
Tanpa sadar tangan Shavara mengelus-elus bagian depan Bhumi, seketika gelenyar hangat melingkupi seluruh tubuh Bhumi .
Satu tangan Bhumi memegang garis rahang Shavara mendekatkan wajahnya yang semakin lama semakin mendekat yg akhirnya menempelkan dua kulit kenyal tersebut, melu'matnya dengan lembut seiring menutupnya mata mereka gerakan bibir itu saling menyambut memag'ut dan menghi'sap.
Civman itu semakin panas dengan terlibat dua lidah yang saling menarik, memutar dan membelit.
Satu tangan yang lain menarik pinggang Shavara agar menempel padanya, mendesak untuk merapat serapatnya.
Refleks Shavara mengalungkan kedua tangan di leher bumi, mencengkeram rambutnya ketika kepala mereka miring secara berlawanan.
Bhumi menekan kedap suara di temboknya sebelum mengangkat tubuh Shavara yang sontak mengalungkan tungkainya ke pinggang Bhumi.
Bhumi mere'mas bok*ng Shavara guna menyangga beban berat tubuh kekasihnya, satu tangan lagi mengusap dan sedikit meremas pah* mulus yang tidak tertutup celana pendek Shavara.
Bhumi membimbing mereka ke kasur besar miliknya, " Kakh...kyaaaa..." kaget Shavara saat tubuhnya terjerembab di kasur, Bhumi terkekeh sambil menempatkan diri di antara kedua kaki Shavara yang terbuka.
Pandangan mereka bertemu, saling menelisik, Shavara membe-lai wajah Bhumi yang mengusap rambut Shavara. " Maaf, aku tadi kekanakan."
" Aku mencintaimu." ucap Bhumi lembut.
" Aku tahu, dan aku merasakannya." Shavara memainkan bibir Bhumi yang memancing sisi nakal Bhumi.
"Jangan mancing aku, sayangh.." Bhumi menyelusupkan kepala ke ceruk leher Shavara, menghisap kuat di titik sensitif tersebut.
" Aaahhh..jangan bikin tanda yang kemarin belum hilangh...aaahhh..." Lenguhnya saat Bhumi semakin turun dengan bibir yang aktif mencicipi yang dia lewati lalu kembali ke bibir yang sudah menjadi candunya.
Melepas karena kehabisan napas Bhumi mengalihkan kec'upan-kecupan itu terus ke bawah hingga shavara harus menengadahkan kepalanya memberi akses Bhumi ke sisi lain lehernya.
"Kakh...aaahhh." Shavara menjambak rambut Bhumi karena menikmati permainan jemari Bhumi walau terhalang kain.
" Nikmat sayanghh.." Bhumi memperhatikan wajah Shavara yang jelas nyata bergairah.
" Sayang, maafkan aku, tapi aku tidak bisa lagi menahannya." Bhumi kembali melum'at ganas b*bir Shavara sambil memasukkan tangannya ke dalam kaos besar Shavara.
"Hmm..eeuuuhhhh.... kakh...aahhhh.." desah Shavara saat tangan Bhumi menangkup dan merem4s dada miliknya yang pas di tangan besar Bhumi.
" Kakh, sayanghh...aaahhh..mmhhhh...." Shavara menggigit bibir bawahnya menahan ******* yang semakin besar yang mendesak keluar, tubuhnya terasa panas ingin dipuaskan.
Bhumi mengangkat kaos tersebut, maka terpampang lah dua hal indah yang selama ini menjadi rasa penasarannya yang masih terbalut br* renda merah muda.
Hawa dingin dari AC ke tubuh telanjangnya menyadarkan Shavara akan perbuatan mereka yang sudah amat terlalu jauh.
Mereka saling pandang dalam kabut gairah, bibir yang sama bengkak, napas yang sama memburu, serta pancaran ini dipuaskan, namun, semua ini tidak tepat.
" Kakh, janganhh..." ucap Shavara ragu, akal sehat dan hasratnya tengah berperang mengendalikan dirinya.
