Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
100. Kehebohan Sekolah.


__ADS_3

Drap..drap...drap...


Bhumi berlari kecil menuruni tangga sembari menyampirkan tali dasi ke leher dengan ransel dan jaket dicangkol di bahu, dia bangun kesiangan, dan kini terburu-buru harus menjemput istrinya dulu demi berangkat bersama ke sekolah.


Semalam seusai makan malam, Bhumi pamit untuk memeriksa pembukuan seluruh angkringannya yang tertunda selama dia menikah dan bulan madu.


Dasarnya anak muda, seusai pemeriksaan pembukuan mereka malah curhat soal percintaan mereka seakan dunia hampir kiamat karena galau akan sang pujaan hati, padahal jodoh juga belum tentu.


Ujung matanya melirik ke meja makan dimana Senja dan Bian masih menyantap sarapan dengan santainya kala jam dinding sudah menunjuk pukul 06:55 wib yang berarti mereka kemungkinan Besar akan terlambat kalau tidak segera berangkat.


" Kalian masih saja nyantai." sindir Bhumi.


" Belum waktunya bel." jawab Bian tidak kalah santai.


Bola mata Bhumi berputar malas, Ia langsung menyalami ibu Rianti." Sarapan dulu, nduk?"


" Gak sempat Bu. Mau jemput Shava duku soalnya."


" Padahal kan gak perlu ya, kan ada Adit di sana." celetuk Bian.


" Jelas banget sih kenapa Aira suka bimbang sama kamu, effort-nya rendah." Bhumi menjitak keras kepala Bian saat melewatinya menuju pintu keluar yang membuat Bian meringis sambil mengusap-usap kepalanya.


¥¥¥¥¥


" Ck, kan seharusnya gak perlu jemput segala, aku bisa berangkat sama adek padahal. kamu keras kepala banget." omel Shavara sembari merapihkan dasi Bhumi yang duduk di ruang tamu sedangkan dia berdiri di antara kedua kaki panjang Bhumi.


Shavara sendiri seharusnya tidak perlu terjebak dengan ketergesaan mengingat jam kerjanya di mulai pukul delapan, tapi apa daya sang suami bucinnya memaksa dia untuk berangkat bareng.


" Terus gunanya aku sebagai suami apa kalau antar jemput kamu aja gak bisa. Dia juga pasti masih santai-santai belum ngapa-ngapain." Bhumi mengusap-usap pinggang Shavara yang berdiri di depannya.


Shavara terkikik, " kok tahu? Cieee.. murid kesayangannya ya."


" Apaan dah, tiap hari aku ceramahin dia karena guru BK malas ngasih hukuman buat dia dan temannya." Bhumi memeluk pinggang Shavara.


" Ck, jangan mepet-mepet. Ini sudah rapih dasinya."


Bhumi menciumi perut Shavara, ada rasa gelenyar geli di sana yang dirasa Shavara." Aa...ih...jangan gini."


" Kangen kamu."


" Jangan lebay. Kita ketemuan setiap hari."


" Tapi belum bisa tinggal bareng. ranjang aku anyep gak ada kamu."


" Salah siapa nekat tetap nikahin aku dan menyetujui perjanjian konyol itu. Kan begini jadinya."


" Salah siapa kamu bikin aku jatuh cinta tiap harinya, kalau gak nikahin kamu sekarang keburu ditikung orang."


" Apa sih gak bakalan, aku type setia" kini Shavara merapihkan rambut Bhumi yang menengadahkan kepala memperhatikannya.


" Kiss..."


" Gak mau, nanti ada orang lewat, malu."


" Gak ada, sekarang kiss-nya." mata Bhumi melihat ke sekeliling ruangan.


" Kiss, sayang." mau tidak mau Shavara mengecup bibir suaminya yang makin ke sini makin tidak tahu malu.


" Itu kecupan bukan kiss."


" Gak mau, udah ih. Ayok sarapan dulu."


" Gak bakal keburu."


