
" Apa maksud kamu dengan haram itu?" tanya Bhumi tidak suka.
" Aku gak mau bekas pelukan murid kamu." Shavara buru-buru menjawab, melihat wajah Bhumi yang sinis, ia takut sendiri.
Bhumi termenung sesaat, dan sedikit terkaget " Kamu melihatnya?"
" Kalian di koridor ya pasti kelihatan lah, mana pas sepi-sepinya, kan lagi waktu belajar."
" Kamu gak lupa kan kalau kamu yang nyuruh aku baik sama dia?" senyum miring menghiasi bibir Bhumi sekan meledek Shavara dengan ide yang menurut Bhumi tidak masuk akal.
Shavara melongo tidak percaya," Serius kamu nyalahin aku, aku emang nyuruh kamu baik, tapi gak pake pelukan juga kali, mana di sekolah. Dasar ga tahu malu. Bilang aja kamu doyan... hmmmphh.."
Bhumi mencivm bibir Shavara yang terus saja bicara, bahkan saat bibirnya dilumat lembut dia terus berusaha mengoceh.
"Hammhp..ka..mu..me..mang...eehhh....ishh..."
Namun bagi Bhumi bibir Shavara seperti membalas pagutannya meski tidak nyaman karena gerakan bibir mereka yang tidak sinkron.
" Balas yang benar." kata Bhumi melepas civmannya.
" Aku memang gak niat balas." bentak Shavara gregetan.
Bisa-bisanya suaminya modus di tengah situasi yang menurutnya aneh.
Detik berikutnya mata Shavara memicing curiga pada Bhumi yang menatapnya lembut.
" Aku tahu kamu tidak menyukai murid mu itu, atau jangan-jangan sekarang kamu mulai menyukainya."
Tak...
Bhumi menyentil pelan kening Shavara yang mengaduh dramatis.
" Maaf, kalau itu bikin kamu cemburu, walau aku gak maksud apapun kecuali memberitahu dia kalau aku sama sekali gak suka dia, minat saja enggak." Bhumi mengelus bagian kening Shavara yang dia sentil tadi.
" Apa harus begitu?"
" Aku gak tahu cara apalagi buat dia menjauh, aku benar-benar tertekan soal ini."
Bhumi membingkai wajah Shavara, menatapnya dalam.
" Dulu aku merasa dilecehkan karena perbuatannya, kalau hanya aku yang dia serang aku akan bertahan di tempat toh sebentar lagi dia lulus. tapi sekarang kamu yang dia jadikan target aku gak bisa bairin begitu aja. Aku suami kamu, tugas aku buat kamu aman dan nyaman."
Shavara memegang tangan Bhumi yang mengelus rahangnya." Maaf,..udah bikin kamu di situasi yang sulit, aku gak akan lagi maksa kamu terkait murid kamu itu. Dia memang sebebal itu."sungut Arleta.
Bhumi tergelak, dia mengecup kening Shavara." padahal belum lama kamu berhadapan langsung dengan dia, udah nyerah aja. Gimana aku yang sedari dia kelas 10."
" Kau, kamu emang si paling sabar." cibir Shavara.
" Pastinya, bayangin aku nunggu untuk jatuh cinta dan ketemu kamu selama 27 tahun. Menghalau segala godaan dan kejaran para wanita penggila aku. Sabar banget gak tuh."
" Sibir bingit gik tih. itu sih salah kamu yang pemilih."
" Bukan pemilih, tapi emang aku tahu tuhan gak bakal tega biarin aku jomblo seumur hidup aku dengan luka yang terus membayangi ku."
Muka serius Bhumi mengubah suasana ruangan yang semula santai menjadi serius." Aku gak tahu gimana sakitnya luka kamu, jadi aku gak bakal bersikap sok tahu. tapi please ada aku, bisa kamu sembuhkan luka itu?"
" Udah, luka itu udah sembuh, dan itu karena kamu. Terima kasih sudah datang padaku."
Bhumi mengikis jarak hendak memeluk Shavara yang ternyata tetap menolak.
" Aku tetap gak mau kamu peluk."
Bhumi menghela napas panjang," Terus aku harus gimana? mandi kembang 11 rupa?"
" Minimal ganti baju. Pokoknya aku gak mau ketempelan bibit pelakor." kukuh Shavara.
" Iya, iya. tapi civm dulu."
" Gak mau, nantinya kalau kelamaan kamu peluk juga."
