Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
50. Marahan Lagi.


__ADS_3

" Ayo, kumpulkan ini sudah satu menit dari batas waktu pengisian. masa hari pertama sudah langsung KO. saya hitung dari sepuluh ya." ujar Guntur, sang pengawas.


" Sepuluh, delapan."


Sembilan, pak. masa segitu aja gak bisa." celetuk Nuril yang semakin panik mengisi.


" Lima."


" Bapak, saya do'ain bapak berjodoh sama saya kalau ngitungnya masih curang ya." sewot Emma.


Tak...


" Aduh..." dengan entengnya Ditya menjitak kepala Emma.


" Jangan do'ain yang sial-sial buat guru." cibir Aditya, dia beranjak hendak mengumpulkan jawaban.


" Lo mau kemana?" Emma menarik seragam Aditya.


" Ngumpulin lah, gue mah udah."


" Duduk gak, gak solider banget jadi orang. teman lagi susah, situ harus tahan caper ke gurunya." Emma melototi Aditya dengan mata bulatnya itu.


" Dih, dipikir kalau lo melotot bakal nyeremin, bola mata Lo ampe copot juga yg ada Lo kayak hello Kitty." Aditya meneruskan niatnya.


" Adit, issshhh. dasar gak solider."


" Dua."


" Pak, elah. curang bet dah. sportif dong." protes Yudi.


" Dua seperapat. cepat kumpulkan sebelum saya hitung satu atau, jawaban saya tolak. sa..."


Buru-buru siswa-siswi mengumpulkan lembar jawaban mereka dibarengi misuh-misuh.


" Pak, kalau masih ngitung konyol gini, saya lamar langsung bapak dah." Megan berlari buru-buru menyerahkan jawaban ke meja guru.


" Kalau belum bisa ngitung, jangan ngitung." omel Megan.


Guntur terkekeh," kalau udah waktunya ngumpulin, langsung ngumpulin jangan ngaret." balas Guntur.


" Masih mau Lo nikah sama pak Guntur yg bahkan belum bisa catunglis?" bisik Eca yang tahu perihal perjodohan Guntur, si guru ganteng dengan Megan, si biang pusing guru karena ulahnya yang sering masuk ruang BK karena makeup.


" Terlanjur." bisik balik Megan.


" Bapak juga belum tentu bisa ngumpulin jawaban kalau baca soalnya. sumpah ya, pak Dewa kalau udah bikin soal, sadis."


" Muka doang ganteng, jiwa mafia." timpal Leo yang menyerahkan lembar jawaban.


Puk...


" Aduh." ringis Leo.


Dari belakang Bhumi memukul kepala Leo dengan segepok kertas." belajar, semua soal sudah diajarkan."


" Bapak, kesini mau ngasih tahu jawaban buat neng, kan?" Emma berlari kecil sambil mengedip-kedipkan matanya genit.


" Adit, tolong kasih Emma obatnya."


" Siap." Aditya berjalan ke bangku teman wanita yang suka membawa jajanan lidi berlevel 13.


" Sini, Ma."


" Adit, itu pedas. terakhir gue makan itu seharian gue diare." Emma berlari menjauhi aditya dengan mulut ditutup kedua tangannya.


" Bubar..bubar...karena semesteran langsung pulang, sayur asem sama teri menunggu di rumah." ujar guntur. ia menyerahkan lembar jawaban ke Bhumi sebagai guru bidangnya.


" Pak." Bian dibuntuti para sahabat yang tebar pesona sepanjang koridor ke siswi-siswi berlari menyusul Bhumi yang berjalan beriringan dengan Guntur mengarah ke kantor guru.


Bhumi berhenti, lalu berbalik." Apa?"


" Aku selama ujian boleh tinggal di rumah?" Bian menatapnya dengan permohonan.


Bhumi sesaat terpaku pada kalimat yang diucapkan terasa bergetar itu," Gue cabut duluan." ucap Guntur yang memahami ini ranah privasi.


" Nitip ini." Guntur mendelik, walau ia tetap menerima beberapa bundelan kertas tersebut sebelum pergi meninggalkan mereka.


Bhumi memasukan kedua tangan ke dalam saku." Tinggal aja, biasanya juga gak pake izin. Gak Inget apa jawaban kamu ke ibu?" retoris Bhumi.


" Nak Bian, bisa tinggal di sini dulu gak bantu-bantu ibu? kamu lihat sendiri kan Abang kamu sejak punya pacar pulangnya pagi melulu, untung udah tua jadi ibu gak khawatir Abang mu salah pergaulan." ucap Rianti di Minggu pagi.