" Keburu, kamu gak ada jam lagi kan. Adit juga masih di ruang makan." Shavara memaksa melepaskan diri dari pelukan Bhumi.


" Teh, ajak Bhumi sarapan." teriak Fena dari ruang makan.


" Tuh dengar, di sini gak bisa keluar ruangan belum sarapan." Bhumi dengan berat hati mengikuti Shavara ke ruang makan.


 " Pagi, Pa. Ma." Bhumi menyalami orang tua Fena.


" Pagi mantu Mama yang paling ganteng. duduk makan dulu. Kamu bakal butuh tenaga extra untuk menghadapi murid kayak adek." ekor mata Fena melirik Aditya yang tengah menambah nasi goreng padahal jam sudah menunjuk pukul 07:10.


" Masih nyantai, Dit. padahal sepuluh menit lagi masuk lho." sindir Bhumi Jenu.


" Hmm, gampang itu mah. buat apa punya motor mahal kalau gak bisa sampai ke sekolah tepat waktu."


Bhumi menghela napas panjang." Kenapa berasa aku yang jadi murid dia yang yang jadi guru ya... Aku di rumah buru-buru lho ini. Nyampe sini pemandangannya gak beda sama yang di rumah."


" Sabar, generasi Z emang nyebelin. Hidup sok menguasai keadaan, pas nemu kondisi yang diluar prediksinua berasa paling teraniaya di dunia. Cuih, mental oncom banget gak sih, gampang dibenyek-benyek." omel Fena kesal.


" Mama ih gak ada lebih elit lagi apa perandaiannya."


" Cerewet kamu, cepetan makannya. Udah mau terlambat itu."


" Padahal jam masuk udah lebih di lambatkan lho, Ma. ketimbang tahun ajar yang lalu."


" Ya Allah cuma beda lima menit doang, pak. apa manfaatnya coba, tetap aja kita berangkat sebelum matahari nongol. Aku dengar waktu jaman Papa, Mama sekolah masuk jam setengah delapan, pulang jam satu, lah ini masuk jam tujuh-an, pulang jam empat. Over banget gak tuh. jadi profesor kagak kita. Stress iya."


" Stop protes, kalau berani datangin langsung kantor Kemdikbud-nya sana."


" Ck, gak guna. nanti aja kalau dedek jadi menterinya."


" HAHAHHAHAHAHAHA...." kompak semua orang yang di ruang makan menyemburkan tawa.


" presiden-nya siapa, dek?" tanya Shavara.


" Ajis, dia punya misi mulia mau kasih gratis BBM. Kan kita punya limpahan SDA yang beluber."


" Aa pindah negara deh kayaknya." celetuk Wisnu yang mendapat delikan sengit dari Aditya dengan bibir manyun.


" Yang jadi menteri paling gak jauh-jauh dari teman-temannya." kata Bhumi yang paham betul kesolidaritasan anak didiknya.


" Iya lah buat apa nyari yang lain. Menteri peranan wanita, di Megan."


Byurrrr...


Air putih yang sedang di minum Bhumi muncrat tanpa sengaja." Maaf, Terserah, Dit. Terserah...Yang, kita ganti warga negara ya..." ucap Bhumi pada Shavara yang masih terkikik lucu.


" Kalian apa-apaan sih. Anak muda punya mimpi diketawain. Tapi, gak apa-apa. Dari mimpi yang diremehin sama kalian itu yang biasanya akan berhasil. Awas aja kalau ajis jadi presiden kalian gak bakalan dapet BLT." Aditya berdiri dan menyalami orang tuanya sebelum berangkat.


" Lha BLT kan memang buat orang gak mampu, Dit. kita Alhamdulillah mampu." kata Papa Anggara.


" Ck, lihat aja nanti. pas Adit jadi menteri. seketika kalian bakal cosplay jadi orang paling susah se-Indonesia demi uang 600 ribuan. Itu udah bukan rahasia lagi. Assalamualaikum!" Aditya menghilang di balik pintu yang dia tutup keras.


" Tu anak halunya makin tinggi, kita do'akan aja beneran berhasil." ucap Fena.