" Dikit doang gak sampe membelit lidah apalagi saling narik. saling **** bibir aja." Bhumi agak membungkuk.
" Ishh, tuh mulut."
Hmmmph....
Shavara langsung membalas ******* Bhumi begitu bibir guru fisika ganteng itu menyesap bibirnya. Mata keduanya perlahan memejam menikmati sensasi pagutan bibir yang ternyata saling berlomba menghisap.
Tangan shavara yang di dada Bhumi meremas kain kemeja menahan laju gairah yang kian meluap.
Aahh..hah..hah..hah...
Napas keduanya tersengal, " Selalu menakjubkan. mencivm mu selalu memantik g4irahku." parau Bhumi serak.
Semburat merah mewarnai pipi Shavara yang tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Bhumi terkekeh, ia mengecup pipi Shavara sebelum menegakkan diri." selalu malu, padahal udah sering banget aku muji kamu. ngegemesin sampe pengen bikin kamu lemes."
" Aa..." Shavara menumbuk dada Bhumi yang tertawa sembari melepas kancing kemejanya.
Bhumi mengeluarkan kemeja dari celana menanggalkannya lalu melempar sembarang ke kursinya. Tinggal kaos warna hitam pas body melekat di tubuhnya yang proposional berotot keras tanpa lemak.
Bhumi mengambil kemeja warna navy dari laci lemari bukunya yang ternyata berisi pakaian ganti.
" Sering bawa baju kemari?" Shavara mendekati laci memeriksa tumpukan pakaian yang kebanyakan kaos dan jeans.
" Hmm, aku sering ngabisin waktu menjelang pulang sekolah karena banyak siswa yang pengen les tambahan.
" Biasanya mandi di sekolah, baru ke restoran terus muter meriksa angkringan. pulang udah bersih, jadi tinggal tidur."
" Sebelum nikah, biasanya pulang jam berapa?" Shavara merapihkan beberapa pakaian yang tidak teratur.
" Sebelas atau dua belas malem."
" Paling sore pulang jam berapa?"
" Jam 10 malam."
" Paling lambat?"
" Jam 2. Biasanya weekend resto rame, begitu juga angkringan. Aku belum bisa lepas keduanya. mungkin ke depannya kamu bakal lihat aku sering telat pulang."
" Gak apa-apa. Oh iya, aku udah buat modul cara pembukuan dan manajemen keuangan yang simpel yang dulu kamu pesan agar murid kamu gampang memahaminya."
" Malam Minggu nanti kita ngedate di angkringan gimana?"
" Boleh." Shavara beranjak untuk duduk di kursi depan meja Bhumi.
Bhumi mendekat membungkuk di depan memegangi lengan kursi yang Shavara duduki," Aku dapat panggilan dari kepsek, kemungkinan soal di koridor tadi."
Shavara memberinya senyum, ia mengangguk." Hmm, perlu aku menunggu kamu?"
__ADS_1
Bhumi menggeleng." Kemungkinan sekarang aku akan tegas. Kalau pihak sekolah tidak bisa mengeluarkan Arleta dari sekolah ini, aku yang akan berhenti."
Shavara tertegun, hanya sebentar." gak ada jalan lain?"
Bhumi menggeleng." aku takut kelepasan melakukan kekerasan sama dia, segala hal mengenai kamu itu melibatkan emosi aku, di sisi lain aku guru dia."
" tapi dia masih muda."
" Sayang, remaja memang labil, tapi mereka punya pikiran dan perasaan untuk ngerem segala kegilaan mereka. Kita gak bisa menggunakan alasan labil dan remaja memaklumi sikap dia yang jauh dari remaja normal."
Bhumi melangkah memutari mejanya, dia membuka laci paling bawah yang semula terkunci.
Mengambil flashdisk lalu menaruhnya di atas meja bagian Shavara.
" Aku gak pernah kasih lihat isi flashdisk ini ke siapapun. Kamu istri aku, aku berharap dengan melihat isi flashdisk itu kamu memahami kenapa aku gak bisa mentolerir lagi pada Arleta maupun Siena."
Drrt...derrttt....
Bhumi berdiri, dia mengambil amplop panjang kecil dari laci atas mejanya lalu memasukkannya ke dalam ranselnya sebelum berjalan untuk berjongkok di depan Shavara.
" Aku ditunggu kepsek. Kamu habis ini mau langsung pulang atau ngampus dulu?"