" Siap, Bu." jawab Bian cepat dengan semangat.


Bian nyengir kuda seraya mengusap tengkuk." bapak dengar?"


" Saya gak kayak kamu yang pulang pagi, bangun sore." sindirnya.


" Kalau begitu..."


" Dengan syarat gak ada lagi pulang pagi, dan narkoba. saya bilang begini bukan karena gak percaya kamu, tapi selalu ada resiko kamu buat kembali ke sana."


" Siap, komandan. saya ngerokok aja enggak."


" Baguslah, walau saya menyangsikan soal itu."


" Cuma kadang-kadang aja kalau emang mumet banget."


" Terus dapet jawabannya setelah merokok?"


Bian menggeleng," Enggak sih."


" Cih, Sia-sia." decak Bhumi.

__ADS_1


" Pak Dewaaa..." tiba-tiba Senja menggelayut manja pada Bhumi.


Teriakan Senja mengundang perhatian dari murid-murid yang lewat hendak pulang termasuk Siena yang menatap nyalang kelakuan Senja.


"Kenapa?"


" Minta duit." Senja menengadahkan tangan.


Tak...


Tangan Senja dilepas kasar oleh Siena.


" SENJA,...JAGA SIKAP KAMU, INI SEKOLAH BUKAN TEMPAT KAMU OPEN BO." bentakan. membahana itu mengagetkan siap saja yang mendengar, Bhumi dan Bian sudah menatap tajam ada Siena.


" Ibu yang jaga ucapan, guru kok ngomongnya kasar." ucap Emma.


" Diam, kamu ini..."


" Bu, kalaupun saya mau megang tangan, merangkul, memeluk pak Dewa, urusan ibu apa? pak Dewa-nya ja gak keberatan." potong Senja kesal.


" Kamu ini, pak Dewa itu orang baik, beliau tidak akan enak nolak kamu, kamu yang ahrus tahu diri, mana minta duit segala lagi, bayar paket apa kamu duit itu."


"Bu Siena, anda sudah keterlaluan. ibu, kita tidak cukup dekat untuk untuk ibu mencampuri urusan siapa yang berhak dekat dan tidak dekat dengan saya." telak Bhumi.


" Kalau begitu kenapa bapak selalu enggan untuk akrab dengan saya, sedangkan dengan dia..." tunjuk Siena pada Senja."


" Saya cukup cakap untuk menyuruh ibu untuk tidak mendekati saya, saya risih Bu."


" Dia yang lebih risih tingkahnya, sejak kapan kalian dekat?"


" Sejak orok. kalau ibu lupa, saya adik kandungnya pak Dewa, seseorang yang seharusnya ibu dekati kalau mau sama pak Dewa." Jawab Senja kesal.


Siena sontak terkejut, ia merutuk diri lupa akan fakta itu." Se.. Senja..."


" Tapi saya terlanjur kecewa sama ibu, jadi ibu out." seru senja bangga yang mendapat tepuk tangan dari yang menonton.


Seketika wajah Siena memerah, ia melirik Bian meminta bantuan, namun Bian abai.


" Bu, sudah bermiliar-miliar kali ibu ditolak pak Dewa mending mundur cantik sebelum semakin malu." ucap Devgan.


" Lagian pak Dewa kan sudah punya calon istri, apa ibu mau jadi pelakor? emang pantes guru jadi pelakor?" tanya Leo tersenyum miring.


" Kalian tidak sopan, jaga bicar kalian."


" Tidak sopan mana dibanding guru yang memfitnah muridnya jual diri?" sindir Aditya sinis.


" Senja maafkan saya, saya harap kamu tidak salah paham atas tindakan saya, saya hanya ingin kasus Arleta tidak kembali terjadi." alibi Siena. saya permisi." Siena buru-buru pergi karena malu di bawah sorakan para murid.


" Shhutttt,..jangan begitu. bagaimana bu Siena guru kalian." tegur Guntur.


"Guru kurang tatar kali ya pak." celetuk satu murid.


" Kuy, kak. kita pulang " setelah menerima uang dari Bhumi, Senja mengapit tangan Bian.


"Kak Bian, Lo Selingkuh Dari Gue?" sela Aira yang berlari ke arah mereka yang ketika di hadapan mereka bertolak pinggang sambil melotot ke arah Bian.


Murid yang awalnya hendak bubar, kembali mengurungkan niatnya.


" Apalagi ini si bocil " erang kesal Guntur, Bhumi terkekeh melihat kesenewenan Guntur.