" Sayangh,..sekali saja ya." bujuk Bhumi.
" No..aku kesini buat untuk ini." Shavara mencoba mendorong Bhumi yang tidak beretika sama sekali dari atas tubuhnya.
" Sayang,...please... ini udah di depan mata."
" Kak,...ayo kita menikah."
ajakan tiba-tiba Shavara sangat mengejutkan, Bhumi yang masih dikuasai gairah tidak serta merta menjawab ajakan Shavara. dia masih ling-lung membagi atensinya."
" Hah?"
" Nikahi aku."
" Hah?"
" Nikahi aku."
" Kenapa terburu-buru?"
balasan yang salah dari bhumi, pertanyaan yang terkesan menolak itu menyinggung harga diri shavara.
" Awaass... kau tidak ingin menikahi ku, tapi ingin mencicipi ku
wow, Bhumi, wow...ini yang kau maksud mencintai ku." sekuat tenaga Shavara meloloskan dir dari himpitan Bhumi.
Shavara berhasil membebaskan diri, dia mengambil kaosnya, lalu berlari ke kamar mandi.
Bhumi masih termenung, ia sungguh tidak bisa berpikir. suara gebrakan pintu yang ditutup kasar yang menyadarkannya.
" Oh..****.... jangan salah paham lagi.. please..." Bhumi beranjak, merapihkan posisi handuk yang sedikit melorot.
tok..tok...
" Shava, buka pintunya kita harus bicara."
tokkk...tokkk....
" Sayang, aku pasti nikahi mu, kita bicara dulu, oke?"
" Shava...kita harus bicara."
cklek...
Mata memerah habis nangis milik Shavara menyesakkan dada Bhumi, Bhumi mengambil tangan Shavara menariknya ke sofa yang ada di depan ranjang.
Bhumi berjongkok di depan Shavara sambil menggenggam tangan lentik itu." kita bicara, dimulai kedatangan kamu kemari." kata Bhumi lembut.
" Aku kemari ingin meminta maaf padamu karena sudah bersikap kekanakan tanpa mau mendengar penjelasan lebih lanjut darimu, bukan untuk kau gerayangi. hanya itu" sindir Shavara sinis.
Ucapan kasar dari Shavara mengenai ego Bhumi." Aku menyayangi mu, aku terlalu senang melihat mu di sini maafkan aku kalau salah mengungkapkannya."
" Kak, kalian kau begitu menyukai akan tubuh ku, kenapa kau tidak menikahi ku."
" Tentu aku akan menikahi mu."
" Sekarang. aku mau kau menikahi ku sekarang."
" Hah? kenapa? ad apa denganmu?"
Tidak puas akan jawaban Bhumi, bahkan dia kecewa, sorot mata Shavara berubah sedih. " kau tidak ingin menikahiku. benar apa yang ku sangka kan,perasaanmu.."
" Tidak ada yang berubah dengan perasaanku, Shava. tapi mengurus pernikahan tidak sudah itu hingga kita bisa menikah sekarang." Kali ini suasa Bhumi tegas namun lembut.
" Aku ingin sekarang atau tidak sama sekali."
Ancam Shavara membingungkan Bhumi, maka diapun hanya mampu menatap intens Shavara berharap menemukan jawaban dari kegelisahan Shavara.
" Ada apa? aku bertanya begini bukan untuk mengulur waktu. tapi keputusan dari mu harus dari hati bukan emosi semata." ternag bhumi.
__ADS_1
" Ini dari hatiku, tapi kalau kau tidak mau tidak apa." ucap Shavara skeptis yang langsung ditangkap Bhumi.
" Shava..."
"Kakak, sebaiknya pake baju dulu. aku gak nyaman kakak telanjang begini." potong Shavara yang merasa lelah bathinnya.
" Baik, tapi kamu jangan kemana-mana." Bhumi dengan langkah lebar melewati ruangan dan ujung mata yang melirik ke Shavara membuka lemari mengambil asal pakaian yang di lemari lalu masuk ke kamar mandi.