" Kampus. Ada satu matkul nanti malam."
" Gak capek ngambil magang sekaligus kuliah?"
" Enggak, kelas udah mulai jarang, cuma perbaikan nilai. Skripsi aja yang pusing."
" Slow aja gimana? Toh kita udah menikah, jadi gak usah buru-buru lulusnya. Aku kasihan lihat kamu."
" Ini juga nyantai kok, ngerjain semuanya mengalir aja gak grasak-grusuk."
Kembali ponsel Bhumi bergetar, " Ya udah, aku pergi dulu. Kamu ke kampus bareng Mira kan?" Shavara mengangguk sebagai jawaban.
" Pulangnya bareng aku, aku tunggu di resto ya." lagi, Shavara hanya mengangguk.
" Sebelum keluar tolong sekalian potocpy-in lembaran soal anak kelas 11 ya." tunjuknya ke map kuning.
Bhumi mengecup kening Shavara sebelum keluar dari ruangannya yang langsung mendapat tatapan ganjil dari para rekan guru yang ada.
Siena meremat kuat pulpen yang dipegangnya, tapi ia tidak berani menegur kala menyadari ada yang berbeda dari Bhumi.
" Kelas kamu udah selesai, Gun?" ada Guntur yang duduk di sofa single sembari menekan singkong rebus.
" Pak Dewa pasti gak dengar bel istirahat udah bunyi dari lima menit yang lalu."
" Oh ya?" Bhumi melihat ke jam tangannya.
" Pak Dewa, bapak kepala sudah menunggu ada sedari tadi di ruangannya." seru sekretaris kepsek yang baru masuk ruangan.
" Baik, saya ke sana sekarang."
" Pak Dewa dipanggil kepsek?" tanya guru lain.
" Iya, Bu."
" Pasti soal di koridor yang tadi." timpal yang lain.
Jari Agam kembali menari di ponselnya setelah mendengar kabar itu. Dia mengirim pesan ke seseorang yang selama ini bekerja sama dengannya khusus soal Dewa.
" Saya permisi, pak. Mau lewat." Shavara berdiri di belakang Bhumi yang menghalangi jalan lewat ke pintu.
" Ah, iya. Silakan." Bhumi memberi ruang untuk Shavara lewat.
Beda ya sama seseorang yang terus ngejar-ngejar secara ugal-ugalan meski ribuan kali ditolak bikin risih aja." Bu Ratna bertepuk tangan secara hiperbola.
" Siapa tuh, Bu?" sahut guru berbadan kurus sembari melirik ke meja Siena.
" Ada deh, tolong yang ngerasa sadar diri karena dia seorang guru. Please jangan jadi pelakor."
Wajah Siena memerah, dia tahu sindiran itu tertuju padanya. Semua tahu dia menyukai Dewa, karena memang dia mengkondisikan seakan mereka dekat lebih dari sekedar rekan pengajar yang hasilnya tidak terlalu berhasil.
" Kalian terus saja saling sindir, saya suka julid-menjulid." sarkas Bhumi berjalan ke arah pintu. Namun setelah tiga langkah, kakinya terhenti karena perkataan Siena.
" Pak Dewa, bajunya ganti ya, meski kalian sudah menikah tapi ini sekolah pak, gak etis bermesraan di lingkungan yang seharusnya untuk mencerdaskan generasi bangsa."
" Sepertinya ini bukan kali pertama saya ganti pakaian di sekolah, selama ini belum ada yang berkomentar negatif pada saya."
" Tapi bapak baru saja seruangan dengan anak magang dalam waktu lama, itu akan mengakibatkan ketidaknyamanan bagi kami."
" Siapa yang tidak nyaman? Saya sih biasa saja." sahut Guntur
" Saya juga."
" Justru kelihatan sweet menurut saya."
" Asal jangan di depan jomblo kayak saya saja, pak."
" Hadeuhh..hidup lagi capek-capeknya ngelihat ada cewek iri karena si cowok udah married."
Muka Siena makin memerah, tidak ada satu pun guru yang mendukung dirinya.
" Pak Dewa..."
" Ah, iya. Maaf. Mari kita ke ruang kepala sekolah."
^^^^^^^
" Anjirrr lah...pak Dewa dipanggil ke kantor kepsek." teriak Yudi mengagetkan para temannya yang semeja yang sedang menikmati makan mereka.
