
Shavara berlari kecil menghampiri mobil Pajero yang terparkir di pelataran kampus "Maaf, menunggu lama." Shavara membuka pintu mobil penumpang depan.
" Gak apa-apa, baru 10 menitan juga." Bhumi menerima uluran tangan istrinya yang ingin menyalaminya.
Saat hendak menutup pintu, jendela pintu yang terbuka dipegang seseorang, Shavara berbalik disusul menghela napas malas mendapati Monik berdiri tersenyum memandangi suaminya.
" Hai, apa kabar, mas Dewa, long time no see." sapa Monika percaya diri dibarengi suara lembut serta senyum manis menawan dari bibir yang ber lipstick merah.
Bhumi membalas tatapan Monika dengan sorot seakan bingung mencoba mengingat,, ekor matanya melirik istrinya yang diam terlihat jemu,
" Kamu Siapa? Bhumi bertanya se innocent mungkin.
Bhyurrrr....uhuk..uhuk...
Shavara terbatuk-batuk karena tersedak ingin tertawa geli." sayang, kamu baik-baik saja?" Bhumi menepuk-nepuk pelan punggung Shavara.
Monika tersenyum kikuk atas respon datar Bhumi padanya sambil melirik sengit Shavara seakan meledeknya. " Masa lupa? aku..yang di club itu, kita waktu itu duduk bareng loh."
" Club?, saya hampir tidak pernah ke club."
" Aaahh, mas dewa lupa, aku masih berasa loh sapuan tangan mas di diriku." Shavara membelalak besar dengan mulut terbuka menoleh lada Bhumi atas ungkapan Monika yang tidak atau malu itu.
" Aaa..." panggil Shavara bernada bertanya-tanya.
Sementara Monika mengulum senyum smirk tipis, ia yakin perkataan provokatif itu akan memicu pertengkaran diantara mereka yang berakhir pisah, dan akan masuk mengisi ruang kosong hati Bhumi.
Monika yakin bisa memisahkan mereka, Aryo yang dulu tergila-gila pada Shavara saja berhasil dia gaet, apalagi lelaki tampan di depannya yang terlihat hanya sekadarnya saja menyukai. itu bukan hal yang sulit baginya.
Monika berniat berpisah dari Aryo, yang sudah terlihat tabiat aslinya yang merupakan seseorang yang bejat, tetapi sebelum itu dia harus memastikan sudah memiliki next sugar Daddy untuk menjamin kesejahteraan hidupnya.
Bhumi menghela napas berat secara berlebihan," Siapa nama kamu?"
" Monika, Mas. sudah jangan kan sekarang kalau kita..."
Bhumi mengangkat tangannya menunjuk jari manisnya yang tersemat cincin kawin,"" Mon, lihat ini. I am married."
" So?" Monika mempertanyakan sekan itu bukan hal penting dengan raut apa masalahnya.
" Saya sudah menikah, Monika." Bhumi berpikir Monika tidak memahami bahasa inggris, makanya dia mengulang pernyataannya.
" Iya,lantas?"
Beruntung Bhumi terbiasa menghadapi berbagai karakter, maka menghadapi perempuan yang berotak kecil macam wanita itu, Bhumi masih tenang.
" Saya penganut monogami."
" Itu type saya banget, Mas." seringai Monika lebar.
Bhumi menggeleng seraya tersenyum meremehkan." kamu lihat wanita cantik ini?" Bhumi menggenggam tangan Shavara.
" She is my wife."
" Untuk sekarang, kita tidak tahu di waktu lainnya. sebelum Mas, dia pernah bertunangan yang memilih aku ketimbang dia, dan hubungan mereka terjalin sudah empat tahunan. sedangkan mas baru..." Monika berharap Bhumi menyambut umpannya, namun Bhumi hanya memandangnya datar.
Tubuh Shavara menegang diingatkan pada drama pengkhianatan mantannya. Bhumi yang merasakannya makin mengeratkan genggamnya di tangan Shavara.
" Kamu pelakor?" tanya Bhumi dengan wajah polos tanpa dosa.
" Iihh, mas. jangan kasar gitu, tunangannya yang milih aku ketimbang dia. dan Mas tahu karena apa?"
Bhumi tidak berminat membahas itu. pandangannya hanya tertuju pada istrinya yang menunduk tidak nyaman akan pembasahan ini.
Namun sayangnya bagi Monika pembahasan ini adalah hal yang paling dia favoritkan.
" Dia membosankan, susah untuk diajak bersenang-senang. terlalu ambis membangun perusahaan mereka. aku tidak ingin Mas kecewa makanya..."