Shavara menunduk dengan tangan yang saling menaut, pikirannya dipenuhi omongan Fena dan reaksi Bhumi saat diirnaud minta di nikahi.
Satu kekecewaan besar membuncah di hatinya, di satu sisi ucapan Fena tidak dia tampil adalah gak yang paling menakutkan baginya, namun di sisi lain respon Bhumi atas permintaannya membuat keraguan itu muncul lagi. " ya tuhan, kenapa gue minta dinikahi sih." rutuknya.
Rasa malu yang kian menganga, memancing sikap impulsif Shavara, ia beranjak membuka pintu lalu keluar.
sedetik kemudian Bhumi keluar dengan kaos di tangan." Sayang, tunggu sebentar..." ucapnya Bhumi terpotong saat melihat sofa kosong.
" Shitt, ada apa lagi ini." Bhumi segera mengenakan kaosnya lalu keluar dari kamar.
dari arah tangga terdengar suar alangkah menurun, Bhumi memilih mengetuk pintu kamar Bian dan Senja, keduanya langsung terbuka.
" Ada apa?" dari kamar Bian muncul empat orang berbarengan.
" Kalian bersiaplah dengan setelan resmi anter ibu ke rumah Aditya, saya ingin melamar teteh Shavara." tanpa menunggu jawaban mereka Bhumi segera menuruni tangga.
di ruang tengah, Shavara tengah berpamitan dengan Rianti.
" Nah, itu Bhumi. kamu pulangnya dianter bhumi ya."
" Gak perlu, Tan. saya pamit pulang aja naik taxi." sat Shavara hendak berjalan setelah mengalami Rianti Bhumi menangkap pinggang Shavara.
Shavara terus berusaha melepaskan diri dari Bhumi yang justru semakin mengencangkan pegangan di pinggangnya.
" Bu, bersiaplah ke rumah Tante Fena untuk melamar Shava, ibu berangkatnya bareng Bian sama yang lain. aku mau ngurus calon istriku dulu. maaf ya Bu."
Shavara sontak diam memberontak, namun itu hanya sesaat menit kemudian dia kembali memberontak.
" Iya, oke. kalian selesaikan dulu permasalahan kalian. ibu ke sana." jawab Rianti cepat sekaligus bingung.
" Tante tidak perlu mendengarkan kak Bhumi, Tan."
Rianti memandang Bhumi bertanya," Jangan dengarkan Shava, dia sedang marah sama aku."
" Ayo sayang." Bhumi sedikit mengangkat tubuh Shavara. jadinya Bhumi membopong Shavara.
" Gak perlu..."
" Atau Akai civm kamu di sini." tambah Bhumi berbisik.
saat membuka pintu berbarengan dengan Fathan yang hendak mengetuk pintu.
" Wa, tumben..."
" Om, maaf kita belum bisa mengobrol, tapi tolong dampingi ibu untuk mewakili saya melamar Shava. aku pergi dulu, Om."
"Oh, iya, silakan." Fathan menyingkir memberi jalan Bhumi.
" Lepas, kak Bhumi." pinta Shavara saat Bhumi membuka pintu mobil.
" Iya, tapi kamu masuk ke dalam." Bhumi sedikit mendorong Shavara untuk duduk di bangku penumpang depan.
Bhumi mengunci pintu mobil, walau dirinya sendiri hanya memutari ke bagian kemudi.
" Kita jelas ahrus bicara, untuk tahu apa yang membuatmu begini." Bhumi menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan rumah.
Sepanjang jalan entah kemana, Bhumi menggenggam tangan Shavara yang tidak mudah dia dapatkan. sesekali dia kecup punggung tangan putih tersebut, dengan ekor mata memperhatikan Shavara yang memasang aksi bungkam.
di sebuah taman tidak jauh dari rumah Shavara Bhumi mematikan mesin mobilnya.
" Sekarang kita bicara." tegas Bhumi duduk menghadap Shavara.
" Aku minta maaf." ucap Shavara yang masih enggan menatap Bhumi.
