masih mencuat tegak.


Di tengah serbuan gairah dan bayangan dia dan Shavara bergumul untuk pertama kalinya, ditambah sakit hatinya membutakan pikiran Aryo.


Ia menyalip diri diantar orang untuk mendekati Shavara. Kinan berdiri sambil merapihkan pakaiannya dengan tersenyum culas.


" Setelah ini Dewa akan membencimu, Vara." desisnya marah.


Setelah malam itu hidupnya gelap, dia dilempar dari atau lelaki ke lelaki lain tanpa bisa memberontak.


Hidupnya yang semula seorang princess dalam satu malam berubah menjadi Upik abu.


" Dek, Vara..." Adnan menoleh ke sebelahnya kalau Shavara tidak menyahuti panggilannya.


Ia menengok kanan-kiri, tidak ada, dan dirinya mulai cemas bercampur panik manakala dia tetap tidak mendapati Shavara di tengah banyaknya orang berkumpul.


Matanya menarik perhatian ke arah anak tangga terakhir belakangan club, ketika ada seorang wanita


berhoodie yang dipanggil oleh lelaki diikuti seorang wanita sedang mengamuk memberontak.


" Oohh..****..." umpatnya berlari melewati dua undakan tangga sekaligus menyusul mereka yang berbelok kiri di lantai tiga.


Adnan berdiri bingung di tengah koridor berdesain mewah layaknya hotel berbintang lima yang Kiro dan kanannya berjejer pintu-pintu.


Tanpa mau membuang waktu, Adnan turun ke lantai dasar di mana suasananya sudah menegang.


" Berani orang jelek macam Lo nyerang gue yang cetar membahana, gue alergi sama cewek murahan obralan macam Lo, tapi karena Lo jual ini keributan, gue beli kontan." Berliana menj4mbak rambutnya lalu mengadukan kepala keduanya keras.


Jeritan kesakitan Monika meraung di tengah sorakan penonton.


Monika tidak mampu lagi membalas, dia hanya bisa menutupi wajahnya menghalau serangan lawan dengan kedua tangannya. dia tidak menyangka Berliana yang terlihat anggun bisa sebar-bar ini.

__ADS_1


" Tolooongggg...siapapun tolong sayaaa..." sungguh Monika salah memilih lawan kali ini.


Pria tua yang bosan menunggu akhirnya beranjak berdiri, dia ingin menyewa wanita lain, dan mengajukan komplain pada Aryo, namun langkahnya terhenti kala menyadari keributan itu melibatkan wanita panggilannya.


Ia melihatnya dari high heels yang bergerak-gerak itu disela kaki penonton


untuk memastikan lelaki itu menghampiri kerumunan itu.


Dirinya langsung menerjang ke tengah kerumunan lalu secara kasar menjambak kuat-kuat rambut Berliana dan menariknya agar berdiri.


" Siapa kau berani menyerang wanitaku?"


Club' seketika hening berbarengan dengan teriakan membahana tersebut.


Monika tertawa culas, dibantu beberapa orang dia berdiri ke samping Aditama memeluk pinggang besar tersebut.


Aditama, nama lelaki tua tersebut, di kalangan pebisnis, Aditama seorang pebisnis ulung, dia salah sati orang terkaya di Jawa Barat.


Bagi penikmat dunia malam, Aditama adalah seorang senior pro player dalam pergumulan dengan wanita, duda yang masih terlihat menawan bercucu 15 ini terkenal dengan aura playboy-nya, peninggalan masa muda.


Tangannya terangkat hendak menyentuh pipi Berliana, namun tangan besar nan kokoh mencekalnya.


" Kau sentuh dia, ku hancurkan bisnismu dalam sekejap." desis Wisnu dengan wajah memerah karena marah.


Wisnu menarik tangan Berliana agar berpindah ke belakangnya,di tutupi Erlangga dan Bhumi.


" Wisnu Nasution?" Aditama memicingkan mata memastikan itu dia, partner bisnisnya.


Monika secepat kata menciut takut, ia bersembunyi di Bali tubuh tambun Aditama.


" Malam pak Aditama." mata Wisnu melirik ke belakang Aditama.


" Malam, pak Wisnu."


" Saya akan berterima kasih jika anda menyerahkan wanita itu pada saya."


" Tidak bisa, saya sudah membayar mahal untuk dia."


" Membayar?" Wisnu tersenyum miring merendahkan pada Monika.


" Iya, dia wanita *****, and harus booking untuk menikmati tubuhnya."


" Bahkan saya tidak ingin melihatnya, tetapi dia mengganggu calon istri saya, tentu harus saya beri hukuman." Monika merasa ada sembilan menghujam jantungnya atas perkataan merendahkan dari dua lelaki tersebut.


" Saya mengerti, tetapi..."


" Saya serius mengenai menghancurkan bisnis anda..."


" Kau tidak akan bisa." potong Aditama.


" RaHasiYa bisa." sahut Wisnu tenang.


sedetik kemudian tubuh Aditama kaku menegang," Silakan, ambil dia." Aditama mentok monika ke depan yang mana Monika sudah menggelengkan kepala cepat.


" To..tidak..Pak, to..long saya..." rengek Monika menolak diserahkan pada Wisnu yang sudah menatapnya dengan tatapan bengis.


Erlangga segera menarik kasar tangan Monika lalu mencekalnya kencang agr dia tetap diam di tempat.


" Om, to..long jangan serahkan saya pada mereka. aku akan melayani mu dengan pelayanan terbaik." saking putus adanya Diaz dia dengan lupa diri mengungkap siapa dirinya hanya wanita bayaran!


Dengan napas ngos-ngosan, Adnan takut-takut menghampiri mereka, dia memilih membisiki Wisnu ketimbang Bhumi, dalam kasus ini dia takut pada Bhumi.


Wisnu memiringkan kepala saat Adnan menundukkan paksa pundaknya.


" Vara, diculik..."


" Di aman dia sekarang?" Wisnu berbalik menghadap Adnan dengan sorot mata kembali mengancam.


Adnan kini ragu akan keputusannya memberitahu Wisnu, bukannya Bhumi. Atau memang keduanya tidak ada bedanya.


" Di lantai tiga.."


"Kau..."


" Ada apa?" potong Bhumi.


" Vara diculik sekarang di lantai tiga..."


" Lantai itu khusus kamar-kamar." ungkap Aditama, berharap kerjasamanya Wisnu mengurungkan ancamannya.


" LO..."


" Pegangi wanita itu jangan sampai dia kabur." pinta Wisnu sebelum berlari Bhumi yang sudah pergi terlebih dahulu.


Setiba di lantai yang dituju Adnan, mereka bertiga membuka satu persatu pintu itu dengan kasar.


Ada yang ditendang manakala pintu-pintu itu terkunci yang ternyata dihuni pasangan berbuat mesum.


Brakhh....


Para penghuninya yang berjumlah tiga orang berpaling pada pintu yang terdorong rusak, mereka membelalak besar.


Bhumi mendorong dengan bahunya pintu terakhir, di mana Shavara dengan pakaian terkoyak sambil menangis berada di bawah Kungkungan Aryo yang sudah bertelanjang dada.


Dadanya naik turun dengan napas memburu karena amarah, matanya menyorot membvnuh.


" Bangs4ttt...B4JING4N, m4ti Lo di tangan gue..."


" KYAAAAA...."


Ini sudah dipost sedari semalam, tapi sampe hari ini belum ada kabar.

__ADS_1


Jangan lupakan vote, komen, dan like ya...


__ADS_2