Tubuh Shavara gemetaran mendengar ucapan merendahkan itu, ia merasa dirinya payah.
Bhumi menatap tajam Monika yang tidak dia sadari, Monika terus bicara hal-hal yang menyudutkan Shavara.
" Aku maunya Shava. hanya Shava. berarti kita tidak cocok, orang yang lebih menyukai mu, tidak mungkin akan menyukai Shava-ku, dan itu berlaku sebaliknya. mantannya itu bodoh telah melepas berlian demi kotoran." potong Bhumi yang sudah tidak tahan mendengar hinaan Monika tentang istrinya.
Monika menegakkan tubuhnya tidak terima," Mas, aku memakluminya karena kalian masih baru, aku berteman dengannya sudah lama, dia memang seperti apa yang udah aku utarakan. lambat laun mas juga pasti akan bosan padanya, aku..."
" Apa yang kau tawarkan?" Bhumi sudah tidak sabar ingin mengakhiri perbincangan konyol ini.
" Pertemanan, aku ingin kita menjadi teman."
" Sayangnya tidak bisa, saya termasuk orang yang tidak percaya hanya ada ikatan pertemanan antara lelaki dan perempuan. kalian dua orang yang sangat berbeda karakter, aku menyukai Shava, jadi kau harus enyah dari hadapanku."
" Mas, kamu pasti menyesal menolak tawaran ku, bersamanya hidup mu akan sial."
" Kau tahu, apa yang paling menjijikan di dunia ini?" tanya Bhumi.
" Apa?"
" Perempuan murahan seperti mu. bahkan pelacvr masih lebih terhormat dari mu, dia tidak menutupi aktivitasnya dengan menjadi seorang mahasiswi. jadi mustahil bagiku menyukai mu." telak Bhumi, Shavara mengangkat wajahnya menatap suaminya yang sudah memperlihatkan wajah mengeras. dia lantas menutup kaca jendela dibalik teriakan-teriakan Monika yang terus memanggil nama Bhumi yang tidak digubris sama sekali.
Perlahan wajah Shavara mengendur lalu terbitlah senyum manis dari bibirnya," Terima kasih. jangan bosen sama aku ya."
" Gak bakalan, aku punya segudang cara agar kita tidak jatuh pada kejenuhan." Bhumi menatapnya lembut seraya membelai dagu Shavara.
" Jangan diambil hati ucapan dari wanita dengki itu, urusan kita hanya menjadi milik kita, Hmm?"
Shavara mengangguk bersemangat," Siap, komandan."
Bhumi terkekeh, lalu ia membawa tangan Shavara untuk dicium punggungnya.
__ADS_1
" Kenapa kamu bisa temenan sama dia sih? bertahun-tahun pula."
" Entah lah, dia dulu tidak begitu."
" Ini maksud aku kenapa dulu nelpon dia di hadapan kamu, feeling aku dia akan mencoba manuver-manuver yang memecah belah hubungan kita." jempol Bhumi mengusap punggung tangan Shavara.
Selama mereka mengobrol, mereka mengabaikan sosok Monika yang masih terus menepuk-nepuk kaca minta dibukakan
" Kita jalan sekarang?" Shavara mengangguk menyetujui seruan suaminya.
Suami, Shavara terkikik geli bercampur baper mengingat satu nama itu.
" Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri?" Bhumi menyalakan mesin mobil.
" Aku masih merasa amaz aja kalau ingat kamu itu sudah jadi suami aku."
Bhumi mengulum senyum," Sama."
Drrrtt....drrt...drrrrt...
" Hallo." Bhumi menatap memasang headset bluetoothnya.
"......." Shavara menyaksikan suaminya berubah tegang dengan rahang mengeras.
" Kamu dimana? masih di perusahaan Bian kan?"
"........"
" Tetap di belakang merek, Mas, akan ke sana."
Klik...
Bhumi segera menambah laju mobilnya.
" Mas, ada apa?"
" Senja, bertemu dengan perempuan itu." tangan bhumi yang memegang stir meremas kuat.
Dalam hitungan menit mobil itu sudah sampai di pelataran parkir," Kamu tunggu di sini ya, di sini lebih aman." ucap Bhumi sambil melepas seatbelt-nya.
Shavara yang tidak ingin merepotkan Bhumi, hanya bisa mengangguk,
" Mas pergi dulu" Bhumi kelaut dari mobil langsung berlari masuk ke dalam gedung megah itu.
^^^^^
" MA, STOP IT!" Bentak Bian yang mulai lelah menahan tubuh ibunya yang menggila ingin menyerang Senja yang bersembunyi merapat dibalik tubuh Aditya dan Leo yang berdiri bersirian melindungi Senja.