" Woy, biasa aja ngomongnya." omel orang yang di meja yang lain.
" Cek hp, baru nyolot."
Mereka yang di kantin bagai komando membuka Twitter sekolah.
Hot news kali ini;
" GEGARA OBSESI MURID, PAK DEWA SEDANG DISIDANG OLEH KEPALA SEKOLAH, SEDANGKAN SANG MURID SANTAI DI KELAS SCROLL TIKTOK. KETIKA YANG TERLIBAT ANAK ORANG KAYA, GURU DARI SOSIAL BIASA YANG JADI TUMBALNYA!!!
Di bawah terdapat gambar punggung yang disinyalir pak Dewa bersampingan dengan foto Arleta yang duduk santai memainkan ponsel.
Sontak siswa kelas 12 IPA 1 yang di kantin keluar secara berbarengan dari kantin, sedangkan mereka yang masih di kelas menyerbu ke kelas sebelah, kelasnya arleta.
Brakh....
Mereka terperanjat, dan seketika melipir sambil membawa meja dan kursi menjauh menyebar ke seluruh sisi ruang kelas mempersilakan pasukan kelas 12 IPA 1 yang dipimpin Megan menuju meja Arleta. Sang empu yang belum menyadari situasi karena dirinya terpejam di atas meja dengan telinga tertutup headphone.
Bragkkh...
" Bangun, lont3."
__ADS_1
Megan menendang keras meja Arleta hingga Arleta nyusruk jatuh ke lantai, ia meringis, keningnya lebam, hidungnya berdarah, namun tidak ada yang mempedulikannya. Dia terhenyak kaget melihat banyak orang.
Menggunakan tissue yang dia ambil buru-buru dari dalam tasnya ia menutup darah tersebut.
" A..ada apa?" kepalanya sungguh pusing.
Siswi yang lain menarik kerah Arleta, memaksanya berdiri." Gara-gara Lo walas kita tercoreng lagi namanya
Dia membenturkan keningnya ke kening Arleta.
" Aaws...sa..sakit..."
Semua orang meringis ngilu, jelas memar biru tampak.
" Bodo amat, biar otak Lo bergeser normal."
" Tapi. salah gue apa?" lirih Arleta, kepalanya kini berdenyut sakit.
" Gak usah banyak bacot, langsung aja eksekusi." seru yang lain.
" Woy, pak Dewa dipecat." celetukan itu mengudang para siswa membuka media sosial sekolah lagi.
" ADA SKENARIO UNTUK MEMECAT GURU FISIKA KESAYANGAN KITA SEMUA DIBALIK PEMANGGILANNYA."
Sangat provokatif, dan berani sekali admin base sekolah.
Kegaduhan langsung terjadi, protes dan umpatan terlontar, hampir semua siswa berada di luar kelas. Ribut karena berita terbaru itu.
Aditya mengambil alih kerah Arleta dari temannya." Kalau pak Dewa habis karirnya, hidup Lo akan berakhir seperti kakak sepupu Lo yang cacat itu. Jangan lupa gue seorang Nasution, sedangkan Lo, anak terbuang."
Aditya menyeret tubuh Arleta yang bingung bercampur syok, di ambang pintu kelas, ia dicegat Raga.
" Biar gue yang bawa dia, Lo anak baik-baik."
" Tapi Lo kan anak IPS?" celetuk Ajis.
" Emang kenapa? Toh dari beliau gue ngerti matematika yang menyebalkan itu. Rasis Lo. Awas."
Raga menyingkirkan mereka, dia dan teman-temannya menarik paksa Arleta yang berjalan tertatih-tatih berusaha menyeimbangkan langkah besar Raga dibawah cemoohan para siswa-siswi yang berjejer di koridor.
¥¥¥¥¥¥
" Saya menolak pembicaraan perihal yang terjadi di koridor tadi tanpa kehadiran Arleta selalu pelaku utama lainnya." kata Bhumi kepada kepala sekolah dan wakilnya, serta gue BP dan dua orang guru sebagai saksi salah satunya Agam di kantor kepsek.
Pak kepsek menghembuskan napas keras, dia memijit pelipisnya. Base sekolah sednag ramai-ramainya, tapi sang objek pembicaraan sednag mode keras kepala
" Pak Dewa, tolong kerjasamanya. Bapak yang buat situasi makin tidak terkendali di sosial media dengan melakukan sentuhan fisik.