__ADS_1


" Amminnn.."


^^^^^


Sejak terlihat Bhumi memasuki area sekolah dengan memboncengi Shavara sudah banyak mata memperhatikannya, dan makin lama dalam menjadi pusat perhatian seluruh orang yanga ada di parkiran.


Pasalnya selain Senja tidak pernah ada perempuan yang diboncengi guru fisika favorit itu yang di kemudian hari diketahui oleh mereka bahwa Senja adalah adiknya diluar perkiraan mereka kalau Senja dan Bhumi punya hubungan asmara.


Hari ke dua pasca liburan kegiatan sekolah aktif seperti biasa, tapi apalah daya, euforia liburan masih membayangi mereka. Bel sudah berbunyi dari 10 menit yang lalu, namun masih banyak murid yang baru tiba, bahkan mereka bersikap biasa saja.


Bhumi tidak menyadari itu, bahkan Bhumi melupakan keadaan sekitarnya. baginya jika dia bersama Shavara, maka terlupakan semuanya. Shavara adalah dunia.


Bhumi memegangi tangan Shavara saat menuruni motor, baru kemudian dirinya yang menuruni motor.


Bhumi menyuguhkan senyum yang paling terbaik untuk Shavara, dia tidak mel pas pegang tangannya, mereka terjebak dalam dunianya sendiri.


Masih dengan tatapan lembut yang selalu diberikan pada istrinya, Bhumi membukakan helmnya, lalu membantu merapihkan rambut Shavara dengan senyuman manis yang tidak pernah luntur." Udah cantik seperti biasanya."


Bhumi mengelus halus lengan Shavara berujung menggenggam tangan Shavara terlihat jelas enggan melepasnya. Ia mengikis jarak, mengarahkan bibirnya ke kening istrinya.


Semuanya terlihat jelas oleh mereka yang di sana yang melongo dengan mulut menganga lebar kala Bhumi melabuhkan ciuman di kening Shavara tanpa sungkan dan malu yang melahirkan pekikan gemas dan iri dari para siswi tidak lupa mereka gegas mengambil gambar pemandangan langka ini.


Bagi mereka yang di luar radar merek, melihat jelas zona perbucinan akut tanpa celah diantara mereka. Guru yang baik, namun tegas itu yang terbiasa tidak tersentuh area pribadinya tampak meleleh bagai coklat yang kepanasan.


Maka desas-desus gosip gegas kencang menyebar baik lewat media sosial maupun offline. admin media sekolah sudah heboh dengan foto saat Bhumi mencium kening Shavara.


Shavara yang pertama kembali ke dunia nyata, matanya terperangah kaget mereka menjadi perhatian.


" Issshh..malu..jangan begini, A."


Bhumi tidak ambil pusing, semalam dia berpikir langkah apa yang harus dia lakukan agar istrinya terlindung dari perundungan aora remaja labil, " Harus begini supaya orang tahu kalau kamu punya aku. Itu mata anak kelas 12 dari kemarin gak bisa lepas dari kamu dan mereka semua begajulan." ekor matanya menangkap segerombolan siswa mendekati mereka.


" Pak, emang Kakak cantik itu siapanya bapak?" tanya Gara.


" Kesayangan saya. Jangan nikung kalian ya."


" Apakah kakak cantik ini istri bapak?." tanya Nuril dengan gaya berlebihan.


" Jadi rumor bapak nikah itu beneran?" Bhumi mengangguk sebagai jawaban untuk Gara.


" Bapak, jadi kakak iparnya dedek Adit?"


" Nasibnya begitu." jawab Bhumi tidak bersemangat yang mendapat gaplokan di tangannya dari Shavara.


" Jadi beneran terlambat ya." keluh Nuril.


" Sok punya daya saing aja kamu. Ngedeketin gebetan dari kelas satu aja gak berhasil-berhasil." Bhumi menggenggam tangan Shavara yang tentu ditolak Shavara karena malu, meras tidak etis aja.