Sementara Devgan siaga berdiri diantara kedua kubu tersebut. Ajis, sang biang onar duduk santai menikmati hasil kecerewetannya.
" Tidak bisa, Yan. perempuan nakal itu harus di hajar, dia yang yang menyebabkan adanya fitnah itu."
Tenaga Bian lumayan terkuras, di satu sisi dia harus menahan amarah ibunya, di sisi lain dia juga harus memastikan Senja baik-baik saja atau dia mati di tangan Abangnya.
" Mungkin ini bukan fitnah, tapi kebenaran yang tersembunyi." celetuk Ajis yang mendapat pelototan Bian agar sahabatnya itu diam, dia lelah.
Bian mendorong mamanya menjauh ke sisi lain ruangan, tepatnya ke depan pintu.
Merasa Senja sudah di jarak an, Aditya dan Leo pun tidak lagi bersifat umum Nuh, mereka berdiri agak berjarak dengan gestur santai.
Sementara Robert tidak tertarik pada drm keluarga mantan koleganya ini, dia melipir mundur dari area, bersandar pada tembok perhatikan Bian.
Ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya mengapa dia tidak langsung menyusul putranya kala Desty mengabari kalau dia punya anak.
" Diam kau, bocah. akan saya tuntut kamu."
" Tan, pernah dengar pribahasa; kalian gak merasa jangan tersinggung, kalem aja sudah. atau biasanya orang yang amarah itu berarti dia melakukannya."
" Dasar bocah tidak tahu tatakrama."
" Saya kasih satu milyar buat Tante, kalau Tante berani untuk melakukan tes DNA.gimana, Om?" tanya Ajis pada Edo.
" Om setuju."
"PAAAA." Teriak Desty menggema.
" Apa? kamu takut?" tantang Edo.
Desty menggeleng," Tidak, tapi ini keterlaluan, Bian anak mu. sebelum wanita muda itu datang, kamu selalu menyayangi Bian.
" Pa, aku tidak aan mau, Bian putra mu, Pa. aku tidak modal pernah tidur dengan lelaki selain kamu." teriak Desty frustasi.
" Benarkah?" tanya Edo pelan namun masih terdengar.
" A..A...apa..maksud mu?" Desty tergagap karena panik, ia kaget suaminya berpikir demikian.
" Bukankah pertama kali kita berhubungan, kamu sudah tidak lagi suci.?" sebenarnya Edo malu untuk mengungkit hal ini di depan para remaja yang merupakan sahabat dari putranya tersebut.
JDERRRR....
" MASSSS...tega kamu...mempermalukan aku." lirih Desty. memasang wajah sendu, namun Edo tetap bergeming.
Mata Desty kembali melotot menyorotkan kebencian pada Senja, dia khawatir kehadiran remaja itu akan membongkar perbuatan kejinya.
" Om, nunggu hasil tes DNA itu lama, gimana kalau kita jajak pendapat karyawan om saja."
" DIAM, AJIS!" bentak Desty.
__ADS_1
" Santai dong, Tan. kalau memang Tante gak bersalah. di bawa slow aja sih."
" Kamu....berani mempermainkan keluarga Mahendra, saya bersumpah, kamu akan hancur setelah keluar dari sini."
Ajis tersenyum smirk," Tidak lebih hancur dari Bian yang diragukan indentitasnya, jadi saya Will be okay. still be okay." ucap Ajis berubah serius dengan mata menatap Desty sengit.
Dadanya masih terasa nyeri kala mengingat Bian yang selalu bersedih, mengharap kasih sayang keluarga.
" Ini faktanya, Senja terlalu mirip dengan om Edo kala dia dituding sebagai anak pria lain, sedangkan Bian terlalu tidak mirip dengan om Edo kala dia diakui sebagai ahli waris Mahendra."
Mata Desty beralih pada Senja yang terlihat berdiri agak belakang diantara dia pengawalnya.
" KAU...semua ini gara-gara kauuuu..." Desty mengambil high heelsnya
Pletak...
lalu melemparnya mengenai tepat di pelipis Senja, semua orang terkejut, semuanya menoleh pada Senja hingga lalai pada pengawasan Desty.
" SENJAAAA..." teriak semuanya kecuali Robert yang melotot lebar.
" Aku ku lukai wajahmu, pelacvr cilik.." Desty berlari namun beberapa langkah pintu di buka paksa, dan detik kemudian Desty tersungkur keras di atas meja sofa.
Brakkghh...
Saat pintu dibuka, Bhumi langsung menendang punggung Desty tanpa sungkan dengan bertenaga.