" Aku tentu memaafkan mu, sayang. akh yang harusnya meminta maaf padamu karena ingkar, wajar saja kamu marah karena kecewa padaku."
Shavara menggeleng," Adit sdha cerita apa yang terjadi. aku merasa jahat tidak mengerti posisi kamu."
" Jangan, kamu gak jahat. oke!" Bhumi mengecup tangan yang masih betah dia genggam.
" Pasti kamu lelah ya aku yang cepat ngambek gini, Aryo saja benci atas sikap ku ini."
"arah sih enggak, cuma pusing saja menerka apa isi kepal mu itu kasih aku kode sedikit aja."
beberapa saat Shavara terdiam dengan mengigit-gigit bibir bawahnya." jangan digigit, sayang." Bhumi melepas gigitan bibir itu.
" kamu cerita dulu, kita cari bareng-bareng solusinya." ucap Bhumi lembut, tangannya mengelus tangan Shavara.
Shavara mengangkat kepalanya, " Aku..aku..."
Grep....
Shavara berhambur memeluk erat Bhumi yang sedikit terjengkang karena kaget.
" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu
gak mau pisah sama kamu... hiks..." lirih Shavara teredam pelukan namun masih terdengar.
Bhumi balas memeluknya, mengusap lembut punggung Shavara." Makasih, aku juga sangaaaattt mencintai mu lebih dari kamu. kita gak akan pisah, sayang."
Melihat posisi Shavara yang tidak nyaman melewati perseneling, Bhumi mengangkat lalu mendudukannya di pangkuannya."
" Huhu..hiks....huhu..hiks."
" Sayang, stop dulu yuk nangisnya, kamu udah terlalu banyak nangis nanti pusing."
" Aku ingin berhenti, tapi gak bisa. aku kecewa kamu gak mau nikahi aku....hiks..."
" Sayang, aku mau, itu yang aku tunggu."
" Aku ingin kita menikah sekarang, tapi kamu gak mau."
" Mau, sayang. tapi jelasin dulu kenapa mendadak begini? aku kaget saja itu bukannya gak mau." Bhumi melepas pelukan Shavara.
Mata mereka saling memandang, saat Bhumi menghapus air matanya." kamu sering nangis ya gara-gara aku. maaf ya udah nyakitin kamu."
Shavara menggeleng," bukan salah kamu, aku aja yang cengeng."
__ADS_1
Tangan Bhumi masih mengusap punggung Shavara." jadi kita nikah sekarang?" Shavara mengangguk.
" Beneran mau nikah sekarang?"
" Kamu gak mau nikahin aku sekarang?"
" Mau banget, tapi aku mau mastiin kalau ini kemauan dari hati kamu."
" Hati aku bilangnya mau banget."
" Tanpa gak mau ngasih alasannya?"
Shavara menggeleng," malu." cicitnya.
" Ya udah, yuk kita cari cincin."
" Ini udah ada." Shavara menunjukan tangannya yang tersemat cincin.
Bhumi mengulas senyum," ini buat meresmikan kita tunangan."
" Aku mau langsung nikah." kukuh Shavara.
" Iya, kita nikah."
" Yang ini aja, bagus banget ini. kamu jangan terlalu boros. katanya rumah tangga butuh biaya banyak."
" Aku punya uangnya, sayang. walau gak sebanyak Wisnu."
Cup....
Bhumi mencivm Shavara, lembut tidak menggebu. refleks Shavara mengalungkan tangan di leher Bhumi menyambut civman manis tersebut.
Lama civman itu berlanjut yang diakhir karena mereka kehabisan oksigen. Bhumi menyela salivanya yang dibibir Shavara.
" Kita milih cincin dulu sebelum pulang ya?"
" Hmm." Shavara mengangkat manut.
" Sayang...sayang kamu banget. jangan ragukan perasaan aku lagi." Bhumi mengecup kening Shavara lalu mendudukkan kembali Shavara di kursinya.
" Maaf."