Bapak sebagai guru seharusnya tahu kalau itu tidak bisa dikompromikan. Bapak bisa saja dipecat dari sini."
Mendengar kata pecat, guru yang hadir menatap bertanya pada kepsek, dan tatapan Bhumi makin menajam.
" Saya menyesali kalau itu terjadi, tapi saya ingatkan soal skandal kenarin, karena ketidaknaymanan saya mengenai ulah dan perilaku Arleta sayang mengusulan untuk mengundurkan diri, tetapi ditolak oleh pihak sekolah.
Saya pikir di sini sekolah salah target untuk dijadikan kambing hitam, andai saya harus keluar, saya pastikan Arleta juga harus dikeluarkan!"
Kepsek dan wakil kelabakan panik, mereka bukannya tidak mau mengeluarkan Arleta, tetapi tidak bisa. Karena arlet merupakan anak salah satu donatur terbesar di sekolah ini.
" Pak Dewa, anda...."
Terdengar sayup-sayup orasi di depan kantor kepsek yang disusul gedoran dan dorongan serta pencegahan dari guru-guru di luar pintu.
" Ada apa di luar?" tanya wakil.
" Biar saya periksa." baru saja Agam berdiri, pintu sudah dibuka paksa.
" Bapak kepala, kalau bapak memecat pak dewa, kami menuntut diadakannya rapat komite." seru Devgan.
" Hei, ini bukan soal besar." Elak kepsek.
" Kalau bukan, Kenapa dampaknya pak Dewa akan dinonaktifkan?" sahut yang lain.
" Lagian bapak salah target, seharusnya yang harus dikeluarkan itu Arleta bukan pak Dewa."
" Betul itu, dia selain suka menggoda pak dewa, juga tulang bully."
" Bapak pilih kasih."
rentetan orasi itu memusingkan pak kepsek.
" Kalian dapat dari mana kabar hoax itu? Kalian jangan bikin ribut. Sudah kembali ke kelas masing-masing."
" Kami akan tetap di sini sampai ada keputusan yang jelas." ucap Leo.
" Iya...kami akan di sini." seru yang lain berbarengan.
Pak kepsek memijit pelipisnya, " kenapa ini makin lebar kemana-mana." batinnya.
" Apa bapak tidak berani mengeluarkan Arleta karena dia anak dari donatur?" kata Nuril lantang.
Perkataan Nuril mematikan keributan kembali. Suasana makin ricuh atas kemungkinan itu.
" Saya juga anak donatur, apa saya harus meminta papa saya untuk menghentikan bantuan karena pihak sekolah tidak tegas?" kata Raga.
" Kalau begitu saya juga akan meminta Papa menstop bantuan."
" Saya juga."
" Saya juga."
" STOP...stop..." pak kepsek berusaha mencegah adanya aksi yang lebih parah.
" Kalian salah paham, bukan itu alasannya. ini murni pertimbangan kami sendiri yang tidak ingin masa hidupnya ada catatan jelek di hidupnya." alibi kepsek.
" Ngapain bapak mikir sejauh itu, toh dia sendiri tidak mempedulikannya." ucap Ajis.
" Benar itu." timpal yang lain.
" Sekarang begini saja, kalian kembali lah ke kelas masing-masing, bair kami yang menyelesaikannya. Pak Agam, tolong panggil Arleta."
" Riska perlu repot-repot, pak. Ini dengan baik hati kami sudah mendatangkan dia." satu teman Raga mendorong Arleta ke hadapan mereka.
Sontak mata para guru membelalak melihat keadaan Arleta yang mengenaskan.
" Ya tuhanku...apalagi ini..." erang kepsek gudang.
Tadi sepanjang koridor dari lantai tiga sampai ke ruang kepsek yang berad Adi lantai satu, kebanyakan para siswi melemparinya dengar sisa minuman, ada juga yang menjambak, menendang, memukul, bahkan meludahi. kebanyakan dari mereka membalas perundungan yang pernah dilakukan olehnya.
Lebam, luka, rambut acak-acakan, seragam awut-awutan yang sudah berubah warna. Jangan lupakan bengkak di wajahnya.
" Menurut saya lebih cepat ada solusinya, lebih baik." kata Bhumi santai.
__ADS_1
" Mari kita mulai saja rapatnya." seru sang wakil....
Mari kasih komen, love, hadiah dan vote...see you ..