" KYAAAA...." Desty terjatuh dengan posisi tubuh membentur meja kaca tersebut yang sedikit retak.
Punggungnya terasa sakit, dadanya nyeri terbentur meja. dengan napas ngos-ngosan mata Bhumi mencari sosok Senja yang tengah diperiksa Aditya.
" Dek..."
Senja menoleh ke arah suara, begitupun dengan Aditya, pergerakan Aditya memperlihatkan Bhumi adanya darah dari pelipis Senja.
Senja merasa lega dengan kedatangan kakaknya, hanya Senja. para murid yang ada justru merasa khawatir apalagi Senja tengah terluka.
" Siapa yang melukai kamu?"
Dengan tanpa beban Senja menunjuk Desty yang masih berusaha untuk berdiri. Bian terpaku di tempat, tanpa niat untuk menolong.
Desty yang merasa ada sosok yang menghampirinya, menolehkan kepala, matanya terbelalak, tubuhnya menegang. sesaat berikutnya tubuhnya panik ketakutan.
Ia teringat peristiwa 17 tahun yang lalu, bocah kecil dengan tubuhnya yang kurus menyeret dirinya yang tengah hamil tanpa merasa kasihan hingga dia sempat pendarahan.
Bhumi tersenyum miring dengan mata menggelap penuh amarah." Hallo, gvndik." isra berat Bhumi membuat suhu ruangan meningkat.
" 17 tahun yang lalu, dengan tubuh saya yang masih kecil saya bisa membuat mu terluka, sekarang dengan kondisi saya yang teramat mampu menyingkirkan mu kamu berani menyakiti adik saya?"
Bhumi menj4mbak lalu menarik Desty berdiri." Aaww....aaaawwww..." pijakan kaki Desty terseok karena kencangnya Bhumi menarik dirinya ke tengah ruangan.
" Aaa...adik...? gadis itu...sshhh..adik mu?"" tanya Desty ketakutan sambil memegangi jamb4kannya.
" Iya, bayi yang dalam kandungan ibu kau bilang anak haram ternyata sangat mirip suami mu. tuhan tidak pernah tidur, *****. kini pembalasann mu akan
terjadi."
De..,Dewa...lepaskan rambut ku. aku ibu mu, suka atau tidak suka aku sudah menjadi istri ayahmu kau harus menghormati ku." ucap Desty di tengah ringisannya."
" Mengormati?..kau sungguh-sungguh bicara hormat-menghormati? wanita murahan sepertimu ingin dihormati?" bentak Bhumi.
brukkkh...
" MBBBAAAAKKKK..."
Bersamaan Bhumi melempar Desty membentur tembok Siena datang di ambang pintu yang mematung terkejut melihat tubuh kakaknya melayang hingga menabrak tembok.
Aditya segera membawa Senja yang sudah gemetar ketakutan ke dalam dekapannya, sementara Leo merapat pad Aditya menutup pandangan Senja.
" Mbak?" Bhumi menoleh ke arah Siena berucap bertanya.
" Mbak?" gumamnya.
Netranya menatap Edo yang betah diam di tempat." apakah Dida, gadis kecil yang kau bilang kasihan itu?' tanya Bhumi pada Edo.
Secara perlahan-lahan Edo mengangguk.menyesal, hanya perasaan menyesal yang kini memenuhi hatinya.
" Kau buang anak istrimu karena kasihan pada dia yang bukan siapa-siapa?" tekan Bhumi sinis.
Bhumi melangkah ke arah desty yang terbaring setengah menutup mata.
Tanpa belas kasih, Bhumi menariknya berdiri dengan cara menarik kerah blouse Desty." Pak Dewa, tolong lepaskan kakak saya. dia berdarah-darah."
" Bagus kalau dia sampai mati. ketiadaannya akan membuat hidup orang tenang." ucap Bhumi dingin.
Ada remasan kaut di jantung Bian mendengar ucapan itu, tapi dia tidak berani melawan.
" Bi...Bian..to.. long.. Ma .Ma..." ucap Desty lemah.
Tidak da tanggapan dari Bian, air mata Desty menetes, sakit rasanya melihat putranya tidak memperdulikan dirinya.
" Jadi dia kakak? kandung?"
Siena mengangguk kecil," I..iya...di..dia .kakak ku." cicit Siena takut-takut.
" Hmm, pantesan kau tidak tahu diri, ternyata kau adiknya gvndik jahan4m itu." sinis Bhumi.
" PAK DEWAA... anda tidak berhak menghakimi kami, kakak saya bukan gundik, dia punya suami, pernikahan mereka terdaftar."
__ADS_1
" Setelah menjadikan janda istri orang lain."....