" Dih, bapak gak update. saya udah jadian lho sama dia."


" Halah, paling boong. kemarin kamu masih bergalau ria." ledekan Bhumi mendapat sambutan tawa dari yang lain.


" Itu kemarin, saya lakuin apa saran bapak, ehh.. diterima, pak." jawab Nuril ngegas.


" Syukur lah. pokoknya kalian dilarang deketin perempuan cantik ini. Bubar, sana." usir Bhumi.


" Tapi gak masalah dong kalau Kakak-nya yang cantik ini mau buka cadangan." Gara menarik turunkan alisnya menggoda.


" Gak bakalan ada buka cadangan, Gara. udah sana masuk." Bhumi berlalu dari tempat parkir.


Di sepanjang koridor menuju kantor staf yang tidak berjauhan dari kantor guru, sapaan, ledekan, dan godaan menyertai mereka. Shavara hanya bisa menunduk. Sementara Bhumi hanya mengangguk sesekali menjawab sapaan.


Bhumi mengangkat tangan mereka yang saling bertaut.


" Pak, musti pamer segitunya kah?" Bhumi mengangguk tegas.


" Mau protes, tapi istri bapak cantik banget. Apalah aku serpihan debu di musim kemarau." ucap yang lain dengan gaya gelaynya.


Shavara terkikik geli bercampur lucu." Itu murid kamu dikasih sarapan apa dah." bisiknya.


" Beling." jawab Bhumi pun berbisik.


Shavara menumbuk lengan Bhumi," Dikira kuda lumping."


Di depan kantor staf Bhumi baru melepas Shavara." Jangan lupa apa yang aku bilangin ya..."


Dari rumah, Shavara sudah mewanti-wanti Bhumi untuk tidak terlalu kentara menunjukan ketidaksukaannya pada Arleta, cukup dengan tidak meladeni kalau memang enggan berbiak hati, tapi usahakan berbaik saja lah. selebihnya biasa saja, yang tentu ditolak Bhumi.


" Gak janji, aku bisa lakuin, aku kepalang benci sama dia."


" Gak maksa tapi gak perlu menunjukannya secara gamblang."


" Gak janji." Bhumi mencium punggung tangan Shavara sebelum berlalu meninggalkan parkiran.


" Shavara, jadi benaran kamu punya hubungan dengan pak Dewa?" sembur salah satu pegawai kantor saat Shavara berbalik hendak masuk."


" Astaga..Bu. Bikin kaget jantung saya." Shavara mengusap-usap dadanya.


" Jawab pertanyaan saya."


" Eeehh..i..itu..." Shavara gelapagapan.


" Saya tafsirkan iya, ya. Huh, baru saya mau pendekatan udah kalah sebelum tempur. Santia saja, saya bukan type pelakor kayak Arleta." sahutnya.


" I..iya...makasih ya Bu..."


Kantor guru sepi walau ada beberapa guru yang masih stay di meja kerjanya sat Bhumi memasuki kantornya.


" Pak Dewa." panggilan Siena yang berlari ke arah Bhumi mendapat atensi dari mereka dengan wajah bosan.


Bhumi tidak mengindahkan panggilan itu, dan itu sudah biasa diantara para guru. Ia terus melangkah menuju ruangannya.


" Pak Dewa." Siena berdiri depannya.


" Apa bapak tidak mau menganulir berita soal bapak di akun sekolah yang sedang diperbincangkan?"


Bhumi menatap Siena dengan mimik benci," Bukan urusan anda. Minggir, tidak sopan."


Pengusiran gamblang itu mengagetkan mereka.


" Pak, saya hanya tidak ingin bapak kembali mendapat skandal. seperti kemarin."


" Minggir."


" Pak, hargai saya, jangan bertindak arogan..."


" Minggir...."

__ADS_1


Brukh...


Para guru berdiri sewaktu Siena terjatuh menabrak meja gur yang lain akibat dorongan Bhumi, mereka tidak menyangka dewa bisa melakukan itu.


" Pak Dewa." pekik Siena yang mengaduh sakit karena sikunya yang terkena ujung meja.