" Senja lepas tangan kamu dari pacar aku, kamu mau jadi pelakor?" Aira melerai tangan senja dari tangan Bian dengan paksa.


" Apa sih Ra, aku kalaupun mau jadi pelakor gak kayak kak Bian juga kali, bagusan dikit lah."


" Apa maksud kamu, Ja." Bian tidak terima dirinya dibilang tidak layak diperebutkan.


" Ya udah, jauh-jauh sana dari pacar aku."


" Dih, baru juga pacar, belum tentu jadi jodoh, sak ngatur." Senja merebut kembali tangan Bian dari Aira.


" Awas ih..."


" kamu yang awas. tadi pagi aku datang bareng kak Bian, pulang juga bareng dia lah." terang Senja.


" Apa? jadi karena Senja kamu gak bisa jemput aku?" kamu beneran seling...hmmphh." Bian membekap mulut Aira yang cerewet.


" Kamu ikut aku pulang."


" Kak Bian boncengin aku kan? aku ngadu sama ibu lho ya." peringat Senja.


" Gak bisa, kak Bian sama aku " teriak Aira yang berhasil melepas bekapan Bian.


" Gak..."


" Saya pergi, kalian teruskan." potong Bhumi nyelonong pergi meninggalkan kerumunan bersama Guntur yang sudah lelah melerai dia gadis cilik itu.


" Lagian ngapain sih ngerebutin si Bian, di sini ada gue woy, si tampan nan kaya raya dan juga pintar. jik belakang gue masih kosong lho ini." ucap Devgan yang diabaikan dua gadis itu.m, namun berhasil mengundang tawa dari mereka yang mengasihaninya.


❤️❤️❤️❤️❤️


" Hai." Bhumi mematikan mesin motornya di depan Shavara yang menunggunya di depan gerbang kampus bersama Mira dan Berliana.


" Kok telat? kalau emang gak bisa gak usah maksain padahal." Shavara menerima helm yang diulurkan Bhumi.


" Tadi ada drama dulu antara Senja sama Aira ngerebutin Bian." Bhumi mengancing kaitan helm Shavara.


"Var, habis dari mall, langsung ke kostan gue ya." ujar Mira


" lha, kalian kan juga ke mall kan?"


"Gak jadi, keburu males, proposal ganggu banget otak gue."

__ADS_1


" Yaahhh, kalau gitu..."


" Kan ke Mall juga cuma nyari hp Lo doang kan?" ya kalian aja, darah." Mira menarik tangan Berliana yang sibuk dengan ponselnya masuk ke dalam area kampus.


Plak...


Shavara mendengkus saat melihat Monika yang menggeplak lengan atasnya.


"Hai, Vara. ini siapa, Var? hallo aku Monika temannya Vara dari SMA." Monika mengulurkan tangan ini berkenalan.


Bhumi melirik Shavara yang diam tidak menanggapi, bahkan Shavara sedikit memunggungi Monika lalu ke tangan yang masih mengulur di depannya.


" Vara, Lo gak keberatan kan teman Lo kenalan sama gue? Lo gak takut dia berpaling ke gue kan?" sarkas Monika jumawa.


"Kalau dia mau kenalan sama Lo, silakan aja gue mah." Shavara dengan kasar menaiki motor Bhumi sampai sedikit oleng karena Bhumi tidak siap.


" So, siapa nama kamu?" tanya Monika lemah lembut.


" Dewa, calon suami Shavara." jawab Bhumi tidak membalas tangan Monika, dia memilih memegang stang motor untuk keseimbangan.


Shavara memalingkan diri bersandar di punggung Bhumi, bibirnya terangkat membentuk senyum sumringah.


Monika mencerna sejenak sebelum berucap," Wow, calon suami. cepat sekali kamu punya pengganti mas Aryo, padahal kemarin meraung-raung menangisinya ternyata cuma palsu semata. upps, sorry, gue gak maksud bongkar aib Lo. calon Lo ini tahu kan kali Lo pernah tunangan?"


Shavara menegakkan duduk lantas menatap Monika tajam," Lo..."


Ucapannya terhenti saat dirasa tangan Bhumi memegang tangannya yang dipanggang Bhumi.


" Kita cabut dulu, permisi." Bhumi menyalakan mesin motor.


" Silakan, aku harap kita bisa berteman kalau ketemu di lain waktu."


Brruuuummm..bruuummm....


Bhumi melajukan motornya dengan suara bising meninggalkan Monika yang terlonjak kaget.