" Its okey, salah aku juga yang gak bisa nahan nafsu buat gak nyentuh kamu." Bhumi mengusap kepalanya Shavara sebelum melakukan mobilnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
" lho, Rianti. tumben bawa rombongan ramai-ramai kemari?" Fena terkejut dengan kedatangan tapi minus Bhumi.
" Bhumi yang meminta kami kemari, jeng. maaf ya ganggu waktu senggangnya."
" Oh gak ganggu kok, tapi kata Wisnu Vara ke rumah Bhumi. mari masuk."
" Iya ada, tadi mereka pergi berdua, kita disuruh ke sini duluan."
" Lho Fathan, Rianti. kok kemari tumben bawa no bocah juga lagi." tunjuk Anggara ke lima remaja yang hanya mengikuti langkah para orang tua.
Mereka duduk di ruang tamu yang elegan tersebut." Kami kemari hendak melamar Shavara."
" APA?" serempak Anggara serta Fena berteriak yang membuat para tamu berjengkit di tempatnya.
Wisnu dan Aditya menuruni tangga dengan tergesa-gesa," Ada apa, mah kok jerit-jerit gitu?" tanah Aditya.
" kalian duduk kemari. saudara kalian sepertinya sudah senewen." terang Fena.
" Maaf, mengagetkan kalian, tapi bhumi mengamanahi tersebut pada kami."
" Tunggu, Ranti, ini terlalu tiba-tiba. otak saya belum masih mencerna dulu. kalian melamar Vara untuk dijadikan apa?"
" Ya menantu lah, jeng. masa tetangga."
" Kenapa mendadak gini?"
" Saya juga kurang paham tapi maunya Bhumi begini."
" Bhumi-nya mana?"
" Nah itu dia, tadi dia pergi sama Vara. saya kira mereka sudah sampai."
" Belum tuh."
" Assalamualaikum."
" Nah itu mereka." ucap bersemangat Bian yang merasa lega.
Semua pasang mata memperhatikan mereka yang baru masuk rumah dengan Bhumi menjinjing papperbag kecil di tangannya.
" Vara, kemari duduk di samping papa. Bhumi terserah kamu mau duduk di mana." tegas Anggara terkesan sinis.
Bhumi yang mendapat sambutan dingin dari Anggara memilih duduk di samping Fathan yang menghadap Shavara yang menunduk diam.
" Sekarang kamu ucapkan niatan kamu dengan berani dan tulus karena putri saya ini bukan barang, namun seseorang yang amat saya sayangi dan lindungi." ujar Anggara menantang mental Bhumi.
Dulu, sewaktu Aryo dipinta dengan cara demikian terlihat jelas Aryo yang gemetaran dan menghabiskan tiga gelas besar air yang dia minum langsung habis berturut-turut walau akhirnya mampu mengatakannya dan tunangan pun terjadi.
Namun Anggara mengakui ketenangan Bhumi, tanpa gentar Bhumi mengangguk.
" Om, Tante dan semua. maaf, jika saya membuat kalian kaget dan repot. kedatangan saya dan keluarga kemari selain bersilaturahim juga ingin meminang Shavara, putri bapak untuk saya jadikan sebagai istri dan pendamping saya." pinta Bhumi tegas namun lembut.
" Saya menolaknya." balas Anggara tegas yang mengejutkan semuanya terlebih Shavara.
" Pa."
Anggara berdiri, " Bhumi, Wisnu. kalian kamu ikut Papa."
" Pa...jangan begini. jangan menolak langsung kak Bhumi."
permohonan Shavara tidak digubris anggara yang terus berjalan ke ruang kerjanya.
" Pa..." Shavara panik bukan main.
" Kamu juga, Vara. ganti baju akmu dengan yang lebih sopan. mana ada lamaran pake kaos kegedean begitu."
"Itu bukan yang terpenting saat ini, Pa. Papa harus mempertimbangkan permintaan Bhumi dulu." mohon Shavara yang mulai menangis.
Namun Anggara menutup pintu ruang kerjanya....
__ADS_1
dipost tgl 13,05,23