" Menjijikan, persis kakak mu." ucapan Dewa yang selanjutnya masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Siena yang terperangah kaget dengan wajah pias.


BRAKKKH....


Nuril membuka kasar pintu kelas yang mengagetkan penghuni jelas yang sedang heboh karena jam pertama kosong." Woy, Adit, ujubuneng. Kenap lo gak ngomong kalau pak Dewa kakak ipar Lo."


Aditya yang tengah sibuk main games bareng yang lain menoleh sebentar," Untung Lo tahu apa?"


" Ya traktir lah..."


" Ril, Lo ngomong apaan dah." tanya Megan yang sedang menawarkan barang dagangan berupa makeupnya.


" Istrinya pak Dewa, ternyata kakaknya so dedek Adit."


" HAH, Seriusan LO."


" perempuan cantik yang kemarin tu, Kakaknya Adit yang super buluk ini?" Aditya mendengkus sebal atas penghinaan teman sekelasnya.


" Yoi..."


" Udah valid belum ni beritanya."


" Udah, tapi pak Dewa sendiri yang konfirmasi."


Mak langsung suasana heboh dengan dentingan ketikan ponsel dan gubahan kaum hawa remaja itu.


" Woy, kelas sebelah berantem." teriak Yudi dari ambang pintu.


" Urusan sama kita apa? mereka mah udah Baisa berantem deh kayaknya." sahut yang lain.


" Si Leta ngamuk anjir."


" Paling soal pak Dewa. sumpah ya, pakan sih dia tobat. sedikit perempuan gak punya malu tu dia."


^^^^


Di kelasnya, Arleta membaca berita yang menggemparkan sekolah itu dengan tangan meremas kuat ponselnya.


Dia sana nyata kata perempuan kesayangan di bold besar. air matanya menetes tidak bisa dibendung.


Beberapa teman sekelasnya kasak kusuk membicarakannya." Ta, bisa Lo stop sampai sini obses Lo soal pak Dewa." ujar salah satu temannya


" Diam lo, Lo gak tahu apapun soal gue."


" Dan kita gak minat tahu apapun tentang Lo, tapi kelakuan Lo yang sudah mencoreng dan mempermalukan angkatan kita. Let." seru yang lain.


" Gegara kelakuan Lo, kelas ini dan angkatan kita dicibir sama yang lain, Lo tahu apa kata mereka soal kelas ini, kelas wanita rendahan padahal cuma Lo yang kelakuannya naudzubillah."


" Bodo amat, gak peduli gue soal pandangan mereka."


" Jiwa pelakor modelan Lo memang gak bakal peduli, tapi kita peduli, Let. Kita udah mau lulus, kenapa gak Lo rubah sikap Lo."


" Mending kalian diam, gue gak rugiin kalian juga."


" T4i emang Lo." si rambut pendek langsung menjambak rambut Arleta saking kesalnya.


" AAAAA.wwwww.....ssss....lepas..sakit....." jerit Arleta memegang rambutnya yang dicekal kuat-kuat.


" Kesel gue sama kelakuan Lo, Lo bilang gak ngerugiin, t4i sih Lo itu. Mereka nyibir kelas ini sejak skandal Lo anjirrrr... Kalau udah ditolak, udah jangan bertingkah. kalau bukan karena duit bokap Lo, udah dilempar Lo keluar dari sekolah ini."


" Hai, ada apa ini." Guntur memasuki kelas, dan dia kaget kelas sudah berantakan.


Guntur meminta ketua kelas memisahkan mereka," Ada penjelasan soal ini?" tanya Guntur tegas setelah suasana kondusif.


" Dia gak bisa dibilangin buat berhenti ganggu pak Dewa." ucap si teman.


" Itu hak saya, mereka gak ada gak hak buat ngatur saya." Arleta membela diri.


Guntur menarik lalu menghembuskan napas," Arlet, pak Dewa sudah menikah, kalian pasti dengar berita itu, dan perempuan yang kemarin mau kamu siram itu istrinya."