" Hahahaha.." Shavara masih saja tertawa lepas menertawai tingkah Bhumi di kampus tadi."


" Belum puas ketawanya cantik?" Bhumi menggenggam tangan Shavara memasuki mall.


Shavara menggeleng, " belum., puas banget aku lihat muka dia yang komuk gitu."


" Kamu gak bakal goyah ke dia kan?"


" Enggaklah, kamu tahu kisah keluarga aku, perempuan maca Monika yang bikin aku ilfeel ke kaum kamu."


Bhumi menarik merangkul Shavara," untung aku kenal kamu, kan jadinya aku bisa ngalamin hal yang dulu ku katakan lebay ke Adnan saat dia naksir cewek."


" Jadi kamu ngerasa kalau kamu alay? tiap saat megang tangan, belum lagi nyosor mulu bibirnya." decak Shavara malas.


"Sekarang juga aku ingin nyosor, cuma banyak orang, jadi aku tahan dulu." bisik Bhumi yang selanjutnya mencivm singkat daun telinga Shavara.


" Kak..."


"Kita makan dulu atau langsung milih hp?"


" Makan dulu. maaf ya aku sering pake hp kamu buat lihat sosmed aku."


" Gak masalah cantik, punya aku, punya kamu juga. aku serius ngomong ini."


Mereka memilih restoran Italia untuk makan siang.


" Gimana reaksi Tante Rianti pas kamu bilang udah ngelamar aku?"


Bhumi menggenggam tangan Shavara yang ada di atas meja." maaf, aku belum sempat bilang, sampe rumah ternyata Bian sendang dirundung masalah keluarganya, jadi aku tunda ngomongnya."


senyum Shavara memudar, ada sedikit rasa kecewa di hatinya, namun ia mencoba memahami kondisi keluarga Bhumi yang rumit ini.


Namun keraguan tak ayal menghinggapi sanubarinya.


Shavara memaksa senyum cerah kembali." gak apa-apa, kita memang terlalu dini untuk langkah seserius itu." Shavara menarik tangannya yang ditahan Bhumi.


"Jangan salah paham, apapun yang ada di kepala cantik kamu itu tidak terjadi, ini murni soal Bian. Senja cerita ke aku apa masalahnya, dan itu cukup serius."


" Lebih serius dari kita?"


Bhumi menggeleng," bukan begitu, sayang. maaf, aku pulang dari sini langsung bilang sama ibu."


" Gak perlu dipaksakan."


" Aku gak maksain, ini impian aku untuk menikahimu, sayang. hati aku udah mantep sama kamu."


" Lebih baik gak terburu-buru, kita slow aja."


" Sayang, aku gak suka kamu bilang begitu, kita batalkan beli hp kamu, kita langsung aja ke rumah ya." Bhumi berdiri mengambil ransel serta memegang tas serta buku Shavara dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya memegang tangan Shavara agr tidak lari. mereka meninggalkan restoran sebelum memesan.


"Kak, berhenti. jangan begini."


Bhumi terus melangkah, ketika tiba di parkiran ia menyerahkan tas dan buku Shavara, serta langsung mengenakan helm ke pacarnya itu.


Shavara memegang tangan Bhumi di ujung helmnya." Kak, maaf. aku gak marah."


" Aku tahu, kamu cuma sedang menyamaratakan aku dengan mantan mu itu. berapa kali aku bilang cinta, berapa kali aku bilang serius namun semuanya kalah karena kenangan kamu itu. kamu masih belum lepas dari mantan si'alan mu, Shava." Bhumi menyugar rambutnya kesal.


" Kapan kamu melihat aku adalah aku, kapan kamu melihat kisah kita berdiri sendiri dari kisah masa lalu mu? kurang apa aku sama kamu, Shava? sebutkan kurangnya aku apa?" bentak Bhumi kehabisan akal meyakinkan Shavara mengenai perasaanya.


Shavara terdiam kaku karena takut, ia membuka helm menaruhnya di atas moto Bhumi.


" Aku pulang sendiri. maaf, sudah membuatmu kecewa, tapi inilah aku, perempuan yang sih punya ketakutan soal hubungan percintaan."


Setelah mengambil tas dan bukunya Shavara berlari meninggalkan parkiran, meninggalkan Bhumi yang amarah pada dirinya sendiri karena lepas kontrol.

__ADS_1


Bhumi segera melajukan motor memutari mall dari luar sampai pintu keluar parkiran dai Segal arah, namun sayang dia tidak jua menemukan Shavara....


__ADS_2