Sontak kelas hening, memang kabar Dewa menikah sudah pernah santer, tapi liburan kemarin dan pak Dewa yang tidak pernah memberi klarifikasi jelas bahkan menanggapi serius soal itu membuat mereka melupakan berita itu.


" Gue lupa soal itu." sahut yang lain.


" Saya yakin yang suka sama pak Dewa bukan hanya kamu, tapi cuma kamu yang memang menyulitkan pak Dewa. kalau yang lain bisa ikhlas melepas, kenapa kamu enggak."


" Mereka gak cinta pak Dewa, tapi kalau saya cinta." sahut lantang Arleta.


" Tapi semua ada rules-nya. Kamu bukan perempuan yang tidak bersimpati pada perempuan lainnya, kan. kita punya norma, Arleta." sindir Guntur.


" Jangan bicara norma, pak. gak pantes bapak yang punya hubungan dengan murid bicara norma."


Guntur memejamkan mata, meredam emosinya." saya enggan membicarakan masalah pribadi saya, tapi Jiak ini bisa membuka mata kamu, tidak masalah. kamu bisa cari ke seluruh lingkungan sekolah, ada gak hati yang tersakiti dari hubungan kami? bahkan saya menunggu dia lulus agar bisa menikahinya. Itu usaha saya untuk Megan, orang yang saya sayangi."


Hubungan Megan dan Guntur bukan rahasia di sekolah ini, tapi perlakuan mereka yang tidak diluar batas kenormaan sekolah yang pada akhirnya hubungan mereka tidak dipermasalahkan.


"Pak Dewa jelas-jelas sudah menikah, dan kamu gak punya hak menyukai lelaki yang sudah beristri kecuali kamu memang bermoral rendah, Arleta."


Perkataan Guntur menusuk jantung dan menyentuh ego Arleta, dia bungkam tidak bisa menjawab. Dia malu, namun mau dikata apa hatinya enggan mengikuti logikanya yang ribuan kali menyuruhnya berhenti.


" Duduk di tempat masing-masing, kita mulai pembelajarannya. ingat, masa depan kalian masih panjang, cinta hanya sedikit cerita yang akan kalian ukir dalam perjalanan kalian yang masih panjang itu." Guntur sudah duduk di mejanya.


Matanya tidak lepas dari gerakan lesu Arleta yang berjalan ke kursinya. Terlihat jelas raut patah hati di wajahnya, meski Ida berjalan dengan kepal terangkat.


Bel pergantian pelajaran kedua sudah lewat dari 15 menit yang lalu, Bhumi berjalan santai di koridor yang sambil membalas obrolan dari Shavara saat menuju kelas yang harus diajarnya.


" Selamat pagi, pak Dewa." sapa Arleta riang nan lucu menggemaskan muncul dari belakang.


Bhumi berhenti melangkah, menjauhkan diri darinya yang terus berusaha mendekat, tatapannya datar menatap Arleta yang tersenyum riang di depannya.


Tatapan datar disertai wajah menajam yang menghentikan tingkah Arleta, ia takut tapi dia enggan melepas kesempatan bisa berusa dengan pujaan hatinya.


" Maaf, kalau saya salah langkah lagi. Tapi, please..jangan..."


" Selamat pagi, Arleta." jawaban Bhumi mengejutkan Arleta yang mematung di tempat.


Wajah yang semula sendu berubah sumringah, " akhirnya bapak memaksa sapaan saya. Akhirnya bapak gak benci saya lagi. Saya tahu usaha saya akan berbuah manis pada akhirnya."


Di bawah pandangan Bhumi, Arleta meloncat-loncat riang saking senangnya. tidak jauh dari sana Shavara melihat itu semua.


Ad atasan sesak di dadanya melihat Bhumi menanggapi Arleta, dia belum siap, meski ribuan kali meyakin dirinya....

__ADS_1


Jang lupa tinggalkan jejak dalam bentuk like, subscribe, komen, hadiah dan vote bintang 5


__ADS_2